“Ayo kita ke sekolah, teman-teman Iren banyak disana, Iren bisa main prosotan juga nanti,” ucap Ceria setelah memesan ojek online.
“Ayooo, Ilen suka banak temen, main plocotan, holeeee!” anak itu terlihat girang, membuat sedikit kesedihan hati Ceria terobati.
Ada waktunya dimana wanita bisa menjadi lebih kuat dari biasanya, dan memiliki energi yang melimpah. Itulah yang terjadi pada Ceria, setelah menitip Iren di playgroup dan menghubungi Mama Marta untuk menyusul mereka, wanita itu langsung menuju kantor barunya. Bekerja menjadi bagian personal assistant akan membuatnya lebih mudah menjalankan misinya. Karena Ceria kerja bukan hanya semata kerja namun ada alasan lain yang membuat dia bisa setegar karang.
*
“Morning Mr Mark!” Ceria menyapa bosnya, seorang lelaki bertubuh tinggi, berkulit putih, seorang bule Jerman dengan posisi sebagai President Direktur disana.
“Morning, you look so pretty today,” Belum apa-apa Mr. Mark sudah memujinya yang membuat wajahnya menjadi tersipu. Sudah lama sekali dia tak pernah mendapat pujian dari lelaki, bahkan itu suaminya sendiri.
“By The Way, I have been stay here around 5 years, so no problem if you want to speak bahasa, I can communcate use bahasa,” ujarnya. Ceria mengangguk.
“Oh I see, Ok Understood,” ucap Ceria sambil mengangguk dan tersenyum pada orang yang baru pagi ini saja menjadi bosnya.
“Tolong buat jadwal meeting saya pagi ini, dan acara jumpa partner, email ke saya ya,” ucapnya dengan fasih, Ceria dibuatnya melongo, ternyata Mr. Mark sudah menguasai bahasa Indonesia dengan fasih.
“Baik, akan saya segera kirimkan jadwalnya by email,” Ceria menyanggupi. Lelaki bertubuh tinggi itu segera berlalu meninggalkannya. Ceria langsung mengakses link-link untuk pekerjaannya yang sudah dibagikan untuknya.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang, waktunya istirahat telah tiba. Namun pekerjaan personal assistant tidak sekaku pekerjaan bagian lainnya, jadi terkadang ada kalanya dia harus bekerja pada jam istirahat, namun bisa istirahat juga pada jam lainnya yang tidak terlalu padat.
Siang itu Mr. Mark mengajaknya untuk meeting dengan kolega bisnisnya diluar. Ceria bergegas men touch up kembali make up nya, bagaiamanapun dia harus tampil maksimal dan tidak memalukan. Mereka keluar menggunakan mobil kantor dan diantar oleh seorang supir. Tidak lama, mobil itu berhenti didepan sebuah restaurant mewah. Mereka berdua turun dan jalan beriringan.
Kedua orang itu langsung masuk kedalam restaurant dan menuju tempat yang sudah dipesannya sebelum berangkat. Namun, sudut mata Ceria menangkap sesuatu yang sangat familiar. Ada dua orang yang sedang mengobrol begitu akrab, sesekali tertawa sepertinya sambil menunggu pesanan mereka datang. Ceria langsung menghampiri pelayan untuk menukar tempat yang telah dipesannya agar dia bisa duduk ditempat yang terlihat jelas oleh lelaki itu.
“Mr. Mark, sorry, untuk reservasinya di disini, table 07,” ucap Ceria meminta Mark pindah tempat. Lelaki itu mengikuitnya saja tanpa banyak bertanya.
Ceria sengaja duduk bersebelahan dengan Mark, dia membuat settingan senatural mungkin agar tidak terlihat mencolok. Tetapi lelaki itu tampak tidak mempedulikan sekitar, dia tampak berkali-kali tertawa lepas dan menatap intens lawan bicaranya, hati Ceria kembali merasa pedih. Wanita itu tengah berfikir bagaimana cara menimbulkan perhatian, kebetulan ada seorang pelayan sedang melewati situ, Ceria segera berdiri dan memasang badan agar tertabrak pelayan tersebut, sehingga sendok-sendok yang dibawanya jatuh.
