Tegukan terakhir mengalihkan fokus menuju pintu masuk club. Suasana yang begitu ramai berikut dengan kerlip lampu yang menutupi pandangan membuat pribadi berambut hitam kelam berbalut kemeja hitam dengan dua kancing terbuka di atasnya sedikit menyipit untuk menebak siapa yang baru saja memasuki club. Gelas mininya di goyang-goyangkan menunggu momen, sampai dua detik berikutnya seringaian tipis tercipta sensual pada birainya.
"Satu brandy lagi," titah Gerald pada bartender sebelum tersenyum lebar menyambut kehadiran Jiya yang berjalan mendekat ke arahnya.Gadis itu turut membalas senyum. Dress ketat berwarna hitam berhias manik-manik kecil membuat penampilannya jauh lebih luar biasa dibanding biasanya. Tidak jarang satu sampai dua pasang mata melirik ke arah Jiya yang jelas kedua netranya hanya tertuju pada Gerald seorang. Menyugar rambut bergelombangnya sejenak, Jiya mendudukkan tubuhnya pada kursi di samping Gerald."Sudah lama?" tanyanya berbasa-basi.Gerald menyesap mBukan salah Grace yang langsung menyimpulkan kalau yang akhir-akhir ini menguntitnya adalah Marvel. Karena pada dasarnya Grace sudah berhasil memergoki presensi bayangan yang selalu memperhatikannya dari jauh. Itu terjadi saat di mana Marvel menelepon untuk menanyakan perihal undangan pertunangannya. Saat di mana Grace begitu menyedihkan dan menangis sampai tidak sanggup menahan kokoh tubuhnya. Saat di mana dia berniat memasuki gedung apartemennya, namun terhenti saat menyadari seseorang bersembunyi di balik pohon tua. Awalnya Grace sempat mengira kalau itu memang penjahat yang memilih dirinya sebagai korban. Takut sekali, jelas. Tidak hanya sekali. Setelah ia putus dengan Marvel dan tinggal dengan Gerald setiap pulang kampus, Grace selalu merasa dirinya diperhatikan dari jauh—-dan hal itu juga menimpa Xella sekali saat perempuan itu menuju parkiran setelah menemani Grace menunggu taksi. Grace berniat untuk meminta bantuan dari pihak kepolisian, namun saat ia berusaha mendapatkan bu
Tidak ada raga, namun titahan Gerald dari dalam kamarnya membuat Grace bungkam. Dia melirik ke pintu kamar Gerald sejenak, fokus indra pendengarannya terbagi selagi Marvel memanggil di seberang sana dengan langkah kaki Gerald yang membuat daun telinganya berderik."Matikan."Grace mencengkram kuat ponsel yang telah ia jauhkan dari telinga. Berbalik melirik Gerald yang kini melangkah mendekatinya. Wajah Gerlad terlihat tenang dan datar, berbeda dengan aura yang kini menyelimuti pemuda itu. Begitu gelap dan pengap. Grace bahkan tidak sadar dirinya tengah menahan napas saat Gerald berdiri menjulang tepat di depan matanya. Tangan Gerald meraih ponsel Grace. Melihat siapa yang tengah dihubungi oleh perempuan yang kini menjelma bagai kucing kecil yang meringkuk ketakutan. Tersenyum miring, Gerald meletakkan ponsel itu sejenak di telinganya. Tujuh sampai delapan detik, Gerald terkekeh sinis. Dalam satu sentakan ia membuang ponsel Grace begitu saja hingga terlempar entah kemana. Baran
Perdebatan di dalam gedung pengadilan tadi cukup panas. Pengacara yang dibawa Gerald bukanlah pengacara amatiran, pengacara langganan sang ayah yang sudah memenangkan puluhan kasus. Namun, segalanya tersanggah dengan tuntas saat Marvel dan pengacaranya mulai mengajukan argumen yang menyudutkan berikut dengan bukti-bukti sepadan. Bukan hanya sekedar data bercoret tinta, tapi juga file berisi beberapa video yang sudah ia siapkan. Gerald kalah telak. Tidak dapat berucap satu katapun, begitu juga dengan pengacaranya. Kehadiran Graxe si bintang utama sebagai saksi membuat pihak Gerald semakin bungkam. Membiarkan desas-desus dari saksi lainnya yang mulai melontarkan beberapa kecaman kepada Gerald. Suasana yang mulai dingin mengiringi pembicaraan yang mulai menyentuh keputusan akhir. Hanya butuh beberapa menit sebelum akhirnya hakim mengetok palu sidangnya sebanyak tiga kali.Gerald divonis hukuman penjara setelah diselimuti kasus kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan. Saat awal
