Malam itu, Julian kembali ke penthouse bersama Amber. Perasaan lega bercampur dengan kecemasan mengisi hatinya. Pria tampan itu tahu bahwa keputusan ini tidak akan mudah, tapi dia yakin itu adalah yang terbaik untuk masa depan mereka.“Julian, ada hal yang ingin aku katakan padamu,” ucap Amber lembut seraya menatap Julian. Julian melangkah mendekat, menatap dalam mata indah Amber. “Semua baik-baik saja, kan?” Amber mengangguk. “Ya, semua baik-baik saja. Tapi … jujur, ada sesuatu yang mengganjal di hatiku.” “Katakan padaku, apa yang mengganjal di hatimu, Amber?” tanya Julian lembut, dan hangat. Amber terdiam sebentar, tampak sangat ragu untuk mengatakan perasaannya. Namun, dia tak mungkin hanya diam saja di kala ada sesuatu hal yang mengganjal di hatinya. Paling tidak, dia tetap harus menyeruakan apa yang mengusik ketenangannya. “Tadi Clara terlihat sangat marah, Julian,” ucap Amber lembut. Julian mengangguk. “Ya, dia terliha sangat marah. Lalu?” “Ayah Clara bisa bersikap bijak
Amber duduk dengan tatapan menatap hangat anak-anaknya yang baru saja datang. Senyuman di wajahnya terlukis di kala mendapatkan pelukan erat dari anak kembarnya. “Mommy!” seru Victor dan Violet serempak, mereka berlari ke arah Amber dan memeluknya erat. Tampak bocah kembar itu menunjukkan raut wajah yang riang gembira. “Bagaimana hari kalian anak-anak? Kalian senang main bersama Grandma?” tanya Amber dengan senyum penuh kasih. “Kami bersenang-senang! Grandma mengajak kami bermain di taman,” kata Victor dengan antusias.Gracey tersenyum lembut, melepaskan mantel dan duduk di sofa.Ya, hari ini Gracey menjemput Victor dan Violet, mengajak anak kembar itu bermain. Tentunya Amber tidak melarang, karena bagaimanapun Gracey adalah nenek si kembar. Amber mengarahkan pandangannya ke Gracey, penuh rasa terima kasih. “Terima kasih, Mom, sudah menjaga mereka hari ini.”“Tidak masalah, Amber. Aku juga senang bisa bersama dengan kembar,” jawab Gracey dengan lembut. Namun, seketika wanita paruh
Amber menyiapkan sarapan seperti biasa untuk Julian dan anak-anak, tetapi kali ini, ada ketegangan yang jelas di antara mereka. Dia hanya berbicara kepada si kembar, Victor dan Violet, dan sama sekali tidak menyahuti pembicaraan apa pun yang dilempar oleh Julian. Tatapan Amber yang biasanya lembut, kini terlihat dingin dan penuh dengan kekecewaan.Julian duduk di kursi meja makan, merasa tak nyaman. Pria itu tahu bahwa Amber sedang menghindar darinya. Namun, tentu dia memutar otak mencari celah agar Amber mau berbicara dengannya. Dia tak ingin masalahnya dengan Amber menjadi berlarut-larut. “Amber, bisa tolong ambilkan selai?” pinta Julian dengan suara yang berusaha terdengar normal.Amber mengambil selai dari meja, meletakkannya di depan Julian tanpa sepatah kata pun, kemudian kembali mengurus sarapan si kembar. “Bagaimana dengan kopi, apa kau tidak membuat kopi pagi ini?” Julian mencoba berbicara dengan nada yang lembut.Amber lagi-lagi tidak menjawab, dia membawa satu pitcher kop
