Share

Bab 86

Author: Lathifah Nur
last update Last Updated: 2024-06-01 06:04:18

Matahari musim semi bersinar hangat di pagi hari. Amisha dan Zain duduk berdampingan di atas sebuah gondola. Sebuah perahu dayung tradisional yang menjadi alat transportasi utama di Venice. Perahu itu berbentuk panjang dan runcing di bagian ujungnya dan datar pada bagian bawah. Membuatnya meliuk mudah dan lincah di atas permukaan air melewati kanal-kanal yang memenuhi kota terapung itu.

Venice terletak di wilayah Veneto, di bagian Timur Laut negara Italia. Memiliki luas 412 km persegi yang terdiri dari 118 pulau kecil, dipisahkan oleh kanal-kanal dan dihubungkan oleh jembatan-jembatan yang tersebar di seluruh Kota Venice. Tak mengherankan jika kota ini dikenal dengan sebutan kota air.

Pandangan mata Amisha dan Zain tak henti-hentinya mengagumi arsitektur bangunan-bangunan tua yang berdiri di sepanjang kanal. Sangat memukau! Ya, tidak salah jika banyak orang yan

Locked Chapter
Continue to read this book on the APP

Related chapters

  • Lelaki Penakluk Nona Muda   Bab 87

    “Auranya bikin bulu kuduk merinding,” komentar Amisha lagi, tanpa mengalihkan tatapan dari jembatan kuno itu.Patung-patung kepala yang berjajar rapi di sepanjang bagian sisi bawah jembatan tampak menakutkan, seakan memberi pesan bahwa setiap tahanan yang melintasi jembatan itu harus bersiap-siap menerima kematian.“Ayo, ke sana! Dan lihat apakah kau berpikir begitu,” ajak Zain.“Huh?”Di balik kesan suram itu, celah-celah kecil dari batangan batu yang dibentuk dengan pola tertentu menyuguhkan pemandangan yang luar biasa indah, seolah-olah memberi kesempatan terakhir kepada semua narapidana untuk menikmati detik-detik terakhir kebebasan mereka atau bahkan mungkin juga hidup mereka.Sebuah jembatan dengan posisi yang lebih ren

    Last Updated : 2024-06-01
  • Lelaki Penakluk Nona Muda   Bab 88

    Apa pun yang ada di belakang, biarkan tetap tinggal. Semua akan memudar dengan sendirinya dan seiring waktu akan menghilang tanpa jejak. Mungkin prinsip itu yang harus dipegang teguh oleh Amisha mulai saat ini, sehubungan dengan kisah percintaan masa lalunya dengan Kenzo, sang pengkhianat.Amisha meraih benda cantik yang menghias sudut kanan meja kerjanya. Sebuah miniatur Menara Lonceng Santo Markus. Miniatur itu sangat indah. Terbuat dari kaca kualitas terbaik dengan warna menakjubkan.Miniatur menara itu merupakan sebuah rekam jejak kenangan antara dirinya dan Zain, saat menikmati hari terakhir bulan madu mereka di Venice. Saat itu mereka memutuskan untuk melintasi jembatan Laguna menuju Pulau Murano. Sebuah pulau kecil di Utara Venice.Pulau yang terkenal dengan kerajinan kaca dan pembuatan lampu itu sangat mengu

    Last Updated : 2024-06-02
  • Lelaki Penakluk Nona Muda   Bab 89

    Bukan Jakarta namanya kalau sehari saja tak terjebak macet. Sepertinya kemacetan sudah menjadi ikon yang sangat sulit untuk dihilangkan. Lagi-lagi Amisha harus menahan hati berdiam diri di tengah antrean panjang itu.Amisha mengetuk-ngetuk setir mobil dengan ujung-ujung jarinya. Raut mukanya gelisah. Berulang kali ia mengingsut pantatnya, seolah ia sedang duduk di atas bebatuan runcing. Di depan sana, puluhan mobil mulai merayap sejengkal demi sejengkal di atas jalanan yang memuai. Menambah pengap panasnya cuaca di siang itu.“Ayo! Cepatlah bergerak!” perintah Amisha, bergumam pelan. Tak tahu ditujukan kepada siapa. Mungkin pada sopir-sopir di depan sana yang tak kalah resahnya dengan dirinya.Amisha melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul 13.25. Sudah lima belas menit ia terjebak macet. Menyebalkan sekali. Amis

