“Apa maksudmu, Sayang?” tanya Saka seraya membelalakkan mata.
Kinan menghela napas panjang sambil mengendikkan bahu.
“Aku hanya berpikir saja kalau kamu sama halnya denganku sedang mengulang kehidupan dan itu artinya kamu Saka yang aku temui di malam itu.”
Saka langsung tersenyum kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan dan menjentik hidung Kinan dengan gemas.
“Jadi apa begitu menggemaskan seorang ibu hamil sehingga punya pikiran aneh-aneh.”
Kinan tidak menjawab hanya tersenyum saja. Sementara Saka mendekat ke arah Kinan kemudian merengkuh tubuh Kinan masuk kembali dalam pelukannya.
“Aku hanya ingin mencintaimu, Sayang. Tak peduli kamu akan mengulang berapa kali kehidupan, aku janji akan mencarimu di setiap kehidupan itu. Ini janjiku seperti janji matahari pada pagi dan juga senja.”
Kinan tersenyum, membalas pelukan Saka kemudian perlahan memagut bibir Saka dengan penuh cinta.
&ld
“FAJAR?!” seru Kinan dan Saka berbarengan.Mereka berdua tampak terkejut mendapati Fajar sudah berdiri di depannya dan sedang menatap Kinanti serta Saka dengan tatapan yang aneh.“Iya, baguslah kalau kalian masih mengenaliku. Aku sengaja datang ke sini untuk mengucapkan selamat atas kehamilanmu, Kinan. Aku senang akhirnya mantan istriku bisa hamil juga,” ujar Fajar dengan sinis.Kinan hanya diam dan terus menatap Fajar dengan tatapan penuh amarah. Ingin sekali rasanya Kinan pergi seketika dari sana. Ia yakin pria di depannya ini sedang merencanakan sesuatu.“Kamu mau apa, Fajar?” sergah Kinan penuh amarah. Wanita berwajah manis itu sudah siap meringsek mendekat ke arah Fajar, tapi ditahan oleh Saka.Fajar hanya tersenyum menyeringai ke arah Kinan dan Saka. Sesekali dia mengurut dagu licinnya kemudian dengan tatapan tajam melihat ke arah mereka berdua.“Aku sudah bilang, Kinan Sayang. Kalau aku ke sin
“Aku tidak begitu, Sayang,” ucap Saka.Kinan hanya bereaksi dia mendengar jawaban Saka sementara Fajar kini yang tampak terkejut. Dia berjalan mendekat menarik lengan Saka dan tiba-tiba mencekal tubuh Saka lalu menunjukkan luka di kepala Saka kepada Kinan.“Lihat, Kinan! Lihat!! Ini lukanya!” ucap Fajar.Saka langsung mengelak dan lepas dari cekalan Fajar. Sementara Kinan hanya diam dan menatap dua pria di depannya ini dengan bingung.“Apa kamu lupa, Fajar? Kalau aku sudah mendapatkan luka ini sejak lama. Saat aku masih kecil, aku sempat tejatuh dan dari situlah luka itu kudapatkan,” urai Saka.Fajar terdiam dan menatap Saka dengan bingung.“Sepertinya kamu yang sudah lupa ingatan, Fajar. Mungkin akibat dari mengulang kehidupan, kamu jadi seperti itu. Namun, yang aku herankan mengapa kamu bisa tahu kalau di kehidupan yang berbeda itu, aku dan Kinan jatuh ke jurang. Apa Kinan pernah mengatakannya?&rdq
“SAKA!!” seru Kinan dengan mimik terkejut.Saka hanya diam, menundukkan kepala dan tampak menghela napas panjang berulang.“Kamu dengar sendiri, Kinan! Suamimu sudah mengakui sendiri kalau dia memang membuat kesepakatan itu denganku. Dia yang membuatku menjualmu saat itu, Kinan. Dia yang bajingan, berengsek. BUKAN AKU!!” teriak Fajar.Kinan hanya diam, menatap dengan sendu ke arah Saka. Perlahan Saka mengangkat kepala dan melihat ke arah Kinan. Matanya tampak berkabut dan Kinan tidak tahu apa Saka melakukannya dengan terpaksa atau memang dia benar-benar melakukannya.“Aku percaya kamu, Sayang. Apa pun yang kamu ucapkan pasti untuk keselamatanku. Aku percaya padamu,” cicit Kinan pelan.Fajar makin marah begitu mendengar ucapan Kinan. Dengan kesal, Fajar melepas kuncian di leher Kinan. Lalu Fajar mendorong tubuh Kinan dengan kasar hingga tersungkur jatuh ke lantai.“Aduh ... .” Kinan mengadu sambil memegang perutnya.Saka bergegas menghampiri Kinan dan membantunya berdiri.“Sayang ... k
