Home / Romansa / Jeratan Panas Tuan Pavel / Sedikit Ketegangan

Share

Sedikit Ketegangan

Author: Osaka ois
last update Last Updated: 2025-02-03 23:34:16

Marvin, yang sejak tadi menahan rindu hampir saja memeluk Aleena begitu melihatnya. Namun, sebelum ia sempat bergerak lebih jauh, dua pengawal pribadi Aleena langsung melangkah cepat, menghalangi gerakannya. Hal tersebut membuatnya menggeram marah.

"Apa-apaan kalian?" Marvin mendengus kesal, matanya menatap tajam ke arah dua pria berbadan tegap itu.

Aleena buru-buru melerai, berdiri di antara mereka sebelum situasi semakin memanas. "Cukup! Kalian jangan memperbesar masalah. Marvin sahabatku."

Marvin menggeram pelan, sementara dua pengawal itu tetap berdiri tegap di tempatnya, ekspresi mereka tetap dingin dan tak terpengaruh.

Untungnya, ketegangan itu tidak berlangsung lama. Kelas akan segera dimulai, dan semua orang akhirnya memilih meredakan emosi masing-masing.

Namun, Aleena merasa ada sesuatu yang aneh. Seharusnya lebih dari dua pengawal yang ikut mengawasinya. Tapi kali ini hanya dua orang yang terlihat. Ia menggeleng pelan, memilih untuk tidak terlalu memikirkan hal itu sekarang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Jeratan Panas Tuan Pavel    Setiap Sisi

    Di dalam kamar hotel yang cahayanya remang-remang, dua manusia tengah berdiskusi setelah menghabiskan waktu dalam kesepakatan gelap mereka. Wanita di sampingnya menyalakan sebatang rokok, menghisapnya perlahan sebelum menghembuskan kepulan asap tipis ke udara. Senyum samar terbentuk di wajahnya, penuh kelicikan."Hmm, tak masalah. Gunakan saja orang lain sebagai kambing hitam lagi," katanya santai. "Bukankah Pavel selalu percaya pada bukti yang kuat? Jika kau bisa membuat semuanya tampak alami, ini akan jauh lebih mudah."Pria itu turun dari ranjang tanpa menghiraukannya. Dengan tenang, ia mengenakan kembali pakaiannya, lalu meraih dompet dari jaketnya. Tanpa banyak basa-basi, dia mengeluarkan selembar cek dan meletakkannya di atas nakas."Ini bayaranmu." Jari tebalnya mengetuk permukaan kayu dengan nada tegas. Matanya menyipit sedikit, menatap wanita itu dengan tajam. "Tapi jangan bodoh. Menggunakan cara yang sama hanya akan mempercepat kematianku. Lakuka

    Last Updated : 2025-02-04
  • Jeratan Panas Tuan Pavel    Pria Matangku

    Pagi ini begitu cerah, meski sisa embun masih meninggalkan hawa dingin yang khas di luar sana. Di meja makan, Aleena duduk dengan malas, mengunyah roti panggang di hadapannya tanpa selera. Setiap suapan terasa hambar, pikirannya masih berkeliaran entah ke mana.Sementara itu, Pavel seperti biasa tampak segar. Wajahnya berseri, senyumnya tipis namun mengandung sesuatu yang hanya dia sendiri yang tahu. Tatapannya melirik Aleena sesekali, mengingat kejadian semalam—saat untuk pertama kalinya gadis itu tidak menolak atau memberontak dalam pelukannya di atas ranjang, terutama pada kegiatan intim. Itu adalah kemajuan besar bagi Pavel.Tanpa banyak kata, tangan Pavel mendorong dua kartu ke arah Aleena. Salah satunya adalah kartu ATM berwarna hitam, sementara yang lain jauh lebih eksklusif—kartu akses ke sumber keuangan yang hampir tak terbatas."Pakai yang mana saja, habiskan uangku kalau bisa," katanya santai, nada suaranya sedikit lebih hangat dari bi

