Oke.Harus kuakui, ini memang sudah mulai berlebihan.Kecuali ketika pergi ke kamar mandi, pria itu akan terus menggenggam tanganku.Sejujurnya, ini mulai terasa menyeramkan. Ia seperti pria paruh baya yang memiliki fetish kepada tangan seorang gadis. “Ehm,” dehamku pelan. “Ini sudah malam,” kataku sambil melirik jam dinding.Rembulan juga sudah tergantung sempurna di langit gelap. Bukankah sudah waktunya semua mahluk hidup untuk memejamkan mata dan beristirahat?“Ya, aku tau.”Kalau begitu mengapa ia masih di sini? Ia bahkan membawa laptop dan lusinan pekerjaannya ke kamarku. Untung saja ia tidak membawa serta Joachim, Dokter Fabian dan dua bodyguardnya, kalau tidak mungkin kepalaku benar-benar akan meledak sekarang.Oke, biar kutambahkan penilaianku tentang pria ini.Dia benar-benar orang yang gila kerja! Setiap detik, setiap saat, ia bekerja seperti bernapas!Aku yang melihatnya saja sudah luar biasa mual. Namun bisa-bisanya pria ini tidak terlihat lelah sama sekali. Apa ia tidak
Ketika semua orang meninggalkan kamarku, seorang pelayan datang membawa dua cangkir kosong dan sebuah teko kecil berisi teh.Helga mengangguk, mengucapkan terima kasih yang tak terdengar. Ia meraih teko yang ditinggalkan pelayan itu dan menuangkan cairan bening berwarna cokelat ke dalam cangkir.“Ini teh chamomile. Teh ini baik untuk memperbaiki kualitas tidur.”Kepalaku tertunduk sambil menatap uap panas yang menguar dari dalam cangkir ke udara, tanpa sekalipun berani mengangkat wajah dan menatap sosok Helga.“Dulu.” Helga kembali berbicara sambil mengangkat cangkir tehnya. “Saya hanyalah seorang perawat ruang bersalin di salah satu rumah sakit.”Dari sela-sela bulu mata, aku melirik sosok Helga.Mata tuanya menatap malam dari balik jendela.“Itu adalah kali pertama saya melihat Pak Killian.” Senyum kecilnya mengiringi nama itu dengan penuh kasih. “Dia adalah bayi paling tampan yang pernah saya lihat.”Aku tidak bisa menyangkal.Bahkan di usianya yang ke 36 tahun, pria itu selalu ter
Hari ketiga tanpa pria itu.Aku mulai terobsesi kepada benda pipih yang diberikan Helga.Hampir 24 jam aku menyimpan benda itu sedekat mungkin. Bahkan ketika aku tidur, aku membawanya ke tempat tidur. Khawatir akan melewatkan pesan atau telepon yang masuk.Tapi lihatlah, pria itu tidak pernah menghubungiku sama sekali!Dasar, br*ngsek!Mana yang katanya akan menghubungiku saat senggang?!“Ehm, Nona Minna, tolong fokus.”Teguran Emilia, salah satu tutor dari lusinan pengajar yang dipekerjakan pria itu, menghancurkan lamunanku.Aku menegakan punggung, menguatkan tekad untuk berhenti melirik ponsel yang membisu itu.Tekad yang sama, seperti yang kurapalkan 5 menit yang lalu.Emilia kembali melanjutkan pelajarannya.Ia adalah guru sejarah yang sangat pintar. Emilia mengingat semua kejadian di masa lalu seakan ia pernah hidup di masa itu.Awalnya, itu terdengar sangat menarik. Sampai aku mulai kehilangan akal sehat saat ia memintaku menghafal lusinan tanggal dan kejadian-kejadian di masa l
