Rena tidak mendengarkan hal yang dikatakan Raihan pada Alif. Dia masih terkesima dengan rumah mewah yang ada di hadapannya. Rena mengelilingi rumah mewah itu sambil sesekali menoleh ke arah Raihan dan Alif. Sementara Raihan sendiri hanya menatap ekspresi bahagia di wajah Rena."Ayah, aku mau lihat kamarku dulu!" ucap Alif sambil menarik ujung jas kantor Raihan. "Pergilah nak, dan beristirahatlah! Pelayan, tolong bawa Alif ke kamarnya!" ucap Raihan pada pelayan yang berbaris menyambut kedatangan mereka."Baik!" ucap salah satu pelayan sambil menuntun Alif ke kamar barunya.Sementara dua pelayan lagi, sibuk membawa koper Raihan, Rena, dan Alif. Dua orang pelayan lainnya diminta Raihan untuk memasak makanan. Rena benar-benar tidak menyangka jika dia akan menjadi seorang nyonya dari keluarga kaya. Walaupun sebenarnya ini tidak sesuai dengan mimpi Rena selama ini. Tapi menurut Rena menjadi seorang istri sultan seperti Raihan tidaklah buruk, tapi tentu tidaklah mudah."Apa yang sedang kamu
Raihan terkejut dengan hal yang dilakukan Rena padanya. Ternyata hanya dengan mengikuti hal yang diinginkan Rena dan mendukungnya itu bisa membuat Rena bersikap manis pada Raihan. Sungguh di luar dugaan Rena berani memberikan kecupan mesra juga pelukan pada Raihan saat itu. "Ya sudah, kamu hati-hati! kabari aku jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, aku akan membantumu!" ucap Raihan sambil tersenyum. "Baik, baik! Tidak usah terlalu mengkhawatirkanku!" ucap Rena sambil naik ke atas motornya. "Mama, aku naik dimana?" tanya Alif menatap Rena lekat. "Alif naik motor di belakang Mama. Mama antar Alif ke sekolah!" ucap Rena sambil tersenyum. Alif naik ke atas motor yang dikendarai Rena, lalu motor mereka berjalan keluar dari rumah mewah itu. Sampai di sekolah Alif, Rena tersenyum dan menatap ke arah anak laki-lakinya. Siapa yang akan menyangka jika wanita semuda Rena memiliki anak sebesar Alif. Tapi entah kenapa dia merasa bangga dan bahagia menjadi ibu dari Alif. "Mama, nanti sore
Rena dan Alif tertidur di dalam mobil, mungkin karena kelelahan berbelanja. Raihan hanya tersenyum menoleh ke arah putra dan istrinya yang mendengkur cukup keras."Benar-benar seperti ibu dan anak sungguhan! Kalian membuat aku cemas seharian, tapi kalian tidak merasa bersalah sama sekali, malah tidur setelah aku menjemput kalian. Kalau Alif yang melakukan, itu pasti masih ada toleransi. Tapi untuk istriku ini, sepertinya harus diberikan hukuman," senyum licik Raihan.Sampai di depan rumah Raihan menggendong Rena masuk ke dalam rumah. Dia juga meminta seorang pelayan untuk memindahkan Alif yang tidur di mobil ke kamarnya. Raihan membaringkan tubuh Rena di atas tempat tidur, menatap wanita cantik yang bahkan tak terusik dengan keberadaannya."Kamu belum mandi, tapi sudah tidur! Haruskah aku membangunkan istriku yang menggemaskan ini? Tapi rasanya tidak tega melakukannya. Bagaimana jika aku lap saja tubuhnya, dia akan merasa nyaman saat tidur!" ucap Raihan sambil berdiri mengambil air u
