“Hehh! Kenapa kamu bisa di sini? Bukannya kamu bilang sudah pergi jauh dari Jakarta?” Amelia melotot kesal.
“Anak buah Rangga menangkap saya, Mbak. Saya sudah keliling kota hanya untuk menarik tunai uang yang Mbak kirimkan agar tidak bisa dilacak. Mbak sendiri kenapa bisa tertangkap?”
“Aku lebih berani dari kamu. Aku menculik istri Rangga dan membuatnya kehilangan bayi yang dikandungnya.” Amel tersenyum bangga ketika mengatakannya. Senyumnya kian lebar melihat Bayu mengernyit ngeri ke arahnya.
“Aku sudah pernah katakan padamu, aku menyimpan dendam yang besar pada wanita itu.”
“Ranggapati tidak akan melepaskanmu dengan mudah, Mbak.”
“Tidak masalah. Asal aku sudah membalas sakit hatiku, tidak masalah bagiku. Dan aku pikir, Rangga bukan tipe pria bejat yang tega menyakiti wanita. Buktinya, dia sama sekali tidak menyentuhku.”
“Mbak terlalu memandang remeh Ranggapati Da
“Kak, dia baik-baik saja, ‘kan?” Maura mengulang pertanyaannya. “Kenapa diam?”“Dia baik, sangat baik. Kamu tenang saja. Tidurlah, kamu pasti masih mengantuk.” Rangga mengusap lembut anak rambut yang lengket di kening Maura.Maura menekuk jarinya, meminta Rangga mendekat. “Aku lapar, Kak,” bisiknya.“Tan, apa dia sudah boleh makan?” Rangga berbalik menatap Siska.“Minum yang hangat dulu. Kalau tidak mual, muntah, bisa lanjut makan.”“Ren, tolong belikan minuman dan makanan hangat.”“Tidak, aku mau kamu yang belikan. Aku ingin minum teh hangat dan makan nasi rawon.”Rangga mengernyit sejenak sebelum akhirnya mengangguk dan keluar kamar diikuti Reno. Setelah Rangga pergi, Alina duduk di samping ranjang dan meraih tangan Maura.“Kak, maafkan aku. Kalau bukan karena aku memaksamu keluar bersamaku, semua ini tidak akan terjadi
“Kak,” “Apa?” Rangga berbalik. “Aku rasa, sebaiknya kita urus pembatalan pernikahan.” Rangga mengernyit. “Pembatalan pernikahan?” Kakinya melangkah cepat menghampiri Maura. “Apa maksud perkataanmu, coba jelaskan padaku.” Maura menata hatinya sebelum membuka mulutnya. Tapi, bibirnya hanya sedikit terbuka, tanpa bisa mengeluarkan kata. “APA?” emosi Rangga mulai meningkat. “Sudah tidak ada alasan bagi kita untuk terus bersama.” Desahan napas dan mata yang terpejam, sudah cukup memberi tanda bahwa Maura menyesali kalimatnya. “Jangan keterlaluan. Aku sudah cukup bersabar menghadapimu. Kalau keputusanku menyetujui kuret membuatmu marah, aku bisa mengerti. Marah saja, luapkan emosimu.” Rangga menyugar rambutnya dengan kesal. “Dengar, aku sudah pernah katakan padamu. Ini bukan pernikahan kontrak seperti dalam drama atau perjanjian bisnis yang biasa kita tangani. Ini pernikahan, hanya pernikahan. Jadi, apapun yang akan t
“Bawa dia ke Rumah Sakit. Awasi dengan ketat, jangan sampai dia melarikan diri!” Rangga membanting gagang telepon di tangannya.“Ada apa, Bos?”“Kamu hubungi Potter, tanyakan ke mana mereka membawa Amelia. Wanita gila itu, nekat menggigit lidahnya sendiri.”“Baik.” Reno melangkah cepat melintasi ruangan.“Sial!”Ponsel Rangga berdering.[Maura calling ….]“Halo.”Tidak ada jawaban dari seberang, hanya terdengar tarikan dan embusan napas.“Ra, are you okay?”[I’m okay. Hanya saja, aku tidak bisa menyalakan lampunya. Aku tidak bisa menemukan saklar dan tepuk tanganku tidak berhasil membuat lampunya menyala.]“Oke, tunggu. Aku pulang sekarang.” Rangga tersenyum melihat celah untuk mendebat keputusan Maura.Lima menit kemudian, Rangga sudah duduk di sofa kamarnya, berhad