“Hahaha kamu tidak lihat tadi wajahnya?”Pintu tertutup di belakang punggungnya.“Berhenti, Laura, lakukan pekerjaanmu, lalu pergi.”“Wah, itu sangat kasar, Killian.”Brengsek.“Aku berubah pikiran. Ada banyak kamar kosong kan di mansion ini? Aku mau menginap di sini.”Ia duduk di sisi ranjang, saat aku mengambil beberapa berkas yang ditinggalkan Joachim di atas meja.“Laura.”“Apa? Aku juga merindukan masakan Gerad!”Omong kosong.“Dan aku juga ingin mengenal lebih dekat gadis manis yang hampir menangis tadi.”“Kalau kamu menyentuhnya sedikit saja, aku akan membunuhmu.”“Killian!” Wanita gila itu membuka matanya lebar-lebar. “Ini sangat menarik!”Jika bukan karena kemampuannya, aku pasti sudah menyingkirkannya sejak dulu.“Aku membutuhkannya!”Tak. Bolpoin di tanganku patah begitu saja.“Ahahaha. Tentu saja untuk keperluan penelitian.” Ia tertawa kikuk. Tapi binar sialan di kedua matanya tidak memudar.Wanita ini memiliki obsesi aneh yang menjijikan.“Aku akan mengirimmu kembali ke
“Buka matamu, lihat sekali lagi. Apa kamu tidak melihat sesuatu?” Bibirku mengerucut sebal, tapi tidak berani membantah. Alih-alih menatap kedua orang yang berdiri di hadapanku, aku justru menatap ikat pinggang yang mengikat kedua tanganku. “Me… mereka sama sekali tidak mirip,” jawabku terbata. Mau dilihat dari sisi mana pun, keduanya sama sekali tidak terlihat seperti saudara! “TERIMA KASIH, NONA MINNA!” Plak! Wanita cantik bernama Laura itu langsung melayangkan sebuah pukulan kencang ke punggung pria di sampingnya. “Dasar adik sialan!” desisnya dengan mulut terkatup. Pria itu menghela napas lelah melihat pertikaian keduanya. Sejak mereka masuk ke kamarku, mereka memang terlihat seperti dua ekor kucing yang siap mencakar satu sama lain. Wanita itu mengibaskan rambut indahnya. “Saya memang terlalu indah untuk disamakan dengan bajingan jelek ini, Nona Minna.” “Apa? Jelek?!” “Apa?!” tantang wanita itu tak mau kalah. “Kamu tidak pernah bercermin, hah?! Tidak lihat betapa tidak
“Ralla Juniar tewas dibunuh, Nona Minna.”Embusan angin menyapu perlahan, membawa aroma buku yang khas, mengiringi kata-kata Dokter Laura kepadaku.“Saya tidak mengerti mengapa kasus ini dinyatakan sebagai kasus bunuh diri sebelumnya.”Aku bisa mendengarnya, tapi otakku kehilangan kemampuan untuk memproses semua informasi itu.“Nona Minna?”Genggaman tangan Windi membuat kedua mataku mengerjap perlahan, mengembalikan sedikit kesadaranku yang sempat mengelana begitu jauh.“Nona Minna baik-baik saja?” tanya Windi cemas.Aku menelan ludah susah payah. Bahkan bernapas pun rasanya begitu berat saat ini. Bagaimana bisa aku merasa baik-baik saja?“Apa ini bisa dipertanggung jawabkan?”Tanpa sadar, aku meremas ujung kertas itu.“Saya akan mempertaruhkan kehormatan saya sebagai seorang dokter. Saya juga bersedia bersaksi sebagai dokter forensik yang melakukan autopsi ini. Kita bisa mulai penyelidikan atas kematiannya, Nona.”Pikiranku kosong, aku bahkan tidak bisa merasa sakit atas kabar itu.
