Share

BAB 4

Author: Hare Ra
last update Last Updated: 2025-02-20 09:15:53

"Dibayar?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Ilona. Seperti sebuah harapan di tengah keterpurukannya. Seperti mata air di tengah padang pasir yang kering kerontang. 

Setelah semua yang menimpanya, setelah dirinya dicampakkan dan kehilangan segalanya, mendapatkan pekerjaan adalah sebuah kemewahan yang tak pernah ia bayangkan.

"Iya. Kau akan dibayar, tinggal di rumah kami, dan semua kebutuhanmu akan dipenuhi," ujar wanita itu dengan nada tegas, lebih tepatnya ketus.

"Baiklah," jawab Ilona cepat, tanpa berpikir panjang.

Wanita itu mengangguk, lalu memperkenalkan dirinya secara resmi. Bira. Nama yang terasa asing bagi Ilona, tapi entah mengapa memberi getaran aneh dalam hatinya.

Ilona tak tahu bahwa keputusannya ini akan mengubah hidupnya. Ia memang terbebas dari makian Nyonya Mike, wanita yang selama ini menindasnya, tapi apakah Nyonya Bira akan memperlakukannya dengan baik? Ataukah ia justru melangkah ke dalam bahaya yang lebih besar?

Ruangan perawatan itu terasa begitu sunyi. Dinding putih bersih seolah mengejeknya, mencerminkan kehampaan yang kini melingkupinya. Ia masih terlalu lemah setelah persalinan yang menyakitkan. Bayinya… sudah tiada. Hatinya terasa kosong.

Ceklek!

Suara pintu terbuka memecah kesunyian. Di ambang pintu, Nyonya Bira berdiri dengan angkuh. Tatapannya tajam, tanpa ekspresi hangat sama sekali.

"Kita pulang!" katanya ketus.

Ilona menoleh dengan kaget. Pulang? Dia pikir wanita itu hanya ingin dia menyusui cucunya sekarang, tapi malah mengajaknya pulang. Sedangkan dia masih lemah, infus saja masih terpasang di tangannya.

"Tapi saya masih dalam perawatan..." Ilona mencoba menjelaskan. Tubuhnya masih lemah, ia bahkan belum benar-benar pulih.

"Saya sudah bicara dengan perawat," potong Nyonya Bira dingin. "Mereka bilang kau hanya tinggal pemulihan, tidak ada masalah apa pun! Jadi, kau bisa pulang. Saya sudah mengurus semuanya."

Ilona mematung. Wanita ini begitu dominan dan penuh pemaksaan. Dia tidak peduli dengan kondisi Ilona, yang terpenting baginya adalah cucunya.

Hatinya ingin menolak. Tapi kemudian ia teringat bayi mungil itu—Mayumi. Bayi yang tadi tertidur dengan tenang di pelukannya, seolah menemukan rasa aman yang tak ia dapatkan sebelumnya. Wajah polos itu menarik Ilona untuk ikut dalam arus yang Nyonya Bira ciptakan.

Akhirnya, meski tubuhnya masih lemah, Ilona menerima takdir ini. Ia naik ke dalam mobil bersama Nyonya Bira, menuju rumah yang tak ia kenal. Nyonya Bira bahkan tidak bertanya apakah Ilona memiliki keluarga, suami atau apapun.

Rumah itu begitu megah. Bangunan tiga lantai dengan pilar-pilar kokoh, mencerminkan status keluarga kaya raya yang menempatinya. Ilona bahkan ragu apakah ia pantas berada di sini. Dan rasanya cukup trauma tinggal bersama keluarga kaya.

Ia langsung diberi tugas. Meski masih lemah, ia tetap dipaksa menggendong Mayumi.

"Mulai sekarang, kau adalah ibu susu dan pengasuhnya," ucap Nyonya Bira tanpa basa-basi.

Ilona hanya bisa mengangguk pasrah. Tangannya dengan lembut membelai kepala Mayumi yang masih tertidur. Setidaknya, jika ia bisa menjadi sesuatu bagi bayi ini, mungkin ada sedikit tujuan dalam hidupnya yang sudah hancur.

