"Masuk!" seru Leuis dengan suara yang dingin dan dalam, sedalam kelamnya malam.
"Ini masih sore, Kak." Leia memberengut tapi Leuis mengacuhkannya, dan tetap menatapnya dengan sorot mata dingin. "Masuk, atau aku akan menghubungi Daddy dan menceritakan kejadian hari ini!" ancam Leuis dengan nada yang tidak bisa dibantah. 'Kejadian hari ini apa? Rencana jahat Felix padaku? Atau aku yang telah mencium Leuis?' Leia bertanya-tanya di dalam hatinya. Keduanya berdampak sama, Daddy Elrick akan kembali menugaskan anak buahnya untuk selalu berada di radius kurang dari lima meter darinya, seperti dulu. Seketika Leia begidik ngeri saat membayangkan kehidupannya yang dulu, yang selalu dikawal bodyguard kemanapun dia pergi, kehidupan sebelum ia kuliah di kota Paris ini. Sekarang daddy Elrick bersedia melepaskannya tanpa pengawal hanya karena kedua kakaknya, Leon dan Leuis sama-sama tinggal di kota ini, di Ap"Kamu harus meminta maaf padanya, Kak!" seru Leia sambil duduk santai di barstool dengan menggoyangkan sebelah kakinya, kedua matanya menatap punggung Leuis yang tengah asik menyiapkan makan malam untuk mereka."Tidak ada Mom and Dad di sini, panggil saja Leuis, aku risih mendengar kamu terus memanggilku kakak," sungut Leuis sambil terus meng0cok lepas telur untuk membuat omelette kesukaan adik angkatnya itu. Terbiasa tinggal sendiri setelah lulus high school, membuat Leuis jadi mahir masak, baik menu Asian maupun Western. Tapi tetap saja, mau Leuis masak makanan apapun, Omelette ini harus tersedia untuk Leia."Memangnya harus ada Mommy dan Daddy baru aku bisa bersikap sopan padamu?" tanya Leia dengan nada mengejek."Terserah lah ... " "Kamu harus meminta maaf pada Felix!" seru Leia lagi.Sambil mendesah pelan, Leuis meletakkan telurnya sebelum balik badan dan melangkah mendekati Leia, ia menekan kedua telapak tangannya di ata
'Lupakan ... Itu kesalahan dan tidak akan pernah terulang lagi!'Kata-kata Leia semalam terus terngiang di telinga Leuis, dan membekas di hatinya hingga membuatnya sulit untuk memejamkan matanya.Ya, tidurnya terganggu karena ulah wanita itu. Setelah mencuri ciuman pertamanya, seenaknya saja wanita itu menyuruh Leuis untuk melupakan ciuman itu dan menganggapnya hanyalah sebagai sebuah kesalahan yang tidak akan terulang."Apa ciuman itu tidak berpengaruh sama sekali pada dirinya? Apa karena wanita itu telah banyak menerima ciuman dari pria lain, hingga tidak meninggalkan kesan untuknya sama sekali?"Pertanyaan itu yang selalu berulang di dalam benaknya, dan ada sebersit rasa cemburu yang enggan untuk Leuis akui.Selama ini sudah cukup buruk untuknya karena harus menahan perasaannya seorang diri. Ia harus menekannya dalam-dalam karena tidak ingin Leia tahu kalau wanita itu telah lama mencuri hatinya, seluruh hatinya hingga tidak ada ruang l
Malam harinya.Seperti biasa tanpa mengenakan sehelai benangpun, Leuis melangkah keluar dari kamar mandinya, bedanya kali ini terdengar suara pekikan wanita, "Astaga, sedang apa kamu di sini, Leia?" tanya Leuis panik sebelum kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk meraih handuk dan dililitkan di pinggangnya.Kedua mata Leuis menyipit saat melihat Leia yang masih terduduk di tempat tidur Leuis, dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya,"Sedang apa kamu di kamarku?" tanya Leuis mengulang pertanyaannya yang tadi."Ka ... Kamu su ... Sudah ... ""Sudah! Lihat aku sekarang!" potongnya tajam, ia sudah mengerti apa yang akan ditanyakan Leia itu.Perlahan Leia menurunkan kedua tangannya dan membuka matanya, yang langsung terpaku pada dada Leuis yang bidang, dan perutnya yang sixpack,"Apa kamu tidak malu hanya dengan mengenakan handuk di depanku?" tanya Leia, kedua matanya tidak teralihkan dari barisan otot yang ind
