Tian membuka pintu mobil penumpang untuk Tomi dan berputar masuk duduk ke bangku penumpang samping supir. " Hem,cepat kita berangkat," titah Tomi yang membuka maskernya di dalam mobil. Selama perjalanan pulang Tomi menghubungi Mita sudah satu bulan Dia tidak bertemu karena kesibukan masing-masing. Tian melirik Tuannya beberapa kali lewat kaca tengah mobil rupanya Tomi memergokinya. Setelah sepuluh menit mengobrol Tomi mematikan ponselnya karena tidak ingin diganggu. "Apa ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Tomi dengan alis terangkat sebelah menatap Tian datar. "Tuan besar meminta anda menemuinya. Beliau masih berambisi ingin menjodohkan anda dengan putri dari seorang pengusaha berlian, Tuan." "Tolak saja! Aku tidak akan menemuinya kalau Daddyku masih keras kepala dengan keegoisannya Aku tidak akan menuruti kemauannya. Aku berhubungan dengan Mita saja dia tidak setuju bagaimana dengan istriku." "Sepertinya Nyonya besar menyukai istri anda." Tomi mengangkat wajahnya yang s
Kedua bola matanya terbelalak melihat Tomi yang sedang melumat bibirnya dengan mata memandangnya. "Hph... uh... Tomi, hentikan." Bukannya berhenti Tomi semakin melesakkan lidahnya ke dalam mulut Charlote melumat dan menghisap saling merasakan saliva masing-masing. Tangannya mencekal pergelangan tangan Charlote ke atas kepala dan mengunci kakinya dengan menindihnya. "Tomi apa yang kau lakukan?" "Kenapa, aku meminta hak aku sebagai suami." "Enak saja! Aku tidak mau, minggir berat tau!" "Ck ... jangan merusak suasana istriku!" "Aku belum siap Tomi, aku... aku lagi datang bulan. Ah ya! Benar datang bulan." "Yakin? Apa hanya alasan kamu saja?" "Aku tidak bohong Tomi, awas minggir! Berat kamunya!" Tomi tersenyum menyeringai jahat sambil memainkan lidahnya ke bibir. "Kenapa wajahmu sepertii itu? Jangan aneh-aneh Tom!" Tiba-tiba tangan kiri Tomi menyentuh dua bulatan Charlote yang padat pas digenggamannya. "Kau tidak memakai bra? Sepertinya istriku ini sudah biasa tid
"Ck ...sudahlah aku lelah hari ini ada pasienku mau melahirkan." "Sudah ku atasi tenang saja klinikmu libur hari ini. Semua pasien sudah dibawa ke rumah sakit lain." "Apa! Apa maksudmu?" kaget Charlote mendengar ucapan Tomi. Badannya sampai setengah duduk membuat kesenangan Tomi terganggu. Tomi bangun dari kasur lalu berdiri dihadapan Charlote dengan senjata yang masih menegang. Tangannya memegang dagu Charlote kepalanya menunduk menatap istrinya yang terlihat marah tapi seksi di matanya. "Benar, semua pasienmu sudah aku pindahkan ke rumah sakit milikku. Penghasilan rumah sakit hari ini tetap masuk kerekening kamu sayang. Kau tak usah khawatir mereka ditangani dengan baik. Dan kau hanya melayani aku saja." "Tapi ... hph," Belum sampai melanjutkan ucapannya Tomi mencium bibir Charlote yang membengkak tangannya terulur mengendong tubuh Charlote seperti koala masuk ke kamar mandi tanpa melepas pagutannya. Mereka melakukan penyatuan kembali tanpa ada gangguan dari siapapun. D
"Nona Charlote mohon maaf, Saya dan semua pengawal akan pergi meninggalkan klinik. Apa suster Siska bisa menemani anda?" tanya salah satu seorang pengawal yang Charlote ketahui ketua dari para pengawal lainnya. Charlote kaget mendengar ucapan pengawal Tomi yang berdiri menatapnya iba. "Kalau dia sudah berkata seperti itu kalian boleh meninggalkan aku. Tenang saja aku biasa sendiri, Tuan pengawal," jawab Charlote tersenyum hangat. Deg! Hati Ahmad bergetar mendengar ucapan wanita yang berdiri dihadapannya. Meskipun wanita itu habis menangis tapi bibirnya masih bisa tersenyum. "Nona ini nomer telepon saya, anda bisa menghubungi saya. Kami hanya khawatir meninggalkan anda disini sendiri." "Tidak apa-apa Tuan pengawal sekarang masih sore nanti Siska pasti datang sebaiknya anda pergi secepatnya nanti Tomi bisa marah." "Ya sudah saya pergi Nona. Anda hati-hati di klinik kalau ada apa-apa hubungi saya. Nanti ada teman saya yang datang menjaga klinik anda, saya permisi Nona muda."