“SAKA!!”Kinan langsung menghentikan langkahnya begitu mendengar suara tembakan. Dia ragu antara ingin kembali ke tempat Saka atau meneruskan langkahnya ke depan mencari penjaga rumah.Belum selesai Kinan menentukan pilihannya, kini terdengar suara letusan lagi dari arah yang sama. Kinan menoleh sembari membalikkan badan. Tanpa diminta, matanya berkabut dan buliran bening sudah luruh perlahan dari mata bulatnya.“Saka ... .” Lagi Kinan bertutur lirih. Dia tidak bisa bergerak dan mematung di tempatnya.“Nyonya, ada apa?” tanya seorang penjaga yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.Kinan menoleh, kini sudah ada banyak orang mengelilingi dirinya. Kinan tidak mampu menjawab hanya tangannya sudah menunjuk ke arah lorong rumah di depan yang mengarah ke kamarnya.“Tuan Saka?” tanya penjaga tersebut.“I—iiya, Saka. Tolong Saka,” cicit Kinan pelan.Tanpa menunggu Kina
“Saka kenapa, Pa?” seru Kinan.Dia penasaran sekaligus terkejut begitu mendengar Tuan Arya berseru keras sambil memanggil nama Saka. Tuan Arya tidak menjawab hanya diam sambil berulang menganggukkan kepala seakan sedang mendengar penjelasan orang di seberang sana.“Pa ... Saka kenapa?” kembali Kinan bertanya. Dia tidak sabar menunggu Tuan Arya menyudahi panggilannya.Hal yang sama juga dilakukan oleh Nyonya Septa. Wanita yang masih terlihat cantik di usia senjanya itu menatap tajam ke arah Tuan Arya seakan mempertanyakan arti percakapan di teleponnya tadi.Tuan Arya menyudahi panggilan dan menyimpan ponselnya di saku jas kemudian melihat Kinan dan Nyonya Septa bergantian.“Ada apa, Pa?” tanya Nyonya Septa.Helaan napas panjang keluar dari bibir hitam Tuan Arya. “Saka sempat drop tadi, tapi dokter berhasil menyelamatkannya. Lalu yang jadi masalah, dia butuh darah, Ma. Kebetulan stock darah yang sesuai
“MA!!” seru Tuan Arya mengejutkan.Nyonya Septa langsung menjeda kalimatnya dan melihat ke arah suaminya. Begitu juga Kinan, dia sudah melakukan hal yang sama.“Aku sudah mendapat donor untuk Saka. Dia baru saja menghubungiku,” lanjut Tuan Arya kesenangan.“Akh ... syukurlah,” ucap Nyonya Septa dan Kinan berbarengan.“Dia Ardi, Ma. Teman Saka, dia tadi meneleponku karena mendengar Saka mengalami musibah lalu aku menjelaskan kalau Saka sedang butuh donor darah. Kebetulan golongan darah Ardi sama dengan Saka. Sekarang dia sudah perjalanan ke sini.”“Aku senang mendengarnya, Pa. Semoga saja setelah ini Saka bisa langsung siuman dan melewati masa kritisnya.”Kinan langsung mengangguk, membenarkan pernyataan Nyonya Septa. Kinan juga mengenal Ardi bahkan Ardi pernah menolong Kinan dan Saka tempo hari. Kini teman Saka itu kembali memberikan bantuan untuknya.Selang beberapa saat Ard
