Li Feng masih terpaku di hadapan sang pertapa tua. Setelah menyelamatkannya dari amukan roh jahat di Gunung Terlarang, pertapa itu akhirnya mengungkapkan tujuan sebenarnya: mengajari Li Feng cara mengendalikan Pedang Naga Langit. Namun, sebelum itu, ada satu hal yang harus dilakukan terlebih dahulu.
"Dengarkan baik-baik, bocah. Pedang Naga Langit bukanlah senjata biasa. Ia memiliki kutukan yang hanya bisa dikendalikan oleh mereka yang telah menguasai seni bela diri tingkat tinggi dan mengendalikan hati mereka sepenuhnya," ujar sang pertapa dengan suara yang dalam dan misterius. Li Feng mengangguk, merasakan bulu kuduknya berdiri. "Apa yang harus aku lakukan, Guru? Aku siap menjalani latihan apa pun!" Sang pertapa tertawa pelan, lalu menunjuk ke sebuah gua besar di balik rerimbunan pohon tua. "Masuki gua itu. Kau akan menghadapi cobaan pertama. Jika kau bisa keluar dengan selamat, barulah kita bicara soal latihan sebenarnya."Hening. Itulah suara pertama yang menyambut Li Feng saat ia membuka matanya. Tapi bukan keheningan biasa. Ini adalah keheningan yang menelan, membungkam, membekukan—seakan seluruh dunia menahan napas. “Ngh… Di mana ini…?” gumamnya, matanya menyipit menatap sekeliling. Tak ada langit. Tak ada tanah. Hanya kabut kelabu yang tak berujung, menggulung seperti awan mati. Udara dingin menusuk tulangnya, tetapi tak ada angin. Yang ada hanyalah tekanan—tekanan yang menindih tubuh dan jiwanya. Baru saja ia melewati latihan yang hampir membunuhnya. Tubuhnya remuk, jiwa terkoyak. Tapi ia bertahan. Bertahan demi ibunya, demi tanah kelahirannya… dan demi dirinya sendiri. Tapi sekarang? “Apakah aku… mati?” tanyanya, suara bergetar. Tiba-tiba… suara langkah terdengar. Tap… tap… tap… Li Feng menoleh cepat. Jantungnya berdetak kencang. Dari balik kabut, muncul sesosok bayangan. Langkahnya mantap,
“Apa yang kau lihat belum tentu kebenaran. Dan mereka yang berdiri di sisimu... bisa jadi adalah orang pertama yang menusuk dari belakang.” Angin malam di Gunung Terlarang menggigit seperti seribu jarum dingin yang menusuk hingga tulang. Kabut tebal turun perlahan, membungkus bumi dalam selimut kelabu yang mencekam. Di tengah kabut itu, Li Feng berdiri terpaku. Matanya menatap sosok bercahaya merah yang baru saja muncul dari balik bayangan. "Apa ini...?" gumamnya, napasnya membeku di udara. Sosok itu melayang tanpa suara. Wujudnya samar, bercahaya merah seperti bara api yang tertutup debu. Tetapi ada yang aneh. Li Feng merasakan... kehangatan. "Li Feng..." suara itu serak, tetapi familiar. Deg! Jantung Li Feng berdetak lebih cepat. "Itu... suara..." “Guru Fan?” bisiknya, nyaris tak percaya. Sosok itu tersenyum samar, tapi senyumnya tak membawa kedamaian seperti dulu. "Aku bukan l
Matahari baru saja beranjak dari peraduannya, menyinari atap-atap jerami yang basah oleh embun pagi. Desa Ping An masih terlelap dalam keheningan, kecuali satu tempat—balai desa, tempat para tetua berkumpul untuk membicarakan hal yang dianggap penting. Dan pagi ini, yang menjadi bahan pembicaraan mereka adalah seorang pemuda bernama Li Feng. “Anak itu benar-benar keras kepala! Sudah tahu dirinya miskin, malah bermimpi tinggi!” seru salah satu tetua, wajahnya dipenuhi kerutan yang mencerminkan usianya yang telah senja. “Apa yang bisa diharapkan dari bocah seperti dia?” sahut yang lain, disambut anggukan dari para hadirin. “Ayahnya sudah mati di medan perang, ibunya sakit-sakitan, dan dia sendiri tidak punya keahlian apa pun selain menghabiskan nasi.” Di sudut ruangan, seorang pemuda berdiri dengan tangan mengepal. Wajahnya masih muda, tetapi sorot matanya tajam, penuh tekad yang belum goyah meski dihujani hinaan. Itulah Li Feng. “Aku tidak akan selamanya jadi orang miskin,” katanya