“Tan, bagaimana kondisi Maura?”“Dia baik-baik saja. Hanya saja, dia mengalami guncangan emosi yang berlebihan. Kalian bertengkar lagi?” Siska memicingkan mata ke arah Rangga.“Tidak, dia marah bukan padaku.”“Sudah Tante pesan berulang kali, kamu harus lebih bersabar menghadapinya. Dia baru saja kehilangan calon bayinya, itu sangat berat untuknya.”“Ya, aku ngerti.”“Mengerti saja tidak cukup, Ranggapati. Dia butuh rasa aman dan nyaman. Temani dia, jangan berani beranjak dari kursimu.”Rangga hanya mengangguk mendengar perintah Siska. Tangannya merogoh saku celana, mengambil ponsel dan menghubungi Reno.“Bagaimana kondisinya?”[Sudah sadar, Bos. Dan ternyata bukan lidahnya yang dia gigit, tapi bagian dalam mulutnya.]“Dasar wanita licik!” Rangga mengumpat marah. “Tunggu Maura sadar, aku akan menemuimu. Jangan lupa, samp
“Gua gak mau tau, lo harus bantuin gua kabur. Gua gak mau dijodohin, Nin!” bohong Amel pada sahabatnya. [Iya, iya. Lo tenang dulu. Gendang telinga gua udah geter, hampir pecah denger teriakan panik lo. Emang lo mau dijodohin sama siapa, sih?] “Ada pokoknya, anak rekanan bokap gua. Mentang-mentang adek gua udah nikah, eh, sekarang malah maksa-maksa gua buat nikah juga.” [Kapan rencananya lo mau gua bantuin kabur, Mel? Kabur ke mana?] “Tar malem, lo tunggu di perempatan dekat rumah. Pas mereka udah pada tidur, gua keluar. Ke mananya, kita obrolin pas udah di luar aja. Btw, trims ya, Nin. Lo emang best friend gua.” [Iya, sama-sama.] Amelia menyeringai puas. Rencananya meminta bantuan Hanin untuk kabur, berhasil. Rumah ini sudah tidak aman lagi baginya. Terlebih setelah tadi siang Maura memperdengarkan rekaman percakapannya dengan Bayu. Sebelum Bayu buka mulut lebih lebar lagi, sebaiknya dia pergi jauh. Di tengah aktivitas
Peluh membasahi dahi dan punggung Maura. Kembali ke tempat Amel menyekap dan menyiksanya, membuat bulu kuduk Maura meremang. Ditambah lagi, tubuhnya juga terikat, persis seperti hari itu. “Bos, saya sudah berhasil membawa Maura ke tempat biasa.” Karta melapor via sambungan telepon. [Serius? Bagaimana bisa? Kamu memang sesuatu, Karta.] “Terima kasih, Bos. Lalu apa yang harus saya lakukan selanjutnya?” [Tunggu, saya meluncur sekarang. Eits, kasih saya bukti bahwa kamu tidak sedang menipu saya.] Karta mendekatkan ponselnya ke arah Maura. “Ayo, bicara!” bentaknya kasar. “Amelia bangs*t! Lepaskan aku!” teriak Maura marah. [Hahaha, gak sia-sia saya bayar kamu, Karta.] Amelia tergelak senang mendengar teriakan marah Maura. “Gimana, Bos?” [Oke, saya ke sana sekarang.] Satu jam kemudian, Amelia berlari kecil masuk ke dalam gedung kosong. Tidak disangka, dia masih berkesempatan bertemu Maura sebelum meninggalkan J