“Kinan, bagaimana kalau kita pulang dulu?” ajak Nyonya Septa.“Sudah petang kamu pasti butuh istirahat sejenak dan berganti baju. Setelah itu kita bisa kembali ke sini lagi,” lanjut Nyonya Septa memberi saran.Memang sedari pagi, mereka masih berada di rumah sakit menunggu Saka yang belum tersadar juga. Kinan hanya diam kemudian melirik ke arah kamar tempat Saka dirawat. Nyonya Septa melihatnya dan tersenyum sambil mengelus bahu Kinan pelan.“Saka tidak akan kemana-mana. Dia pasti tidak keberatan kamu tinggal sebentar, Kinan.”Kinan tersenyum kemudian menganggukkan kepala. Tubuhnya juga lelah sekali, biasanya Kinan menyempatkan untuk beristirahat siang. Namun, sejak dari pagi tadi Kinan belum beristirahat. Entah mengapa sejak hamil, Kinan jadi mudah lelah. Rasanya dia memang tidak bisa menolak tawaran ibu mertuanya kali ini.“Iya, Ma. Kita pulang dulu kalau begitu.” Kinan akhirnya menyetujui ajakan Ny
“Buku harian Saka? Ini buku hariannya? Kenapa aku tidak pernah tahu kalau dia menulis buku harian selama ini?” gumam Kinan.Kinan segera menutup sampul bukunya dan bersiap hendak meletakkan buku tersebut kembali ke tempatnya. Dia sangat menghargai privasi suaminya dan membaca buku harian milik Saka tanpa sepengetahuannya adalah sesuatu yang tidak sopan.Kinan bangkit bersiap meletakkan kembali buku itu ke tempatnya, tapi tiba-tiba sebuah keraguan muncul di benak Kinan. Ia tiba-tiba teringat ucapan Fajar di malam itu kalau Saka suaminya ini adalah Saka yang sama di kehidupan yang pernah dia alami.Helaan napas panjang keluar masuk dari bibir Kinan, kemudian wanita manis itu kembali duduk di sofa dengan buku harian milik Saka di pangkuannya.“Maaf, Sayang ... aku hanya ingin membaca sedikit saja,” gumam Kinan seakan sedang meminta izin ke Saka.Perlahan Kinan membuka kembali sampul buku tersebut. Banyak lembar kosong di halama
“Gadis kecil di foto itu ... adalah ... aku,” lirih Kinan bersuara.Saka langsung tersenyum mendengar ucapan Kinan. Kinan hanya terdiam dan masih terkejut begitu tahu kalau dia sudah mengenal suaminya jauh hari sebelumnya.“Jadi ... jadi ... kamu anak kecil yang tertabrak mobil dulu?” imbuh Kinan.Sekali lagi Saka mengangguk dan sebuah senyuman terukir di wajah tampannya.“Ya Tuhan ... .” Kinan langsung menangkupkan kedua tangannya ke muka. Ini benar-benar kejadian yang tidak pernah dia duga.Memang Kinan yang menolong Saka saat Saka secara sengaja ditabrak mobil oleh Daniel. Kebetulan Kinan hendak bertandang ke rumah Saka saat itu. Kinan yang lebih dulu melihat Saka tergeletak tak berdaya di depan rumahnya saat mobil Daniel menabrak Saka. Kinan juga yang berlarian masuk ke dalam rumah Saka memberitahu ke orang tua Saka. Sementara orang tua Kinan sudah sigap menolong Saka.Kinan menunduk dan berurai air ma
“Nyonya Kinan sudah melalui masa kritisnya dan kondisinya kini sudah membaik,” ucap dokter wanita itu.Seketika kaki Saka lemas dan langsung duduk di kasur kembali. Dia merasa lega sekaligus senang usai mendengar perihal kondisi istri tercintanya. Hal yang sama juga ditunjukkan Nyonya Septa, Tuan Arya, Ardi dan Pak Wildan. Semuanya tampak tersenyum bahagia.Dokter itu menganggukkan kepala melihat mimik suka cita yang tampak pada semua yang hadir di ruangan ini.“Lalu tentang janinnya ---“ Dokter itu kembali menggantung kalimatnya dan kini sudah fokus melihat ke arah Saka.Saka membisu tak berani bersuara. Dia sudak ikhlas menerima apa pun yang terjadi. Saka yakin semua yang ditetapkan Tuhan untuknya adalah yang terbaik.“Jujur, saya baru kali ini menangani kasus seperti ini. Mungkin Tuhan telah memberi Anda sekeluarga mukjizat tak ternilai, Tuan.” Dokter itu kembali bersuara dan mengalihkan pembicaraannya.
