Melihat reaksi Anna, Kenan melirik Chelsea sekilas lalu mengangguk lirih. Ia khawatir sang adik menolak keras hubungan keduanya. Kenan bahkan belum sempat mengatakan apapun pada gadis itu. Kedua mata Anna seketika mengembun, pelupuk matanya sudah basah. Anna sontak berlari ke arah Kenan, memeluknya. Anna menangis terisak. "Hei, ada apa, Anna?" Kenan mengusap punggung sang adik. Pria itu justru kini tampak kebingungan. Ia menaikkan kedua alis, seraya melihat ke arah Chelsea, seolah bertanya. Sedangkan Chelsea pun justru menggendikkan bahu, menjawab isyarat, "Mana kutahu?" Anna yang tidak penjawab pertanyaan Kenan, pria itu kemudian bertanya lagi, "Kenapa kamu menangis? Kamu tidak suka tinggal di sini?" Kenan berpikir Anna tertekan karena menempati kamar mewah itu. Sebab, dari awal kedatangannya, kamar itulah yang menjadi pokok pembicaraan. Gadis itu menggeleng, namun masih dalam dekapan Kenan. Sang kakak semakin tidak mengerti dengan isyarat Anna. "Jadi, kenapa kamu m
Amarah Chelsea semakin memuncak. Wajahnya merah padam, suara bergetar penuh kekesalan. Semua perasaan yang tertahan dalam dirinya, akhirnya meledak begitu saja. Wanita itu hampir saja melayangkan tinjuan pada wajah Darren. Melihat reaksi Chelsea yang sudah berada di batas kesabaran. Kenan, dengan tatapan serius, namun tampak tenang. Tangannya terulur, dan meraih lengan Chelsea lembut, menggenggam pasti. "Chelsea, berhenti! Ini bukan tempatnya untuk berdebat seperti ini." Kenan melirik sekeliling, merasa suasana di resto semakin mencekam, terlebih tatapan semua para pengunjung, langsung tertuju padanya. Darren, yang berdiri di depannya, terus memandang remeh, sorot matanya tampak merendahkan Kenan. Pria itu juga tidak gentar menghadapi mereka saat ini. "Apa yang kamu tahu, Kenan?! Dia ... dia ... tidak bisa terus begini!" amarah wanita itu meletup-letup. "Aku tidak suka dia selalu merendahkanmu!" Kenan menatap dalam-dalam, dengan suara tenang namun tegas. "Aku tau, dan aku
Dalam perjalanan pulang, Kenan berhasil mengelabui sang pengendara motor yang mungkin saja ingin membuat keributan atau mencelakai mereka. Kenan sendiri tidak tahu, motif apa yang akan pengendara motor itu lakukan. Namun, ia langsung mengambil keputusan cepat dengan mengalihkan kemudi melalui lajur cepat, sehingga pemotor misterius itu pun juga tidak dapat mengejar."Ada apa, Ken?" tanya Chelsea merasa ada sesuatu yang Kenan sembunyikan.Sang kekasih menggeleng lirih, tetap fokus pada kemudinya, "Tidak ada Chelsea, aku hanya ingin cepat sampai saja," akunya berbohong.Wanita itu pun juga tidak memasalahkan jawaban Kenan, meski sebenarnya ia merasa ada yang tidak beres.Setiba di rumah, Kenan langsung memarkirkan mobil dalam garasi, memastikan pengendara itu tidak mengikutinya sampai di rumah sang kekasih. Ada dua wanita yang harus benar-benar ia jaga."Ayo, cepat masuk!" ajak Kenan setelah berpesan pada sang penjaga, agar m