Grace terbangun dalam tidurnya yang dibilang nyaman. Tempat tidur yang terlalu empuk membuatnya enggan untuk membuka mata, di tambah lagi bau pengharum ruangan di kamar itu membuatnya ingin selalu terlelap dalam mimpi. Bau bunga Lily, khas wangi parfum yang sangat disukainya. Eh? Sejak kapan kamarnya ada wangi bunga?Sadar ada yang tidak beres dalam kamarnya gadis itu langsung terperanjat dari tidur panjangnya dan melihat ke sekelilingnya yang berbeda."Ini di mana?" Grace bergumam bingung dan panik.Grace segera turun dari tempat tidur yang dia yakini itu bukan tempat tidur Grace. Mata Grace melihat sekeliling kamar itu. Luas, lebar, bersih, dan berkelas membuat Grace takut."Kamar siapa ini?" Grace bertanya-tanya.Tiba-tiba perempuan itu melihat dirinya yang masih mengenakan pakaian kemarin lalu mengingat kejadian buruk kemarin sore di kantor Marvel. Mengingat bagaimana pria itu telah mengurungnya di ruangan yang gelap karena pria itu sengaja mematikan lam
Dua hari setelah kondisi Grace membaik dan di perbolehkan pulang perempuan itu sedikitpun tidak mau menoleh, melihat maupun berbicara dengan Marvel. Dia memilih diam sebagai ungkapan kekecewaan dan rasa sakit hatinya. Bagaimanapun Grace tidak akan lupa gara-gara pria itu dia hampir celaka, gara-gara pria itu dia hampir mati membeku di dalam bathub, Grace membenci Marvel. Benci. Apalagi pria itu kembali sudah melihat tubuh polosnya. Tanpa apapun yang melekat di tubuhnya saat dia bermaksud menolongnya dua hari yang lalu. Grace malu. Sangat malu. Tubuhnya seperti tidak ada harga dirinya lagi. Pria itu menyiksa dirinya tanpa ampun. Membuat luka hati semakin besar untuk Grace."Nona Grace makan siangnya saya taruk di meja ya, tolong di makan ya Nona," pinta salah satu pelayan di manssion Marvel.Pelayan itu Grace yakin seusia dirinya karena wanita itu terlihat masih muda dengan balutan seragam pembantu di tubuhnya. Mata Grace tidak melihat makanan yang di sajikan di meja terseb
Sebenarnya Grace enggan menuruti perkataan Marvel, tapi mendengar pria itu mengancam seperti biasanya mau tidak mau akhirnya dengan perasaan yang hampir meledak Grace membalikkan tubuhnya dan melihat benci ke arah Marvel, sedangkan pria itu melihat bingung ke arah Grace.'Kenapa dengan dia?'"Kenapa kamu gak mengacuhkan aku? Aku baru pulang dan kamu gak nemuiku? Malah pura-pura gak dengar! Telingamu bermasalah? Mau kubersihkan pake garpu?" tawar Marvel menatap tidak senang ke arah Grace."Apa kamu bilang? Garpu? Sini telingamu aja yang kubersihkan pake garpu!" ketus Grace masih menatap tidak senang ke arah Marvel."Kamu ini kenapa Sayang?! Tiba-tiba marah tanpa sebab! Kamu marah cuma karena aku pulang sore atau karena hal lain?" tanya Marvel masih tidak mengerti.Grace membuang wajahnya enggan menatap Marvel.'Bodoh! Gitu aja masih tanya! Jelas aku marah! Kamu tanpa dosa ngobrol sama cewek lain di depan mataku! Kamu kira itu wajar?! Dasar cowok brengsek
Tiga ronde berhasil membuat Marvel berhenti karena Grace lelah. Terbukti setelah itu, kekasihmya itu tertidur pulas tanpa ke kamar mandi terlebih dahulu. Grace tidur di atas dada Marvel. Sedangkan pria itu setelah kekasihnya tidur pulas dia bergegas membersihkan dirinya di kamar mandi lalu tidak berapa lama kemudian keluar kamar meninggalkan Grace tidur seorang diri.***Seorang gadis blasteran sedang berdiri termenung cukup lama di balkon kamarnya. Memandang langit malam dengan sejuta tanda tanya dipikirannya. Dinginnya malam itu tidak membuatnya ingin kembali meringkuk di king size-nya yang tentu saja sangat nyaman."Apa yang kau lihat di sana Cani? Kenapa belum tidur?!"Suara tegas itu tidak membuat Cani ingin menoleh ke sumber suara. Cani enggan melihat wajah yang sangat di kenalnya itu. Melihat langit gelap lebih membuatnya tertarik daripada wajah iblis yang menyerupai malaikat itu."Cani, kau tak mendengarkanku?"Kini, Marvel sudah di sebelahnya.