Langit masih gelap saat Li Feng meninggalkan Desa Ping An. Udara pagi menusuk tulang, embun menggantung di ujung dedaunan, dan aroma tanah basah bercampur dengan harum kayu bakar yang masih menyala dari rumah-rumah warga. Ia melangkah mantap, meski hatinya masih berat meninggalkan ibunya yang sakit. "Ibu, aku berjanji akan kembali dengan membawa kehormatan," bisiknya dalam hati. Langkah kakinya terdengar di jalan berbatu yang mulai menjauh dari desa. Ia hanya membawa sebilah pisau kecil untuk berjaga-jaga, selembar kain yang membungkus beberapa potong roti kering, dan kantong kecil berisi koin perak yang ia kumpulkan dari bekerja di ladang. Itu saja bekalnya untuk perjalanan yang entah akan berakhir di mana. Di Tepi Hutan Guangming Setelah berjalan hampir seharian, Li Feng tiba di tepi Hutan Guangming. Hutan ini terkenal dengan jalurnya yang berliku dan rumor tentang bandit yang sering merampok para pelancong. Namun, tak ada jalan lain menuju ibu kota tanpa melewati tempat ini. "
Malam itu, angin musim gugur berembus lembut di sepanjang jalanan ibu kota. Cahaya lentera berpendar keemasan, menerangi trotoar batu yang ramai oleh pedagang kaki lima dan pengunjung kedai. Li Feng berdiri di depan Kedai Tianxiang, sebuah bangunan dua lantai yang cukup besar, dengan aroma harum masakan yang menguar dari dapurnya. Ia menghela napas dalam-dalam sebelum melangkah masuk. Di dalam, suasana penuh riuh rendah. Para pelanggan menikmati makanan mereka sambil bercakap-cakap, sementara pelayan berlalu-lalang membawa nampan penuh mangkuk dan teko arak. Seorang pria bertubuh kekar, dengan lengan tergulung dan celemek yang tampak kotor karena percikan minyak, menatap Li Feng dengan mata tajam. "Kau siapa?" suara pria itu berat dan berwibawa. Li Feng membungkuk dengan hormat. "Nama saya Li Feng. Saya datang untuk mencari pekerjaan." Pria itu menyipitkan mata, mengamati pakaian Li Feng yang lusuh dan wajahnya yang terlihat lelah setelah perjalanan panjang. "Hah! Apa kau bisa bek
Suasana Kedai Tianxiang yang biasanya riuh dengan suara pelanggan malam ini terasa lebih gaduh dari biasanya. Para pengunjung menikmati makanan mereka, ditemani arak hangat yang mengalir deras ke dalam cangkir-cangkir porselen. Di sudut kedai, Li Feng sibuk mencuci piring dengan cekatan. Tangannya bergerak lincah, meskipun tubuhnya terasa lelah setelah seharian bekerja. Namun, di balik lelahnya, ada ketenangan yang ia rasakan. Setidaknya, di tempat ini ia memiliki atap untuk berteduh dan makanan yang cukup untuk bertahan hidup. Tapi malam itu, takdir tampaknya punya rencana lain. Seorang pria bertubuh kekar dengan bekas luka panjang di pipinya masuk ke dalam kedai. Wajahnya penuh kesombongan, langkahnya berat seolah menantang siapa saja yang berani melawan. Semua orang langsung menundukkan kepala. Mereka mengenalnya—Zhang Bao, seorang pendekar bayaran yang terkenal kejam dan tak segan membunuh hanya karena alasan sepele. Xiao Lan, gadis pelayan yang selama ini baik pada Li Feng, m