Keesokan harinya Rena sudah siap untuk berangkat kerja. Tapi kali ini Raihan tidak mengizinkan istrinya menggunakan motor securitynya. Raihan membelikan sebuah mobil bekas layak pakai untuk Rena. Terlihat Rena senang dengan mobil yang dibekukan Raihan untuknya kali ini."Mulai sekarang tidak usah pakai motor saat pergi kerja. Aku takut kamu masuk angin jadi lebih baik pakai mobil ini saja. Aku sengaja mencarikan mobil yang tidak terlalu bagus. Ini hanya mobil second jadi kamu tidak boleh menolak!" ucap Raihan sambil memberikan kunci mobil pada Rena."Ini bagus, sesuai dengan yang kuinginkan!" "Memang istriku ini gadis bodoh! Menolak mobil mewah hanya untuk mobil butut seperti ini," ucap Raihan sambil mencubit pipi Rena."Sudah, aku mau berangkat! Alif mau ikut Ayah, atau Mama?" tanya Rena."Tidak bisakah aku ikut kalian berdua? Jangan naik mobil terpisah seperti ini," ucap Alif sedih."Anak pintar, jangan menangis! Hari ini kamu berangkat bersama Ayah, besok bersama Mama. Bukankah it
Raihan berjalan pelan menuju ruangannya, tapi matanya masih mencari keberadaan istri tercintanya. "Jarang-jarang CEO datang ke kantor pusat, ada apa? Apa ada hubungannya dengan Rena?" ucap Septina sambil tersenyum. "Kenapa ada hubungannya denganku? Aku tidak tahu, mungkin memang dia ada urusan," ucap Rena sambil mengetik kembali dokumen di tangannya. "Kamu tidak lihat, semua karyawan menatap karena terpesona dengan Tuan Raihan. Apa kamu tidak?" Septina menggoda Rena. "Aku orang yang tidak suka berkhayal terlalu tinggi. Dia itu orang besar, sedangkan aku siapa? Aku sudah cukup bersyukur bisa diterima di kantor ini. Tidak mau hal yang lain!" ucap Rena tersenyum palsu. "Benar juga. Wanita biasa seperti kita, tidak akan bisa berdampingan dengan orang hebat seperti dia. Walaupun kita bersama dengannya, pasti hanya akan makan hati, karena setiap harinya dia digoda wanita-wanita cantik. Huh, yang menjadi istrinya pasti makan hati setiap hari, mendengar gosip suaminya bersama banyak wan
Rena hening tak bicara, dia sesekali menatap wajah Raihan yang memeluk erat tubuhnya. Bibirnya digigit-gigit memikirkan hal yang dikatakan Raihan yang lagi-lagi membahas hal yang sama setiap harinya."Kenapa bibirnya terus digigit seperti itu? Apa bibirmu gatal? Sini aku obati!" ucap Raihan sambil mendekatkan bibirnya pada bibir Rena."ITSS... Jangan dekat-dekat denganku! Aku tidak tahu siapa saja wanita yang sudah menyentuh bibirmu hari ini. Masalah kita belum selesai, aku juga tidak akan pernah mengizinkan kamu mempublikasikan hubungan kita," ucap Rena kesal."Apa maksud kata-katamu? Apa kamu pikir aku akan melakukan hal yang sama pada wanita lain seperti aku melakukan hal romantis denganmu?" "Siapa tahu, aku juga tidak lihat!" "Rena, apa aku ini sangat buruk di matamu?""Kamu tidak buruk, hanya terlalu sempurna. Sudahlah aku mau mandi!" ucap Rena sambil masuk ke dalam kamar mandi.Raihan mengikuti Rena dari belakang, dia tersenyum penuh ancaman memikirkan hal yang tidak-tidak ber
Keesokan harinya Rena diantar Raihan ke kantor pusat. Awalnya Raihan meminta Rena untuk tidak pergi ke kantor karena kondisi Rena yang masih sakit. Tapi Rena bersikukuh untuk pergi ke kantor karena hari ini adalah hari pertama dia mempersentasikan hasil desainnya pada pemilik Rumah Sakit."Ingatlah untuk menghubungiku jika kamu mengalami kesulitan. Aku tidak mau dengar alasan kamu mengacuhkanku. Dimanapun dan kapanpun kamu bertemu denganku, kamu harus menyapaku dengan senyum manis. Jika kamu masih mengacuhkanku akan ada hukuman berat menantimu. Kamu mengerti?" ancam Raihan."Baiklah, aku akan mengikuti segala aturanmu. Sekarang biarkan aku turun dari mobilmu dan kamu kembali ke kantor cabang. Jangan ganggu aku!" "Kenapa harus kembali ke kantor cabang? Aku mau tetap disini agar bisa menatap istriku dari jauh. Percayalah, aku tidak akan mengganggumu!""Terserah kamu saja! Tapi aku selalu gusar setiap berdekatan denganmu. Terlalu banyak wanita menjijikkan, membuatku hilang kesabaran mel