Pikiran tak jernih membuat Julian minum alkohol di kelab malam sampai dia mabuk berat. Bahkan sekarang dia sampai harus dibawa oleh Mark, memasuki penthousenya. Jika saja tidak ada Mark, entah bagaimana nasibnya yang sedari tadi meracau tak jelas. “Julian?” Amber keluar kamar, dan betapa terkejut mendapati Mark datang seraya memapah tubuh Julian. “Ada apa, Mark? Kenapa dengan Julian?” tanyanya pada Mark, khawatir akan Julian. “Nona Hayes, selamat malam. Maaf mengganggu istirahat Anda,” ucap Mark sopan pada Amber. “Tuan Kingston mabuk, Nona. Beliau mendatangi kelab malam, dan minum banyak alkohol. Sepertinya masalah yang dihadapi beliau yang membuatnya memutuskan pergi ke kelab malam,” lanjutnya penuh rasa sopan. Amber mengembuskan napas kasar, tak menyangka akan tindakan gila Julian. “Bantu aku baringkan tubuh Julian di kamarnya.” “Baik, Nona,” jawab Mark patuh, lalu dia membawa tuannya itu menuju kamar. Pun Amber membantu Mark memapah tubuh Julian. “Mark, terima kasih,” ucap Amb
Amber duduk melamun di tepi kolam renang. Tatapannya menatap lurus ke depan, begitu lemah. Sorot matanya menunjukkan bahwa hatinya sedang tidak baik-baik saja. Amber tidak bisa tenang, karena pikirannya sangat kacau. Namun, berjuang untuk menutupi perasaan ini sangat rumit untuknya. Suara dering ponsel Amber terdengar, membuat wanita itu mengalihkan pandangannya, meraih ponsel dan menatap ke layar tertera nomor Jessie menghubunginya. Beberapa detik, Amber mengembuskan napas panjang. Sudah lama dia tak berkomunikasi dengan Jessie. Pikiran yang kacau sampai membuatnya lupa berkomunikasi dengan sahabat baiknya itu. Padahal dulu Jessie adalah tempat di mana Amber berlindung. “Jessie?” jawab Amber lembut, kala panggilan terhubung. “Amber, apa kau sibuk?” tanya Jessie dari seberang sana. “Tidak, Jessie.” “Good. Aku ingin mengajakmu jalan-jalan ke mall. Apa kau mau?” “Jessie, tapi aku sedang tidak ingin keluar.” “Come on, Amber. Apa kau tidak bosan di rumah?” Amber mengehela napas
Julian menutup rapat pemegang saham, berjabat tangan dengan para pemegang saham, lalu beranjak meninggalkan ruang meeting—menuju ruang kerjanya, tetapi tiba-tiba langkah pria itu terhenti melihat asisten pribadinya berlari menghampirinya. “Tuan!” panggil Mark, dengan napas yang memburu, dan tergesa-gesa. Kening Julian mengerut, melihat sang asisten yang tergesa-gesa. “Ada apa, Mark? Kenapa kau tergesa-gesa seperti itu?” “Tuan gawat!” Mark tampak gelisah. Julian melipat tangan di depan dada. “Gawat bagaimana?” Mark menatap Julian hati-hati. “Nona Clara, Tuan!” Sebelah alis Julian terangkat. “Ada apa dengan wanita busuk itu?” “Nona Clara menyerang Nona Amber,” jawab Mark yang sontak membuat mata Julian melebar terkejut. “Apa?” Julian menuntut penjelasan. “Tuan, saya baru saja mendapatkan kabar Nona Amber ada di rumah sakit. Beliau pingsan, akibat serangan Nona Clara. Mungkin lebih jelasnya Anda bisa bertanya langsung pada Nona Jessie,” ucap Mark cepat menjelaskan, dengan penuh
Pelupuk mata Amber perlahan terbuka, dan object pertama yang dilihatnya adalah Jessie. Keningnya mengerut bingung, mengendarkan pandangan—melihat dirinya berada di sebuah ruang rawat yang dia yakini ruang rawat VVIP. “Jessie?” panggil Amber pelan, sambil menyentuh keningnya. Jessie menatap Amber dengan tatapan lega. “Amber, akhirnya kau sudah siuman. Aku senang sekali kau siuman.” “Jessie, kenapa aku bisa di rumah sakit?” tanya Amber lemah. “Kau tidak mengingat apa pun?” balas Jessie mulai khawatir. Amber terdiam sejenak, berusaha mengumpulkan kepingan memorinya. Perlahan detik itu juga kepingan memorinya mulai terkumpul, mengingat kejadian di mana Clara mendatanginya, dan ribut besar dengan Jessie. Dia menjadi korban, karena melerai perkelahian Clara dan Jessie. Amber mengembuskan napas pelan. “Aku sudah ingat sekarang.” Jessie semeringah bahagia. “Kau sudah ingat?” Amber mengangguk, menanggapi ucapan Jessie. “Aku lega, Amber. Aku pikir kau lupa ingatan karena benturan di ke