Angin malam menyapu jalanan ibu kota dengan lembut, membawa sisa aroma masakan dari Kedai Tianxiang. Suasana yang biasanya ramai kini perlahan mereda, hanya tersisa beberapa pelanggan yang masih berbincang santai. Namun, di tengah ketenangan itu, langkah berat sekelompok prajurit menggema di jalan berbatu. Li Feng, yang baru saja menyelesaikan tugasnya mencuci piring, mendongak ke arah pintu. Matanya bertemu dengan tatapan tajam seorang pria berbaju zirah perak, dengan jubah merah berkibar di belakangnya. Prajurit itu tinggi, berwibawa, dan wajahnya penuh bekas luka—tanda bahwa ia bukan sembarang orang. "Siapa di antara kalian yang bernama Li Feng?" Suaranya bergema di dalam kedai, membuat semua orang yang masih tersisa menoleh. Jantung Li Feng berdegup lebih cepat. Xiao Lan, yang berdiri tak jauh darinya, tampak menegang. "Li Feng… apa yang mereka inginkan darimu?" bisiknya. Li Feng menarik napas dalam. Ia tidak melakukan kesalahan apa pun. Namun, sejak perkelahian sebelumnya, ia
Li Feng berdiri di tengah alun-alun akademi militer, dikelilingi oleh ratusan pemuda lain yang juga berharap bisa menjadi bagian dari pasukan kekaisaran. Cahaya matahari yang menyengat membakar tanah berpasir, membuat keringat mengalir di pelipisnya. Namun, bukan panas yang membuatnya gugup, melainkan pandangan tajam para penguji—para jenderal berpengalaman yang akan menentukan siapa yang layak melangkah lebih jauh. Di depannya, seorang pria tinggi berotot dengan bekas luka di wajah berjalan ke tengah lapangan. Itu adalah Jenderal Zhao, pria yang dikenal karena kebengisannya dalam melatih prajurit baru. "Siapa pun yang ingin menjadi prajurit kekaisaran harus melewati tiga ujian!" suara Jenderal Zhao menggema, membuat banyak calon prajurit menelan ludah. "Pertama, ujian fisik. Kedua, ujian pertarungan. Ketiga, ujian strategi. Jika kau gagal dalam satu saja, anggaplah impianmu berakhir di sini!" Sorak-sorai dan desahan terdengar dari kerumunan. Beberapa wajah berubah pucat, sementara
“Apa yang kau lihat belum tentu kebenaran. Dan mereka yang berdiri di sisimu... bisa jadi adalah orang pertama yang menusuk dari belakang.” Angin malam di Gunung Terlarang menggigit seperti seribu jarum dingin yang menusuk hingga tulang. Kabut tebal turun perlahan, membungkus bumi dalam selimut kelabu yang mencekam. Di tengah kabut itu, Li Feng berdiri terpaku. Matanya menatap sosok bercahaya merah yang baru saja muncul dari balik bayangan. "Apa ini...?" gumamnya, napasnya membeku di udara. Sosok itu melayang tanpa suara. Wujudnya samar, bercahaya merah seperti bara api yang tertutup debu. Tetapi ada yang aneh. Li Feng merasakan... kehangatan. "Li Feng..." suara itu serak, tetapi familiar. Deg! Jantung Li Feng berdetak lebih cepat. "Itu... suara..." “Guru Fan?” bisiknya, nyaris tak percaya. Sosok itu tersenyum samar, tapi senyumnya tak membawa kedamaian seperti dulu. "Aku bukan l
Hening. Itulah suara pertama yang menyambut Li Feng saat ia membuka matanya. Tapi bukan keheningan biasa. Ini adalah keheningan yang menelan, membungkam, membekukan—seakan seluruh dunia menahan napas. “Ngh… Di mana ini…?” gumamnya, matanya menyipit menatap sekeliling. Tak ada langit. Tak ada tanah. Hanya kabut kelabu yang tak berujung, menggulung seperti awan mati. Udara dingin menusuk tulangnya, tetapi tak ada angin. Yang ada hanyalah tekanan—tekanan yang menindih tubuh dan jiwanya. Baru saja ia melewati latihan yang hampir membunuhnya. Tubuhnya remuk, jiwa terkoyak. Tapi ia bertahan. Bertahan demi ibunya, demi tanah kelahirannya… dan demi dirinya sendiri. Tapi sekarang? “Apakah aku… mati?” tanyanya, suara bergetar. Tiba-tiba… suara langkah terdengar. Tap… tap… tap… Li Feng menoleh cepat. Jantungnya berdetak kencang. Dari balik kabut, muncul sesosok bayangan. Langkahnya mantap,