Rena berjalan menuju pintu keluar kantor, namun tak sengaja bertemu Galih di tempat parkir. Pria itu tersenyum manis dan mendekat ke arah Rena."Tuan Galih, kenapa kamu yang repot datang kemari? Hari ini aku berniat datang ke Rumah Sakit untuk bertemu denganmu. Tapi kenapa kamu malah ke sini?" tanya Rena menatap ke arah Galih yang bergaya bak model papan atas."Mungkin karena tidak sabar, jadi aku berniat menjemputmu. Tidak apa kan, jika aku yang datang kemari? Tiba-tiba saja rindu dengan seseorang di perusahaan ini," tawanya."Wah, kamu punya pacar di kantor ini? Bekerja di bagian apa? Nanti jika senggang, aku akan beritahu dia jika Tuan Galih mencarinya!" "Bukan pacar, hanya seseorang yang aku kagumi!" "Seseorang yang anda kagumi? Benar-benar wanita yang hebat dan sangat beruntung. Tuan, siapa namanya? Barang kali aku bisa mengenalnya!" "Kamu. Ya, orangnya adalah kamu! Memang ada wanita lain yang lebih mengagumkan dari dirimu?" ucap Galih menggenggam tangan Rena dengan tatapan pe
Air mata Rena membasahi jas yang dikenakan Raihan. Terlihat kesedihan yang mendalam dari tatapan mata Rena pada Raihan. Isak tangis masih terdengar, membuat Raihan merasa bersalah mengucapkan kata-kata kasar pada istrinya itu. "Maafkan aku! Tidak seharusnya aku meneriakimu seperti tadi. Aku khilaf, maafkan aku!" ucap Raihan mengusap lembut wajah Rena."Kamu jahat! Kamu bisa mengencani banyak wanita tapi kenapa aku tidak? Kamu bisa menempel pada banyak wanita, kenapa aku tidak? Kamu terus mengaturku ini dan itu, tapi pernahkah kamu bercermin untuk menghargaiku sedikit saja? Oh tidak, pria kaya raya sepertimu tidak akan menghargai orang lain. Kamu bisa melakukan apapun, karena kamu punya segalanya dan mampu membeli harga diri orang lain, termasuk harga diri istrimu sendiri!" teriak Rena kesal.Raihan tak bicara, dia menatap istrinya lekat, Raihan merasa sangat bersalah karena membuat istrinya marah padanya saat itu. CUP ...Raihan mengecup bibir Rena, Raihan juga menghapus air mata ya
Rena tersenyum dan akhirnya mengiyakan apa yang dikatakan Raihan padanya. Kini Rena mulai belajar menjadi wakil CEO didampingi oleh sang suami. Rena terlihat bersungguh-sungguh dalam mempelajari setiap hal yang diperintahkan oleh Raihan dan tugasnya sebagai wakil CEO. Tapi saat Rena benar-benar sedang serius, Raihan justru malah menggoda istrinya. Dia terlihat senang memberikan banyak pekerjaan yang bukan pekerjaan Rena sebagai wakil CEO. Rena diminta untuk menulis nama panjang Raihan di kertas seratus lembar. Tak hanya itu Rena diminta untuk memajang foto Reyhan disebelah mejanya. Walaupun terlihat pekerjaannya cukup aneh, tapi Rena berusaha untuk tidak melawan. Dia mengerjakan setiap pekerjaan yang diperintahkan oleh Raihan tanpa perdebatan. Padahal Rena tahu betul jika sang suami saat ini tengah mengerjainya. "Sudah selesai belum, pekerjaan yang barusan aku berikan? Setelah selesai kamu bisa memulai tugas yang lain. Di sini ada beberapa tumpukan dokumen yang harus kamu periksa. H