“Grandma, di mana Mommy dan Daddy?” tanya Violet dan Victor bersamaan. Anak kembar itu tampak sangat merindukan kedua orang tuanya yang sampai sekarang belum juga muncul. Gracey tersenyum lembut, menatap hangat dua cucunya. “Mommy dan Daddy kalian sedang melakukan hal-hal menyenangkan berdua. Mereka akan segera kembali. Kalian tunggu saja, oke?” Violet tampak kecewa. “Kenapa Mommy melakukan hal menyenangkan tanpa diriku dan Victor?” “Iya, kenapa Mommy dan Daddy pergi tanpa kami?” keluh Victor. Gracey mengecup dua cucunya itu. “Mereka sedang kencan, nanti sepulang dari mereka kencan, mereka akan pulang dan pasti mengajak kalian jalan-jalan.” Kening Violet mengerut bingung. “Apa itu kencan, Grandma?” Victor juga turut menatap neneknya, karena bingung dengan arti ‘Kencan’. “Apa kencan itu seperti bermain di taman?” Gracey terkekeh melihat dua cucunya yang kebingungan. Benar-benar sangat menggemaskan. “Sayang, kencan adalah pergi jalan-jalan menghabiskan waktu bersama khusus orang
Alunan musik mengiringi pengantin wanita yang memasuki ballroom hotel mewah yang ada di New York. Amber didampingi James—ayah kandung Julian—memasuki sebuah ballroom hotel. Tampak para tamu undangan tak lepas menatap penampilan Amber yang begitu cantik dan sempurna. Amber seharusnya ditemani oleh ayahnya. Namun, takdir memiliki rencana yang berbeda. Hari yang indah itu, Amber ditemani oleh calon ayah mertuanya, karena ayah kandungnya telah berada di surga. Meski ada rasa sedih, tetapi hatinya tetap bersyukur. Kilat kamera wartawan terus terarah pada Amber yang baru saja memasuki ballroom hotel. Seluruh keluarga tersenyum haru bahagia melihat Amber yang hari itu terlihat seperti seorang putri raja yang sangat cantik dan menawan. Hanya satu kata yang menggambarkan Amber hari itu yaitu sempurna. Ya, pernikahan Amber dan Julian diadakan secara mewah. Ribuan tamu yang datang dari berbagai kalangan. Mulai dari artis ternama, model ternama, hingga pengusaha-pengusaha ternama yang hadir
Langit megah seakan mendukung hari itu adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Amber dan Julian. Dua insan yang saling mencintai itu sebentar lagi akan mengikat hubungan mereka lebih sakral—di mana tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka kecuali maut. Upacara pernikahan akan segera diadakan. Amber sudah tampil cantik, dan membuat sang make up artis terkagum. Bukan hanya sang make artis yang kagum, tetapi Jessie yang ada di sana sangat kagun akan penampilan Amber. Tubuh indah Amber terbalut oleh gaun pengantin yang sangat indah. Tiara berlian yang ada di kepala Amber, membuat semua kaum hawa pasti akan menjerit iri. Ya, Amber layaknya seorang putri raja yang akan segera menikah dengan seorang pangeran tampan. Persiapan pernikahan Amber dan Julian benar-benar singkat, tetapi dari segi kesiapan semuanya berjalan seakan telah tertata dengan sempurna. Bisa dilihat dari penampilan Amber yang memukau dan hotel berbintang lima yang dipilih sebagai resepsi, begitu menunjukkan kemewahan.