Leia tengah bersiap meninggalkan kelasnya untuk menuju kantor Leuis saat ponselnya berdering, dengan nada dering yang ia buat khusus untuk kekasihnya, Felix. Jadi tanpa perlu melihat layar ponselnya, ia sudah tahu kalau Felix lah yang menghubunginya. Jadi ia langsung menekan tombol headset bluetoothnhya untuk menerima panggilan masuk itu. "Ma bébé ... Kamu di mana?" tanya Felix. "Masih di kampus. Kamu jadi antar aku ke kantor Leuis?" "Iya, aku akan mengantarmu, Ma bébé. Tapi aku saat ini sedang di Champs de Elysees, kamu ke sini yaa ... Aku tunggu di kafe biasa!" "Ok, aku ke sana sekarang," ujar Leia sebelum memutus sambungan teleponnya itu. "Reine, aku ikut kamu ya!" serunya pada sahabatnya yang masih berdiri di sampingnya itu. "Felix ga. bisa jemput lagi?" tanyanya sambil tersenyum mengejek. "Dia sedang di Champs de Elysees sekarang. Jadi antar aku ke sana yaa,
Leuis mengalihkan perhatiannya dari layar laptopnya ke jam tangannya. Setelah satu minggu datang tepat waktu dan bekerja dengan baik meski sambil memberengut, kali ini Leia datang telat, atau malah tidak akan datang?"Dean, tolong hubungi Leia!" serunya pada deandra, sekretarisnya."Oui, Monsieur," balas Deandra sebelum meraih ponselnya yang ia letakkan di atas meja kerjanya. Dean baru akan menghubungi Leia ketika ponsel Leuis berdering, tertera nama wanita yang sedang menjadi pembicaraan mereka itu di layar ponselnya,"Kak, bisa aku meminta gajiku dibayar dimuka?" tanyanya sebelum Leis sempat bertanya di mana adiknya iktu berada.'Gaji dibayar di muka? Untuk apa? Aku sudah memberinya uang saku apa itu kurang? Atau jangan-jangan dia sedang bersama dengan Felix saat ini,' Leuis bertanya-tanya di dalam hatinya.Leuis mengehela napas kesal sebelum bertanya, "Kamu di mana?""Aku di Champs-Élysées, ada baju yang ingin aku b
Astaga ... Jadi inilah pangkal masalahnya. Leia beranggapan kalau seorang cassanova pada akhirnya akan bertobat seperti Daddy mereka. Mungkin juga seperti sepupunya Keanu. "Aku tidak suka kau menyamakan Daddy dengan pria sialan itu, Leia. Daddy tidak pernah membiarkan satupun wanita mengeluarkan uang untuknya! Ya Tuhan ... Bahkan pria tengil seperti Keanu saja tidak pernah mau seperti itu," keluh Leuis. "Aku tidak membandingkan Daddy dengan Felix. Tapi kalau Daddy saja bisa berubah berarti Felix juga kan?" "Mungkin saja terjadi, tapi di dalam mimpimu. Dan untuk mencegahmu terperangkap lebih jauh lagi pada Felix, aku akan memulangkanmu dan ... " Kata-kata Leuis selanjutnya tertahan di tenggorokannya saat Leia meraih tangannya, dan menatapnya dengan kedua mata indahnya yang masih terus mengeluarkan air matanya, seolah-olah stok air matanya itu masih banyak saja. "Percuma memohon seperti itu, Leia. Aku tetap akan memulangkanmu ... " "Kak ... " "Oh baiklah, aku tidak akan me