“Bagaimana keadaan istri saya, Dok?” Bagai dejavu, Saka kembali mengulang kejadian yang sama seperti beberapa bulan lalu.Yang beda kali ini hanyalah, kondisi Kinan. Dulu Kinan lebih sehat dan tidak mengeluarkan banyak darah dari tubuhnya. Saka sudah pasrah apa pun yang terjadi, dia akan menerima dengan lapang dada.“Sabar, Tuan. Kami sedang berusaha semampu mungkin. Hanya dengan pertolongan Tuhan saja yang bisa memberi mukjizat dan membuat istri Anda selamat dari maut,” ujar dokter yang menangani Kinan.Saka hanya mengangguk lesu tak berdaya.“Mungkin lebih baik, luka Anda dirawat dulu, Tuan,” pinta dokter itu lagi.Saka hanya menghela napas sambil menganggukkan kepala. Usai dari rumah Om Daniel, polisi memang membawa Saka dan Kinan ke rumah sakit terdekat. Kinan langsung masuk UGD dan mendapat pertolongan secepatnya. Sementara Saka tidak mempedulikan lukanya malah sibuk mengejar dokter yang menangani Kinan.
“Aah ... .” Saka langsung tersungkur sambil memegang perutnya.Ternyata sedari tadi Daniel sudah mengamatinya saat berkelahi, Saka selalu kesakitan saat lawan memukul perutnya. Memang masih ada bekas luka tembak yang belum sembuh benar di sana. Bahkan Saka masih menutup lukanya dengan perban.“Jadi itu kelemahanmu. Apa itu lukamu, Saka? Sepertinya aku menyerang tepat sasaran saat ini.” Daniel terkekeh sambil menatap Saka penuh benci.Saka hanya diam, menyeka darah di sudut bibirnya kemudian menatap ke arah Daniel tanpa takut.“Aku tidak punya kelemahan. Om salah menebaknya.”Mendengar ucapan Saka yang sombong membuat Daniel makin murka. Dia kembali menyerang Saka dengan bertubi-tubi membuat Saka kewalahan. Dari dulu, Saka memang tidak pernah menang jika beradu tanding dengan pamannya. Namun, kali ini Saka ingin mengubah sejarah. Dia harus memenangkan perkelahiannya.Mereka masih asyik saling pukul, jotos,
“APA!!?” Saka terperanjat kaget mendengar ucapan Kinan.Kinan hanya diam tidak menjawab dan terus meringis kesakitan sambil memegang perutnya.“Tolong, Saka. Ini ... ini sakit sekali. Aku tidak kuat,” rintih Kinan.“TIDAK!! TIDAK!! KAMU TIDAK BOLEH MENYERAH. KAMU HARUS MELAWANNYA, SAYANG.” Kinan hanya diam tidak menjawab dan terus merundukkan tubuh tak sanggup berdiri tegak. Tanpa banyak bicara, Saka langsung menggendong tubuh Kinan dan berjalan menuju lift.“Aku tidak mau kehilangan kalian berdua. Aku akan melakukan apa saja, Sayang.” Saka berkata seperti itu sambil berjalan masuk ke dalam lift. Kemudian begitu turun dia bersiap keluar dari ruang kerja Daniel. Saka harus secepatnya membawa Kinan ke rumah sakit.Namun, baru saja keluar dari ruang kerja Daniel, Saka menghentikan langkahnya. Ia melihat Daniel sedang berdiri menghadang dengan dua orang penjaga yang dilihat Saka tadi.“Tepat
