***
“Maaf telah mengganggumu semalam.”
Kukunjungi rumah mereka kembali seraya membawa makanan ringan yang kubeli di swalayan desa. Risa tampak mencoba menjauhiku ketika tangan-tangan ini hendak meraih tangan putih wanita tersebut, apa ia masih kesal karena ucapanku semalam?
“Hmm….” Ia melenggang pergi meninggalkanku yang masih berdiri di depan pintu rumah yang terbuka, kulihat Soo tampak sibuk menyapu lantai dan membereskan bagian-bagian yang kotor.
“Apa ada masalah di antara kalian berdua?” tanya Soo ketika tengah menyapu lantai, ia pasti menyadari perubahan sikap dari Risa yang mendadak ketika melihat kehadiranku di rumah pengasingan tersebut.
Kupandang lirih Soo sembari tersenyum kecil, “Tidak.”
Soo hanya berdeham pelan menanggapi apa yang kukatakan. Pagi itu, entah kenapa udara cukup dingin berhembus menerpaku, dan begitu juga dengan suasana di rumah pengasingan tersebut, begitu ding
Mereka pergi, bersama Reno yang memilih memihak mereka. Revan tergeletak tak berdaya dengan diselimuti darah. Apa sebenarnya yang sedang Reno lakukan? Simak terus kisahnya, yah:)
***Kubuka kedua mata ini dan mendapati aku berada di atas kasur dengan keadaan kepala diperban, tampaknya ada yang datang menyelamatkanku ketika malam itu tubuhku sama sekali lemas tak bisa digerakkan.Aku telentang di atas kasur dengan diterangi lampu kamar dan sinar matahari yang menyeruak masuk pagi hari itu, terlihat juga di antara barang-barang di atas meja, terdapat piring, gelas, dan sebungkus rokok yang tergeletak tanpa pemilik.Rasa sakit akibat luka yang ditimbulkan benda tumpul tersebut masih terasa nyeri, sesekali kulihat darah yang mulai merembes keluar membasah perban putih yang melilit kepalaku.Pintu terbuka, atensiku terpancing ke arah seorang wanita tua yang tengah menyiapkan seember air hangat dengan kedua tangannya. Ia datang bersama dengan Suto yang membawa pakaian ganti untukku.“Apa yang sedang kamu lakukan di rumahku?” tanyaku, suaraku cukup pelan karena fisikku yang lumayan lemah pagi itu.“Oh, ter
*** “Tahan, Tiara!” Suara dari arah belakang Tiara menghentikan wanita itu untuk meletuskan tembakan ke arah kepalaku. Terdengar suara langkah pria itu berjalan menghampiri kami berdua, sebuah cerutu besar menempel di mulutnya, berpakaian jas hitam dan kaca mata hitam layaknya pria di dalam SUV. “Kita membutuhkannya hidup-hidup, jangan kamu bunuh dia karena perasaanmu,” ungkap pria di samping Tiara, wanita itu tiba-tiba mengangguk dengan pasrah layaknya anak yang sedang diceramahi oleh orang tuanya. Darah yang keluar semakin deras dari bahuku, tampaknya proyektil peluru kembali bersarang di tubuhku akibat tembakan tersebut. Kepalaku begitu pusing, tangan dan kakiku sudah terlalu lemas untuk digerakan. “Bawa dia sebelum dia kehabisan darah!” titah pria paruh baya tersebut seraya membalikan tubuhnya cuek meninggalkanku bersama anggota lain yang bertugas melakukan perawatan pertama pada lukaku. Kulirik dengan mata lemah, Tiara tanpa ekspr
“Lepaskan dia, Risa,” titah Tiara.Risa tersenyum sembari menghela napas panjang, ia melepas suntikan tersebut begitu juga dengan cengkeraman tanganku. Ada hal yang tidak kumengerti dari Tiara, kenapa dia melindungiku dan memerintahkan Risa untuk berhenti?Tiara memerintahkan Risa untuk pergi dari ruang tersebut, sepertinya hanya ucapan Tiara yang akan didengar olehnya, mengingat kalau kuingat kembali ia melakukan hal sejauh ini hanya demi kebahagiaan Tiara.Dengan kata lain, membebaskan Tiara dari belenggu penderitaan dan kesedihan yang sedang dialaminya. Semua pangkal permasalahan yang terjadi berpusat padaku, karena hal itulah Risa mengambil langkah untuk melakukan percobaan pembunuhan.Tiara masih berdiri di lawang pintu yang terbuka, menatap ke bawah seraya berkacak pinggang. Kuyakin ia pasti kedinginan di malam hari seperti ini, mengingat aku yang masih mengenakan selimut tebal saja masih terasa dingin.“Terima kasih.”
