Selly terus saja mengawasi anaknya dari kejauhan, dan sesuai dengan rencana dari sang mama jika hari ini ia akan menjemput Sasa dan membawanya pergi bersama. Ia terus menunggu diseberang sekolah, berharap Antonio segera pergi dan ia bisa mendekati anaknya.
"Brengsek, kenapa nggak pergi juga sih. Panas," keluhnya mengipasi wajahnya dengan tangan.
Lama menunggu akhirnya mereka semua pergi juga, Bulan yang pada awalnya ingin menemani cucunya sekolah terpaksa membatalkan niatnya. Ia harus pergi bersama Darma suaminya untuk menghadiri perjamuan di Bandung hari ini juga.
"Papi nanti turunin aku didepan aja, supir perusahaan udah jemput juga kok," ucap Nio.
"Ehm, " singkat Darma.
Sasa mengikuti kelasnya dengan patuh seperti biasanya, namun entah mengapa ditengah pelajaran ia menangis dan menjadi ketakutan sendiri. Sang guru berusaha menenangkannya namun Sasa justru menangis dan menghindarinya.
"Telpon orang tuannya saja bu," ucap guru yang lainnya.
"Dia anak saya!"Ucapan Selly menekankan status dirinya bagi Sasa, semua guru hanya bisa menatap mereka bedua. Tak satupun dari mereka yang berani melerai saat melihat sorot membunuh dari Selly pada Sabrina."Anda salah orang, Sasa adalah anak saya! Lepaskan tangan anda dari saya," balas Sabrina.Selly tak menghiraukan ucapan Sabrina, ia malah dengan sengaka mengeratkan cengkramannya hingga Laisa memekik kesakitan. Sasa marah melihat mamanya diperlakukan kasar."Lepaskan mama aku," teriaknya sambil memukuli tangan Selly."Saya mama kamu, bukan dia," bentak Selly."Jangan berani membentak anak saya, anda hanya beruntung saja bisa melahirkan dia," lirihnya namun menekan setiap katanya."Akhhhhh," teriak Selly saat Sasa menggigit tangannya."Tolong perketat penjagaan sekolah ini, saya hanya tidak ingin suami saya memindahkan anak saya ke sekolah lain," pesannya sebelum membawa Sasa keluar."Nyonya Sabrina kalau marah serem
Selly terdiam dan hanya menuruti kemana mereka ingin membawanya, pisau itu masih sangat nyaman berada dipinggangnya."Stop," seru laki-laki tersebut.Selly menghentikan mobilnya, ia bahkan tak bisa menggerakan kepalanya karena rasa takutnya. Tubuhnya bergetar hebat, namun ia terus menahannya agar tak terlalu terlihat."Siapa kalian ini, apa yang kalian mau dari saya?""Cukup mudah. Jangan pernah mengusik nona kami. Perhatikan sikap anda, jangan sampai kita bertemu lagi.""Siapa nona kalian, apa hak dia melarang saya," kesalnya yang tersulut emosi.Laki-laki itu menusukkan ujung pisaunya hingga membuat Selly mendesis kesakitan. Tangannya mencengkeram kuat kemudinya, matanya terpejam untuk mereda rasa sakit yang kini dirasakannya."Baik, baik. Saya tidak akan menganggu nona kalian lagi.""Ingat kata-kata anda ini.""Iya, saya tahu.""Kita pergi sekarang," serunya yang diikuti oleh para anak buahnya kelua
Mata Marshel memicing menatap Sabrina yang sedang berdiri dihadapannya, dengan cepat Sabrina memberikan isyarat untuk tidak membahas hal itu dimuka umum ."Yaudah kita ketemu nenek gimana," ajak Marshel."Hore, Sasa ketemu nenek," girang bocah kecil tersebut.Marshel membawa keduanya kembali kerumah, Lena juga Rizal begitu tak sabar menunggu kedatangan mereka. Suara klakson berbunyi membuat Lena segera berlari meninggalkan dapurnya menuju halaman depan."Nenek," teriak Sasa saat melihat Lena ada didepan pintu menyambutnya."Aduh cucunya nenek, udah makan belum ini?""Belum, Sasa laper banget ini nek," menyentuk perutnya dengan ekspresi yang begitu menggemaskan.Lena mengajak semuanya masuk, Marshen sendiri menuntun sang adik untuk masuk kedalam rumah miliknya. Dan benar saja, baru saja masuk Sabrina sudah disuguhi dengan foto keluarga Marshel yang terpajang begitu besarnya."Akhh, kepalaku," rintihnya menghentikan langkah