“Prangg,” otomatis semua mata beralih menatap keributan itu. Pelayan tersebut kaget, dan segera meminta maaf pada wanita yang sebetulnya sengaja agar tertabrak olehnya. Trik tersebut ternyata berhasil. Dia menangkap dengan sudut matanya, lelaki itu menoleh kearahnya, namun Ceria pura-pura tidak melihat. Dia sudah mengalihkan perhatiannya kembali pada Mark yang ada disampingnya.
Tidak berapa lama, tamu mereka datang. Diskusi santai disertai obrolan ringan terjadi. Sesekali Ceria mengambilkan lauk dan hidangan untuk tamunya dan juga untuk Mark. Dia menatap sekilas dari sudut matanya, Bagja tidak sebahagia tadi. Apakah lelaki itu merasa terganggu atas kehadirannya, ataukah dia mulai cemburu atas apa yang dilakukannya. Ceria tak ambil pusing, karena hal itu merupakan salah satu misinya.
Setelah makan siang selesai, Ceria pergi ke toilet sebelum pulang. Dia meminta Mark untuk menunggunya. Namun suara seseorang menghentikan langkahnya sebelum dia memasuki toilet perempuan.
“Ri, kamu disini lagi ngapain?” sebuah pertanyaan yang tidak berbobot terlempar dari mulut suaminya.
“Mas, ga lihat tadi aku meeting sama klien, Mas sendiri yang ngapain makan siang berdua doang?” dengan nada tenang, Ceria melemparkan pertanyaan balik yang membuat Bagja terkesiap. Lelaki itu tampak berfikir sebentar.
“Aku tadi habis meeting di tempat klien, kebetulan jam makan siang kami dijalan jadi mampir dulu cari makan,” ucapnya.
“Oooo,” hanya itu yang keluar dari mulut Ceria, kemudian dia hendak melangkah kembali.
“Ri, kamu kenapa berdandan seperti itu?” tanya Bagja seolah tak terima melihat istrinya berdandan.
“Apa ada yang salah dengan penampilanku Mas?” Ceria membalikan badan dan menatap tajam suaminya. Bagja tidak menjawab, dia hanya membuang nafas kasar.
“Aku rasa, penampilanku masih lebih sopan jika dibanding dengan wanita lain yang memakai rok diatas lutut dan model kemeja dada terbuka, aku rasa, aku masih sopan,”ucap Ceria menyindir Sisy secara halus.
“Permisi Mas, aku udah ditungguin bosku, hari ini hari pertamaku kerja,”ucap Ceria sambil melangkah meninggalkan suaminya yang masih nanar menatapnya.
Semenjak memulai rutinitas baru, Ceria kini memiliki waktu lebih sedikit untuk mengurus rumah. Baginya mengatur jadwal itu merupakan hal yang terpenting agar semua bisa berjalan dengan baik. Setiap pagi suaminya yang akan berangkat duluan ke kantor, sementara dirinya masih harus mengantar Iren ke playgroup baru kemudian berangkat kerja. Begitulah kegiatannya selama beberapa bulan terakhir.Sebuah keberuntungan bagi Ceria memiliki atasan seperti Mr. Mark, ternyata selain tampan, pintar dan kaya dia juga perhatian. Beberapa kali Mark melihat Ceria berjalan tergesa ketika hendak masuk ke kantor karena waktu sudah hampir mepet. Sehingga pada suatu hari Mark memberikan sebuah penawaran.“Ceria, how if I send a driver to pick you up every morning? I worry about your safety, then sure it will make my schedule trouble,” ucapnya pada Ceria, lelaki itu memang sudah fasih berbahasa Indonesia tetapi sesekali masih ada saja percakapan yang menggunaka
Sudah hampir satu bulan ini Ceria naik kelas, dari biasanya hanya naik ojek online dengan menggendong Iren wara-wiri setiap pagi dan sore, kini dia diantar jemput oleh mobil. Meskipun hanya mobil operasional perusahaan, namun hal itu cukup meringankan bebannya dan sangat membantunya. Namun terkadang Bagja merasa tidak nyaman ketika Mr Mark turut serta, beberapa kali dia mendapati lelaki bule itu menggendong Iren, dan putrinya tampak sangat bahagia dan akrab sekali dengan lelaki itu. Selama memiliki Iren, Bagja terkenal cuek dan hanya seperlunya terhadap gadis kecil itu. Karenanya Iren pun tidak terlalu dekat dengannya, gadis kecil itu sepenuhnya bergantung pada Ceria.Pagi itu Bagja sudah rapi mengenakan setelan jaket padahal biasanya dia berangkat ke kantor agak siang. Dia menghampiri Ceria dan Iren yang masih sarapan. Ceria membutuhkan waktu lebih lama karena harus menyuapi putri kecilnya itu. Wanita itu mengenakan setelan blezer warna peach denga
