Share

Chapter 201

Penulis: Black Eagle
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-29 19:42:56

Terlihat Randy dan Nadira hanya berdua dan bersebrangan di kantin sekolahnya, tidak ada yang ingin berteman dengan mereka lagi, siapa yang ingin berteman dengan anak seorang pria yang digosipkan sebagai penyuka gadis di bawah umur? Orang tua yang saling berselingkuh? Bercerai?

Nadira yang awalnya adalah gadis yang ceria yang mungkin bisa dibilang cukup sombong dikalangan teman-temannya kini tak ada yang ingin berteman dengannya. Bahkan dia sering diejek oleh teman yang pernah begitu dekat dengannya, namun kini semua seakan menjadi musuh Nadira. Begitu juga Randy, dia sebenarnya tak masalah jika teman-temannya menjauh dia, toh, Randy memang hanya dekat dengan Nadira saja, sejak awal memang dia terbilang pendiam di sekolahnya. Namun mendapatkan perlakuan buruk, dan sering sekali diejek dan digunjingkan itu membuat Randy sangat tidak nyaman.

"Well, jika Papa mau, dia bisa beli sekolah ini," ucap Karina, sedikit berbisik pada Randy.

"Mungkin, tapi kita sudah tidak punya Papa."

Ucapan
Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP

Bab terkait

  • Nafsu Gelap Sang Majikan   Chapter 202

    "Temukan dia!" Salah seorang pria berbadan besar memerintahkan berapa yang lain. "Temukan sebelum Nigel datang kemari, jika kita tidak menemukannya hidup-hidup, maka kita juga tidak akan hidup!" Dia semakin membesarkan suaranya. Terlihat mereka, anak buah Nigel mulai panik dan mulai bergegas kembali mencari Randy yang ternyata berhasil kabur dari sergapan dari anak buah Nigel. Saat anak buah Nigel kalang kabut Tuan mereka akan marah karena kaburnya salah satu anak Martin, Ibrahim muncul dan berjalan dengan penuh wibawa, dia baru saja keluar dari sebuah ruangan yang memang disediakan untuknya di sana, dan di sana pula dia melakukan semuanya, dia adalah ahli komputer yang baik, dan dia sendiri yang sering meretas beberapa media untuk menjelek-jelekkan keluarga Dailuna. "Apa yang terjadi?" tanyanya pada anak buah Nigel. "Anak laki-laki Martin berhasil lolos dari kami, Pak." Ibrahim kemudian mengernyitkan keningnya dan terlihat akan marah. "Temukan dia segera, jika kalian tidak menem

  • Nafsu Gelap Sang Majikan   Chapter 203

    Seorang pria sedang memegangi kepalanya yang sakit, dia terbaring dalam semak pinggir jalan. Rasanya dia telah dipukuli di kepala dan saat terbangun, ternyata waktu sudah malam. Kini dia berada di sebuah tempat yang sering dia lalui saat akan menjemput majikannya. Dia adalah Pak Arif, supir pribadi Randy dan Nadira, pekerja milik Sarah. Kepalanya pusing, dia terbangun, dan kini berdiri tegak. Matanya menyipit, dan melihat mobil yang yang melaju ringan ke arahnya. Dia mengulurkan tangannya ke depan, tanda bahwa dia sedang membutuhkan tumpangan. Mobil itu berhenti dan memberikannya tumpangan. Hingga dia sampai di rumah Sarah dan memberitahu sebuah kabar buruk. "Aku tidak tahu Nyonya, seseorang menghentikan aku di jalan, dan aku kemudian menemukan diriku di semak-semak," jawab Arif menunduk di hadapan Sarah yang tengah panik. "Kau tidak berguna! Seharusnya kau tidak berhenti! Lihat apa yang terjadi sekarang!? Kedua anakku tidak dapat aku hubungi,itu semua karena kau!" Sarah terus saja

  • Nafsu Gelap Sang Majikan   Chapter 204

    Saat ini, Martin dan Andira tengah asik berada dalam bathub yang sama. Tubuh Andira bersandar pada tubuh Martin, mereka merasakan air yang mandi dan busa-busa sabun yang begitu harum, tangan Martin dan Andira asik bermain gelombang sabun yang kecil. "Ini sangat menyenangkan," ucap Andira, dia memandang gelembung sabun yang melingkar di tangannya, juga tangan Martin yang berada di punggung tangan Andira. "Dan juga sangat menenangkan," balas Martin, dia menatap Andira yang bersandar pada dadanya. "Sangat, aku harap, kita memiliki usia yang sama, atau..., kita tinggal di dunia yang tidak memperdulikan usia muda maupun tua, untuk jatuh cinta," ucap Andira. Matanya masih fokus menatap gelembung sabun yang masih melingkar sempurna. "Well, Andira, cinta sama sekali tidak mempermasalahkan usia atau apapun, tapi orang-orang yang mempermasalahkannya," balas Martin. Dia kemudian meniup gelembung berukuran dengan tangan kecil Andira, agar gelembung itu terbang, tapi nyatanya pecah dan membuat

