Bab305Pov Asmara."El," lirih Elza.Elea melihat ke arah wanita itu, kemudian dia tersenyum menyeringai."Kenapa, panik ya," ejek Elea."Lo kok tega sih, El?" lirih Ningsih, yang kini terlihat sangat sedih."Kok aku?" Elea menampakkan wajah begonya lagi, rese memang nih wanita."Kan tadi sudah kuperingatkan sayang ... sesuatu yang berlebihan itu memang nggak pernah berakhir baik. Ah, seharusnya kalian cerdaslah, kalian kuliah, aku tidak. Kok malah kalian yang keliatannya nggak punya otak begitu, uppss, maaf."Elea terkekeh."Aku sengaja berpenampilan begini, karena tidak ingin dijadikan saingan, atau membuat kalian iri. Tapi, malah jadi bahan bully, apes banget nasibku," ujarnya lagi. Banyak gaya memang nih orang, jijik banget aku lihat gayanya. Tadi sok polos, sekarang malah angkuh banget."Kadang berurusan sama orang gila, kita harus lebih gila," gumam Elea lagi, sambil meraih gelas minumnya, dan meneguk habis isi dalamnya."Annisa, terimakasih reuninya, sebaiknya aku pulang saja,
Bab306Elea pulang ke Hotel dengan perasaan yang tidak karuan. Bukan dia ingin sok polos, atau sengaja berpenampipan sederhana agar dihina. Semua diluar dugaannya, karena bertemu dengan teman- teman lama, Elea tidak ingin terlihat mewah dan membuat mereka iri padanya. Berpenampilan sederhana, dia pikir adalah pilihan yang tepat. Sungguh Elea tidak menyangka, akan bertemu 3 orang itu, teman 1 kelasnya yang memang dari dulu suka membullynya.Arya menyambut kedatangan istrinya di dalam kamar, lelaki itu memang akan selalu menemani Elea, kemana pun wanitanya akan pergi. Hanya saja, dia tidak ikut datang ke reuni itu, karena ada pekerjaan mendesak.Jadi, Arya tinggal di Hotel untuk mengerjakan pekerjaannya."Kamu kenapa? Kudengar dari pak Handoko, kamu meminta kedua Manager itu dipecat, apa ada masalah serius?" tanya Arya, ketika Elea sudah duduk disisi ranjang.Elea menghembuskan napas kasar. "Mereka menghinaku, hanya karena melihat penampilanku yang sederhana. Pakaian yang aku kenakan
Bab307 "Jelita, kok nggak sopan sekali dia, Bu?" Azzura protes pada Helen. "Ini pasti didikan Asmara, seharusnya diusir saja wanita ini," lanjut Azzura dengan kesal. "Jangan! Nggak ada yang boleh usir Mamah Jelita. Jika Mamah Jelita diusir, Jelita akan ikut," ancam gadis kecil itu. Azzura melotot, tidak senang dengan pembelaan Jelita. "Azzura cukup!" pinta Helen dengan tegas. Kemudian wanita paru baya itu tersenyum pada Jelita. "Cucu Nenek, mending pergi tidur ya, maafin Tante Azzura yang tidak sengaja." "Tidak sengaja?" Jelita nampak bingung. "Asmara, bawa Jelita ke kamarnya, jangan cuci otak cucuku," ujar Helen dengan lembut dan penuh tekanan. Asmara mengangguk dan membawa anak perempuannya itu pergi meninggalkan ruang tamu. Azzura mendengkus, tidak puas menyakiti hati Asmara. "Bu, sampai kapan wanita itu kalian tampung? Bikin sakit mata saja melihatnya," keluh Azzura. "Sudah deh! Jangan berlebihan, kamu mau Kevin tahu tentang hal ini, dan dia akan semakin murka sama kam