Penthouse Maura baru saja keluar dari kamar mandi, ketika bel pintu berbunyi. Mimiknya berubah kaku saat dilihatnya bibir Rangga bergerak mengatakan ‘papa’ tanpa suara, sebelum membuka pintu. Tanpa sadar, tangannya mengeratkan tali bathrobe yang membungkus tubuhnya. “Mana Maura?!” tanya Armand dengan nada marah. Rangga tidak repot menjawab, hanya bergerak menepi, memberikan ruang untuk Armand dan istrinya lewat. “Apa maksudmu dengan semua ini?!” tanya Armand saat melihat Maura mematung. “Mas, kita duduk dulu.” Soraya menarik lengan Armand dengan tangannya yang gemetar. “Maura, jawab Papa!” “Maaf, Pa. Maura hanya melakukan apa yang harus Maura lakukan,” sahut Maura singkat. “Memasukkan kakakmu ke penjara? Itu yang kamu sebut dengan hal yang harus kamu lakukan? Kamu ini kenapa sebenarnya?! Amel itu saudaramu, Ra!” “Saudara tidak akan mencelakai ssaudaranya, Pa.” Maura tetap berkeras. “Pa,
Kediaman Armand“Mas, bagaimana ini? Tolong selamatkan Amelia. Masa depannya akan hancur kalau dia punya catatan kriminal. Tolong, Mas.”Armand hanya diam, tidak menggubris perkataan istrinya. Ia begitu marah pada Amelia dan kehilangan mukanya di depan anak kandung dan menantu barunya. Armand begitu marah pada Maura saat mendapatkan telepon dari kantor polisi yang mengabarkan bahwa Amel sedang ditahan karena laporan Maura.Namun ternyata, Amelia yang sejatinya akan dia bela, malah melemparkan kotoran ke wajahnya. Anak tirinya itu telah mengakui perbuatannya pada Maura dalam rekaman video yang Rangga tunjukkan padanya. Kini, apapun yang Armand lakukan, tidak akan bisa menyelamatkan Orion dan nama baik keluarganya.“Mas, kenapa diam saja? Jawab aku, Mas Armand.” Soraya mengguncang lengan suaminya yang masih saja diam.“Apa yang kamu ingin aku lakukan? Mengorbankan Maura lagi? Kamu sudah melihat sendiri rekaman tadi. Amel
Vila Danutirta, Bandung“Gimana, Han? sudah dapat tiket pesawatnya?” tanya Jelita gelisah. “Kasihan Alina dan Rangga, mereka belum pernah menemani ibu bersalin, pasti bingung dan panik.” Jelita mondar-mandir seperti kain pel.“Belum, Bu. Penerbangan hari ini penuh semua. Tiket kereta juga ludes sampai besok,” lapor Hanna tak kalah gelisah.“Haduh ... kenapa bisa habis semua di saat seperti ini? Galih, kamu sudah hubungi Galih dan Reno? Biasanya otak pria bisa berpikir cepat saat situasi mendesak begini.”Hanna menggeleng. “Mas Galih dan Reno sedang berada di kawasan proyek, Bu. Ponselnya dinonaktifkan.”“Astaga, ya Allah Gusti ...! Kok bisa barengan begini, sih?!” Jelita menepuk kedua pahanya putus asa.Yuki yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi, hanya bengong sambil kepalanya bergerak mengikuti Hanna dan Jelita bergantian.Jelita melambaikan tangannya denga
Rangga sedang iseng mengintip isi kantong belanjaan yang tergeletak di atas ranjang manakala telinganya mendengar seruan panik dari dalam kamar mandi. Rangga bergegas ke kamar mandi, melihat Maura sedang berdiri berpegang erat pada pinggiran wastafel, tapi mimiknya tidak menyiratkan kesakitan, membuat Rangga menurunkan kewaspadaannya.“Ada apa?” tanya Rangga tenang.“Balonnya meletus,” ucap Maura bingung.Rangga mengedarkan pandangan ke arah langit-langit, mencari bohlam yang pecah. “Mana? Gak ada yang pecah, kok.”“Ini, yang di sini.” Maura menunjuk ke bawah kakinya.“Astaga! Ini balon apa yang pecah, kok isinya air keruh?!” panik Rangga. “Jangan-jangan ... ini ketuban, ya?” tebak Rangga sambil menatap Maura meminta penjelasan.“Sepertinya begitu.”Rangga bergegas mengangkat Maura, membawanya keluar dan membaringkannya di ranjang.“Jangan
