Rok milik Valerie yang memang sangat pendek ditambah tadi dia sempat berlari kecil membuat roknya tertarik ke bawah. Ujung pakaian dalamnya terlihat jelas dan membuat wajahnya seketika memerah malu. Tanpa berpikir lebih panjang lagi, dia mengangkat tas tangannya dan menutupi bagian dada sambil melangkah cepat masuk ke ruang acara. ***Edith dan Yuna mengelilingi acara pameran tersebut dan menyapa para tamu sekilas. Edith mengenalkan beberapa orang kenalannya pada Yuna. Setelah selesai, mereka baru berhenti untuk istirahat sejenak. Meski hanya kegiatan menyapa saja, keduanya terlihat cukup lelah.Acara pameran tersebut masih belum dimulai dan dia merasa sedikit mulai tumbang. Ternyata memang benar bahwa hal yang paling melelahkan dari meneliti produk adalah bersosialisasi.Mereka mencari sudut yang sedikit lebih sepi dan berdiri di sana sambil memegang sebuah piring kecil di tangannya yang berisi berbagai kue kecil. Keduanya memutuskan untuk menunggu acara di mulai di posisi mereka. S
Edith terdiam dan mendengar setiap kalimat yang diceritakan oleh Yuna dengan serius.“Aku benar-benar nggak melihat dari sisi mana kamu sedang marah,” kata Edith.Yuna terbahak dan berkata, “Nggak harus berwajah marah baru bisa dibilang marah. Aku dan kamu mewakili perusahaan untuk menghadiri acara ini. Untuk apa aku menjelekkan wajahku demi orang nggak penting? Memangnya aku gila?”“Hahahaha!” Edith tertawa karena ucapan Yuna.“Marah sih tetap marah, tapi nggak ada gunanya kalau marah saja. Lebih baik aku balas dengan caraku, kita lihat saja siapa yang akan tetap tertawa sampai akhir nanti,” ujar Yuna dengan penuh keyakinan.Edith mengangguk sambil tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sekarang kesan Yuna di matanya bertambah satu tingkat lagi dan membuatnya semakin mengagumi perempuan itu.“Aku ada satu pertanyaan,” ujar Edith dan menahan kalimatnya dengan ekspresi ragu-ragu.“Nggak apa-apa, tanya saja,” kata Yuna dengan kedua alis terangkat ke atas.Sekarang dia juga menganggap Edith
Pemikiran seperti itu membuatnya memutuskan untuk tidak mencari sosok Lawson lagi. Sudah pasti tidak akan ketemu lelaki itu. Meski ketemu, lelaki itu juga belum tentu akan menggubrisnya. Kecuali ….Mengingat ucapan lelaki itu saat di hotel membuat jantungnya berdegup cepat. Lelaki itu hanya menginginkan tubuhnya saja, bukan tulus dari hati! Valerie harus menjaganya karena hanya akan menjadi milik Logan.Produk baru yang dipajang di atas pentas akan diperkenalkan oleh pembawa acara profesional. Pembawa acara itu yang akan mengumumkan sang pembuat dan juga ide serta inspirasinya. Selain itu akan ada perkenalan top notes, middle notes dan back notes.Pembuat parfum itu juga akan menyarankan bahwa parfum tersebut lebih cocok digunakan oleh orang-orang yang seperti apa dan juga ada sesi tanya jawab. Akan diminta beberapa orang untuk mencium setiap tipe parfum. Orang-orang itu akan diminta untuk mengungkapkan kesan dan pesan mereka.Valerie tidak ingin naik ke pentas. Bukan karena dia tidak
Pembawa acara yang tadi sudah ketar-ketir akhirnya menghela napas lega. Semua tamu yang ada di sana juga ikut tertawa.“Bu Yuna suka bercanda saja! Memang benar, mereka selalu menjadi sosok yang dijadikan panutan bagi juniornya, tetapi nggak semua orang bisa memahami setiap ilmunya dengan tepat. Menurut Bu Yuna, diri Ibu sendiri bisa memahaminya seberapa banyak?”Ada nada penuh tantangan di balik pertanyaan tersebut. Sebenarnya juga tidak bisa dikatakan sedang menantang Yuna, tujuan sang pembawa acara hanya untuk kepentingan acara dan membuat suasana jauh lebih seru.Karena adanya kejadian di awal tadi, para tamu mulai tampak antusias menunggu jawaban Yuna. Pertanyaan tersebut terdengar sederhana, tetapi kalau jawabannya terlalu berlebihan maka akan terasa sangat sombong.Namun kalau jawabannya nanti terkesan bertele-tele dan takut-takut, maka orang-orang akan merasa dia tidak memiliki kemampuan sehingga merasa tidak percaya diri.Yuna hanya tersenyum sambil menatap sang pembawa acara
