Bab 60 : Taruhan BerbahayaMalam yang gelap semakin terasa pekat seiring dengan napas berat yang berhembus dari Kenta. Tangannya menggenggam erat pedang, merasakan dinginnya baja di telapak tangannya. Di hadapannya, Abyss berdiri dengan seringai lebar, cengkeramannya masih erat di leher Asami. Gadis itu terbatuk pelan, tetapi sorot matanya tetap teguh.Darah Kenta berdesir penuh kemarahan. Selama pertarungan tadi, ia dan Asami sempat membaca pola serangan monster itu. Mereka hampir bisa menemukan celah untuk mengalahkannya, namun kini keadaan berbalik. Dengan Asami sebagai sandera, Kenta kehilangan keseimbangan. Abyss mengetahui ini dan memanfaatkannya dengan licik.“Bagaimana rasanya?” suara Abyss terdengar berat dan tajam, seolah-olah ia menikmati penderitaan Kenta. “Kau yang begitu kuat, begitu percaya diri, kini dibuat tak berdaya hanya karena satu gadis kecil.”Kenta menggeram, matanya menatap tajam. Ia tahu bahwa setiap tindakan yang gegabah bisa membahayakan Asami. Abyss bukan
Bab 1: Kebangkitan di Lembah BabiGang sempit itu pengap, dipenuhi aroma keringat, asap rokok, dan lumpur basah. Lampu jalan redup berkedip lemas, menciptakan bayangan samar di malam yang pekat. Kenta terjatuh, tubuhnya penuh lebam dan luka. Napasnya tersengal-sengal, sementara dunia di sekelilingnya berputar seperti mimpi buruk yang tak kunjung usai.Beberapa pria berdiri mengepungnya, tatapan mereka tajam penuh kebencian, seperti pemburu yang menemukan mangsa tak berdaya. Tawa dingin mereka menggema di malam kelam, menusuk hati. Salah satu dari mereka maju, tendangannya menghantam kepala Kenta dengan brutal. Darah hangat mengalir dari bibirnya yang pecah.“Uangnya mana? Beri sekarang, atau kau mati di sini!” suara pria itu pendek dan menusuk.Kenta mencoba menegakkan kepala, tapi pandangannya kabur. Tubuhnya gemetar, seperti lentera kecil yang nyaris padam. "Maaf... aku tidak punya apa-apa lagi," suaranya serak, hampir tenggelam dalam tawa para pria itu. "Tolong... jangan bunuh aku.
Bab 2 : Berburu Babi HutanMatahari pagi baru saja muncul di langit timur ketika Kenta terbangun oleh suara keras yang memekakkan telinga.“Bangun, bocah! Kalau kau terus tidur seperti ini, kita takkan pernah memulai!” seru Hakka sambil mengetuk pintu kamar Kenta dengan tongkat kayunya.Kenta membuka matanya dengan berat, kepalanya masih terasa pening. Malam sebelumnya terasa seperti mimpi buruk, terutama interaksinya dengan Hakka. Namun, suara kasar pria tua itu adalah bukti nyata bahwa dia tak bermimpi."Baik, baik! Aku bangun!" balas Kenta, mencoba bangkit dari tempat tidur dengan malas.Namun, Hakka sudah membuka pintu tanpa menunggu izin. “Lihat dirimu, seperti pangeran manja yang tersesat di pondok petani! Cepat siap-siap. Kita akan pergi ke hutan sebelum matahari terlalu tinggi,” perintahnya sambil melipat tangan, ekspresinya penuh ketidaksabaran.Kenta mendesah panjang, menyadari bahwa tidak ada gunanya membantah. “Kenapa kau begitu bersemangat membawaku ke hutan?” gumamnya, l
