Keesokan harinya, Bagas baru saja keluar dari kamarnya. Hari ini Kara akan pulang, dan Selena meminta Bagas untuk menjemputnya. Sejujurnya Bagas agak malas jika harus menjemput wanita itu. Selain menyebalkan, dia juga perginya sudah seperti setan. bahkan ketika Bagas meminta supir lainnya atau Abrisam yang jemput. Pria itu malah beralasan akan pergi ke kantor bersama dengan Rania. Tentunya tidak ada pilihan Bagas lah yang akan berangkat menjemput Kara.Membutuhkan waktu tiga puluh menit, akhirnya Bagas pun sampai di bandara. Dia bisa melihat banyak orang yang menyeret koper mereka satu persatu, yang masuk ke dalam mobil pribadi mereka dan juga taksi. Disini Bagas juga bisa melihat banyaknya kamera yang mengarah pada pintu keluar bandara. Tentunya mereka akan meliput jika tahu kara pulang, atau mungkin mereka akan meliput artis pendatang?Berjalan pelan, Bagas pun berdiri di depan Kara. “Ehem … .”Kara mendongak menatap Bagas yang sudah berdiri di depannya. wanita itu bangkit dari dudu
Merentangkan kedua tangannya, Rania pun memutuskan untuk masuk ke dapur. Dia berjalan cepat ke arah tombol lampu dan menyalakannya. Mengambil bahan yang ada di lemari pendingin, tak lupa juga suara orang bertengkar cukup ketara di telinga Rania. Dia pikir itu adalah suara radio, tapi yang ada Rania kalau di kejutkan oleh Bagas dan Kara saling beradu mulut. Alias berdebat entah apa yang mereka debatkan. Rania ingin mendekat, tapi tepukan dari arah belakang membuat Rania terjongkat kaget. "Astaga ya Tuhan Mami, bikin kaget Rania aja." ucap Rania mengusap dadanya pelan. Alis Selena mengerut. "Rania? Siapa Rania?" Tersadar akan hal itu, Rania pun tersenyum canggung. Rania adalah namanya, banyak orang memanggilnya Rana dengan nama Rania. Tau kan nama Rana itu cukup asing bagi mereka sebut, untuk memudahkan mereka suka memanggilnya Rana dengan sebutan Rania. Disini, Selena mengangguk percaya. Mungkin apa yang dikatakan Rania adalah benar, itu hanya sebuah nama yang tidak ada urusannya s
"Mas … ." panggil Rania. Abrisam bangkit dari duduknya dia pun mengangkat tangannya, hingga yang Rania lakukan adalah meraih tangan itu dan membantunya berdiri dengan tegak."Udah pakai bajunya?" tanya Abrisam."Udah nih, aku pake jaket juga. Kalau dibuat tidur sih kayaknya nggak masalah Mas karena di dalam kamar. Tapi kalah dibuat keluar, mendadak aku malu sendiri. Terus aku pake jaket aja." jelas Rania sambil tertawa. Abrisam juga ikut tertawa. Dia pun menyodorkan dasi hitam pada Rania. Meminta wanita itu untuk memasangkan dasinya dengan benar. Untung saja Rania masih ingat cara mengikat dasi dengan benar. Coba kalah lupa, udah beda cerita. Memberi jarak antara dirinya dan juga Abrisam. Rania pun mulai fokus pada ikatan dasi di depannya. Namun, sepersekian detik berikutnya Rania malah dikejutkan oleh Abrisam yang tiba-tiba saja mendorong tubuhnya, dengan satu tangan kanan yang sudah menyentuh dinding samping Rania. Belum lagi, punggung Rania harus terbentur dinding itu dengan cu
