Renata terus menatap tajam kepada Gio, ia tidak memalingkan wajahnya walaupun sedikit saja. Namun, lelaki tersebut tidak menggubrisnya, hanya diam tanpa bergerak sedikitpun. Suasana di dalam ruangan makan tersebut menjadi terasa menegangkan dan mencekam.
Saat suasana seperti itu, Bram malah tertawa dengan keras seakan-akan pemandangannya di depan matanya adalah lucu.
Renata yang melihat tersebut menjadi menatap ke arah Bram, ia tidak mengerti apa yang terjadi sehingga membuat lelaki tersebut menjadi tertawa.
“Maafkan Aku! Ternyata sangat senang sekali menggoda kalian berdua, padahal yang kumaksud bukanlah kalian, tetapi orang lain.” Bram menutupi mulutnya supaya bisa menahan tawa.
“Kau pikir ini adalah lucu apa? Memang mungkin cara bercandamu seperti ini, tetapi bagi sebagian orang ini tidaklah lucu!” Renata menggebrak meja dengan kuat, ia terus menatap tajam ke arah Bram.
“Tapi walau pun ini adalah bukanlah kebohongan
Gio yang masih berbicara di telepon mendengar suara langkah kaki seseorang, membuat ia menjadi menoleh ke arah tersebut. Tanpa mengatakan apapun ia langsung menutup panggilan secara sepihak dan mulai melangkahkan kaki dengan perlahan untuk melihat siapa orang di balik pintu tersebut. Matanya terkejut saat menyadari kalau pintu tersebut terbuka sedikit, dengan langkah cepat dan raut wajah panik langsung membuka pintu dengan lebar, tetapi ternyata tidak ada satu orang pun di sana."Sepertinya hanya perasaanku saja, karena tadi aku!” gumam Gio seorang diri.Gio pun memilih untuk segera bergegas keluar dari sana, supaya bisa mendatangi Bram dan Renata yang sekarang berada di ruang makan.“Ternyata kalian belum selesai makan?" Gio menatap ke arah kedua orang yang masih menyantap makanannya.“Iya, karena masakan istrimu sangatlah enak. Sehingga aku tanpa sadar sudah tambah dua kali.” Bram menyantap makanannya dengan sangat lahap.
Renata beranjak dari kursi empuknya, ia ingin mengetahui kebenaran tentang semua pertanyaan yang ada di dalam pikirannya sekarang. Ia pun menjadi bergegas untuk mengambil jaket hoodie yang berada di lantai dua, tidak lupa mengenakan masker dan kacamata hitam untuk menutupi dirinya supaya tidak ketahuan oleh sang suami. Semua itu dilakukan untuk bisa mengetahui kebenaran, kalau misalkan memang benar Gio berselingkuh atau tidak Renata bisa segera mengetahuinya.“Ayolah, Renata! Kamu harus segera mengetahui semua kebenarannya, supaya tidak terjadi salah paham seperti sekarang ini!" Renata mengepalkan tangannya di udara, walaupun sekarang tangannya itu menjadi gemetar lantaran merasa takut. Renata melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke lantai bawah supaya segera bisa ke tempat tujuan. Kali ini ia memilih untuk menggunakan taksi, supaya Gio tidak mengetahui kalau ia berada di tempat yang sama dengan lelaki itu.“Lama sekali taksinya datang! Bagaimana kalau mereka sudah keluar dari s
Bram mengenakan setelan jas berwarna hitam, jam tangan warna kuning keemasan, sepatu pun mengkilap di bawah cahaya lampu kafe, membuat penampilan lelaki itu menjadi menarik perhatian orang lain. Sehingga Renata memilih untuk berusaha menutupi lelaki itu, supaya tidak terlalu kentara. Naasnya, tentu saja wajah tampan Bram tidak akan bisa ditutupi hanya dengan selembar kertas. Alhasil dirinya pun meletakkan menu tersebut ke meja dengan kasar.“Jangan melakukan hal itu! Bukankah kau tahu sendiri kalau kedua orang yang berada tidak jauh dari kita pasti akan mendengarnya?” Bram menaik turunkan alisnya, ia merasa heran sekali dengan apa yang yang dilakukan oleh Renata.Renata mendengus kesal, tangannya mengepal menu dengan sangat kuat dan memberikan tatapan bengis kepada Bram. “Kalaupun aku tidak melakukan hal itu,tetap saja akan ketahuan. Karena penampilanmu sekarang sangatlah mencolok!”Bukannya menjauh pergi, Bram menopang dagunya di atas ke
