Hati Amber tidak tenang, kegelisahan merayap dalam dirinya, karena memikirkan Jessie. Dia ingin melihat sendiri teman baiknya itu. Meski Mark sudah melaporkan Jessie baik-baik saja, tapi tetap Amber ingin mengunjungi teman baiknya itu. “Aku harus menemui Jessie. Aku akan meminta izin pada Julian,” ucap Amber penuh tekad kuat. Amber merasa kondisinya sudah cukup membaik. Trauma yang dialami memang cukup membekas, tapi sudah jauh lebih baik, karena Julian juga telah memanggil psikiater untuk membantunya pulih. Psikiater membantu Amber mengenali emosinya dan memberikan teknik untuk mengelola rasa takutnya. Tentu proses ini tidak instan, tetapi dengan dukungan Julian yang selalu ada di sisinya, Amber perlahan mulai merasa lebih percaya diri dan aman. Tak menampik bahwa kejadian ini membuatnya selalu merasa tidak aman, tetapi dia meyakinkan bahwa Julian selalu ada di sisinya. Sejak kejadian di gudang tua, Julian masih mengerjakan pekerjaan di rumah. Hanya sesekali dia datang ke kantor,
James duduk di meja kerjanya, dikelilingi oleh tumpukan berkas dan laporan yang harus diselesaikannya. Pria paruh baya itu tampak sangat fokus, matanya menyapu layar MacBook, dengan sangat serius. Meski tak lagi muda, tapi nyatanya dia tetap fokus pada Kingston Corp. “Sayang,” panggil Gracey lembut, sambil menempatkan cangkir kopi di samping meja kerja James. “Aku buatkanmu kopi.” James mengambil kopi itu, dan menyesap perlahan. “Di mana kembar?” tanyanya pada sang istri. “Kembar masih di ruang bermain. Julian dan Amber masih memiliki urusan belum bisa menjemput kembar,” jawab Gracey memberi tahu. James mengangguk singkat. “Julian meninggalkan pekerjaan, demi menyelamatkan wanita itu. Padahal harusnya Julian berpikir, jika wanita itu memiliki masalah, maka artinya wanita itu bukan wanita baik!” Seketika raut wajah Gracey berubah mendengar apa yang dikatakan oleh James. Ya, wanita paruh baya itu sudah menceritakan pada sang suami terntang kejadian di mana Amber hampir diculik bers
Langit kelabu menggantung rendah, seolah mencerminkan suasana hatinya. Julian menjemput anak kembarnya di rumah orang tuanya. Dia hanya sendirian tanpa kehadiran Amber. Dia tidak ingin menambah ketegangan dengan membawa Amber—yang sering kali membuat dirinya dan ayahnya berdebat. Tentu ini bukan salah Amber, tapi ini karena ayahnya yang selalu skeptis terhadap pilihan hidupnya, terutama ketika menyangkut hubungan pribadinya. Saat Julian di rumah orang tuanya, dia merasakan campuran rasa cemas dan rindu. Pria tampan itu tahu Victor dan Violet sudah menunggu, dan senyum mereka selalu bisa mencerahkan harinya, bahkan di hari yang mendung sekalipun. Tepat di kala pintu terbuka—wajah-wajah ceria anak-anaknya menyambutnya, dan seketika suasana hatinya berubah.“Daddy!” teriak Victor, berlari menghampiri Julian dan memeluknya erat. Violet mengikuti dengan senyuman lebar, tangan mungil gadis kecil itu terangkat untuk meminta pelukan juga. Sementara Julian langsung membungkuk dan memeluk anak
