Billy menepuk pahanya sendiri setelah menyadari kalau dia baru saja membuat masalah besar."A ... Agus, kamu harus membantuku!" Billy tidak bisa tertawa apalagi menangis. "Aku tidak pernah berpikir untuk merebut wanita Kakak ketiga! Apalagi wanita seperti Sinta yang lemah lembut itu sama sekali bukan seleraku! Aku tidak tahu apa yang salah dengan Kakak Ketiga? Dia bisa menyukai ...."Agus menyeruput seteguk kopi dan tersenyum penuh makna.Iya, Agus sendiri juga tidak tahu kalau Tuan Muda keluarga Hidayat yang selama ini tidak dekat dengan hal-hal yang berbau wanita dan terkenal acuh tak acuh itu, tidak hanya berubah menjadi Dani Setyawangsa saja, tetapi juga menjadi begitu terobsesi dengan wanita imut-imut seperti Sinta."Bukankah Kakak Ketiga sudah mengatakan kalau dia tidak peduli dengan pernikahan ini. Dia hanya menggunakannya sebagai cangkang untuk penyamarannya."Kamu percaya omongannya?" Agus menjelingnya dan berkata, "Lihat saja nanti. Aku melihat Sinta ini tidak sesimpel itu. H
"Pengantin baru secantik ini, bisakah dia membuat martabak manis?" Beberapa orang berkumpul di depan rumah Dani, tersenyum nakal di hadapan Sinta. Di sekitar mereka, banyak orang yang menonton, tetapi para preman ini memiliki reputasi buruk, mereka suka menindas penduduk desa. Jadi, tidak ada yang berani mencampuri urusan mereka. Para penduduk lainnya hanya menonton keramaian dengan pandangan sinis. Semua ini gara-gara Sinta terlalu cantik dan Dani yang terlalu ceroboh membiarkan istrinya berada di rumah sendirian. Bukankah ini sama saja dengan memberikan kesempatan pada mereka? Jantung Sinta berdebar-debar, wajahnya pun pucat. Akan tetapi, dia masih mencoba untuk tetap tenang. "Aku dengar, si pengantin wanita ini adalah anak dari keluarga kaya raya?" "Tak heran, anak orang kaya tidak pernah memasak di dapur? Bagaimana mungkin dia bisa membuat martabak manis?" "Sayang, kamu mungkin tidak mengerti aturan kami di sini."Mata para preman itu terpaku pada tubuh Sinta. "Di tempat k
“Jangan khawatir, aku ada di sini.”Dani membiarkan Sinta masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu dengan baik.Sinta masuk ke dalam rumah dengan patuh, tetapi Dani tidak ikut masuk. Dari dalam rumah, Sinta mendengar suara gaduh yang disusul dengan suara memekik kesetanan, bahkan ada yang melolong kesakitan.Dari jendela, Sinta melihat para preman itu dipukul habis-habisan, sampai babak belur dan bersembah sujud di tanah, meminta ampun pada Dani. Ada banyak darah yang berceceran di tanah.Akan tetapi, Dani masih belum puas melampiaskan amarahnya, dia memungut kembali tongkat yang dipegang Sinta tadi, lalu menghantamnya ke kaki salah satu pria itu dengan keras ....“Awas, kalau masih berani menganggu istriku. Kalau tidak, bukan hanya kaki saja yang patah lain kali!” Suara Dani sangat tajam, tetapi setiap kata terdengar sangat jelas dan penuh dengan keseriusan.Beberapa preman itu langsung lari terbirit-birit.Sinta bersembunyi di balik pintu, dia berusaha menekan ketakutan yang membuat