“Arlo, tolong tunggu di depan.” “Nona…” “Tolong.” Selama beberapa saat Arlo terlihat begitu ragu. Ia tetap berdiri melindungiku, tanpa berniat pergi sama sekali. Meski akhirnya, dengan segala keberatan yang terlihat di wajahnya, Arlo mengangguk singkat. “Saya akan menunggu di sana.” “Terima kasih.” Kegetiran merayap naik ke kerongkongan. Aku tau Arlo masih bisa mendengar dan melihat apa yang terjadi di dalam ruang tamu, tapi aku tidak ingin ia berada terlalu dekat, aku tidak ingin ia terluka, atau melihat lukaku lagi. “Martha! Lihat dia! Lihat anak durhaka itu! Padahal aku sudah membesarkannya dengan susah payah selama ini, tapi lihat bagaimana dia mengkhianati keluarga ini!” Ibu berteriak marah, menunjuk-nunjuk wajahku dengan penuh kemurkaan, seakan aku adalah sampah yang paling menjijikan di matanya. “Apa sekarang kamu merasa hebat karena menikah dengan Killian, hah?! Atau jangan-jangan, kamu merasa hidup di atas awan hanya karena Killian belum menceraikanmu?! Dasar t*lol, pe
Tidak ada yang berubah dari mansion itu. Ia tetap berdiri megah, dengan pilar-pilar yang lebih kokoh dari pada keyakinanku pada hidup. Dengan taman-taman yang lebih indah dari pada potret di dalam buku dongeng yang pernah kubaca. Dengan seluruh pesona misterius di balik setiap dinding tingginya. Namun, aku tau, itu tak lagi tempat yang sama seperti yang kudatangi pertama kali beberapa bulan yang lalu. Helga, Windi, Arlo, dan para pelayan, pengawal, yang tersenyum ramah kepadaku, adalah perubahan paling besar, paling hangat. Dan saat pintu mansion perlahan terbuka, pria itu berdiri di sana, seakan menunggu kedatanganku dengan tangan terbuka. Seakan mengatakan, ‘selamat datang kembali’ di tempat yang bisa kukatakan sebagai ‘rumah’. Langkahku terayun ringan, tak pernah sekalipun aku memiliki hasrat untuk berlari kearah seseorang sejak kepergian Ibu dan Ayahku. Namun, melihat sosok tampan itu berdiri di sana, dengan kedua tangan yang bahkan hanya tersemat di dalam saku celana, aku ti
1 bulan sebelumnya.“Stockholm syndrome.”Kata-kata Laura kembali terngiang.“Apa?”“Itu adalah gangguan psikologis pada korban penculikan. Di mana korban justru mengembangkan perasaan simpati, bahkan kasih sayang terhadap pelakunya.”“Saya tau! Tapi itu tidak mungkin! Mana mungkin ada orang yang memiliki perasaan seperti itu kepada orang yang sudah menyakitinya?” Joachim, dengan seluruh upayanya menyangkal keras.Aku sedikit khawatir menempatkan mereka di satu ruang yang sama. Namun, wanita itu menepati janjinya. Ia mengabaikan Joachim seakan obsesinya tidak pernah ada sama sekali. “Kamu pikir apa alasan gadis berusia 22 tahun tetap berada di tempat yang menyakitkan seperti itu?!”“Karena dia dikurung!”“Jangan membuatku tertawa, Joachim. Dia tidak dipasung. Dia bebas. Dia memiliki akses luas. Terlepas dari seluruh perlakuan keluarga tirinya, dia dibiarkan bebas di dalam rumah. Dia bukan lagi gadis kecil berusia 6 tahun! Dia gadis dewasa berusia 22 tahun. Dia bisa meminta bantuan ke
Apa arti luka?Apakah itu ketika kau pecah, tergores, bersimbah darah, hingga kau berpikir itu akan menjadi sambutan kematianmu?Aku sudah berkali-kali berada di ambang rasa sakit itu.Kupikir aku sudah merasakan semuanya, tapi ternyata, itu hanyalah sebagian kecil dari potongan rasa sakit yang diciptakan segores luka.Klik.Pintu terbuka perlahan. Mengusik keheningan yang memenuhi jiwaku.“Kak Minna? Ke-kenapa Kakak bisa ada di sini?!”Aku selalu bertanya-tanya, mengapa dulu aku tidak memepertahankan apa yang Ibu tinggalkan? Mengapa aku membiarkan mereka membakar seluruh potret Ibu? Mengapa aku tidak menyembunyikan salah satunya di antara celah yang hanya aku sendiri yang mengetahuinya?Mengapa aku membiarkan mereka menghilangkan seluruh jejak Ibu?Mengapa aku membiarkan mereka membuatku melupakan Ibu?“Kak Minna! Apa yang Kakak lakukan di sini?! Pergi!”Aku bergeming. Menatap hampa ruang kelas yang kosong. Kesempatan yang tak pernah kudapatkan. Kesempatan yang mereka rebut dengan kej