Julian masih terjaga di samping Amber, merasakan ketenangan yang menyelimuti mereka. Namun, suasana damai itu segera terganggu ketika ponselnya bergetar di meja samping tempat tidur. Terpaksa, pria itu meraih ponsel dan melihat nomor yang muncul di layar adalah nomor ayahnya. Julian mengembuskan napas panjang, malas menjawab telepon dari ayahnya itu. Namun, jika dia mengabaikan, maka pasti ayahnya itu akan mencari-cari masalah. Hal tersebut yang membuatnya terpaksa menjawab panggilan itu. “Ada apa, Dad?” jawab Julian, berusaha terdengar santai meskipun ada rasa cemas yang mulai menggelayuti pikirannya.“Julian, kita punya masalah besar,” suara James terdengar tegas dan penuh kekhawatiran. “Perusahaan cabang kita di Dallas mengalami kebakaran besar. Orang-orangku sedang berusaha mengendalikan situasi, tapi aku butuh kau untuk berangkat ke Dallas sekarang!” Julian tertegun sejenak, berita itu menghantamnya seperti petir di siang bolong. “Kebakaran? Bagaimana bisa terjadi, Dad? Lalu,
“Amber, aku harus ke kantor dulu. Ada pekerjaan penting yang ingin aku periksa. Kembar nanti ke sekolah diantar sopir, ya?” Julian berkata seraya memakai arloji ke pergelangan tangannya. Pria tampan itu tampak terburu-buru di kala pagi menyapa. Amber melangkah mendekat, menghampiri Julian. “Tidak apa-apa, Sayang. Kau fokus saja mengurus pekerjaanmu. Kembar sudah biasa diantar sopir. Kembar kan anak-anak yang pintar.” Julian menarik dagu Amber, mencium dan melumat bibir wanita itu. “Terima kasih sudah mengertiku. Setelah masalah selesai, aku akan mengajakmu dan kembar berlibur.” Amber tersenyum, dan mengangguk merespon ucapan Julian. “Kita keluar sekarang. Kembar pasti sudah bersiap-siap ke sekolah.” Julian mengangguk, lalu dia melangkah keluar kamar—dan benar saja di depan kembar sudah sangat antusias untuk berangkat sekolah. Dua bocah itu sudah siap dengan seragam sekolah yang tampak tampan dan cantik di tubuh kembar. “Kembar, kalian diantar sopir dulu, ya? Daddy hari ini ada u
Julian melonggarkan dasi yang mengikat lehernya. Pria tampan itu tampak menunjukkan rasa kesal, di kala asistennya melaporkan belum ada informasi lanjutan tentang dalang di balik kebakaran perusahaannya yang di Dallas. Hal itu membuatnya menjadi beban pikiran, dan ayahnya terus menerus menyudutkannya. Julian menyambar wine di atas meja, dan menenggak wine-nya hingga tandas. Otaknya benar-benar penuh dengan masalah di perusahaan. Pun tekanan dari sang ayah—membuatnya semakin sakit kepala. Dia paling membenci masalah berlarut-larut seperti sekarang ini. “Tuan Julian!” Tiba-tiba Mark menerobos ruang kerja Julian, dan sontak membuat Julian langsung menatap dingin dirinya. “Ada apa kau belari seperti itu, Mark?” seru Julian kesal, menatap asisten pribadinya yang berlari tak jelas. Mark tampak gelisah dan panik. “Tuan, terjadi sesuatu.” Kening Julian mengerut dalam. “Terjadi sesuatu? Sesuatu apa yang kau maksud, Mark?” tanyanya menuntut asisten pribadinya itu untuk menjawab. Mark mem
Julian menatap layar ponselnya di kala rasa ragu membentang dalam diri. Rasa ragu timbul karena kebingungan harus menghubungi Amber atau tidak. Dia khawatir jika memberikan kabar pada Amber tentang kembar hilang, akan membuat Amber dilanda kecemasan hebat. Namun, jika dia tak memberi tahu pastinya Amber akan khawatir—apalagi sampai jam segini kembar masih belum pulang. “Lebih baik aku menghubungi pelayan.” Julian memutuskan menghubungi nomor pelayan di penthouse-nya. Tujuannya tentu karena dia ingin memastikan Amber sedang apa, dan dalam keadaan khawatir atau bagaimana. Hal yang pasti dia tak ingin Amber mengalami stress. “Selamat siang, Tuan Julian,” jawab sang pelayan dari seberang sana, kala panggilan terhubung. “Siang. Aku ingin tahu apa yang dilakukan Amber?” ujar Julian dengan nada dingin, dan datar. Sang pelayan terdiam sebentar. “Tuan, tadi Nona Hayes khawatir karena kembar belum pulang, dan yang saya tahu sekarang beliau menyusul ke sekolah kembar.” Raut wajah Julian ber
