Satu minggu berlalu, Marissa kini sedang berada di kontrakan tempat Farissa tinggal untuk menjemput cewek itu.Marissa berencana mengajak Farissa mengambil hasil tes DNA mereka di rumah sakit. Tapi sebelum itu mereka sarapan dulu di rumah Farissa. Mereka memakan pizza sebagai menu sarapan mereka."Kamu ketemu kucing ini dari mana?" Marissa menunjuk Puppy yang berada di pangkuan Farisssa."Ketemu dijalan," jawab Farissa."Gak ada yang punya?" Marissa kembali bertanya."Aku aja ketemu Puppy pas Puppy lagi kelaparan. Kalau misal ada yang punya pasti gak bakal membiarkan peliharaannya hilang dan kelaparan," ujar Farissa.Marissa geleng-geleng kepala. Merasa takjub dan pemikiran Farissa.Setelah memakan pizza, mereka pun keluar dari kontrakan. Marissa sengaja memakai masker dan kacamata hitam agar orang-orang tidak menyadari bahwa wajahnya sangat mirip dengan wajah Farissa.Di depan rumah sebelah kontrakan Farissa, ada Sky yang sedang duduk santai sambil menikmati secangkir teh."Hai, cowo
Pukul tujuh malam, Aurin dan Abraham sudah kembali ke rumah. Marissa dan Farissa melihat kepulangan Aurin dan Abraham lewat jendela kamar Marissa.Mata Farissa berkaca-kaca. "Ternyata mereka orang tuaku," ucap Farissa dalam hati.Marissa yang melihat Farissa hampir menangis pun mengelus-elus punggungnya untuk menenangkannya. Mereka berdua pun keluar dari kamar dan menuruni tangga.Bibi Ambar yang membantu membawakan barang-barang Aurin dan Abraham pun syok saat melihat ada dua Marissa. Tapi Marissa segera mengangkat tangan kanannya sebagai tanda agar Bibi Ambar tidak bertanya.Aurin dan Abraham sibuk bercanda dan tertawa saat memasuki rumah. Tawa mereka pun seketika berhenti saat melihat Marissa dan Farissa. Ruangan menjadi hening, semuanya sibuk menatap Marissa dan Farissa."I-ini siapa? Mana Marissa yang asli?" Aurin bertanya kebingungan."Aku Marissa asli. Aku memakai kalung pemberian Roy dan cincin pemberian Papa Mama. Aku sengaja cat rambutku berwarna silver sebagai identitas bar
Jam dua pagi Marissa terbangun dari tidurnya. Tidak biasanya ia bangun dini hari. Semalam ia tidur sangat nyenyak tanpa mimpi.Ia membuka ponselnya. Terdapat notifikasi pesan dari Roy jam sepuluh malam. Marissa pun membukanya.Roy: Hai, cantik. Udah tidur, ya?Roy: Padahal aku mau kirim martabak buat kamuRoy: Martabaknya udah aku kirim yaMarissa tersenyum. Tapi seketika senyumnya pudar saat melihat status Roy sedang online."Kebiasaan, begadang terus," ucap Marissa dalam hati.Marissa: Kenapa blm tidurRoy: Eh, maaf sayang. Aku tadi lagi ngurus tugas osis terus aku istirahat bentar buat main ponsel eh malah keterusan heheMarissa: 😒Roy: Hehe, maaf sayang. Kamu sendiri kenapa jam segini belum tidur. Aku kira udah tidurMarissa: Aku kebangunRoy: Ya udah lanjut tidur lagiMarissa: BentarMarissa: *picture*Marissa: Itu foto rambut baru aku. Cantik kan?Roy: Bagus banget sayang. Cocok sama mukamu yang imutMarissa: Syukurlah. Aku kira kamu gak sukaRoy: Suka, dong. Apapun yang berkait