Pagi ini di dalam rumah mewah yang biasanya sangat tenang, tepat saat ini rumah itu menjadi seketika ramai. Ketika pintu terbuka, Anna, bersama Kenan dan Chelsea, masuk ke ruang tamu. Kedatangan mereka tentu saja disambut hangat oleh kedua paruh baya itu. Alex dan Felly yang sudah menunggu langsung menyambutnya dengan senyum lebar, memeluk hangat setelah menuruni anak tangga dari lantai dua."Hai, Sayang," sapa Alex memeluk sang putri, kemudian beralih pandang pada Kenan dan gadis lain. Ia sudah menerka jika itu adalah adik Kenan. "Jadi, ini adik Kenan yang sering dia ceritakan. Anna, ya? Senang sekali bisa bertemu denganmu."Anna tersenyum malu-malu, "Iya, Tuan, Nyonya. Senang juga bisa bertemu dengan kalian.""Kenan sudah cerita banyak tentang keluarga. Terutama tentang kamu, Anna. Dia bilang kamu adik kandungnya." Felly menimpali.Senyuman manis tersungging, pada paras cantik adik Kenan. "Iya, kami memang sangat dekat. Saya senan
Ruangan hotel itu disulap jadi sebuah tempat pesta yang indah, penuh dengan bunga dan tanaman segar, layaknya sebuah taman bunga. Bahkan, alunan musik biola mengiringi setiap tawa bahagia para tamu undangan beserta keluarga. Para pelayan terlihat sibuk hilir mudik menyajikan sampanye pada para tamu undangan. Sementara itu, di ujung ruangan dekat meja prasmanan, seorang gadis berwajah cantik dengan cocktails dress berwarna hitam terlihat. "Ramai sekali di sini ..." lirihnya. Mata hazel-nya tampak memindai sekeliling, saat ia perlahan menyesap cocktails miliknya. Berdiri di samping foto prewedding sang kakak yang tampak dipajang.Seorang pria tampan dengan tuxedo hitam pas badan dan dasi kupu-kupu merah, tiba-tiba mendekat, membuat gadis itu menurunkan gelas sembari menegakkan posisi tubuh. "Hmmm, sepertinya kita pernah bertemu, Nona?" tanyanya sambil tersenyum tipis, hingga terlihat menggoda. Anna mengenal pria itu. Namu
Suara derap langkah terdengar di lorong yang menghubungkan area tangga melingkar dengan lantai dua, disusul ketukan di pintu dan tak lama berselang, pintu itu pun dibuka dari luar. "Chelsea, aku—" Suaranya yang semula bersemangat, seketika terhenti kala mendapati siapa yang tengah berada di dalam, "oh, maaf. Apakah aku mengganggu?"Chelsea dan sang MUA menggeleng bersamaan. Chelsea bahkan tersenyum manis sebagai balasan, sehingga sang MUA yang mengerti, segera bangkit berdiri dan merapikan peralatan miliknya, diikuti derap langkah mendekati mereka dari sosok yang baru saja datang. "Saya pergi dulu," ujar sang MUA berpamitan sambil tersenyum manis, yang dibalas senyum serupa dari Chelsea. "Iya, terima kasih atas semuanya, Miss.""Sama-sama. Saya harap pernikahan Anda sukses dan mendapatkan kebahagiaan yang diinginkan," doa sang MUA tulus, tangannya menutup kotak make-up dan meninggalkan benda tersebut di atas nakas, "permisi, Nyony
Gaun putih lebar bak putri kerajaan dengan model belahan dada atas terbuka. Ditambah aksen berkilau, membuat penampilan Chelsea sangat cantik. Sudut ruang itu disulap menjadi altar yang sangat indah. Banyak pasang mata menatap kagum sekaligus iri pada kedua mempelai. Sorak riuh dan tepuk tangan memenuhi seluruh sudut ruangan. Dengan iringan musik, langkah penuh keyakinan, Kenan dan Chelsea menghadap sang Pendeta. Dengan tatapan binar haru, keduanya berdiri berhadapan, tangan mereka saling menggenggam. Kemudian, Chelsea mengungkapkan isi hatinya untuk sang suami dalam untaian kata-kata. "Aku tak pernah pandai menyusun teka-teki, tapi jawaban dari semua pertanyaanku selalu mengarah padamu. Langit yang kupandangi, angin yang berbisik, bahkan hujan yang jatuh perlahan, semuanya menyatu, menyebutkan namamu tanpa ragu. Dan seorang itu, kamu .... Yang langkahnya seperti sajak yang berjalan, yang suaranya seperti alunan doa sebelum tidur, yang kehadirannya seperti rumah dalam du