Gadis itu berusaha tersenyum lalu menggeleng dan menghapus air matanya sendiri. Membalas tatapan Marvel dengan wajah sedihnya."Tidak apa-apa! Tidak apa-apa Marvel! Tidak apa-apa, sepupu."Setelah mengatakan itu, Cani berbalik pergi sambil berlari meninggalkan Marvel sendirian yang mematung di bandara Internasional Zurich. Marvel tidak mengejar Cani karena Marvel sadar Cani butuh sendiri. Sendiri seperti dulu saat mereka memutuskan menerima keinginan keluarga menjauhkan mereka berdua.***Dua hari kemudian ... di kamar Marvel pada pukul pukul 21.15 WIB."Sepupu?" tanya Grace tidak yakin.Dahi Grace berkerut mendengar penuturan dari bibir Stelan tentang Cani. Grace masih tidak percaya jika Cani dan Marvel adalah sepupu. Wajah mereka tidak mirip sama sekali. Lagipula Cani kelihatan blasteran dengan mata birunya. Sedangkan Marvel dia kelihatan pribumi dengan mata hitamnya. Hanya kulit mereka saja yang sama putih pucat. Marvel tersenyum tipis sambil kembali
"Sekarang buka gerbangnya, kalian bisa memastikannya saat aku sudah pergi," ujar Nantsu menatap sinis pada pengawal.Pengawal itu berpikir keras, mungkin saja itu benar. Nantsu adalah salah satu orang kepercayaan tuannya, jadi tidak mungkin dia berbohong."Baiklah, tetapi cepatlah kembali!" pengawal kemudian membuka gerbangnya.Tanpa mengacuhkan pengawal tersebut, Nantsu kemudian mengemudikan mobilnya dengan sangat kencang. Nantsu tersenyum puas dan sangat lega, karena semua rencananya berjalan dengan lancar. Sesekali dia melihat ke belakang dan melihat Grace yang masih tidak sadarkan diri di sana."Sebentar lagi Sayang, sebentar lagi!" Nantsu berujar dengan smirknya yang licik.2 jam lamanya Nantsu mengemudikan mobilnya, dia ha
Kemudian dia segera mencari kamar Marvel, dan ketika dia membuka pintu kamarnya dia tersenyum senang melihat Grace di sana. Akhirnya tujuannya akan tercapai yaitu merebut Grace dari Marvel dan membawanya pergi. Nantsu masuk dan menutup pintunya kembali. Terlihat seorang gadis sedang terlelap tidur di atas ranjang.'Oh, jika saja aku sedang tidak terburu-buru, akan aku pastikan kita akan bercinta saat ini juga,' batin Nantsu melongo menatap keindahan tubuh Grace meskipun dari belakang.Nantsu berjalan mendekat ke arah Grace dan duduk di sampingnya. Perlahan Nantsu membelai lembut pipi Grace membuat Grace terganggu dan mengerjap membuka matanya. Seketika Grace membuka matanya lebar dan menjauhi Nantsu."Apa yang kau lakukan?! Bagaimana bisa kau sampai di sini?! Untuk apa kau kemari?!!" bentak Nantsu merasa terkejut akan keberadaan Nantsu di kamar Marvel."Waktu kita tidak lama, pergilah bersamaku