Marissa menatap kebingungan tempat ia berada. Ia kini berada di sebuah labirin yang sangat besar. Marissa bertanya-tanya kenapa ia bisa berada di labirin."Selamat datang, Marissa. Kamu sudah bergabung dalam permainan ini. Untuk keluar dari sini, kamu harus mengikuti langkah-langkahnya." Sebuah suara muncul dengan sangat keras.Tidak ada orang atau siapapun selain Marissa di sini. Lantas suara siapa itu?"Hal yang harus kamu lakukan adalah mencari mawar merah yang akan menjadi kunci agar kamu bisa keluar dari sini.""Mawar merah? Dimana aku harus mencarinya?" Marissa berteriak.Tidak ada jawaban. Marissa masih berusaha bertanya dengan berteriak. Tapi tetap tidak ada jawaban.Akhirnya Marissa mulai menyusuri labirin itu. Saat ia sudah mencapai belokan ke empat, ia melihat ada ada seorang ibu hamil berbaju merah yang akan melahirkan. "Kenapa bisa ada ibu hamil di tengah-tengah labirin?" Marissa bertanya dalam hati.Marissa pun mendekati wanita hamil itu. "Bu Ibu tidak apa-apa?" Marissa
Marissa tersadar. Ia langsung mendudukkan dirinya sendiri. Paman Pandu pun sudah membuka matanya"Syukurlah," ucap Abraham dan Aurin bersamaan.Marissa masih mengingat jelas apa yang ia alami di alam bawah sadarnya. Ia seperti habis mengalami lucid dream."Untungnya, ada Alard yang membantu Marissa keluar dari jebakan mimpi yang dibuat oleh Azalah. Jika Alard tidak menolong, niscaya Marissa tidak akan selamat,' tutur Paman Pandu.Abraham dan Aurin saling pandang lalu menunduk."Maafkan Papa dan Mama. Karena kesalahan kami, kalian anak-anak Papa dan Mama harus merasakan berbagai kesengsaraan," ujar Aurin."Semua sudah terjadi. Yang penting sekarang Mama dan Papa tahu 'kan kalau Alard itu baik? Walaupun dulu mata batinku tertutup, Alard tetap setia menemani dan menjagaku hingga detik ini," sahut Marissa."Iya, kami tidak akan memisahkan kalian berdua lagi," ucap Abraham."Paman Pandu, terima kasih banyak. Anda selalu menolong kami. Ini kami ada sedikit rejeki untuk Paman Pandu. Mohon di
Gelang kain berwarna hitam terpasang sempurna di pergelangan tangan Marissa dan Farissa. Marissa dan Farissa mengacungkan dua jari mereka atau peace di sebelah wajah mereka."1, 2, 3." Marissa menghitung.Cekrek cekrek cekrekMarissa mengambil banyak foto selfie mereka berdua."Fotoin aku di pantai dong," pinta Marissa kepada Farissa.Marissa pun berjalan ke pantai diikuti Farissa. Marissa berdiri membelakangi Farissa dengan kepala menoleh ke belakang sambil tersenyum. Kedua tangan Marissa memegang kedua sisi gaun yang ia pakai.Farissa membungkuk lalu memotret Marissa dari bawah dan belakang. Farissa lalu memotret Marissa dengan berbagai macam gaya dan angle. Setelah itu, Marissa gantian memotret Farissa.Farissa dan Marissa sama-sama memposting foto mereka berdua di Instagram. Tak disangka, Sky langsung memberikan like ke postingan Farissa yang baru saja di post.Farissa refleks menoleh ke arah Sky yang sedang duduk. Sky memberikan senyumnya kepada Farissa yang membuat darah Farissa
Roy dan Marissa duduk di taman belakang rumah Marissa. Mereka memakan martabak sambil berbincang banyak hal."Aku baru tahu kalau kamu punya kembaran," ujar Roy."Iya, soalnya Farissa selama ini sekolah di asrama dan baru keluar beberapa minggu yang lalu.""Kakau kamu gak warnain rambutmu pasti aku susah bedain antara kamu dan Farissa," ucap Roy sambil tertawa kecil."Iya, kami memang sangat mirip.""Iya, sumpah. Pas aku lihat postinganmu di instagram juga gak bisa bedain mana kamu mana Farissa."Marissa hanya menanggapinya dengan tersenyum."Makasih ya Roy jajanannya. Ini banyak banget sampai dua kresek besar," ujar Marissa."Kalau buat kamu aku juga rela kalau ngasih jajanan saru truk," celetuk Roy."Nanti aku gendut kalau ngemil satu truk," canda Marissa.Mereka berdua pun tertawa bersama.Tanpa mereka sadari, dari balik jendela kamar Marissa ada Farissa yang menatap nanar ke arah Marissa dan Roy."Soal nasib, takdir, kasih sayang, dan hal-hal berharga lainnya, kamu selalu lebih un
