Rena kembali ke meja kerjanya, Selin terlihat khawatir dengan kondisi Rena yang tampak ketakutan."Ada apa?" tanya Selin."Tidak ada. Aku hanya habis menenangkan diri di pantry. Kenapa? Apa Pak Ahmad mencariku?" tanya Rena."Tentu saja dia mencarimu! Kamu ini baru pertama kali bekerja, tapi sudah menghilang saat jam kerja. Bagaimana jika Pak Ahmad mengeluarkanmu? Apa kamu benar-benar tidak butuh pekerjaan ini?" ucap Selin kesal."Maaf, tapi calon suamiku terus menggodaku!""Hahaha... Apa kamu cemburu buta tadi? Apa dia mencoba untuk membujukmu agar tidak marah?" tawa Selin."Tentu saja aku cemburu. Ini benar-benar sangat menyebalkan!""Rena, kamu lupa siapa pacarmu itu? Wanita mana yang punya pikiran sebodoh dirimu? Seluruh wanita di dunia pasti ingin punya pendamping hidup seperti Tuan Raihan, tapi kamu....""Kenapa denganku?""Kamu bodoh! Tuan Raihan itu jelas orang hebat dan berpengaruh di kantor ini. Kamu bisa meminta padanya untuk jadi manager atau apapun yang lebih baik daripada
Rena diminta menginap di rumah Raihan, sementara ibu Rena justru pulang kembali ke rumahnya untuk menyampaikan kabar gembira itu pada keluarganya. Bahkan keluarga Raihan meminta ibu Rena untuk tidak lagi bekerja sebagai pelayan di rumah mewah itu, dan memberikan pekerjaan yang cocok untuk ibu Rena saat itu. Ayah dan kakek Raihan berinisiatif untuk membukakan toko elektronik untuk keluarga Rena memulai usaha. Rena yang mendengar setiap ucapan yang dikatakan keluarga Raihan semakin merasa malu dan berhutang budi. Biar bagaimanapun, hal yang dilakukan keluarga Raihan yang terbaik untuk keluarga Rena, tapi merendahkan harga diri Rena sendiri. "Apa yang kamu lamunkan?" tanya Raihan sambil mengajak Rena ke taman belakang rumah. "Keluargamu. Kenapa keluargamu harus ikut campur dalam urusan keluargaku? Bukankah sudah kubilang, aku tidak ingin kamu atau keluargamu mencampuri perekonomian keluargaku. Aku tidak mau dianggap sebagai wanita matre yang memanfaaatkanmu!" "Rena, apa kamu harus s
Keesokan paginya, Rena yang menyadari dirinya tengah tidur bersama lawan jenis tanpa sehelai pakaian pun. Dia segera bangun dan memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Matanya menoleh ke arah Raihan yang masih terlelap dalam tidurnya. Rena mengingat jika tadi malam mereka hampir saja melakukan hal yang seharusnya tidak pernah dia lakukan sebelum menikah."Apa aku sudah dibutakan cinta? Apa aku sudah gila?" ucap Rena menggerutu.Rena masuk ke dalam kamar mandi, dan membersihkan diri. Dia memakai kembali bajunya dan terburu-buru keluar dari kamar Raihan sebelum sang tunangan benar-benar bangun dan mencegah kepergiaannya.Namun saat hendak melangkah pergi setelah menutup pintu kamar Raihan, tiba-tiba ibu Raihan tersenyum dan bertanya pada Rena. Rena terlihat sangat terkejut, melihat kehadiran ibu Raihan yang berada tepat di belakangnya."Matilah aku!" gumam Rena dalam hati."Rena, kamu ada di sini? Aku mencarimu di kamar tamu, ternyata kamu tidur sekamar dengan Raihan ya?" tawa i