Namun, langkahnya terhenti saat ia melangkah masuk ke dalam rumah. Pandangannya membeku ketika melihat seorang pria berdiri di ambang pintu. Sosok yang tak asing.

Seseorang yang dulu pernah begitu dekat dengannya.

Egar.

Dada Ilona seketika terasa sesak. Laki-laki itu… dia tidak mungkin lupa. Dahulu, Egar adalah cinta pertamanya. Mereka pernah berbagi mimpi saat masih SMA. Namun, takdir memisahkan mereka, meninggalkan luka yang cukup dalam.

Tatapan Egar langsung tertuju padanya. Matanya menyiratkan kebingungan melihat ibunya pulang membawa orang asing.

"Ma, dia siapa?" tanyanya pada Nyonya Bira, suaranya terdengar curiga.

"Dia ibu susu dan pengasuh Yumi. Anakmu itu tidak mau diam, dengan dia baru mau diam," jawab Nyonya Bira santai.

Egar tampak bingung. "Tapi, kita tidak menge-nalnya…"

Namun, kata-katanya terhenti saat mata mereka bertemu.

Ilona melihat bagaimana wajah Egar berubah. Dari bingung, menjadi syok. Bibirnya sedikit terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tak bisa.

"Ilona?" suara Egar lirih, penuh keterkejutan.

Ilona hanya menunduk, tak sanggup menatapnya lebih lama.

Detik itu, Ilona sadar. Keputusan yang diambilnya bukan hanya akan mengubah hidupnya, tetapi juga akan membangkitkan luka lamanya. Mengapa dia harus kembali bertemu Egar?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Mantan   BAB 5

    "Iya," jawab Ilona gugup.Ilona tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan menjadi ibu susu untuk anak mantannya.Dulu, Ilona dan Egar menjalin hubungan yang cukup lama, sejak kelas dua hingga kelas tiga SMA. Ilona masuk ke sekolah itu dengan beasiswa karena kecerdasannya, jika mengandalkan uang dia tidak akan mampu, sekolah itu cukup terkenal dengan sebutan sekolah anak orang kaya.Dan ternyata, kepintarannya itulah yang membuat Egar mendekatinya. Ia pikir Egar mencintainya, tapi ternyata, itu semua hanya kebohongan.Setelah ujian akhir, Egar memutuskannya dengan cara yang paling kejam."Aku tidak pernah mencintaimu. Aku hanya memanfaatkan kepintaranmu. Buktinya, aku berhasil masuk sebagai juara dua."Ucapan itu masih terpatri jelas di benak Ilona, meski bertahun-tahun telah berlalu. Ia masih bisa mengingat bagaimana teman-teman mereka tercengang mendengar kata-kata itu."Kau kejam sekali, Egar," ujar salah satu temannya sambil tergelak."Kalau kalian mau dia, ambil saja. Belum aku bo

    Last Updated : 2025-02-20
  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Mantan   BAB 6

    "Ya Allah, kuatkan aku selama enam bulan ini," gumam Ilona lemah saat Egar akhirnya keluar dari kamar.Dia mengelus dada membayangkan harus bertemu Egar selama itu. Dia akan menjaga jarak, itulah tekadnya.Lelaki itu hanya melihat putrinya sebentar. Tidak menggendong, tidak menyentuh. Hanya menatap Yumi sekilas, namun tatapan itu begitu dalam.Mungkin, saat melihat wajah Yumi, dia teringat istrinya.Ilona sempat mendengar dari salah satu pembantu yang sempat ke kamarnya tadi, bahwa Egar dan istrinya dulu saling mencintai. Namun, hubungan mereka terhalang restu. Bukan karena kemiskinan, tapi karena persaingan bisnis yang membuat keluarga mereka bermusuhan. Bahkan saat istrinya meninggal, Egar dilarang datang.Jasad istrinya langsung diambil alih oleh keluarganya, dan setelah itu, tidak satu pun dari mereka datang melihat Yumi. Tidak ada keluarga pihak ibu yang merangkul bayi mungil itu. Yang ada hanya tuntutan hukum—keluarga istrinya menuntut Nyonya Bira, menuduh bahwa putri mereka me

    Last Updated : 2025-02-20
  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Mantan   BAB 7