Laskala.Nama itu terasa asing dan familiar secara bersamaan.Aku melewati malam tanpa terpejam hanya untuk mencari jejak di mana aku pernah mendengar nama Laskala sebelumnya.Dua malam yang lalu, setelah mendengar nama itu, aku bisa merasakan perubahan drastis pada sorot matanya.Ia menurunkanku dengan hati-hati dari dekapan, mengambil ponsel yang tersimpan di atas meja, lalu pergi setelah mengecup singkat keningku.Dalam hitungan detik, semua orang yang kupikir menghilang, tiba-tiba saja kembali memenuhi apartment, meskipun pada akhirnya mereka kembali pergi mengikuti langkah pria itu.“Jaga tempat ini sampai aku kembali.”Hanya pesan itu yang tinggalkan. Lalu ia pergi begitu saja, tanpa penjelasan, tanpa kabar. “Nona?” Windi muncul dengan senyuman cerah seperti biasa. Ia meletakkan sepiring stroberi segar yang sudah dipotong rapi ke atas meja. “Nona, Pak Gerad akan berbelanja bahan makanan. Apa ada makanan tertentu yang Nona inginkan untuk makan malam nanti?”Aku menurunkan cangk
“Kemana semua orang?”Dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka, aku mengintip diam-diam.“Sedang apa kau?” tanya pria itu, berdiri di belakang punggungku.“Di luar… tidak ada siapa pun.”Tangan panjangnya mendorong pintu hingga terbuka, lalu ia melangkah keluar kamar begitu saja, tanpa memperdulikan keberatanku.Ia berjalan santai ke dapur yang kosong. Bahkan meja makan yang tadi amat ramai, kini hanya menyisakan makanan-makanan lezat tanpa sisa piring yang tertinggal.Aku menatap ke sekeliling apartment. Di mana semua orang? Mengapa mereka bisa lenyap seperti ini?“Makanlah yang banyak.” Pria itu mengelilingi meja dapur, mengambil sebuah apel, menggigitnya sambil menarik kursi meja makan. “Minna? Kau bilang kau lapar.”Mataku mengerjap cepat. Aku memang lapar, tapi ini sangat aneh.“Kemana semua orang?”Aku hampir tidak pernah melewati waktu tanpa Windi dan Arlo. Mereka tidak pernah meninggalkanku sendiri.“Apa terjadi sesuatu?” tanyaku cemas.“Tidak terjadi apapun. Sekarang duduk
Tidak seperti saat menggendong, setidaknya saat ia mendudukanku di sisi ranjang, gerakannya jauh lebih manusiawi, walaupun tidak bisa dikatakan lembut sama sekali.“Aww.” Aku meringis pelan saat ia membuka serbet yang sekarang sudah dipenuhi darah dari tanganku.Sebenarnya lukanya tidak terlalu dalam, darahnya juga sudah berhenti menetes, tapi karena cukup panjang, darahnya hampir memenuhi salah satu sisi serbet, bahkan sampai merembes ke kemeja hitam pria itu.Ketukan di pintu mengiringi kedatangan Dokter Fabian yang membawa kotak P3K.“Maaf, ternyata tidak ada first aid kit di apartment.”Itu menjelaskan keringat yang memenuhi keningnya. Ia pasti harus mengambil kotak itu di mobil.Pria itu menudingku dengan tatapan sengitnya, seakan ketidakberadaan kotak P3K di apartment adalah sebuah kejahatan yang fatal dan sengaja kulakukan. Dokter Fabian menarik kursi di depan meja rias, lalu duduk di hadapanku, memeriksa lukaku dengan seksama.“Apa perlu dijahit?”Pria itu bersidekap, menatap