    Last Updated : 2025-02-05
  • Jeratan Panas Tuan Pavel    Sosok Pengkhianat

    Malam masih muda, tetapi atmosfer di dalam ruang kerja Pavel begitu menekan. Mata tajamnya menatap lurus ke arah Kenji, yang meskipun berusaha mempertahankan ekspresi tenang, keringat dingin tetap terlihat menetes di pelipisnya. Udara terasa semakin berat, seakan memenuhi ruangan dengan ketegangan yang tidak kasat mata.Pavel duduk bersandar di kursinya, jemarinya mengetuk permukaan meja dengan ritme lambat namun sarat dengan ketidaksabaran. "Seharusnya kau memperhatikan Aleena saat berbelanja—mengawasi setiap pilihannya. Tapi yang terjadi?" Suaranya terdengar rendah, nyaris berbisik, namun mengandung ancaman terselubung. "Kenapa justru aku yang ada di pikirannya? Hampir semua barang yang dia beli untukku."Nada suaranya meninggi sedikit di akhir kalimat, menunjukkan ketidaksenangan yang coba ditahannya.Kenji menelan ludah, mencoba meredam debaran jantungnya yang tak beraturan. Dengan suara setenang mungkin, ia menjawab, "Maafkan saya, Tuan. Tapi menurut saya, ini bukan sesuatu yang

    Last Updated : 2025-02-06
  • Jeratan Panas Tuan Pavel    Konyol

    Pavel melangkah keluar dari ruangan dengan langkah tegap yang tak tergoyahkan. Namun, baru beberapa langkah, dia berhenti tiba-tiba dan berbalik, tatapannya langsung tertuju pada Owen dan Darius yang setia mengikutinya."Ada tugas tambahan," cetusnya dengan senyum menyeringai. "Pukul aku, buat aku babak belur."Mata Owen membelalak. Darius pun tampak sama terkejutnya, meski ekspresinya lebih tertarik daripada kaget."T—Tuan… apa saya melakukan kesalahan?" tanya Owen hati-hati.Pavel menggeleng santai. "Tidak. Cepat lakukan saja. Aku akan menambahkan gajimu."Darius langsung menegakkan tubuhnya penuh semangat. "Saya saja, Tuan! Saya mau—akh! Hei, kenapa kau memukul kepalaku?!"Darius mengusap kepalanya dengan geraman pelan setelah menerima pukulan keras dari Owen."Diam kau!" bentak Owen, galak. Tatapannya kembali beralih pada Pavel, kali ini lebih serius. "Tuan, bolehkah saya tahu alasannya dulu? Setidaknya beri saya penjelasan sebelum saya benar-benar menghaj—eh, mematuhi perintah an

    Last Updated : 2025-02-07
  • Jeratan Panas Tuan Pavel    Latihan Kencan

    Hari berganti, dan sejak Aleena mengobati luka Pavel, ada sesuatu yang perlahan berubah dalam dirinya. Perasaan familiar yang menghangatkan hati mulai menjalar tanpa bisa ia cegah. Rasa benci yang dulu begitu kuat perlahan terkikis, digantikan dengan ketertarikan yang muncul secara alami—sesuatu yang bahkan enggan diakuinya."Berhentilah menatapku begitu. Aku tahu aku tampan," ucap Pavel santai dengan percaya diri, melirik Aleena yang sedari tadi diam, hanya sesekali mengerjapkan mata. "Katakan saja, apa yang ingin kau tanyakan?"Aleena mengerutkan dahi. Kenapa pria ini seolah bisa membaca pikirannya? Ia berdeham pelan, lalu berkata, "Oh, ini... akhir pekan."Pavel menaikkan satu alis lalu memutar matanya malas. "Apa yang kau inginkan? Katakan saja, aku bukan ahli dalam menebak-nebak keinginan wanita."Aleena menelan ludah, merasa gugup dengan apa yang akan ia katakan. Namun, pada akhirnya, ia tetap memberanikan diri."Kau tidak berpikir untuk keluar dari mansion ini? Aku tahu kau sud

