Share

CHAPTER 24

Penulis: MarniHL
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-27 23:41:56

"Pak, itu kayak bu Arin," ucap sekretaris Bagas ketika mereka sedang berada di lampu merah.

Kebetulan Bagas melakukan kunjungan di salah satu cabang toko kosmetiknya bersama sang sekretaris.

Bagas seketika mengalihkan pandangannya pada sosok wanita yang diduga sekretarisnya adalah Arin. Dan benar itu adalah Arin. Dia terlihat sedang membagi-bagikan nasi kotak pada anak-anak pengamen dan penjual koran.

"Saya kagum sama bu Arin. Baik banget mau bagi-bagiin makan ke anak-anak jalanan," ucap sang sekretaris tersenyum.

Bagas hanya diam sembari memperhatikan Arin dari dalam mobil.

"Mau berhenti sebentar, pak?" tanya supir.

"Tidak usah, lanjut saja."

"Baik pak."

Setelah lampu berubah hijau, mobil pun kembali melaju.

Beberapa menit kemudian Bagas pun sampai di kantornya.

"Pak Bagas. Tadi ada titipan makanan katanya dari bu Arin." Resepsionis yang berada di lobby langsung menghampiri Bagas sembari memberikan kotak makan yang katanya dari Arin.

"Makasih."

"Sama-sama, pak."

Bagas pun segera per
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • My Cold Husband   CHAPTER 25

    "Makasih ya, bun, udah repot-repot bawain makanan. Mana makanannya banyak banget," ujar Arin.Beni, Karina, dan juga Safira sedang berada di rumah Bagas dan Arin. Katanya mereka ingin makan malam bersama di rumah mereka."Gak repot kok. Justru bunda senang masakin buat kalian. Biar kalian gak repot masak selama beberapa hari. Apalagi kalian kan sibuk, pasti seringnya makan di luar. Terutama Bagas, disuruh bawa bekal aja gak mau.""Bagas bukan gak mau. Cuma males aja bawa kotak makan.""Kamu milih males apa sehat?""Bun, kak, nih aku pesanin cheese cake. Nanti kita makan kuenya setelah makan malam."Arin tersenyum. "Makasih ya, Fir.""Sama-sama." Safira beralih menatap Bagas. "Mas, nanti selesai makan kita boleh ngobrol berdua gak? Ada yang pengin aku omongin."Bagas hanya mengangguk."Ya udah, ayo makan dulu. Kalian pasti udah laper banget, kan?"***"Mau ngomong apa?" tanya Bagas karena sudah beberapa menit Safira membawanya ke tepi kolam renang karena ingin berbicara dengannya, tapi

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-03
  • My Cold Husband   CHAPTER 26

    "Em, Rin, sorry ganggu. Ini ada telfon dari Bagas." Juan menghampiri Arin dan Brian."Bagas? Kok dia gak telfon ke gue?" tanya Arin bingung."Katanya nomor lo gak aktif.""Oh iya, gue lupa. Hp gue mati, jadi lagi dicas."Juan pun memberikan ponselnya pada Arin untuk berbicara dengan Bagas."Halo Gas. Kenapa?""Halo? Bagas?"Tak lama kemudian, panggilan terputus."Gak ada suaranya. Malah dimatiin sama dia." Arin mengembalikan ponsel Juan."Masa sih? Oh, mungkin dia mau meeting makanya langsung dimatiin. Soalnya dia sempat bilang kalau mau meeting."Arin manggut-manggut. "Ya udah, kalau dia udah gak sibuk juga pasti dia telfon balik.""Temannya Arin, ya?" tanya Brian pada Juan."Dia temannya Bagas. Saya yang temannya Arin. Kenalin saya Ela.""Oh iya, saya Brian."***"Rin, lo kenal Brian di mana? Kok keliatannya udah akrab banget? Kok gak bilang-bilang ke gue?" Ela memberikan pertanyaan beruntun."Tetangga kompleks. Lagian kita juga baru kenalan baru-baru ini pas lagi jogging.""Bagas k