Bab308"Jangan berlebihan Azzura," bentak Helen semakin kesal dengan ulah Azzura.Brakk.Suami Azzura menggebrak meja dengan emosi."Cukup! Kalian kamu ngasih surat tanah itu atau tidak? Aku bisa berbuat kasar sama kalian berdua?" ancam suami Azzura, dengan mengeluarkan pisau kecil yang tajam.Aletta terkejut, begitu juga dengan Helen yang langsung waspada."Uang memang tidak berkeluarga, mereka tidak bisa diminta baik- baik, maka kita bisa memintanya secara paksa," ujar Eko, suami Azzura. Lelaki berkepala plontos itu memainkan senjata tajamnya.Helen dan Aletta makin panik."Cepat Bu! Ambil surat tanah itu, atau ....""Atau apa?" Suara Asmara memecah ketegangan Helen dan Aletta.Asmara turun, dengan mengenakan baju kaos santai, dengan celana legging hitam membungkus kaki jenjangnya. Rambut hitam wanita itu terikat rapi, dengan tatapan dingin menatap suami Azzura.Mereka semua menoleh ke arah Azzura yang menuruni anak tangga."Wanita pembawa sial ini ngapain ikut- ikutan? Benalu," cib
Bab309Di dalam kamar Aletta, wanita itu menyuruh Asmara duduk di sofa yang ada dalam kamar mewahnya itu."Aku melihat dengan jelas, kamu menendang mas Eko dengan keras, kamu pasti dengan sengaja, tapi tenang saja, aku setuju dengan reaksimu tadi," ujar Aletta, sembari duduk di sisi kasurnya, berhadapan dengan Asmara."Aku spontan saja, kak, sungguh.""Jangan khawatir, kali ini aku dipihakmu," balas Aletta."Kami bukannya tidak adil dengan Azzura, hanya saja, dia sudah menikah dan wajib mandiri. Lagian, kami sebenarnya tidak setuju dengan pernikahan dia dan mas Eko itu, lelaki pemalas," ungkap Aletta."Maafkan aku, kak. Aku terpaksa keluar dari kamar, karena melihat mas Eko sudah mengancam dengan serius, aku takut kalian mereka lukai. Sekali lagi, maaf." "Tidak apa- apa, aku harus berterimakasih denganmu. Asmara, maaf," lirih Aletta.Asmara tersenyum dan mengucap sukur dalam hati, karena Aletta kini bersikap baik padanya."Omongan Ibu jangan dimasukkan dalam hati ya, dia masih marah
Bab310Seorang lelaki berperawakan tegap keluar dari kursi penumpang. Lelaki itu sangat rapi, juga wangi. Helen memandangi mobil mewah itu dengan curiga. Apakah itu Kevin? "Asmara," seru Aletta yang berjalan dari dalam menuju keluar. Wanita itu menghampiri Asmara yang masih bersimpuh di lantai."Ayo bangun," ujar Aletta memegangi Asmara. Asmara pun berdiri dan Aletta melihat ke arah pandangan Asmara."Siapa ìtu?" tanya Aletta, dengan suara pelan."Aku juga nggak tau," jawab Asmara. Dan lelaki tadi berjalan menuju pintu belakang mobil dan membukakannya.Seorang lelaki yang sangat mereka kenali keluar."Kevin," gumam Aletta dengan ekspresi terkejut.Bukan hanya Aletta, Helen dan juga Asmara, sama terkejutnya.Sorot mata Kevin begitu gelap, auranya sangat tidak bersahabat. Pandangannya datar, dengan tatapan tajam menghantam setiap mata yang bertabrakkan dengannya."Kevin," seru Helen dengan penuh senyuman.Kevin tidak menanggapi, lelaki itu bahkan tidak tersenyum sama sekali. Dia berja
Bab311Helen nampak serba salah, sedangkan Azzura terus menunduk, begitu juga dengan Eko."Duduk semuanya, kita bicara," ujar Kevin dengan suara tegas. Semua juga tahu bagaimana kerasnya Kevin, sehingga ke- 4 orang itu tidak berani bersuara sama sekali.Mereka berempat duduk, Azzura bersebelahan dengan Eko, sedangkan Aletta dan Helen."Dimulai dari Kak Azzura dan mas Eko, ngapain kalian di sini, dan Kak Azzura, apa maksud Kakak, mengatakan hal buruk itu pada anakku?" tanya Kevin dengan tatapan tajam.Azzura dan Eko menunduk."Jawab! Jangan menguji kesabaranku," bentak kevin."Kami hanya rindu pada Ibu, apa itu salah?" jawab Azzura dengan cepat."Ya, itu benar, Vin. Kami hanya menjenguk Ibu," timpal Eko."Oke baik, terus ucapan kak Azzura tadi?""Kenapa kamu begitu percaya pada anak kecil sih, mana mungkin aku ngomong begitu.""Aku mendengar sendiri tadi," ujar Kevin dengan tatapan tenang."Kamu salah dengar saja," jawab Azzura.Kevin mendengkus, sembari menatap kesal pada Azzura, yang