Raihan tersenyum ke arah Rena, mengecup kening istrinya penuh cinta. Terlihat begitu takut jika kehamilan akan menyiksa sang istri."Jika kamu belum siap, aku bisa menunggu!" ucap Raihan pelan."Kenapa? Tadi kamu yang paling antusias? Sekarang tiba-tiba kamu berubah jadi khawatir seperti itu. Apa yang kamu pikirkan? Tidak mau aku mengandung anakmu? Apa aku tidak layak?" ucap Rena kesal."Hei, tajam sekali mulutmu ini! Aku melakukan itu karena mengkhawatirkan keadaanmu. Aku baru menyadari jika proses memiliki anak butuh perjuangan saat melahirkan. Aku tidak tega jika kamu harus merasakan sakit itu!" "Bodoh sekali! Aku ini wanita. Aku mau punya anak dari rahimku sendiri. Percayalah, aku pasti kuat!" ucap Rena memeluk tubuh Raihan."Benarkah? Kamu sudah siap untuk hal itu?" "Tenang saja, aku sudah siap!" ucap Rena sambil tersenyum.Beberapa hari kemudian, Rena kembali bekerja di kantor Raihan. Dia terlihat serius mengerjakan tugas dari manager Ana tentang desain kantor Amazong. Anggist
Rena meminta banyak hal malam ini, dan mendapatkan semuanya dari kerja keras suaminya. Entah kenapa Rena merasa bangga, menikmati hidup ala kadarnya seperti ini. Yang terpenting di saat hidup tak menjadi seorang sultan, Rena merasa jauh dicintai dan merasa percaya diri mendampingi Raihan. Satu-satunya ketakutan Rena selama ini adalah status Raihan sebagai orang terkaya yang mencolok."Kelihatannya kamu sangat menikmati makan ini ya? Apa kamu suka melihat suamimu jadi pedagang rendahan?" ucap Raihan kesal."Hahaha... Bukan begitu, tapi aku lebih tenang saat kamu bukan siapa-siapa. Terakhir kali, aku dan Amor berdebat karena dirimu. Hari ini, aku dan Sinta juga berdebat karenamu. Sejujurnya aku tidak suka dengan statusmu sebagai sultan. Tidak bisakah kita hidup sebagai rakyat biasa saja?" ucap Rena menyandarkan kepalanya di bahu Raihan."Kamu istriku yang konyol! Saat banyak wanita mendekatiku karena uang, kamu justru malah ingin aku meninggalkan semuanya. Tapi itulah yang membuat aku
Raihan mengunci pintu kamar hotel dengan senyum menggoda. Terlihat jelas keromantisan yang akan terjadi pada Rena dan Raihan saat itu. Hanya dengan sedikit sentuhan, Raihan mampu membuat Rena tak berdaya melawannya.Tubuh mungil Rena membuat Raihan beberapa kali menelan ludahnya. Merasakan nafsunya memuncak hingga ke ubun-ubun. Dalam sekejap, pakaian yang dikenakan Rena lepas dari tubuhnya. Raihan tersenyum menyeringai, menatap tubuh polos itu membuat dia langsung menyerang Rena tanpa aba-aba. Rena hanya mengerang, sesekali tangannya mencengkram kuat punggung Raihan yang berada di atas tubuhnya.Tak lama setelah selesai melakukan aktivitas kegemaran Raihan, Rena terlelap tidur. Raihan dengan bangga memeluk istrinya dan mengusap lembut pucuk kepala Rena. Terlihat wajah bahagia terpancar dari bibir Raihan."Jika kamu benar-benar berhasil mengandung anakku, aku akan semakin menyayangimu. Hal yang paling indah yang kumiliki, adalah menjadikan kamu pasangan hidupku dan ibu untuk putraku, A
Rena kembali masuk ke dalam kamar hotel itu, menahan kesal menghadapi tingkah sekertaris suaminya. Secara terang-terangan dia ingin menjebak Raihan, tentu saja Rena merasa sangat kesal.Raihan tersenyum menatap ke arah Rena, dari atas tempat tidur. Dia masih terlihat lemah setelah menghabiskan waktu untuk bertarung dengan Rena. "Kenapa sayangku? Kenapa dengan ekspresi wajahmu yang menggemaskan itu? Apa kamu sedang marah?" tanya Raihan."Tentu saja aku marah. Sekertarismu bermasalah, sejak datang menemuiku dia terus mengancamku. Cih, dia pikir dia bisa mengancamku? Aku istrimu, aku lebih berhak atas kamu daripada wanita itu'kan?" ucap Rena kesal."Iya sayang, kamu lebih berhak atas aku dibanding siapapun! Jika kamu cemburu seperti ini, aku merasa sangat bahagia. Ayo kita buat adik untuk Alif!" bisik Raihan sambil mengedipkan sebelah matanya."Huh, apa-apaan! Ingin punya anak? Bisakah kamu jaga dirimu dulu agar tidak digoda wanita lain? Bagaimana jika saat aku sedang hamil, kamu digoda