Kara memperhatikan penampilan Rania dari atas hingga bawah. Baju yang dikenakan baju yang dia belikan di aussie sebagai hadiah. Rambutnya bg dicepol rapi, tapi masih ada beberapa helai rambut jatuh di samping kiri dan juga kanan wajah Rania. Belum lagi jaket yang dia kenakan juga cukup pas di tubuh wanita itu. Padahal Kara berpikir jika baju yang dibelikan akan kekecilan dipakai kakak iparnya itu. "Bajunya bagus Kak dipakai." kata Kara. Rania menoleh dan tersenyum. "Terima kasih ya udah dibeliin baju sama jaketnya." "Tapi suka kan?" Kalau masalah model, Rania suka. Hanya saja bahannya yang kurang yang membuat Rania tidak suka. Bagian dada dan juga punggung terlihat. Tapi bagian bahu terekspos sempurna. "Suka kok." jawab Rania singkat. Dia juga tidak tahu harus menjawab apa lagi, karena pertanyaannya pun hanya sebatas itu. Kara sendiri juga langsung diam, dia lebih memilih menikmati potongan buah yang dicampur dengan yogurt
“Ehem, “deheman itu membuat Rania maupun Kara menatap Leon sejenak, belum lagi pria itu langsung tersenyum ketika melihat Rania. “Sesuai aplikasi?” katanya dengan nada bercanda.Disini Kara yang ikut tertawa, tidak untuk Rania yang langsung memalingkan wajahnya. Dia lebih memilih menikmati indahnya pemandangan luar jendela kaca. sambil memikirkan alasan yang tepat untuk hal ini, jika Bagas mengadu pada Abrisam dan tahu jika mobil yang mereka naiki adalah mobil Leon. Beberapa kali juga Rania harus melihat ponselnya, jika nanti Abrisam menelponnya buru-buru dia meminta Abrisam untuk menjemputnya. Sayangnya baru juga dua kali melihat layar ponselnya, Kara langsung merampas ponsel itu dan mematikannya. “Ponselnya aku aja yang nyimpan.” kata Kara.“Kara jangan, biar aku aja yang nyimpen. nanti kalau mas Abri nyariin aku nggak tau loh.”“Mas Abri nggak akan nyariin, kalau dia tahu kamu keluarnya sama aku.” ucap Kara dan mendapat anggukan dari Leon
“Habis dari mana?”Pertanyaan itu membuat Rania terjingkat kaget. Dia pun langsung menatap ke arah kiri dan melihat Abrisam yang sudah duduk tenang di sofa. Rania menghela nafas, dia mencoba mendekat dan duduk di samping Abrisam. Menaruh beberapa paper bag yang dia bawa tadi ketika belanja dengan Kara.“Ini loh Mas, habis belanja sama Kara.” jawab rania jujur. “Tumben kamu udah pulang Mas.” lanjutnya.Untuk mengurangi rasa gugupnya, Rania memilih mengeluarkan semua belanjaannya dari kantong dan menunjukkan pada Abrisam. Baju, hoodie yang dibeli sangat lucu, dari segi warna yang gelap dan juga gambar-gambar yang menggemaskan. “Kenapa? Aku nggak boleh pulang cepat?”Rania menelan salivanya kasar, dia pun melirik Abrisam dengan ekor matanya. Raia baru sadar jika sejak dia datang dan duduk di samping pria itu. Rania tak melihat Abrisam tersenyum, dan Rania juga baru sadar jika nada bicaranya tak seperti biasanya mereka berbicara.Rania yang menyadari hal itu langsung menundukkan kepalany
Bangun dengan keadaan remuk, Rania malah tidak menemukan Abrisam sama sekali di sampingnya. Jika kalian berpikir ini adalah tempat tidur maka kalian salah besar. Ini adalah sofa, dengan ukuran bisa dibilang lumayan besar. Bisa untuk tidur dua orang, dengan posisi miring. Dan Rania melakukan hal itu tadi dengan Abrisam. Selimut tipis entah datangnya dari mana, menutupi tubuh polos Rania yang tak menggunakan sehelai benang di tubuhnya. Bahkan Rania bisa melihat baju yang dia beli tadi masih berantakan di atas lantai bersih kamar ini. Rania mencoba untuk bangkit, dia membersihkan diri lebih dulu sebelum keluar dari kamar ini. Jangan sampai semua orang melihat betapa kacaunya Rania hari ini karena ulah Abrisam. Setelah selesai membersihkan diri, Rania juga mengambil baju baru yang dibeli dan kembali menata kembali dengan rapi di atas meja. Dan barulah Rania turun ke bawah, lihat banyak orang yang duduk rapi di ruang makan dengan senyum yang mengembang. Belum lagi, Abrisam yang duduk sen
