Mo Tian yang pergi meninggalkan Kota Moheng sendiri yang tidak tahu jika Walikota Luanli Kiu Bei beserta dengan pamannya Kiu Shi mengikutinya dari belakang.Mo Tian hanya terus melesat dengan kecepatan tinggi ke sebuah hutan untuk mencari tempat yang cocok baginya untuk berkultivasi. Dia sudah tidak bersabar untuk segera mungkin meningkatkan kekuatannya agar dapat merasa aman jika bepergian seorang diri menjelajahi Alam Neraka.Ya, meskipun jika dia mengungkapkan jati diri sebenarnya sebagai reinkarnasi dari Kaisar Dewa Ling Zhentian, maka semua iblis di alam neraka kan secara mutlak tunduk kepadanya.Akan tetapi Mo Tian tidak melakukan itu karena dirinya ingin memperkaya pengalaman bertarungnya, karena bagaimanapun jiwanya merupakan jiwa yang berasal dari dunia lain alias murid dari Sang Maha Dewa.Swoooosshh...Suara nyaring yang tercipta akibat gesekan udara dengan tubuhnya yang seperti membelah ruang terus terdengar. Mo Tian bahkan saat ini terlihat seperti halnya sebuah meteor hi
"Dasar lemah!" Cibir Mo Tian lalu dengan gerakan melambai mengeluarkan pedang pemutus siklus miliknya yang merupakan pusaka tingkat saint.Wush!Mo Tian menatap tajam ke arah Walikota Kiu Bei karena lawan sebenarnya adalah iblis pria paruh baya berwajah bengis itu. "Sialan!"Booommmm...Namun sebelum Mo Tian atau pun Walikota Kiu Bei bereaksi, sebuah ledakan yang cukup keras disertai dengan raungan amarah Kiu Shi dengan begitu lantangnya. Zheep!Kiu Shi muncul kembali di depan Mo Tian dengan kondisinya yang acak-acakan. Tidak luput pula beberapa berkas darah tercecer di mulut serta pakaiannya yang menandakan bahwa ia memuntahkan darah cukup banyak.Kiu Shi ingin menebaskan pedangnya ke arah Mo Tian namun buru-buru dihentikan oleh Walikota Kiu Bei."Hentikan, paman! Dia bukan lawanmu!""Apa yang kau katakan, Kiu Bei! dia hanya memiliki kultivasi sama denganku dan setelah aku menerima penghinaan seperti ini kau mengatakan untuk berhenti?" Kiu Shi yang telah dilahap oleh amarahnya lang
Trank!Trank!Trank!Trank!Booommmm...Suara dentingan senjata dan ledakan besar terus terdengar seiring berjalannya pertarungan antara Mo Tian dan Walikota Luanli, Kiu Bei.Mereka berdua telah menggunakan cukup banyak skill eksklusif yang mereka kuasai namun belum ada satupun diantara keduanya yang mengakui kekalahan atau lebih tepatnya tidak mungkin ada yang mau mengaku kalah. Walikota Luanli atau ayah dari Nona Muda Kiu Jue yang telah di bunuh Mo Tian sebenarnya dibuat sangat terkejut oleh kemampuan yang dimiliki oleh pemuda di hadapannya. Sepanjang hidupnya, dia belum pernah menjumpai seorang pun yang ada di Ranah Dewa Langit mampu mengimbangi pertempuran Ranah Dewa Raja.Baru kali ini mata Kiu Bei terbuka lebar dan mengerti arti dari kata jenius yang sebenarnya. Dia sebenarnya begitu penasaran dengan identitas iblis muda bertopeng separuh wajah ini. Dia juga cukup menyayangkan bakatnya yang benar-benar sangat luar biasa. Namun, sebagai seorang ayah yang sangat mencintai putriny