Raihan menatap kepergian Rena dengan wajah kecewa. Hingga tiba-tiba seorang wanita cantik menghampirinya dan duduk di samping Raihan. "Amor, mau apa? Kamu belum puaskah dengan jawabanku tadi pagi, aku sudah punya tunangan, dan tidak mungkin menerima cintamu. Lebih baik kamu pergi dan menjaga jarak dariku, aku tidak mau nantinya ada masalah dengan hubunganku dan tunanganku karena kesalahpahaman," ucap Raihan. "Tapi aku dan kamu itu sudah lama menjadi teman, bukan? Kamu tahu sekali jika aku sudah lama menyukaimu. Tapi tiba-tiba aku dengar kamu sudah bertunangan, padahal dulu kamu bilang, kamu tidak akan menikah setelah kegagalan itu. Tapi ternyata kamu mengingkarinya sekarang!" ucap Amor merasa kesal. "Memangnya masalah hati bisa ditentukan sendiri? Aku mana tahu bisa bertemu dengan tunanganku yang sekarang? Kamu pikir selama ini aku pernah punya hubungan dengan wanita lain, setelah Dita kabur dan meninggalkan anak padaku. Aku sendiri tidak menyangka akan ada wanita yang bisa menggoy
Rena dan Tirta berjalan menuju mobil Tirta yang berada di sebrang jalan. Tirta tersenyum senang, beberapa kali terlihat dia menatap Rena dengan penuh rasa kagum. Sementara Rena, bahkan tidak berani menoleh. Entah kenapa ada rasa canggung yang menggelitik di hati Rena. Setelah hampir satu setengah tahun mengagumi sosok pria dihadapannya, akhirnya kesampaian juga bisa jalan bersana pria yang dia suka.Tapi sebelum masuk mobil, tiba-tiba tangan Rena di tahan oleh pria yang berada tepat di belakangnya. Rena menoleh ke arah pria itu, yang tak lain adalah Raihan. Raihan menarik tubuh Rena ke dalam pelukannya."Mau pergi kemana? Kamu kencan dengan pria lain untuk membalasku kah?" ucap Raihan sedih."Kenapa mengejarku? Kenapa tidak bersama model cantik itu saja? Aku mau pergi, malas menghadapi pria menyebalkan sepertimu!" ucap Rena kesal."Aku tidak akan melepaskan tunanganku dan mengizinkan dia pergi dengan pria lain. Enak saja, sudah susah payah mengejar cintamu, lalu aku harus rela kamu pe
Rena yang menatap banyak wartawan di sana segera bersembunyi di belakang tubuh Raihan. Menutupi wajahnya agar tidak tampak di foto dan menjadi sorotan publik."Jangan bergerak! Biarkan aku sembunyikan wajahku!" ucap Rena."Tapi kenapa? Apa kamu malu mengakui aku sebagai calon suamimu?" tanya Raihan."Kamu terlalu hebat! Rasanya tidak ada seujung kuku pun aku pantas berada di sampingmu. Aku akan mempermalukanmu, jika mereka tahu kalau aku adalah anak dari salah seorang pelayan yang bekerja di rumahmu. Aku tidak mau media melihatku!" ucap Rena bersikeras."Baiklah, jika itu yang kamu mau!" ucap Raihan sambil tersenyum."Kamu mau apa?" "Menyembunyikanmu dari media! Aku akan menggendongmu ke dalam pelukanku, dan kamu peluk aku yang erat. Jangan coba-coba menoleh atau menunjukkan wajahmu! Jika kamu menoleh sedikit saja, aku tidak bisa menyembunyikan hubungan kita lagi dari media!" ucap Raihan."Kenapa menjadi tunangan orang kaya begitu merepotkan seperti ini?" keluh Rena."St... Jangan bi
Rena terlihat masih tersipu malu, hal itu membuat Raihan semakin suka menggodanya. Raihan menyodorkan dirinya ke depan wajah Rena, Rena pun terkejut dibuatnya, namun tidak bisa bergerak karena kaget. "Kamu lihat baik-baik pria tampan yang sekarang menjadi tunanganmu ini. Bukankah wajahku ini sangat tampan? Banyak wanita yang antri karena terpesona dengan wajah tampanku. Apa kamu tidak merasa jika kamu sudah menyia-nyiakan kesempatan ini? Kamu punya tunangan setampan aku, tapi apa kamu tidak ingin melakukan apa-apa padaku?" tanya Raihan berusaha bergaya setampan mungkin untuk menggoda Rena. "Aku... Aku..." "Kenapa? Kenapa jadi gugup? Di tempat ini hanya ada aku dan kamu, tidak usah malu jika kamu mau melakukan sesuatu padaku!" ucap Raihan tersenyum manis. "Apa kamu sedang menggodaku sekarang?" tanya Rena. "Tentu. Memangnya kamu tidak tergoda?" tanya Raihan memamerkan bibirnya yang seksi. GLEKK... Rena menelan ludahnya menahan pesona di hadapannya. Sementara Raihan masih bergaya