Keduanya langsung tercengang bersamaan.Sorotan mata Dani memberikan isyarat pada Sinta untuk pergi ke kamar dan berdiam diri di dalam, dia sendiri yang akan pergi membukakan pintu.Lukas berdiri di luar pagar dengan ekspresi sangat cemas.“Dani, kudengar kamu memukul orang ....” Sebelum selesai berbicara, Lukas melihat bercak darah di baju Dani dan menahan napas, “Astaga, ternyata benar!”“Hanya beberapa preman saja,” kata Dani dengan enteng. “Lagi pula, aku tidak memukul mereka hingga parah, mereka tidak akan mati.”“Belum parah?” Lukas menarik Dani ke samping dan berkata dengan suara rendah, “Organ dalamnya saja pecah! Sekarang mereka harus dikirim ke rumah sakit di Kota Semarang!”Alis Dani berkedut, tetapi wajahnya tetap tak berekspresi.Mereka sendiri yang berulah, siapa suruh mereka berani menggoda Sinta? Bahkan dipukul sampai mati pun, bukanlah hal yang berlebihan.“Oh ya, ada seorang lagi yang kakinya patah karena ulahmu?” Lukas sangat cemas, “Apakah kamu tahu siapa ayah orang
Pertemuan pagi itu terasa sangat sulit dilewati.Sinta merasakan sorotan mata Tomi yang sering merayap ke bagian tubuhnya, dia juga merasakan mata Widia yang setajam pisau itu seakan-akan menusuk ke tubuhnya dengan keras.Jadi setelah pertemuan berakhir, sebelum Tomi sempat berbicara, Sinta sudah tersenyum sopan dan mencari alasan untuk meninggalkan ruang pertemuan.Sebelum pergi, Sinta mendengar suara Widia mengamuk di dalam, “Ada apa denganmu? Melihat kuntilanak itu, kamu langsung lupa diri dan menatap dia terus, 'kan! Dasar mata keranjang, tidak bisa berubah!”Jantung Sinta berdetak kencang.Saat waktu istirahat siang, Sinta menceritakan hal ini pada Jessika. Jessika juga sedikit terkejut, dia tidak menyangka akan terjadi hal kebetulan seperti ini. Di dalam perusahaan yang begitu besar, Sinta bisa begitu kebetulan bertemu dengan dua orang yang merepotkan ini.“Kelak kamu harus lebih berhati-hati, kalau bertemu dengan mereka,” bisik Jessika. “Sinta, aku tidak berada di departemen pen
“Departemen penjualan adalah salah satu departemen terpenting dalam perusahaan.” Widia sengaja menyindir Sinta pada setiap pertemuan rutin, “Ada orang yang memang tidak berbakat dalam penjualan, lebih baik tidak menempati posisi ini dengan memberikan kesempatan pada orang lain yang lebih mampu!”“Perusahaan kita bukan tempat untuk makan gaji buta, jadi sebaiknya kalian mengetahuinya. Seperti orang yang tidak mendapat pesanan satu pun dan hanya bisa mendapatkan gaji pokok saja, benar-benar harus mempertimbangkan arah tujuannya kelak!”Sinta menundukkan kepalanya dan mengerutkan keningnya sepanjang sore itu.Setelah melewati hari yang berat dan melelahkan itu, akhirnya Sinta pulang kerja. Begitu sampai di rumah, Sinta melihat Dani duduk ongkang kaki di sofa sambil memandangi ponselnya. Dani tampak seperti seorang taipan. Sinta masuk ke dapur, meja dapur masih kosong melompong, bahkan saat dia hendak meminum seteguk air hangat pun tidak ada.Semua kekesalan yang Sinta pendam sepanjang har
Sebelum Sinta sempat menolak usulan tersebut, dia sudah diseret keluar rumah oleh Dani.Dalam perjalanan, Sinta tidak mengatakan sepatah kata pun, dalam benaknya dia memikirkan masalah gajinya yang kecil itu, apakah cukup untuk bayar tagihan makanan.Sinta mengintip Dani, membayangkan kalau selama ini kehidupan Dani hidup terisolasi dalam kemiskinan, jadi Dani mungkin saja tidak tahu restoran mana saja yang ada di Kota Semarang?Sesuai dengan kemampuan konsumsi Dani, mungkin warung di pinggir jalan saja sudah bisa mengatasinya.Apalagi ada beberapa warung yang memang bisa bebas menambah nasi putih tanpa batasan, jadi seharusnya cukup untuk dimakan Dani.Sinta menundukkan kepalanya dan tersenyum.Sejak menikah, Sinta selalu menghemat, terutama pengeluaran yang bersifat konsumtif, dia biasanya membeli sayuran yang harganya paling murah untuk memasak. Dia pernah mendengar dari seorang pelayan tua keluarga Wijoyo kalau hal yang paling menakutkan bagi para pasangan muda adalah kehilangan ga