  • Nafsu Gelap Sang Majikan   Chapter 205

    "Apa yang terjadi pada mereka?" tanya Martin, nada suaranya panik dan matanya sedikit membulat. "Mereka menghilang, dan sebentar lagi petugas kepolisian akan datang kemari, Sarah istri Anda melaporkan bahwa Anda lah yang telah menculik mereka." 'menculuk.' Kata yang keluar dari mulut Syarif membuat Martin kemudian paham bahwa saat ini, mereka terlalu jauh melakukannya pada Martin, melibatkan anak-anak Martin adalah hal yang sudah kelewatan dan saat ini, Sarah sudah melaporkannya ke polisi. "Aku yakin, Tuan, bahwa yang menculik anak-anak Anda adalah orang yang sama yang telah menculik adik Anda," ujar Syarif lagi, Martin terlihat lemas, dia terjatuh ke atas sofa dan nafasnya tidak terlalu baik. Syarif langsung membungkuk dan bertanya, "Anda baik-baik saja, Tuan?" Mata Martin menatap ke arah Syarif seakan berkata, pertanyaan macam apa itu? Tentu saja Martin sedang tidak baik-baik saja. Lalu seketika bel rumah kembali berbunyi dan Martin juga Syarif menoleh ke arah pintu. "Mungkin

  • Nafsu Gelap Sang Majikan   Chapter 206

    Saat malam menyelimut, dan suasana dingin tak dapat dielakkan, Randy yang terjatuh dalam kegelapan hanya dapat menangis dan terisak, ponselnya juga tak dapat dia aktifkan, matanya mulai bengkak karena terus menangis ketakutan, dia memikirkan hal-hal aneh yang mungkin bisa menyakitinya dan sangat mengerikan, hantu-hantu atau makhluk goib, hewan-hewan buas yang mengerikan, atau penjahat yang akan kembali dan menyakitinya. Dia memikirkan ayah dan ibunya, memikirkan saudari perempuannya, apa yang mungkin penjahat itu lakukan pada Nadira. Apakah menyandra mereka dan menyiksanya atau melakukan hal yang lebih menakutkan dari hal yang dipikirkan Randy. Dia berada di atas rumput bersandarkan batang pohon, berharap bahwa memang tempat bersandarnya adalah batang pohon. Randy memeluk tubuhnya yang kecil, hingga terlelap dan jatuh pingsan. * "Bagaimana mereka bisa menemukanmu?" tanya Hatice, dia mengelus lembut rambut dan pipi yang menangis itu. Nadira terus meneteskan air mata hingga matanya

  • Nafsu Gelap Sang Majikan   Chapter 207

    "Bukan aku yang melakukannya Sarah!" Martin membentak, Sarah datang ke rumah besar Dailuna di pagi hari. Dia mengamuk dan terlihat berantakan setelah mendapat kabar dari polisi bahwa bukan Martin yang melakukannya. "Kau berbohong bukan?! Kau berbohong! Kau yang menyembunyikan anak-anak kita! Katakan Martin, katakan bahwa kau yang melakukannya!" Sarah menjerit dan mulai cemas. Awalnya dia tidak begitu cemas karena dia menganggap bahwa Martin yang melakukannya, dan itu tidak perlu dikhawatirkan. Namun karena pengakuan Martin bahwa dirinya bukan pelaku penculikan anaknya, maka Sarah mulai merasa panik. "Lalu siapa yang melakukannya!? Ha?" Sarah berdiri di hadapan Martin, dia terlihat berantakan dan untuk pertama kalinya di kepala Sarah, dia tidak memikirkan tentang bisnis dan pekerjaannya. "Aku akan mencari tahu, kau tenangkan dirimu," ucap Martin, dia menyentuh kedua lengan Sarah, dan berharap mantan istrinya itu bisa tenang. "Kau ingin mencarinya? Kau ingin mencari anak kita? Baga