Keesokan paginya, samar-samar Leuis terbangun karena mendengar isakan tangis seorang wanita, hingga ia harus menajamkan telinganya untuk memastikan lagi pendengarannya itu.Dan ia langsung terduduk saat mendengar tangisan itu semakin kencang, dan berasal dari dalam kamarnya sendiri, yang tidak lain adalah Leia. Leuis menarik kembali selimutnya dan memastikan area bawahnya tertutup. Karena ia telah terbiasa tidur tanpa mengenakan apapun,"Leiaa ... Kenapa sepagi ini kamu sudah ada di sini?" tanya Leuis sambil mengusap wajahnya.Adiknya itu selalu berada di kamar ini pada saat yang gtidak tepat."Aku benci Felix!" isaknya sebelum membersit hidungnya dengan tidak feminin."Ya, itu sudah seharusnya," timpal Leuis. Ia segera menyalakan salah satu lampunya agar bisa melihat wajah Leia. Gordyn kamarnya kedap cahaya, jadi sinar matahari tidak akan masuk kalau Leuis tidak membukanya..Leia tengah duduk di sofa panjangnya, dengan
Yang dimaksud Leuis berangkat bersama itu bukan seperti yang ada di dalam bayangan Leia, yang ia kira akan sampai di lobi kantornya, ternyata hanya sampai di pertigaan yang mengarah ke area perkantoran, dan Leuis memintanya untuk turun dari mobilnya,"Tapi ini masih jauh, Leuis!" keluhnya sambil memberengut."Untuk menghindari spekulasi yang tidak diinginkan, sebaiknya kamu turun di sini. Bagaimanapun juga, di dalam kantor hubungan kita hanya sebatas atasan dan bawahan saja!" tegas Leuis tanpa bisa dibantah lagi.Sambil menggerutu kesal, Leia membuka pintu mobil itu,"Kalau begitu lebih baik aku berangkat sendiri saja tadi!!" geramnya sebelum menutup pintu.Dan kekesalannya semakin memuncak saat Leuis mengendarai mobilnya begitu saja, tanpa ada basa-basi lagi padanya."Dasar beruang kutub tidak punya hati!" teriaknya.Ia terus menatap tajam mobil Leuis itu hingga menghilang dari penglihatannya, baru ia melangkah ke kantornya, di
Dengan perasaan tidak tenang, Leuis berjalan hilir-mudik di depan pintu kamar daddy Elrick dan mommy Aliana, ia harus menjelaskan semua yang mengganjal di dalam dirinya pada orang tua angkatnya itu. Tidak ada yang perlu ia takutkan lagi saat ini karena Leia kini telah resmi menjadi istrinya. Jadi apapun resiko yang akan ia terima nantinya ia akan menerimanya. Setelah membulatkan tekadnya, Leuis berniat mengetuk pintu kamar orangtuanya itu, tapi tangannya tertahan di udara karena pintu itu telah terbuka terlebih dahulu, "Leuis, ada yang ingin kau bicarakan?" tanya daddy Elrick dengan mommy Aliana yang berada di sisinya dengan lengan daddy Elrick yang merangkul pinggangnya, "Ya, Dad ... Apa aku bisa meminta waktu kalian sebentar?" "Ok, masuklah!" seru daddy Elrick sambil membuka lebar pintu kamarnya. Leuis membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu tapi menutupnya lagi. Setelah sekian lama terdiam di bawah tatapan penuh tanda tanya daddy Elrick dan mommy Aliana ia pun kembal
"Ya Tuhan, sebenarnya kamu dan Leon telah melewati malam pertama kalian atau belum sih? Karena saat pertama untuk wanita pasti akan mengeluarkan darah, dan juga rasa sakit setelah melakukannya. Bahkan aku masih merasa nyeri hingga saat ini," jelas Leia."Benarkah?" Aletta berpaling menatap Leon yang tengah asik berbincang dengan Axel dan Dritan, kenapa ia tidak merasakan itu semua? Kenapa tidak ada darah di atas sprei mereka? Apa sebenarnya mereka tidak pernah melakukannya?"Apa memang seharusnya aku mengeluarkan darah?" tanya Aletta lirih."Well, memang ada beberapa wanita dengan satu dan lain alasan tidak mengeluarkan darah saat selaput darahnya sobek. Tapi semuanya pasti akan merasakan sakit saat melakukannya untuk pertama kalinya. Seluruh badanmu akan terasa remuk, seperti kamu telah bekerja kefas selama satu hari penuh," jawab Leia.Ia memberengut kesal sebelum melanjutkan,"Padahal, Leuis sudah melakukannya dengan sangat lembut. Tapi tetap saja aku merasa sakit juga. Rasanya mi