Wajah Sinta berubah dan jantungnya berdebar-debar seperti memainkan drum.Apakah Dani menemukan sesuatu?Apakah dia mendengar orang lain mengatakan sesuatu, misalnya keluarga Wijoyo menggunakan anak perempuan di luar nikah sebagai pengantin pengganti? Mengatakan wanita yang dinikahi Dani adalah Santi yang palsu, bukan putri semata wayang keluarga Wijoyo?Semua pria memiliki gengsi tersendiri, mereka pasti berharap bisa menikahi wanita dari kalangan berada, berparas cantik dan berkulit putih bersih, dari pada wanita seperti dirinya.Sinta sedikit menundukkan kepalanya, kedua tangannya menggosok ujung tepi bajunya dengan gelisah.Sinta berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak bisa mengakuinya apapun yang terjadi, tetapi Dani pernah dijeblos ke penjara karena berkelahi ....Kalau Dani mempermasalahkannya, sulit diprediksi masalah apa yang akan ditimbulkan Dani nantinya. “Ah? Ceritakan apa?” Sinta menatap Dani dengan mata besar yang cerah, mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraa
Ini bukan hanya alasan pernikahan Daniel dengan Yenni, tetapi juga alasan kenapa Yenni memamerkan kekuatannya di hadapan Sinta beberapa kali!Semua itu karena Yenni terlahir sebagai nona muda dari keluarga yang hebat.Sinta menggigit bibirnya, tiba-tiba hatinya terasa sesak dan dia mendorong Daniel menjauh.Daniel terkejut dan mengamati ekspresi Sinta dengan cermat, dia tidak melewatkan ekspresi apa pun di wajah sang istri."Kenapa, istriku ….""Tidak apa-apa." Wajah Sinta tampak datar dan dia menyesali aksinya yang mendorong Daniel menjauh.Sinta tahu dirinya sudah bersikap tidak masuk akal.Namun, Sinta merasa cemas memikirkan wanita lain yang mendambakan suaminya!Daniel tersenyum tersanjung dan dengan ragu-ragu meletakkan tangannya di bahu Sinta lagi. “Kalau tidak apa-apa … bagaimana kalau kita tidur saja?""Kamu tidur dulu, aku masih ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan.""Kamu masih mau bekerja?" Nada bicara Daniel mulai berubah.Sinta melirik Daniel secara samar-samar. San
"Apa?" Daniel mengerutkan kening.Daniel tidak tahu kapan terakhir kali Ismail datang ke Taman Imperial.Sinta menceritakan keseluruhan ceritanya dan berkata, "Aku tidak memberitahumu sebelumnya. Pertama, aku merasa masalah ini telah diselesaikan dan tidak perlu menceritakannya lagi. Kedua ….""Pikiranku memang terlalu polos." Sinta merasa kesal. "Aku tidak menyangka Ismail akan menyembunyikan identitasnya begitu hebat!""Jangan salahkan dirimu sendiri." Daniel membelai bahu Sinta. "Bahkan aku juga tidak menyangka Ismail ternyata orang seperti itu.""Ponsel ini dirusak oleh Bibi Inem." Sinta memandang Daniel. "Saat itu, aku khawatir foto keluarga kita di ponsel itu tidaklah aman, jadi Bibi Inem memikirkan cara dan menjatuhkan ponsel itu ke dalam sup panas."Daniel mengangguk.Meskipun ponsel telah rusak, kalau data dapat dipulihkan, foto di dalam ponsel masih dapat dilihat ….Daniel menyerahkan ponsel pada Wilman. Dalam sekejap, Wilman tahu apa yang harus dilakukan dan segera mundur."