Pukul empat sore, Farissa dan kedua orang tuanya sudah pulang ke rumah. Kepulangan mereka disambut oleh Marissa yang sedang menyiram tanaman.Setelah keluar dari mobil, Farissa langsung berlari dan memeluk Marisaa."Marissa, aku bawa sesuatu buat kamu," seru Farissa."Wah, apa?" Marissa menyahut."Tadaaa." Farissa menunjukkan sebuah paper bag dengan logo brand skincare terkenal. Seketika pupil mata Marissa membesar. "Wah, thank you!""Sama-sama. Tadi aku beli banyak barang-barang untuk kamar baru aku. Ada kasur, lemari, selimut, pakaian, bantal, meja belajar, kursi, AC, dan lain-lain."Bertepatan dengen itu, muncul mobil pick up yang memasuki halaman rumah Marissa. Di dalam mobil pick up tersebut ada barang-barang yang disebutkan Farissa.Jika Abraham, Aurin, dan Farissa bahagia melihat kedatangan mobil pick up tersebut. Lain halnya dengan Marissa yang justru menatap sang sopir dengan dahi berkerut. Marisaa melihat ada hantu wanita yang menempel di punggung sang sopir.Marissa pun ber
"Aku, Sky Putra Raja, menjadikanmu, Farissa Putri Abraham, istri ku, untuk kumiliki mulai hari ini dan seterusnya, dalam keadaan baik, buruk, sehat, sakit, kaya ataupun miskin, hingga kematian memisahkan kita," ucap Sky lantang."Aku, Farissa Putri Abraham, menjadikanmu, Sky Putra Raja, suamiku, untuk kumiliki mulai hari ini dan seterusnya, dalam keadaan baik, buruk, sehat, sakit, kaya ataupun miskin, hingga kematian memisahkan kita," balas Farissa.Mereka pun berciuman dan berpelukan. Riuh tepuk tangan kembali terdengar. Para pemain musik mulai memainkan musik hingga terdengar alunan musik yang indah yang membuat suasana menjadi semakin hangat.Seluruh keluarga dan kerabat pun berfoto bersama dengan kedua pasangan pengantin. Setelah itu, diadakan acara lempar bunga. Marissa dan Farissa pun membelakangi para tamu lalu melempar buket bunga ke belakang.Yang menangkap kedua bunga tersebut adalah Nia dan seorang laki-laki bernama Joy. Joy adalah teman kampus mereka. Bertepatan dengan itu
Roy: Aku mau ngelamar kamuMarissa terkejut dan membeku saat membaca pesan dari Roy. "Ya Tuhan, ini beneran?" gumamnya.Marissa: Kamu serius?Roy: Seriuslah. Aku sama Bunda udah nyiapin seserahan. Kami akan kerumahmu nanti sore. Dandan yang cantik ya, sayang.Marissa merasa senang, cemas, bingung pokoknya semua rasanya seperti campur aduk. Ia sampai berjingkrak-jingkrak saking merasa campur aduk. Ia memandangi dirinya di depan cermin sambil berucap, "Serius cewek kayak aku mau dilamar nanti? Acak-acakan gini kayak orang utan kok bisa cepat dapat calon suami, ya.""Tapi aku memang cantik, sih," lanjutnya sambil berpose layaknya model."Aku harus nyiapin pakaian buat nanti." Marissa buru-buru menggeledah lemarinya. Banyak baju yang ia hamburkan hingga menjadi berantakan. "Aduh, aku harus pakai yang mana?" Marissa frustasi. "Oh iya. Lebih baik aku bilang ke Mama Papa sekalian tanya saran pakaian yang cocok dipakai nanti."Marissa pun keluar kamar dan berjalan ke kamar kedua orangtuanya.