Mo Tian pergi meninggalkan lokasi yang seharusnya akan biar rencanakan sebagai tempat kultivasi yang cukup strategis karena suatu kejadian yang tak terduga yaitu kedatangan ayah dari iblis wanita muda buruk rupa dari Kota Luanli beserta pamannya. Alasan kenapa Mo Tian mengampuni mereka berdua sebenarnya terasa sedikit klise karena ketika dia tidak ingin membunuh iblis kemungkinan mereka nantinya akan menjadi bala bantuan ketika melawan para Dewa, namun di sisi lain dirinya masih merampoknya dengan tanpa berkedip. Ya, sebenarnya dalam kamus yang dimiliki oleh Mo Tian, ketika seseorang berani menyebarkan Niat Membunuh serta suatu tindakan terhadap dirinya, maka seharusnya orang tersebut sudahlah dia bunuh tanpa pandang bulu. Akan tetapi di sini Mo Tian hanya merampok mereka berdua sebagai peringatan pertama dan terakhir karena jika sampai mengulanginya lagi maka pemuda bertopeng sebuah wajah itu tidak akan segan untuk langsung menghabisinya. Pada saat Mo Tian melayangkan Gerakan
Long Yuan yang melihat pemuda berambut putih panjang yang sedang duduk sejajar dengan Feng Lanse'er hanya bisa memutar bola matanya dengan malas. Bukan dia tidak suka dengan Ling Hu, dia sebenarnya juga sama khawatirnya dengan kondisi Ling Tian saat ini. Namun karena sejak awal dirinya memiliki konflik tersendiri dengan Kaisar Harimau di masa lalu, makanya cara bicaranya dengan adik keempatnya itu sedikit lain.Ling Hu yang melihat ekspresi wajah Long Yuan agak tidak sedap justru semakin tersenyum. Dia sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut karena sudah terbiasa. Bahkan sesekali mereka berdua berpergian bersama untuk mengelilingi dunia yang saat ini mereka pijaki.Saat ini di dunia yang mereka pijaki telah berdiri sebuah organisasi sama seperti yang ada di Alam Menengah. Ya, organisasi itu bernama Istana Suci dan kekuatan mereka tidak bisa dianggap enteng.Wei Hun, sosok yang paling kuat telah berada di Ranah Dewa Kaisar Tahap Akhir. Kekuatannya ini tidak bisa dianggap remeh
Para iblis yang berada di wilayah Kerajaan Gunung Setan merasa merinding ketika melihat awan yang begitu gelap serta dipenuhi dengan aura mencekam di atas langit."Sebenarnya, iblis dari kelompok mana yang sedang menerobos ini? Bagaimana bisa dapat menimbulkan reaksi langit yang sangat mengerikan?" Salah satu iblis yang merupakan pemimpin kota besar di wilayah Kerajaan Gunung Setan bertanya sembari pandangannya terus terarah ke langit yang hitam."Dari arah yang menjadi pusat kegelapan ini, iblis tersebut harusnya berada di tengah-tengah hutan belantara yang mengerikan itu!" Sosok lain yang ada di sebelah iblis itu menjawab."Hmm.. Ini menarik! Mungkin seorang jenius yang setara dengan Yang Mulia Kaisar akan kembali muncul di Alam Neraka!""Ini adalah keberkahan tersendiri jika sampai itu benar adanya! Tapi, ini juga akan membahayakan kita jika nyatanya iblis tersebut bersikap sewenang-wenang!""Itu benar, Tuan Walikota! Tapi apa mungkin sosok yang memiliki kejeniusan luar biasa seper
GROOAAAAARRR...Naga Petir Kekacauan yang telah terbentuk sempurna di atas langit yang kini berwarna hitam penuh kekelaman mengerutkan keningnya ketika melihat senyuman tipis tersungging dari sudut bibir iblis muda yang hendak menerobos ke Ranah Dewa Raja itu. Dia merasa jika senyuman itu adalah sebuah provokasi terhadapnya sehingga membuatnya mengaum beberapa kali dengan power Aura Membunuh yang terus meningkat. GROOAAAAARRR...Naga Petir Kekacauan membuka mulutnya lebar-lebar lalu sebuah energi yang sangat padat dan dipenuhi dengan Aura kehancuran tercipta dengan petir merah yang terus saja menyelimutinya. Gough!Naga Petir Kekacauan memuntahkan energi itu ke bawah atau lebih tepatnya ke arah di mana Mo Tian saat ini sedang berdiri melayang di udara. Dan ujian untuk penerobosan kultivasi Ranah Dewa Raja pun di mulai.Swoooosshh...Suara desingan yang terjadi karena gesekan udara dengan energi Naga Petir Kekacauan terdengar menyayat telinga. Setiap jengkal ruang yang dilewati oleh
