Lily menatap tajam ke arah Abraham. Tekadnya sudah bulat. Ia tidak akan membiarkan Crish dan Rani mengendalikan permainan. Sudah waktunya ia yang mengambil alih permainan. "Aku ingin menemui Crish dan Rani. Sekarang." Abraham yang duduk di belakang mejanya menaikkan alis. "Untuk apa?" tanyanya, meskipun dari sorot matanya, ia sudah mulai memahami maksud Lily. Lily tersenyum tipis, tetapi senyum itu dipenuhi dengan niat berbahaya. "Untuk memberi kejutan." Abraham mengernyit. "Kejutan?" "Benar," jawab Lily dengan nada penuh keyakinan. "Aku ingin mengungkap identitas asliku pada mereka sebelum mereka mengungkapnya terlebih dahulu dan membuat pengumuman ke media." Ia tahu bagaimana Crish bekerja. Jika pria itu mulai curiga dan panik, ia tidak akan ragu menggunakan media untuk membentuk opini publik. Crish bisa saja menyebarkan kebohongan, memutarbalikkan keadaan, dan membuatnya terlihat seperti dalang jahat di balik kehancuran perusahaannya sendiri. Lily tidak akan membi
Rani meronta, kukunya mencakar pergelangan tangan Lily, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman maut itu. Namun, Lily tidak bergeming. Matanya tetap dingin, tidak ada keraguan, tidak ada belas kasihan. "Kau takut, Rani?" suara Lily terdengar tenang, tetapi penuh ancaman. Wajah Rani mulai memerah. Napasnya semakin sulit, dan matanya dipenuhi ketakutan. "Aku ingin kau merasakan apa yang aku rasakan." Cengkeraman Lily semakin erat. Rani mulai kehilangan kekuatannya, tangannya melemah, dan tubuhnya mulai bergetar hebat. Namun, sebelum semuanya berakhir, suara berat terdengar dari belakang. "Lily! Hentikan!" Tangan kuat menarik Lily ke belakang, melepaskan cengkeramannya dari leher Rani. Rani terjatuh ke lantai, terbatuk keras sambil memegangi lehernya yang memerah. Lily menoleh, dan matanya bertemu dengan Crish. Pria itu berdiri dengan napas memburu, matanya terbelalak melihat apa yang baru saja terjadi. Lily tersenyum tipis, seolah kedatangan Crish tidak mengubah
Crish menatap Lily dengan sorot mata penuh kewaspadaan. "Apa tujuanmu, Lily?" suaranya terdengar tajam, tetapi ada sedikit getaran di dalamnya. Lily tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum, seolah menikmati ketegangan yang menggantung di udara. Crish melanjutkan, "Kenapa kau membongkar identitasmu pada kami? Memangnya kau tidak takut kami akan membocorkannya?" Lily tertawa kecil, lalu mendekat ke arah Crish dan Rani. Tatapannya dingin dan tajam. "Takut?" Ia menatap Crish dalam-dalam, lalu berbisik pelan namun menusuk: "Hanya orang mati yang tak akan bicara." Rani terkejut, wajahnya langsung pucat pasi. "K-Kau… tidak mungkin…" Crish juga menegang, tetapi ia berusaha mempertahankan ketenangannya. "Kau pikir kau bisa menyingkirkan kami begitu saja, Lily?" Lily tersenyum lebih lebar. "Oh, tentu saja tidak sekarang. Aku ingin kalian merasakan bagaimana rasanya kehilangan… sedikit demi sedikit. Sampai kalian sendiri yang memohon untuk mati." Rani mulai gemetar, sem