Hari sudah mulai gelap saat Antonio tiba dirumah Rizal, ia merasa bersalah dengan istri juga anaknya karena terlalu lama menjemputnya. Pekerjaan hari ini benar-benar membuat ia menjadi sibuk."Maaf ya ayah, Nio terlalu lama meninggalkan istri juga anak Nio," sesalnya yang tak enak hati."Ngomong apasih, Sabrina juga anak ayah. Terima kasih karena kamu sudah memberi kami waktu bersama," ucap Rizal sambil menepuk bahu menantunya tersebut."Perlahan aja yah, Nio janji bakal bantuin Sabrina mengingat masa lalunya," disambut senyum hangat Rizal padanya."Udah datang loe, gue kira malam ini adek gue nginep disini," canda Marshel yang baru datang."Lain kali aja deh," balas Nio santai."Papaa," teriak Sasa yang berlari lalu meminta gendong pada papanya."Kita makan malam sekalian ya, kebetulan tadi Sabrina masak."Setelah makan malam, Nio mengajak anak juga istrinya kembali kerumah. Sasa begitu lelah hingga tanpa sadar ia tertid
Nio benar-benar tak habis fikir dengan apa yang dilakukan oleh sang istri, hal yang begitu membahayakan dengan santainya ia lakukan dan bahkan ketika ia meminta Sabrina turun tak ada sedikitpun rasa takut melihat kebawahnya."Ngapain kamu tidur diatap," tanyanya dengan nada tegas ketika ia mendudukan sang istri.Sabrina yang tak merasa bersalah hanya terdiam menatap sekelilingnya dengan kebingungannya, ia merasa tidur diatas atap adalah hal biasa sebeb ia sering melakukan hal tersebut ketika dihukum oleh Carisa namun ia tak tahu jika kini hal itu membuat semua orang sangat ketakutan."Apa ada yang salah dengan hal itu," tanyanya tanpa rasa bersalah sedikitpun."Astagaa," berdiri dan mencengkeram kuat kepalanya sendiri. Nio hampir kehilangan kontrol emosinya ketika menatap sang istri."Nak, lain kali jangan sembarangan tidur lagi ya. Kalau nggak nyaman dikamar bisa tidur dikamar lainnya," tutur Bulan lemah lembut."Maaf ya kalau udah bu
Sabrina kesakitan, tangannya begitu sakit akibat pukulan dari tongkat Selly terhadapnya. Sasa yang melihat mamanya kesakitan dengan segera turun dari mobil dan memeluk tubuh mamanya."Mama, mama yang mana yang sakit," tanyanya penuh dengan kekhawatiran."Sayang mama baik-baik saja kok, kamu masuk ke mobil lagi ya," pintanya mengelus kepada anaknya."Wanita jahat, nakal. Berani sekali melukai mamaku, aku kutuk kamu jadi cacing," marahnya menatap tajam Selly penuh dengan kemarahan."Hahahaha, dasar bocah. Kebanyakan baca dongeng sih ya gini, sini ikut mama biar mama kasih pelajaran kamu," menarik tubuh Sasa dengan paksa."Mama tolong, nggak mau lepasi. Mama.""Lepasin Sasa, lepasin anak gue.""Brisik banget," menekan luka dibahu Sabrina."Akhhh.""Mamaaa," teriak Sasa saat dibawa pergi oleh Selly entah kemana.Sabrina yang kesakitan mencoba tenang, ia tak boleh panik agar tahu apa yang harus dilakukannya. Ia m
