LOGIN" don't test my patience, kitten," he said as he buried his head in the crock of my neck. my back dangerously pressed against his chest and I can feel heat radiating from his body. " i.... i..." I stuttered and gulped audibly knowing what he was capable of doing. I took a sharp breath before saying, " you can't prison me here with you. I don't belong here." " I don't love you either,'' I said and regretted immediately. A low growl emanated from the back of his throat. i felt his lips touched my exposed skin and in a blink he spun me around there my soul left my body as he stared right into my eyes with his two soulless Black orbs. Ava is a 17 year-old chear full girl. She was over the moon as her birthday was approaching. Unlike any other werewolf she will also find her mate at her 18th birthday. and she did, he was the brother of the Alpha who was kind and caring, totally opposite from his brother Alpha. but fate had something else to decide for them. when they were in one day of relationship the war between rogues happened, taking Ava's mates life leaving her devastated. Gideon is 32 years old, and a ruthless and powerful lycan king, who searched for his mate for 5 years before he gave up when he visited the blood moon pack where he found his mate. His heart swells at the sight of her, but his world becomes upside down when he learns his mate loves another male. As a king will he give up his mate? Or is he going to an extent to possess what is his? Will Ava accept him as her mate or will reject him?
View More“Cari laki-laki lain untuk menghamili kamu, Wa.”
Ucapan Kaisar pagi itu, bagaikan palu godam yang menghantam dada Djiwa. Perempuan yang masih gadis itu seketika membeliakan bola matanya. Bagaimana bisa, suaminya sendiri dengan begitu tenang memintanya untuk hamil bersama pria lain? “Ka-kamu ... serius, Mas?” bisik Djiwa tak percaya, suaranya tercekat. “Kamu gak lagi bercanda, kan? Kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?” Kaisar mendesah berat. “Aku sudah muak! Mami terus mendesak lagi soal ahli waris. Aku sudah muak dengan tekanan itu. Dan dia terus menanyakan kapan kamu hamil.” Djiwa menelan ludahnya susah payah. “Kalau begitu ... kenapa gak sama kamu aja, Mas? Djiwa punya suami, kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?” tanyanya bingung. “Kamu? Jangan bercanda! Aku gak akan mempertaruhkan malam-malamku dengan kamu!” Ucapan Kaisar kali ini benar-benar menyayat hati Djiwa. Mulut Dijwa terbuka, tapi tak ada kata-kata yang keluar dari sana. “Cari pria terhormat kalau bisa. Kalau tidak bisa, aku yang akan mencarikannya untukmu,” ucap Kaisar, suaranya tetap dingin, seakan apa pun yang ia katakan sudah final. “Aku tidak sedang bernegosiasi.” Dada Djiwa terasa menyesak—seolah diremas dari salam. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh, sampai buku-buku jarinya memutih. Mulutnya sudah terbuka, hendak memprotes. Namun Kaisar lebih cepat, suaranya menampar udara lebih dulu. “Kamu harus hamil, aku gak mau tahu! Menikahi kamu aja udah bikin aku malu di depan kedua saudaraku, dan sekarang kamu masih mau mempermalukan aku dengan tidak bisa memberikan keturunan?” Kaisar menautkan tangan di depan dada, tatapan datar namun menekan. “Jadi, lakukan saja—atau biaya rumah sakit kakekmu aku cabut!” Djiwa dengan cepat menggeleng, tak terima dengan ancaman itu. “Nggak, Mas. Jangan lakuin itu ke kakek, aku mohon! Kakek butuh biaya besar untuk rumah sakit sampai sembuh, Mas.” Hembusan napas Kaisar terdengar berat, tapi bukan karena ragu. “Kalau begitu, hari ini juga kamu putuskan. Supaya aku tidak cabut biaya rumah sakit kakek kamu.” Iya atau tidak. Itu pilihan tersulit untuk Djiwa. Apalagi ini menyangkut nyawa sang kakek. Padahal pernikahan mereka baru berusia satu tahun. Dan selama itu, Djiwa baru tahu kalau suaminya selama ini tidak mencintainya. Terpaksa. Ya, Kaisar terpaksa menikahinya karena wasiat sang kakek. Karena kakeknya dulu berteman sangat dekat dengan kakek Djiwa, dan memutuskan untuk saling menjodohkan cucu mereka. Jika Djiwa tahu ini sejak awal. Sumpah demi apapun, Djiwa tidak akan pernah mau menikah dengan Kaisar. Padahal selama ini, dia mencoba