Bab312"Kak, Ibu?" Kevin masih bersikap tenang, menunggu jawaban Aletta dan Helen."Vin, kok kamu kayak nggak percaya gitu sama Kakak sendiri," protes Azzura, perasaan wanita itu kini semakin gelisah menatap sorot mata Aletta yang nampak mengintimidasinya."Kak Azzura kenapa gelisah? Apakah Kakak sedang berbohong?" tanya Kevin."Vin, jangan begitu, biar bagaimana pu n juga, Azzura ini Kakak kamu," timpal Eko, mencoba membela istrinya."Mas Eko, sebagai seorang suami dan kepala rumah tangga, aku adalah orang yang paling gagal. Tapi setelah melihat mas Eko, kurasa aku salah.""Maksud kamu?" tanya Eko, yang bingung dengan ucapan Kevin."Mas Eko lebih pantas menyandang status lelaki gagal dalam segala hal."Wajah Eko memerah, mendengar ucapan Kevin."Kevin, kok kamu nggak sopan begitu sama suami Kakak?" Azzura tak senang dengan ucapan Kevin."Kenapa? Jangan kalian pikir aku tidak tahu apa- apa. Asal kalian tahu, semua yang kalian lakukan pada Asmara di dalam rumah ini, aku tahu semuanya!!
Bab689"Selamat malam," ujar Abizar lagi."Ngapain kamu kemari? Setelah kamu membuat anak saya menderita, berani- beraninya kamu menampakkan batang hidung seolah tanpa dosa," bentak Kevin, yang langsung berdiri dengan emosi."Papah, sabar," pinta Elea, sambil memegang tangan Kevin."Manusia tidak tahu malu ini, dia datang ke rumah Galih dengan nyali besar, setelah menyia- nyiakan anak- anakku, aku tidak akan mengampuninya," pekik Kevin."Maaf, Pah. Saya datang kemari, hanya ingin kalian tahu, saya dan Cinta saling mencintai, kami ingin kalian restui hubungan kami lagi dan jangan menentang hubungan kami, cuma itu ...." "Apa?" Seluruh keluarga memekik.Cinta pun sangat syok, mendengar ucapan berani Abizar. Tiba- tiba Jelita tersandar, mendengar ucapan Abizar. "Jelita," pekik Abel. Wanita yang biasanya membenci Jelita itu, langsung memeluk Jelita yang nampak syok sekali."Brengsek!!" Cinta bangkit dari duduknya, menghampiri Abizar dan menampar keras wajah lelaki tidak tahu malu itu."D
Bab688Melihat begitu banyak panggilan telepon dari Bagus, Cinta pun memutuskan, untuk menghubungi balik nomor Bagus.Dan lelaki itu dengan cepat menjawab telepon Cinta."Assalamualaikum, Tante ....""Wa'alaikumsallam, Gus.""Maaf Tan, saya mau tanya, Tante ada bicara apa sama Ibu? Sampai- sampai Ibu pingsan.""Maafkan Tante, Gus. Tadi ada berita buruk, yang sempat mengguncang perasaan kami semua. Kejadian siang tadi cukup mengejutkan, pesawat menuju Bandung mengalami kecelakaan. Dan Nenek, juga Kakek ke Bandung hari ini, itu yang Tante sampaikan sama Ibu kamu ....""Inalillahi, jadi bagaimana kabarnya, Tan. Maaf Bagus tidak tahu apa- apa.""Kuasa Allah, Gus. Rupanya mereka selamat, karena Kakek pingsan, sebelum mereka naik pesawat. Nenek membawa Kakek ke rumah sakit, dan mereka ketinggalan pesawat, Gus. Luar biasa, diluar dugaan kami semua, Allah masih memberi kita kesempatan, untuk berbakti kepada mereka berdua," jelas Cinta."Alhamdulilah, Allahu akbar, masya Allah, luar biasa, Tan