“Pak Kenan sudah mengirimkan email, Pak. Saya juga sudah meminta tim finance untuk melengkapi data sales periode pertama. Haruskah saya menghubungi bagian operator?”“Tidak perlu. Persiapkan saja datanya, kita akan meeting 15 menit lagi.”“15 menit? Tapi itu…”Ia menoleh, membuat sekretarisnya menelan keberatan apa pun yang tadi sempat tergantung di lidahnya.“Ya, 15 menit lagi. Saya akan siapkan link meetingnya, dan mengirim undangan.”“Bagus. Dan minta juga bagian marketing mengirimkan bahan marketing yang sudah direvisi. Pastikan manager pengembang hadir. Poin yang perlu direvisi dari MoU sudah kusertakan, bereskan itu sekarang, dan segera email kembali.”Dari balik counter dapur, aku tidak bisa berhenti menatap ruang keluarga yang kini sudah diubah menjadi ruang kerja sementara pria itu. Sebenarnya, apartment ini memiliki ruang khusus yang bisa digunakan sebagai ruang kerja, tapi pria itu memilih ruang keluarga.Sekarang, melihat berkas-berkas yang tersebar, aku jadi mengerti.Tap
Part 47“Nona Minna?” Windi berbisik gelisah di sampingku. Sesekali ia melirik ke lantai dua, sebelum kembali menundukkan wajah sambil menelan ludah susah payah.Aku melirik pintu The Oak Tree yang tertutup. Di kejauhan, aku bisa melihat beberapa mobil terparkir di depan toko. Salah satu mobil itu berisi Dokter Fabian, Hugo, dan Jeremy yang diusir oleh pria itu.“Nona yakin ini tidak apa-apa?”Apanya yang tidak apa-apa, semuanya benar-benar kacau sekarang.Meksi aku sudah menempatkan pria itu di meja yang paling jauh dari pengunjung lain karena kondisi gynophobianya, tapi entah bagaimana hanya dengan keberadaannya sendiri saja, perhatian semua orang sangat mudah tertuju kepadanya.Entah karena kemeja hitam yang lebih cocok digunakan ke pemakaman itu, atau karena ekspresi wajahnya ayng menyebalkan, atau entah apa pun itu, tapi rasanya semua wanita di tempat itu terus melirik ke meja mereka.Beberapa gadis muda bahkan secara terang-terangan memotret dengan ponsel.Ah. Aku bisa gila rasan
“Cara menaburkan bubuk cabai diam-diam ke mulut atasan.”Deg.Aku langsung memasukkan ponsel Windi yang tertinggal di ruang staf. Setelah memastikan tidak ada siapa pun di sana, buru-buru aku menghapus riwayat pencarian yang baru saja kubaca dari ponselnya.Atasan siapa yang dia maksud? Apakah itu Kak Ronan? Atau…Astaga, membayangkannya saja sudah membuatku merinding.“Minna, bisa bantu serve table 3?”“Ya!” jawabku dari ruang staf sebelum berlari menuju area kasir. Salah satu rekan seniorku sudah menanti dengan baki berisi dua burger, tiga gelas kopi, dan sepiring kentang goreng.“Table 3,” katanya, sekali lagi. Padahal aku juga bisa melihatnya dari nota pesanan yang tersemat di bawah salah satu gelas kopi. “Trims, Minna.”Aku tersenyum dan mengangguk sebelum membawa pesanan itu ke lantai dua.Di kejauhan, aku bisa melihat Windi yang tengah berbicara dengan seorang gadis kecil di depan rak buku anak-anak, sedangkan Arlo sibuk meracik kopi untuk sepasang kekasih yang mengenakan pakai
“Ehm.” Dokter Fabian berdeham beberapa kali di hadapanku. “Mohon maaf, Nona Minna, tapi… yang tadi itu… cukup… mm… berbahaya…” katanya, sambil mengusap tengkuk dengan kikuk.Tanganku terlipat di dada, wajahku berpaling ke sembarang arah, tapi aku bisa merasakan semburat panas menjalar di kedua pipiku.“Sa… saya mengerti kalau Nona marah, tapi tolong… jangan pukul bagian… i…itu.”Argh, gila!Apa tidak bisa dia berhenti bicara saja?! Kepalaku benar-benar terasa akan meledak karena malu!“Itu pasti sangat menyakitkan.” Jeremy bergumam serius.“Pukulannya keras.” Arlo menjawab, dengan wajah yang jauh lebih serius lagi.Entah sadar atau tidak, ia merapatkan kakinya, meletakkan tangan di depan celana, seakan melindungi sesuatu yang berharga.Aku ternganga tak percaya. Aku benar-benar ingin melemparkan mereka keluar apartment sekarang juga!Dan lagi pula, andai ia tidak mengejutkanku, aku tidak mungkin refleks memukul pria itu di sana! Harusnya ia ikut bertanggung jawab menanggung malu!“Ka…