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-04
  • My Cold Husband   CHAPTER 27

    "Kenapa coba dia nolaknya gitu banget? Padahal kan gue gak maksa." Arin kesal.Kesal karena Bagas langsung menolaknya tanpa mempertimbangkannya lebih dulu. Ditambah Bagas pergi begitu saja meninggalkannya seorang diri di restauran. Apakah sebegitu tidak sukanya Bagas padanya hingga dengan cepat menolaknya tanpa berpikir lebih dulu.Arin tahu Bagas belum bisa melupakan mantan kekasihnya, tapi apa salahnya mencoba? Arin juga belum mencintai Bagas, tapi dia berusaha untuk membuat mereka lebih dekat dan mencoba untuk memahami Bagas. Apalagi setelah tahu kalau Bagas terluka karena ditinggalkan begitu saja. Arin ingin Bagas membuka lembaran baru bersamanya, walaupun dia tidak tahu mungkin butuh waktu yang lama untuk mereka saling jatuh cinta.***"Gas, ayo bangun. Gue udah buatin sarapan."Bagas perlahan membuka matanya. Beberapa detik kemudian dia terkejut. "Ngapain kamu di kamar saya?""Bangunin lo lah. Buruan siap-siap, habis itu sarapan udah gue buatin. Oh iya, pakaian lo juga udah gue

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-05
  • My Cold Husband   CHAPTER 28

    "Kenapa gak bilang kalau mobil kamu lagi dipake sama Aaron?" tanya Bagas."Ya gak mungkin lah gue bilang sama lo. Kan lo pasti lagi sibuk gue gak mau gangguin lo. Lagian gue kan masih bisa naik taksi.""Kalau tadi saya gak datang kamu balik sama dia?""Brian? Ya enggaklah. Dia tadi cuma beli makan. Dia juga tadi sempat nawarin buat promosiin resto gue di sosmed. Gue sih takut ngerepotin, tapi kata dia gak papa.""Harus dia?""Mumpung dia nawarin kenapa enggak? Lagian gue juga gak begitu ngikutin sosmed, jadi gak tahu gimana cara promosiin resto gue. Awalnya gue mikir sosmed itu gak ngaruh, ternyata ngaruh banget.""Kamu bisa minta tolong orang lain."Arin mendadak tersenyum. "Lo cemburu ya makanya gak mau Brian bantuin gue?""Gak ada untungnya saya cemburu.""Ya udah, kalau gitu gak papa dong kalau gue terima tawaran dia. Kalau lo gak cemburu ya berarti aman."***"Gas, yuk makan dulu. Gue udah siapin."Bagas pun bangkit berdiri lalu mengikuti Arin ke meja makan."Gue buatin steak lo p

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-06
  • My Cold Husband   CHAPTER 29

    "Kak, sorry ya, gue baru sempat balikin mobilnya." "Iya, btw, selamat ya udah selesai sidang. Gimana? Tadi lancar gak?" Arin bertanya."Ya lumayan sih. Sekarang gue udah bisa istirahat karena udah gak perlu pusing nyusun skripsi lagi.""Istirahatnya jangan lama-lama. Kan masih ada revisi yang harus lo kerjain.""Iya sih.""Oh iya, makasih ya buat buketnya. Padahal gue gak minta, loh," ucap Aaron sembari tersenyum."Buket?" Arin tampak bingung. Karena seingatnya dia sama sekali tidak memesan buket untuk Aaron."Iya, buket. Tadi dibawa sama Fira. Katanya dari bang Bagas sama lo. Gue terharu ternyata walaupun lo sering marah-marah, tapi lo masih kirimin buket. Bang Bagas juga tadi sempat chat gue ngucapin selamat.""Tapi ....""Karena gue udah selesai sidang berarti gue boleh makan sepuasnya, kan? Hitung-hitung ngisi tenaga gue yang udah habis karena lumayan tertekan."Tanpa menunggu jawaban dari Arin, Aaron langsung memanggil karyawan dan memesan makanan.Arin masih terdiam. Apa mungki