Amber menyambut kedatangan Julian. Wanita cantik itu memberikan kecupan dan pelukan di tubuh pria yang sangat dia cintai itu. Waktu menunjukkan pukul lima sore, dan Julian baru saja kembali ke kantor. Sementara kembar sudah pulang dijemput oleh sopir. “Kembar di mana?” tanya Julian seraya mengurai pelukan Amber, tapi memberikan kecupan di kening wanita itu. “Kembar sedang di ruang belajar. Mereka sedang menyelesaikan tugas-tugas mereka,” jawab Amber sambil membantu meletakan jas Julian ke tempat pakaian kotor. “Julian, bagaimana harimu di kantor? Semua baik-baik saja, kan?” tanyanya hangat. Julian melepaskan arlojinya, meletakan ke tempat penyimpanan arloji. “Ya, pekerjaanku semua baik. Tadi, ayahku mengubungiku, memintaku untuk tidak terlalu banyak memikirkan pekerjaan. Ayahku memintaku fokus pada rencana pernikahan kita. Tapi, aku sudah menjelaskan padanya, rencana pernikahan kita semua sudah diurus dengan baik. Mark banyak membantuku.” Amber mendekat, memeluk Julian dari belak
Kabar rencana pernikahan Amber dan Julian sudah tersebar di seluruh media. Pemberitaan sebelumnya yang heboh karena kematian Clara, mulai tergantikan dengan berita kebahagiaan rencana pernikahan Amber dan Julian. Dua insan saling mencintai itu bahkan tidak jarang mengumbar kemesraan di publik. Mereka saling menunjukkan cinta mereka yang luar biasa. Ya, ini bagaikan kisah yang tak pernah Amber sangka dalam hidupnya. Wanita cantik itu tidak pernah mengira akan bertemu kembali dengan Julian, dan melanjutkan kisah mereka yang berawal dari sebuah hal yang tak mungkin. Amber dulu terpuruk di saat ayahnya meninggal dunia. Dia merasakan sendiri di dunia. Sampai semua berubah di kala dirinya bertemu dengan Julian—membuatnya dan Julian terlibat hubungan yang sangat rumit. Seperti permainan takdir yang tak disangka-sangka. Hubungan Amber dan Julian tidak seperti kisah romansa yang lain. Mereka penuh lika-liku. Bahkan kejadian buruk kerap menghantam hubungan mereka, tetapi untungnya takdir mem
Amber dan Julian bersama kembar sudah pulang. Tinggal Gracey dan James berdua di mansion megah mereka. Tampak pasangan suami istri yang sudah tidak lagi muda itu terus berpelukan. Lebih tepatnya Gracey tak ingin melepaskan pelukannya pada James. “Jika kau terus menerus memelukku seperti ini, aku bisa mati karena sesak napas,” ucap James dingin, dengan raut wajah datar. Gracey langsung mengurai pelukannya, menatap hangat sang suami. “Maaf, aku terlalu senang akhirnya kau memberikan restu untuk putra kita menikahi Amber. Aku sangat bahagia, Sayang.” “Aku hanya melakukan apa yang sudah seharusnya aku lakukan,” jawab James lagi masih dengan nada dingin. Gracey tersenyum lembut. “Saat aku mendengar kau memanggil polisi untuk membantu Julian menyelamatkan Amber, aku sangat bahagia. Aku selalu berdoa pada Tuhan agar kau bisa memberikan restu agar Amber dan Julian menikah. Ternyata Tuhan benar-benar mendengar apa yang aku doakan. Terima kasih, Sayang.” Sebelumnya, Gracey sudah tahu tenta