Julian menatap Jessie yang baru saja tiba. Pria itu tampak menunjukkan jelas kebingungan di kala Jessie menghampirinya dengan langkah kaki yang terburu-buru. Meski belum berkata, tetapi dia merasa ada sesuatu yang tidak beres—dan raut wajah Jessie menunjukkan demikian. “Julian,” panggil Jessie panik. “Ada apa, Jessie?” tanya Julian dingin, dengan sorot mata tegas. Jessie gelisah tak menentu. “Julian, A-Amber dalam bahaya. T-tadi aku—” Julian meraih kedua bahu Jessie. “Amber dalam bahaya? Apa maksud ucapanmu, Jessie?” tanyanya mendesak wanita itu untuk menjawab. Jessie menatap Julian dengan tatapan panik. “A-aku baru saja kembali dari rumah sakit, dan di sana aku tidak sengaja mendengar percakapan dua pria asing. Aku mendengar mereka orang suruhan Mike, dan ternyata Mike berhasil menjebak Amber, dan menyandera kembar. J-Julian, lakukan sesuatu. A-aku takut hal buruk menimpa sahabatku.” Raut wajah Julian berubah mendengar apa yang dikatakan oleh Jessie. Kilat matanya menunjukkan
Alunan musik mengiringi pengantin wanita yang memasuki ballroom hotel mewah yang ada di New York. Amber didampingi James—ayah kandung Julian—memasuki sebuah ballroom hotel. Tampak para tamu undangan tak lepas menatap penampilan Amber yang begitu cantik dan sempurna. Amber seharusnya ditemani oleh ayahnya. Namun, takdir memiliki rencana yang berbeda. Hari yang indah itu, Amber ditemani oleh calon ayah mertuanya, karena ayah kandungnya telah berada di surga. Meski ada rasa sedih, tetapi hatinya tetap bersyukur. Kilat kamera wartawan terus terarah pada Amber yang baru saja memasuki ballroom hotel. Seluruh keluarga tersenyum haru bahagia melihat Amber yang hari itu terlihat seperti seorang putri raja yang sangat cantik dan menawan. Hanya satu kata yang menggambarkan Amber hari itu yaitu sempurna. Ya, pernikahan Amber dan Julian diadakan secara mewah. Ribuan tamu yang datang dari berbagai kalangan. Mulai dari artis ternama, model ternama, hingga pengusaha-pengusaha ternama yang hadir
Langit megah seakan mendukung hari itu adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Amber dan Julian. Dua insan yang saling mencintai itu sebentar lagi akan mengikat hubungan mereka lebih sakral—di mana tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka kecuali maut. Upacara pernikahan akan segera diadakan. Amber sudah tampil cantik, dan membuat sang make up artis terkagum. Bukan hanya sang make artis yang kagum, tetapi Jessie yang ada di sana sangat kagun akan penampilan Amber. Tubuh indah Amber terbalut oleh gaun pengantin yang sangat indah. Tiara berlian yang ada di kepala Amber, membuat semua kaum hawa pasti akan menjerit iri. Ya, Amber layaknya seorang putri raja yang akan segera menikah dengan seorang pangeran tampan. Persiapan pernikahan Amber dan Julian benar-benar singkat, tetapi dari segi kesiapan semuanya berjalan seakan telah tertata dengan sempurna. Bisa dilihat dari penampilan Amber yang memukau dan hotel berbintang lima yang dipilih sebagai resepsi, begitu menunjukkan kemewahan.