Dengan langkah percaya diri, Kenan menuju meja minuman. Melihat Kenan meninggalkan Chelsea, Darren langsung mengambil kesempatan mendekati pria itu. Di tengah keramaian pesta pernikahan yang megah, Kenan mengambil wine dengan tatapan santai. Suara musik klasik mengalun lembut, seakan melengkapi suasana elegan. Namun, tiba-tiba, langkah cepat seorang pria mendekati Kenan, Darren berdiri di sampingnya. "Wah, wah, wah ...! Ternyata ada pengantin di sini ...!" cetus Darren tersenyum sinis. Seperti biasa, ia selalu memandang remeh. "Kenan, kau tahu kan, pesta seperti ini tidak cocok untukmu? Tapi ... aku rasa kau mulai nyaman berada di sini, di tengah-tengah orang kelas atas. Kenyataannya ... kau tak akan pernah benar-benar menjadi bagian dari mereka," imbuhnya. Diolok demikian tidak membuat Kenan merasa minder, justru ia menatap Darren dengan tenang, "Apa maksudmu, Darren?" Darren tertawa pelan, melirik Kenan, meremehkan, "Hoho, beraninya kau hanya menyebut namaku! Kau bukan dar
Sudah hampir satu bulan sejak Chelsea mulai melakukan pencarian terhadap suaminya secara mandiri. Meskipun pihak kepolisian Jerman sudah menutup kasus kecelakaan ini. Pencarian polisi berakhir, bersamaan dengan ditutupnya kasus itu dan menyatakan dua orang sebagai korban. "Kenapa harus berakhir dengan begini, Ken ..." Chelsea meratapi di tempat kejadian sebelum mobil Kenan masuk ke jurang. "Kembalikan suamiku wahai alam. Kembalikan dia meskipun itu hanya abu atau tulang belulangnya ... Ijinkan aku memeluknya sekali lagi. Aku tidak akan marah padamu. Bagaimana aku bisa marah, kalau kau adalah rumah suamiku sekarang, selamanya ...." Wanita itu bahkan tidak kuasa menahan isak tangis. Setiap hari, ia tak kenal lelah, menyerahkan segalanya untuk mencari keberadaan Kenan. "Maaf, Nyonya." Suara Christ yang tiba-tiba pun tidak menghentikan isakan Chelsea. Sang asisten yang telah setia membantu, bersama dengan beberapa orang yang dikerahkan untuk mencari, sudah melakukan segala cara
Kelopak bulu mata lentik membuka matanya perlahan, samar-samar cahaya matahari menembus tirai jendela.Pusingnya pun masih terasa, dan tubuhnya juga masih lemah, namun Grace mencoba mengingat apa yang terjadi. Semua kenangan tentang operasi dan masa koma itu kabur, tapi ada satu hal yang sangat jelas di pikirannya. Anak laki-lakinya, Leon."Ergghhh ..." Grace memegangi kepalanya yang masih berdenyut.Dengan susah payah, ia mengangkat tubuhnya dan menoleh ke sekeliling ruangan. Namun, tak ada siapapun di sana. Kosong!"Apa aku masih hidup?" Grace sendiri hampir tidak percaya dirinya masih bernyawa. Kemudian mengusap perutnya yang seakan tidak ada apa-apa. "Ke mana bayiku?" tanyanya kebingungan, entah pada siapa.Wanita itu lantas menoleh. Di sana, di ranjang yang terpisah, Leon sedang tertidur pulas. Wajah kecilnya tampak damai, meskipun di hati Grace, ada kekhawatiran yang menggantung."Leon, Mommy b
Reaksi Brian membuat Max menarik paksa hasil tes kesehatannya. Pria itu dinyatakan cocok menjadi pendonor tulang sumsum untuk Leon.Dengan wajah binar, Max langsung bangkit dari duduknya. "Ayo cepat, ke mana aku harus pergi, Brian!" "Ayo! Aku juga sudah tidak sabar menunggu waktu ini!" Brian langsung bangkit dari duduknya, kemudian melangkah keluar yang diikuti Max.Setelah kurang lebih satu jam proses pengambilan sel tulang sumsum Max, petugas Laboratorium mulai memprosesnya.Max keluar dari ruang periksa dengan langkah yang sedikit terhuyung. Udara dingin di ruang rumah sakit tak bisa mengurangi rasa lega yang perlahan merayap dalam dirinya. "Apapun yang terjadi, Daddy akan berusaha segala cara Leon," tekad Max lirih.Meski perasaan berat masih menggantung, setidaknya ia tahu bahwa tulang sumsum yang baru saja didonorkan untuk Leon, memiliki peluang besar untuk menyelamatkan hidupnya. Hasil tes genetik men
Kelopak mata dengan bulu mata lentik itu bergerak pelan. Aroma desinfektan membuat Chelsea sadar seketika. Kepala terasa berat, tubuhnya lelah, dan rasa sakit mulai merayapi seluruh tubuhnya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba mengingat apa yang terjadi. "Kenaann ..." Ia berharap semua yang baru saja ia lihat adalah sebuah mimpi. Namun, sayangnya itu adalah hal nyata yang baru saja dialaminya. Chelsea melihat bekas tanah yang terdapat di sela-sela pada kuku-kuku. "Ini bukan mimpi ..." ratapnya menahan isak. Melihat sang Nyonya sudah sadar, Christ mendekati Chelsea yang terbaring di atas brankar rumah sakit. "Apa yang Anda rasakan, Nyonya?" tanyanya. Chelsea menatap asisten sang kakak, "Katakan kalau semua ini hanya mimpi kan, Christ?" Chelsea berharap asisten itu menggeleng, namun nyatanya Christ menggangguk, hatinya tahu bahwa ini semua kenyataan.
Kegelapan langit malam berubah merah menyala karena ledakan mobil Kenan yang masuk ke jurang. Serpihan body mobil pun berterbangan hingga menjadi bagian terkecil. Semua orang mengalihkan wajah, menutup mata dengan lengan masing-masing. "Tidak Keennn ..." Chelsea meratapi terduduk di atas tanah. Tatapannya kosong pada nyala api di angkasa. Arthur memegang pundak Chelsea, menguatkan wanita itu, "Semua akan baik-baik saja, Chel. Kenan pasti selamat ..." Meski sejujurnya Arthur juga ragu akan ucapannya. Jurang dan ledakan sebesar itu mana mungkin tidak menghancurkan tubuh seseorang. Christ berlari ke tepian jurang, lalu menatap ke bawah. Namun, tak ada siapapun di sana. Hanya ada pecahan puing yang berserakan dan masih menyisakan bara api yang berkobar. Kemudian ia berbalik badan lalu menggeleng lirih. Isyarat Christ semakin membuat Chelsea semakin histeris. "Tidak! Kembali padaku Kenaannn ...!" Tangisan Chelsea yang terdengar pilu makin tak terkendali, hingga tiba-tiba semu
Setibanya di basecamp yang tersembunyi, Chelsea merasa ada sesuatu yang sangat salah. Tempat itu sangat kacau dan suasana mencekam memenuhi udara. "Apa ini tempatnya, Arthur?" tanya Chelsea penuh keraguan. "Hm, benar ini tempatnya." Belum juga kedua mata Chelsea memindai tempat itu, tiba-tiba ... Brak! Freya dan Kenan keluar dari bangunan sepi dengan pencahayaan minim. Meski demikian, sorot mata Chelsea mampu menangkap siluet bayangan sang suami. "Kenan ...?!" Chelsea hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seruan Chelsea ternyata mampu mengalihkan perhatian kedua orang itu, terutama Kenan. Ia lebih terkejut saat melihat Chelsea juga berada di sekitar tempat itu. Area yang tidak sebaiknya dituju. Namun, di balik semua rasa takut dan kecemasan Chelsea, hatinya semakin teriris saat kenyataan yang lebih pahit terbuka di hadapannya. Di sana, di tengah kekacauan, dia melihat Kenan—dengan jelas berdiri di sisi Freya. Sekarang tampak seperti musuh yang berdiri di samp
Grace dengan suara penuh amarah, "Kenan! Kau datang kemari hanya untuk jadi pengkhianat! Tidak tahu malu!" Berdiri tegak, Kenan menatap Grace dengan dingin, "Aku memilih sisi yang benar, Grace. Ini bukan tentang kamu atau aku lagi, ini tentang apa yang seharusnya terjadi." Grace tertawa sinis, "Cih! Sisi yang benar? Kau menjual dirimu kepada Freya, itu yang kamu sebut benar? Jangan lebih rendah dari itu, Ken!" "Aku tidak membutuhkan pembenaran darimu, Grace. Semua ini sudah berjalan terlalu jauh. Tidak ada yang bisa menghentikanku sekarang." Freya, yang sejak tadi diam dan menyaksikan percakapan itu, akhirnya berbicara dengan suara penuh kebencian. Grace tertawa remeh pada Freya, seolah mengejek wanita ular itu. "Apapun yang kau lakukan, kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku. Karena kau tidak pernah dicintai sampai mati! Kau tak akan pernah tau apa itu cinta!" ucapnya penuh penekanan, "kasihan sekali!" Suasana di antara kedua wanita itu semakin mencekam. Freya ingin seka
Max tampak berjalan mondar-mandir di ruang kantor yang gelap, ekspresinya tegang dan penuh amarah. Matanya yang tajam menatap beberapa anak buah Christ yang berdiri cemas di hadapannya."Bagaimana bisa kalian belum menemukan lokasi Freya?!" bentaknya, suaranya keras dan penuh amarah. "Kalian cuma membuang-buang waktu! Ini sudah terlalu lama, aku ingin jawaban sekarang!"Anak buah Christ, yang satu bernama Markus dan yang satunya lagi disebut Simon saling pandang, tampak bingung dan tertekan."Ma-Maaf, Tuan ... kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi kami belum menemukan petunjuk pasti," jawab Markus, suaranya terbata-bata.Max menggeram, berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan mereka. "Berusaha? Itu bukan jawaban yang aku cari! Jika kalian tidak bisa melaksanakan perintah sederhana ini, lebih baik aku cari orang lain yang bisa!"Simon mencoba menenangkan situasi. "Kami benar-benar sudah berusaha, Tuan. Kami akan terus menca
Kenan terlihat tegang, tapi mencoba menurunkan egonya. "Freya, aku tahu aku salah. Aku tidak mencari pembenaran. Aku hanya ingin tahu di mana basecamp-mu. Aku punya rencana ... rencana untuk melancarkan keinginanmu." Namun, diam-diam, tanpa melibatkan siapa pun. Kenan akan pastikan akan membebaskan Grace. Ini adalah kesempatan terakhirnya untuk menebus semua kesalahan." Mendengar ketulusan Kenan, dan betapa pria itu juga memenuhi keinginannya mendapatkan lokasi Grace, Freya terdiam sejenak, mempertimbangkan kata-katanya. "Kau tidak akan menjadi pengkhianat di dalam basecamp-ku, kan?" "Kau bisa percaya padaku, Freya. Aku akan lakukan apa saja untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Kau akan dapatkan semua yang kau inginkan." Dalam hati Freya melewati banyak perdebatan. Kemudian suara Freya berubah, sedikit lebih lembut. "Baiklah, aku beri kau satu kesempatan lagi. Basecamp-ku ada di kawasan Charlottenburg, dekat Stasiun Zoologischer Garten. Tapi ingat, Kenan. Satu langkah s