Renata semakin panik mendengar langkah kaki yang kian dekat. Ia berusaha keras menenggelamkan wajahnya di dada bidang Bram, seolah tempat itu satu-satunya perlindungan dari situasi yang tidak ia harapkan. Bram mendesah pelan, kebingungan dengan tingkah wanita itu, namun senyum tipis tak bisa lepas dari wajahnya.“Bram, kenapa kau berada di sini?”Suara itu menyambar telinga Renata seperti petir di siang bolong. Suara Gio—tegas, dingin, penuh nada ingin tahu—membuat jantung Renata berdentam lebih kencang dari langkah kaki yang tadi ia dengar. Nafasnya tercekat, seperti tali transparan melilit lehernya, tak memberi celah untuk bernapas lega.Bram yang hendak menggeser tubuhnya untuk duduk lebih tegak, mendapati Renata justru mengikuti gerakannya, tetap menempel erat. Ia terkekeh pelan, merasa geli melihat betapa keras wanita itu mencoba menghindar dari pandangan Gio.“Kau bisa lihat sendiri, kan? Sekarang aku sedang kencan,” ujar Bram santai, melirik ke arah Renata yang kini semakin sal
Renata merasa tugasnya sudah selesai, sehingga ia ingin melangkahkan kakinya untuk segera keluar dari hiruk-pikuknya kafe. Namun, saat ia sudah berada di dekat ambang pintu membuat matanya menjadi melotot lantaran merasa terkejut. Karena Bram sedang berbicara bersama dengan Gio.“Aku pikir mereka sudah pulang! Ternyata mereka masih ada di sana, tapi kenapa?“ Renata merapatkan tudung jaket hoodie yang sekarang ia kenakan.Renata memilih untuk bersembunyi di tempat yang aman sambil mengawasi tingkah Gio. Rupanya lelaki itu masih sangat penasaran sekali dengan wanita yang menjadi kekasih Bram, sehingga masih berada di sana untuk mencari tahu wajah wanita itu.Renata menjadi mondar-mandir merasa gelisah, sesekali akan menggigit kuku jarinya. Saat sedang memikirkan cara bagaimana keluar dengan aman, ia melihat seseorang yang mengenakan pakaian milik Bram sambil menghitung beberapa lembar uang kertas di tangan.“Hei, kau!” panggil Renata
"Bram, lepaskan!" Seorang wanita meronta-ronta di dalam pelukan lelaki tampan yang mengenakan jas hitam nan mewah."Biarkan aku seperti ini sebentar. Karena aku hanya memelukmu saja, tak lebih!" Bram semakin mengeratkan pelukannya, tidak ingin melepaskan.Renata merasa sangat risih, tetapi tentu saja tak akan bisa melepaskan diri dari tubuh kekar dan besar dengan tubuh mungilnya. Namun, suara batuk seorang lelaki agak familiar terdengar di telinga."Lepaskan! Walau kau bilang hanya, tetapi ini salah karena aku sudah menikah dan suamiku berada di rumah!" teriak Renata tertahan, ia sangat merasa gelisah dan takut kalau suaminya datang ke dapur.Bram memegangi kepalanya dengan tertawa kecil, padahal tidak ada yang lucu dari perkataan Renata, tetapi lelaki tersebut malah tertawa."Renata!" panggil seorang lelaki dengan berteriak nyaring.Renata gelagapan, ia ingin segera melepaskan diri dari Bram, tetapi masih tidak bisa. Alhasil ia memilih menginjak kaki lelaki tersebut dengan kuat mengg