Raut wajah Daniel menjadi muram.Sinta juga tercengang. Dia secara samar-samar ingat kalau terakhir kali Ismail dan Diana datang untuk bermain, mereka membawa sesuatu di tangan mereka."Barang-barang itu disimpan di dapur dan aku tidak pernah memerhatikannya." Bibi Inem menghela napas. "Aku ingin membuatkan sup sarang burung dan kurma untuk Nona Sinta hari ini, jadi aku mengeluarkannya. Aku tidak tahu kalau …."Ekspresi Daniel langsung berubah menjadi ganas.Jadi, Ismail bukanlah karyawan permanen yang sederhana! Tujuannya mendekati Diana sudah jelas.Ismail hanya ingin menggunakan tangan Diana untuk menyingkirkan Daniel dan Sinta!Kalau sesuatu terjadi pada Daniel dan Sinta ketika mereka tinggal di Taman Imperial, Keluarga Sanjaya yang pasti akan disalahkan.Ketika saatnya tiba, Keluarga Hidayat dan Keluarga Sanjaya akan saling berselisih. Kedua pihak akan bersaing satu sama lain dan hanya akan merugikan semua orang …."Daniel." Sinta juga menyadari betapa seriusnya masalah ini. "Kita
"Apa?" Mata Daniel sedikit menyipit saat berpikir sejenak, lalu mencibir, "Aku takut dia melarikan diri dari kejahatannya!"Sinta menatap Daniel dengan bingung. Secara kebetulan, barusan dia juga menduga bahwa itu adalah Ismail karena selain Ismail dan Daniel, Taman Imperial tidak pernah menjamu tamu lain."Wilman." Daniel menatap dengan tatapan tegas, "Apakah kamu tahu ke mana dia pergi?"Wilman mengangguk, "Tiket Ismail langsung menuju ke Semarang."Sepertinya ada sesuatu di Semarang yang membuat Ismail tertarik."Pertama, kendalikan beberapa pekerja bermarga Fairul di rumah itu." Nada suara Daniel jelas dan dingin, "Segera kirim seseorang ke Semarang untuk melacak keberadaannya!""Oke.""Ismail bisa mengambil cuti panjang dan melarikan diri dari kediaman Keluarga Hidayat, pasti ada yang membantunya!"Tatapan Daniel tampak tegas dan jelas, dia sudah memiliki rencana awal di kepalanya. Ismail hanyalah umpan, Daniel akan menggunakan Ismail untuk memancing orang yang berada di bel
"Dia keracunan makanan, tapi gejalanya ringan. Aku sudah memberinya obat dan dia hanya perlu istirahat yang cukup agar cepat pulih."Sinta berseru, "Keracunan makanan?""Ini kesalahanku." Daniel menatapnya."Sinta … tadi pagi aku melarangmu untuk memakan sup karena aku curiga Bibi Inem telah memasukan racun."Sinta menarik napas dalam-dalam. Namun, dia tahu bahwa Daniel tidak akan mencurigai seseorang tanpa alasan, apalagi salah menuduh seorang pelayan tua yang setia padanya."Tadinya aku berniat membawakan semangkuk sup untukmu, tapi kemudian Haju melompat ke jendela untuk mencari makanan, jadi aku memberikan padanya.""Lalu Haju menunduk sambil mengendus-endus.""Saat itu juga, aku bertanya-tanya apa mungkin ada sesuatu di dalam supnya."Sinta baru mengerti Kenapa Daniel begitu sibuk saat itu, kenapa Daniel mengatakan hal aneh yang melarang memakan makanan yang dibuatkan oleh Bibi Inem …."Aku pulang ke rumah pada sore hari dan melihat Bibi Inem yang sedang sibuk." Daniel melanju
Raut wajah Sinta sedikit berubah dan dia merenung sangat lama.Sepertinya dia sudah lama tidak mendengar kabar dari Ismail sejak keributan yang terjadi di rumah waktu itu.Sinta menjawab dengan terus terang, "Aku tidak tahu dia ada di Jakarta atau tidak. Tapi, dia adalah pekerja lama di kompleks kediaman keluarga Hidayat. Setiap hari, kerjaannya sangat banyak, jadi tidak mungkin dia meninggalkan pekerjaannya, bukan?""Oh!" Lukas mengangguk sambil berkata, "Belakangan ini Diana tidak bertemu dengan pria ini, jadi aku kira pria ini sudah meninggalkan Jakarta.""Dokter Lukas!" Sinta segera berkata, "Bahkan kalau pria ini muncul, aku juga tidak akan membiarkan dia bertemu dengan Diana!""Aku dan Daniel tidak ingin Diana berhubungan dengan pria ini lagi. Dia terlalu berbahaya!"Lukas berpikir sebentar, kemudian mengangguk pelan.Pada saat ini, seorang asisten berlari ke arah Lukas dan memberitahunya, "Nona Diana sudah bangun, tapi kondisi mentalnya tidak terlalu baik."Lukas segera bergega