Waktu pulang kerja akhirnya datang. Seperti biasa, Ceria akan tampil maksimal agar tidak mempermalukan atasannya. Dia masih mengenakan seragam kerja, merapikan rambut dan memoles make upnya kembali. Make tipis minimalis yang membuatnya terlihat mempesona. Kali ini dia memakai lipstik peach agak orange, menambah cerah wajahnya yang sudah merona dengan sapuan blush on. Mencerminkan penampilan wanita karir yang elegan dan penuh percaya diri.Mr. Mark yang jangkung terlihat semakin gagah dengan mengenakan jas resmi, warna jas yang senada dengan blezer yang dipakai Ceria. Lelaki itu tidak perlu melakukan apapun terhadap wajahnya, hanya mencuci muka saja sudah terlihat segar. Mereka bergegas menuju tempat yang sudah dipesan oleh Ceria. Selama perjalanan, ceria melihat waktu yang berputar, berdasarkan informasi dari Bagja, perusahaannya baru akan memulai acara pada pukul tujuh malam.Beruntung, semua seolah berpihak, mereka tiba di tempat acara
Sisy menatap kecewa pada atasannya yang sudah berlalu meninggalkannya dalam pesta itu. Gadis muda itu menatap punggung Ceria yang kini nyaris menghilang, berbelok ke lobi. Matanya terlihat memendam rasa kesal. Berkali-kali dia mendengus kasar. Sisy menjatuhkan dirinya duduk ke atas sofa. Kemudian dia mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada Bagja.Sementara itu, langkah Bagja kian cepat mengejar istrinya yang melangkah tergesa. Lelaki itu tampak memiliki satu kekhawatiran terpendam. Hingga pada akhirnya wanita itu didapatkannya.GrepSebuah dekapan tanpa aba-aba. Lelaki itu memeluk tubuh Ceria dari belakang. Ceria sontak terkejut dan hampir saja spontan mendorongnya. Beruntung dia masih mengenali wangi parfum suaminya.“Mas, apaan sih, malu kali di tempat umum,” Ceria mendorong Bagja perlahan untuk menjauh. Dirinya merasa risih menjadi perhatian beberapa orang yang berlalu lalang.
Suasana pagi di rumah Nenek Marta menjadi ramai, mereka sudah duduk bersama untuk sarapan. Ceria sudah membuatkan sarapan dan secangkir kopi hitam untuk suaminya. Wanita itu tak pernah meninggalkan kebiasaannya, tetap melayani suaminya dengan baik. Sementara Iren begitu anteng disuapi oleh neneknya.“Ri, aku anter aja kamu ke kantor hari ini, kasian kalau sopir harus jemput kesini,” ucap Bagja sambil menyeruput kopinya.“Ga usah Mas, lagian Pak Agus pasti udah jalan juga dari kantor, kasian nanti udah jauh-jauh akunya malah ga ikut,” bantah Ceria.TringNotifikasi masuk pada Ponsel Bagja yang tergeletak di meja. Sekilas mata Ceria menangkap nama seseorang pada layar. Wanita itu menarik nafas panjang dan menghentikan sarapannya. Dia bergegas menghampiri Iren dan Nenek Marta yang tadi pindah ke ruang tengah. Semuanya gara-gara Maura, Iren mau sarapan bareng kucing gemuk itu.“Pak, sa