    Last Updated : 2024-06-02
  • Lelaki Penakluk Nona Muda   Bab 90

    “Saya juga tidak tahu, Non, tapi saya yakin, siapa pun dia, dia pasti seorang lelaki yang baik,” ujar Rasmi, setengah berbisik.“Bagaimana Ibu bisa yakin?”“Saya dapat merasakannya, Non. Jika dia bukan lelaki yang baik, dia tidak mungkin mengirim seseorang datang ke sini untuk menyelesaikan masalah panti. Ia tidak hanya membayar uang yang diminta, tapi juga mengurus langsung sertifikat kepemilikan panti.”“Zaman sekarang banyak orang berpura-pura baik demi mencapai tujuannya, Bu.” Amisha masih cemas.“Saya yakin dia tidak seperti itu, Non.” Rasmi berusaha meyakinkan Amisha.“Aku hanya khawatir, Bu. Kasihan anak-anak kalau sampai panti ini digusur,” sahut Amisha lirih. Wajahnya benar-benar terlihat prihatin.

    Last Updated : 2024-06-02
  • Lelaki Penakluk Nona Muda   Bab 91

    Satu jam sebelum waktu makan siang …TAP! TAP! TAP!Derap sepatu pantofel bergema menghantam lantai sebuah rumah kosong penuh debu. Seorang lelaki berjalan masuk dengan langkah tegap, menenteng sebuah koper hitam di tangan kanannya. Tubuhnya terbalut pakaian dan jaket serba hitam.Sepasang kacamata hitam ukuran besar hampir menutupi separuh wajahnya, mengimpit sehelai masker kain yang dikenakannya. Sebuah topi baseball bertengger di kepalanya, dengan bagian depan nyaris menyembunyikan mukanya dengan sempurna. Lagi-lagi semua itu berwarna hitam.Sebuah meja kayu ukuran kecil berdiri rapuh di tengah ruangan kumuh itu. Di belakang meja itu, berdiri seorang lelaki berkacamata hitam. Tangan kirinya berada di saku celana. Tampak jelas ia sedang menanti kedatangan lelaki berpak

    Last Updated : 2024-06-02
  • Lelaki Penakluk Nona Muda   Bab 92

    BIP!Secepat kilat tangan lelaki itu bergerak membuka kunci layar telepon genggamnya. Sebuah senyuman menghias bibirnya begitu tanda pesan masuk memanggilnya.“Aku sudah mengikutinya, Bos. Sekarang dia berada di Panti Asuhan PK. Sepertinya dia donatur tetap di panti itu.”Rangkaian pesan itu dilengkapi beberapa foto seorang wanita tengah sibuk menurunkan barang-barang bawaannya dari bagasi mobil.“Amisha Harist, kecantikanmu benar-benar sempurna!”Lelaki itu berdecak kagum melihat setiap foto yang dikirim oleh anak buahnya. Tangannya bergerak lincah mengetik balasan, lalu segera mengirimkannya.“Hm … Zain Adelino .…”Lelaki itu menopang dagu dengan ujung gawainya seraya manggut-manggut, menyebut nama seorang pebisnis ternama.“Aku tak peduli sehebat apa dirimu. Aku akan menjadi rival terberatmu untuk memperebutkan hati Amisha Harist!”Lelaki itu menggenggam erat ponselnya, seakan sedang mengikrarkan sumpah persaingan.Lima belas menit yang lalu di Panti Asuhan PK …Amisha masih melaya

    Last Updated : 2024-06-03
  • Lelaki Penakluk Nona Muda   Bab 93

    “Sungguh hari yang panjang,” keluh Amisha sembari memijat pelan bahunya yang terasa sangat pegal.Setiap kesulitan yang dilaluinya hari itu membuat waktu terasa berjalan lambat. Bumi seakan berhenti berputar.“Harusnya aku tadi langsung pulang saja,” lirihnya, menyesali keputusannya kembali ke kantor sepulang dari panti asuhan.“Aku butuh cokelat panas.” Amisha mengeluarkan telepon genggam dari saku blazernya.Office boy gila, antarkan aku segelas cokelat panas. Sekarang! ~ Karin“Ya Tuhan! Apa-apaan ini?”Amisha mengomeli dirinya sendiri saat teringat Dede sudah lama tak bekerja di kantornya.Cepat-cepat ia menghapus pesan itu sebelum jari lentiknya terlanjur memencet tombol kirim dan Zain yang selalu dipanggilnya dengan sapaan office boy gila itu mengukir senyum kemenangan karena merasa dibutuhkan.Sepertinya rasa lelah dan kegelisahan hati lantaran pikiran kacau membuat Amisha kehilangan daya konsentrasinya. Ia menelungkupkan kepala dengan lesu di atas meja. Kedua tangannya dibiark