  • Nafsu Gelap Sang Majikan   Chapter 208

    Ponsel Raisi berdering, pagi yang cukup cerah untuknya, saat terbangun, dia sudah melihat Lizzia berbaring memeluk tubuhnya. Dia meraih ponselnya di atas laci samping tempat tidur. Dia melihat, ibunya yang menelpon. "Ada apa Ma? Kenapa terdengar panik?" Suara Raisi tenang, hingga Lizzia membuka matanya dan melihat Raisi sedang berbicara melewati ponsel. Dia membangkitkan tubuhnya dan bagai ulat nakal menempelkan bibirnya pada tubuh bagian bawah Raisi, Lizzia mengeluarkan lidahnya dan menjilatinya. "Aku sedang melakukan... Arghh, Lizi jangan lakukan itu... Ma aku matikan ya..." Raisi lalu mematikan ponselnya dengan cepat dan memandang aksi nakal Lizzia di pagi hari. Dia menyeringai dengan mulut terbuka dan membiarkan Lizzia melakukan nakal yang memang selalu disukai oleh setiap pria. "Arghhh... Astaga... Kau melakukannya dengan baik..." Dia menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur, menutup matanya, dan dia tak lagi merasakan sentuhan Lizzia dari alat sensitif miliknya. Dia me

  • Nafsu Gelap Sang Majikan   Chapter 209

    Mata Randy terbuka, dan syukurlah, dia masih hidup, cahaya menembus masuk ke dalam matanya, dan perutnya terasa begitu lapar, perut kecilnya berbunyi-bunyi, dan kepalanya terasa sangat pusing. Dia merasakan matanya terasa perih, saat dia bercermin, dia sudah melihat kedua matanya begitu bengkak. Dia terbangun, duduk dan menenangkan diri, bersandar menatap ke arah langit, merasakan cahaya pagi. "Aku harus bagaimana sekarang?" dia bertanya-tanya. Lalu karena tak ingin berlama-lama, dia bangkit dari duduknya dan berjalan mengitari hutan, berharap dia mendapatkan jalan keluar ke jalan raya. Dia berjalan lambat dan berusaha untuk tetap berjalan, bernapas dan kalau bisa dia harus berlari kecil. "Tetaplah bernapas, tetaplah bernapas Randy," monolognya, dia berjalan, walau rasanya dia sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya, bibirnya kering, dan kepalanya semakin pusing. Hingga dia menemukan sesuatu, entah berhalusinasi atau sedang bermimpi, dia menemukan sebuah rumah kayu tersembunyi di da

Bab terbaru

  • Nafsu Gelap Sang Majikan   Bab 317

    "Kau sudah mendapatkan, dia kan?" tanya Ibrahim yang sekarang berada di hadapan Nigel. "Cepatlah akhiri ini, Nigel. Kau pasti akan segera mendapatkan apa yang kau inginkan, bukan?" Ibrahim yang saat ini duduk di hadapan meja Nigel dan Nigel tampak berpikir tetapi tidak senang dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Ibrahim. "Jangan terlalu tergesa-gesa, Ibrahim. Aku tahu kau sangat ingin membunuhnya sama seperti aku ingin sekali melenyapkan dia. Tapi kita tunggu, ya tunggu." Ibrahim tidak senang dengan aoa yang dikatakan Nigel, dia berdiri dan menghentakkan kursi, "Menunggu? Astaga aku sudah sangat lama menunggu dan menantikan momen ini, aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Apa yang sebenarnya kau rencanakan!" Nigel tersenyum dan ikut berdiri, "Aku sudah katakan padamu. Kau cukup menjaga Andira dan biarkan dia merasa nyaman di sini, karena sebentar lagi dia akan berguna," kaga Nigel yang sekarang berjalan ke arah pintu. Dia membuka pintu ruangan itu dan mempersilahkan Ibrah

  • Nafsu Gelap Sang Majikan   Bab 316

    "Nigel berhasil menangkap ayahmu, Raisi." Suara Litzia tenang. Sedangkan Raisi yang tampak tak berdaya itu hanya bisa menundukkan kepala. Dia lemas dan tidak tahu bagaimana dia akan merespon. "Akhirnya, dendam Nigel akan terselesaikan. Dia bisa menghabisi ayahku kapan saja. Tapi kenapa dia hanya menangkapnya?" Tatapan Raisi kini mengarah kepada Litzia yang terlihat tidak menemukan jawaban apa pun dari pertanyaan Raisi. Dia bahkan tidak tahu kenapa Nigel tidak menghabisi Martin saat ini juga. Kenapa dia harus menunggu waktu yang lama. "Entahlah, tapi untuk saat ini aku hanya mau kondisi mu lebih baik Raisi, kau harus makan sesuatu," kata Litzia yang masih menawarkan makanan untuk Raisi, "Jika tidak maka kau akan berada dalam kondisi yang buruk." "Saat ini aku bahkan jauh lebih buruk dari kematian itu sendiri, Litzia. Aku bahkan tidak tahu bagaimana rasanya makanan." Litzia lalu meraih piring itu dan berusaha untuk membuat Raisi memakan sesuatu, dia menyuapi Raisi dan tidak akan pe