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-08
  • My Cold Husband   CHAPTER 30

    "Dasi lo miring. Gue benerin, ya." Arin hendak merapikan dasi Bagas, namun Bagas segera menepis tangannya. Bagas tampak tidak suka."Saya bisa sendiri," tolak Bagas dingin."Oh iya, ini bekal lo jangan sampe ketinggalan." Arin menyodorkan kotak bekal yang sudah dia siapkan."Gak usah. Saya hari ini ada meeting sama klien di luar sekalian makan siang.""Bawa aja dulu. Kan bisa dimakan lagi kalau laper.""Kalau saya bilang gak usah ya berarti gak usah!"Arin cukup terkejut karena suara Bagas sedikit meninggi. "Ya udah, gak papa kalau gak mau. Nanti biar bekalnya gue yang bawa aja. Hati-hati, ya. Jangan sampai telat makan siangnya."Bagas langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata.Arin mengepal kedua tangannya. Tentu dia sangat kesal karena sikap Bagas yang semakin dingin padanya. Padahal Arin sudah berusaha untuk bersikap baik padanya, bukannya luluh justru malah sebaliknya. Ini benar-benar tidak semudah yang dia bayangkan.***"Gas, sorry, ya soal yang waktu itu. Kita g

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-09
  • My Cold Husband   CHAPTER 31

    "Ayah sama bunda beneran di rumah gak sih? Kok rumah gelap banget?" Arin bergumam ketika tiba di rumah orang tua Bagas.Tadi Arin sempat mendapat telepon dari Karina memintanya untuk datang ke rumah karena Beni sedang sakit dan dia kesulitan membawa suaminya ke rumah sakit sendirian. Sedangkan Safira sedang tidak ada di rumah. Setelah mendapat telepon dari Karina, Arin langsung buru-buru datang, tapi anehnya rumah mereka malah gelap tidak ada satupun lampu yang menyala."Ayah, bunda, ini Arin." Arin mencoba mengetuk pintu. Namun, tidak ada jawaban dari dalam. Arin mengambil ponselnya memilih untuk menghubungi Karina, tapi tidak diangkat."Apa jangan-jangan bunda udah nganterin ayah ke rumah sakit, ya?""Kamu ngapain di sini?"Arin menoleh ketika mendengar sebuah suara yang tidak asing di telinganya. Ternyata Bagas yang datang."Gue tadi ditelfon sama bunda disuruh ke rumah nemenin ayah ke rumah sakit. Soalnya Fira lagi gak di rumah. Lo sendiri ngapain ke sini?"Bagas tampak bingung. K

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-11
  • My Cold Husband   CHAPTER 32

    "Kenapa lo pesan twin room?" tanya Arin ketika mereka sudah berada di kamar hotel.Saat di resepsionis tadi Arin cukup bingung karena Bagas memilih untuk memesan kamar yang baru. Padahal orang tua mereka sudah memesan kamar untuk mereka dan tentunya bukan twin room, melainkan suite room. "Saya pengin tidur dengan nyaman.""Emang kalau kita seranjang lo gak nyaman gitu? Lagian orang tua kita kan udah booking suite room.""Iya, saya gak nyaman. Kalau kamu gak mau silakan booking kamar lain."Arin terdiam sejenak. "Oke, selama kita masih sekamar gak papa." Arin membuka ponselnya untuk mencari restoran terdekat karena dia merasa lapar. Kebetulan mereka tadi tidak sempat sarapan karena buru-buru. "Gas, mau cari makan gak? Kebetulan gue nemuin resto yang gak jauh dari hotel. Dari review pengunjungnya sih katanya bagus restonya. Mau ke sana gak?""Gas? Kok gak jawab?" Arin membalikkan badan karena Bagas tidak menjawabnya. "Yah, dia malah tidur. Gue pergi sendiri aja deh."***"Sorry, kamu