    Last Updated : 2024-06-03
  • Lelaki Penakluk Nona Muda   Bab 94

    Minggu pagi, awan kelabu menggantung di langit Jakarta. Menyembunyikan seberkas cahaya mentari yang menyemburat malu di ufuk Timur. Amisha masih berbaring dalam balutan pakaian tidurnya.Tangannya terulur, meraba permukaan nakas di sisi tempat tidur dengan enggan dan mata yang masih terpejam, saat ponselnya berdering tiada henti.“Siapa sih pagi-pagi sudah berisik?” omel Amisha, memaksakan diri membuka mata ketika jemarinya tak berhasil menyentuh benda yang dicari.“Aish! Pasti office boy gila itu yang telah memindahkannya,” omel Amisha lagi, tatkala dilihatnya ponsel kesayangannya telah berpindah ke tepi nakas sebelah sana, jauh dari jangkauan tangannya.Dengan gerak malas Amisha terpaksa bangkit dari tidurnya. Ia mencondongkan badan ke samping, berusaha meraih ponsel itu dengan ujung jari, lalu menariknya lebih dekat.Amisha mengerutkan kening ketika melihat nama Gianna terpampang di layar monitor.“Gianna? Kenapa dia menelepon pagi-pagi begini?”Baru saja ia akan menghubungi balik

    Last Updated : 2024-06-03

Latest chapter

  • Lelaki Penakluk Nona Muda   Bab 210

    Amisha masih tegak mematung. Dadanya kian berguncang hebat. Detak jantungnya bagai genderang perang. Sungguh! Kata-kata Zain membawa jiwanya melayang tinggi, meniti angkasa menuju nirwana. Ia tak percaya Zain melamarnya. Ya, lamaran romantis yang diimpikan semua wanita. Meskipun tertunda sekian lama, Amisha masih saja merasakan lututnya gemetar. Saking gugupnya ia mendengar lamaran Zain yang disaksikan puluhan pasang mata.Selang beberapa menit, perlahan tangan kiri Amisha terulur membelai rambut Zain. Pelangi seakan bermunculan di hatinya kala ia menganggukkan kepala, tersenyum manis kepada Zain. Rona pelangi juga memancar dari sepasang netra gelap Zain ketika menyaksikan anggukan kepala Amisha. Senyuman Zain merekah.Tepuk tangan pun membahana disertai senyum bahagia dari puluhan pasang mata yang menjadi saksi lamaran tertunda Zain untuk Amisha.Zain pun bangkit dari berlutut dan spontan memeluk erat tubuh Amisha. Sejenak ia lupa akan keberadaan anak-anak panti yang menyaksikan mere

  • Lelaki Penakluk Nona Muda   Bab 209

    CEKLEK!Zain menutup pintu ruang kerja Amisha dengan kaki. Tangannya langsung saja menyambar tubuh Amisha yang berada di depannya dan melingkar erat pada pinggang ramping Amisha.Amisha membuang napas kesal. Kedua tangannya jatuh lurus ke samping tubuhnya.“Ini kantor, Tuan Zain Adelino! Sekarang saatnya aku bekerja!” Amisha memberi peringatan keras.Zain hanya tersenyum kecil tanpa berusaha merenggangkan pagutan lengannya dari tubuh istrinya itu. Sebaliknya, ia malah membenamkan wajahnya pada ceruk leher Amisha yang masih berbalut jilbab.“Sebentar saja,” rengek Zain.Matanya tertutup rapat, konsentrasi menyesap aroma wangi yang menguar dari tubuh Amisha.Puncak hidungnya yang menjulang tinggi berdiri pongah, seakan ingin memamerkan pada dunia bahwa tak ada seorang pun yang melebihi ketampanannya, setelah berhasil menaklukkan Amisha Harist.“Jangan bilang kamu ingin memangsaku saat ini!” goda Amisha, menoleh pada Zain dan langsung disambut dengan kecupan ringan pada pipinya.“Oh My G