mencintai sang suami. Tapi pria itu tidak pernah sedikitpun membalas usahanya. “Bagaimana?” Kaisar menaikkan satu alisnya, menunggu keputusan sang istri. Djiwa menelan ludahnya berat. “Djiwa ... Djiwa akan pikir-pikir lagi, Mas.” Tatapan Kaisar tetap dingin. “Baiklah, aku beri kamu waktu tiga hari dari sekarang,” setelah mengatakan itu, Kaisar meninggalkan kamar mereka. Sementara Djiwa terpaku di tengah-tengah ruangan tersebut. Kakinya mendadak lemas setelah mengetahui fakta mengejutkan ini. Tak hanya itu, tapi permintaan sang suami yang tak masuk akal. Djiwa menghembuskan napas pelan. “Ke mana aku harus mencari pria terhormat? Apalagi … anak itu bakal jadi pewaris keluarga Reinard,” gumamnya, terdengar bingung dan putus asa. Djiwa tersentak ketika pandangannya jatuh pada jam dinding. Sudah pukul setengah tujuh pagi—sebentar lagi waktu sarapan. “Ya Tuhan!” Panik kecil menyengat dadanya. Djiwa langsung meninggalkan kamar, hampir setengah berlari menuju dapur. Rutinitasnya sudah menunggu, menyiapkan sarapan untuk keluarga besar Reinard—yang terdiri dari ibu mertuanya, para kakak ipar, serta keponakannya. Keluarga Reinard adalah keluarga konglomerat yang keras memegang adat patrilineal. Semua tinggal dalam satu atap, mertua, anak, menantu—hierarki yang tak pernah benar-benar terlihat, tapi selalu terasa menekan. Dan Djiwa, sebagai menantu bungsu yang tak bekerja seperti dua menantu lainnya, otomatis menjadi tangan utama rumah itu. Memasak, beres-beres, memastikan semua berjalan sempurna. Ia memang tidak sendirian, ada pembantu lain membantunya. Mudah mengurus rumah semewah dan seluas ini dengan para pembantu. Tapi tak mudah bagi Djiwa yang dituntut untuk melakukan semuanya tanpa kesalahan. Ruang demi ruang seperti tak ada habisnya, dan tiap sudut menuntut kesempurnaan. Sekitar setengah jam kemudian, Djiwa bersama dua pembantu lainnya akhirnya selesai menyiapkan sarapan. Dan kini tugas Djiwa melayani ibu mertuanya dan sang suami, Kaisar. “Ini teh hijaunya, Mi,” Djiwa menyerahkan teh hangat milik sang ibu mertua ke hadapannya. “Terima kasih,” ucap Sekar datar, tanpa menoleh. Kini Djiwa giliran melayani sang suami. Tapi ketika dia hendak meletakkan roti panggang untuk Kaisar, pria itu segera menarik piringnya. “Aku bisa sendiri, kamu langsung duduk saja,” kata pria itu dengan nada dingin. Djiwa tersenyum kecil, lalu duduk di kursi sebelah kiri sang suami. Baru saja tangannya hendak meraih roti panggang, suara ibu mertuanya yang tajam memecah keheningan meja makan. “Satu tahun. Sudah genap satu tahun Djiwa menjadi menantu keluarga Reinard.” Sekar menoleh, tatapannya langsung mengarah pada menantu bungsunya. “Tapi kamu belum juga hamil.” Pelan, tangan Djiwa yang tadi terulur menggantung di udara turun kembali ke pangkuan. Ia menunduk dalam-dalam, jemarinya saling menggenggam erat. Tidak berani menatap siapapun—terutama ibu mertuanya. Bahkan ia bisa merasakan tatapan para kakak iparnya yang mencemooh dari kedua sisi meja makan, membuat dadanya sesak. Malu? Tentu saja. Keluarga suaminya benar-benar keluarga terhormat dari kalangan elit— memiliki garis keturunan Jawa dan Belanda murni. Sekar Ayunda Reinard yang berdarah Jawa, dan suaminya mendiang Diederick Von Reinard yang merupakan konglomerat Belanda. Pemilik perusahaan Grand Reinard Corporation, yang beroperasi di dalam dan luar negeri. Serta memiliki banyak anak cabang—mulai dari perusahaan industri, hotel, dan juga rumah sakit. Kekayaan itu diwarisi anak-anak mereka, si tiga bersaudara. Radja si anak pertama, Sultan si anak kedua, dan Kaisar yang merupakan anak bungsu. “Saya sudah membuat janji temu dengan dokter kandungan terbaik,” lanjut Sekar, mendorong kartu nama pada Kaisar yang duduk di sebelah kirinya—agar memberikan pada Djiwa. Pria itu dengan malas meraihnya, lalu menyerahkannya pada sang istri tanpa menoleh. Gerakannya sangat malas, seolah tak tertarik sedikitpun. Lalu Sekar menambahkan. “Saya tidak mau tahu! Kamu harus segera periksa.” “Mungkin Djiwa mandul, Mi!” Inggrit—istri Radja, si sulung—menimpali, membuat semua yang di meja makan menatap ke arahnya. Sementara Radja sendiri, sang suami, hanya meliriknya sekilas. “Bisa jadi, Mbak Grit. Sebenarnya