LOGINCoincidence is a gamble, a deck of cards with loads of probabilities. Coincidence leads them into an experience that haunts them still after so many years.Coincidence drags them into decisions that scar their consciences forever.Coincidence drags them into the drama that ensues as a resultant effect.But no, it is not the regular drama.For the country is on fire, the government is burning and lives are in chains, ravaged by the demon of their past - Medusa.But lo, Medusa is not a demon.It is not an ancient Greek myth.It is not a god or goddess.It is not a religion.It is not alive.BUT IT IS HERE!
View MoreMasa putih abu-abu adalah hal yang terindah dalam kehidupan. Masa mengenal cinta, sedih dan senang. Ya, begitupun yang dialami Magdalena Akira. Gadis berusia 16 tahun yang duduk di bangku kelas 2 SMA.
"Na, kemana acara hari ini? pulang sekolah kita jalan ya?" ucap Dany teman sebangku Magdelana, sambil melirik memperhatikan teman sebangkunya yang tengah membereskan buku ketika jam sekolah berakhir. "Hmm, gak ada sih, cuma nanti malam aku ada acara ibadah pemuda di gereja." melirik sekilas ke arah teman sebangkunya. "Yah ini kan malem minggu, ke gerja bisa hari minggu kan, ayolah kita jalan, please.." Dany menyatukan kedua tangannya di depan dada dengan wajah memohon. "Gak bisa Dan, hari ini gue ada acara di gereja lain kali ya, atau hari minggu nanti gue main ke rumah lu gimana? Aku ajak Argi." "Yah tau yang udah punya cowok, aku jd nyamuk deh. Eh, Na.. suruh si Argi bawa temennya, kenalin gue ke temannya, siapa tau gue cocok." "Hmm.. coba nanti gue tanyain ya, udah bosen ya sendiri?" Lena mengambil tas dan berjalan meninggalkan sahabatnya tanpa menunggu jawaban Dany. "Jangan lupa Na, hari minggu ya, bawain gue cowok ganteng." ucap Dany mengingatkan sahabatnya, Lena menoleh sekilas mengangkat jempol ke arah temannya dan berlalu pergi. Seperti kebiasaan Lena setiap malam minggu dihabiskan di gereja. Tidak seperti remaja lain, Lena lebih memilih beribadah dibanding berkumpul bersama pacar dan teman-temannya. Minggu pagi pun, dia tidak pernah absen dari ibadah hari minggu. *** "Gi, nanti aku mau ke rumah Dany, kamu susul ya ke sana, ajak teman cowokmu, si Dany minta dikenalin." "Sayang, aku jemput ya." Argi membalas telepon pacarnya dari seberang sana. "Gak usah gik, aku bisa kesana sendiri nanti kamu susulin aja, nanti ayahku marah kalau tahu aku keluar sama kamu." jelas gadis cantik itu. "Okay beby.. Tapi nanti pulangnya aku anter kamu ya sayang." "Iya Gi, nanti aku ke sana naik ojol lagi 15 menit aku jalan. See you.." Lena mengakhiri teleponnya dan beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka dan berganti baju. Lena mengenakan kaos oversize abu-abu dan celana kulot jeans andalannya. Rambut hitam sebahu dibiarkan tergerai, wajahnya yang putih dia poleskan bedak tipis dan lipgloss pada bibir tipisnya. Yang terakhir dia kenakan sepatu kets, gaya andalan Lena yang simple seperti anak-anak muda pada umumnya dan cenderung tomboy tapi cantik. Tak lama dia menunggu ojol yang dipesan lewat aplikasi hijau, dan keluar dari kamar menenteng tas ranselnya dan menghampiri ayah dan ibunya. "Ayah ibu, aku ijin pergi kerumah Dany, ada tugas kelompok" diciumnya tangan ibu dan ayahnya. "Ya nak, jangan pulang malam ya, hati-hati dijalan." ucap ibu Lena sembari mengantar putrinya ke depan rumah. Sedangkan ayahnya masih sibuk dengan koran di tangannya, tapi menatap sekilas anak gadisnya yang berjalan beriringan dengan ibunya keluar dari rumah. "Ibu, Lena pergi dulu, nanti Lena kabarin kalau sudah sampai rumah Dany." sembari menaiki motor ojol yg dipesannya 5 menit yang lalu. "Ya nak, hati-hati." wanita paruh baya itu melepas kepergian anaknya dengan melambaikan tangan. Perjalanan 20 menit menuju rumah Dany, jalanan tidak begitu ramai karena hari Minggu. Sesampainya di depan rumah bercat biru, sahabatnya sudah menunggu dengan wajah cerianya. "Lho lu sendirian Na? Mana pesanan gue?" seraya menengok ke belakang sahabatnya, yang datang sendirian. "Iihh.. Gak sabaran banget deh, tunggu aja nanti nyusul." menepuk pundak Dany dan berjalan melewati sahabatnya itu. "Mana temen cowok lu yang mau dikenalin ke gue? Cakep gak? Wah kalau bisa sih yang kayak Argi, gue suka style cowok kayak cowok lu gitu Na." berbalik mengikuti Lena yang sudah duduk di sofa ruang tamu. "Tau deh, siapa nanti mau Argi bawa, kita liat aja nanti. Mana minumannya Dan? Panas nih, gue butuh yang dingin-dingin, dehidrasi gue." Lena mengusap tenggorokannya, memang hari ini cuaca cukup panas. Apalagi ini tepat pukul 12 siang. "Ambil sendiri gih di kulkas, ada jus tuh, sekalian lu taruh di gelas Na, udah disiapin sama nyokap, siapin buat temen cowok lu sekalian." ucap Dany mulai memainkan ponselnya. "Idih yang jadi tuan rumah siapa, yang repot siapa." protes Lena tapi tetap bangkit berdiri melangkah masuk ke dapur. "Btw, nyokap bokap lu kemana Dan?" teriak Lena dari dapur. "Dari pagi keluar mereka, nengok nenek gue,malam baru pulang" jawab Dany sambil masih menscroll layar ponselnya. Tak ada jawaban dari dapur, Lena mulai mengambil gelas dan menatanya di nampan, dibukanya kulkas dan diambil jus yang sudah dipersiapkan mama Dany