Bab687"Allahu akbar, Abel, Kak Cinta ...." Galih menjerit, membuat orang yang kini di depannya jadi bingung.Mendengar jeritan Galih, mereka yang duduk di ruang keluarga pun berhamburan keluar menyusul Galih."Astagfirullah ...." pekikkan mereka semua terdengar bersamaan. Galih terlalu syok, membuatnya nyarus pingsan."Kalian jangan mengira Mamah setan ya," bentak Elea dengan kesal."Ini Mamah beneran?" Abel bertanya. Semua menjadi bingung, bahkan beberapa dari mereka terus- menerus mengusap mata dan wajah, memastikan yang di lihatnya adalah nyata, bukan halusinasi."Mamah sudah tahu, apa yang ada di dalam otak kalian. Jangan heran, jika Mamah datang dengan wajah acak- acakkan begini, bahkan tanpa menggunakan tas sama sekali. Mending bayarin taksi Mamah sana, orangnya dah nunggu," titah Elea."Ini Mamah kita," pekik Cinta yang langsung menghambur ke pelukan Elea, disusul Raisa dan lainnya memeluk Elea."Aduh ...." Elea pun memekik, melihat tingkah mereka semua yang langsung memelukny
Bab686"Jelita belum tahu kabar duka ini, tadi aku sudah coba hubungi, tapi belum juga dia jawab panggilan teleponku," lirih Cinta."Aku juga bingung, Kak. Apa yang harus aku katakan sama dia, entah bagaimana reaksi Jelita, jika tahu Mamah dan Papah sudah tiada. Pesawat itu terbakar, sebelum benar- benar jatuh," ujar Galih kembali menangis. Bayangan wajah tua kedua orang tuanya menari- nari di pikiran mereka semua."Pantas Mamah memelukku berulang kali, mengingatkan kita terus- menerus, bahwa sesama keluarga harus saling menyayangi dan tolong- menolong. Mereka juga selalu berbicara tentang kematian, yang aku sendiri tidak tahu, bahwa itu adalah pertanda, mereka berdua akan pulang bersama- sama, untuk selamanya."Cinta menangis kuat, Kamila memeluk Ibunya dengan erat, begitu juga Raisa, memeluk Abel dan menangis di pelukan Ibunya."Rasanya tidak pernah sesakit ini, kehilangan yang begitu mengejutkan, membuat hati ini tidak siap. Berpuluh tahun hidup bersama dengan keduanya, hingga Rai
Bab685"Nanti saja ah, malas. Lagian kita lagi makan gini, masa di gangguin hal- hal yang tidak jelas begitu," ujar Cinta, mengabaikan ucapan Galih tadi."Cinta, sudah 1 tahun kita bersama, tapi kenapa, kamu nggak pernah mau pertemukan aku dengan anak kita, Kamila?" tanya lelaki itu."Mas, tidak semudah itu. Kamila akan tahu segalanya, bahwa kamu pernah menikahi Jelita juga. Dan Enggar, juga Bagus, bagaimana tanggapan mereka pada kita? Kamu meninggalkan mereka, lepas tanggung jawab, dan malah bersamaku. Tentu saja, bukan cuma mereka yang akan kecewa sama kita, tapi Kamila juga.""Kemudian Mamah dan Papah, bisa- bisa aku mereka kutuk, Mas ....""Tapi mau sampai kapan, kita kucing- kucingan seperti ini? Aku juga ingin diakui, dan dianggap bagian keluarga kamu, Cin.""Belum waktunya, Mas.""Kapan waktunya, Ta? Aku dan Jelita, itu hanyalah kesalahan. Sedangkan aku sama kamu, itu cinta yang tulus. Aku mohon, pikirkan ini baik- baik, aku hanya ingin di akui, dan Kamila juga harus tahu, bahw
Bab684Perjalanan panjang Bagus lalui bersama Jelita, Ibu yang kini sangat dia sayangi, dan dia utamakan kebahagiaannya."Pulang dari umrah, kita ke rumah Nenek saja ya, Gus.""Terserah Ibu saja, Bagus ngikut saja. Bagus tidak punya siapa- siapa untuk di bahagiakan, jadi segala waktu dan apapun yang Ibu mau, asal Ibu bahagia, Bagus akan selalu turuti, insya Allah," ujarnya.Jelita terharu dan menatap penuh kasih sayang pada Bagus. Sementara Bagus dan Jelita melaksanakan ibadah umrah, rupanya rumah mewah Elea, sudah terjual sesuai kesepakatan dengan pembelinya.Penjualan rumah, di saksikan Galih, karena hasil dari penjualan rumah mewah tersebut, 50% milik Galih, 30% milik Cinta dan sisanya barulah milik Elea dan Kevin.Setelah semua beres, Elea dan Kevin, memutuskan untuk tinggal di hotel. Sebelum rumah impian mereka di desa selesai di bangun.Hanya sisa 10% saja, rumah di desa itu akan selesai dan bisa mereka tempati.Galih sudah menyarankan, agar Elea dan Kevin mau tinggal di rumah m