Sejak mendapatkan teguran dari ibunya, Bagja semakin berusaha menjauhi Sisy. Namun semakin berusaha dia hendak menjauh, semakin keras gadis itu berusaha untuk mendekatinya. Kedekatan yang selama ini terasa menyenangkan, menjadi sesuatu yang terasa risih sekarang. Sisy kini sering membawakan Bagja cemilan buatannya sendiri. Bahkan terkadang dia membawakan bekal makan siang.Semakin Sisy mendekatinya, semakin dia memikirkan kedekatan Ceria dengan bosnya. Setiap kali dirinya pergi keluar hangout dengan team pada weekend, istrinya juga pasti punya acara dengan mengajak Iren. Dulu baginya adalah kebahagiaan tersendiri bisa bermain futsal bersama teman-teman sekantornya, terkadang mereka hanya nongkrong di cafe, atau hanya sekedar menghabiskan waktu dengan menyewa sepeda. Beberapa tahun terakhir ini Bagja memang sudah sangat sibuk dengan dunianya sendiri, namun dengan berubahnya Ceria, kini dia mulai berfikir kembali.Seperti hari itu, setelah
Untuk pertama kalinya, Bagja merasakan kehambaran dalam acara gathering. Semua semangat dan antusiasmenya lenyap ketika membayangkan istri dan anaknya sedang berada di Bali bersama orang lain. Berkali-kali dia melihat ponselnya, namun Ceria hanya mengabarinya sekali ketika baru sampai tadi. Selebihnya hanya photo-photo Iren yang terlihat gembira di kamar hotel, di kolam renang, ada juga photo ketika Iren disuapi es krim oleh Mark.TringSebuah chat masuk, wanita-wanita yang biasanya di sapa pada akun social medianya kali ini menyapa karena melihat notifikasi online pada akun Bagja.“Hai malam, gimana touringnya seru?” Venita mengiriminya pesan. Seseorang kenalannya di dunia Maya.“Biasa aja Ven, kepikiran terus istri aku,” jawab Bagja jujur.“Tumben, biasanya kamu kan bebas kalo bisa keluar dari rumah, katanya bosen ngedengerin keluhannya mulu, tentang anak lah, tentang
Dua hari berlalu dengan lambat. Lelaki berambut ikal itu kini sudah kembali ke rumahnya. Sejak pagi dia membereskan rumah sebisanya, pekerjaan yang hampir tidak pernah dilakukannya lagi semenjak menikah. Dia hendak memberikan kejutan pada istrinya dengan membantu meringankan tugasnya. Ya, bagi Bagja membersihkan rumah hanyalah tugas istri. Namun tiba-tiba sebuah pemberitahuan pesan masuk.Tring“Mas, maafin aku, sepertinya pulangnya di undur sehari, ada delay jadwal hari ini, jadi baru pulang darisini besok,” tulis Ceria.“Oh gitu?” hanya itu balasan singkat dari Bagja. Kecewa menjalar seketika pastinya.“Mas pulang touringnya, hati-hati ya dijalan!” tulis Ceria, dia tidak tahu jika suaminya bahkan sudah sampai rumah dari dua hari yang lalu.“Iya,” hanya itu yang ditulis Bagja.Lelaki itu membaringkan tubuhnya di sofa. Kemudian dia tidak lagi ingat yang tejad
"Ja, kamu makan dulu, biar ibu jaga bayimu,” ucap Bu Marta. Bagja menoleh pada ibunya dan menyerahkan bayi itu padanya. Tapi bukannya makan, dia malah menghampiri Ceria dan menyuapinya.Setelah menyuapi istrinya makan, dia bergegas berjalan keluar mencari makanan Untuknya dan untuk Bu Marta. Namun langkahnya terhenti didepan pintu dimana tadi Evan masuk kesana. Perlahan dia mendekat dan mengintip dari celah kaca. Terlihat seorang wanita yang telah menjadi bagian dari kisah kekisruhan rumah tangganya di masalalu tengah terbaring.Wanita itu tidak lain adalah Sisy. Dia terlihat lebih kurus sekarang, wajahnya tampak lebih tua dan kurang terawat. Sejak saat itu, Bagja tidak tahu menahu lagi tentang kehidupannya. Apakah dia menikah dan bersuami. Ataukah dia menjalani semua masa sulit itu sendiri.Dari celah itu, Bagja melihat ada tawa ringan yang tergelak. Wanita itu sedang berbincang dengan Evan, entah apa yang mereka b