Entah kenapa sekarang waktu berjalan dengan sangat lambat, sehingga membuat Renata menjadi semakin gugup. Ia beberapa kali meneguk ludah, mencari perkataan tepat untuk membuat sang suami tak marah lagi kepada dirinya."Gio, aku dan dia hanya—," perkataan Renata terpotong karena Gio jatuh ke pundaknya."Gio?" Renata mengerutkan alisnya, ia terus menatap sang suami."Sepertinya dia pingsan. Sayang sekali, padahal aku ingin melihat apa yang dilakukan lelaki itu kalau melihat istrinya berdua dan sangat dekat dengan lelaki lain." Bram mengangkat kedua tangannya di udara sambil menggelengkan kepala, lantaran tak sesuai bayangan."Kau!" Renata langsung membekap mulutnya, lantaran sadar sekarang sang suami berada di dalam pelukan."Apa?" Bram menyeringai dengan lebar.Renata hanya mengepalkan tangannya kuat karena ia tidak bisa mengumpat lelaki yang berada di depan matanya ini. Ia sadar kalau melakukan hal itu pasti akan membuat suaminya menjadi terbangun.“Sudahlah kau pergi saja, karena sem
Lelaki yang sekarang berdiri di depan Renata adalah Bram, ia membawa segelas teh hangat untuk wanita tersebut.“Sebaiknya kau minum dulu, baru kau memarahiku.” Bram memberikan segelas teh hangat itu kepada Renata.Renata memalingkan wajahnya ke arah lain, karena ia merasa kesal setelah mengetahui ternyata Bram tidak pergi dari rumahnya."Bukankah aku bilang kau harus pergi dari rumahku, tetapi kenapa kau tidak kunjung pergi dan malah masih di sini?“ tanya Renata dengan ketus. Bram mengusap wajahnya dengan kasar, ia tidak menyangka kalau wanita di depannya ini masih memiliki tenaga untuk marah-marah. Padahal baru saja tersadar akibat terjatuh dari tangga.“Minum saja dulu.” Bram memberikan teh itu dengan kasar di tangan Renata.Renata mau tidak mau menerima pemberian dari Bram itu. Karena kalau ia tidak menyambut, maka isinya akan tumpah ke tubuhnya. Namun, ia tidak langsung meminum pemberian lelaki tersebut, lantaran merasa curiga.“Aku tidak menaruh apapun di dalam minuman itu, jadi
Renata merasa tugasnya sudah selesai, sehingga ia ingin melangkahkan kakinya untuk segera keluar dari hiruk-pikuknya kafe. Namun, saat ia sudah berada di dekat ambang pintu membuat matanya menjadi melotot lantaran merasa terkejut. Karena Bram sedang berbicara bersama dengan Gio.“Aku pikir mereka sudah pulang! Ternyata mereka masih ada di sana, tapi kenapa?“ Renata merapatkan tudung jaket hoodie yang sekarang ia kenakan.Renata memilih untuk bersembunyi di tempat yang aman sambil mengawasi tingkah Gio. Rupanya lelaki itu masih sangat penasaran sekali dengan wanita yang menjadi kekasih Bram, sehingga masih berada di sana untuk mencari tahu wajah wanita itu.Renata menjadi mondar-mandir merasa gelisah, sesekali akan menggigit kuku jarinya. Saat sedang memikirkan cara bagaimana keluar dengan aman, ia melihat seseorang yang mengenakan pakaian milik Bram sambil menghitung beberapa lembar uang kertas di tangan.“Hei, kau!” panggil Renata