  • Lelaki Penakluk Nona Muda   Bab 208

    Pandangan Amisha belum beralih dari Sonny, menanti penjelasan yang tak sepenuhnya ia pahami. Diletakkannya sendok dengan sedikit kasar. Menimbulkan bunyi berdentang. Untung saja meja mereka agak terpisah dari pengunjung lain, sehingga suara dentingan sendok beradu dengan piring tak sampai terdengar ke meja tetangga.“Aku tidak suka berteka-teki,” sergah Amisha dingin.Sonny tersenyum tipis dengan canggung. Ia sangat mengenal ekspresi yang ditunjukkan Amisha. Wanita itu sedang memasang kuda-kuda untuk setiap serangan kata yang akan dilayangkan oleh lawan bicaranya.“Ya … bisa jadi suatu hari nanti yang lalu itu akan menjadi awal dari masa depan,” kata Sonny, berandai-andai sembari tetap memendam angan.Amisha menantang tatapan sendu Sonny. “Tidak usah terlalu tinggi menggantung harap akan masa depan. Nikmati saja saat ini! Karena belum tentu Tuhan masih memberimu kesempatan untuk merasakan hangatnya cahaya mentari esok pagi.”Sonny terdiam. Perkataan Amisha skak mat untuknya. Ia hanya

  • Lelaki Penakluk Nona Muda   Bab 207

    “Ah, sudahlah! Mungkin aku memang harus ke sana. Setidaknya, pertemuan ini akan memperjelas semuanya.” Amisha akhirnya menyambar tas di atas meja, lalu menghilang dari ruangannya. Tidak butuh waktu lama bagi Amisha untuk tiba di kafe O, tempat janji temunya dengan seseorang yang menghubunginya satu jam yang lalu. Begitu Amisha berdiri di pintu masuk, seorang lelaki melambaikan tangan ke arahnya. Amisha pun berjalan ke meja di mana lelaki itu duduk. Kalau saja siang itu sinar mentari tidak begitu beringas, Amisha akan memilih pojok paling tepi di bagian luar kafe itu. Lebih sejuk. Akan tetapi, menikmati keindahan kubah dengan kaca warna-warni pada langit-langit kafe tersebut tentu tak kalah menyenangkan bila dibandingkan dengan nuansa alam di bagian luarnya. “Silakan duduk!” kata lelaki itu, menarik kursi untuk Amisha. “Terima kasih,” sahut Amisha. Komunikasi di antara mereka terdengar seperti percakapan sepasang robot yang sedang dalam masa uji coba. Amisha mematung kaku, mema

  • Lelaki Penakluk Nona Muda   Bab 206

    Amisha terjaga dari tidurnya ketika mendengar suara dengungan juicer yang sedang bekerja mengolah mangga. Entah berapa tempat yang didatangi Zain sampai akhirnya dia berhasil mendapat dua buah mangga sebagai stok terakhir dari sebuah kedai buah di pinggir jalan yang buka dua puluh empat jam. Ukurannya pun tidak terlalu besar. Layaknya buah mangga yang didatangkan dari kampung. Namun, Zain tetap bersyukur ia dapat memenuhi keinginan istri tercinta yang tengah mengidam itu. Melihat senyum bahagia menghiasi wajah Amisha adalah kebahagiaan terbesar bagi Zain. Amisha beranjak turun dari sofa bed dan melangkah gontai menuju ruang makan. Sesekali ia masih menguap dan ditutupnya dengan telapak tangan. Melihat Amisha berjalan seperti orang mabuk, Zain menekan tombol off, bergegas menyongsong Amisha, lalu membawanya duduk pada sebuah kursi. Lantaran masih mengantuk, Amisha langsung menempelkan sebelah pipinya pada permukaan meja. Matanya menatap sayu pada Zain yang melanjutkan pekerjaannya.

  • Lelaki Penakluk Nona Muda   Bab 205

    “Waktu Amisha masih kecil, mama kalian bahkan heboh, sampai lapor polisi karena mengira Amisha kabur setelah dimarahi. Eh, ternyata Amisha cuma ngumpet di kamar pengungsiannya.” Harist terkekeh setelah menceritakan kejadian itu, tak peduli pada sorot mata membunuh yang dilayangkan sang istri sebelumnya.“Honey?!” protes Claudya, dengan muka merah. Entah benar-benar marah atau justru tersipu malu.Gianna dan Zain tersenyum geli melihat raut muka Claudya yang bak pengantin baru digoda suaminya.Meski usia mereka sudah di ambang senja, hubungan Harist dan Claudya selalu mesra. Siapa pun yang melihat mereka akan merasa hangat dan damai. Ketularan hangatnya cinta kasih mereka yang tulus terhadap satu sama lain.Enggan rasanya berjauhan dari mereka bila sudah membaur dengan dua sejoli itu. Tak jarang kemesraan mereka menimbulkan rasa iri bagi sebagian anak muda, yang tanpa sengaja menyaksikan bagaimana mereka berinteraksi di tempat umum kala mereka sedang berada di taman, di restoran, atau