Crish menatap Rani dengan sorot penuh kecurigaan. Wajahnya kusut, pikirannya kacau, dan tubuhnya masih menegang setelah kepergian Lily dan Abraham. Ia mengingat koper yang sempat dilihatnya tadi—koper yang Rani siapkan untuk pergi. "Apa yang akan kau lakukan, Rani?" suara Crish terdengar dingin, nyaris berbisik. "Pergi dariku setelah aku hancur?" Rani terdiam, matanya membesar. "C-Crish… bukan begitu," ujarnya tergagap. "Aku hanya… aku takut. Aku tidak mau kehilangan segalanya!" Crish menyeringai sinis. "Kau takut kehilangan segalanya? Bukankah itu yang dulu kau lakukan pada Lily? Kau mengambil semuanya darinya tanpa rasa takut sedikit pun." Rani menelan ludah, tubuhnya bergetar. "Itu… itu berbeda! Aku melakukan itu demi kita! Demi masa depan kita!" Crish tertawa pahit. "Demi kita? Atau demi dirimu sendiri?" Rani menggeleng keras. "Aku tidak akan meninggalkanmu, Crish! Aku hanya ingin memastikan asetku aman. Itu saja!" Crish menatapnya lama, ekspresinya sulit ditebak
Lily duduk diam di dalam mobil, matanya menatap kosong ke luar jendela. Kota yang gemerlap tampak seperti bayangan masa lalu yang terus berputar di pikirannya. Di sebelahnya, Abraham tetap tenang, kedua tangannya mantap di atas kemudi. Sepanjang perjalanan, tak ada sepatah kata pun yang terucap dari mereka berdua. Hening. Tak ada pertanyaan, tak ada diskusi. Hanya kesunyian yang menggantung di antara mereka. Lily tidak tahu apa yang harus ia rasakan saat ini. Ia telah mengungkap identitasnya kepada Crish dan Rani, melihat ketakutan di mata mereka, menyaksikan kehancuran yang mulai terjadi. Itu adalah bagian dari rencananya, dan rencana itu berjalan dengan sempurna. Namun, mengapa ada sesuatu yang terasa kosong? Abraham melirik ke arahnya sejenak sebelum kembali fokus pada jalan. Ia mengenal Lily lebih dari siapa pun. Ia tahu perempuan itu sedang berpikir. Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, akhirnya Abraham membuka suara. "Kau menyesal?" Lily mengerjap
Lily baru saja hendak berdiri dari sofa ketika kakinya tanpa sengaja tersangkut di ujung karpet. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, dan sebelum ia sempat menyadari apa yang terjadi, gravitasi menariknya ke depan. "Ah—!" Dalam sekejap, dua lengan kuat menangkapnya dengan sigap. Lily terkejut, dan saat ia mengangkat kepalanya, wajah Abraham sudah begitu dekat dengannya. Mata mereka bertemu. Napas Lily tercekat. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Abraham, bisa mendengar detak jantungnya yang tenang, kontras dengan miliknya yang berdetak liar. "Ternyata dia tampan sekali," ujar Lily dalam hati. Abraham tidak langsung melepaskannya. Ia menatap Lily dalam, seolah sedang membaca sesuatu yang tersembunyi di balik mata wanita itu. "Hati-hati," bisik Abraham, suaranya rendah dan penuh perhatian. Lily menelan ludah. Jarak di antara mereka terlalu dekat, terlalu berbahaya. Ia bisa mencium samar aroma maskulin Abraham—campuran dari parfum mahal dan sesuatu yang khas darinya. Sejenak,
Crish menunggu di ujung telepon, napasnya berat dan penuh amarah. Suara di seberang terdengar setelah beberapa detik. "Siapa targetnya?" Crish menyeringai, matanya gelap oleh dendam. "Marsanda Evelyn Whitmore. Aku ingin dia lenyap selamanya." Ada keheningan sejenak sebelum suara itu menjawab. "Harga yang kau minta tidak murah, Crish. Apalagi targetmu seseorang yang punya hubungan dengan Abraham." Crish menggeram. "Aku tidak peduli berapa harganya! Aku ingin dia mati!" Suara di seberang tertawa kecil. "Baik. Aku akan mengatur semuanya. Tapi kau tahu konsekuensinya, kan? Jika ini gagal, bukan hanya dia yang akan mati." Crish mengepalkan tangannya. "Lakukan saja pekerjaannya!" Telepon terputus. Crish menyeringai puas. Kali ini, Lily tidak akan bisa lolos seperti sebelumnya. Jika dia pernah kembali dari ambang kematian, maka kali ini dia tidak akan punya kesempatan kedua. Di tempat lain, seseorang telah menerima perintah eksekusi. Dan Lily… tidak menyadari bahwa ajalnya