"Maaf kami telat!" seru Leon yang melangkah ke arah keluarganya yang sudah berkumpul untuk makan siang bersama sambil menggandeng Aletta. Mommy Aliana yang melihat kedatangan putranya itu tersenyum lembut menyambutnya, "Wajar, pengantin baru. Kalian pasti enggan kan meninggalkan tempat tidur kalian?" "Ah, Mommy memang pengertian sekali," kekeh Leon sambil mencium pipi kanan dan kiri mommy Aliana sebelum beralih memeluk daddy Elrick. Aletta pun turut serta mencium pipi kanan dan kiri mommy Aliana, lalu memeluk daddy Elrick dan menyapa yang lainnya sebelum duduk di samping Leia. "Nah, karena semua sudah berkumpul, kita bisa mulai makan siangnya, silahkan dinikmati!" seru daddy Elrick. Semua anak, menantu, sepupu dan juga keponakannya mulai menikmati hidangan makan siang di restoran mewah itu, yang sengaja daddy booking khusus untuk acara keluarga mereka saja. "jadi, apa kamu mau menetap di Paris atau memboyong Aletta ke sini, Leon?" tanya mommy Aliana. "Kami belum memutuskan ba
"Eitss ... Mau ke mana buru-buru sekali?" tanya Axel mencegah Leia dan Leuis yang sedang menuju lift yang akan membawa mereka ke kamar mereka. "Tentu saja melakukan malam pertama kami!" jawab Leia tanpa malu-malu lagi, tapi segera menggigit lidahnya saat melihat siapa yang berada di belakang Axel, tante Keizaa dan om Alson yang tengah mengapit putri mereka, Alexa, sementara Alarik yang beberapa bulan lebih tua dari Leia melangkah di belakang mereka, "Astaga, tamu masih banyak, kenapa tidak bersabar dulu?" keluh tante Keizaa, kulit putih bersihnya yang tanpa noda itu menurun pada putri satu-satunya, Alexa. "Biarlah, Snow ... Melarangnya sama dengan melarang Eomma, tidak akan bisa," kekeh om Alson. Ini bukan kali pertama omnya itu menyamakan Leia dengan oma Sonya. Tidak ada satupun anak oma Sonya yang mengambil sifat bar-barnya, sifatnya itu malah menurun pada cucunya, Leia. Sementara sifat dingin dan cuek opa Alex menurun pada cucunya juga, Alarik. Pria itu seperti memiliki
Sebenarnya rasa kantuk masih sangat menguasai Leia, tapi ia memaksakan diri membuka kedua matanya yang masih terasa berat saat merasakan belaian halus punggung tangan seseorang di pipinya, yang ternyata adalah punggung tangan Leuis. Leia tersenyum lembut pada suaminya itu sebelum kembali menutup kedua matanya, dan baru saja akan kembali lagi ke alam mimpinya ketika terdengar suara serak Leuis, "Sudah siang, Sayang. Mau sampai jam berapa kamu tidur?" tanyanya. "Aku lelah sekali, Leuis," desah Leia masih tidak mau membuka kedua matanya yang masih terasa berat, belum lagi rasa pegal di seluruh tubuhnya terutama di area pangkal pahanya. "Apa aku yang membuatmu lelah?" Perlahan kedua mata leia membuka, ia kembali tersenyum pada Leuis, "apa kamu sudah bangun sejak tadi?" tanyanya sebelum menguap lebar. "Ya," jawab Leuis. "Kamu saja yang sudah bangun sejak tadi masih santai di tempat tidur, jadi biarkan aku tidur dulu ya," pinta Leia. "Karena aku terlalu senang ketika pertama kalin