Renata semakin panik mendengar langkah kaki yang kian dekat. Ia berusaha keras menenggelamkan wajahnya di dada bidang Bram, seolah tempat itu satu-satunya perlindungan dari situasi yang tidak ia harapkan. Bram mendesah pelan, kebingungan dengan tingkah wanita itu, namun senyum tipis tak bisa lepas dari wajahnya.“Bram, kenapa kau berada di sini?”Suara itu menyambar telinga Renata seperti petir di siang bolong. Suara Gio—tegas, dingin, penuh nada ingin tahu—membuat jantung Renata berdentam lebih kencang dari langkah kaki yang tadi ia dengar. Nafasnya tercekat, seperti tali transparan melilit lehernya, tak memberi celah untuk bernapas lega.Bram yang hendak menggeser tubuhnya untuk duduk lebih tegak, mendapati Renata justru mengikuti gerakannya, tetap menempel erat. Ia terkekeh pelan, merasa geli melihat betapa keras wanita itu mencoba menghindar dari pandangan Gio.“Kau bisa lihat sendiri, kan? Sekarang aku sedang kencan,” ujar Bram santai, melirik ke arah Renata yang kini semakin sal
Bram mengenakan setelan jas berwarna hitam, jam tangan warna kuning keemasan, sepatu pun mengkilap di bawah cahaya lampu kafe, membuat penampilan lelaki itu menjadi menarik perhatian orang lain. Sehingga Renata memilih untuk berusaha menutupi lelaki itu, supaya tidak terlalu kentara. Naasnya, tentu saja wajah tampan Bram tidak akan bisa ditutupi hanya dengan selembar kertas. Alhasil dirinya pun meletakkan menu tersebut ke meja dengan kasar.“Jangan melakukan hal itu! Bukankah kau tahu sendiri kalau kedua orang yang berada tidak jauh dari kita pasti akan mendengarnya?” Bram menaik turunkan alisnya, ia merasa heran sekali dengan apa yang yang dilakukan oleh Renata.Renata mendengus kesal, tangannya mengepal menu dengan sangat kuat dan memberikan tatapan bengis kepada Bram. “Kalaupun aku tidak melakukan hal itu,tetap saja akan ketahuan. Karena penampilanmu sekarang sangatlah mencolok!”Bukannya menjauh pergi, Bram menopang dagunya di atas ke
Renata beranjak dari kursi empuknya, ia ingin mengetahui kebenaran tentang semua pertanyaan yang ada di dalam pikirannya sekarang. Ia pun menjadi bergegas untuk mengambil jaket hoodie yang berada di lantai dua, tidak lupa mengenakan masker dan kacamata hitam untuk menutupi dirinya supaya tidak ketahuan oleh sang suami. Semua itu dilakukan untuk bisa mengetahui kebenaran, kalau misalkan memang benar Gio berselingkuh atau tidak Renata bisa segera mengetahuinya.“Ayolah, Renata! Kamu harus segera mengetahui semua kebenarannya, supaya tidak terjadi salah paham seperti sekarang ini!" Renata mengepalkan tangannya di udara, walaupun sekarang tangannya itu menjadi gemetar lantaran merasa takut. Renata melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke lantai bawah supaya segera bisa ke tempat tujuan. Kali ini ia memilih untuk menggunakan taksi, supaya Gio tidak mengetahui kalau ia berada di tempat yang sama dengan lelaki itu.“Lama sekali taksinya datang! Bagaimana kalau mereka sudah keluar dari s
Gio yang masih berbicara di telepon mendengar suara langkah kaki seseorang, membuat ia menjadi menoleh ke arah tersebut. Tanpa mengatakan apapun ia langsung menutup panggilan secara sepihak dan mulai melangkahkan kaki dengan perlahan untuk melihat siapa orang di balik pintu tersebut. Matanya terkejut saat menyadari kalau pintu tersebut terbuka sedikit, dengan langkah cepat dan raut wajah panik langsung membuka pintu dengan lebar, tetapi ternyata tidak ada satu orang pun di sana."Sepertinya hanya perasaanku saja, karena tadi aku!” gumam Gio seorang diri.Gio pun memilih untuk segera bergegas keluar dari sana, supaya bisa mendatangi Bram dan Renata yang sekarang berada di ruang makan.“Ternyata kalian belum selesai makan?" Gio menatap ke arah kedua orang yang masih menyantap makanannya.“Iya, karena masakan istrimu sangatlah enak. Sehingga aku tanpa sadar sudah tambah dua kali.” Bram menyantap makanannya dengan sangat lahap.