Ternyata Ceria benar-benar hamil, usia kandungannya beda dua minggu dengan usia kehamilan Sisy. Selama mengandung, Bagja benar-benar menjadi suami siaga. Dia tak pernah membuat wanita itu menunggu lama atas apa yang dia inginkan. Lelaki itu rupanya benar-benar memegang janjinya. Memang terkadang, seseorang baru bisa merasakan arti kehadiran, ketika dia sudah pernah diterpa badai.Seperti halnya Bagja, dia merasa beruntung mendapatkan kesempatan kedua untuk membahagiakan wanita yang dipilihnya. Begitupun Ceria, sejak kejadian itu dia tak lagi melupakan dirinya. Kini dia sudah memiliki alarm siaga dan sebisa mungkin memberikan pelayanan terbaik untuk suaminya.Ceria memang percaya jika Bagja telah berubah, tetapi tidak halnya dengan insting dan naluri laki-laki, pasti akan selalu ada celah ketika dia lengah. Karenanya, Ceria tetap mempertahankan apa yang dia miliki termasuk karir dan pekerjaan yang berkibar. Dengan memiliki itu, setidaknya dirin
Sementara lelaki itu tak henti mengulas senyum. Sesekali diusap lengan istrinya yang mendekapnya erat. Ada getaran-getaran hangat menyelinap dalam kalbunya dan memancar keluar sebagai bentuk kebahagiaan. Bagja merasakan kembali kebahagiaan yang dulu pernah dia miliki. Cerianya Bagja sudah kembali seperti dulu lagi.“Mas, kita makan ke angkringan itu yuck! " Tiba-tiba Ceria menepuk bahunya tanpa aba-aba. Bagja menarik rem dengan kuat.“Aduh kho berhenti ngedadak sih?” Ceria mencubit perut suaminya. Bagja menoleh.“Kan kamu yang minta,” ucapnya sambil tersenyum dan mengusap wajah istrinya gemas. Ceria terkekeh.Wanita itu segera turun dari sepeda motor yang sudah terparkir tidak jauh dari angkringan yang menjual aneka sarapan. Dia memilih tempat duduk lesehan, suasana yang mengingatkannya pada masa berpacaran. Bagja mengikuti istrinya.“Mau pesen makan apa Ri?” tanya Bagja, dia duduk berse
Akhirnya badai besar itu berlalu bersama punggung nenek sihir yang sudah menghilang dari rumah mereka. Bagi Ceria, Sisy adalah nenek sihir yang menggunakan kekuatan hitamnya untuk menyerang rumah tangganya. Mangacaukan hidup dan kebahagiaannya.Ceria mengajak tamunya melanjutkan acara makan malamnya. Neilson terlihat begitu menikmati makanan rumahan yang sebagian Ceria sengaja siapkan. Acara makan malam selesai, mereka mengobrol santai.Ceria mengucapkan banyak terimakasih pada kedua lelaki yang membantunya itu. Pada saat itu Neilson tiba-tiba menanyakan perihal kehamilan Sisy, sepertinya lelaki itu tertarik dengan bayinya. Neilson baru saja menikah sengan seorang model terkenal sebetulnya, namun sang istri ternyata lebih mementingkan karirnya daripada merencanakan kehamilan. Obrolan tidak berlangsung lama, waktu sudah cukup malam, akhirnya Mark dan Neilson berpamitan.Neil memang sudah menjadi sahabat kecil dari M
"Kamu bisa jelaskan ini?” Ceria menatap wajah Sisy yang mulai berubah. Sisy terlihat sedang mencoba mengendalikan dirinya.“Usia kehamilan kamu baru sekitar 7 minggu ketika di periksa, itu artinya kalian harus melakukan itu pada minggu dimana suami saya sedang dirawat,”ucap Ceria. Wajah Bagja terlihat sedikit lega, sementara Sisy masih terdiam dan menatap hasil USG yang dilemparkan padanya.“Itu saja tidak bisa membuktikan apapun, bisa saja itu adalah karangan Mba Ceria sendiri dengan mengada-ada, darimana Mba bisa tau usia kehamilanku?” wanita itu masih mencoba menyangkal.“Darimana saya tahu?”Ceria tersenyum meremehkan. Sisy menatapnya penuh kekesalan.“Darimana saya tahu, itu tidak penting, tapi data ini valid, jadi bayi itu bukan anak dari suami saya,” ucap Ceria lagi.“Mba ga bisa seenaknya seperti itu, dimana hati nurani Mba sebagai perempuan, gimana rasanya jika Mba Ceria