sebelumnya. Ketika sibuk memindahkan jus ke gelas-gelas, terdengar bunyi mobil dari arah luar, dan dipastikan itu Argi dan kawan-kawannya. Pria berwajah putih berbadan tinggi itu keluar dari mobil hitamnya. Diikutin dua temannya mengekor di belakang. Dany yang melihat dari dalam rumah, buru-buru merapikan penampilannya dan menyambut Argi dan teman-temannya. "Hai Dan, mana cewek gue?" tanya Argi tanpa basa basi. "Tuh didapur. Ayo silahkan masuk." Dany mempersilhkan dua teman Argi yang masih di depan rumahnya, sementara Argi tanpa basa basi pergi ke arah dapur untuk menemui kekasihnya. "Sayang, udah lama nunggu." Argi menghampiri Lena yang tengah menuang jus ke gelas. "Baru aja aku datang, 10 menit yang lalu." Lena menoleh ke arah pria yang tersenyum menghampirinya itu. Dipeluknya Lena dari arah belakang, diciumnya rambut gadis pujaannya itu. Sontak Lena sedikit terkejut dengan perlakuan Argi yang tidak lihat situasi. "Gi, jangan gini ini rumah orang. Tungguin di luar, aku siapin minum dulu." Lena menolak secara halus, karena merasa kurang enak sama sahabatnya. "Okey my princess." balas Argi seraya mencium telapak tangan Lena dan berlalu meninggalkan kekasihnya untuk menemui teman-temannya di ruang tamu. Sesampainya di ruang tamu. "Dan, nih pesenan elo, temen-temen gue, semua cakep, dan dua-duanya jomblo." ucap Argi mengenalkan teman-temannya. Disana ada dua teman Argi, yaitu Septian dan Bayu. "Aku Dany.." ucap Dany sambil menyalami kedua teman Argi. "Bayu, kamu satu kelas sama Lena ya?" Bayu mengulurkan tangannya terlebih dahulu, padahal tempat duduknya lebih jauh kalau dibanding Septian. Dia menggeser Septian ke ujung. "Iya gue temen Lena." jawab Dany tersenyum, menerima uluran tangan Bayu. Diantara bertiga, Septian yang paling pendiam. Berbicara seadanya dan lebih banyak diam, kalau dibanding Argi dan Bayu. Tak lama kemudian Lena pun datang membawa nampan berisi gelas dan snack untuk disuguhkan ke teman-temannya. ***EPILOGUE: ... it is still with a heavy heart that I, Chris Ronald, write to you, The United Nations. For the sake of the very lives that have been lost so far in this fight, this struggle for a sovereign state of Nigeria. I still fight, with only one hand and one leg. I refuse to remain silent. Please fulfill the promise you made to my late brother, Chiadi Okorie, the Fisheye, who gave his life in service for this purpose. Avenge us, I beseech you. Avenge Nigeria, for all our sakes. For I, only I, and a few others are still well and able to carry guns to go out into battle against Medusa. But if I go wit
RomaShe ran as fast as her feet could carry her carrying her long sniper bag where she had packed in her sniper and shouting;"Maggie!!" "Maggie!!" in fear! As she ran towards the center of the field.She had gotten Maggie's signal from the roof of the Catholic Church where she was well positioned with her sniper near the church bell.She had counted the men, they were four in number. She could take them all out in a go because the range wasn't too far.She had waited and switched the view into night mode, awaiting her signal just before ..."Maggie! Maggie!!" she called as she got to where Maggie was trying hard to keep standing.She had been shot twice around her lower abdomen and her hands were still there trying to put pressure on the bullet wound."Maggie listen to me, you've got to stay with me, do you understand?" she said grabbing Maggie in
MaggieIt was thick darkness. Only the sound of the rustling of leaves and creeping night insects could be heard.She glanced at her wrist watch, it was 9.02pm. But she stood there at the center of the large compound of St Patrick's Catholic church waiting, standing in front of her white Mercedes Benz, waiting for her meeting with the Medusa demon - the Vampire.They were two minutes late to the meeting, one she had arranged risking her very existence.The Vampire had contacted her demanding to know her status with the location of Fisheye. She had told them that she didn't have Fisheye, but she had something better - the flash drive! Hence, she set the meeting point and time.All her being yearned just for the Vampire! For Revenge! For justice for her daughter Rose!Her rape was the beginning of her downfall, after it her life was never the same ag
Ronald Here was the joy, that some people actually missed him, thought of him, and loved him. Chinny had literally jumped on him and Uche, for the very first time in his life, hugged him. Scorpion, who’d just been standing at some corner couldn’t help but smile at how happy they were. He’d been reluctant about the whole thing, but now he was okay. He only had a few more hours to spend in Nigeria as his pilot had confirmed he was already set at the airport awaiting their arrival so they could take off.But he didn’t want to and even scorpion saw it. He was happy. Very. They’d laughed and laughed about lots of things as Uche would tease him about his new appearance, his beard! And his well pronounced pink lips against a fair skin!They even ended up strolling into their former class, Goldstar (yellow), with the white lights completely illuminat
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.