Efek ledakan yang ditimbulkan oleh energi murni yang dilontarkan Naga Petir Kekacauan kepada Mo Tian akhirnya mulai mereda setelah hampir 20 menitan berlalu.Debu-debu yang beterbangan terlihat semakin menipis karena tersapu oleh sepoi-sepoi angin di siang hari yang kini telah kembali menjadi cerah tersebut.Sebuah raksasa dengan lebar hampir 5 mil dan dalamnya kurang lebih satu mil terlihat begitu mencengangkan bagi siapapun yang melihatnya. Di tengah-tengah parit super besar itu terlihat satu sosok pemuda tampan yang pakaiannya compang-camping dan penuh dengan berkas darah.Pemuda itu tidak lain adalah Mo Tian yang hampir kehilangan kesadarannya dan kini hanya bisa tergeletak tidak berdaya.'Ugh! Sialan! Niat hati ingin bermain-main terlebih dahulu kepada Naga Petir Kekacauan, tapi malah jadinya begini. Sial! Sepertinya dia telah mengetahui identitasku hingga membalas dendam dan buru-buru kabur setelahnya. Huh! Awas saja nanti saat ketemu lagi, aku pastikan kamu akan babak belur!' G
Tuan Muda Yui Cheng hanya bisa menggelengkan kepala serta menghela nafas panjangnya ketika melihat ekspresi wajah dari iblis muda yang mengenakan topeng separuh wajah di hadapannya.Dia mungkin bisa menganggap bahwa pemuda itu benar-benar telah gila karena ingin menuju suatu tempat di mana tempat tersebut justru hanya akan menjadi kuburannya. Setor mati saja, jika dalam pembahasaan gampangnya. Tuan Muda Yui Cheng tidak lagi membicarakan hal-hal yang berkenaan dengan Makam Sejuta Pedang ataupun membujuk iblis muda di depannya agar tidak mendatanginya. Dia merasa akan sangat sia-sia saja. Namun dalam hatinya ada sedikit harapan yang timbul agar pemuda gila ini akan selamat seperti halnya sang jenius sejati di seluruh Alam Neraka alias Yang Mulia Kaisar Iblis, Mogui Tufui.Selesai dengan hidangan yang disajikan, Mo Tian kemudian pamit undur diri kepada Yui Cheng dengan alasan ingin beristirahat, karena merasakan sedikit kelelahan akibat melakukan latihan bersama dengan Patriark Yui Qui
Di Klan Yui.Mo Tian yang tidak tahu dengan rencana Patriark Klan Wen serta putranya Wen Danye yang akan melakukan hal sama dengan apa yang dilakukan oleh Patriark Yui Qui ketika dirinya berkunjung ke Klan Wen suatu hari nanti saat ini sedang menikmati jamuan mewah yang disuguhkan oleh Tuan Muda Yui Cheng.Mo Tian sama sekali tidak sungkan dan memakan semua jamuan itu dengan sangat lahap. Baginya, makan-makan merupakan hal penting sekaligus menyenangkan, meski sebenarnya bagi tingkatan kultivator yang telah mencapai Ranah Dewa Raja Tahap Akhir sepertinya dapat tidak makan sampai waktu tak terbatas lagi masih ada energi Qi di tempat yang dia pijaki."Senior Mo Tian, jika saya boleh tahu, ke manakah senior akan pergi setelah dari klan kami?" Tuan Muda Yui Cheng mencoba bertanya dan mengakrabkan diri dengan iblis muda yang begitu kuat di depannya itu."Emm.. Sebenarnya aku sedang dalam perjalanan menuju ke Kekaisaran Iblis atau lebih tepatnya Makam Sejuta Pedang. Jadi, aku hanya ingin me