Crish duduk di kursi ruang kerjanya dengan wajah kusut. Tangannya mencengkeram gelas minuman dengan erat, sementara pikirannya berkecamuk. "Brengsek!" Dengan penuh amarah, ia melempar gelas itu ke dinding, membuat pecahannya berhamburan di lantai. Semua rencananya hancur berantakan. "Aku kehilangan perusahaan, kehilangan investor, dan sekarang bahkan nyawaku pun dalam bahaya!" Serangan terhadap Lily gagal. Itu artinya, Abraham pasti sudah mengetahuinya. Dan jika Abraham sudah turun tangan, maka Crish tahu waktunya semakin menipis. Tok! Tok! Pintu ruangannya diketuk sebelum seseorang masuk dengan ekspresi tegang. "Tuan, ada masalah besar…" Crish menoleh tajam. "Masalah apalagi?!" bentaknya. Orang itu menelan ludah sebelum berkata, "Abraham menggerakkan koneksinya. Semua perusahaan yang masih terikat dengan kita mulai menarik diri. Kita benar-benar dalam bahaya!" Crish merasakan dadanya sesak. Semua orang meninggalkannya. Bahkan Rani, yang selama ini bersamanya,
Lily melangkah pelan memasuki bangunan reyot yang hampir roboh. Bau busuk menyengat menyambutnya, tetapi ia tak terganggu sedikit pun. Di sudut ruangan yang lembap dan gelap, Rani terduduk dengan tubuh penuh luka. Rambutnya acak-acakan, wajahnya kotor, dan pakaiannya compang-camping. Ia hampir tak terlihat seperti wanita angkuh yang dulu merampas segalanya dari Lily. "Lama tak bertemu, Rani." Suara lembut Lily menggema di ruangan sunyi itu, namun ada nada dingin di dalamnya. Rani mengangkat wajahnya dengan susah payah. Matanya nanar, penuh ketakutan dan kepasrahan. "Lily…" suaranya serak, hampir seperti bisikan. "Tolong… aku… aku tak bisa lagi." Lily tersenyum samar dan berjalan mendekat, lalu berjongkok di depan Rani. "Tolong?" ia tertawa kecil. "Kau tidak ingat bagaimana dulu aku memohon padamu? Bagaimana aku hampir mati karena permainan kotor yang kau lakukan?" Rani menggeleng lemah, air matanya jatuh satu per satu. "Aku salah… aku menyesal… aku bersedia menebus sem
Rani menatap bayangannya di cermin mobil. Wajahnya sudah sempurna dengan riasan halus yang menonjolkan kecantikannya. Gaun merah elegan yang membalut tubuhnya seakan menjadi senjata terakhirnya untuk menghadapi Abraham. Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu… Ini sama saja dengan menggali kuburnya sendiri. "Abraham tak mudah didekati, apalagi disentuh," gumamnya sambil menatap gedung bertingkat tempat pria itu berkantor. Tangannya sedikit gemetar saat membuka pintu mobil. Ia sadar, sekali ia melangkah masuk, maka ia tak akan bisa mundur lagi. Langkah demi langkah ia tempuh dengan hati berdebar. Para karyawan yang lalu lalang di lobi meliriknya sekilas, tetapi ia mengabaikannya. "Aku harus melakukannya. Jika aku ingin bertahan, aku harus membuatnya percaya." Sesampainya di depan ruang utama, ia menarik napas panjang sebelum berbicara kepada sekretaris Abraham. "Aku ingin bertemu dengan Tuan Abraham," ucapnya dengan senyum yang ia paksakan. Sekretaris itu menatapnya denga
Rani mundur selangkah, ponselnya hampir terjatuh dari tangannya. Napasnya tersengal, jantungnya berdetak kencang. "Tidak... ini tidak mungkin," bisiknya ketakutan. Ia dengan cepat menutup semua tirai apartemennya, lalu berlari ke pintu untuk memastikan kuncinya masih terpasang. Ia bahkan menekan tubuhnya ke pintu, seolah-olah itu bisa melindunginya dari ancaman yang terasa semakin nyata. Notifikasi ponselnya berbunyi lagi. "Jangan buang waktu, Rani. Aku menunggumu." Rani menggeleng, menggigit bibirnya untuk menahan kepanikan. Crish benar-benar serius. Dia masih bisa menjangkaunya, bahkan saat ia berpikir sudah aman. Tangannya mulai berkeringat saat ia mencoba berpikir jernih. Pilihan apa yang aku punya? Jika ia menolak, Crish pasti akan terus memburunya, mungkin lebih dari sekadar ancaman. Tapi jika ia menuruti perintahnya, itu berarti ia harus berhadapan dengan Abraham dan Lily lagi. Dua pilihan, dan keduanya sama buruknya. Ia mendongak, menatap bayangannya di cermin
Crish dibawa pergi oleh anak buah Abraham, tapi bahkan saat borgol terpasang di tangannya, seringai puas masih menghiasi wajahnya. Ia dilempar ke dalam mobil, namun sebelum pintunya ditutup, ia menatap Abraham dengan penuh arti. "Kau terlalu percaya diri, Abraham," katanya. "Jangan berpikir bahwa menyingkirkanku akan membuat hidupmu lebih mudah. Karena bahkan di balik jeruji, aku masih bisa menyentuh Lily." Abraham mengepalkan tangannya. "Kau menyentuhnya sekali lagi, dan aku pastikan kau tidak akan pernah melihat dunia luar lagi." Crish tertawa. "Kau pikir aku perlu menyentuhnya sendiri? Dunia ini penuh dengan orang-orang yang bisa dibayar, Abraham. Kau tahu itu lebih baik dariku." Abraham tidak berkata apa-apa lagi. Ia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk menutup pintu mobil, lalu mobil itu melaju, membawa Crish ke tempat di mana dia seharusnya berada—penjara. Namun, perasaan tidak nyaman mulai mengusik Abraham. Lily duduk di ruang kerja Abraham, menatap keluar jend
Rani menginjak pedal gas sekuat tenaga, berusaha menjauh dari mobil hitam yang terus memepetnya. Jalanan gelap dan sepi, hanya ada lampu-lampu kota di kejauhan. "Aku harus keluar dari sini!" pikirnya panik. Mobil hitam itu semakin mendekat, mencoba memaksa mobilnya keluar dari jalan utama. Rani menggertakkan giginya, mencoba tetap fokus. Namun, saat ia membelok tajam ke kanan, jantungnya hampir berhenti berdetak. Jalan buntu. Matanya membelalak. "Tidak… tidak! Ini tidak mungkin!" Ia menekan rem mendadak, mobilnya berhenti tepat beberapa meter dari dinding beton tinggi. Dari kaca spion, ia melihat mobil hitam itu juga berhenti. Pintu mobil terbuka, dan beberapa pria berbadan besar keluar. Rani meraih ponselnya dengan tangan gemetar dan buru-buru mencoba menghubungi seseorang—siapa saja yang bisa menolongnya. Satu dering… dua dering… Panggilannya tersambung. "Halo?" Suara Abraham terdengar di seberang. Rani tidak peduli lagi. Ia berbisik ketakutan, "Abraham… tolo
Crish duduk di kursi ruang kerjanya dengan wajah kusut. Tangannya mencengkeram gelas minuman dengan erat, sementara pikirannya berkecamuk. "Brengsek!" Dengan penuh amarah, ia melempar gelas itu ke dinding, membuat pecahannya berhamburan di lantai. Semua rencananya hancur berantakan. "Aku kehilangan perusahaan, kehilangan investor, dan sekarang bahkan nyawaku pun dalam bahaya!" Serangan terhadap Lily gagal. Itu artinya, Abraham pasti sudah mengetahuinya. Dan jika Abraham sudah turun tangan, maka Crish tahu waktunya semakin menipis. Tok! Tok! Pintu ruangannya diketuk sebelum seseorang masuk dengan ekspresi tegang. "Tuan, ada masalah besar…" Crish menoleh tajam. "Masalah apalagi?!" bentaknya. Orang itu menelan ludah sebelum berkata, "Abraham menggerakkan koneksinya. Semua perusahaan yang masih terikat dengan kita mulai menarik diri. Kita benar-benar dalam bahaya!" Crish merasakan dadanya sesak. Semua orang meninggalkannya. Bahkan Rani, yang selama ini bersamanya,