  • Nafsu Gelap Sang Majikan   Bab 315

    Martin terjatuh dan tidak bisa merasakan tubuhnya, apa yang baru saja dikatakan oleh Nigel adalah sesuatu yang sangat mengerikan. Martin sudah kehilangan Nadira dan dia tidak bisa kehilangan anak lagi. Tubuhnya yang sudah mulai kurus itu terus dihentakkan lelah Nigel yang penuh dengan kebencian dan dendam. Yang pada akhirnya Nigel mendapatkan Martin hidup-hidup. Ini adalah sebuah kesempatan baginya. Bagi Nigel untuk memberikan penderitaan mutlak pada Martin Dailuna. Martin yang tidak berdaya diseret menuju bangunan tua yang cukup terlihat besar, dan tubuh itu langsung dijatuhkan di atas lantai yang lembab. "Bawa dia ke tempat yang seharusnya." Nigel yang terlihat berjalan pergi dan meninggalkan tubuh Martin yang setengah sadar dan tak berdaya. Dan kemudian dibawalah tubuh itu menuju ke tempat yang seharusnya, dan kemenangan Nigel sudah di depan mata. Andira, Raisi dan Martin, adalah pion untuk balas dendam Nigel. Di sisi lain ada Ibrahim yang sama sekali tidak terima Dnegan sikap

  • Nafsu Gelap Sang Majikan   Bab 314

    Lalu ketika itu, Martin yang tidak berdaya dan diseret paksa oleh Nigel membuat pria ini, yang sangat tak berdaya dan seolah tak bisa apa-apa dijatuhkan ke atas rerumputan yang lembab. Dia tentu tak bisa melakukan apa pun karena tak bersenjata dan tak ada yang bisa menyelamatkan Martin sekarang, dalam benak Martin mungkin inilah saatnya dia akan tiada. Tetapi apakah Martin akan menyerah bahkan sebelum dia bertemu dengan Andira dan juga Raisi, bagaimana jika kondisi Raisi dan Andira saat ini tidak lagi naik-naik saja dan dalam masalah yang besar? Martin tentu tidak ingin semua itu terjadi apa lagi untuk kehilangan seorang anak lagi, dia tidak mau dan tidak akan membiarkan hal yang tidak senonoh itu terjadi pada keluarganya. "Lihat sekarang diri mu, Martin, kau bukan siapa-siapa lagi dan kau tidak punya apa-apa, kau bahkan tidak tahu caranya melawanku, seakan kau bukan lagi Martin Dailuna." Tawa terdengar dari bibir Nigel, dia kemudian terbahak-bahak dan tak punya belas kasihan kep

  • Nafsu Gelap Sang Majikan   Bab 313

    Martin menendang senapan yang berada di tangan Nigel dan akhirnya senapan itu terjatuh di atas rerumputan basah di malam hari, dia berlari sekuat mungkin dan Nigel hanya tertawa, berpikir bahwa Martin tidak akan lolos. Senyum jahat tampak di bibirnya yang di mana saat ini, Martin berusaha keras untuk menghindari moncong senjata panas dari Nigel. Sementara itu, langkah kaki Nigel semakin cepat, dan mengikut dengan langkah kaki Martin yang berlari. Nigel menganggap bahwa pantang dilakukan oleh Martin adalah sesuatu yang sia-sia yang membuat Nigel tertawa terbahak-bahak. "Kali ini siapa yang akan menyelamatkan kau, ha, bukanlah yang telah memenjarakan aku selama ini! Martin. Aku selama ini menjadi pelindung kau, tapi apa balasan mu, ha!" Nigel membentak dan ketika Martin terjatuh, dia seolah terjatuh ke dalam sebuah memori yang pernah dialami olehnya sebelumnya, dia dikejar oleh Nigel ketika itu, saat Nigel diperintahkan oleh Mark untuk memata-matai Martin. "Aku tidak mungkin t