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-12

Bab terbaru

  • My Cold Husband   CHAPTER 40

    Bagas mendekati Arin yang tertidur di meja makan. Rupanya Arin sudah memasak. Apa mungkin Arin menyiapkan makan malam untuknya?"Arin." Bagas membangunkan Arin.Arin perlahan membuka matanya. "Gas, kamu baru pulang?"Bagas hanya mengangguk."Makan dulu, yuk. Selesai makan baru mandi. Kamu pasti udah laper, kan? Aku ambilin, ya."Bagas menahan lengan Arin ketika Arin sudah mengambil piring, hendak menyendokkan makanan untuknya."Gak usah. Saya belum mau makan."Arin pun menaruh kembali piring. "Ya udah, kalau gitu kamu mandi aja dulu baru makan. Aku tungguin deh.""Kamu kenapa ngelakuin ini?""Maksud kamu?""Kenapa kamu masih berusaha?"Arin tersenyum. "Karena aku pengin pertahanin pernikahan kita. Kan aku udah bilang aku bakal berusaha buat jadi istri yang baik buat kamu. Aku gak pengin kita cuma pura-pura romantis di depan orang-orang, tapi di belakang kita malah saling gak peduli.""Tapi saya gak b

  • My Cold Husband   CHAPTER 39

    "Ke panti? Ngapain?" Juan bertanya ketika mereka sedang makan siang di sebuah resto."Arin sumbangin makanan sama pakaian buat anak panti."Juan manggut-manggut. "Ternyata Arin baik hati juga, ya. Jarang loh ada orang kayak Arin yang mau peduli sama anak-anak panti. Gue aja juga gak pernah ngelakuin itu.""Iya, emang jarang." Bagas menyetujui ucapan Juan."Lo harusnya bersyukur punya istri kayak Arin. Udah cantik, pintar, baik hati lagi. Apa lo gak mau pelan-pelan buat belajar sayang sama Arin?""Topik kita bukan ke sana, Ju." Mendadak ekspresi Bagas berubah tidak suka."Justru itu topiknya. Kita kan lagi ngomong soal Arin. Emang lo gak ada rasa kagum sedikit pun sama dia setelah dia ngajak lo ke panti?""Kagum sama sayang itu beda. Gue gak sayang sama dia.""Gue koreksi ya, bukan gak sayang, tapi belum. Lo cuma butuh waktu kok."Bagas hanya diam, tidak menjawab. ***"Makasih ya, Brian. Berkat kamu resto saya jadi ramai. Saya gak nyangka promosi di media sosial bakal bisa seberpengar

  • My Cold Husband   CHAPTER 38

    "Kenapa kamu unfollow akun aku?" tanya Arin.Bagas seketika terkejut ketika melihat Arin sudah berdiri di depan mobilnya. "Kamu ngapain ke sini?" Bagas tidak menyangka kalau Arin datang ke kantornya."Kamu belum jawab pertanyaan aku.""Nanti saya jawab.""Tapi aku maunya sekarang.""Saya unfollow karena dari awal saya gak follow akun kamu."Arin seketika mengernyitkan keningnya. "Maksud kamu?""Kerjaannya Juan.""Oh, Juan. Ya aku emang agak kaget sih waktu tahu kamu follow akun resto, tapi gak nyangka aja kalau kamu bakal unfollow." Arin terlihat kecewa. Arin mungkin bisa menerima kalau memang bukan Bagas sendiri yang mengikuti akun sosial medianya, tapi Arin tidak dapat menyembunyikan rasa sedihnya ketika tahu kalau Bagas sendiri yang batal mengikuti akunnya. Kalau saja Bagas berbohong dengan mengatakan kalau semuanya adalah perbuatan Juan, mungkin Arin masih bisa menerimanya."Tujuan kamu ke sini apa?" Bagas kembali bertanya."Em, aku tadi ada urusan di dekat sini, makanya sekalian