Amber membantu Gracey dan pelayan yang menghidangkan makanan ke atas meja makan. Banyak menu makanan lezat yang terhidang. Tampak kembar riang sejak tadi riang dan tak sabar untuk menikmati makanan lezat itu. Namun, sayang di kala kembar riang, Amber malah terlihat muram. “Amber, ayo kita makan. Kembar sudah tidak sabar,” ajak Gracey lembut, mengajak Amber untuk makan bersama. Amber terdiam sebentar. “Tapi, Julian dan Tuan James masih belum turun, Mom. Lebih baik kita tunggu mereka saja.” Gracey tersenyum hangat. “Kau sebentar lagi akan menikah dengan Julian masih saja memanggil James dengan sebutan Tuan James. Harusnya kau memanggil ayah Julian itu dengan sebutan Daddy, Amber.” Amber belum merespon ucapan Gracey. Tentu selama ini dia tidak berani memanggil James dengan panggilan ‘Daddy’, karena dia sadar bahwa selama ini James tidak pernah menyukai dirinya. Gracey yang melihat Amber melamun, langsung menyentuh bahu Amber. “Lebih baik kita makan dulu. Tidak usah tunggu Julian dan
“Yeay! Daddy dan Mommy sudah datang!” Victor dan Violet berseru riang gembira melihat kedua orang tuanya datang. Mereka berlari, menghamburkan tubuh mereka pada kedua orang tuanya itu. Julian dan Amber tersenyum hangat mendapatkan sambutan dari anak kembar mereka. Bisa dikatakan Julian dan Amber sudah tak sabar bertemu dengan anak kembar mereka yang belakangan ini dititipkan di rumah kedua orang tua Julian. “Selama bersama Grandpa dan Grandma kalian jadi anak yang patuh, kan?” tanya Amber seraya membelai pipi Victor dan Violet dengan lembut. Victor menoleh menatap Violet. “Mommy, aku selalu patuh. Violet suka nakal, Mommy. Violet tidak patuh pada Grandpa dan Grandma.” Violet berdecak kesal di kala Victor menyalahkan dirinya. “Aku ini anak yang patuh, Victor! Kau jangan sembarangan bicara.” Victor mengulurkan lidahnya, meledek Violet. “Kau menyebalkan!” Violet hendak memukul Victor, tetapi Amber segera menahan tangan Violet. “Violet, sudah jangan seperti itu,” kata Amber menging
Suasana kafe di Manhattan tampak sunyi dan tentram. Beberapa pengunjung datang, dan tak menimbulkan suara berisik. Bisa dikatakan kafe itu memang tidak terlalu banyak pengunjung. Namun, meski tak terlalu banyak pengunjung—kafe itu memiliki desain klasik yang luar biasa menakjubkan. “Kau Tuan Johan Maes?” tanya Julian, dengan nada dingin di kala tiba di hadapan sosok pria bernama ‘Johan Maes’. Johan mengangguk singkat. “Kau Julian Kingston yang mengajakku bertemu?” balasnya, dengan nada tenang. Julian duduk di hadapan Johan. “Aku senang kau ada di New York, jadi pertemuan kita bisa berlangsung lebih cepat.” Julian meminta Mark untuk mengatur pertemuan dengan Johan Maes—pria asal Belgia—yang menahan perusahaan keluarga Amber. Beruntung Johan sedang ada di New York, jadi Julian bisa segera bertemu dengan pria itu. Johan mengambil wine yang ada di atas meja, dan menyesap perlahan. “Asistenmu Mark bilang kau ingin membahas sesuatu hal yang menguntungkan. Aku lihat profil perusahaanmu
Amber membuka kedua matanya di kala sudah terbangun dari tidurnya, tatapannya mengendar ke sekitar—melihat ke jam dinding waktu menunjukkan pukul delapan malam, tapi dia belum melihat keberadaan Julian. Dia meraih ponsel, bermaksud ingin menghubungi Julian, tetapi belum juga dia menghubungi, ternyata pintu kamar terbuka—dan Julian muncul di ambang pintu. “Julian? Akhirnya, kau pulang.” Amber tersenyum lega melihat Julian pulang, dia mendekat dan memberikan pelukan hangat. “Maaf, membuatmu menunggu.” Julian membalas pelukan Amber, dan mengecupi puncak kepala wanita itu. Amber mendongak, menatap hangat Julian. “Apa Mark membahas pekerjaan padamu?” tanyanya ingin tahu. Julian membelai pipi Amber lembut. “Ya, ada beberapa hal mengenai pekerjaan yang dibahas Mark. Amber, ada yang ingin aku beri tahu.” “Kau ingin memberitahuku apa, Julian?” tanya Amber lembut. Julian menarik dagu Amber, mencium dan melumat lembut bibir wanita itu. “Besok kita harus datang ke pemakaman Clara.” Raut wa