***Hari ini, para polisi dan detektif berencana untuk memindahkanku ke rumah tahanan yang mereka telah sediakan. Mereka memperlakukanku dengan baik karena media dan pers banyak meliput dan mengikuti kasus pembunuhan ini.Mereka akan benar-benar menjagaku, bahkan dari luka goresan sedikit pun. Wartawan akan begitu kritis pada polisi jika terlihat ada luka goresan atau tembak di tubuhku.Tentu mereka menginginkanku untuk bekerja sama, memintaku untuk tutup mulut dan tak banyak bicara ketika ditanya wartawan. Padahal jika saja aku bicara, mungkin kepolisian akan lebih populer dari yang kasus pembunuhan itu sendiri.Terutama percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh Risa dengan saksi mata Kapten Tiara. Jika satu kalimat saja terlontar dari mulutku perihal tersebut, mungkin Risa akan berada di situasi yang tak mengenakan.“Kamu tidak akan banyak bicara, kan?” tanya salah satu petugas polisi, ia berdiri untuk memberikanku ruang untuk berjalan
***Hari negosiasi akhirnya tiba, waktu istirahat jam makan siang yang begitu kutunggu-tunggu akhirya datang.Seperti biasa, aku berjalan dalam barisan napi sektor A menuju kantin rutan. Di sana, atensiku tertarik melihat tiga orang yang duduk di tempat yang sama seperti kemarin, merekalah orang yang akan membantuku keluar dari sini.“Aku sudah banyak mendengar tentang kalian,” ucapku singkat, aku berdiri di samping meja yang sontak mengejutkan mereka bertiga.Badan penuh dengan tato dan raut wajah yang begitu sangar sama sekali tidak membuatku takut, justru banyak orang seperti mereka yang hidup di bawah pimpinanku di Cincin Hitam.“Apa yang kamu dengar?” tanya salah satu pria, berkepala plontos dan berjanggut tebal, ia menatapku tajam seolah mencoba menakuti dan menguji mentalku.“Sesuatu yang buruk tentunya.”Kutarik satu kursi dari tempat lain dan duduk bersama ketiga orang tersebut. Awal perken
*** Tiara kembali datang ke rutan ini untuk menjemputku, hari ini adalah hari yang dijanjikan oleh pengadilan untuk memulai persidangan kasus pembunuhan Luqman. Hari persidangan menjadi sesuatu yang sangat ditunggu oleh banyak orang, mengingat kasus ini cukup menghebohkan dan banyak media yang sama penasaran akan akhir dari kasus ini. Itu berkaitan dengan statusku apakah akan berganti dari tersangka menjadi orang bebas. Sama seperti biasa, mereka memperlakukanku layaknya seorang binatang ternak, leherku dirantai begitu juga dengan tangan dan kakiku. Rantai-rantai itu tersambung menjadi satu menjadikanku domba yang mudah dituntun oleh penggembala. Tak hanya itu, mulutku juga dibekap menggunakan kain dan ditutup rapat dengan lakban hitam, dipasang juga penutup kepala yang hanya memiliki lubang untuk mata. Tindakan yang lebih agresif dan tegas dari kepolisian, pasalnya terakhir kali aku keluar dan menyapa dunia. Aku berbicara kepada media dan unt
“Apa pihak saksi pelapor ada yang ingin disampaikan?” tanya hakim, matanya berpaling dariku ke arah dua orang yang baru datang tersebut. Reno bangkit dari duduknya, seluruh mata kini memandang pria tersebut yang sudah kuanggap seorang pengkhianat ulung. Tak kusangka ia masih bisa tersenyum setelah semua yang ia lakukan padaku, luka yang masih berbekas di kepalaku tidak akan pernah hilang dengan senyum darinya. “Kesaksian yang Saudara