  • My Cold Husband   CHAPTER 37

    Arin tersenyum ketika membuka kotak makan yang tadi siang sempat dia berikan untuk Bagas terlihat bersih, tidak tersisa sebutir nasi pun."Aku senang kamu habisin makanan yang aku kasih. Besok aku buatin lagi, ya. Kamu mau lauk apa?""Gak usah.""Gak papa, kok. Kamu bilang aja mau makan apa. Aku pasti bakal buatin."Bagas yang sedang sibuk dengan laptopnya seketika beralih menatap Arin dengan ekspresi datarnya. "Telinga kamu bermasalah?"Arin menggeleng. "Enggak kok, baru kemarin aku bersihin.""Kalau gak bermasalah harusnya kamu dengar omongan saya tadi." Bagas mengambil laptopnya lalu bangkit berdiri. Kalau tahu akan seperti ini, Bagas harusnya mengerjakan pekerjaan kantor di kamarnya saja. Bukan di ruang tengah yang berujung malah diganggu oleh Arin."Aku dengar kok, cuma pengin nawarin aja karena aku senang kamu habisin masakan aku. Kan kamu jarang mau makan masakan aku.""Kamu gak usah repot-repot. Makanan kamu tadi bukan saya yang makan," ucap Bagas lalu pergi ke kamarnya.Arin

  • My Cold Husband   CHAPTER 36

    "Gas! Bagas!" Arin memanggil Bagas sembari mengetuk pintu kamarnya.Sekitar lima menit menunggu, Bagas pun membuka pintu. "Jogging yuk.""Jogging?" tanya Bagas masih dengan wajah mengantuk.Arin mengangguk. "Iya, aku pengin kita jogging bareng. Kan selama ini aku selalu sendiri. Jadi kali ini aku pengin bareng kamu."Bagas terdiam sejenak. Apa dia tidak salah dengar? Arin mengubah gaya bicaranya padanya. "Aku? Kamu?""Iya, kenapa? Kamu gak suka kalau aku ngomong pake aku-kamu?"Bagas menggeleng. "Jadi kamu mau gak temenin aku?""Saya ganti baju dulu." Sebenarnya bisa saja Bagas menolak karena saat ini dia masih mengantuk, tapi entah kenapa dia malah menyetujui begitu saja ajakan Arin.Arin seketika tersenyum karena Bagas mau menerima ajakannya. "Oke, jangan lama-lama, ya."***"Minum dulu." Arin memberikan Bagas sebotol air mineral yang sempat dibelinya.Bagas menerima lalu meneguknya.Arin seketika tersenyum melihat Bagas yang tampaknya sangat haus, hingga menghabiskan air mineral

  • My Cold Husband   CHAPTER 35

    "Asyik, yang baru balik bulan madu. Mana oleh-oleh gue?" tagih Juan."Gas!" Juan menjentikan jarinya di hadapan Bagas.Bagas yang melamun seketika tersadar. "Kenapa?""Ya elah, gue ngomong daritadi lo gak dengar? Lo sibuk mikirin apa sih? Baru juga balik bulan madu gak usah sibuk mikirin kerjaan dulu.""Gue gak mikirin kerjaan.""Lah? Kalau bukan kerjaan terus apa?"Bagas menggeleng. "Bukan hal penting.""Ya udah, gue gak bakal maksa lo buat cerita, tapi kapanpun lo mau cerita gue siap dengar kok," ujar Juan."Thanks.""Btw, gimana lo sama Arin? Kan udah bulan madu, nih, pasti udah ada kemajuan dong.""Kemajuan apanya?" tanya Bagas dengan kening mengerut."Lo pura-pura gak tahu apa gimana sih? Gue penasaran sebenarnya tiga hari lo sama Arin bulan madu kalian ngapain aja? Atau jangan-jangan malah sibuk sama kerjaan lo."Bagas hanya diam membuat Juan menatapnya tidak percaya."Lo beneran masih ngurus kerjaan di saat lo lagi pergi berdua sama Arin?" Juan geleng-geleng tidak habis pikir d