'Keluarkan saja, Sayang, jangan ditahan-tahan," bisik Leuis yang berusaha menahan gairahnya sendiri. Ia harus membuat Leia sampai puncaknya lebih dulu untuk melancarkan dirinya saat akan menembus milik wanita itu nantinya. Dan tidak lama kemudian Leia meneriakkan namanya saat wanita itu telah mencapai puncaknya, Leuis pun menangkup wajah Leia, "Tahan sebentar, Sayang. Aku akan masuk sekarang ... " Seketika itu juga Leia yang telah kembali menjejak bumi menjadi panik, tubuhnya seketika menegang, "A ... Aku takut!" ia mulai mendorong Leuis meski tanpa hasil. "Apa yang kamu takutkan?" tanya Leuis, gairahnya sudah berada di ujung tanduk, tapi Leia malah terus berusaha mendorongnya. "Aku takut tidak muat," jawab Leia sambil terus mendorong Leuis. "Sstt Leia, tatap mataku!" "Apa kamu percaya padaku?" tanya Leuis saat mata mereka telah terkunci. "Iya, tapi ... " "Awalnya memang akan terasa sakit, tapi rasa sakitnya tidak akan sesakit jarimu teriris pisau, Sayang." "Aku tidak pern
Leia dan Aletta terlihat sangat menawan dengan gaun pengantin yang dirancang oleh desainer ternama secara khusus untuk mereka berdua, yang nampak berkilau layaknya taburan permata di seluruh gaun berwarna putih itu. Sementara kedua pria yang kini telah resmi menjadi suami mereka berdiri di samping mereka dengan gaya posesif, seolah melindungi wanita mereka yang terlihat begitu cantik dari siapapun yang ingin merebutnya. Dan sang desainer yang turut serta menghadiri hari yang sangat istimewa itu nampak berkaca-kaca. Siapa yang tidak akan bangga jika hasil rancangannya dipakai oleh cucu dan cucu menantu keluarga Adipramana. Bahkan desainer lainnya merasa iri dengan keberuntungannya itu. Karena pernikahan itu akan ditayangkan secara live di berbagai stasiun televisi lokal, dan headline berita kini dipenuhi dengan pernikahan pewaris keluarga ternama itu. Adik dan kakak menikah secara bersamaan? Siapa yang tidak akan tertarik dengan berita semacam itu? Dan terutama Leon sang casa
Leia baru saja selesai mengeringkan rambutnya ketika belnya berbunyi. Ia melirik tablet yang terpasang di dinding yang menampilkan wajah Leuis di depan pintu unitnya, Leia pun menekan tombol untuk bicara, "Masuk saja, Leuis. Passwordnya masih sama dengan yang sebelumnya!" serunya. Sejurus kemudian pintu unitnya terbuka, sambil tersenyum lembut Leuis mendekatinya dan memeluknya dari belakang, "Aku merindukanmu ... " ucapannya sama lembutnya dengan tatapan matanya yang terpantul di cermin rias Leia, hingga kedua mata mereka saling mengunci, "Baru juga semalam kita ketemu." "Sejam berpisah denganmu pun aku sudah merindukanmu, Sayang." Leia membalik badannya hingga ia bisa menatap wajah Leuis, lalu melingkarkan lengannya di leher calon suaminya itu, "Kenapa kamu sekarang jadi sering ngegombal begitu sih?" tanyanya. "Ummm, mungkin karena sekarang aku telah merasakan kelegaan yang luar biasa, karena pada akhirnya aku dapat mengungkapkan semua perasaanku padamu, perasaan yang telah
"Wah, aku tidak menyangka kau bisa bersikap seromantis itu, Leuis!" seru Leon sambil menepuk pundak Leuis.Leon menarik Leia lebih merapat padanya, "Demi wanita yang sangat aku cintai ini, sudah pasti aku akan melakukan apapun meski diluar kebiasaanku.""Kalian akan tinggal di mana setelah menikah nanti?" tanya Aletta.Alih-alih menjawab Aletta, Leuis malah balik bertanya pada Leia,"Kamu mau tinggal di mana, Sayang?" "Aku akan tinggal dimanapun kamu akan tinggal, Leuis ... " jawab Leia sambil tersenyum menggoda."Jangan tersenyum seperti itu, kalau kamu tidak mau aku melahapmu di sini," bisik Leuis yang langsung mendapatkan sikutan Leia ke pinggangnya."Kenapa kau tiba-tiba bisa berubah sedrastis itu, Leuis? Awalnya kau mati-matian menolak menikahi Leia, bahkan tidak segan-segan membandingkan adikku itu dengan mantan wanitamu," cecar Leon memutuskan kongtak mata Leia dan Leuis.Sambil mendesah pelan, Leia ber