Setelah selesai bersiap untuk pulang dan memastikan tidak ada wartawan yang datang. Raihan dan Rena mengendap-ngendap keluar dari restoran itu. Rena dan Raihan berjalan pelan menuju parkiran mobil dan keluar dari halaman restoran itu.Rena masih diam, sementara Raihan sendiri bingung memahami eskpresi wajah Rena saat itu. Entah sedang marah, kesal, atau puas, tapi yang pasti Raihan merasa lega karena sudah mengikat Rena dengan hal yang baru saja dia lakukan."Apa yang sedang kamu lihat? Jangan menatapku seperti itu!" gerutu Rena ketus."Kamu masih marah? Aku minta maaf ya?" ucap Raihan sambil menggenggam tangan Rena."Mau bagaimana lagi, sudah terjadi dan tidak mungkin mengulang waktu. Tapi aku tidak mau pulang ke rumah, aku takut!" ucap Rena pelan."Pulang ke rumahku saja ya!" ucap Raihan antusias."Ya, pulang ke rumahmu saja. Aku juga sudah janji pada Alif untuk membantu mengerjakan tugas kerajinan tangannya. Aku tidak boleh mengecewakan Alif," ucap Rena menatap ke arah jendela mobi
Air mata Rena membasahi jas yang dikenakan Raihan. Terlihat kesedihan yang mendalam dari tatapan mata Rena pada Raihan. Isak tangis masih terdengar, membuat Raihan merasa bersalah mengucapkan kata-kata kasar pada istrinya itu. "Maafkan aku! Tidak seharusnya aku meneriakimu seperti tadi. Aku khilaf, maafkan aku!" ucap Raihan mengusap lembut wajah Rena."Kamu jahat! Kamu bisa mengencani banyak wanita tapi kenapa aku tidak? Kamu bisa menempel pada banyak wanita, kenapa aku tidak? Kamu terus mengaturku ini dan itu, tapi pernahkah kamu bercermin untuk menghargaiku sedikit saja? Oh tidak, pria kaya raya sepertimu tidak akan menghargai orang lain. Kamu bisa melakukan apapun, karena kamu punya segalanya dan mampu membeli harga diri orang lain, termasuk harga diri istrimu sendiri!" teriak Rena kesal.Raihan tak bicara, dia menatap istrinya lekat, Raihan merasa sangat bersalah karena membuat istrinya marah padanya saat itu. CUP ...Raihan mengecup bibir Rena, Raihan juga menghapus air mata ya
Rena tersenyum dan akhirnya mengiyakan apa yang dikatakan Raihan padanya. Kini Rena mulai belajar menjadi wakil CEO didampingi oleh sang suami. Rena terlihat bersungguh-sungguh dalam mempelajari setiap hal yang diperintahkan oleh Raihan dan tugasnya sebagai wakil CEO. Tapi saat Rena benar-benar sedang serius, Raihan justru malah menggoda istrinya. Dia terlihat senang memberikan banyak pekerjaan yang bukan pekerjaan Rena sebagai wakil CEO. Rena diminta untuk menulis nama panjang Raihan di kertas seratus lembar. Tak hanya itu Rena diminta untuk memajang foto Reyhan disebelah mejanya. Walaupun terlihat pekerjaannya cukup aneh, tapi Rena berusaha untuk tidak melawan. Dia mengerjakan setiap pekerjaan yang diperintahkan oleh Raihan tanpa perdebatan. Padahal Rena tahu betul jika sang suami saat ini tengah mengerjainya. "Sudah selesai belum, pekerjaan yang barusan aku berikan? Setelah selesai kamu bisa memulai tugas yang lain. Di sini ada beberapa tumpukan dokumen yang harus kamu periksa. H