    Last Updated : 2025-02-08
  • Jeratan Panas Tuan Pavel    Insiden

    Senyum Aleena merekah saat menemukan mesin capit di pusat perbelanjaan setelah mengunjungi toko buku. Dengan Pavel yang masih mempertahankan konsep 'latihan berkencan' mereka, Aleena beberapa kali berhasil mendapatkan boneka lucu berbentuk kucing dan beruang—cukup besar untuk dipeluk.Pandangan Aleena kemudian beralih pada Pavel yang tampak sama sekali tak tertarik, hanya berdiri di sampingnya dengan ekspresi datar. Gadis itu menghela napas pelan, baru menyadari bahwa hanya dirinya yang benar-benar menikmati momen ini, sementara Pavel hanya sekadar menemaninya."Pavel, kita mau ke mana setelah ini? Apa kita lanjut makan malam di rumah saja?" tanyanya lembut.Pavel mengernyit samar sebelum menjawab dengan pertanyaan lain. "Kau sudah selesai?"Aleena menggigit bibir bawahnya, ragu sejenak sebelum mengangguk. "Ya, aku sudah cukup senang hari ini."Pavel menatapnya beberapa detik, lalu mengalihkan pandangan ke boneka-boneka yang kini berada di pelukan gadis itu. "Kau benar-benar seperti a

    Last Updated : 2025-02-09
  • Jeratan Panas Tuan Pavel    Hukuman Penuh Dosa

    Cate menyenggol lengan Marvin dengan sikunya. Saat pria di sampingnya menoleh, Cate langsung memberikan isyarat lewat matanya ke arah pintu masuk kantin, tempat Kyne baru saja muncul dan tengah menatap sekeliling, seolah mencari seseorang.Marvin menangkap maksudnya. Dengan ekor matanya, ia melirik ke arah Kyne, yang akhirnya menemukan mereka—ralat, menemukan Aleena.'Tidak ada jalan keluar kali ini. Terlebih, Aleena bahkan belum menyadari perasaan Profesor Foster,' pikir Marvin, merasa waswas. Ia tidak ingin Aleena terlalu dekat dengan Kyne."Aleen!" panggil Kyne, melangkah mendekat dengan cepat hingga akhirnya berdiri tepat di samping meja mereka. "Kau akhirnya kembali belajar di universitas. Aku butuh waktumu untuk berbincang empat mata."Aleena belum sempat menjawab karena terlalu terkejut dengan kedatangan tiba-tiba itu, tapi Marvin segera menengahi. "Dia tidak bisa. Setelah makan, dia akan dijemput oleh kekasihnya." Lalu, ia menoleh ke Cate. "Benar, kan, Cate?"Cate, yang awalny

    Last Updated : 2025-02-10
  • Jeratan Panas Tuan Pavel    Dua Pria Yang Punya Cinta

    "Berhentilah. Aku tahu kau punya perasaan padanya." Suara pria yang lebih muda itu terdengar meremehkan, dengan nada yang jelas mencerminkan ketidaksukaannya.Kyne tetap diam, hanya menatapnya dengan ekspresi datar, tak tergoyahkan oleh kata-kata itu. Namun, pria yang lebih muda itu kembali berbicara, kali ini dengan nada lebih tajam."Aleena punya kekasih yang tak bisa kau tandingi. Aku bisa merasakannya hanya dari auranya. Jadi, sebaiknya kau berhenti berharap."Kyne menghela napas pelan, matanya tetap tenang meski ada kilatan emosi yang sulit diartikan. "Dan menurutmu aku peduli?" ujarnya datar.Pria yang lebih muda itu menyeringai, jelas menikmati situasi ini. "Tentu saja kau peduli. Kalau tidak, kau tak akan berdiri di sini, membuang waktumu untuk membicarakan Aleena denganku."Kyne menekan rahangnya, berusaha mengabaikan provokasi itu. "Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja," ucapnya, tetap tenang."Tentu saja dia baik-baik saja. Tapi kau tahu apa yang tidak baik?" Pria

    Last Updated : 2025-02-11

Latest chapter

  • Jeratan Panas Tuan Pavel    Tenang Dalam Penderitaan

    Seorang wanita merintih kesakitan saat sepatu pantofel pria di atasnya menginjak punggung tangannya dengan kejam. Pria itu berdiri menjulang, memandangnya dengan tatapan penuh penghinaan. Tidak ada secuil pun belas kasihan di matanya—dan wanita itu tahu, permohonan apa pun tak akan mengubah nasibnya. "Agh…! Argh! Sakit… ampuni aku, Pavel!" Suara Louise bergetar, lemah dan penuh kepasrahan. Air matanya jatuh bercampur dengan darah yang mengotori lantai. Pavel tidak menjawab. Sebaliknya, ia memutar ujung sepatunya dengan kasar, menghancurkan sisa harapan di wajah Louise yang sudah penuh luka. Rasa sakit menjalar dari tangannya yang diinjak, menyebar ke seluruh tubuhnya yang sudah remuk. Lantai dingin di bawahnya semakin menambah siksaan, mengingat ini bukan pertama kalinya ia mengalami hal seperti ini. Entah sudah berapa kali tubuhnya hancur. Diperkosa tanpa ampun, diinjak, ditampar, disiksa—dan tidak ada satu pun yang memberinya jeda untuk sekadar bernapas. Louise telah menerima

  • Jeratan Panas Tuan Pavel    Jebakan

    Aleena menggigit bibirnya, menahan rasa kesal yang perlahan merayapi dirinya. Ia tahu Pavel bukan pria yang terbiasa memberikan penjelasan, tapi setidaknya, bukankah mereka akan menikah? Bukankah seharusnya ada sedikit perubahan dalam caranya memperlakukannya? Kenji masih berdiri tegak di hadapannya, menjaga postur profesionalnya, namun Aleena bisa merasakan sedikit ketegangan dalam sikap pria itu. "Apa dia pergi sendirian?" tanyanya lagi, mencoba menggali informasi lebih jauh. Kenji terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab, "Tidak, Tuan Pavel pergi bersama Owen dan beberapa orang lainnya." Aleena memicingkan matanya. "Owen?" Kenji mengangguk. Itu berarti Pavel tidak sedang dalam perjalanan bisnis biasa. Jika Owen ikut serta, maka bisa dipastikan Pavel sedang melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar urusan pekerjaan di luar sana. Aleena menegakkan tubuhnya, menyingkirkan rasa kecewa yang sempat ia rasakan. Ia seharusnya sudah terbiasa. Ini bukan pertama kalinya Pavel me

  • Jeratan Panas Tuan Pavel    Ternyata Punya Keluarga Kecil

    Tawa menggema memenuhi ruangan, bergema di dinding seperti ironi yang pahit. Arthur tertawa—bukan karena bahagia, melainkan karena betapa bodohnya dia telah memilih partner yang salah. Louise. Perempuan sialan itu telah mengecewakannya. Ia menyisir rambutnya ke belakang dengan kasar, lalu berjalan mondar-mandir, mencoba meredam emosinya yang meledak-ledak. Louise terlalu ceroboh, terlalu mudah dipermainkan oleh Pavel, dan sekarang ia harus menanggung akibatnya. Namun, bukan hanya Louise yang gagal. Beberapa pion pentingnya juga telah ditangkap oleh Pavel tanpa ada tanda perlawanan. Itu masalah besar. Sangat besar. Tapi Arthur tidak akan menyerah. Tidak sekarang. Tidak pernah. Ia menghentikan langkahnya, matanya menyipit tajam saat pikiran gilanya mulai bekerja. Lalu, tawa kembali lolos dari bibirnya—tawa liar, nyaris seperti orang kehilangan akal. "Ck, ck... ya, tampaknya aku har