Djiwa ini mandul, tapi dia sengaja tidak mau memberitahu Mami dan Mas Kaisar. Supaya tidak diceraikan!” imbuh Fairish—istri Sultan, anak kedua, ikut memanasi keadaan. Kedua istri kakak ipar Djiwa memang selalu merendahkannya karena perbedaan kasta mereka yang bagaikan langit dan bumi. Inggrit, merupakan lulusan S2 jurusan designer kampus ternama di Amerika. Tak hanya itu, Inggrit juga putri dari pengusaha kaya raya, dan sekarang dia mengelola butik besar. Dan istri Sultan—Fairish, merupakan lulusan S2 Hukum, dan sekarang bekerja sebagai pengacara sekaligus anak dari pemilik Firma Hukum terbesar. Sedangkan Djiwa? Hanya perempuan yang kebetulan beruntung menjadi kandidat menantu dari keluarga tersebut. Karena kakeknya adalah teman lama dari ayah Sekar yang merupakan kakek Kaisar. Pernikahan mereka terjadi karena sebuah wasiat dari tetua mereka yang sudah meninggal sekitar satu tahun yang lalu, sebelum Djiwa dan Kaisar resmi menikah. Kata ‘mandul’ itu seperti tamparan keras yang menghantam pipi Djiwa. Tuduhan itu menusuk harga dirinya yang sudah rapuh karena Kaisar tidak pernah menyentuhnya. Djiwa merasakan wajahnya memucat. Ia melirik Kaisar di sampingnya, tetapi pria itu menatap piringnya dengan ekspresi bosan—seolah mendengarkan pidato yang sudah dihafalnya. Seperti biasa, Kaisar tidak akan membelanya di depan ibu mertuanya itu. Tak bicara apapun, membiarkan Djiwa dimaki dan dihina di depan keluarganya. Djiwa mengangkat pandangannya, menatap ibu mertuanya. “Mi, Djiwa ... rahim Djiwa baik-baik saja,” ucapnya berusaha membela diri, suaranya bergetar. BRAK! Sekar menggebrak meja dengan ujung pisau selai di tangannya—membuat semua yang di meja makan terlonjak kaget, sedangkan tatapan Sekar dingin dan menusuk. “Tidak ada kata ‘baik-baik saja’, Djiwa! Lakukan apa yang saya minta, dan kirimkan hasilnya. Saya ingin memastikan sendiri!” “Lakukan saja, Wa … apa yang dikatakan Mami,” akhirnya Kaisar membuka suara, setelah sejak tadi terdiam cukup lama. Namun bukan membela, melainkan ikut intimidasi sang istri. Djiwa menelan ludahnya berat. Matanya yang merah sejak tadi tampak berkaca-kaca setelah pria yang seharusnya melindungi, justru ikut menyudutkannya. “Lagipula,” Kaisar kembali melanjutkan. “Aku yakin yang bermasalah di sini kamu. Apa salahnya untuk cek ke dokter, agar bisa tahu kamu negatif atau positif mandul.” Tangan Djiwa di atas pangkuannya sudah mulai bergetar karena menahan emosi. Mengepal erat sampai buku-buku jarinya memutih pucat. Bagaimana bisa suaminya sendiri mengucapkan itu di meja makan, di depan seluruh anggota keluarga? “Dengar baik-baik,” Sekar kembali buka suara, nada bicaranya tegas penuh perintah. “Saya beri kamu tenggat waktu tiga bulan dari sekarang. Kamu harus hamil.” Setiap katanya penuh tekanan dan menuntut, membuat Djiwa kesulitan bernapas dengan baik. Tapi tak sampai disitu saja, Sekar menambahkan dengan nada ketus. “Jika tidak, saya sendiri yang akan meminta Kaisar menceraikan kamu.” Nada Sekar merendah tajam, menusuk tanpa ampun. “Setelah itu kamu bisa pulang ke rumah gubukmu, dan menghabiskan sisa hidupmu merawat kakekmu yang sakit-sakitan itu.”Gideon“ I can't keep up with this,” I said, pacing in the room back and forth.“ Will you stop it?” Andrew said, picking the bridge of his nose.“ How did that even happen?” He asked like I knew the answer somehow.“ You are asking me?”“ Shall I go ask that crazy locked up dragon?” He snapped back.“ Why do I feel like you guys are made for each other,” Damien said laughing his heart out. A low growl vibrated in the back of my throat to let him know I am not in the mood right now. He immediately went silent.“ You are her mate and maybe you know something or did she tell you something?” Aaron looked at me lazily as he sat back on the single couch playing with his ring.“ No.”“ Then stop hurting your head,” he said as he stood up from the couch.“ Try to make her fall in love with you. Maybe she will remember everything and if not it's a good thing you should leave the bad memories behind and create a new one with her. It's that simple,” he said.“ And what if she doesn't want me an