Nio begitu geram saat kembali menatap wajah angkuh dari mantan istrinya tersebut, wanita yang dulu pergi meninggalkan dirinya juga anaknya. Tangannya terkepal kuat menahan diri untuk memukul langsung Selly didepannya."Berapa nyali yang anda miliki sampai berani melukai nyonya Antonio?""Bahkan gue sudah berbaik hati hanya mematahkan satu tangannya saja, " sombongnya memancing kemarahan Nio.Nio yang murka mencekik leher Selly dengan begitu kuatnya, Sabrina segera menyerahkan Sasa pada salah seorang pengawal dan memintanya membawa Sasa pergi dahulu."Tenang hubby," ucap Sabrina membelai punggung Nio suaminya."Munafik, berani sekali merebut kedudukanku sebagai nyonya Nio juga mama kandung Sasa.""Anda perlu berkaca diri nona Selly. Anda yang dengan sadarnya pergi meninggalkan keluarga kecil anda sekarang menghina saya merebut itu semua, bodoh," seru Sabrina memberikan tekanan pada Selly. "Pergi, bawa dia. Lakukan se
Tak ada yang bisa Nio lakukan untuk menghilangkan rasa sakit ditangan istrinya, ia hanya bisa menemaninya sambil terus tersenyum kepadanya. Hanya semangat yang kini Sabrina butuhkan, hanya keselamatan Sasa juga keluarganya yang menjadi keutamaannya."Selamat pagi sayang," ucapnya ketika Sabrina baru membuka matanya."Pagi hubby," tersenyum begitu manisnya."Apa masih sakit," tanyanya mencium lengan juga tangan istrinya yang di gips.Sabrina tahu kekhawatiran suaminya, ia tak bisa menghibur dengan berpura-pura kuat atau dalam keadaan baik-baik saja. Sabrina hanya bisa tersenyum sambil memeluk tubuh sang suami dengan penuh kasih sayang."Semua akan baik-baik aja, " ucap Sabrina dalam dekap hangat tubuh Antonio.Tak ada kata-kata, Nio hanya menghujani istrinya dengan kecupan kasih sayang. Dengan telaten juga membantu istrinya mandi juga mengganti pakaiannya."Mama," gumam Sasa yang melihat Sabrina berjalan sambil dituntun Nio
chapter I Semua siap dan semua telah lengkap. Penghulu menjabat tangan Ardan, dengan sekali nafas Ardan kini telah resmi menyunting Tian sebagai istrinya. Sah.. Sah.. Sah.. Seru semua orang dengan gembira, tangis pecah melihat keduanya telah resmi menikah. Tak banyak memang undangannya, namun itu adalah semua orang yang ada dipihak Tian kedepannya. Semua kolega Prambu yang setia siap berdisi di belakang Tian dan memperjuangkan hak miliknya. Acara pasang cincin usai, kini Tian mengambil tangan Ardan dan menciumnya. Hatinya berdesir merasakan bibir Tian melekat dikulitnya secara langsung, hatinya menghangat begitu. Tanpa di duga Ardan juga menggerakkan tangannya, meletakkan tangannya tepat di kepala Tian saat istrinya itu mencium punggung tangannya. Kini berganti Ardan yang mencium kening istrinya, cukup lama kala bibir itu mengecup langsung kulit istrinya. "Gadis yang selama ini sudah kuanggap sebagai adikku kini sudah resmi ku nikahi," batin Ardan. chapter II Tanpa menjawab
Matius terkejut dengan penolakan dari Selly, ia tak menyangka jika rasa marahnya begitu besar melebihi rasa rindunya. Matius tahu apa kesalahannya, ia juga menerima semua yang Selly lakukan padanya.Matius hanya ingin hidup bahagia bersama keluarga kecilnya, hidup normal seperti orang pada umumnya. Namun sebelum itu ia harus menebus semua kesalahannya, ia harus menyelesaikan semua masa lalunya yang begitu kelam itu."Maaf," lirih Matius mencoba meraih tangan Selly di depannya.Selly murka, ia melampiaskan semua kemarahannya saat ini juga. Ia mengamuk, memukul Matius bahkan juga menghancurkan semua barang yang ada di ruangan tersebut."Bodoh kamu, kamu pergi dari sini. Pergi temui istrimu itu, jangan pernah muncul lagi di depanku!" teriaknya dengan begitu kencang."Tolong dengerin dulu, sebentar saja." mohonnya.Selly terus mengamuk, mengabaikan semua ucapan Matius yang ingin berbicara dengannya. Hingga Matius begitu geram d