Bab 3 : Sistem yang TerbangunKenta mengatur napasnya dalam-dalam, mencoba mengatasi kelelahan yang masih terasa setelah pertarungan sengit melawan babi hutan. Tubuhnya yang lelah bersandar pada salah satu pilar aula keluarga, sementara pandangannya sesekali melirik ke arah Hakka yang sedang memeriksa tumpukan daging babi hasil buruan mereka."Atur napasmu, dan coba evaluasi apa yang kau pelajari di hutan tadi," kata Hakka tanpa menoleh. Nada suaranya tegas namun tidak setajam biasanya. "Aku akan ke dapur untuk menyerahkan daging ini kepada tukang masak. Kalau kita beruntung, malam ini kita makan sup daging babi." Ia mengangkat bungkusan daging dan melangkah pergi tanpa menunggu jawaban Kenta.Kenta hanya mengangguk pelan. Setelah Hakka keluar dari aula, ia duduk bersila, mencoba menenangkan pikirannya. Di saat itulah, sesuatu yang penting terlintas di benaknya.“Bukankah aku mendapatkan hadiah dari misi sebelumnya?” gumamnya. Ia memejamkan mata, mencoba memusatkan perhatian.Tiba-tib
BAB 4 : SayembaraKenta mengangguk dengan penuh keyakinan, meskipun hatinya berdegup keras. Dia menatap peta di tangannya dengan serius, seolah-olah peta itu adalah kunci terakhir untuk menyelamatkan desa. “Kita adakan sayembara,” katanya, suaranya tegas. “Kita kumpulkan orang-orang yang memiliki kemampuan dari desa ini.”Hakka, yang berdiri di sisinya, memandangnya dengan tatapan tajam sebelum tersenyum tipis. “Rencanamu lumayan juga bocah, tapi biar bagaimanapun dirimu harus waspada, Bocah. Desa ini sedang di ambang kehancuran. Orang-orangnya tidak mudah percaya. Luka mereka dalam, seperti jurang yang sulit dijembatani.”Tanpa membuang waktu, keduanya berjalan menuju pusat desa, di mana sebuah batu besar yang biasa digunakan untuk pengumuman penting berdiri megah di tengah alun-alun. Setiap langkah terasa berat bagi Kenta, karena dia tahu tanggung jawab yang menanti. Ketika mereka tiba, sebuah kerumunan kecil telah berkumpul. Wajah-wajah kusam itu mencerminkan kelelahan, kemarahan y
BAB 5. Penaklukan Goa HitamMalam itu, udara malam itu terasa begitu pekat. Kelompok kecil yang dipimpin oleh Kenta telah berkumpul dalam radius 50 meter dari dekat mulut Gua Hitam, bersembunyi di balik formasi batu besar yang setengah terkikis waktu. Dari tempat mereka, cahaya bulan yang suram hanya cukup untuk menyoroti siluet besar goblin raksasa yang mondar-mandir di depan pintu masuk goa. Di belakang goblin, goa itu tampak seperti rahang raksasa, gelap, dan penuh rahasia mengerikan.Kenta melirik peta tambang yang dipenuhi tanda posisi peledak, jalur mundur, dan rencana cadangan. Sekitar mereka, bebatuan dan pecahan pohon berserakan, seolah menjadi bukti pertempuran yang pernah terjadi di sini. “Kita tidak bisa membiarkan goblin itu keluar. Kalau dia menyerang desa, kita semua selesai,” katanya pelan namun tegas.Di depan mereka, goblin raksasa itu berdiri, tubuhnya setinggi tiga meter dengan kulit bersisik seperti batu bara. Matanya kuning menyala, bergerak liar, mencari sesuatu