"Dari hasil pemeriksaan, pasien dinyatakan hamil." Ucapan dokter membuat tubuh Anggun membeku."A-apa? Aku hamil?" Anggun berucap tak percaya."Iya. Usia kandungannya baru dua minggu. Tolong dijaga baik-baik kandungannya. Saya akan beri vitamin dan surat kontrol. Nanti bisa kontrol ditemani suaminya.""Suami? Apakah dunia sedang bercanda?" ujar Anggun dalam hati.Marissa menatap Anggun dengan tatapan kasihan. Dia ingin menyadarkan Anggun melalui kata-kata tapi ia tak tega melihat wajah Anggun yang pias. Setelah keluar dari ruangan dokter, Anggun menangis sejadi-jadinya."Maafkan aku, Mar. Mungkin ini karma karena aku berniat mencelakaimu. Tolong bantu aku… aku harus bagaimana?""Aku sudah memaafkanmu. Kamu harus sabar dan ikhlas menerima anak di rahimmu. Bagaimanapun dia bayi tak berdosa. Jangan kamu sakiti apalagi menggugurkannya. Kamu tidak mau 'kan terjadi hal buruk lagi? Maka jaga kandunganmu.""Lalu bagaimana dengan kuliahku?""Kamu bisa menggunakan pakaian oversize ketika ke kamp
Marissa tidak berangkat sekolah karena ia masih merasa lemas dan tak bertenaga. Kini dia hanya duduk bersandar ke headboard sambil menonton film. Tiba-tiba terdengar suara motor Roy yang sangat Marissa hafal.Marissa pun berhenti memutar film lalu beranjak dan turun ke lantai bawah dan menghampiri Roy. "Aku gak berangkat kuliah. Maaf gak ngabarin kamu karena aku lupa."Roy menyerahkan beberapa batang coklat kepada Marissa. "Cepat sembuh, sayang."Marissa menerimanya dengan senang hati. "Terima kasih, Roy." Ia mengecup pipi Roy.Roy melotot kaget. Ia memegangi tangan Marissa lalu meremasnya. "Aaa aku salting berat. Kamu harus tanggung jawab."Marissa mengecup pipi Roy lagi. "Aku sudah tanggung jawab.""Itu malah bikin aku tambah salting, Mar.""Memang tujuan aku begitu. Aku suka lihat wajah kamu pas salting.""Kalau begitu aku juga mau cium kamu." Roy turun dari motornya.Namun Marissa segera berlari memasuki rumah sambil tertawa. Roy menatap Marissa dengan tatapan yang dibuat seolah-o
Cesy mencekik Excel sampai Excel tersedak dan sesak nafas. Excel memegangi tangan Cesy yang terasa sangat dingin. Cesy menatap Excel sangat tajam."Puas kamu merusak seluruh hidupku? Kamu memang pria brengsek. Kamu seharusnya gak pantas hidup. Kamu adalah manusia paling bejat yang pernah aku kenal," ucap Cesy berapi-api."Aku minta maaf." Excel melirih."Apakah kata maaf bisa mengembalikan semuanya yang sudah hancur tak tersisa? Kenapa? Kenapa kamu lebih memilih meninggikan ego dan sikapmu yang temperamental dari pada menahannya dan berusaha bersikap lembut kepadaku? Tidak perlu lembut, tapi bersikaplah dengan normal kepadaku. Apa itu sangat susah?""Iya aku tahu aku salah. Aku juga tidak ingin mempunyai gangguan mental dan sikap temperamental. Ini semua bukan pilihanku.""Menjadi korban kebejatanmu juga bukan keinginanku." Cesy berteriak. Ia melepaskan cekikkannya dengan kasar.Excel buru-buru mengatur nafas lalu turun dari kasur dan bersujud kepada Cesy. "Tolong jangan ganggu aku la
"Tolong berhentilah mengganggu Excel. Dia sudah mendapatkan ganjarannya. Kamu sudah menang, Cesy," ucap Marissa.Raut wajah Cesy berubah sedih. "Aku masih dendam padanya.""Untuk apa kamu dendam? Jika kamu berhenti mengganggunya dan dia dinyatakan pulih dari gangguan jiwanya maka ia akan dipenjara. Bukannya itu adalah balasan yang setimpal atas perbuatannya selama ini kepadamu?"Cesy diam, tampak berpikir. Beberapa detik kemudian ia mengangguk. "Baiklah. Aku akan memberinya pelajaran satu kali lagi lalu aku akan berhenti mengganggunya."Marissa hanya geleng-geleng kepala. Memang kalau orang sudah dendam pasti akan melampiaskan dendamnya sampai ia puas termasuk Cesy. Ia bahkan masih ingin memberi pelajaran kepada Excel.Tiba-tiba perasaan Marissa menjadi tidak enak. Tapi ini menyangkut Roy.•••Saat sedang bersantai di balkon, tiba-tiba ponsel Marissa berbunyi. Saat Marissa mengeceknya, rupanya ada telepon dari Roy. Marissa pun segera mengangkatnya."Halo, Roy?""Halo, Mar. Kamu kesini