    Hari-hari terasa begitu panjang bagi Ilona. Rumah megah itu bak penjara, mengekangnya dalam aturan dan tatapan penuh curiga dari Nyonya Bira dan Egar.Namun, di antara semua itu, ada satu cahaya kecil yang membuatnya tetap bertahan—Yumi.Di taman belakang rumah, di bawah langit senja yang mulai berpendar jingga, Ilona duduk di atas rumput, menggoyangkan mainan kecil di depan bayi mungil di dalam stroller yang mulai tertawa."Yumi, jadilah anak yang hebat dan baik, ya," bisiknya lembut.Yumi, yang baru berusia tiga bulan, tertawa riang. Pipi gembulnya merona, matanya yang jernih menatap Ilona dengan polos.Ilona mengusap kepala bayi itu penuh kasih sayang. Namun, di balik senyuman itu, ada perasaan pilu yang tak bisa ia usir.Sebesar apa pun cintanya pada Yumi, ia tahu pada akhirnya mereka akan menjadi orang asing."Tentu saja dia akan menjadi orang hebat. Karena ayahnya adalah aku."Ilona tersentak. Suara berat itu terdengar begitu dekat. Saat menoleh, Egar sudah berdiri di sana, bers

    Last Updated : 2025-02-20
  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Mantan   BAB 8

    Owek! Owek!Tangisan Yumi menggema di seluruh rumah besar itu, menusuk setiap sudut keheningan.Ilona sudah sejak tadi berusaha menenangkan bayi perempuan itu. Digosok punggungnya, diayun-ayun dalam pelukan, bahkan sudah dibawa keluar ke halaman agar udara segar bisa membuatnya tenang. Tapi semua usaha Ilona sia-sia.Yumi tetap menangis, suaranya makin serak, napasnya tersengal-sengal di sela tangisannya yang pilu. Ilona mulai cemas, takut kalau bayi itu sakit. Berkali-kali ia meraba kening dan perut Yumi, tapi suhu tubuhnya normal. Tidak ada tanda-tanda demam atau ketidaknyamanan.Namun, tangis Yumi tak kunjung reda."Hei! Kau apakan anak itu? Berisik sekali!"Teriakan tajam Nyonya Bira terdengar dari tangga, membuat Ilona tersentak. Wanita itu turun dengan wajah kesal, tampak terganggu karena tangisan Yumi yang tak berhenti sejak tadi."Maaf, Nyonya. Tapi, Yumi tidak mau diam," jawab Ilona dengan nafas tersengal, lengannya mulai pegal setelah sekian lama menggendong bayi itu."Kau t

    Last Updated : 2025-02-20
  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Mantan   BAB 9

    Ilona melangkah keluar dari rumah besar itu dengan hati yang berat. Sejak pertama kali mengasuh Yumi, ia tahu bahwa suatu hari ia harus pergi, tapi ia tidak menyangka perpisahan ini akan terasa sesakit ini. Bayi itu telah menjadi bagian dari hidupnya, seperti anaknya sendiri. Namun, kontraknya telah habis. Tidak ada yang bisa ia lakukan.Saat langkahnya semakin menjauh dari rumah itu, suara berat yang sangat familiar menghentikannya.“Kau mau ke mana?”Ilona menoleh dan mendapati Egar berdiri di sana, ekspresi wajahnya sulit ditebak. Ada kemarahan, ada kebingungan, dan mungkin juga sedikit... kekecewaan?“Maaf, saya harus pergi.”Ia menjawab tanpa ragu, mencoba bersikap sekuat mungkin. Tidak ada gunanya menetap lebih lama.Egar mensejajari langkahnya. “Kau pergi? Bagaimana dengan Yumi? Dia terus menangis.”Ilona menelan ludahnya, berusaha menekan perasaan yang mulai menyeruak. “Ada Sus Yuli.”Hanya itu jawabannya. Seperti itulah seharusnya.Egar terdiam, matanya mengawasi setiap gerak

    Last Updated : 2025-03-04
  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Mantan   BAB 10