Raihan tersenyum ke arah Rena, mengecup kening istrinya penuh cinta. Terlihat begitu takut jika kehamilan akan menyiksa sang istri."Jika kamu belum siap, aku bisa menunggu!" ucap Raihan pelan."Kenapa? Tadi kamu yang paling antusias? Sekarang tiba-tiba kamu berubah jadi khawatir seperti itu. Apa yang kamu pikirkan? Tidak mau aku mengandung anakmu? Apa aku tidak layak?" ucap Rena kesal."Hei, tajam sekali mulutmu ini! Aku melakukan itu karena mengkhawatirkan keadaanmu. Aku baru menyadari jika proses memiliki anak butuh perjuangan saat melahirkan. Aku tidak tega jika kamu harus merasakan sakit itu!" "Bodoh sekali! Aku ini wanita. Aku mau punya anak dari rahimku sendiri. Percayalah, aku pasti kuat!" ucap Rena memeluk tubuh Raihan."Benarkah? Kamu sudah siap untuk hal itu?" "Tenang saja, aku sudah siap!" ucap Rena sambil tersenyum.Beberapa hari kemudian, Rena kembali bekerja di kantor Raihan. Dia terlihat serius mengerjakan tugas dari manager Ana tentang desain kantor Amazong. Anggist
Rena meminta banyak hal malam ini, dan mendapatkan semuanya dari kerja keras suaminya. Entah kenapa Rena merasa bangga, menikmati hidup ala kadarnya seperti ini. Yang terpenting di saat hidup tak menjadi seorang sultan, Rena merasa jauh dicintai dan merasa percaya diri mendampingi Raihan. Satu-satunya ketakutan Rena selama ini adalah status Raihan sebagai orang terkaya yang mencolok."Kelihatannya kamu sangat menikmati makan ini ya? Apa kamu suka melihat suamimu jadi pedagang rendahan?" ucap Raihan kesal."Hahaha... Bukan begitu, tapi aku lebih tenang saat kamu bukan siapa-siapa. Terakhir kali, aku dan Amor berdebat karena dirimu. Hari ini, aku dan Sinta juga berdebat karenamu. Sejujurnya aku tidak suka dengan statusmu sebagai sultan. Tidak bisakah kita hidup sebagai rakyat biasa saja?" ucap Rena menyandarkan kepalanya di bahu Raihan."Kamu istriku yang konyol! Saat banyak wanita mendekatiku karena uang, kamu justru malah ingin aku meninggalkan semuanya. Tapi itulah yang membuat aku
Raihan mengunci pintu kamar hotel dengan senyum menggoda. Terlihat jelas keromantisan yang akan terjadi pada Rena dan Raihan saat itu. Hanya dengan sedikit sentuhan, Raihan mampu membuat Rena tak berdaya melawannya.Tubuh mungil Rena membuat Raihan beberapa kali menelan ludahnya. Merasakan nafsunya memuncak hingga ke ubun-ubun. Dalam sekejap, pakaian yang dikenakan Rena lepas dari tubuhnya. Raihan tersenyum menyeringai, menatap tubuh polos itu membuat dia langsung menyerang Rena tanpa aba-aba. Rena hanya mengerang, sesekali tangannya mencengkram kuat punggung Raihan yang berada di atas tubuhnya.Tak lama setelah selesai melakukan aktivitas kegemaran Raihan, Rena terlelap tidur. Raihan dengan bangga memeluk istrinya dan mengusap lembut pucuk kepala Rena. Terlihat wajah bahagia terpancar dari bibir Raihan."Jika kamu benar-benar berhasil mengandung anakku, aku akan semakin menyayangimu. Hal yang paling indah yang kumiliki, adalah menjadikan kamu pasangan hidupku dan ibu untuk putraku, A
Rena kembali masuk ke dalam kamar hotel itu, menahan kesal menghadapi tingkah sekertaris suaminya. Secara terang-terangan dia ingin menjebak Raihan, tentu saja Rena merasa sangat kesal.Raihan tersenyum menatap ke arah Rena, dari atas tempat tidur. Dia masih terlihat lemah setelah menghabiskan waktu untuk bertarung dengan Rena. "Kenapa sayangku? Kenapa dengan ekspresi wajahmu yang menggemaskan itu? Apa kamu sedang marah?" tanya Raihan."Tentu saja aku marah. Sekertarismu bermasalah, sejak datang menemuiku dia terus mengancamku. Cih, dia pikir dia bisa mengancamku? Aku istrimu, aku lebih berhak atas kamu daripada wanita itu'kan?" ucap Rena kesal."Iya sayang, kamu lebih berhak atas aku dibanding siapapun! Jika kamu cemburu seperti ini, aku merasa sangat bahagia. Ayo kita buat adik untuk Alif!" bisik Raihan sambil mengedipkan sebelah matanya."Huh, apa-apaan! Ingin punya anak? Bisakah kamu jaga dirimu dulu agar tidak digoda wanita lain? Bagaimana jika saat aku sedang hamil, kamu digoda