“Tolong ... Tuan. Jangan lakukan itu!! Anak saya masih kecil dan istri saya juga masih membutuhkan saya,” lirih dokter tersebut memohon.Daniel sudah menodongkan pistolnya ke arah kening dokter tersebut dan tampak tersenyum menyeringai menatapnya.“Kalau kamu masih ingin hidup. Lakukan permintaanku!!”Dokter tersebut terdiam lama, tangannya sudah terangkat semua dan tertegun menatap Kinan. Ini adalah sebuah pilihan yang sulit baginya.“CEPAT!! TUNGGU APA LAGI?? APA KAMU MEMANG INGIN MATI??”Dokter itu mengerjapkan mata kemudian dengan sendu menatap Kinan dan menggelengkan kepala. Hampir tak terdengar sebuah kata keluar dari mulut pria berjas putih itu seakan sedang meminta maaf kepada Kinan.Kinan hanya terdiam menatapnya. Bahkan wanita berwajah manis itu itu tidak bisa menahan buliran bening yang luruh seketika membasahi pipinya.Perlahan dokter itu membalikkan badan dan berjalan menuju meja di sam
“Saka!! Apa yang terjadi?” tanya Nyonya Septa.Ibunda Saka itu mendengar saat Saka berteriak keras tadi dan langsung menyeruak masuk ke kamar Saka. Saka menoleh sambil menyerahkan ponselnya ke Nyonya Septa.“Om Daniel ... Kinan berada di tangan Om Daniel dan dia mau mengaborsi anakku.”“APA??!!” Seketika Nyonya Septa terbelalak kaget.Tuan Arya yang baru saja datang segera menghampiri Saka di kamarnya begitu juga Ardi dan Pak Wildan. Mereka tampak terkejut usai mendengar penjelasan dari Nyonya Septa.“Saka, kamu jangan gegabah. Kita harus lapor polisi. Papa takut mereka menjebakmu kali ini,” ujar Tuan Arya.“Aku gak mau menunggu, Pa. Ini tentang nyawa Kinan dan anakku. Aku gak akan tinggal diam. Aku harus pergi menyelamatkan mereka.”“Iya, Mama tahu. Namun, kamu juga belum pulih benar. Kalau terjadi sesuatu padamu, bagaimana?” Nyonya Septa sudah menitikkan air mat
“Ma, apa ada kabar tentang Kinan?” tanya Saka.Dia baru saja keluar dari kamar dan menghampiri Nyonya Septa yang sedang duduk di ruang tengah.“Tadi Papa dan Pak Wildan sudah tahu tentang taxi online yang dipesan Kinan. Mereka sedang mengecek ke operator aplikasinya. Sementara Ardi sudah lapor polisi tentang hilangnya Kinan. Ardi juga sudah melacak ponsel Kinan. Mungkin sebentar lagi akan ada titik terang, Saka.”Saka hanya diam usai mendengar penjelasan Nyonya Septa.“Lalu sampai kapan Kinan ditemukan, Ma? Aku takut terjadi sesuatu padanya, pada anakku,” gumam Saka pelan.Nyonya Septa menoleh ke arah Saka, kemudian membelai wajah tampan putra kesayangannya itu.“Tenanglah, Saka. Kita sama-sama berdoa, supaya mereka cepat menemukan Kinan dan tidak terjadi sesuatu apa pun yang membahayakannya.”Saka hanya membisu sembari menganggukkan kepala. “Iya, Ma. Semoga saja tidak terjadi apa-
“Aku di mana?” lirih Kinan bertutur.Perlahan dia mengerjapkan mata sambil melihat ke sekeliling. Tadi pagi sekali Kinan memang pergi dari rumah. Ia tahu kalau hari ini Saka keluar dari rumah sakit. Harusnya Kinan bahagia mendengar kabar itu, tapi tidak dengan Kinan saat ini. Hatinya masih sakit, kecewa dan merasa dibohongi. Ia masih tidak bisa terima kenyataan kalau Saka suaminya ini adalah Saka yang sama telah membuat hancur hidupnya di malam itu. Yang lebih menyakitkan lagi, Saka berbohong dan berpura-pura padanya selama ini.Awalnya Kinan ingin menenangkan diri di rumah keluarganya, dia memesan taxi online tanpa sepengetahuan siapa pun. Bahkan Kinan sudah meninggalkan pesan untuk Saka agar tidak mencarinya. Namun, kini dia malah kebingungan berada di mana. Ini bukanlah tujuan utamanya dan Kinan tidak tahu mengapa berada di sini.Terakhir yang dia ingat, sopir taxi online itu mengajaknya mengobrol dan menanyakan tujuannya kemudian Kinan sudah tida