Patriark Yui Qui sadar betul dengan kekuatan yang dimiliki oleh iblis muda bertopeng separuh wajah di sampingnya ini. Bahkan, setelah dia mengerahkan seluruh kekuatannya yang telah mencapai kultivasi Ranah Dewa Kaisar Tahap Menengah, pemuda ini masih saja sanggup mengimbanginya serta teknik pedang yang dimilikinya benar-benar terlalu mengerikan. Patriark Yui Qui masih ingat dengan jelas ketika pemuda ini hendak menebaskan pedangnya ke arah lehernya dibatalkannya sehingga pria paruh baya yang menjadi salah satu entitas terkuat di Kota Yunluo terselamatkan. Lalu bagaimana mungkin para tertuanya yang hanya berada di tingkatan di bawah kultivasinya dapat mengalahkan sosok semengerikan ini? Itu benar-benar sangat mustahil di dalam penilaian Patriark Yui Qui. Yang ada, mereka semua pasti akan dibantai habis oleh Mo Tian jika dirinya merasa tersinggung. Beruntungnya ayah Yui Cheng atau Patriark Yui Qui tidak bertindak impulsif sejak awal kepada pemuda ini sehingga menghindarkan dari sesuat
Wush!Bammmm!Bammmm!Mo Tian dan Patriark Yui Qui sama-sama terpental mundur akibat ledakan pertemuan antara dua jurus terkuat. Keduanya terlihat imbang dalam segala aspek dan hal ini tentu saja mengejutkan salah satu orang paling kuat di Kota Yunluo itu."Cukup, temanku!" Patriark Yui Qui dengan cepat berbicara seraya mengangkat tangannya menghentikan Mo Tian yang telah bersiap untuk melakukan serangan selanjutnya menggunakan jurus terkuat lainnya."Oh..? Apakah disini anda menyerah, Patriark Yui?" Mo Tian bertanya dengan seringai tipis terpancar dari sudut bibirnya."Ha-ha-ha.. Tentu saja tidak, teman Mo Tian! Aku tidak mungkin kalah darimu yang hanya memiliki kekuatan Ranah Dewa Raja Tahap Akhir!" Patriark Yui Qui menjawab sembari tertawa terbahak-bahak. Namun dalam hatinya dia mengakui bahwa kekuatan pemuda bertopeng di hadapannya ini benar-benar sangat luar biasa menakutkan karena dapat mengimbangi dua tahapan tingkatan kultivasi. Hanya mereka yang dianggap sebagai monster atau
Tempat latih tanding antara Mo Tian dan Patriark Yui Qui memang telah dilindungi oleh susunan formasi array yang sangat kuat. Namun, hal itu masih saja tidak dapat menyamarkan dari suara dentuman yang sangat keras disertai sebuah getaran yang melingkupi dihampir keseluruhan wilayah mansion Klan Yui.Kepanikan tentu saja terjadi dan semua orang mengira bahwa terjadi sebuah penyerangan di kediaman keluarga Yui. Bahkan Yui Cheng yang sebelumnya mengantarkan Mo Tian untuk menghadap kepada sang ayah ayahnya melakukan suatu hal yang sependapat dengan Yui Gong hingga terpantik lah sebuah perseteruan yang berujung pada pertarungan.'Apa ayah lebih memilih mengambil pendapat iblis tidak masuk akal itu daripada putranya sendiri?' Yui Cheng bergumam dalam hatinya dan merasakan kekecewaan kepada sang ayah karena setelah menyerang dermawannya.Di tempat salah satu Tetua Klan Yui, Yui Zo dan Yui Gong yang sedang berbicara beberapa hal di kejutkan dengan suara dentuman keras dan getaran hebat. Kedua
"Salam, ayah!" Yui Cheng memberikan salam sembari menangkupkan kedua tangan dan membungkukkan badan kepada sosok pria paruh baya yang sedang duduk di gazebo taman belakang kediaman Patriark."Salam, Patriark Yui!" Mo Tian juga melakukan hal sama namun sama sekali tidak membungkukkan badannya."Hmm.. Yui Cheng, kau boleh pergi! Ayah ingin berbicara empat mata dengan dermawan mu ini. Tuan Muda Mo Tian, silakan duduk bersamaku! Aku telah menyiapkan teh galaxy untuk kita nikmati bersama!" Patriark Yui Qui berkata dengan sangat ramah."Baik, ayah!" Yui Cheng menurut dan pergi."Terima kasih, Patriark Yui!" Sedangkan Mo Tian dengan tanpa sungkan langsung duduk di tempat yang dipersilahkan oleh sang Patriark Yui.Mo Tian dengan santai menyeruput teh galaxy itu hingga sudut bibir Patriark Yui Qui terangkat sedikit. Dia cukup kagum dengan pemuda bertopeng separuh wajah ini karena masih begitu tenang meskipun sebenarnya sejak awal dia telah mengumbarkan aura kultivasi Ranah Dewa Kaisar Tahap Me