Rena menoleh ke arah sekertaris Raihan yang berada di belakangnya. Merasa bisa menggagalkan rencana sekertaris itu untuk menjebak suaminya. Terlihat Sinta mengerutkan keningnya, menatap kesal ke arah Rena yang berada di dalam pelukan Raihan saat itu. "Kurang ajar! Kenapa wanita bodoh itu harus ikut ke luar kota segala? Jika ini terjadi, maka dia akan mengganggu rencanaku untuk mendapatkan hati Tuan Raihan!" gumam Sinta sambil meremas kesal tangannya sendiri.Rena dan Raihan duduk di kursi belakang mobil, sementara Sinta duduk di depan, disebelah supir pribadi Raihan. Sesekali mata sekertaris itu menatap ke arah Rena dan Raihan melalui kaca spion mobil. Rena yang sadar gerak-geriknya sedang diperhatikan, dengan sengaja memeluk mesra suaminya. Dia bisa melihat sekertaris itu terlihat kesal, ajang untuk memanas-manasi hati Sinta berjalan dengan sukses."Sayang, kenapa tiba-tiba kamu manja seperti ini? Apa yang terjadi padamu?" tanya Raihan seolah tahu ada hal yang tak biasa terjadi pad
Rena terkejut, dia dengan wajah bahagia menerima rangkaian bunga yang diberikan Raihan. Saat Raihan memberikan kotak perhiasan, Rena membuka kotak itu dengan gugup. Ternyata sebuah kalung canting dengan batu permata merah diberikan Raihan untuk Rena. Rena mengembangkan senyumnya, memeluk mesra suami yang ada di hadapannya."Terima kasih sayang," ucap Rena masih menenggelamkan wajahnya di tubuh Raihan."Apa kamu suka?" "Sangat suka, terima kasih!" ucap Rena mempererat pelukannya.Wanita-wanita sosialita yang ada diacara itu, menatap iri pada Rena. Tidak ada yang mengira jika Tuan Raihan yang dikenal arogan, cuek, dan pekerja keras itu, mampu memberikan kejutan manis untuk istrinya. Bisik-bisik itu membuat Rena enggan melepaskan pelukannya di tubuh sang suami."Sayang, lepaskan pelukanmu dulu! Aku mau pakaikan kalung ini untukmu," ucap Raihan sambil mengambil kalung dan memasangkan kalung itu di leher Rena.Semua orang bersorak-sorai menatap ke arah Rena dan Raihan. Senyum terukir inda
Septina dan Erlina menatap ke arah Rena dengan senyum bersinar di wajah mereka. Seolah tidak percaya jika sahabat mereka tidak bohong tentang status pernikahannya dengan CEO pemilik perusahaan. "Rena, aku tidak mengira jika kamu benar-benar istri rahasia Tuan Raihan. Kenapa kamu menyembunyikan statusmu sebagai istri Tuan Raihan?" ucap Erlina sambil tersenyum. "Aku sudah bilang waktu itu, tapi kalian tidak percaya. Aku mau bilang apa, jika kalian tidak percaya padaku!" ucap Rena mulai memetik dokumen di tangannya. "Maafkan kami karena kami sempat tidak percaya dengan ucapanmu. Wajarlah kami meragukanmu, kamu bahkan tidak terlihat seperti seorang nyona besar. Kamu bahkan masih masih menjadi desainer rendahan setelah hubunganmu dan Tuan Raihan terkuak di media sosial. Apa yang kamu pikirkan?" ucap Septina bingung. "Memangnya hal mengasyikkan apa yang bisa dilakukan sebagai istri CEO kaya?" tanya Rena. "Apa kamu bertanya hal seperti ini pada kami? Tentu saja kami akan menghabiskan u