Bab683"Kenapa kamu terlambat?" tanya atasan Bagus, yang ada dibagian divisinya."Maaf pak Rahmat, saya menabrak orang tadi di jalan."Pak Rahmat, yang merupakan pengawas divisi pemasaran, tidak begitu berani bersikap keras pada Bagus, tapi dia tetap berusaha profesional, agar tidak terlalu nampak membeda- bedakan karyawan."Lain kali berhati- hati di jalan, Gus. Dan tolong jangan ulangi lagi, keterlambatan datang seperti ini. Hari ini saya maklumi, tapi kalau terulang lagi, saya akan berikan sangsi pemotongan gaji," jelas pak Rahmat memberi peringatan."Baik, Pak." Hanya itu jawaban Bagus. Sadar diri akan kesalahannya, Bagus tidak berani banyak bicara.Pak Rahmat meninggalkan divisi pemasaran, menuju ruangannya, untuk memeriksa laporan penjualan kemarin.Sementara Bagus duduk di meja kerjanya, dengan pikiran yang mulai tidak fokus. Bagus mulai memikirkan wanita yang di tolongnya tadi, dan itu sangat mengganggu kerjaannya.Tiba- tiba, HRD memasuki ruangan divisi pemasaran, bersama den
Bab682"Bu ...."Jelita menatap Bagus."Bagaimana kalau kita pergi umrah?"Jelita terpaku sejenak, mendengar usulan Bagus."Gimana, Bu?" tanya Bagus lagi, membuat Jelita tersadar dari keterkejutannya.Anak yang biasanya cuek, hanya memikirkan kesenangannya sendiri, kini mengajaknya pergi umrah. "Kamu serius pengen umrah, Gus?" tanya Jelita balik, memastikan keinginan Bagus."Iya, Bu. Mumpung kita ada rezeki lebih. Kita ajak Enggar dan Lina juga, mana tau mereka mau. Tapi jika mereka menolak juga tidak apa- apa, kita berdua saja yang pergi ke sana, Ibu mau kan?""Tentu saja Ibu mau, Gus. Masya Allah, niat kamu baik sekali anakku, mana mungkin Ibu menolak."Bagus tersenyum. Dan niat mereka pun, di sampaikan kepada Enggar dan Lina, ketika mereka makan malam bersama."Dalam waktu dekat ini belum bisa, Bu, Mas. Enggar masih harus fokus ke perusahaan," jawab Enggar.Wajar sih, belum ada 1 tahun dia bekerja, masih tidak enak hati jika terus izin libur, untuk urusan pribadi.Sebagai calon pe
Bab681"Tugas kita sudah selesai, nampaknya anak, cucu dan cicit tidak ada masalah, dengan pembagian harta warisan kita," ujar Elea, ketika dia dan Kevin merebahkan diri di atas kasur mereka."Kuharap juga begitu, agar kita berdua bisa menjalani kehidupan yang tenang," jawab Kevin."Kulihat Abel juga tidak membuat masalah lagi." Elea merasa lega, melihat sikap menantunya itu, yang semakin baik dari sebelumnya.Galih membelikan rumah yang cukup mewah, untuk dia tempati dan istrinya. Galih tidak ingin menyatukan istrinya lagi sama Ibunya. Karena bagi Galih, jika keadaan sudah tidak nyaman, dan terus di paksakan, maka mereka akan saling menyakiti.Demi menjaga rumah tangga dan hati orang tuanya, Galih memutuskan untuk memiliki rumah sendiri.Tetapi dia tetap memperhatikan kedua orang tuanya, meskipun mereka tidak satu rumah.______>_______Karena perjalanan yang cukup jauh, Jelita mulai jatuh sakit. Badannya meriang, nyaris semalaman, Lina tidak bisa tidur, karena khawatir dengan kond