Sehari berlalu dan di dalam Dunia Jiwa telah berlalu 3 hari disebabkan perbedaan waktu antara dimensi nyata dan juga dimensi milik Mo Tian.Selama itu pula Mo Tian menggunakannya untuk beristirahat sekaligus menemani Putri kecil serta muridnya untuk berlatih.Dan kini, tibalah waktu bagi Mo Tian berpisah dengan dua murid sekaligus saudara-saudarinya yang menghuni Dunia Jiwa."Ayah, sering-seringlah mengunjungi kami!" Rengek Tian Ru'er dengan manja karena merasa bahwa waktu 3 hari kebersamaannya dengan sang ayah masih begitu kurang. "Benar yang dikatakan saudari Ru'er, guru! Sering-seringlah guru mendatangi Dunia Jiwa. Latihanku dengan guru sangat terasa berbeda dan lebih mudah dipahami. Lain halnya jika dengan paman Ja Bu atau pun yang lainnya!" Muridnya, Ye Lan'er menambahkan."Baiklah-baiklah.. Aku akan berusaha sebisa mungkin untuk sering mengunjungi kalian. Tapi, ada satu syarat yang harus kalian tepati jika kita bertemu lagi,""Syarat?" Tian Ru'er dan Ye Lan'er berucap serentak.
Mo Tian berjalan santai memasuki Kota Yunluo dengan rombongan Tuan Muda dari Klan Yui. Tidak ada satupun masalah lagi yang menghampiri rombongan mereka karena beberapa orang telah melihat dengan jelas keberanian pemuda bertopeng separuh wajah yang mencekik Wen Danye bahkan hampir membunuhnya.Tidak ada orang waras yang mau berselisih dengan sosok seperti itu. Mereka yakin bahwa pemuda itu sangat kuat sekali karena dengan mudahnya dapat membuat tidak berdaya Tuan Muda Wen Danye padahal kultivasinya telah mencapai Ranah Dewa Raja Tahap Awal.Rombongan itu akhirnya sampai di sebuah mansion yang sangat besar dan megah di tengah-tengah kota."Selamat datang di kediaman keluarga Yui, senior!" Yui Cheng berkata kepada Mo Tian.Mo Tian hanya menganggukkan kepala saja untuk menanggapinya.Yui Cheng lalu membawa Mo Tian di salah satu bangunan megah guna mempersilahkannya beristirahat. Dia tahu bahwa pemuda bertopeng separuh wajah ini cukup kelelahan karena ketika dalam perjalanan menuju Kota Yu
Tuan Muda Wen Danye meraung-raung dengan marah seraya meledakkan Niat Membunuhnya yang sangat pekat ke arah Mo Tian. Zheep! Namun baru saja ketika dia selesai berbicara, pemuda bertopeng separuh wajah yang di cacinya tiba-tiba muncul tepat di depannya lalu dengan tanpa basa-basi mencekik lehernya dengan sangat kuat. Ugh! Tuan Muda Wen Danye terkejut bukan main saat tubuhnya tiba-tiba terangkat dan nafasnya susah untuk di tarik. Energi Qi di dalam tubuhnya juga terasa tersegel seketika itu juga. "Katakan sekali lagi padaku, kau ingin membunuhku? Apa kau layak di mataku?" Mo Tian berkata dengan nada dalam serta sorot matanya yang tajam memberikan perasaan menakutkan bagi Wen Danye. "Ugh! S-senior.. T-tolong lepaskan dan ampuni aku yang lemah ini.." Wen Danye berbicara memohon dengan terbata-bata. Dia bukanlah iblis bodoh seperti Yui Gong yang serta merta menyinggung sosok yang tidak takut sama sekali dengan identitasnya, padahal jelas-jelas dia sebelumnya telah meneriakkan dengan l