Alesha keluar dari kamar menepuk-nepuk pipinya dengan pelan. Wajahnya masih memerah karena menahan gugup dan malu luar biasa. "Ekhemm... Selamat pagi, Nyonya."Suara Bibi Ruitz membuat Alesha terkejut. Wanita itu muncul seperti hantu, berdiri di dekat sofa dengan pakaian rapinya. "Oh Bibi, selamat pagi," balas Alesha tersenyum. "Apa Nyonya baik-baik saja?" tanya Bibi mendekati Alesha. "Aku tidak papa Bi, memangnya kenapa?" Alesha mengerjapkan kedua matanya, pagi ini pun ia sudah cantik dengan balutan dress merah muda bermotif, panjang menutupi betisnya. Rambut panjang Alesha juga tergerai indah seperti biasa. Belum sempat Bibi Ruitz menjawab, pintu kamar pun terbuka dan muncul Oliver menatap kedua wanita itu. "Selamat pagi Tuan," sapa Bibi tersenyum cerah. "Hem," balas laki-laki itu bergumam. Oliver melirik ke arah Alesha yang kini diam tak berani berkontak mata. "Bi, perintahkan dua tukang kebun rumah membantu gadis di sampingmu menanam bunga." "Baik Tuan. Tapi... Apa tidak
"Oliver akan pergi bertugas, aku akan selalu merindukannya." Ucapan itu terdengar lembut dari bibir tipis Alesha. Mata indahnya memperhatikan Oliver yang tengah berbincang dengan rekannya. Pagi ini, mereka sudah ada di pelabuhan, di sana ada beberapa perwira hebat yang akan dikirim menjaga perbatasan. Lengkap dengan pakaian seragam berwarna putih, lencana yang terpasang di seragamnya, Oliver menoleh ke arah Alesha yang berdiri tersenyum padanya. Sampai akhirnya Oliver pun melangkah mendekat ke arah Alesha. "Kenapa kau tersenyum begitu?" tanya Oliver sedikit memiringkan kepalanya. "Kau senang aku pergi, kan?" "Tidak," jawab Alesha, telapak tangan Alesha meraih tangan Oliver. "Aku akan selalu merindukanmu dan menunggumu pulang." Menunggu untuk pulang. Oliver tidak pernah mendengar kata-kata ini dari siapapun, baik keluarga, ataupun saat ia bersama dengan Susan. Tapi Alesha Alister, mengatakan hal itu padanya. "Jaga dirimu baik-baik, Alesha." Oliver membalas genggaman tangan istri
Berlayar di tengah-tengah lautan luas yang biru. Oliver menatap sekitar sembari diam menunggu salah satu bawahannya yang ditugaskan mendapatkan informasi dari beberapa pos. Oliver merogoh saku celana yang dia pakai dan mengambil sebuah jam saku berwana emas yang istrinya berikan. 'Aku akan pulang dengan selamat, Alesha. Aku pastikan aku akan memelukmu saat kembali nanti,' batin Oliver berucap jujur. Laki-laki itu mengecup jam saku milik wanita yang bergitu perhatian padanya. Bayangan Alesha tersenyum terus melanda hati Oliver dan membuatnya tak tenang. "Kapten Oliver!" Suara keras Hubert, bawahan Oliver. Oliver menatapnya tajam, Hubert mendekatinya dengan wajah panik. "Bagaimana?!" "Kami mendapatkan kabar dari dua pos di selatan, ada penyerangan di sekitar pos dan beberapa korban. Rupanya pemberontak belum mau menyerah." Oliver terkejut. "Sudah aku duga, wilayah yang selalu ditugaskan padaku dan Kapten Lionil bukanlah wilayah yang aman seperti kelompok lain." "Benar Kapt, ban
Pagi-pagi sekali Alesha meminta Bibi Ruitz untuk menemaninya pergi jalan-jalan. Tepat tiga setengah minggu Oliver bertugas, tidak satu hari pun Alesha melewatkan pergi ke pelabuhan meskipun hanya sekedar untuk melihat lautan yang biru dan kapal-kapal di depannya."Udara semakin dingin Nyonya, apa Nyonya tidak papa?" Bibi Ruitz memasangkan mantel tebal dari belakang tubuh Alesha. "Aku tidak papa Bi, tapi suamiku... Aku tidak mendapatkan kabar apapun darinya," ujar Alesha.Kondisi Alesha membuat Bibi Ruitz cemas, kepergian Oliver tanpa kabar ini membuat Alesha terus diserang rasa cemas. Berkali-kali sakit dan pingsan, Alesha terus menerus menanyakan Oliver. Bibi Ruitz akan memarahi Tuan Mudanya itu bila pulang nanti. "Tuan pasti baik-baik saja Nyonya, percaya pada saya. Seorang pahlawan angkatan laut yang terkenal di kota ini, pasti baik-baik saja." Bibi Ruitz mengusap pundak Alesha dengan lembut. Alesha tertunduk menatap telapak tangannya yang kedinginan. Ia juga memakai syal mera