    Dalam tidurnya, Ilona merasakan sebuah kehangatan yang begitu familiar. Sebuah tangan keriput yang lembut memeluknya erat, memberikan rasa aman yang begitu dirindukannya.“Ibu…” panggilnya lirih, suaranya bergetar dalam kantuk yang membelenggunya.Dari dalam kegelapan, suara ibunya terdengar, lembut namun tegas.“Jangan putus asa.”Itu saja yang ia dengar sebelum sosok wanita tua itu perlahan menghilang, tenggelam dalam bayangan pekat malam.“Ibu, tunggu!” Ilona berteriak, tangannya terulur, berusaha meraih sosok yang semakin menjauh.Namun, yang ia dapatkan hanya kehampaan.Ilona tersentak, tubuhnya terlonjak bangun. Napasnya terengah-engah, matanya yang masih buram karena kantuk perlahan menangkap sekelilingnya. Ia tidak lagi berada dalam pelukan ibunya.Ia mendapati dirinya tertidur di dekat meja makan yang sudah tua, dengan debu yang masih menempel di permukaannya. Lilin yang tadi dinyalakan kini telah hampir habis, nyala apinya kecil dan bergetar.Ia mengusap wajahnya, mencoba me

    Last Updated : 2025-03-04
  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Mantan   BAB 11

    Ilona menatap Bu Misna dengan pandangan terluka. "Astaga, saya pulang ke rumah saya, Bu. Bukan untuk menggoda suami orang," ucapnya dengan suara lirih, mencoba menahan gemuruh di dadanya.Namun, kata-kata itu seperti angin lalu bagi Bu Misna. Wajahnya tetap sinis, tatapan matanya penuh curiga. "Ya, kan siapa tahu. Selama ini biasa hidup enak. Dan cara yang cepat untuk mendapatkan semuanya ya itu cara instant menggoda suami orang. Apalagi sekarang sudah janda, gak ada lagi kan ketakutan apapun," katanya dengan nada yang menusuk.Ilona menggeleng, memilih diam. Sejak tadi, ia sebenarnya cukup senang ada tetangga yang menyapa, tapi kenyataan tidak seindah harapannya. Ia mengira akan menemukan kehangatan, tetapi yang ia dapat hanyalah prasangka.Dengan nafas panjang, Ilona kembali jongkok, menarik rumput liar yang merajalela di halaman rumah tua itu. Rumah ini adalah satu-satunya tempat yang tersisa untuknya, satu-satunya tempat di mana ia bisa mencoba menata kembali hidupnya.“Benar kan

    Last Updated : 2025-03-05
  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Mantan   BAB 12

    Sementara itu…Tangisan itu masih memenuhi seluruh rumah besar dan mewah itu, seakan tak akan pernah berhenti. Sudah dua hari satu malam. Apalagi sejak kepergian Ilona, tangisannya semakin menjadi-jadi, bahkan suaranya sudah serak.Yumi, bayi berusia enam bulan itu, terus menangis. Sesekali tangisnya mereda, hanya untuk kembali pecah dengan lebih kuat. Bahkan dalam tidurnya, isaknya tak kunjung hilang. Dia hanya menyusu seadanya, mungkin hanya untuk melepaskan laparnya saja.Seisi rumah kelelahan karena semalaman tidak bisa tidur, tapi tidak ada yang lebih jengah daripada Nyonya Bira. Dia sangat kesal dengan cucunya itu.Wanita paruh baya itu melipat tangan di dadanya, ekspresi geram tergambar jelas di wajahnya. "Sus, apakah kau tidak mampu menenangkan Yumi barang sejenak? Kita semua butuh istirahat, kalau begini terus, aku akan gila. Semalaman tidak bisa tidur!" bentaknya dengan nada tajam.Pengasuh bayi itu, Sus Yuli, hanya bisa menunduk dalam-dalam. "Maaf, Nyonya. Saya sudah mencob