Renata terus menatap tajam kepada Gio, ia tidak memalingkan wajahnya walaupun sedikit saja. Namun, lelaki tersebut tidak menggubrisnya, hanya diam tanpa bergerak sedikitpun. Suasana di dalam ruangan makan tersebut menjadi terasa menegangkan dan mencekam.Saat suasana seperti itu, Bram malah tertawa dengan keras seakan-akan pemandangannya di depan matanya adalah lucu.Renata yang melihat tersebut menjadi menatap ke arah Bram, ia tidak mengerti apa yang terjadi sehingga membuat lelaki tersebut menjadi tertawa.“Maafkan Aku! Ternyata sangat senang sekali menggoda kalian berdua, padahal yang kumaksud bukanlah kalian, tetapi orang lain.” Bram menutupi mulutnya supaya bisa menahan tawa.“Kau pikir ini adalah lucu apa? Memang mungkin cara bercandamu seperti ini, tetapi bagi sebagian orang ini tidaklah lucu!” Renata menggebrak meja dengan kuat, ia terus menatap tajam ke arah Bram.“Tapi walau pun ini adalah bukanlah kebohongan
“Kenapa kau ada di sini? Bukankah ruang makan ada di bawah?” Renata melirik sinis ke arah Bram, ia memperlihatkan rasa ketidaksukaannya terhadap lelaki itu dengan terang-terangan.“Kalian tidak kunjung turun ke bawah, jadi aku mendatangi kemari. Aku pikir bisa saja kalian melupakan keberadaan tamu yang dari tadi sudah menunggu.” Bram mengangkat kedua tangannya dengan senyuman sinis di bibir.Renata mendesah, andaikan bisa ia tidak ingin melihat Bram di pagi hari seperti sekarang. Namun, karena suaminya lah mengizinkan lelaki tersebut untuk bermalam di sini membuat terpaksa bersikap baik kepada Bram.Gio berdehem, ia pun langsung menyikut tangan Renata. Saat wanita itu menatap dirinya, ia langsung memberikan isyarat untuk bersikap baik kepada tamu mereka sekarang."Maaf, tadi kami ada urusan sebentar. Jadi tidak sadar kalau waktu telah lama berlalu." Renata berusaha untuk mengukirkan senyuman di bibirnya, walaupun di dal
“Apa masalahnya kalau istrinya sampai tahu? Semua itu kan salahnya sendiri karena sudah berselingkuh dengan wanita lain!” Renata menyipitkan matanya, ingin mengetahui masalah lebih lanjut.“Kamu tahu sendiri kan dia adalah atasanku? Dan aku adalah seorang bawahan.” Gio menaikkan sebelah alisnya, tatapannya penuh arti kepada Renata."Jangan-jangan maksudmu? “ tanya Renata, ia sekarang berpikir banyak hal di dalam kepalanya.“Aku akan dipecat dari pekerjaanku. Kamu tahu sendiri kan kalau mencari pekerjaan sekarang sangatlah sulit? Jadi apa yang terjadi kalau sampai aku dipecat sekarang? Apakah uang tabungan kita akan cukup untuk menghidupi dan mengurus ayahmu selama mencari pekerjaan?” ungkap Gio.Renata menundukkan kepalanya, ia sekarang sedang memikirkan banyak hal. "Tapi apa benar seperti itu?”Gio berbalik menatap ke arah Renata. “Coba saja kau cari tahu sendiri dengan menelpon pak Roy sekaran
Gio terdiam, ia tidak mengatakan apapun kepada Renata. Membuat lRenata menjadi menatap lelaki itu dengan tatapan tidak percaya.“Jadi apa yang aku pikirkan ternyata benar, kau sudah berselingkuh dengan wanita lain!” Renata beranjak dari duduknya, tetapi ia malah luruh ke lantai lantaran tidak memiliki tenaga untuk sekedar menopang tubuh.Renata merasa sangat lemas, hatinya sekarang terasa sangat sakit bagaikan ditusuk oleh puluhan pisau, sehingga ia menjadi kesulitan untuk bernapas.“Kenapa kamu melakukan ini kepadaku? Padahal aku menerima perjodohan ini dan sudah memberikan semuanya kepadamu, tapi kamu malah tega melakukan hal ini kepadaku!” Renata menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, ia menangis terisak lantaran rasa sakit yang dirasa.“Tidak yang seperti yang kamu pikirkan, Renata!” Gio mendekati Renata, ia memegang kedua pundak wanita itu dengan erat.Renata malah menepis tangan Gio dengan kasar.