Matahari hari ini bersinar dengan begitu teriknya, Sabrina yang awalnya ingin berkeliling dengan si kembar ke taman pada akhirnya mengurungkan niatnya. Ia lebih memilih bersantai di dalam rumah sembari menikmati buah-buahan yang Bulan sediakan."Anak cantik mama lagi apa ini, kenapa jarinya di emut-emut gitu?" tanyanya dengan begitu gemas."Aduh, ini si ganteng malah kakinya yang di emut-emut." menepuk keningnya dengan seulas senyumannya.Hari ini semua orang tengah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, para laki-laki sibuk bekerja sedang Bulan sedang menemani Lena mengatur acara pernikahan anak-anaknya. Sedang Ica hari ini meminta ijin untuk kembali ke Jogja, awalnya Marshel melarangnya dengan berbagai alasannya namun Ica yang keras kepala pada akhirnya memenangkan pertempuran itu.Ica sedang ada di dalam kendaraannya menuju rumahnya, ia di jemput dengan anak buahnya yang selalu setia mengawalnya kemanapun perginya. Namun tiba-tiba Ica mengubah tujuan
Stevan segera mendapat penanganan dari dokter, wajahnya yang semakin pucat membuat Sabrina juga Nio menjadi semakin pucat. Sedang Stevi terlihat dengan pulas tertidur dalam gendongan sang papa."Gimana ini hubby, kenapa dokter lama banget di dalam?""Sabar, kita tunggu aja di sini."Dan tak lama dokter keluar. Sabrina segera saja memberondong dokter tersebut dengan berbagai pertanyaannya, hingga tanpa sadar dokter tersebut menyunggingkan senyum manisnya."Dokter lagi godain istri saya ya?" ketus Nio melihat dokter laki-laki itu tersenyum menatap istrinya."Oh maafkan saya pak, bukan maksud saya ingin menggoda istri anda. Namun saya hanya tersenyum ketika tahu ternyata saya sedang berhadapan dengan ibu baru," jelasnya dengan begitu ramah.Plakk,"Hubby apaan sih, bisa-bisanya cemburu saat kayak gini," kesalnya."Lalu gimana anak saya dok?""Gpp, hanya demam karena perubahan cuaca saja. Hari ini juga bisa langsung di
Mata Ica terbuka dengan tiba-tiba, posisi yang begitu kurang nyaman bagi keduanya saat ini. Wajah Marshel begitu dekat dengan wajah Ica, sangat dekat hingga Ica dapat merasakan deru nafas Marshel yang menerpa wajahnya."Ehm, udah bangun ya." canggungnya membuka suara."Iya. Ini kayaknya terlalu dekat deh kita," sahut Ica dengan wajah memerahnya menahan malu.Dengan cepat Marshel menegakkan tubuhnya, berdiri membuang muka ke sembarang arah. Sedang Ica kini juga bangkit membenarkan posisinya, wajahnya sudah sangat merah seperti udang rebus."Loe ngapain di sini?" tanya Ica menutupi rasa canggungnya."Heh, aku kamu. Kenapa jadi loe gue lagi sih," omel Marshel."Iya, iya. Kamu kenapa di sini? Bukannya tadi lagi kerja ya?""Pulang, di suruh sama bunda. Kamu kenapa, tidur sambil nangis?"Ica belum siap membuka kembali lukanya, ia masih tertutup rapat bahkan tak pernah membukanya. Kini ia hanya ingin hidup seperti pada normalnya