Jantung Sinta berdebar makin kencang, dia tampak sedikit panik.Pada saat ini, tiba-tiba ada panggilan masuk.Dengan gugup, dia pun mengangkat teleponnya. Dari ujung telepon, dia mendengar suara lembut dan pelan yang berkata, "Sinta, ya? Aku Lukas.""Oh!" Dia menenangkan diri, lalu berkata, "Dokter Lukas, ya. Ada masalah apa?"Lukas tertegun sejenak, kemudian dia berkata dengan suara yang makin pelan, "Apakah sekarang kamu bisa datang ke klinik? Ini adalah tempat kerjaku. Hari ini aku ada jadwal konsultasi di Departemen Psikologi."Sinta punya firasat ini ada hubungannya dengan Diana.Dia menutup teleponnya dan segera pergi ke klinik.Lukas sudah menunggunya. Ketika mereka bertemu, mereka pun berbincang-bincang. Lukas menatapnya dengan penuh perhatian, tatapannya penuh makna."Beberapa hari ini aku sudah memberikan konsultasi psikologi kepada Diana," kata Lukas sambil mendorong sebuah laporan ke hadapannya.Sinta pun mengambil laporan itu. Ketika dia melihatnya, tangannya sedikit gemet
Sinta menjulurkan lidahnya sambil tersenyum.Dia mengabaikan Daniel dan langsung berjalan ke arah jalan. Jarak dari sini sangat dekat dengan Asea Media, lalu dia pun bergegas berjalan ke perusahaan.Daniel berdiri di bawah gedung selama beberapa saat.Wilman menelepon Daniel dan berkata, "Tuan, masa Tuan tidak tahu bagaimana gaya bekerjanya Nyonya Nella? Dia tidak akan membiarkan pekerjaan karyawannya terpengaruhi hanya karena masalah perasaan pribadi!""Kalau Tuan mempublikasikan hubunganmu dengan Nona Sinta di perusahaan, pasti akan menimbulkan banyak masalah!"Daniel berkata dengan tidak sabar, "Memangnya bisa ada masalah apa?""Contohnya … seniman di bawah kendali Nyonya Nella juga begitu, mereka juga pacaran. Lalu, bagaimana mereka bisa fokus menerima laporan?"Raut wajah Daniel menjadi masam, lalu dia berkata, "Jadi, aku harus berpura-pura tidak mengenal istriku?"Wilman tertawa getir sambil berkata, "Pokoknya ... itulah yang dikatakan ibumu."Daniel langsung menutup teleponnya.
Sinta tidak punya pilihan selain mengulurkan tangannya, lalu merangkul leher Daniel dan mencium bibirnya.Meskipun tidak terlalu puas, Daniel tetap tersenyum dan melepaskannya.Sinta berkata dengan lembut, "Kamu tidak perlu membuat sarapan lagi. Seharusnya sekarang Bibi Inem sudah pergi berbelanja dan sebentar lagi akan pulang! Dia sangat gesit, dia bisa menyiapkan sarapan dalam waktu singkat.""Omong-omong, Bibi Inem bilang aku harus minum sup ini sebelum sarapan!"Sambil berbicara, Sinta mengulurkan tangannya untuk mengambil sup itu.Namun, sebuah ide tiba-tiba terlintas di benak Daniel. Dia dengan sengaja meletakkan sup itu di samping.Sinta tertegun sambil menatap Daniel dengan tercengang dan berkata, "Kamu … kenapa?""Oh, tidak apa-apa. Sup ini agak dingin, jangan minum lagi.""Bukannya Bibi Inem selalu menghangatkannya?"Daniel tertegun sejenak, lalu berkata, "Sinta, untuk saat ini kamu jangan minum ini, ya. Satu lagi, Bibi Inem sudah sedikit tua. Dia harus mengurus rumah dan mem