"Dokter Charlote boleh aku bertanya?" "Silahkan ada apa Siska," jawab Charlote yang sibuk memakan udang dengan saos. "Apa anda tidak ingin memberi tahunya maaf kalau saya lancang bertanya tapi bukannya Tuan Tomi menginginkan anak dari anda." " Sudah telat Siska, dia bahkan langsung mengirim seorang pengacara dan menceraikan aku. Tapi ini bukan salahnya, aku yang meminta cerai darinya karena aku masih mencintai mantanku. Biarkan saja anggap ini masa lalu. Aku tidak akan meminta dia mengakui anak ini. Aku sudah biasa hidup sendiri, biarkan dia bahagia dengan pilihannya." "Dokter Charlote, sudah jangan diteruskan fokuslah dengan kehamilanmu. Aku wanita yang gampang terbawa suasana, jadi jangan diteruskan cerita anda." "Ck ... dasar drama kebanyakan nonton sinetron." "Drakor bukan sinetron, Dokter." "Apa bedanya sama-sama drama lebay," seloroh Charlote. Siska mengerucutkan bibirnya seperti bebek membuat Charlote tertawa cekikikan sambil tangannya mengelus perutnya lalu berkata. "Am
"Tidak usah ceramahi aku. Kau sendiri seorang Pilot kenapa sekarang malah menjadi ketua Ebizawa berkedok Direktur Ebizawa," sindir Tomi. "Tuntutan Dude." "Exactly, that it's true." "Sudahlah lupakan membahas pekerjaan bagaimana dengan mantan kekasihmu Mita dan Candy si calon menantu Brawijaya?" "Mita sudah dikubur hidup-hidup atas perintah Dominic. Ternyata selain memanfaatkanku wanita itu diam-diam mencuri data perusahaan Clan. Dan banyak skandal menjijikan dibuatnya," urai Tomi. "Nekat sekali wanita itu tapi kau sudah puas mencobanyakan," sarkas Junior. "Belum... Aku hanya making out saja." "Kalau dengan Candy? Dasar tidak normal kalau sampai senjata itu tidak menengang." "Dia selalu menggodaku setiap kali kami bertemu, wanita itu menyerahkan tubuhnya. Tapi jujur kami hanya making out saja." "Ehem! Kau sebenarnya normalkan?" Junior menggeser duduknya agak menjauh. Tomi terkekeh melihat tingkah Junior. "Sial! Jelas saja aku normal. Asal kamu tahu aku pernah melakuk
"Baik, Tomi. Aku akan mempertimbangkan proposal ini. Tapi aku ingin tahu lebih banyak tentang perusahaan Ebizawa dan apa yang mereka ingin aku lakukan sebagai model mereka." "Baik, Boy. Aku akan mengirimkan informasi lebih lanjut tentang perusahaan Ebizawa dan proposal mereka untuk kamu. Aku juga akan mengatur pertemuan dengan Junior, pemilik perusahaan Ebizawa, sehingga kamu dapat berbicara langsung dengan dia tentang proposal ini." "Baik, Tomi. Terima kasih atas informasinya. Aku akan menunggu informasi lebih lanjut dari kamu." "Baik, Boy. Aku akan mengirimkan informasi lebih lanjut secepatnya. Semoga kamu dapat mempertimbangkan proposal ini dengan serius." *** Setelah diasingkan dari Indonesia, Boy merasa hidupnya telah hancur. Dia telah kehilangan segalanya, termasuk kepercayaan. Sementara itu, Boy menekuni profesi modelnya di Italia dengan sangat serius. Dia telah menjadi salah satu model paling populer di Italia dan telah bekerja dengan beberapa merek fashion terkenal.