  • Jeratan Panas Tuan Pavel    Hukuman Dari Tuan Ellington

    Ruangan itu begitu pengap, seolah udara pun enggan berdiam di dalamnya. Dinding-dinding beton yang lembap terasa menekan dari segala arah, sementara bau darah yang sudah mengering bercampur dengan keringat dan rasa takut menyelimuti setiap sudutnya. Louise menggeliat, pergelangan tangannya perih akibat belenggu kasar yang mengikatnya. Napasnya memburu, dada naik turun dengan panik, tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan. Tidak ada jalan keluar. Matanya masih berusaha menyesuaikan diri dengan kegelapan, tapi satu hal yang pasti—ia tidak sendirian. Suara rintihan sayup-sayup terdengar dari berbagai penjuru ruangan, ada yang memohon ampun, ada yang menangis lirih, ada yang bahkan hanya mampu mendesah lemah—seakan nyawa mereka tinggal menunggu waktu untuk melayang. Sesekali, suara rantai yang terseret di lantai terdengar, disusul dengan jeritan singkat sebelum kembali senyap. Ketakutan merayap ke seluruh tubuhnya.

  • Jeratan Panas Tuan Pavel    Harus Tenang

    "Permisi, Tuan. Maaf mengganggu waktu Anda, tetapi Anda harus segera kembali ke markas. Organisasi mafia yang Anda bangun telah terendus oleh pihak berwenang—semua karena laporan anonim," lapor Owen dengan nada serius saat tiba-tiba memasuki ruang kerja Pavel. Pavel, yang baru saja duduk di sofa selama beberapa menit, mengangkat alis. Ia tidak menyangka Owen bisa bergerak secepat itu untuk datang ke kediamannya. Bahkan dirinya baru bernapas lega beberapa saat. "Seharusnya kau menghubungiku terlebih dahulu, Owen," geramnya, jelas tidak senang dengan gangguan ini. "Ponsel Anda mati, Tuan," jawab Owen tanpa ragu. "Itulah sebabnya saya tidak bisa menyampaikan laporan ini melalui orang lain—terlalu berisiko." Pavel menatap Owen tajam, rahangnya mengeras. Masalah ini bisa menjadi lebih besar dari yang ia perkirakan. Tangan Pavel bergerak, memberi isyarat agar Owen duduk dan mulai menje

  • Jeratan Panas Tuan Pavel    Yang Hilang Belum Tentu Kembali

    Entah apa yang ada di benak Louise saat ini. Kehadirannya selalu membawa dampak buruk bagi Aleena, yang berharap bisa menjalani hari dengan tenang. Tapi apa daya, wanita licik itu selalu menemukan cara untuk kembali menginjakkan kakinya di kediaman Ellington, meski sudah dilarang keras oleh para penjaga. Saat ini, Aleena semakin menyadari satu hal—di masa lalu, Louise masih memiliki tempat terhormat di kehidupan Pavel, meskipun statusnya hanya sebatas mantan istri. Dan itu cukup mengganggunya. Sangat. “Hai, Aleena,” sapa Louise dengan nada ramah, senyum tipis terukir di bibirnya yang berlapis riasan ringan. Pakaian ketat membalut tubuhnya, menegaskan kesan angkuh yang selalu ia bawa. “Aku sangat merindukan Pavel. Apa mantan suamiku ada di rumah?” Aleena merasakan dadanya menghangat, bukan karena malu, tapi karena amarah yang mulai mendidih. Wanita ini benar-benar tak tahu malu. "Tidak ada. Calon suamiku sedang sibuk," tegas