"Mas masih marah ya sama aku?" tanya Rania akhirnya. Setelah makan malam bersama. Abrisam tak kunjung kembali ke kamarnya, begitu juga dengan Rania yang memiliki menemani Abrisam berada di ruang tengah. Televisi itu menyala, Abrisam bisa mendengarkan sebuah berita pesawat jatuh di tengah laut. Tapi fokusnya malah teralihkan pada suara Rania, yang terus menanyakan hal yang sama. "Mas Abri jawab dong!! Jangan diem aja." katanya kembali. "Aku nggak marah. Setelah aku pikir, wajar sih kamu bareng Leon, dia lebih segalanya dibanding aku. Dunia aku udah gelap, mana mungkin ada wanita yang mau tulus sama aku." "Ada! Contohnya aku." jawab Rania cepat. Dan nyatanya Abrisam tak mempercayai itu. Setelah mendengar penjelasan itu Abrisam berpikir jika apa yang Rania katakan itu benar, jika wanita itu tidak membohongi dirinya. Tapi ketika mendengar penjelasan Kara, Abrisam berpikir dua kali. Kara bilang, jika semuanya sudah diatur dengan sebaik mungkin. Entah siapa yang mengatur, dan disini ha
Karena Abrisam mengaduh lapar, akhirnya Rania memutuskan untuk meminta Bagas untuk membelokkan mobilnya ke sebuah tempat makan terdekat. Dia tidak tega jika harus melihat Abrisam kelaparan setelah mengantarkan dirinya jalan-jalan seharian ini. "Mas Abri mau pesen apa? Menunya banyak banget, seafood kesukaan Mas juga ada." ucap Rania. Satu persatu wanita itu membaca menu yang ada di depannya dengan seksama. Dia juga menyebutkan banyak sekali masakan, sayangnya ada masakan yang sulit sekali disebut. Lidahnya begitu kaku untuk membaca tulisan itu yang menurut Rania aneh. Yang ada Rania hanya menunjuk tulisan itu dan memberitahu pelayanan, jika dia memesan itu dia porsi untuk dirinya dan juga Abrisam. Tak hanya itu, Rania juga langsung memberikan daftar menu yang ada di tangannya pada Bagas. Meminta Bagas untuk memilih makanan yang dia ingin makan malam ini. "Oh ya, habis ini kita ngapain?" tanya Bagas akhirnya. "Pulang. Tau capek nggak?" ucap Abr
Meskipun tidak piknik atau apapun itu, hari ini Abrisam mengajak Rania untuk jalan-jalan sebentar. Dia meminta apapun yang Rania inginkan, akan Abrisam belikan. Hanya saja istrinya ini begitu lucu, dia hanya meminta dua cup teh dan terus mengajak Abrisam jalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan ini. Keliling-keliling nyaris satu jam dan tidak membeli apapun, membuat kaki Abrisam pegal.“Ini kamu yakin nggak mau beli apapun?” tanya Abrisam memastikan. Jika tidak ingin beli apapun lebih baik mereka pulang saja. Kalau jalan terus menerus tentu saja Abrisam yang lelah, tau kan wanita itu kalau di suruh keliling pusat perbelanjaan ini mau lima puluh kali pun tidak akan membuat dia lelah. Beda cerita kalau itu pria, bahkan baru saja masuk sudah merasa kesal.“Boleh minta cincin?” “Boleh, tadi kan aku sudah bilang kamu pengen apa aku beliin.”Rania mengangguk, dia pun langsung menarik tangan Abrisam pelan untuk masuk ke salah satu toko perhiasan. Rania mengamati satu persatu cincin yang