“Hoek, hoek!” Maura bersandar lemas di depan pantry dengan kran menyala deras. Di sampingnya, Alina dengan telaten memijat lembut tengkuknya. “Maura kenapa, Al?” Rangga yang penuh keringat setelah bermain tenis bersama Kirman terlihat cemas. “Entahlah, sejak tadi pagi sudah begini.” Alina meraih selembar tisu untuk mengusap peluh yang membasahi leher dan dahi Maura. “Sini, biar aku saja.” Rangga menggantikan Alina, memijit tengkuk dan mengusap peluh. “Masih mau muntah?” tanyanya lembut. Maura menggeleng. “Aku mau duduk, Kak.” Rangga dengan sigap menggendong Maura, membawanya ke kursi goyang kayu kesayangan eyang kakungnya. “Duduk sini dulu, aku ambilkan minum.” “Aku mau teh lemon madu hangat,” sahut Maura cepat. “Oke, segera datang.” Rangga melesat kembali ke dapur bersih dan sibuk menyiapkan teh yang Maura minta. “Kak, apa masih ingin muntah? Perlu aku ambilkan baskom kecil?” tanya Alina seraya mendekat.
Rangga, Hanna dan Galih kompak mengernyit jijik melihat isi gelas yang Jelita sodorkan ke depan Maura. Sedangkan wanita hamil itu, dengan mata membeliak, mengintip ke dalam gelas dan penasaran pada isinya.“Sudah, jangan intip-intip. Minum!” desak Jelita lagi.Maura memasang wajah memelas. “Eyang, boleh tidak kita lewati saja tradisi yang ini?”Jelita menggeleng.“Kalau minumnya setelah makan?” tawar Maura lagi.“Bisa-bisa kamu makin eneg dan muntah nanti,” celetuk Rangga, membayangkan dirinya yang meminum ramuan Jelita.Maura mendelik marah ke arah Rangga yang memasang wajah tanpa dosa. “Kalau begitu, biar dia saja yang mewakili Maura, Eyang!” ketus Maura sambil terus menatap Rangga kesal.“Hush! Yang hamil kamu, yang lahiran kamu, masa’ iya yang minum jamu Rangga?” Jelita tersenyum memahami kekesalan Maura, tapi gelas di tangannya tetap teguh di depan waja
Jelita tersentak melihat Maura berdiri di tengah ruangan dengan lengan menggamit Rangga dan tangan lainnya menggandeng Yuki. Di belakangnya, ada Hanna dan Galih. “Lho, kalian?” heran Jelita sampai tidak bisa berkata-kata. Warsih yang pertama kali tanggap, menarik lengan Kirman dan Barno untuk membawa koper tamunya masuk. “Ayo, kopernya diurus dulu,” bisiknya memberi perintah. “Trus, urusan cacing ini gimana, Mbak?” protes Barno. “Tahan dulu!” hardik Warsih sambil melotot kesal. “Ehhem! Kalian ke belakang dulu, buatkan Maura minuman hangat.” Kumpulan abdi dalem itu pun membubarkan diri dengan wajah penasaran tentang apa yang terjadi pada majikannya. Jelita berdiri, mempersilakan tamunya duduk di sofa tengah. Sikapnya kaku dan canggung, membuat Galih dan lainnya merasa makin bersalah. “Kenapa tiba-tiba datang tanpa kasih tahu dulu? Ada apa?” tanya Jelita datar. Galih dan Hanna duduk mengapit Jelita. “Bu, kami datang untuk