Sabtu itu, Ceria sudah sibuk menyiapkan berbagai makanan untuk acara sore nanti. Dia meminta Bagja menjemput wanita itu datang sekitar pukul tujuh malam. Bagja merasa heran melihat istrinya menyiapkan hidangan-hidangan spesial begitu banyak. Mungkin itu porsi untuk lima sampai enam orang. Bagja tidak banyak bertanya, selama istrinya tidak meninggalkannya pergi dari rumah itu, dia akan menuruti apa saja permintaannya meskipun tidak masuk akal.Sejak pagi, Ceria sudah menitipkan Iren di rumah mertuanya. Gadis kecil itu sudah betah menginap sendiri, terlebih bisa tidur ditemani Maura. Seharian ini Bagja hanya memperhatikan istrinya, sesekali dia membantu pekerjaannya yang dia bisa. Tidak sedikitpun terlihat sebuah letupan emosi dari wajah wanita itu, terlihat tenang dan datar. Sementara hati Bagja sendiri sedang bergemuruh tidak karuan.Menjelang sore, Bagja sudah rapi. Lelaki itu mengenakan kaos hitam dengan list me
Sejak pulang mengatar Sisy dari dr Sinta, pikiran Bagja kalut. Dia lebih banyak berdiam diri di kamar. Pikirannya berputar bagaimana cara untuk mengetahui fakta yang sebenarnya. Untuk test DNA bisa saja dilakukan akan tetapi pastinya harus menunggu jabang bayi terlahir ke dunia. Sembilan bulan, waktu yang terlampau lama. Bagja tidak sanggup jika harus berjauhan dengan istrinya dalam waktu yang begitu lama. Ada kekhawatiran yang muncul, bagaimana kalau Ceria betul-betul meninggalkannya.“Mas, bagaimana hasilnya tadi pagi?” suara Ceria membuyarkan kekalutan pikirannya. Bagja membenahi duduknya, ditarik punggungnya dari sandaran sofa. Matanya yang tadi menatap kosong kesembarang arah, kini beralih pada wanita cantik yang sudah berdiri di sampingnya.“Dia beneran hamil.” Bagja menarik nafas panjang.“Mas, kalau kamu memang merasa tidak melakukan apapun padanya, kenapa kamu tidak menyangkalnya kecuali kalau memang iya,”
Aku sudah bersiap sejak pagi, menunggu seseorang datang menjemput. Semalam dia sudah memutuskan untuk mengantarku ke dokter kandungan pilihannya. Entah apa yang ada dalam pikiran lelaki itu, aku tidak bisa menebaknya. Mungkin dia tidak percaya menerima kabar kehamilan dariku, atau memang dia bahagia. Tapi pilihan kedua itu tidak mungkin, dua bulan terakhir ini dia selalu menjaga jarak denganku.Sejak kejadian dirumah sakit waktu itu, jujur hatiku sakit. Dengan entengnya dia meyakinkan pada istrinya kalau dia tak ada hubungan apapun denganku. Dasar lelaki, setelah manis sepah dibuang. Aku merasa sangat tidak berharga waktu itu, seperti seorang wanita rendahan. Dibuang begitu saja setelah dia melakukan semuanya kepadaku.Tidak semudah itu untuk melepaskannya, rasa sakit hati ini tak bisa kuhapus sendiri. Aku tidak suka jika dia hidup bahagia dengan keluarganya setelah apa yang lelaki itu lakukan padaku. Pagi ini aku sengaja berdandan canti
Baru saja dua bulan dia merasakan kembali indahnya kebersamaan dengan keluarganya, kini Ceria dihadapkan akan sebuah kondisi rumit. Kerumitan hasil perbuatan suaminya pada masa lalu. Wanita itu masuk ke kamar untuk menenangkan diri. Direbahkannya tubuhnya diatas dipa, dia memijit pelipisnya untuk meredakan rasa pusing yang menerpa.Ceria mencoba mengesampingkan perasaan dan hatinya yang sudah terasa sesak sejak membaca tulisan dalam bungkus tespeck dua garis merah itu. Dia mencoba berfikir menggunakan logika, mencari segala pembelaan yang bisa meringankan tuduhan hatinya pada Bagja. Dia melihat ada kilat kesungguhan dalam ucapan Bagja, tapi terlihat ada ketakutan dalam diri suaminya. Apakah benar suaminya pernah berbuat sejauh itu?Ah hatinya semakin sakit jika memikirkan itu. Dia memejamkan mata, mencoba menghubungkan titik demi titik. Sejak dua bulan lalu, Ceria hampir tak pernah kehilangan suaminya. Dia melihat semua kesungguhan yang