Revan katakan sepenuhnya bohong,” ucap Reno, nada bicaranya begitu lantang dan tegas, matanya memandang hakim penuh kepercayaan diri. “Apa yang kamu katakan?!” erangku, sungguh tak beradab, punya hak apa dia mengatakan kalau semua usahaku adalah bohong belaka? “Ada pepatah yang mengatakan kejujuran akan menyelamatkanmu, meski kamu merasa takut akan hal itu,” ungkap Reno, ia berjalan melewatiku dan berdiri di tengah persidangan seraya menatap hakim. “Apa kamu menuduhku mengancammu?” tanyaku. “Aku tidak pern
***Persidangan pun berlanjut, Tiara masih menemaniku untuk mengantar dan menjemput dari rutan ke pengadilan dan sebaliknya. Hubungan kami jauh lebih dekat dan Tiara banyak bercerita padaku.Jika aku boleh jujur, momen saat ini adalah momen ketika ‘tembok berlin’ benar-benar runtuh di antara aku dengan Tiara. Tidak ada pembatas, penghalang, atau pun pemisah untukku berdekatan dengan kapten detektif tersebut.Sesekali Tiara kubuat tertawa akibat lelucon yang kulontarkan, terkadang jika keadaan jalan sedang macet, aku gunakan waktu berharga itu untuk bermesraan dengannya. Ia sama sekali tidak menolak, bahkan terang-terangan ingin terus keadaan manis ini tetap terjalin.“Persidangan ini akan sulit, mereka tampaknya tidak mau menyerah,” ucapku.“Benar, entah setelah mendengarkan semua penjelasanmu. Aku dilanda dilema, apa aku bisa benar-benar berada di pihakmu,” balas Tiara, kepalanya tersandar di bahuku yang besar s
Kamis, 21 Oktober 2021 Setelah menghabiskan kurang lebih lima bulan menulis –terkendala tugas perkuliahan dan sebagainya. Serial PARTNER IN CRIME resmi tamat kemarin malam, rasanya begitu lega dan menyenangkan bisa memberikan hasil akhir yang sesuai dengan keinginanku. Namun, cerita ini masih menyimpan beberapa kekurangan dan plothole di berbagai sisi. Oleh karena itu, penulis meminta maaf sebesar-besarnya jika ada cerita atau scene yang tidak dijelaskan secara detail. Tentu hal ini berkaitan dengan alur cerita agar tidak melenceng dan tetap di jalur utama kisah Revan dan Tiara. Dasar dari ide saya membuat cerita perselisihan ditambah dengan romansa antara Mafia dan Polisi tak lain adalah nuansa yang baru, menciptakan kisah baru yang segar dan anti mainstream di kalangan pembaca yang banyak didominasi oleh cerita-cerita CEO, silat, dan sebagainya. Saya memang tipikal orang yang menyukai perbedaan dalam suatu perkumpulan, platform membaca online adalah perkum
*** Satu minggu kemudian Pergantian kepemimpinan di Cincin Hitam terjadi. Tanpa hadirnya aku, dewan komite yang sudah kubentuk mengesahkan Violet sebagai penerus organisasi Cincin Hitam yang terselubung sebagai organisasi masyarakat pembela rakyat kecil. Mereka katanya menyambut dengan baik pergantian kepemimpinan tersebut, bersuka cita dan membuat pesta meriah untuk merayakannya. Itulah yang kudengar dari Nathan yang belakangan sering mengunjungiku, lebih sering ketimbang Violet. “Baguslah. Keadaan pemerintah juga semakin membaik, meski Yudha tidak naik menjadi Plt Presiden, tetapi ia tetap memegang kendali parlemen menggantikan Stefano,” balasku. Perkembangan tubuhku semakin membaik dari hari ke hari, Dokter sudah memperbolehkanku makan-makanan keras dengan syarat harus dikunyah secara halus. Bahkan dengan kondisiku yang seperti ini, dalam