Amber menyambut kedatangan Julian. Wanita cantik itu memberikan kecupan dan pelukan di tubuh pria yang sangat dia cintai itu. Waktu menunjukkan pukul lima sore, dan Julian baru saja kembali ke kantor. Sementara kembar sudah pulang dijemput oleh sopir. “Kembar di mana?” tanya Julian seraya mengurai pelukan Amber, tapi memberikan kecupan di kening wanita itu. “Kembar sedang di ruang belajar. Mereka sedang menyelesaikan tugas-tugas mereka,” jawab Amber sambil membantu meletakan jas Julian ke tempat pakaian kotor. “Julian, bagaimana harimu di kantor? Semua baik-baik saja, kan?” tanyanya hangat. Julian melepaskan arlojinya, meletakan ke tempat penyimpanan arloji. “Ya, pekerjaanku semua baik. Tadi, ayahku mengubungiku, memintaku untuk tidak terlalu banyak memikirkan pekerjaan. Ayahku memintaku fokus pada rencana pernikahan kita. Tapi, aku sudah menjelaskan padanya, rencana pernikahan kita semua sudah diurus dengan baik. Mark banyak membantuku.” Amber mendekat, memeluk Julian dari belak
Kabar rencana pernikahan Amber dan Julian sudah tersebar di seluruh media. Pemberitaan sebelumnya yang heboh karena kematian Clara, mulai tergantikan dengan berita kebahagiaan rencana pernikahan Amber dan Julian. Dua insan saling mencintai itu bahkan tidak jarang mengumbar kemesraan di publik. Mereka saling menunjukkan cinta mereka yang luar biasa. Ya, ini bagaikan kisah yang tak pernah Amber sangka dalam hidupnya. Wanita cantik itu tidak pernah mengira akan bertemu kembali dengan Julian, dan melanjutkan kisah mereka yang berawal dari sebuah hal yang tak mungkin. Amber dulu terpuruk di saat ayahnya meninggal dunia. Dia merasakan sendiri di dunia. Sampai semua berubah di kala dirinya bertemu dengan Julian—membuatnya dan Julian terlibat hubungan yang sangat rumit. Seperti permainan takdir yang tak disangka-sangka. Hubungan Amber dan Julian tidak seperti kisah romansa yang lain. Mereka penuh lika-liku. Bahkan kejadian buruk kerap menghantam hubungan mereka, tetapi untungnya takdir mem
Amber dan Julian bersama kembar sudah pulang. Tinggal Gracey dan James berdua di mansion megah mereka. Tampak pasangan suami istri yang sudah tidak lagi muda itu terus berpelukan. Lebih tepatnya Gracey tak ingin melepaskan pelukannya pada James. “Jika kau terus menerus memelukku seperti ini, aku bisa mati karena sesak napas,” ucap James dingin, dengan raut wajah datar. Gracey langsung mengurai pelukannya, menatap hangat sang suami. “Maaf, aku terlalu senang akhirnya kau memberikan restu untuk putra kita menikahi Amber. Aku sangat bahagia, Sayang.” “Aku hanya melakukan apa yang sudah seharusnya aku lakukan,” jawab James lagi masih dengan nada dingin. Gracey tersenyum lembut. “Saat aku mendengar kau memanggil polisi untuk membantu Julian menyelamatkan Amber, aku sangat bahagia. Aku selalu berdoa pada Tuhan agar kau bisa memberikan restu agar Amber dan Julian menikah. Ternyata Tuhan benar-benar mendengar apa yang aku doakan. Terima kasih, Sayang.” Sebelumnya, Gracey sudah tahu tenta