Bab 6: Apakah ini hadiah dari surga?Malam di desa Lembah Babi terasa berbeda. Cahaya api unggun yang biasanya redup kini memancarkan semangat baru di antara penduduk. Kemenangan melawan goblin raksasa di Goa Hitam telah memberikan harapan baru. Namun, di tengah kebahagiaan itu, Kenta memandangi layar sistem yang berpendar di depannya dengan ekspresi serius."Bug?" pikirnya, membaca notifikasi terakhir. "Apa maksudnya hadiah dihitung ulang?"Tiba-tiba, layar holografik di depannya menampilkan daftar hadiah yang baru saja diperbarui:- Cetak biru rancangan bangunan pertahanan desa kelas 1: menara kayu pemantau, arena latihan, balai perkumpulan, bengkel besi, dan gudang alat tempur.- 50 kotak bubuk mesiu.- 10 kotak biji-bijian.- Puluhan armor dan pedang rusak.- Undian karakter kelas spesial."Undian?" Mata Kenta melebar. "Apa lagi ini?"Sebuah roda berwarna cerah muncul di layar, berputar dengan cepat. Jarum perlahan melambat, melewati berbagai nama hingga akhirnya berhenti pada satu
BAB 7 : Jenderal Batu yang angkuh.Saat sebagian besar warga masih sibuk menyortir temuan dari Goa Hitam, sebuah teriakan tiba-tiba memecah keheningan."Tuan muda! Ada seseorang yang mengacau di gerbang desa!" seorang pria berlari tergesa-gesa menuju Kenta yang baru saja keluar dari gua bersama kelompoknya.Kenta menegakkan tubuhnya, wajahnya sedikit menyeringai, seolah menduga apa yang sedang terjadi. "Apakah hadiah karakter spesialku telah tiba?" gumamnya, nyaris terdengar seperti bisikan penuh antusiasme.Namun, sebelum ia sempat melangkah, Kakek Ha mengetuk kepala Kenta dengan tongkat kayunya. "Hentikan khayalanmu, bocah! Pergi dan lihat apa yang terjadi!" hardiknya dengan nada tajam."Hehe... Baik, Kek," jawab Kenta sambil terkekeh kecil.Saat Kenta tiba di gerbang utama desa, pemandangan di depannya cukup mengejutkan. Seorang pria bertubuh besar dengan otot yang menonjol di bawah baju kulitnya berdiri dengan kaki terpentang lebar, seperti gunung yang tak tergoyahkan. Wajahnya pen
Bab 60 : Taruhan BerbahayaMalam yang gelap semakin terasa pekat seiring dengan napas berat yang berhembus dari Kenta. Tangannya menggenggam erat pedang, merasakan dinginnya baja di telapak tangannya. Di hadapannya, Abyss berdiri dengan seringai lebar, cengkeramannya masih erat di leher Asami. Gadis itu terbatuk pelan, tetapi sorot matanya tetap teguh.Darah Kenta berdesir penuh kemarahan. Selama pertarungan tadi, ia dan Asami sempat membaca pola serangan monster itu. Mereka hampir bisa menemukan celah untuk mengalahkannya, namun kini keadaan berbalik. Dengan Asami sebagai sandera, Kenta kehilangan keseimbangan. Abyss mengetahui ini dan memanfaatkannya dengan licik.“Bagaimana rasanya?” suara Abyss terdengar berat dan tajam, seolah-olah ia menikmati penderitaan Kenta. “Kau yang begitu kuat, begitu percaya diri, kini dibuat tak berdaya hanya karena satu gadis kecil.”Kenta menggeram, matanya menatap tajam. Ia tahu bahwa setiap tindakan yang gegabah bisa membahayakan Asami. Abyss bukan
Bab 59: Gadis BodohMalam semakin larut, menyisakan bayangan kelam yang menggantung di antara pepohonan mati. Kenta berdiri tegap, napasnya sedikit memburu setelah pertarungan sengit yang sudah berlangsung cukup lama. Lawannya, makhluk buas dengan tubuh yang tampak seperti hasil perpaduan antara manusia dan kegelapan itu, tersenyum samar dengan seringai mengerikan.Makhluk itu tidak berbicara. Tidak ada suara selain desir angin malam dan detak jantung Kenta yang bergemuruh di telinganya. Setiap gerakan monster itu seperti bayangan, cepat, liar, dan tidak terduga. Namun, Kenta dan Asami mulai memahami pola serangannya sedikit demi sedikit.“Asami, mundur ke kanan!” seru Kenta sembari menangkis serangan cakaran yang nyaris mengenai wajahnya.Asami dengan cekatan bergerak sesuai instruksi. Dalam hitungan detik, ia berputar ke samping dan melemparkan belatinya, mengincar celah kecil di antara tulang-tulang hitam yang mencuat dari tubuh monster itu. Ctak! Belatinya berhasil menggores bahu