"Ah tidak, aku akan menerimanya. Tapi aku tidak akan memakainya, bagaimana jika tergores, bagaimana jika hilang dan bagaimana jika kalung ini diambil orang. Aku akan menyimpannya, dan akan aku pakai lain kali di acara penting saja," lanjut Grace merasa sayang dengan kalung itu."Terserah padamu saja!" Marvel kembali memasukkan kalung itu pada kotak beludru itu dan menyerahkannya pada Grace.Grace menerima kotak itu dan menatap mata Marvel begitu dalam. Lalu dengan tiba-tiba dia berdiri dan meraih tengkuk Marvel Menciumnya dengan penuh kelembutan, memainkan lidah Marvel dan menyesapnya dalam. Marvel terkejut tetapi sangat menikmati ciuman ini, dia terkejut dengan ciuman Grace. Rasanya masih tidak percaya jika saat ini Grace sedang menciumnya. Grace melepas ciumannya dengan nafas yang masih tersenggal-senggal dan dengan cepat dia berlari ke kamar mandi menahan malu. Grace merutuki kebodohannya sendiri yang dengan tiba-tiba mencium Marvel.
Grace hanya diam dan kembali mengeratkan selimut untuk menutupi tubuhnya. Marvel berdiri dari duduknya dan mengambil sebuah buket bunga dan kotak beludru biru yang cukup mewah. Entah apa isinya tetapi Grace bisa menebak bahwa isinya pasti sebuah kalung atau perhiasan lainnya."Pilihlah salah satu, ini hadiah untukmu!" Marvel menyodorkan buket bunga sederhana di tangan kanannya yang menurut Grace itu benar-benar payah, karena bunga itu cukup berantakan dan dapat Grace tebak jika bunga itu dipetik dari kebun belakang, sementara kotak beludru biru di tangan kirinya."Hadiah? Untuk apa?" Grace menatap Davian bingung. Hari ini bukan hari ulang tahunnya lalu mengapa Marvel repot memberinya hadiah, Grace menggaruk tengkuknya yang tidak gatal."Untuk semalam."Grace yang semula menunduk kemudian menatap mata Davian. Ingatannya kembali kepada kejadian semalam, saat dirinya dengan paksa harus mengulum junior Marvel. Oh, sun
Marvel berjalan memasuki mobilnya dan berlalu pergi ke kantor meninggalkan mansion mewahnya. Setelah melihat mobil Marvel pergi, Grace bergegas masuk. Grace mulai menjalankan semua aktivitas paginya, tanpa tahu seseorang sedang mengawasinya dari jauh. Hari berlalu begitu cepat, jam menunjukkan pukul 7 malam. Dan benar saja, Marvel mengirimkan seseorang untuk meriasnya. Grace bingung dibuatnya, pasalnya dia tidak tahu alasan dibalik ini. Dia hanya bisa Grace semua perintah Marvel. Satu jam kemudian Grace sudah siap. Grace berdiri di depan cermin dan memandangi dirinya, dia menelan ludahnya sendiri.'Ke mana dia akan mengajakku pergi, mengapa aku harus memakai gaun terbuka seperti ini,' batin Grace menghela napasnya.Grace berjengit kaget ketika tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang. Marvel memeluk erat Grace dari belakang dan mendaratkan ciuman di leher jenjang Grace, kemudian menumpukkan dagunya di bahu Grace.