"Cesy yang beberapa hari kemarin datang ke rumah saya?" tanya Yuni."Benar, Kak. Dia sudah meninggal bunuh diri." Ucapan Marissa membuat Yuni kaget sampai melotot."Bu-bunuh diri?""Iya. Dia bunuh diri dalam keadaan hamil.""Kok bisa?"Marissa pun menceritakan tentang cerita sebenarnya tentang Cesy. Ia juga menceritakan tentang ia yang dimimpikan Cesy. Marissa tidak peduli Yuni percaya atau tidak."Ya Tuhan, kasihan sekali Cesy. Aku tidak menyangka hidupnya setragis itu. Kemarin saat Cesy kesini saya sempat merekam perbincangan kami," ujar Yuni."Boleh saya dengar rekamannya?" pinta Marissa."Boleh-boleh." Yuni pun menghidupkan ponselnya dan memutar rekaman pembicaraannya dengan Cesy."Kak Yuni, perkenalkan aku Cesy. Aku kesini ingin berbagi cerita," ucap Cesy."Silahkan. Saya akan menjadi pendengar yang baik.""Jadi, saya punya mantan pacar yang toxic. Dia selalu melakukan kekerasan kepada saya. Saya sangat tertekan dan trauma. Apa yang harus saya lakukan?""Di a melakukan kekerasan
Terlihat di CCTV ada wanita memakai sweater ungu yang tak lain adalah Anggun memasukkan kecoa di dalam gelas yang dibawa oleh pelayan. Semuanya langsung menengok ke sekitar mencari Anggun. Anggun pun ketahuan dan digeret oleh para pengunjung ke tengah-tengah mereka.Marissa seperti mengenali Anggun. Ia melepas masker Anggun dan seketika matanya membulat. "Anggun?!"Roy pun tak kalah terkejut. "Apa salahku, Nggun?" tanya Roy.Anggun merampas maskernya dari tangan Marissa lalu memakainya kembali. Ia lalu berucap, "Salahmu adalah membangun kafe ini! Kafemu membuat kafe ayahku tidak laris. Kamu merebut pelanggan kafe ayahku!""Ya Tuhan … kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu? Rezeki sudah diatur," sahut Marissa."Halah, kalian jangan sok suci. Sekarang aku minta uang ganti rugi karena kalian menyaingi kafe ayahku.""Untuk apa kami ganti rugi? Apa yang kami lakukan sudah benar menurut kami." Marissa berucap. "Semuanya, apakah yang kami lakukan salah?"Para pengunjung menggeleng. "Tidak."
TringTiba-tiba notifikasi ponsel Marissa berbunyi. Marissa pun duduk di anakan tangga mengecek ponselnya. Ternyata ada pesan dari grub kampus.Grub kampus: Kabar duka datang dari seorang mahasiswi baru bernama Cesy. Ia ditemukan meninggal di kamarnya karena gantung diri. Mari kita panjatkan doa supaya Cesy tenang di alam sana. Terima kasih atas perhatiannya.Marissa membeku. Tangannya sampai bergetar hingga ia menjatuhkan ponselnya. Ia kaget dan hampir berteriak ketika ada yang menepuk bahunya. Saat Marissa menoleh, rupanya itu adalah Anggun. "Kamu tadi jadi bahan pembicaraan orang-orang di perpustakaan karena kamu ngomong sendiri seolah-olah ada orang disampingmu. Kamu tadi ngomong sama siapa?" ujar Anggun.Marissa menjadi bertambah terkejut. Ia semakin terkejut ketika melihat di seberang jalan ada Cesy yang melambaikan tangan kepadanya sambil menggendong seorang bayi yang tidak memakai pakaian sedikitpun seperti baru lahir.Anggun menepuk bahu Marissa. "Kamu kenapa melotot gitu?"