Violet langsung mengirimkan foto-foto tersebut ke beberapa akun media sosial dan outlet berita yang terkenal. Dia juga menulis beberapa kalimat yang provokatif untuk memastikan bahwa skandal tersebut akan segera tersebar luas. 'Boy, model terkenal, terlibat dalam skandal seks dengan wanita yang tidak dikenal!' tulis Violet di salah satu akun media sosialnya. Tidak lama setelah itu, foto-foto dan berita tentang skandal tersebut mulai tersebar luas di internet. Banyak orang mulai membicarakan tentang skandal tersebut, dan nama Boy mulai menjadi topik perbincangan hangat di media sosial. Boy, yang tidak menyadari apa yang sedang terjadi, masih beristirahat di hotelnya. Tapi, tidak lama lagi, dia akan menyadari bahwa hidupnya sedang berubah secara drastis. *** Boy terbangun dari tidurnya dan melihat ponselnya yang bergetar. Dia melihat banyak notifikasi dari media sosial dan pesan dari teman-temannyadan agensinya. Boy merasa bingung dan langsung membuka media sosialnya untuk melihat a
Alan memerintahkan baby sister datang ke hotel untuk menjaga Anya. Sedangkan dia ingin bermesraan bersama Valeria. "Aku bukannya senang merayakan wasiatmu, tapi aku speechless kenapa Ayah Satia tidak jujur dan malah berhutang banyak denganku. Apa dia hanya pura-pura saja? Pantas saja dia meninggalkan perusahaan, pergi ke Rusia bersama wanita mudanya, hanya untuk mengujiku," ucap Alan yang kini sedang menciumi tubuh Vale dengan mesra. Valeria tertawa kecil. "Jadi, semua ini adalah ujian? Ujian yang sangat mahal!" Alan mencium leher Valeria. "Ya, ujian untuk melihat apakah kita cukup kuat untuk menghadapi semua ini bersama-sama. Dan sejauh ini, ki
"Terima kasih sudah menjadi suamiku kembali. Meskipun kau membuatku sedikit khawatir tadi malam." Alan tertawa kecil. "Maaf, sayang. Aku terlalu bersemangat." Valeria mencubit lengan Alan pelan. "Lain kali, jangan terlalu bersemangat. Tapi... aku senang." Alan memeluk Valeria. "Baiklah, sayang. Aku berjanji akan lebih lembut... kecuali jika kau menginginkan sebaliknya. Malam yang luar biasa. Aku senang kita bisa menghabiskan waktu bersama seperti ini. "Aku juga. Rasanya seperti kita kembali muda lagi." "Kita akan selalu muda di hati, sayang. Selamanya."
Reinhard dan Elsa, dua anak Alan Chester Clark yang gendut dan lucu, berlarian di sekitar taman pesta pernikahan Abizar, membuat para tamu undangan tertawa. Mereka berguling-guling di atas rumput, mengejar kupu-kupu, dan saling kejar-kejaran. 'Lihatlah mereka! Seperti dua anak kelinci yang berlarian!" ucap para tamu. "Mereka sangat menggemaskan! Aku jadi ingin punya anak juga." Di sisi lain taman, Valeria, dan Violet, duduk di sebuah bangku tamu undangan, menikmati suasana pesta sambil mengobrol. Anya duduk di pangkuan Valeria, tersenyum terus tanpa henti. "Anya, kamu kenapa senyum terus? Ada yang lucu ya?" Violet tertawa. "Dia memang selalu ceria. Lihat giginya, baru tumbuh beberapa
"Jadi, anakku sudah mulai mengikuti jejak ayahnya, ya?" ucap Alan sambil tertawa. Valeria mendelik. "Jangan tertawa! Ini serius! Aku khawatir dia akan terlalu banyak pacar nanti." Alan masih tertawa. "Tenanglah. Aku yakin dia akan baik-baik saja. Setidaknya dia punya bakat alami. Mungkin suatu hari nanti dia akan menulis buku tentang pengalaman pacarannya, judulnya." "Petualangan Cinta Seorang Playboy Cilik". Valeria memukul pelan lengan Alan. "Jangan mengada-ada! Ini serius!" Alan tertawa. "Baiklah, baiklah. Aku berjanji akan membicarakan ini dengan Reinhard. Tapi jangan berharap aku akan melarangnya pacaran. Aku sendiri kan juga pernah mengalami masa-masa itu. Tapi aku akan memastikan dia tahu batasannya. Aku tidak ingin dia terluka."