  • Nafsu Gelap Sang Majikan   Bab 112

    Masa lalu adalah yang paling menyakitkan dan yang paling ingin dilupakan oleh Martin Tapi sayangnya orang-orang yang berada di sekitar Martin selalu mengingatkan Martin terhadap Apa yang membuat pria setengah baya ini selalu terluka. Tak ada yang bisa dilakukan Martin sekarang di hadapan moncong senapan yang dihadapkan ke arah kepala Martin dan hanya satu gerakan saja ketika jari Nigel menarik pelatuk itu maka meledak lah kepala Martin. Sementara pria ini hanya menunggu kapan Nigel akan meledakkan kepalanya dan dia akan terbebas dengan apa yang selama ini terjadi tetapi sayangnya hal yang paling diinginkan Martin saat ini adalah untuk membebaskan Raisi dan Andira. Tetapi di mana Andira saat ini? Tentu Hal itu membuat Martin merasa bingung luar biasa dan ingin segera menemukan di mana mereka berdua karena jika Martin tiada sebelum menemukan Andira dan Raisi, maka kehidupan Martin akan berakhir dalam ketidaktenangan. "Sebelum kau menarik pelatuk itu, sebaiknya kau katakan apa yang s

  • Nafsu Gelap Sang Majikan   Bab 311

    "Aku tidak percaya aku bisa menemukan kau di sini, Martin Dailuna." Suara yang begitu mengagetkan, Martin yang berada di tengah hutan saat ini, di malam hari dan masih dalam perjalanan di mana dia harus menemukan bangunan tua di mana Nigel menyembunyikan Andira. Ketika Martin berbalik kemudian Martin melihat siapa yang berada di belakang Martin, yang di mana saat itu dan yang berada di belakang Martin ternyata adalah Nigel. Dengan senapan di tangan Nigel dan ditodongkan tepat ke arah kepala Martin membuat pria setengah bahaya ini langsung mengangkat kedua tangannya dan saling berhadapan dengan Nigel Dailuna. Beberapa kali Martin menelan saliva dan tentu saja terkejut dengan apa yang baru saja dilihat oleh Martin dan siapa yang berada di hadapan pria setengah baya ini. "Sangat mengejutkan bahwa aku bisa menemukan engkau di malam hari tepat di tengah hutan ketika aku sedang ingin berburu, yang pada akhirnya buruhan ku pun aku temukan." Nigel membuat Martin merasa bahwa Martin haru

  • Nafsu Gelap Sang Majikan   Bab 310

    Terjadi kekacauan antara Sarah dan Randy, di mana mereka berdua tidak ada satu pun yang bisa saling meredakan, kini hanya ada Ray yang melihat aksi Sarah dan Randy yang sekarang berlutut di lantai sambil meraih pecahan demi pecahan yang ada di atas lantai. Pecahan biola yang kini remuk dan tidak utuh lagi serta tali biola dan tak akan bisa utuh secara instan, atau mungkin dia harus membuang biola itu, Sarah langsung tersadar bahwa dia sedang melakukan sebuah kesalahan yang membuat hati Randy patah. Tentu hal ini membuat Sarah menyesal luar biasa, dia lalu dengan perlahan ikut berlutut di hadapan Randy sementara Ray hanya diam sambil menggelengkan kepala melihat aksi kakaknya itu. "Keluar." Randy bergumam dan Sarah mengabaikan ucapan Randy, dia tetap membantu Randy memungut serpihan biola itu, yang hanya membuat Randy merasa kesal dan berkata, "Aku bilang keluar dari sini!" Sebuah suara yang kini membentak dan membuat Saran terhentak. "Ibu minta maaf, sayang," kata Sarah tapi Randy

  • Nafsu Gelap Sang Majikan   Bab 309

    "Ibu hanya ingin memastikan, Randy bahwa sama sekali tidak ada masalah di sekolah lagi, agar kau bisa belajar dengan tenang, atau Ibu mungkin akan membawa kau ke sekolah lain," kata Sarah yang mengelus lembut rambut Randy tapi Randy memalingkan wajah dan tidak senang dengan jawaban sang ibu. "Itu hanya akan memperburuk masalah Ibu, jika Ibu datang ke sekolah dan memarahi anak nakal itu, maka mereka tidak akan berhenti mengganggu aku," kaya Randy dengan nada suara yang kesal. "Tapi sayang ibu hanya berusaha melakukan sesuatu yang terbaik untukmu," ucap Sarah sekali lagi tapi Randy tidak peduli, dia memalingkan wajah dan tidak senang dengan sang ibu, membuat Sarah merasa tersindir, dia sudah melakukan hal yang luar biasa untuk Randy tapi bahkan untuk saat ini Randy masih saja tidak melihat kepedulian ibunya sendiri. "Kenapa Ibu tidak bisa diam, seharusnya ibu duam saja dan tidak usah melakukan apa pun," kata Randy sambil menghentakkan tangan Sarah yang mengelus lembut rambut Randy, k

DMCA.com Protection Status