Li Feng masih terpaku di hadapan sang pertapa tua. Setelah menyelamatkannya dari amukan roh jahat di Gunung Terlarang, pertapa itu akhirnya mengungkapkan tujuan sebenarnya: mengajari Li Feng cara mengendalikan Pedang Naga Langit. Namun, sebelum itu, ada satu hal yang harus dilakukan terlebih dahulu. "Dengarkan baik-baik, bocah. Pedang Naga Langit bukanlah senjata biasa. Ia memiliki kutukan yang hanya bisa dikendalikan oleh mereka yang telah menguasai seni bela diri tingkat tinggi dan mengendalikan hati mereka sepenuhnya," ujar sang pertapa dengan suara yang dalam dan misterius. Li Feng mengangguk, merasakan bulu kuduknya berdiri. "Apa yang harus aku lakukan, Guru? Aku siap menjalani latihan apa pun!" Sang pertapa tertawa pelan, lalu menunjuk ke sebuah gua besar di balik rerimbunan pohon tua. "Masuki gua itu. Kau akan menghadapi cobaan pertama. Jika kau bisa keluar dengan selamat, barulah kita bicara soal latihan sebenarnya."
Li Feng terengah-engah, tubuhnya dipenuhi luka setelah berhasil menghindari jebakan terakhir yang hampir saja mencabut nyawanya. Gunung Terlarang ternyata lebih mengerikan dari yang ia bayangkan. Bayangan hitam berkelebat di sekelilingnya, suara bisikan dari roh-roh jahat bergema di udara. “Kau tidak akan selamat… Kau akan menjadi bagian dari kami…” Li Feng menggigit bibirnya, menahan rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya. “Tidak… Aku harus bertahan!” batinnya. Namun, sebelum ia bisa melangkah lebih jauh, tubuhnya kehilangan keseimbangan. Pandangannya kabur, kakinya melemas, dan akhirnya semuanya berubah menjadi gelap. Saat kesadaran kembali perlahan, Li Feng merasakan tubuhnya terasa ringan, seakan beban yang selama ini ia pikul menghilang. Perlahan ia membuka mata. “Di mana ini?” gumamnya. Atap bambu yang sederhana menyambut pandangannya. Aroma herbal menyengat hidungnya, bercampur dengan hawa sejuk khas pegunungan. “Akhirnya kau
Hembusan angin dingin menyapu wajah Li Feng saat ia berdiri di kaki Gunung Terlarang. Kabut pekat menyelimuti puncaknya, menciptakan aura mistis yang membuat bulu kuduknya meremang. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan hatinya yang berdebar. "Hah... Tempat ini benar-benar menyeramkan," gumamnya sambil menggenggam erat pedangnya. Di belakangnya, langkah kaki samar terdengar. Li Feng menoleh cepat, matanya tajam menelusuri kegelapan. Tidak ada siapa-siapa, hanya dedaunan kering yang berguguran dihembus angin. "Aku harus tetap waspada. Gunung ini bukan tempat biasa." Dengan hati-hati, ia mulai menapaki jalur setapak yang terjal. Batu-batu licin akibat embun malam membuat langkahnya sedikit terseok. Ia harus ekstra hati-hati, satu langkah salah bisa membuatnya tergelincir ke jurang di bawah. Tiba-tiba, suara gemeretak terdengar di kejauhan. Li Feng langsung berhenti dan mengamati sekeliling. Semak-semak be