Sore hari menjelang, mentari mulai terbenam, menorehkan warna jingga dan ungu di langit. Alan dan Valeria masih berbaring di ranjang, saling berpelukan. Suasana kamar masih dipenuhi aroma intim dan sisa-sisa gairah. Valeria tersenyum. "Aku merasa sangat senang. Seperti kembali ke masa pacaran kita dulu." "Aku juga. Rasanya seperti waktu berhenti, hanya ada kita berdua." "Anak-anak akan kembali dalam seminggu. Kita harus memanfaatkan waktu ini sebaik mungkin." "Tentu. Bagaimana kalau kita memasak makan malam bersama? Sesuatu yang romantis, hanya untuk kita berdua." "Ide bagus! Bagaimana kalau kita membuat pasta? Dengan saus truffle dan anggur merah?" Alan tersenyum. "Kau selalu tahu
Jan 23.00 malam baru pulang dari kantor. Ia masuk ke kamar , melihat Valeria, matanya melebar. Ia berjalan mendekat dengan langkah pasti. Kamar gelap hanya diterangi cahaya remang dari lampu tidur di meja samping ranjang. Alan berbisik, sedikit serak. "Wow..." menatap Valeria yang tertidur pulas dengan lingerie sutra berwarna merah marun. "Pekerjaan yang melelahkan di kantor, langsung sirna begitu melihatmu..." Alan mendekati Valeria dan menyentuh pipinya dengan lembut, jari-jarinya merasakan kelembutan kulit Valeria. "Lingerie itu... sangat menggoda." Ia menarik napas dalam-dalam, aroma parfum Valeria memenuhi indranya. "Kau selalu tahu bagaimana membuatku tenang dan... tergoda sekaligus." Ia menunduk, mencium lembut leher Valeria. "Kau luar biasa, Valeria." Alan kemudian berbaring di samping Valeria, memeluknya dengan erat. Ia merasakan detak jantung Valeria yang t
"Kau menginap di sini atau pulang, Boy?" "Aku langsung pulang saja, Kak. Kan ada jet pribadi Kakak." Boy tersenyum. Alan tersenyum. "Ya sudah. Aku ke ruang kerja dulu." Alan menyerahkan Anya ke Valeria. "Anya, sayang, ikut Mommy ya." Valeria menerima Anya. "Tentu, Sayang." "Reinhard dan Elsa ke mana, Kak?" "Mereka tadi, setelah berenang, katanya mau bermain di taman bersama teman-temannya. Sepertinya mereka sudah pulang juga. melihat ke arah pintu. "Ah, lihat! Mereka sudah pulang." Reinhard dan Elsa masuk, membawa beberapa mainan kecil. "Mom! Papa!" teriak Reinhard. "Paman Boy!" seru Els
Valeria segera mempersiapkan diri untuk menyusui Anya. Alan meletakkan Anya di pangkuan Valeria, dan Anya langsung menempelkan mulutnya ke dada Valeria, menghisap dengan lahapnya. Valeria menatap Anya yang sedang menyusu. "Nah, sudah tenang sekarang, ya, Sayang. Minum yang banyak biar kuat." Alan duduk di samping Valeria. "Dia memang cepat sekali laparnya." "Iya juga ya. Besok aku harus lebih sering memberinya ASI. Jangan sampai dia kelaparan lagi." Valeria menatap Anya dengan penuh kasih sayang. "Mommy sayang Anya." Alan memeluk Valeria dari belakang. "Aku juga sayang kalian semua. Keluarga kecilku yang sempurna." Anya selesai menyusu dan tertidur pulas di pangkuan Valeria. Suasana menjadi tenang dan damai. Valeria berbisik kepada Alan. "Dia sudah tidur. Tidurnya sangat nyenyak." "Kita juga perlu istirahat sebentar, Sayang. Hari ini cukup melelahkan." Valeria dan
Alan dan Valeria tetap berpelukan, tenang dan damai. Keheningan di antara mereka dipenuhi dengan cinta yang dalam dan pengertian yang mendalam. Alan berbisik pelan. "Ingatkah kau... saat kita pertama kali bertemu?" Valeria tersenyum lembut muncul di wajahnya. "Tentu saja. Di kafe kecil itu, dengan hujan yang turun deras di luar." Kenangan itu muncul kembali di benak mereka, membawa mereka kembali ke masa-masa awal hubungan mereka. Mereka mengingat perasaan gugup, debaran jantung, dan percikan cinta pertama yang mekar di antara mereka. "Saat itu... aku tahu. Aku tahu kau adalah orang yang tepat untukku." "Aku juga, Sayang. Aku merasakannya sejak pandangan pertama." Mereka saling bertukar tatapan, tatapan yang penuh cinta, kepercayaan, dan pen