Rena menoleh ke arah sekertaris Raihan yang berada di belakangnya. Merasa bisa menggagalkan rencana sekertaris itu untuk menjebak suaminya. Terlihat Sinta mengerutkan keningnya, menatap kesal ke arah Rena yang berada di dalam pelukan Raihan saat itu. "Kurang ajar! Kenapa wanita bodoh itu harus ikut ke luar kota segala? Jika ini terjadi, maka dia akan mengganggu rencanaku untuk mendapatkan hati Tuan Raihan!" gumam Sinta sambil meremas kesal tangannya sendiri.Rena dan Raihan duduk di kursi belakang mobil, sementara Sinta duduk di depan, disebelah supir pribadi Raihan. Sesekali mata sekertaris itu menatap ke arah Rena dan Raihan melalui kaca spion mobil. Rena yang sadar gerak-geriknya sedang diperhatikan, dengan sengaja memeluk mesra suaminya. Dia bisa melihat sekertaris itu terlihat kesal, ajang untuk memanas-manasi hati Sinta berjalan dengan sukses."Sayang, kenapa tiba-tiba kamu manja seperti ini? Apa yang terjadi padamu?" tanya Raihan seolah tahu ada hal yang tak biasa terjadi pad
Rena terkejut, dia dengan wajah bahagia menerima rangkaian bunga yang diberikan Raihan. Saat Raihan memberikan kotak perhiasan, Rena membuka kotak itu dengan gugup. Ternyata sebuah kalung canting dengan batu permata merah diberikan Raihan untuk Rena. Rena mengembangkan senyumnya, memeluk mesra suami yang ada di hadapannya."Terima kasih sayang," ucap Rena masih menenggelamkan wajahnya di tubuh Raihan."Apa kamu suka?" "Sangat suka, terima kasih!" ucap Rena mempererat pelukannya.Wanita-wanita sosialita yang ada diacara itu, menatap iri pada Rena. Tidak ada yang mengira jika Tuan Raihan yang dikenal arogan, cuek, dan pekerja keras itu, mampu memberikan kejutan manis untuk istrinya. Bisik-bisik itu membuat Rena enggan melepaskan pelukannya di tubuh sang suami."Sayang, lepaskan pelukanmu dulu! Aku mau pakaikan kalung ini untukmu," ucap Raihan sambil mengambil kalung dan memasangkan kalung itu di leher Rena.Semua orang bersorak-sorai menatap ke arah Rena dan Raihan. Senyum terukir inda
Septina dan Erlina menatap ke arah Rena dengan senyum bersinar di wajah mereka. Seolah tidak percaya jika sahabat mereka tidak bohong tentang status pernikahannya dengan CEO pemilik perusahaan. "Rena, aku tidak mengira jika kamu benar-benar istri rahasia Tuan Raihan. Kenapa kamu menyembunyikan statusmu sebagai istri Tuan Raihan?" ucap Erlina sambil tersenyum. "Aku sudah bilang waktu itu, tapi kalian tidak percaya. Aku mau bilang apa, jika kalian tidak percaya padaku!" ucap Rena mulai memetik dokumen di tangannya. "Maafkan kami karena kami sempat tidak percaya dengan ucapanmu. Wajarlah kami meragukanmu, kamu bahkan tidak terlihat seperti seorang nyona besar. Kamu bahkan masih masih menjadi desainer rendahan setelah hubunganmu dan Tuan Raihan terkuak di media sosial. Apa yang kamu pikirkan?" ucap Septina bingung. "Memangnya hal mengasyikkan apa yang bisa dilakukan sebagai istri CEO kaya?" tanya Rena. "Apa kamu bertanya hal seperti ini pada kami? Tentu saja kami akan menghabiskan u