    Last Updated : 2025-03-05

Latest chapter

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Mantan   BAB 98

    Malam sudah larut, tapi Ilona masih duduk, menatap kosong ke arah langit yang bertabur bintang yang menembus pintu kaca di samping. Udara dingin berhembus pelan melalui celah-celah, menyapu kulitnya yang terbuka di balik cardigan tipis yang ia kenakan. Namun, hawa malam tak mampu mendinginkan badai yang berkecamuk dalam dadanya.Di sampingnya, Egar masih setia menemani, menggenggam jemarinya yang terasa dingin. Ia tahu, pikiran istrinya sedang berkelana jauh."Sayang," suara Egar lembut, penuh ketenangan. "Bukankah kamu percaya kalau semuanya adalah takdir Tuhan? Tuhan tahu kapan waktu yang tepat. Mungkin jika dulu Ibu menemui kamu, akan terjadi sesuatu yang lebih menyakitkan bagimu. Dan mungkin sekaranglah waktunya."“Semua sudah diatur oleh Tuhan, berbaik sangka lah kepada sang pencipta. Dia lah yang lebih t

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Mantan   BAB 97

    Angin sore berhembus lembut, menyapu rambut Ilona yang tergerai. Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, menciptakan semburat jingga yang memantul di permukaan air laut. Namun, semua keindahan itu tak mampu mengusir gelombang kegelisahan yang tengah menguasai hatinya.Apa yang dikatakan oleh bu Hikmah hari ini mengganggu pikirannya. Semua perasaan bercampur menjadi satu. Dia tidak tahu harus berbuat apa, yang pasti dia merasa marah, emosi yang memuncak yang menguasainya.“Terima kasih, Bu,” ucap Ilona kepada Bu Hikmah dengan suara yang sedikit bergetar.Bu Hikmah menatapnya dengan penuh kasih. “Kamu kuat, Ilona.”Ilona mengangguk pelan, meski di dalam dirinya ia merasa jauh dari kata kuat.Setelah berp

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Mantan   BAB 96

    Sore itu, angin berhembus lembut di sekitar mereka. Langit yang mulai berwarna jingga membuat suasana semakin syahdu. Namun, Ilona merasakan sesuatu yang lain. Hatinya bergemuruh, dadanya berdebar kencang. Kata-kata Bu Hikmah masih terngiang di telinganya.“Siapa, Bu? Rasanya aku tidak meninggalkan urusan yang belum selesai saat pergi dari kampung,” ujar Ilona penasaran.“Seorang wanita datang mencari ibumu, tapi setelah dicermati, dia mencari kamu.” Bu Hikmah menjelaskan sambil menatap mata Ilona dengan begitu dalam.Ilona mengernyitkan keningnya. "Maksudnya gimana, Bu?" tanyanya, merasa janggal.Bu Hikmah menatapnya dengan mata penuh perhatian, seolah menyadari kebingungan yang menghantui Ilona. Karena amanah orang ini juga bu Hikmah akhir-akhir

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Mantan   BAB 95

    Angin pantai berhembus lembut, membawa aroma laut yang khas. Langit mulai berwarna jingga keemasan, menandakan sore yang semakin menua. Ilona masih duduk berdampingan dengan Egar, tangan mereka saling menggenggam, menikmati ketenangan yang jarang mereka dapatkan.Namun, ketenangan itu terusik oleh suara yang tiba-tiba menyebut namanya."Ilona?"Ilona terkejut. Ia menoleh cepat, matanya membesar saat melihat sosok yang berdiri di hadapannya."Bu Hikmah?" tanyanya tak percaya.Wanita paruh baya itu tersenyum hangat, matanya berbinar melihat Ilona. Bu Hikmah adalah satu-satunya tetangga yang selalu baik padanya saat ia masih tinggal di rumah ibunya. Ia tidak seperti tetangga lain yang suka membicarakannya, apalagi mempermasalahk

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Mantan   BAB 94

    Angin pantai berhembus lembut, membawa aroma laut yang khas ke dalam paru-paru mereka. Ilona dan Egar duduk berdampingan di atas pasir, menikmati waktu yang seolah berhenti. Matahari mulai condong ke barat, menciptakan pantulan keemasan di permukaan laut yang seakan membentang tanpa ujung.Ilona menatap suaminya penuh rasa kagum. "Kamu hebat," ucapnya tulus.Dia tahu, perjuangan Egar sampai sejauh ini tidaklah mudah. Dia melepaskan sendok emas dan berjuang mulai dari nol. Berjuang sendiri, tanpa dukungan dari pihak manapun. Namanya masuk daftar hitam saat mau melamar pekerjaan di perusahaan lain. Tapi, dia bisa bangkit.Egar menggeleng, senyum hangat tersungging di bibirnya. "Bukan aku yang hebat, tapi kamu yang kuat. Kamu bertahan dalam keadaan apapun, selalu ada untukku dan anak-anak kita. Kalian yang hebat, karen