  • Lelaki Penakluk Nona Muda   Bab 204

    Setelah pesta kecil penyambutan orang tua angkatnya selesai dan tamu mereka pulang, Gianna tetap tinggal di rumah Amisha karena diminta Claudya untuk menginap. Celakanya, Gianna memang tak pernah bisa menolak permintaan orang tua angkatnya itu, meskipun sebenarnya ia sangat ingin pulang ke apartemennya sendiri.“Waaah, gila! Lama menghilang, kukira dia melanjutkan kuliah di luar negeri. Eh, ternyata malah ditangkap polisi! Ck!” seru Gianna, mendecak kaget sambil terus menyaksikan berita yang sedang ditontonnya di ruang tengah rumah Amisha.Ia ingat, terakhir kali ia melihat sosok orang yang diberitakan itu adalah saat menghadiri pesta perayaan ulang tahun Adelino Daneswara. Sempat beredar kabar lelaki itu akan melanjutkan study-nya di luar negeri.Haris yang sedang asyik membaca majalah olahraga hanya melirik sekilas mendengar kehebohan Gianna. Bagi Harist, kumpulan artikel dalam majalah itu jauh lebih menarik daripada berita yang ditonton Gianna. Dalam hitungan detik, ia pun kembali

  • Lelaki Penakluk Nona Muda   Bab 203

    Merahnya darah yang mengaliri wajah cantik Amisha tak lagi membayang jelas. Berubah pias diterpa kekagetan. Kaget menyaksikan berjuta kenangan indah yang terekam dalam setiap helai foto yang baru saja ditemukannya. Tidak hanya foto-fotonya semasa kuliah bersama Gianna dan Sonny, tetapi juga foto-foto menjelang pernikahannya. Bahkan, beberapa foto itu memperlihatkan tubuhnya yang sudah terbalut gaun pengantin.Diiringi detak jantung yang bergemuruh, otak Amisha mereka ulang kejadian empat tahun yang lalu. Saat itu hijaunya hamparan sajadah panjang yang terbentang menutupi lantai masjid tak lagi melukiskan ketenangan dan kedamaian hati. Warna hijau itu telah beralih rupa menjadi kelabu. Menorehkan goresan pilu.Aura keemasan yang semula memancar cerah dari indahnya janur kuning yang jatuh menjuntai dan berayun-ayun dibelai embusan angin perlahan tampak memudar, lalu menghilang tanpa jejak.Kalau saja Amisha tahu bahwa putihnya gaun pengantin yang dikenakannya saat itu tak lagi melambang

  • Lelaki Penakluk Nona Muda   Bab 202

    Dulu, ketika Amisha masih menyandang status sebagai tunangan Sonny, kehidupannya penuh keceriaan. Hampir setiap hari ia senyum-senyum sendiri membaca serangkaian pesan mesra dari Sonny. Saat itu ia benar-benar bahagia dan berharap kebahagiaan itu tak akan pernah berakhir.Kala itu awal tahun 2016. Pelaksanaan akad nikah yang direncanakan keluarga mereka tinggal menghitung hari. Tak ada yang menyangka jika tepat pada hari yang ditunggu-tunggu itu semua mimpi hidup bahagia yang dimiliki Amisha lenyap tak berbekas.Saat itu Amisha hanya bisa bergeming dengan ekspresi berubah kaku. Senyuman bahagia yang terpancar dari bibirnya beberapa detik sebelumnya seakan direnggut paksa oleh berita buruk tentang ketidakhadiran Sonny di Masjid Istiqlal hari itu.Amisha merasakan dunia tempatnya berpijak amblas seketika. Menariknya masuk ke dalam lapisan kerak bumi terdalam. Membenamkan jiwa raganya dalam kekalutan pikiran yang mengantarnya pada titik nadir sikap pesimis tentang cinta.Cinta Sonny yang

DMCA.com Protection Status