Puri Mangkunegaran 15, Yogyakarta“Sih, Warsih! Ayo, jangan lama-lama. Keburu siang nanti.” Jelita berpaling ke belakang sambil merapikan sanggulnya.Warsih tergopoh-gopoh masuk dari pintu belakang. “Maaf, Ndoro. Saya baru selesai bantu Kirman motong ayam,” ujarnya sambil membenahi kebayanya yang berantakan.“Ya, sudah. Tolong kamu panggilkan Barno, minta dia untuk mengantar kita ke pasar.” Jelita menjinjing tas belanja yang terbuat dari anyaman plastik warna-warni kesayangannya dan berjalan mendahului Warsih ke teras.Nyatanya, Barno sedang sibuk mengelap mobil kuno warna hijau pastel yang bagian atasnya berbentuk lengkung. Melihat majikannya mendekat, Barno bergegas membuka pintu penumpang.“Sudah selesai bersih-bersihnya?” tanya Jelita seraya memeriksa hasil kerja abdinya.“Sampun, Ndoro.” Barno memeras kanebo sebelum memasukkannya ke dalam kotak plastik warna k
“Kenapa? Gak suka aku temani? Atau aku ganggu momen kamu ketemuan sama mantan pacar?” goda Rangga dengan wajah serius.“Kamu becanda apa beneran, sih? Kok serius banget mukanya?” panik Maura. “Aku ketemuan sama Rissa, bukan Evan, itupun karena gak sengaja. Dan Evan bukan mantan pacarku, Kak.”Rangga tergelak. “Oke, percaya. Masih mau ngobrol atau kita pulang sekarang?” tawar Rangga seraya bangkit dari kursi. Ekor matanya menangkap sososk Evan sedang mencari mereka.“Pulang.” Maura meraih tasnya dan mencium pipi Rissa sekilas. “Kapan-kapan kita sambung lagi,” pamitnya.Sret.Sejurus kemudian, Maura sudah berada dalam dekapan lengan kokoh Rangga. Kedua matanya melebar seolah bertanya apa yang sedang Rangga lakukan.“Biar lebih cepat!” sahut Rangga singkat. “Mang, tolong belanjaannya, ya.”Jajang keluar dari balik pilar besar dan mengangguk sa
Ibu jari Galih berhenti bergerak, diam terpaku di tulang pipi Hanna. Jelas sekali bahwa dia terkejut mendengar berita perihal kepulangan Jelita.“Ibu pulang? Kapan? Kenapa?”“Pagi tadi, kata Jajang. Alasan pastinya aku tidak tahu, tapi dari nada bicaranya saat menelfonku pagi ini, sepertinya ibu kecewa pada kita.” Hanna tertunduk sedih. “Selama lebih tiga puluh tahun menjadi menantunya, belum pernah aku dengar nada kecewanya terlontar untukku.”“Han, lihat aku.” Galih menarik dagu Hanna naik. “Kita tidak bisa selalu memuaskan orang lain. Tidak apa-apa terkadang salah dan mengecewakan, kita manusia.”Hanna tahu, suaminya berusaha menghiburnya, tapi kata-katanya makin membuat Hanna terbebani. “Apa kamu tahu salah kita di mana, Mas? Apa karena kita tidak memberitahunya tentang Alina? Aku tidak menyangka ibu akan begitu kecewa, padahal—.”“Stt, sudah. Jangan terus memik
Ruang VVIPAlina sudah kembali ke ruang perawatan. Dua jam di dalam ruang tindakan, membuat Maura menggigil karena terpaan AC dan ingatan masa lalu yang menghantuinya tanpa henti. Hanna tampak cemas melihat anak dan menantunya sama-sama pucat.“Ra, apa perlu mama minta Tante Siska buka satu kamar buat kamu?” Hanna meremas jemari Maura yang dingin.“Tidak perlu, Ma. Sebentar lagi juga mendingan,” kilah Maura sambil memasang senyum.“Ren, Reno!” Hanna meninggikan suaranya agar Reno terbangun.“Ehh, ya? Ada apa, Ma?” gagap Reno.“Ada apa gimana, sih? Tolong kamu jaga Alina, ini Maura kedinginan.” Hanna kesal dengan sikap menantunya.Reno bergegas menghampiri ranjang dan memeriksa keadaan istrinya. Sesekali menutup mulutnya yang tidak berhenti menguap.Beruntung Rangga datang dan mengambil alih perawatan Maura, meringankan kecemasan Hanna. Ketika dua pasang anak mantunya s