Abrisam akhirnya turun ke bawah, dia sudah mengenakan baju lengkap. Begitu juga dengan Rania yang sudah mengenakan baju lengkap juga, tidak seperti pagi tadi yang hanya menggunakan bathrobe saja. Sungguh, dia begitu malu melihat ibu mertua dan juga keluarganya yang tiba-tiba saja datang ke rumah, sedangkan dia datang juga tidak menelpon atau memberi kabar lebih dulu. Untung saja Rania bangun lebih awal, dia sudah mandi dan juga membereskan rumah yang sempat berantakan karena ulah Abrisam. Coba saja jika belum, sudah dipastikan ibu mertuanya itu pasti akan memiliki pemikiran yang luar biasa untuk Rania dan juga Abrisam. "Kemarin perasaan bilangnya dua hari, ini kenapa baru sehari sudah pulang?" ucap Abrisam. Rania yang duduk di depannya pun langsung mengkerut kan keningnya heran. "Haa? Masa sih? Mereka pergi kemana?" Tentu saja Abrisam tidak akan memberitahu Rania mereka pergi kemana. Itu rahasia publik, dan hanya Abrisam saja yang tahu. Rania tidak dipe
"Hari ini kita … pulang ke rumah Abrisam." ucap Selena.Semua orang menatap Selena heran, dia pun langsung menatap satu persatu barang yang sempat mereka bawa ketika meninggalkan rumah Abrisam. Dan pagi ini, dengan semangat mereka pun kembali ke rumah Abrisam. "Mau menginap lagi di rumah kita?" tanya Alfa memastikan. Selena menggeleng, "Kita balik aja kesana, sampai Mami punya cucu baru pulang." Alfa memutar bola matanya malas, padahal Selena tahu sendiri jika dia tidak akan mendapatkan apapun dari hasil yang dia perbuat saat ini. Tapi tetap saja wanita itu masih ngeyel dan berharap jika dia akan menerima cucu suatu saat nanti. Dan pagi ini, Selena sengaja ingin kembali ke rumah itu pagi-pagi, karena tahu Abrisam maupun Rania belum juga bangun tidur. Biasanya mereka akan bangun terlambat, apalagi malam itu malam yang panjang untuk mereka. Tidak mungkin kan kalau mereka tidak melakukan apapun jika berdua saja? Selena juga memastikan semua cctv rumah untuk tidak melihat apa yang mere
Makan malam yang seharusnya masih hangat menjadi dingin karena ulah Abrisam. Pria itu tiba-tiba saja mengurung Rania di dalam kamar selama dua jam, sehingga masakan Rania menjadi dingin dan tidak enak kembali. Belum lagi, ketika mereka turun dan menikmati makanan mereka. Abrisam malah menolak masakannya untuk dipanasi. Sungguh, dia tidak ingin Abrisam sakit perut hanya karena makanan dingin. Rania juga sudah membuatkan teh hangat untuk Abrisam dan juga dirinya. Setelah ini mereka akan tidur nyenyak, Rania sudah capek dan lelah. Badannya sangat lelah dan remuk akibat ulah Abrisam. Untung saja rumah ini benar-benar sepi coba saja jika tidak? Akan ada banyak orang yang mendengar suara Rania yang mendadak menggelegar akibat ulah Abrisam.Selesai makan, akhirnya Rania pun langsung membersihkan meja makan ini dengan cepat agar terlihat rapi dan bersih. Dia juga meminta Abrisam untuk menunggunya di ruang tengah, mungkin pria itu ingin mendengarkan suara televis
Merasakan sebuah pelukan, Rania pun teringat kaget akan hal itu. Tak biasanya Abrisam memeluknya dari arah belakang ketika dirinya tengah masak. Biasanya pria itu akan memanggil namanya jika memang dia membutuhkan sesuatu. Tapi kali ini … "Kenapa Mas?" pertanyaan itu lolos dari bibir Rania. Dia yang sempat menghentikan potongan wortel nya, kembali memotong dadi wortel itu sebagai isian. "Jangan marah." Memangnya wanita mana yang tidak marah setelah melihat suaminya memangku wanita lain? Sedangkan selama ini Rania saja tidak pernah duduk di atas pangkuan Abrisam. "Nggak." hanya jawaban itu yang bisa Rania berikan pada Abrisam. Dia tidak tahu antara marah atau cemburu melihat suaminya seperti itu. Tapi sebisa mungkin, Rania menahan perasaannya untuk tidak menciptakan jarak diantara mereka. Jika saja nanti, suaminya memang masih memiliki perasaan itu pada Claudia, Rania bahkan siap untuk melepaskan suaminya untuk bahagia dengan wanita yang dia cintai "Aku tau kamu marah." Tersenyu