beberapa hari ke depan aku mungkin diperbolehkan untuk pulang. Pagi itu, udara hangat m
***Sudah dua hari aku terbaring di kasur rumah sakit. Dokter yang memeriksaku sudah melakukan CT-scan dan mendapatkan hasil yang sesuai dengan perkiraan dokter pribadi yang kupanggil tempo hari.Tukak lambung, penyakit yang terjadi karena adanya infeksi di dinding lambung akibat bakteri. Ia menjelaskan penyebab terjadinya penyakit tersebut, salah satunya adalah konsumsi minuman beralkohol.Aku sadar. Belakangan ini, aku banyak minum-minuman beralkohol, aku kira aku baik-baik saja hingga kejadian ini terjadi.Untuk menjaga kesehatanku agar semakin membaik, Violet terus menemaniku di ruang perawatan ini, terkadang Nathan yang berjaga menggantikannya.“Parlemen sedang sibuk-sibuknya saat ini,” ucapku tatkala melihat pemberitaan di tv yang banyak mengulas seputar penunjukan Presiden pengganti David.Hingga saat ini, mereka masih belum menemukan keberadaan pria tua itu. Jika pun mereka berhasil, mereka hanya akan menemukan jasadnya y
“Mengorbankan hidup kalian untuk orang lain? Apa semudah itu kalian menyerahkan nyawa pemberian dari tuhan?!” bentakku.Aku benar-benar marah saat ini, tak hanya keluarga David tetapi Tiara juga ikut memohon ampun untuk nyawa pria tua penjahat tersebut.Aku berpikir, apa bagusnya dia dibandingkan dengan nyawanya? Dia juga tidak akan mengingat Tiara yang sudah menyelamatkan nyawanya.Sungguh sia-sia.Tiba-tiba kepalaku begitu pusing, telingaku berdengung dan pandanganku mulai berat. Tanganku bertumpu pada sudut meja untuk menahan agar badanku tidak ikut terjatuh.Sontak aku melepaskan senapan dari genggamanku dan langsung diraih oleh Tiara, wanita yang tadi memohon ampun kepadaku, kini berbalik mengacungkan senapannya padaku, mengancamku atas kejahatan yang jauh lebih banyak dibandingkan David.“Semua kejahatan di negeri ini berawal darimu. Aku tidak akan keberatan membunuhmu saat ini juga,” ancam Tiara.Wanita
“Kenapa aku harus pergi dari sini?” tanya David, bingung.“Aku tidak ingin orang-orang mengira kamu masih hidup. Aku akan memalsukan kematianmu dan kamu bebas hidup dengan identitas yang baru,” balasku. David terdiam mendengar penjelasanku, hanya itu satu-satunya pilihan yang kuberikan padanya jika dia ingin tetap hidup.Aku ajak dirinya keluar dari ruang tersebut dan berjalan menuju meja makan yang berada di lantai dasar. Namun, ketika hendak menuruni tangga, ia menolak ajakanku dan meminta waktu untuk memikirkan itu sendiri.Itu yang ia pinta dan aku menghargai keputusannya, lagi pula aku juga banyak berterima kasih atas pengakuannya di siaran tadi, tidak banyak orang berani yang mampu melakukan dan mengakui kesalahannya sendiri.Ia berjalan ditemani seorang pengawal yang sudah kutugaskan untuk tetap bersama David. Ketika aku tengah fokus memandang pria tua itu dari bawah, Nathan tiba-tiba mengejutkanku dengan ditemani beberapa o