AvaI woke up to the soft beeping sound of a machine with a pounding head. I groaned in pain when I tried to open my eyes.“ Ummm,” I groaned again when I tried to move my body. My body was aching really badly to even move my finger.What happened to me? I asked myself as I couldn't remove anything.“ Hey,” a soft deep voice said. It sounded familiar. I peered my eyes open with a great difficulty to see who it was.I didn't know who it was but he sounded familiar like I knew him. Narrowing my eyes I stared at him as he moved closer to hold my hand. He reached for my hand but I pulled it away before he could hold it.“ Who are you?” I asked, looking at his exceptionally handsome face. I didn't know why but he looked hurt.“ Don't you know me?” He asked carefully.“ No,” I said, shaking my head.“ What are you doing here?” I asked again when I failed to remember who he was.“ Babe,” he said, taking my hand in his.“ what?” I asked with wide eyes. What was he even saying?I tried to sta
GideonMy heart clenched when I heard Ava's scream. With great difficulty I lifted my head to look at her to see what was happening to her but couldn't see anything due to my hazy vision.That Bastard has used aconite to weaken us with wolfsbane.“ Zender, come out buddy,” I said in my head as I struggled in their hold to break free. It was a challenge for me to even move my fingers with aconite in my system.“ My love,” as soon as I heard Ava's voice in my head my head snapped up in her direction. How is it even possible that she is communicating with me, without her Lycan?“ Ava?”“ Yes, it's me. Thank you for coming,” she said. I could see tears brimming in her eyes as she continued looking at me with a half smile. I fucking hate myself right now for not being able to save her.“ It is not your fault baby,” she said as if she read my mind.“ I had to come,” I said.“ I know they had used aconite and I can help you remove that thing,” she added.“ How?” I asked, then I remembered sh
Ava“ No!!!” A gut wrenching scream left my mouth seeing Liam was being hit on his head.“ Don't even think about leaving here alive,” Ivan said glaring at Liam with a sinister smirk on his lips.Where is Kiara and the others, I wondered looking around frantically searching for my team. But they were nowhere to be seen.I saw two of his men holding Liam down while he was half unconscious. Tears started streaming down from my eyes as I shook my head. It is all my fault. I won't ever be able to forgive myself.“ Hmmm, interesting,” Mikael said as he turned around and walked towards Liam. Fear was creeping up in my heart as I watched Mikael's movement, one blow from him and liam will be dead.“ How did you manage to get in?” He asked, looking down at liam.“ Who are you? No ordinary person can get inside the barrier,” he added.“ It has weakened,” Liam answered.“ Do you want me to believe you?” He asked, chuckling at the stupidity of Liam's answer. Then it hit me and I closed my eyes to
Gideon “ Ava?” Max said as soon as his eyes fell on Ava in my arms. Shi* I cursed inwardly when she passed out. “ Agatha…… “ She is exhausted and weak. We must stop the bleeding,” she said. “ Come on, let's take her to her room,” Max said, leading us to her room. “ Daro, where are you?” I asked thro
Ava I heard growls from afar, knowing that they were coming to get me. “ You can't get caught, Ava,” I said to myself as I panted. I didn't stop even for a second. “ Please moon goddess, help me. Guide me to find the barrier,” I prayed. Tears started rolling down from my eyes when I heard the sound
Gideon After searching the area for the 6th time I returned to the tree where Ava was tied. “ I shouldn't have left her alone,” I said to myself in defeat. “ It wasn't your fault, Gideon,” zender said for the first time since she was kidnapped. “ How it wasn't my fault, zender? I am the one who sho
Unknown “ Ummm, sir,” one of my men said, knocking on the half opened door. I looked up and waited for him to continue.“ We lost her track, sir,” he said, looking down and shivering in fear.“ Ummm,” I hummed in response.“ You may go,” I said and his head snapped up immediately, looking at me in disb


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews