Narendra yang dari tadi menunduk dan menyembunyikan wajah pucatnya, kini mendongak. Dia berdiri dan mulai mengelak dengan suara terbata-bata, "A-apa yang ka-kamu mau heh? Aku bahkan baru pertama kali bertemu denganmu. Jangan asal bicara!"Namun semua orang tahu bahwa Narendra sedang ketakutan, terlihat dari wajahnya yang pucat dan suaranya yang keras dan terbata-bata."Kalau aku punya bukti, apa Pangeran akan mengakuinya?" tanya Kumala. Gadis itu menatap sinis ke arah Narendra.Damayanti Citra tersenyum culas, "Bukti apa yang kamu punya, heh!"Kumala meraih selendangnya, di ujung seledang ada ikatan kecil. Gadis itu membuka ikatan itu dan mengangkat sebuah benda tinggi-tinggi agar semu orang melihat. Adi Wijaya yang dari tadi cemas seketika ingin pingsan dengan apa yang gadis itu pegang. Begitu juga Narendra, dia langsung memeriksa kelingkingnya yang kosong. Cincin itu memang hilang setelah kejadian malam itu. Dia tidak menyangka gadis itu mengambilnya. Wajah Narendra semakin pucat p
Asri Kemuning berjalan dengan anggun dan berwibawa. Dia sambil menggandeng tangan suaminya dengan wajah penuh percaya diri. Tapi matanya terlihat penuh kemarahan dan tekad.Sekarang dia bukan wanita penyakitan dan lemah lagi karena setelah tidak tinggal di istana dia justru berangsur sembuh. Dan ramuan racikan suaminya membuat tubuhnya samakin segar.Semua punggawa tunduk pada ahli waris yang sah. Mereka tunduk pada keturunan asli pendiri Harsa Loka. Walaupun sebagian dari para punggawa juga condong ke pada Adi Wijaya.Itulah alasan Adi Wijaya takut dengan putrinya sendiri karena takut sang putri akan mengkudetanya di masa depan."Paman Patih adalah saksi. Dan suamiku mempunyai bukti. Maaf Romo Prabu, tapi kali ini aku tidak akan tinggal diam lagi," ujar Asri Kemuning dengan lantang.Adi Wijaya mengerjabakan matanya, dia merasa rindu dengan putrinya. Namun dia juga merasa terancam sekarang. "Kamu membawa seorang pembunuh?" tanya Adi Wijaya sengaja memprovokasi. Dia tahu bahwa semua o
Arya Balaaditya mengangkat suara, "Jika bukan dengan cara ini, bagaimana rakyat Harsa Loka akan tahu? Bukankah, dua surat itu adalah tulisan tangan, Romo? Dan cap stempel itu hanya Romo yang memegang. Aku hanya menyuruh orang untuk mengambilnya, jika tidak? Bagaimana aku membuktikan diri," ujar Arya Balaaditya menjelaskan. Adi Wijaya menggertakan giginya, rahangnya terlihat mengeras, dia berdecis, "Jadi sekarang kamu menuduhku? Di depan semua orang kamu berusaha melimpahkan kesalahan yang 15 tahun lalu kamu akui."Menuduh!Siapa di sini yang hobi menuduh?Arya Balaaditya hanya tertawa getir, tatapannya berubah sendu. Kenapa setelah sejauh ini Ayah Mertuanya tidak berubah juga. Arya Balaaditya benar-benar tak habis pikir. "Perihal Paman Bima Reksa, seandainya Pangeran Narendra tidak mengusik cucunya, dia juga pasti masih setia dan bersembunyi sesuai perintah Romo," ujar Arya Balaaditya. Pria itu berhenti sejenak, lalu mengatur nafasnya dan membasahi bibir bawahnya. Pria itu menatap w
"Di mana Danadyaksa?" tanya salah satu Punggawa.Mereka semua di aula melupakan sesuatu. Adi Wijaya duduk bersandar di singgasana dengan tenang. Dia menyeringai, lalu tertawa terbahak-bahak dan membuat semua mengalihkan pandangannya pada sosok yang sedang tergelak.Apa ada yang lucu?Hampir semua orang yang ada di dalam aula rapat saling menatap penuh keheranan.Tiba-tiba suara derap langkah kaki mulai terdengar. Semua orang menoleh dan bertanya-tanya, "Apa kiranya yang ada di balik tembok itu?"Sedangkan Indrayana, dia berdiri terpaku dengan tatapan tajam. Berkat batu mustika yang dia miliki. Indrayana mampu melihat rombongan orang yang datang mendekat dari balik tembok. Begitu pula dengan Candramaya yang mulai mengepalkan tangan, merasakan firasat buruk.Suara itu semakin mendekat, sangat ramai dan serempak. Lalu suara itu menghilang, semua orang seakan menahan nafas seiring suasana yang menjadi hening. Begitu juga dengan tawa Adi Wijaya yang meredup.Klekk!Pintu utama kembali ter
Suara teriakan kesakitan mengudara secara serempak, seiring tubuh-tubuh yang jatuh satu persatu terkulai di lantai dengan bersimbah darah.Para punggawa yang mendukung Arya Balaaditya tercengang begitu pula dengan Wismaya dan yang lainnya.Mereka tanpa sadar berjalan mundur dengan kaki yang terasa lemas. Wajah para eksekutor itu terlihat dingin dan datar. Aura dalam aula rapat seketika mencengkam. Haha!Hingga suara gelak tawa terdengar menggema dari seorang pria tua yang sedang duduk di singgasana. Namun setelahnya Adi Wijaya yang tampak bahagia seketika merengut, suara tawa itu pun lenyap. Mata binar kebahagian berubah dingin, lalu Adi Wijaya berkata dengan gigi berkertak, "Aku benci orang bermuka dua! Mereka adalah contoh orang yang mengakuiku sebagai raja, hanya saat di ambang maut!"Asri Kemuning terbelaklak, wanita itu berdiri dengan kaki lemas dan bergumam, "Ro-romoo!"Dia tidak menyangka, ayahnya bisa bersikap layaknya psikopat. Indrayana menatap mayat-mayat yang bergelimpan
Woooossssh!Keris itu mengarah ke leher Danadyaksa, pria itu menghindar dengan cepat. Sedangkan Indrayana yang sudah mulai cemas, memilih terjun untuk menolong Candramaya. Dia menyerang dan memecah konsentrasi Danadyaksa. "Kalian akan mati sekarang!" pria tua itu mengeram, ada kebencian yang terlintas dari sorot mata dinginnya. Candramaya menyeringai, "Heh! Meleset."Di lain sisi."Apa kamu akan diam saja Adhi?" pertanyaan bernada cibiran itu terlontar dari pikirannya sendiri. Bulu mata Adhinatha terkulai ke bawah, wajahnya sedikit menunduk dengan ekspresi kesulitan. Dia mengangkat kedua tangannya yang bergetar lalu bergumam, "Aku? Aku harus memihak ke siapa?" Pertanyaan itu selalu berputar-putar di kepala Pangeran Adhinatha. Dia seperti berada di depan dua persimpangan. Entah jalan mana yang akan Adhinatha pilih. Di satu sisi, ada pamannya yang bekerja keras menjaga posisinya sebagai Pangeran Mahkota. Di sisi lain ada sepupunya yang sangat dia benci dan wanita yang sangat dia ci
"Bantuan akan segera datang! Kita hanya perlu bertahan sekarang!" ujar Arya Balaaditya sambil memegang pedangnya yang berlumuran darah. Sesuai perintah Arya Balaaditya, jika dalam lima jam ke depan dia tidak keluar, maka Baladewa dan pasukannya akan masuk ke dalam istana. Mereka menunggu di luar gerbang istana belakang dengan cemas. Dan mungkin sebentar lagi mereka datang. Indrayana berjongkok memegang bahu belakang Candramaya. Wajahnya menunduk dan melihat wajah gadis itu yang terlihat dingin. Gadis itu terduduk di lantai sambil memegang perutnya. Candramaya tampak meringis. "Sadar! Hentikan dulu, kamu belum benar-benar pulih," ujar Indrayana. Dia cukup khawatir. Danadyaksa berjalan dengan bibir menyeringai, "Kalian bocah mentah! Kalian bukan tandinganku!" Candramaya mendengkus kesal dan dia hendak bangkit, namun lengannya tercekal. Candramaya yang sedang dikuasai oleh amarah dan pengaruh negatif Putri Tanjung Kidul, mengeram dengan mata melotot, " Lepas!" Candramaya mem
"Heh!" Adhinatha mendengkus kesal saat Candramaya menunjukan kepeduliannya. Kedua tangannya semakin mengepal dan kebenciannya semakin besar. Usahanya bertahun-tahun tidak ada artinya.Disaat Candramaya melawan pamannya. Adhinatha memutuskan untuk mengangkat pedangnya dan hendak melawan siapapun yang melindungi Indrayana. Namun, belum sempat niatnya tertunaikan, pintu utama aula rapat terjatuh secara tiba-tiba.Brak!Seseorang telah menendang pintu dari luar dengan paksa. Baladewa dan Naladhipa datang bersama pasukannya. Mereka menggempur kubu Danadyaksa, jumlah mereka dua kali lipat.Keadaan kini terbalik."Kudeta!" Gumam Adi Wijaya, mata pria tua itu menyorot tajam. Dia menyadari bahwa Arya Balaaditya memang sudah menyiapkannya jauh-jauh hari. Apalagi ada sosok yang dia kenal yaitu Guru Besar Padepokan Gagak Hitam. "Sial!" eramnya.Ini di luar kendali!Suasana semakin mencengkam dan kacau.Senyum Puspita Sari memudar begitu pula Narendra dan Damayanti Citra. Tentu saja Damayanti Cit
Ketiga orang itu akhirnya menajamkan telinganya, Kebo Ireng berkomentar, "Sepertinya ada yang sedang bertarung?""Benar Kakang! Ayo kita periksa!" imbuh Seno Aji.Wismaya memberi saran, "Tunggu! Sebaiknya kiita harus fokus. Kalian cari Pangeran Narendra dan Dewi Puspita Sari saja, sebelum orang itu pergi lebih jauh. Aku dan Aji Suteja yang akan memeriksa siapa yang sedang bertarung itu."Setelah menimbang-nimbang saran Wismaya yang masuk akal, mereka bertiga akhirnya mengangguk dan setuju.Kebo Ireng dan Seno Aji pergi menuju tempat kediaman Puspita Sari dan Narendra. Sedangkan Wismaya dan Aji Suteja pergi ke tempat pertarungan itu.Saat Wismaya dan Aji Suteja ke sumber suara, mereka berdua terperangah saat melihat Candramaya dan Indrayana sedang bahu hantam."Apa yang terjadi?" tanya Aji Suteja dengan wajah yang menegang.Wismaya merasakan kejanggalan pada sosok keponakannya. Tentu sosok berwujud Candramaya itu tidak dia kenal. Jantung Wismaya seketika bergemuruh, wajahnya pucat lalu
Alih-alih patuh, Candramaya justru semakin gila menyerang Danadyaksa yang terlihat kewalahan. Tubuh Danadyaksa penuh dengan sabetan keris.Tanpa pikir panjang, Indrayana masuk dalam pertarungan dan mencoba melerai. Dia bahkan tidak segan memukul pundak Candramaya guna menghentikan aksinya, "Hentikan kataku!"Bug!"Akhhh!!" Candramaya memekik kesakitan."Maaf!" ujar Indrayana. Pemuda itu memeluk tubuh Candramaya dari belakang. Perasaan bersalah muncul di hatinya setelah memukul istrinya. Candramaya menoleh, seringainya tampak mengerikan. Indrayana reflek langsung melerai pelukannya karena terkejut.Danadyaksa yang licik menggunakan kesempatan saat melihat pasangan itu lengah. Namun langkah pria itu terhenti saat Candramaya membuat gerakan yang membuat keris itu melesat dan menebas leher Danadyaksa dengan cepat. Secepat kedipan mata.Swwisss!Zrak!Bug!!Kepala Danadyaksa jatuh ke tanah lalu tubuh gempal itu tersungkur. Tubuh yang terpenggal itu mengejang dan menyemburkan banyak darah.
Prang!!Botol itu jatuh ke lantai dan pecah, namun ternyata hanya botol kosong. Arah mata semua orang kini tertuju pada pecahan botol itu. Narendra merasa terkejut sedangkan Asri Kemuning dan Arya Balaaditya merasa keheranan.Puspita Sari merasa malu sekarang, kedua tangannya saling meremas. Dia menyadari reaksinya menunjukan bahwa dia adalah wanita yang egois. "Kangmas mempermainkanku?!" eram Puspita Sari. Wanita itu mendelik karena merasa dipermainkan."Haha ... Ohok! Ohok!" Adi Wijaya tertawa di sela batuk berdarahnya. Nafasnya terengah dan dadanya mulai sesak. Keringat dingin kini bermunculan di kening pria itu seiring wajahnya yang memucat dan bibirnya yang mulai membiru. Dia menatap istri mudanya dengan tatapan nanar sambil menekan dadanya. Sekarang dia sadar, tidak ada yang benar-benar mencintainya. Tiba-tiba Asri Kemuning menangis, dia berhambur memeluk lengan ayahnya.Sedangkan Narendra dan Puspita Sari yang sudah tahu akhir dari pertarungan ini memilih untuk kabur meningga
"Heh!" Adhinatha mendengkus kesal saat Candramaya menunjukan kepeduliannya. Kedua tangannya semakin mengepal dan kebenciannya semakin besar. Usahanya bertahun-tahun tidak ada artinya.Disaat Candramaya melawan pamannya. Adhinatha memutuskan untuk mengangkat pedangnya dan hendak melawan siapapun yang melindungi Indrayana. Namun, belum sempat niatnya tertunaikan, pintu utama aula rapat terjatuh secara tiba-tiba.Brak!Seseorang telah menendang pintu dari luar dengan paksa. Baladewa dan Naladhipa datang bersama pasukannya. Mereka menggempur kubu Danadyaksa, jumlah mereka dua kali lipat.Keadaan kini terbalik."Kudeta!" Gumam Adi Wijaya, mata pria tua itu menyorot tajam. Dia menyadari bahwa Arya Balaaditya memang sudah menyiapkannya jauh-jauh hari. Apalagi ada sosok yang dia kenal yaitu Guru Besar Padepokan Gagak Hitam. "Sial!" eramnya.Ini di luar kendali!Suasana semakin mencengkam dan kacau.Senyum Puspita Sari memudar begitu pula Narendra dan Damayanti Citra. Tentu saja Damayanti Cit
"Bantuan akan segera datang! Kita hanya perlu bertahan sekarang!" ujar Arya Balaaditya sambil memegang pedangnya yang berlumuran darah. Sesuai perintah Arya Balaaditya, jika dalam lima jam ke depan dia tidak keluar, maka Baladewa dan pasukannya akan masuk ke dalam istana. Mereka menunggu di luar gerbang istana belakang dengan cemas. Dan mungkin sebentar lagi mereka datang. Indrayana berjongkok memegang bahu belakang Candramaya. Wajahnya menunduk dan melihat wajah gadis itu yang terlihat dingin. Gadis itu terduduk di lantai sambil memegang perutnya. Candramaya tampak meringis. "Sadar! Hentikan dulu, kamu belum benar-benar pulih," ujar Indrayana. Dia cukup khawatir. Danadyaksa berjalan dengan bibir menyeringai, "Kalian bocah mentah! Kalian bukan tandinganku!" Candramaya mendengkus kesal dan dia hendak bangkit, namun lengannya tercekal. Candramaya yang sedang dikuasai oleh amarah dan pengaruh negatif Putri Tanjung Kidul, mengeram dengan mata melotot, " Lepas!" Candramaya mem
Woooossssh!Keris itu mengarah ke leher Danadyaksa, pria itu menghindar dengan cepat. Sedangkan Indrayana yang sudah mulai cemas, memilih terjun untuk menolong Candramaya. Dia menyerang dan memecah konsentrasi Danadyaksa. "Kalian akan mati sekarang!" pria tua itu mengeram, ada kebencian yang terlintas dari sorot mata dinginnya. Candramaya menyeringai, "Heh! Meleset."Di lain sisi."Apa kamu akan diam saja Adhi?" pertanyaan bernada cibiran itu terlontar dari pikirannya sendiri. Bulu mata Adhinatha terkulai ke bawah, wajahnya sedikit menunduk dengan ekspresi kesulitan. Dia mengangkat kedua tangannya yang bergetar lalu bergumam, "Aku? Aku harus memihak ke siapa?" Pertanyaan itu selalu berputar-putar di kepala Pangeran Adhinatha. Dia seperti berada di depan dua persimpangan. Entah jalan mana yang akan Adhinatha pilih. Di satu sisi, ada pamannya yang bekerja keras menjaga posisinya sebagai Pangeran Mahkota. Di sisi lain ada sepupunya yang sangat dia benci dan wanita yang sangat dia ci
Suara teriakan kesakitan mengudara secara serempak, seiring tubuh-tubuh yang jatuh satu persatu terkulai di lantai dengan bersimbah darah.Para punggawa yang mendukung Arya Balaaditya tercengang begitu pula dengan Wismaya dan yang lainnya.Mereka tanpa sadar berjalan mundur dengan kaki yang terasa lemas. Wajah para eksekutor itu terlihat dingin dan datar. Aura dalam aula rapat seketika mencengkam. Haha!Hingga suara gelak tawa terdengar menggema dari seorang pria tua yang sedang duduk di singgasana. Namun setelahnya Adi Wijaya yang tampak bahagia seketika merengut, suara tawa itu pun lenyap. Mata binar kebahagian berubah dingin, lalu Adi Wijaya berkata dengan gigi berkertak, "Aku benci orang bermuka dua! Mereka adalah contoh orang yang mengakuiku sebagai raja, hanya saat di ambang maut!"Asri Kemuning terbelaklak, wanita itu berdiri dengan kaki lemas dan bergumam, "Ro-romoo!"Dia tidak menyangka, ayahnya bisa bersikap layaknya psikopat. Indrayana menatap mayat-mayat yang bergelimpan
"Di mana Danadyaksa?" tanya salah satu Punggawa.Mereka semua di aula melupakan sesuatu. Adi Wijaya duduk bersandar di singgasana dengan tenang. Dia menyeringai, lalu tertawa terbahak-bahak dan membuat semua mengalihkan pandangannya pada sosok yang sedang tergelak.Apa ada yang lucu?Hampir semua orang yang ada di dalam aula rapat saling menatap penuh keheranan.Tiba-tiba suara derap langkah kaki mulai terdengar. Semua orang menoleh dan bertanya-tanya, "Apa kiranya yang ada di balik tembok itu?"Sedangkan Indrayana, dia berdiri terpaku dengan tatapan tajam. Berkat batu mustika yang dia miliki. Indrayana mampu melihat rombongan orang yang datang mendekat dari balik tembok. Begitu pula dengan Candramaya yang mulai mengepalkan tangan, merasakan firasat buruk.Suara itu semakin mendekat, sangat ramai dan serempak. Lalu suara itu menghilang, semua orang seakan menahan nafas seiring suasana yang menjadi hening. Begitu juga dengan tawa Adi Wijaya yang meredup.Klekk!Pintu utama kembali ter
Arya Balaaditya mengangkat suara, "Jika bukan dengan cara ini, bagaimana rakyat Harsa Loka akan tahu? Bukankah, dua surat itu adalah tulisan tangan, Romo? Dan cap stempel itu hanya Romo yang memegang. Aku hanya menyuruh orang untuk mengambilnya, jika tidak? Bagaimana aku membuktikan diri," ujar Arya Balaaditya menjelaskan. Adi Wijaya menggertakan giginya, rahangnya terlihat mengeras, dia berdecis, "Jadi sekarang kamu menuduhku? Di depan semua orang kamu berusaha melimpahkan kesalahan yang 15 tahun lalu kamu akui."Menuduh!Siapa di sini yang hobi menuduh?Arya Balaaditya hanya tertawa getir, tatapannya berubah sendu. Kenapa setelah sejauh ini Ayah Mertuanya tidak berubah juga. Arya Balaaditya benar-benar tak habis pikir. "Perihal Paman Bima Reksa, seandainya Pangeran Narendra tidak mengusik cucunya, dia juga pasti masih setia dan bersembunyi sesuai perintah Romo," ujar Arya Balaaditya. Pria itu berhenti sejenak, lalu mengatur nafasnya dan membasahi bibir bawahnya. Pria itu menatap w