***Pagi itu, terpaksa aku harus membawa Tiara ikut bersamaku. Ia tidak bisa memberikanku jaminan pasti kalau dia tidak akan memberikan pernyataan tersebut. Alhasil, semua rencana yang sudah kususun sejak awal tak berjalan lancar.“Kamu membawa lagi orang kemari?” tanya Nathan, pria itu datang menghampiri tatkala melihatku berjalan seraya menggendong seorang wanita, Tiara di dekapanku.“Kamu pasti mengenalnya,” ujarku.Pria itu tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, wajahnya menegang dan kedua bola matanya membulat tajam. Ia melihat kehadiran Tiara yang tak sadarkan diri di hadapan wajahnya, ia mengingat betul kalau aku tidak ingin bertemu dengan Tiara secara langsung.“Apa dia mengetahui identitasmu?” tanya Nathan, kesal menatapku tajam.“Ya begitulah, aku perlu melakukannya untuk membungkan mulut Tiara,” jawabku, lirih.“Apa kamu gila?! Dia bisa saja membocorkan keberadaan Pres
***Kedua mata Tiara membelalak tajam, mulutnya tak henti menutup tatkala mendapati aku muncul hidup-hidup di depan matanya. Kucoba raih lengan Violet dan membantu wanita itu untuk kembali bangkit dan berdiri.“R-Revan … apakah itu kamu?” tanya Tiara, ia menjatuhkan selang air yang sedari tadi ia genggam dan menumpahkan aliran air itu terbuang sia-sia.“Aku senang bisa melihatmu lagi, Tiara,” ungkapku.Kudekati pagar rumah Tiara, wanita itu tersentak kaget dan segera mengambil sebuah sapu untuk membela diri. Melihat responnya yang demikian, membuat diriku kebingungan, apakah dia benar-benar merindukanku atau tidak?“Jangan sekali-kali mencoba membodohiku! Aku tidak akan tertipu dengan wajah palsunya,” erang Violet, ia bersikap aneh menganggap aku adalah orang lain yang memakai wajah palsu di mukanya.Tidak pernah terpikirkan aku akan melakukan hal seperti itu, bahkan aku sendiri tidak memiliki alat
“Bawa mereka menjauh dari sini.” Aku langsung memerintahkan beberapa anggotaku untuk membawa mereka berpisah, wajah David sudah dipenuhi oleh lebam, begitu juga sama dengan Jayakarta.Mereka, kedua orang yang sudah bekerja sama selama beberapa tahun, hancur seketika oleh sebuah kepercayaan yang terkhianati. Mereka bertengkar, bergaduh layaknya anak kecil yang memperebutkan layangan.Keluarga Jayakarta, istri dan anak-anaknya begitu ketakutan dan sedih melihat suami dan ayah bagi anak-anaknya babak belur dihajar secara brutal oleh David, yang notabene mereka kenal sebagai rekan kerja Jayakarta.“Apa yang akan kamu lakukan pada suami saya?” tanya istri Jayakarta, menangis tersedu-sedu dalam dekapanku.Kulepaskan wanita paruh baya tersebut dan menyuruhnya untuk tidak ikut campur. Nasib mereka bergantung pada sikap dan ucapan Jayakarta, jika Jayakarta mati, maka mereka juga demikian.“Jika begitu, kalian juga harus menangk
***David terus terdiam, terus menatap lurus ke arah jalanan dengan pandangan yang kosong. Sikapnya berubah tepat ketika aku sudah menjelaskan tentang ambisi tersembunyi dari Jayakarta, David mungkin masih syok mendengarnya.“Apa dia baik-baik saja?” tanya Nathan, ia kini memegang kendali kemudi dan aku duduk tepat di sebelahnya.“Sebelum dia mati, aku pikir dia baik-baik saja.”“Pasti mengejutkan baginya, orang yang bersama-sama sejak dulu malah mengkhianatinya,” jelas Nathan, aku hanya berdeham seraya terus memerhatikan jalanan di depanku.Setengah perjalanan menuju Ibukota sudah terlewati. Mobil kami melaju dengan kecepatan stabil di ruas jalan tol yang cukup lengang malam itu, kuperhatikan melalui kaca spion depan, Larissa dan anggota lain yang duduk di belakang sudah tertidur dengan pulas.Begitu juga dengan David, ia tak lagi termenung dalam pikirannya yang kalut. Matanya terpejam dan kepalanya bersa