Malam itu, angin berembus dengan lirih di antara reruntuhan desa yang telah lama ditinggalkan. Asami dan Kenta bersembunyi di balik puing-puing rumah yang telah lapuk, mata mereka menelusuri kegelapan yang menyelimuti hutan di seberang desa. Jejak-jejak pembantaian masih tampak jelas di tanah: bercak darah mengering, sisa-sisa daging yang berserakan, dan tulang-belulang yang tampaknya telah dikoyak tanpa belas kasihan. Bau anyir masih tercium samar, bercampur dengan aroma tanah basah.Asami menggenggam gagang tantō-nya dengan erat. Napasnya pelan, tapi Kenta bisa merasakan ketegangan di tubuhnya. “Aku tidak suka tempat ini…” bisiknya, matanya tetap terpaku pada kegelapan.Kenta menoleh padanya sejenak sebelum kembali fokus mengamati sekeliling. “Aku juga. Tapi kita butuh jawaban.”Mereka telah mengikuti jejak selama beberapa hari, berpindah dari satu desa ke desa lain, mengumpulkan informasi dari sisa-sisa perkampungan yang telah dihancurkan oleh makhluk buas itu. Dari apa yang mereka
Bab 57 : Penelusuran dan Kebenaran yang TersembunyiKenta dan Asami melanjutkan perjalanan mereka melintasi desa-desa yang telah menjadi korban pembantaian misterius. Jejak-jejak kehancuran semakin jelas terlihat di setiap sudut, mayat-mayat yang kehilangan darah tanpa tanda-tanda perlawanan yang berarti. Warga yang tersisa bersembunyi dalam ketakutan, bisik-bisik mereka memenuhi udara dengan cerita mengerikan tentang sosok bayangan yang bergerak di malam hari.Saat malam semakin larut, Kenta dan Asami beristirahat di sebuah pondok kosong di pinggiran desa. Asami, yang biasanya selalu menjaga ketenangannya, tampak gelisah. Tatapannya sesekali mengarah ke Kenta, bibirnya seakan ingin berbicara tetapi ia menahan diri.Maya muncul dalam bentuk holografiknya di hadapan Kenta. "Kenta, aku telah menganalisis pola pembantaian ini dan menemukan sesuatu yang mengkhawatirkan," katanya dengan nada serius.Kenta menatapnya tajam. "Apa itu, Maya?"Maya menampilkan serangkaian data di udara, memper
Bab 56: Di Balik Bayang-Bayang KegelapanAngin malam berembus dingin ketika Kenta berdiri di atas menara pengawas desa, memandang jauh ke arah cakrawala yang diselimuti kegelapan. Di kejauhan, ia tahu bahwa desa-desa yang pernah makmur kini hanya menyisakan kehancuran dan mayat-mayat yang ditinggalkan tanpa jawaban. Pembunuhan-pembunuhan misterius itu sudah berlangsung cukup lama, dan tidak ada tanda-tanda bahwa mereka akan berhenti. Meskipun Lembah Babi telah berkembang pesat, kesejahteraan di dalam tembok desa itu hanya menjadi pengecualian di tengah kehancuran yang melanda wilayah sekitarnya.Ia mengepalkan tangannya. Tidak bisa terus diam dan hanya menunggu jawaban datang. Ia harus mencari sendiri.“Mau pergi sendirian?”Suara Asami memecah kesunyian. Kenta menoleh dan melihat wanita itu bersandar pada pilar kayu di belakangnya, mengenakan jubah hitam yang menyatu dengan bayangan.