Crish menunggu di ujung telepon, napasnya berat dan penuh amarah. Suara di seberang terdengar setelah beberapa detik. "Siapa targetnya?" Crish menyeringai, matanya gelap oleh dendam. "Marsanda Evelyn Whitmore. Aku ingin dia lenyap selamanya." Ada keheningan sejenak sebelum suara itu menjawab. "Harga yang kau minta tidak murah, Crish. Apalagi targetmu seseorang yang punya hubungan dengan Abraham." Crish menggeram. "Aku tidak peduli berapa harganya! Aku ingin dia mati!" Suara di seberang tertawa kecil. "Baik. Aku akan mengatur semuanya. Tapi kau tahu konsekuensinya, kan? Jika ini gagal, bukan hanya dia yang akan mati." Crish mengepalkan tangannya. "Lakukan saja pekerjaannya!" Telepon terputus. Crish menyeringai puas. Kali ini, Lily tidak akan bisa lolos seperti sebelumnya. Jika dia pernah kembali dari ambang kematian, maka kali ini dia tidak akan punya kesempatan kedua. Di tempat lain, seseorang telah menerima perintah eksekusi. Dan Lily… tidak menyadari bahwa ajalnya
Lily baru saja hendak berdiri dari sofa ketika kakinya tanpa sengaja tersangkut di ujung karpet. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, dan sebelum ia sempat menyadari apa yang terjadi, gravitasi menariknya ke depan. "Ah—!" Dalam sekejap, dua lengan kuat menangkapnya dengan sigap. Lily terkejut, dan saat ia mengangkat kepalanya, wajah Abraham sudah begitu dekat dengannya. Mata mereka bertemu. Napas Lily tercekat. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Abraham, bisa mendengar detak jantungnya yang tenang, kontras dengan miliknya yang berdetak liar. "Ternyata dia tampan sekali," ujar Lily dalam hati. Abraham tidak langsung melepaskannya. Ia menatap Lily dalam, seolah sedang membaca sesuatu yang tersembunyi di balik mata wanita itu. "Hati-hati," bisik Abraham, suaranya rendah dan penuh perhatian. Lily menelan ludah. Jarak di antara mereka terlalu dekat, terlalu berbahaya. Ia bisa mencium samar aroma maskulin Abraham—campuran dari parfum mahal dan sesuatu yang khas darinya. Sejenak,
Lily duduk diam di dalam mobil, matanya menatap kosong ke luar jendela. Kota yang gemerlap tampak seperti bayangan masa lalu yang terus berputar di pikirannya. Di sebelahnya, Abraham tetap tenang, kedua tangannya mantap di atas kemudi. Sepanjang perjalanan, tak ada sepatah kata pun yang terucap dari mereka berdua. Hening. Tak ada pertanyaan, tak ada diskusi. Hanya kesunyian yang menggantung di antara mereka. Lily tidak tahu apa yang harus ia rasakan saat ini. Ia telah mengungkap identitasnya kepada Crish dan Rani, melihat ketakutan di mata mereka, menyaksikan kehancuran yang mulai terjadi. Itu adalah bagian dari rencananya, dan rencana itu berjalan dengan sempurna. Namun, mengapa ada sesuatu yang terasa kosong? Abraham melirik ke arahnya sejenak sebelum kembali fokus pada jalan. Ia mengenal Lily lebih dari siapa pun. Ia tahu perempuan itu sedang berpikir. Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, akhirnya Abraham membuka suara. "Kau menyesal?" Lily mengerjap