Helaan nafas keluar dari bibir Rania, dia menatap dua kotak makan siang dengan tempat berwarna merah muda. Kotak itu berniat ingin Rania bawakan untuk kantor Abrisam. Dan itu adalah permintaan Abrisam juga sebelum dia pergi ke kantor. Tapi, mendengar pagi tadi membuat Rania berpikir. Apa mungkin mantan kekasih suaminya itu akan datang ke kantor hanya untuk mengantar makan siang? Jika iya? Terus gunanya Rania datang kesana untuk apa? Selena yang melihat kegundahan Rania pun mendekat. Menawarkan diri untuk mengantar Rania ke kantor Abrisam, siapa tahu dia kesepian datang ke kantor Abrisam seorang diri. Tapi yang ada Rania menolak, dia bisa pergi sendiri lagian dia juga ada janji dengan Gaby untuk pergi bersama. Jadi, kalau nanti Selena ikut takutnya Selena akan merasa bosan. "Ya sudah, pokoknya hati-hati ya." Rania mengangguk, dia pun mengambil kotak itu dan membawanya ke dalam mobil. Disana sudah ada satu sopir yang biasanya mengantar Alfa ke kantor, dan kali ini orang itu yang akan
Suara bel rumah ini membuat Rania yang baru saja turun dari tanggal menoleh. Dia menatap pintu putih tinggi di depannya yang lumayan jauh dengan kening yang mengkerut. Ini masih jam sembilan pagi, dan sudah ada tamu yang datang? Wanita itu ingin membuka pintu rumah ini yang terus saja berbunyi, seolah sangat tamu tidak sabaran untuk masuk ke dalam rumah. Namun, mbok Atun lebih dulu berlari ke arah pintu dan membuka pintu rumah besar ini dengan lebar. "Selamat pagi Mbok Atun." sapa orang itu, yang masih bisa didengar oleh Rania. Mbok Atun berdiri dengan kaku, ketika tahu siapa tamu yang datang ke rumah ini. Orang yang entah sudah berapa tahun, tidak pernah muncul dan sekarang kembali muncul. "Non Claudia … " Mendengar namanya, Rania yang penasaran pun mendekat. Berdiri di balik tubuh gemuk Mbok Atun dengan bingung. Dia menatap wanita di depan pintu itu dengan heran. Pagi begini bertamu ada apa? Bahkan kalau dilihat Rania seolah pernah melihatnya tapi dimana? "Maaf, mau cari siapa
Abrisam pulang ke rumah tepat jam tujuh malam, dia merasa bersalah dengan Rania karena tidak bisa datang makan siang bersama dengannya. Dan kali ini Abrisam juga tidak bisa makan malam bersama dengan Rania kembali, karena dipaksa harus menemani Claudia makan malam. Tentang wanita itu, dia adalah tunangan Abrisam dulu, dia adalah wanita yang pernah Abrisam cintai dalam hidupnya. Dia adalah wanita yang pernah mengandung anaknya dulu. Dia adalah wanita yang paling beruntung karena memiliki Abrisam. Sayangnya, wanita itu meninggalkan dirinya demi pria lain, karena malu memiliki kekasih buta seperti Abrisam setelah mengalami kecelakaan. Tentu saja itu menyakitkan, hubungan mereka juga terbilang sangat lama sedangkan ingin ke jenjang yang lebih serius yang ada dia pergi. Dan sekarang dia kembali? Untuk apa? Mengacak rambutnya, Abrisam merasakan kasur sampingan melesak, sekolah ada seseorang yang duduk di samping Abrisam. "Mas ini kenapa bajunya ada