Hari ini semua orang tengah sibuk mempersiapkan acara pertunangan Ica dengan Marshel, semua nampak antusias menjelang acara bahagia tersebut. Sabrina yang tak bisa bergerak leluasa bertugas merangkai bunga bersama kedua buah hatinya, sedang yang lainnya mengawasi petugas dekornya."Sebelah sini ya mas, tolong agak di penuhi lagi jadi biar nggak lubang." seru Bulan."Sebelah sini aja mas bagus, iya itu nanti taruh di sana aja biar bisa buat duduk." sibuk Lena mengarahkan orang-orang.Semua nampak begitu sibuk, sedang Ica sedang berada di kamarnya menikmati spa yang di sediakan Sabrina khusus untuk dirinya. Tak ada para lelaki yang menemani, hanya ada para wanita tangguh sebab laki-laki sedang bertugas mencari nafkahnya."Bun, ini taruh di mana ya?""Wah bagus banget sayang kamu ngerangkai bunganya," takjubnya dengan hasil rangkaian sang putri."Bisa aja, udah ini taruh mana? Berat tau," keluhnya."Sini, biar bunda aja yang bawa ya. Kam
Marshel terus mencari keberadaan Ica di dalam rumah, namun sudah semua tempat ia periksa masih juga tak bisa menemukan calon istrinya itu. Tak mungkin jika Ica pergi bersama Bunda, sebab Bunda sedang berada di rumah sakit untuk terapi ayah."Kemana lagi itu anak keluar nggak bilang-bilang," gerutunya.Berkali-kali ia mencoba menghubungi Ica namun tak satupun panggilan atau pesan yang mendepat respon dari lawannya. Semakin geram saat Marshel memikirkan ide Ica lalu untuk membalas kelakuan Selly."Jangan-jangan?"Rasa panik segera menyelimutinya, ia meraih kunci mobil yang ada di dekatnya. Namun baru saja akan melangkah, orang yang sedari tadi di carinya tiba-tiba muncul dengan senyum merekah di wajahnya."Loh, mau kemana?" tanya Ica dengan polosnya."Kenapa sih? Orang nanya itu di jawab, bukannya di pelototin gitu," omelnya.Tak habis fikir Marshel dengan jalan fikiran wanita di depannya itu, bisa-bisanya tak mengerti dengan ke k
Sudah satu bulan sejak lahirnya kedua bayi mungil itu di tengah-tengah mereka, hari-hari Sabrina juga begitu sibuk dengan ketiga bayinya termasuk sang suami yang menjadi bayi kembali diantara anak-anaknya."Hubby ayo buruan, kasian stev udah dingin ini." teriak Sabrina dari dalam kamar mandi.Benar saja, keduanya bersama-sama merawat kedua bayi itu tanpa bantuan suster sebab Sabrina merasa masih sanggup mengurus buah hati mereka. Masih ada mami juga bunda yang setiap harinya selalu membantu menjaga kedua bayi lincah itu.Pagi ini penuh dengan teriakan Sabrina karena merasa kesal dengan suaminya, tugas melepas baju Stevi si bayi cantik itu hanya memakan waktu 10 menitan namun di tangan Nio itu bisa memakan waktu lebih dari 30 menit."Hubby buruan atau keluar dari kamar," teriaknya lagi dengan seluruh kekesalannya."Iya mama, kami datang." serunya dengan rasa tak bersalahnya.Kini keduanya duduk berhadapan dengan masing-masing bayi di tanganny
Deru mobil mulai terdengar, semua orang bersiap dengan berbagai hal di tangannya masing-masing. Terlihat Syan bersama Lili membawa sebuah gulungan berdua, entah apa itu isinya. Dan,"Surprise," teriak semua orang bersamaan.Jantung Sabrina terasa berdetak begitu cepat karena rasa terkejutnya, beruntung si kembar tak mendengar teriakan menggema tersebut.Mata Sabrina berkaca-kaca ketika menatap semua orang di depannya, dengan takjub ia melihat rumah yang ternyata sudah di dekor dengan begitu indahnya demi menyambut ke datangannya. Sabrina tak dapat menahan air mata harunya, ia menangis menutup wajah dengan kedua tangannya."Terima kasih semua," ucapnya dengan sesegukan dalam pelukan sang suami."Mana cucu kami?""Ada di bekang, ayah tunggu aja nanti juga masuk si kembar," seru Antonio.Mata Sabrina memicing melihat sebuat tulisan yang di bentangkan Lili bersama Syan. Dengan penasaran ia mencoba mendorong sendiri kursi rodanya unt