Langit mulai meredup saat Li Feng menapaki jalan setapak berbatu yang mengarah ke Gunung Terlarang. Angin dingin berembus, membawa aroma dedaunan basah dan tanah yang lembap. Sesekali, ranting-ranting pohon bergoyang, menciptakan bayangan yang menyeramkan di antara kabut yang mulai turun. "Hah… siapa sangka perjalanan ini akan seberat ini," gumamnya sambil mengusap keringat di pelipisnya. Baru beberapa li meninggalkan perbatasan ibu kota, Li Feng sudah merasakan bahaya yang mengintainya. Ia tahu bahwa banyak pihak menginginkan kepalanya, baik karena hadiah yang ditawarkan atau dendam yang mendalam. Dan benar saja, di depan sebuah persimpangan, tiga sosok berjubah gelap telah menunggunya. Mata mereka menatap tajam seperti serigala yang kelaparan. "Li Feng! Akhirnya kau muncul juga!" salah satu dari mereka berseru sambil mencabut pedang panjangnya. Li Feng menajamkan pandangannya. "Pemburu hadiah, ya?" Ia menar
Malam di ibu kota terasa lebih sunyi dari biasanya. Li Feng berdiri di ambang jendela, memandang ke kejauhan dengan tatapan penuh tekad. Keputusan telah diambil—ia harus pergi dari sini sebelum musuh yang lebih kuat datang memburunya. "Xiao Lan, kau yakin tidak apa-apa jika aku pergi sekarang?" tanya Li Feng dengan suara yang sarat kekhawatiran. Xiao Lan yang terbaring di atas tempat tidur dengan perban di lengannya mengangguk pelan. "Aku lebih baik sekarang. Kau harus pergi sebelum mereka menemukan tempat ini." Li Feng mengepalkan tangannya. "Aku bersumpah, aku akan kembali dengan lebih kuat. Tidak ada yang bisa menginjak-injak kita lagi." Tanpa menunggu lebih lama, ia mengenakan jubah hitamnya dan memasukkan beberapa perbekalan ke dalam kantong kain. Xiao Lan menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Hati-hati di Gunung Terlarang, Li Feng. Banyak yang mengatakan tempat itu menyimpan lebih dari sekadar rahasia."
Malam terasa sunyi setelah pertarungan yang mengerikan itu berakhir. Cahaya bulan menerangi halaman kediaman Li Feng yang kini porak-poranda. Bau anyir darah masih memenuhi udara, dan mayat-mayat para penyerang tergeletak tak bernyawa. Namun, Li Feng tidak memedulikan itu semua. Matanya hanya tertuju pada satu hal—Xiao Lan yang terbaring lemah di pangkuannya. "Xiao Lan… bertahanlah!" Li Feng menggenggam tangan gadis itu erat. Napasnya memburu, bibirnya gemetar. Xiao Lan tersenyum tipis, meski wajahnya pucat pasi. "Aku baik-baik saja… jangan khawatir…" Kata-kata itu terdengar lemah dan hampir tidak terdengar. Luka di perutnya masih mengeluarkan darah. Li Feng tahu betul, jika ia tidak segera melakukan sesuatu, Xiao Lan akan kehilangan nyawanya. "Tidak! Kau tidak akan baik-baik saja jika terus seperti ini!" Li Feng menatap sekeliling, mencari seseorang yang bisa membantu. "Aldi! Cepat panggil tabib terbaik di ibu kota!"
Suara dentingan pedang dan jeritan pertempuran masih menggema di udara ketika Li Feng menghunus pedangnya dengan napas tersengal. Serangan mendadak para pembunuh bayaran membuat kediamannya hancur berantakan, tubuh-tubuh terkapar di halaman rumah, beberapa masih menggeliat dalam sekarat. Namun, tidak ada yang lebih membuat darahnya berdesir selain sosok yang tergeletak di depan matanya. “Xiao Lan!” Li Feng bergegas berlutut di samping gadis itu. Tubuhnya bersimbah darah, matanya setengah terpejam, dan napasnya lemah. Sebuah luka menganga di bahu kanannya, darah merembes tanpa henti, membasahi kain pakaiannya yang sudah kotor oleh debu dan tanah. Tangannya gemetar saat menyentuh pipi gadis itu. “Bertahanlah, Xiao Lan. Aku akan menyelamatkanmu.” Xiao Lan tersenyum samar, matanya mencoba menatap Li Feng meski kelopak matanya terasa begitu berat. “Kau... kau baik-baik saja, Li Feng?” suaranya lemah, hampir tak terdengar di teng