  • My Cold Husband   CHAPTER 34

    "Aku masih gak nyangka, loh, kamu kuliahnya perawat, tapi malah terjun ke bisnis."Arin tersenyum kecil. "Aku juga gak pernah nyangka, kak. Walaupun orang tua punya bisnis, tapi kan aku sama sekali gak ngurusin jadi benar-benar gak tahu. Tiba-tiba papa drop dan mama gak bisa ngurus resto karena harus ngerawat papa, mau gak mau aku yang gantiin. Awalnya sih cuma sementara, eh sekarang malah keterusan.""Tapi kamu senang gak ngurus resto?""Ya, awalnya sih agak kesusahan ya, karena balik lagi yang aku bilang kalau aku gak tahu apa-apa, tapi seiring berjalannya waktu aku malah senang ngejalaninnya. Aku selalu senang kalau pelanggan puas sama masakan yang ada di resto aku."David manggut-manggut. "Aku juga sih. Rasanya kayak bahagia banget kalau pelanggan puas sama pelayanan yang kita kasih. Kamu udah ada kepikiran buka bisnis lain belum selain resto?""Duh, kayaknya belum, sih. Aku cuma ngurus resto aja udah agak ribet. Mana sempat ngurusin b

  • My Cold Husband   CHAPTER 33

    "Gas, bangun."Bagas menggeliat lalu perlahan membuka matanya. "Sana siap-siap," suruh Arin.Bagas terdiam sejenak melihat Arin yang sudah mandi dan berganti pakaian. "Mau ke mana?" tanya Bagas."Mau jalan-jalan.""Kamu sendiri aja. Saya gak ikut." Bagas menolak, dia hendak tidur kembali namun Arin segera menariknya."Buruan siap-siap. Gak enak sama teman gue udah nungguin.""Saya gak mau." Bagas masih saja menolak. Karena sejujurnya dia sangat malas jika harus bepergian. Apalagi dengan orang baru. Yang ada hanya menghabiskan energinya. Lebih baik dia tidur di hotel."Lo yakin gak mau ikut?" Bagas mengangguk dengan sangat yakin."Oke, kalau itu mau lo." Arin mengambil ponselnya.Bagas masih diam menatap Arin yang sedang sibuk dengan ponselnya, hingga seketika matanya membulat karena ternyata Arin menelepon bundanya."Halo bun. Arin mau ngomong sesuatu."Bagas seketika bangkit berdiri. "Saya ikut. Jangan bilang ke bunda," ucap Bagas dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh bundan

  • My Cold Husband   CHAPTER 32

    "Kenapa lo pesan twin room?" tanya Arin ketika mereka sudah berada di kamar hotel.Saat di resepsionis tadi Arin cukup bingung karena Bagas memilih untuk memesan kamar yang baru. Padahal orang tua mereka sudah memesan kamar untuk mereka dan tentunya bukan twin room, melainkan suite room. "Saya pengin tidur dengan nyaman.""Emang kalau kita seranjang lo gak nyaman gitu? Lagian orang tua kita kan udah booking suite room.""Iya, saya gak nyaman. Kalau kamu gak mau silakan booking kamar lain."Arin terdiam sejenak. "Oke, selama kita masih sekamar gak papa." Arin membuka ponselnya untuk mencari restoran terdekat karena dia merasa lapar. Kebetulan mereka tadi tidak sempat sarapan karena buru-buru. "Gas, mau cari makan gak? Kebetulan gue nemuin resto yang gak jauh dari hotel. Dari review pengunjungnya sih katanya bagus restonya. Mau ke sana gak?""Gas? Kok gak jawab?" Arin membalikkan badan karena Bagas tidak menjawabnya. "Yah, dia malah tidur. Gue pergi sendiri aja deh."***"Sorry, kamu

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status