Amber membantu Gracey dan pelayan yang menghidangkan makanan ke atas meja makan. Banyak menu makanan lezat yang terhidang. Tampak kembar riang sejak tadi riang dan tak sabar untuk menikmati makanan lezat itu. Namun, sayang di kala kembar riang, Amber malah terlihat muram. “Amber, ayo kita makan. Kembar sudah tidak sabar,” ajak Gracey lembut, mengajak Amber untuk makan bersama. Amber terdiam sebentar. “Tapi, Julian dan Tuan James masih belum turun, Mom. Lebih baik kita tunggu mereka saja.” Gracey tersenyum hangat. “Kau sebentar lagi akan menikah dengan Julian masih saja memanggil James dengan sebutan Tuan James. Harusnya kau memanggil ayah Julian itu dengan sebutan Daddy, Amber.” Amber belum merespon ucapan Gracey. Tentu selama ini dia tidak berani memanggil James dengan panggilan ‘Daddy’, karena dia sadar bahwa selama ini James tidak pernah menyukai dirinya. Gracey yang melihat Amber melamun, langsung menyentuh bahu Amber. “Lebih baik kita makan dulu. Tidak usah tunggu Julian dan
“Yeay! Daddy dan Mommy sudah datang!” Victor dan Violet berseru riang gembira melihat kedua orang tuanya datang. Mereka berlari, menghamburkan tubuh mereka pada kedua orang tuanya itu. Julian dan Amber tersenyum hangat mendapatkan sambutan dari anak kembar mereka. Bisa dikatakan Julian dan Amber sudah tak sabar bertemu dengan anak kembar mereka yang belakangan ini dititipkan di rumah kedua orang tua Julian. “Selama bersama Grandpa dan Grandma kalian jadi anak yang patuh, kan?” tanya Amber seraya membelai pipi Victor dan Violet dengan lembut. Victor menoleh menatap Violet. “Mommy, aku selalu patuh. Violet suka nakal, Mommy. Violet tidak patuh pada Grandpa dan Grandma.” Violet berdecak kesal di kala Victor menyalahkan dirinya. “Aku ini anak yang patuh, Victor! Kau jangan sembarangan bicara.” Victor mengulurkan lidahnya, meledek Violet. “Kau menyebalkan!” Violet hendak memukul Victor, tetapi Amber segera menahan tangan Violet. “Violet, sudah jangan seperti itu,” kata Amber menging
Suasana kafe di Manhattan tampak sunyi dan tentram. Beberapa pengunjung datang, dan tak menimbulkan suara berisik. Bisa dikatakan kafe itu memang tidak terlalu banyak pengunjung. Namun, meski tak terlalu banyak pengunjung—kafe itu memiliki desain klasik yang luar biasa menakjubkan. “Kau Tuan Johan Maes?” tanya Julian, dengan nada dingin di kala tiba di hadapan sosok pria bernama ‘Johan Maes’. Johan mengangguk singkat. “Kau Julian Kingston yang mengajakku bertemu?” balasnya, dengan nada tenang. Julian duduk di hadapan Johan. “Aku senang kau ada di New York, jadi pertemuan kita bisa berlangsung lebih cepat.” Julian meminta Mark untuk mengatur pertemuan dengan Johan Maes—pria asal Belgia—yang menahan perusahaan keluarga Amber. Beruntung Johan sedang ada di New York, jadi Julian bisa segera bertemu dengan pria itu. Johan mengambil wine yang ada di atas meja, dan menyesap perlahan. “Asistenmu Mark bilang kau ingin membahas sesuatu hal yang menguntungkan. Aku lihat profil perusahaanmu
Amber membuka kedua matanya di kala sudah terbangun dari tidurnya, tatapannya mengendar ke sekitar—melihat ke jam dinding waktu menunjukkan pukul delapan malam, tapi dia belum melihat keberadaan Julian. Dia meraih ponsel, bermaksud ingin menghubungi Julian, tetapi belum juga dia menghubungi, ternyata pintu kamar terbuka—dan Julian muncul di ambang pintu. “Julian? Akhirnya, kau pulang.” Amber tersenyum lega melihat Julian pulang, dia mendekat dan memberikan pelukan hangat. “Maaf, membuatmu menunggu.” Julian membalas pelukan Amber, dan mengecupi puncak kepala wanita itu. Amber mendongak, menatap hangat Julian. “Apa Mark membahas pekerjaan padamu?” tanyanya ingin tahu. Julian membelai pipi Amber lembut. “Ya, ada beberapa hal mengenai pekerjaan yang dibahas Mark. Amber, ada yang ingin aku beri tahu.” “Kau ingin memberitahuku apa, Julian?” tanya Amber lembut. Julian menarik dagu Amber, mencium dan melumat lembut bibir wanita itu. “Besok kita harus datang ke pemakaman Clara.” Raut wa