"Oliver akan segera pulang, aku tidak sabar menjemputnya di Pelabuhan dan memeluknya dengan erat!" Alesha tersenyum manis, gadis itu kini tengah merapikan kamar Oliver di lantai satu. Sengaja Alesha tidak meminta bantuan siapapun untuk membersihkan kamar itu. "Aku juga akan memasakkan makanan yang enak!" serunya bersemangat. Alesha berjalan mendekati jendela, menatap taman di samping rumah. Beberapa orang tengah memanen bunga Peony dan beberapa jenis bunga lainnya. "Aku rasa uangku penjualan bunga tiga hari ini belum cukup," gumamnya lirih. Kembali gadis cantik itu menyergah napasnya kasar dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Alesha membuka lemari pakaian milik Oliver di bagian atas, namun sesuaatu mengejutkan Alesha saat lembaran ratusan foto berjatuhan dari dalam lemari. Terpaku tubuh Alesha saat ia menatapi foto-foto berjatuhan itu, adalah potretnya. "Fo-fotoku," lirih Alesha terkejut bukan main. "Bagaimana ada di sini? Sebanyak ini?!" pekiknya. Alena menekuk kedua kakin
Hari yang ditunggu-tunggu oleh Alesha akhirnya datang. Selasa pagi dia sudah berada di pelabuhan menunggu kepulangan Oliver. Dia datang sendirian, bahkan saat masih pukul enam pagi Alesha sudah berada di dermaga sampai akhirnya kapal tiba pukul setengah delapan. "Mana suamiku?" lirih Alesha menatap beberapa orang perwira yang turun. Sampai akhirnya senyuman lebar Alesha tercetak saat ia melihat sosok laki-laki berambut pirang turun dari kapal membawa ransel besarnya. "Oliver!" Alesha melambaikan tangannya dan berjalan mendekat, dia tersenyum lebar merentangkan kedua tangannya dan langsung berhambur memeluk tubuh suaminya dengan penuh kerinduan. Oliver terdiam sesaat, seumur hidup ke manapun dia pergi, tidak pernah ada yang menyambut kepulangannya. Ia pun membalas pelukan hangat Alesha saat itu juga. "Aku menunggumu sejak pukul enam pagi tadi," ujar Alesha tersenyum manis mendongak menatapnya. "Kenapa menungguku?" Oliver mengusap lembut pipi putih Alesha yang nampak mengkilat.
Sesuatu yang Oliver berikan, nyatanya membuat Alesha tidak bisa menahan detak jantungnya saat ini. Gadis itu memejamkan kedua matanya erat dengan napas memburu dan dress-nya sudah lolos dari tubuh Alesha. Oliver tak peduli dengan lukanya, dia benar-benar tidak seperti Oliver yang Alesha kenali setiap hari. "Oliver, ya ampun..." Alesha memeluk leher laki-laki itu saat kecupan Oliver berikan di tempat mana pun yang bisa dia jangkau di tubuh indah Alesha. "Aku ingin segera mengambil hakku," bisik Oliver menatap wajah Alesha yang cantik. Rasa gugup menyerang Alesha, ia menggigit ibu jarinya dan menggeleng pelan. "Tapi... Tapi aku tidak berani, aku pernah hampir mati karena ini," lirih Alesha meneteskan air matanya. Kegiatan Oliver terhenti, dia menjauhi wajahnya dari ceruk leher Alesha. Tubuh mereka yang polos, udara hangat menyelimuti, tidak sebanding dengan apa yang barusan Alesha katakan. Dia trauma. Oliver menarik tubuhnya, ia menatap wajah cantik di bawahnya dan mengusap pipi
Hari sudah gelap, Oliver seharian ini berada di rumah dan sibuk di ruangan kerjanya hingga sampai larut malam. Pukul sebelas malam laki-laki itu keluar dari dalam ruangan kerjanya. Oliver menyunggar rambut pirangnya dan melangkah hendak menaiki anak tangga, namun langkahnya terhenti saat melihat Alesha duduk sendirian di ruang makan. "Kau sedang apa sendirian di sini?" Suara Oliver membuat gadis itu mendongak, Oliver tiba-tiba muncul di belakang Alesha yang tengah melamun. "Aku ingin membuat susu cokelat hangat, tapi pinggang dan tubuhku masih sakit, perutku juga tidak nyaman sejak kemarin-kemarin." Wajah Alesha begitu kelelahan, Oliver bediri menatapnya dan menyandarkan tubuhnya di meja makan. Tangannya terulur mengusap pipi putih Alesha. "Diamlah di sini, aku akan membuatkannya untukmu," ujar Oliver. Alesha mengangguk, hatinya merasa senang mendapatkan perhatian dari sang suami. Sampai akhirnya Oliver melangkah ke dapur, diam-diam Alesha mendekat saat melihat laki-laki yang