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Mantan   BAB 93

    Egar duduk di atas pasir lembut dengan Gana dalam gendongannya, sementara pandangannya tertuju pada Ilona dan Yumi yang tertawa bersama di pinggir pantai. Wajah Ilona tampak begitu cerah, diterpa cahaya matahari yang mulai condong ke barat. Yumi berlari-lari kecil, sesekali menengok ke arah Ilona sambil tertawa renyah.Dan jika diperhatikan, wajah Ilona itu hampir mirip dengan Gia, istri pertamanya. Apalagi matanya, jadi tidak heran kalau sekilas melihat Yumi dan Ilona itu mirip, meskipun bukan ibu dan anak kandung.Angin pantai berhembus lembut, membawa aroma laut yang khas. Ombak berkejaran dengan lembut di tepian, menyapu jejak-jejak kaki kecil Yumi yang berlarian di atas pasir.Egar menarik napas panjang, menikmati momen ini. "Gia, lihatlah anak kita. Dia telah bertemu dengan ibu yang baik," bisiknya, matanya me

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Mantan   BAB 92

    Nyonya Bira masih merasa dadanya sesak saat masuk ke dalam mobilnya. Tangannya mencengkeram kemudi erat, kemarahan masih menggelegak di dadanya. Rasa kesal kepada Egar belumlah hilang."Apa sih hebatnya wanita itu? Hanya karena dia mau menyusui Yumi?" gerutunya kesal.Ia tak habis pikir bagaimana Egar bisa begitu mempertahankan Ilona. Wanita itu bukan siapa-siapa. Ia tak berasal dari keluarga terpandang, tak punya gelar, tak punya harta. Dan sekarang, ia bahkan telah melahirkan anak untuk Egar."Dia mau menyusui Yumi karena dibayar. Kalau gratis, dia pasti tidak akan mau. Wanita itu sangat matre, begitu mendengar ada perjanjian akan dibayar, dia langsung setuju!" tambahnya sinis.“Sulit sekali kalau sudah jatuh cinta dengan orang miskin. Dia tidak membawa keuntunga

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Mantan   BAB 91

    Ilona mengelus dadanya, berusaha menenangkan perasaan yang masih sesak. Hatinya perih melihat bagaimana ibu mertuanya memperlakukannya. Entah sampai kapan hubungan mereka akan membaik.Sejak menikah dengan Egar, ia sudah berusaha sebaik mungkin menjadi menantu yang baik, tetapi di mata Nyonya Bira, ia tetaplah orang luar—wanita miskin yang hanya mengincar harta anaknya.Pintu yang baru saja dibanting dengan keras membuat suasana rumah terasa begitu hampa."Suara apa itu?"Suara kecil Yumi terdengar dari lorong. Gadis kecil itu muncul dari kamarnya dengan mata mengantuk, rambutnya sedikit berantakan. Sepertinya dia ketiduran saat bermain."Gak apa-apa, Sayang," kata Ilona cepat, mencoba menenangkan putrinya.

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Mantan   BAB 90

    “Kau mau kemana?” tanya Nyonya Bira kesal melihat Ilona yang melangkah berjalan menjauh.“Kamar, Ma.” Ilona menjawab pelan.“Dasar orang miskin gak tau adab! Orang tua ada disini dan kau malah mau ke kamar. Tapi, wajar sih kalau seperti ini. Kau tidak memiliki orang orang tua, jadi tidak ada yang mengajarkanmu sopan santun!” ketusnya.“Aku memiliki ibu,” jawab Ilona yang tidak terima ibu yang telah merawatnya sejak kecil dihina seperti itu. Ibunya, meskipun bukan ibu kandung tapi selalu mengajarkannya bagaimana cara bersikap dan berperilaku.“Hanya ibu angkat! Sedangkan ibu kandung? Kau bahkan tidak tahu siapa mereka. Kau pasti anak haram yang dibuang.”Ruangan itu d

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status