Jeol berhenti di tepi jalan yang sepi setelah tadi usai kebut-kebutan di jalanan. Jeol berteriak, memukul kepalanya sendiri dan berulang kali menghantam kemudinya dengan keningnya."Bego lo Jeol! Gila! Sinting!" maki Jeol pada dirinya sendiri."Dia Grace, istri Marvel, sahabat lo!" teriaknya yang tentu di tujukanpada dirinya sendiri."Jeol gila!" Lagi, Jeol kembali menghantam kemudi dengan keningnya sendiri."Kak ... jangan nyakitin diri sendiri." Sebuah suara halus, lembut dan begitu ia kenali membuat Jeol cepat-cepat mengangkat kepalanya, menatap kursi di sebelahnya yang semula kosong namun kini sudah terisi dengan objek kegilaannya tadi. Jeol berteriak, memukul kepalanya sendiri guna menghilangkan sosok Grace di sampingnya."Pergi Grace! Pergi!" teriak Jeol frustasi.Setelah bermenit-menit kemudian, baru Jeol berani membuka mata, di tatapnya kursi sebelahnya yang kini telah kosong seperti semula. Jeol lelah, ia menyandarkan punggung dan kepalan
la kembali ikut tertawa begitu melihat Bryan dikerjai oleh ayahnya, tawa kosong, tawa yang diam-diam di penuhi rasa iri hingga membuat matanya di isi buliran air yang siap jatuh kapan saja. Marvel yang sedari tadi memperhatikan istrinya, kini sedikit bergerak merapatkan kursinya agar lebih dekat pada istrinya. la genggam jemari Grace yang di letakkan di paha lalu membawanya ke pahanya sendiri. Begitu Grace mengalihkan tatapan ke arahnya, Marvel makin mengeratkan genggaman tangannya, ia berikan tatapan seteduh mungkin, sehangat yang ia bisa untuk menyalurkan rasa hangat pada istrinya. Grace tersenyum kecil, matanya yang sedikit memerah jadi menyipit kala bibirnya tertarik ke atas. "Mau nambah?" tanya Grace sebisa mungkin meredam rasa sesaknya. Marvel menggeleng, ia malah meletakkan sendoknya dan beralih mengusap pelan pipi Grace. "I'm here," bisik Marvel pelan, Grace mengangguk dengan mata memerahnya yang cepat-cepat ia usap dengan gerakan seolah mengusap hidungnya.
"Terus nanti kalau mogok lagi, Bapak gimana?" tanya Grace. "Gini ajalah, kebetulan di depan sana sekitaran beberapa meter lagi ada pom bensin. Bapak berhenti di situ, nanti saya carikan tukang bengkel yang bisa jemput Bapak," ucap Jeol pada Pak Didit. Grace kali ini setuju, Pak Didit pun mengiyakan. Sebelum menaiki mobil Jeol, Grace berjalan menuju mobilnya terlebih dahulu guna mengambil tasnya. Setelah segala macam barang bawaannya sudah di tangannya, Grace menghampiri Jeol dan Pak Didit yang masih menunggu. "Bapak duluan Pak, biar kita ngiringin di belakang," ucap Grace sebelum masuk ke dalam mobil Jeol. Setelah mobil Pak Didit melaju, barulah Jeol juga ikut melajukan mobilnya tepat di belakang mobil Pak Didit. Sementara Jeol sibuk menyetir, Grace sendiri sibuk mengistirahatkan badan. "Capek, ya?" tanya Jeol yang diangguki Grace. "Aku boleh numpang tidur nggak, Kak?" tanya Grace dengan suara lelah dan bercampur ngantuk. Jeol menoleh kearah Graxe
"Ya biarin," jawab Grace tak acuh.Marvel hanya tersenyum kecil, ia tahu Grace hanya ingin dirinya istirahat, tapi ya mau bagaimana lagi, pekerjaannya masih ada sedikit lagi, dan ia pun baru selesai makan. Dengan Grace masih berada di gendongan depannya, Marvel kembali menuju sofa tempatnya bekerja tadi, ia duduk di sana dengan Grace yang juga ikut duduk di pangkuannya. Marvel mulai kembali bekerja, sementara Grace hanya bisa cemberut karena Marvel kembali berkutat pada laptopnya.Merasakan gerakan abstrak jemari Grace di punggungnya, Marvel membujuk, "sebentar ya, ini dikit lagi selesai."Setelahnya, ia kembali fokus pada laptopnya. Dua keluarga besar kini sudah berkumpul memenuhi meja makan Marvel, para orang tua sedang asik berbincang sambil menunggu masakan siap di sajikan. Sementara Bryan dan Gio asik berdebat mengenai ajang badminton yang memang sedang diadakan di Korea. Marvel? Marvel ya Marvel, ia hanya akan bersuara ketika di tanya, atau bahkan hanya mengangg