  • Jeratan Panas Tuan Pavel    Ragu

    Aleena menerima pesan singkat di ponselnya. Nomor asing tertera di layar, diikuti dengan pesan berikutnya yang langsung menyebutkan identitas sang pengirim—Louise.Wanita itu benar-benar tidak tahu malu. Sepertinya dia sangat takut kehilangan Pavel, atau lebih tepatnya, takut Pavel menikahi gadis yang jauh lebih muda darinya. Aleena mendengus, menyadari bahwa dirinya memang tidak lebih unggul dalam banyak hal, kecuali satu: usianya yang lebih muda.Tapi meski begitu, rasa percaya dirinya tetap tidak kokoh. Ada bagian dari dirinya yang masih ragu, yang masih merasa cemas meskipun ia mencoba menyangkalnya.Dengan helaan napas kasar, Aleena membuka pesan itu. Dan saat itu juga, dunianya seakan runtuh.Matanya membesar, napasnya tercekat. Foto yang dikirimkan Louise menampilkan sosok pria bertelanjang punggung membelakangi kamera, memperlihatkan tato yang menutupi bekas luka. Tato yang sangat familiar, sangat dikenalnya. Itu tubuh Pavel.Tangannya bergetar saat menggenggam ponsel, dadanya

  • Jeratan Panas Tuan Pavel    Rencana Lain

    Tamparan keras kembali mendarat di wajah Louise, kali ini dari pria yang seharusnya menjadi sekutunya. Mereka memiliki tujuan yang sama—menghancurkan Pavel, menghancurkan bisnis dan kehidupannya, memastikan pria itu jatuh tanpa bisa bangkit kembali."Kau bodoh! Sangat bodoh!" Pria itu menggeram, suaranya tajam dan penuh amarah. "Seharusnya kau lebih cerdas, lebih taktis! Bukan bertindak gegabah dengan mendatangi kediamannya tanpa persiapan matang!"Matanya membara, rahangnya mengeras menahan emosi. Kemarahan itu semakin membuncah saat dia melangkah mendekat, menatap Louise dengan penuh penghinaan."Jalang sialan! Gunakan cara lain! Atau...." Dia menunduk sedikit, suaranya merendah menjadi bisikan beracun, "Gunakan tubuhmu!"Louise memejamkan mata sejenak, menahan panas yang membakar pipinya. Rasa sakitnya bukan hanya fisik, tetapi juga menghujam harga dirinya. Dalam satu hari, dia telah ditampar dua kali—oleh Pavel dan sekarang oleh Humphrey, pria yang seharusnya berada di pihaknya.M

  • Jeratan Panas Tuan Pavel    Tamu Tak Diundang

    Situasi sulit jelas terasa di sisi Marvin dan Alexander. Berbeda dengan Pavel, yang kini sudah mengetahui segalanya. Namun, alih-alih cemas atau marah jika ekspektasinya tak terwujud, pria itu tampak santai, duduk di sofa di depan televisi, menemani Aleena yang asyik menonton drama Korea. Hari ini, Aleena tampak lebih tenang dan dalam suasana hati yang baik, membuat Pavel tak perlu repot-repot menjinakkan kucing liar yang biasanya sulit diatur. Gadis itu bersandar santai di sisinya, tanpa perlawanan, sesuatu yang jarang terjadi. Namun, ketenangan itu terusik ketika seorang pelayan datang menghampiri mereka. Wajahnya tampak ragu, seolah ada sesuatu yang berat untuk disampaikan. "Maaf mengganggu waktu Tuan dan Nona," ucapnya dengan suara sedikit bergetar. "Tapi... wanita itu datang lagi, Tuan." Aleena mengerutkan kening, kepalanya miring ke samping. "Siapa?" "Louise Carter, Nona Morris," jawab sang pelayan hati-hati. Pavel masih tampak santai, jemarinya sibuk memainkan rambut

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status