Bab 55: Jejak Darah dan Keheningan yang MencekamSudah beberapa minggu berlalu sejak pembangunan desa Lembah Babi mencapai kemajuan besar. Seluruh penduduk semakin merasa nyaman dengan kehidupan yang lebih teratur dan terjamin, berkat hasil kerja keras mereka. Namun, kesejahteraan yang perlahan tumbuh itu mulai diganggu oleh kabar buruk yang datang dari luar. Desas-desus tentang pembunuhan yang terjadi di desa-desa sekitar mulai menyebar dengan cepat. Kabar tersebut mengusik ketenangan di Lembah Babi, membawa gelombang kecemasan yang mengalir perlahan di antara warga.Hari itu, suasana di desa terasa lebih sunyi dari biasanya. Kenta tengah berjalan di sepanjang jalan utama desa, matanya fokus pada laporan yang dibawa oleh Maya. Wajahnya serius, penuh pemikiran. Sesekali ia men
Bab 54: Pembangunan Desa Level 3 dan Tantangan Musim DinginSuasana pagi itu tenang. Matahari perlahan muncul di balik pegunungan, menerangi desa yang kini tampak lebih kokoh dan terorganisir daripada sebelumnya. Lembah Babi, yang sebelumnya hanya sebuah kawasan kecil yang tersembunyi di balik hutan dan perbukitan, kini berkembang pesat. Setiap sudut desa memperlihatkan tanda-tanda pembangunan yang mengesankan. Jalan-jalan yang lebih lebar, bangunan-bangunan yang lebih stabil, dan pertanian yang semakin terorganisir memberikan harapan bagi Kenta dan warganya.Kenta berjalan dengan langkah mantap melalui desa yang telah berkembang pesat. Pasukan Lembah Babi yang dulu hanya dikenal sebagai pasukan yang terlatih dalam pertempuran kini juga menjadi ahli dalam berbagai bidang. Bebe
Bab 53: Persiapan di Lembah BabiHembusan angin malam menggetarkan ranting-ranting pohon di sekitar camp yang didirikan di luar kota. Api unggun yang menyala dengan cahaya kuning-oranye memberikan kehangatan di udara yang semakin dingin. Para prajurit Lembah Babi duduk berkelompok, berbicara dengan suara rendah, sementara para pemimpin desa berkumpul di sekitar Kenta yang tengah merenung.Kenta duduk dengan punggung tegak, tatapannya kosong sejenak. Ia memikirkan apa yang baru saja terjadi, dan apa yang akan datang. Setelah keputusan untuk menghentikan pertempuran dan menarik pasukan, Kenta tahu bahwa masa depan mereka takkan sesederhana itu. Kekaisaran mungkin memberikan jeda sejenak, tapi tidak ada yang bisa memastikan berapa lama. Itu adalah waktu yang mereka butuhkan untuk
Bab 52: Keputusan yang Belum UsaiHening menyelimuti medan perang setelah perintah Jenderal Marcus untuk menahan Ryoji diumumkan. Pasukan Lembah Babi dan pasukan Kekaisaran saling menatap dengan waspada, masih belum benar-benar yakin apakah ini benar-benar akhir dari pertarungan.Namun, Marcus tetap berdiri tegap di antara dua kekuatan besar yang hampir saling membinasakan. Kenta, dengan napas masih berat setelah duel panjangnya, menatap langsung ke arah Marcus, mencoba menelaah keputusan yang baru saja dibuat."Kau yakin ini keputusan yang benar?" suara Kenta terdengar tegas namun penuh skeptisisme.Marcus menatap Kenta dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Aku tidak akan bertindak gegabah tanpa bukti yang cukup. Aku akan membawa Ryoji ke istana dan memastikan bahwa informasi yang diberikan kepada Kaisar selama ini tidak dimanipulasi."Dua prajurit kekaisaran menyeret Ryoji yang masih memberontak. Bangsawan itu berte