“Dengan ibu siapa ini?” tanya sang pembawa acara dengan ramah. Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Valerie.“Ibu?” panggil pembawa acara itu sekali lagi ketika melihat binar linglung di mata Valerie. Sahutan kedua membuat kesadaran Valerie kembali dan menatap sang pembawa acara sambil bergumam, “Aku ….”Satu kata pertama terucap dan Valerie baru menyadari bahwa suaranya menjadi serak. Dengan cepat perempuan itu berdeham dan menggenggam mikrofon dengan isi kepala yang mendadak kosong.Valerie sendiri tidak hanya satu kali ini saja berdiri di atas pentas dan di bawah lampu sorot. Dia kerap berada di atas pentas ketika menerima piagam dan juga berbagai pujian serta tepuk tangan dari orang-orang. Akan tetapi kali ini dia merasa gusar dan panik. Tangan dan kakinya dingin, tubuhnya juga tampak sedikit bergetar hebat.Bagaimana jika dia melakukan kesalahan saat mencoba parfum nanti? Bukankah hal itu akan menjadi sangat memalukan sekali? Dia tidak ingin merasakan hal itu!“Kemungkinan Ibu
Sudah sampai pada titik ini, dia akan sulit sekali untuk mundur. Tatapan para tamu membuat Valerie mau tidak mau harus menghadapi situasi ini. Dia mencoba menyemangati dirinya sendiri dalam hati bahwa ini hanya percobaan parfum saja.Dia hanya perlu berbicara beberapa kalimat dan menganalisis beberapa komponen dari bahan parfum tersebut. Tidak akan ada masalah besar yang terjadi kalau dia salah menebak.Meski begitu, rasa gugupnya juga tetap tidak bisa dikendalikan. Untuk mengambil selembar kertas dan pulpen saja tangannya sudah bergetar luar biasa hebat. Dia mencoba menghirup aroma tersebut dan mulai berusaha keras berpikir. Valerie akan menyampaikan komponen bahan utama dari parfum dan memperkirakan persentasenya.“Bu Valerie?”Panggilan sang pembawa acara kali ini disahuti dengan cepat oleh perempuan itu. “Saya pribadi lebih suka dengan parfum tipe ini. Biasanya saya lebih suka aroma elegan dan lembut, parfum ini bisa membuatku merasa tenang.”“Saya nggak tahu kalau pencipta aroma i
Dia mengangkat tangan perempuan itu dan mengecup telapak tangan Valerie dengan lembut.Sedetik kemudian ruangan acara dipenuhi oleh riuh tepuk tangan. Sedangkan Valerie yang ada di atas panggung justru menarik tangannya.Yang dilihat oleh orang-orang adalah Lawson mengecup punggung tangan Valerie. Akan tetapi hanya Valerie sendiri yang bisa merasakan kalau lelaki itu sempat menjulurkan lidahnya dan menjilat kulitnya.Gerakan Valerie sangat cepat ketika menarik telapak tangannya hingga membuat semua orang belum sempat menyadari apa yang sedang terjadi.Lidah lelaki itu bagaikan lidah milik kucing yang dipenuhi duri hingga bisa membuat hatinya ketar-ketir berantakan. Wajah Valerie terlihat memerah, tetapi dia tidak bisa berkata apa pun di hadapan begitu banyak orang. Dia hanya bisa menunduk dan tersenyum tipis seakan-akan Valerie tengah merasa malu karena baru saja dipuji.Hanya Yuna yang menyipitkan mata dan menatap Valerie dengan sorot curiga. Karena jaraknya cukup jauh, dia tidak bisa
Hari ini merupakan hari yang sangat menegangkan bagi Valerie. Dia nyaris jatuh ke dalam jurang tak berdasar yang begitu dalam. Akan tetapi di saat-saat paling genting, justru sosok Lawson yang menariknya.Perasaannya sangat berantakan ketika dalam perjalan pulang ke hotel. Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan olehnya dengan kata-kata. Lawson menggenggam tangannya sepanjang perjalanan dan Valerie juga tidak menolaknya.Keadaan di dalam mobil sangat sunyi tanpa ada suara lain selain suara mobil. Udara di sekitar mereka seperti membuat Valerie tidak tenang. Perasaannya gusar dan panik hingga membuat kaki tangannya berubah dingin.Setibanya di hotel, Valerie turun dan digandeng masuk ke dalam lift oleh Lawson. Saat pintu lift tertutup, lelaki itu memutar tubuhnya dan menjepit tubuh Valerie di antara dinding lift.“Pak Lawson!” seru Valerie terkejut.“Valerie, hari ini aku sudah membantumu. Sepertinya kamu harus mengucapkan terima kasih padaku, bukan?” kata Lawson dengan sebelah tangan ya
Harus diakui, setiap tutur kata yang Yuna ucapkan sangat mengena di sanubari Ratu. Memang benar meski Ratu tidak bisa lagi menunggu, toh sekarang ada waktu kosong. Tidak ada salahnya bagi Ratu untuk memberi kesempatan kepada yuna untuk mencoba. Kalau yuna gagal, tinggal lakukan sesuai dengan rencana awal.Rencana R10 ini sejak awal memang sudah mendapat berbagai macam halangan. Pertama adalah perlawanan dari anaknya sendiri, kemudian jika diumumkan pun, entah akan seperti apa kritik dan tekanan dari opini publik. Namun di luar semua itu, yang paling penting adalah bahwa Ratu sendiri juga tidak yakin dengan keputusannya sendiri.Dari luar, Ratu mungkin terlihat tegas. Namun hanya dia sendiri yang tahu kalau sebenarnya dia pun sering meragukan keputusannya. Jika Ratu tidak ragu, pada hari itu juga dia akan tetap melanjutkan eksperimennya, bukan malah menunggu seperti sekarang. Dengan diberhentikannya eksperimen R10 untuk sementara, Ratu makin bimbang.“Kamu butuh apa?” tanya Ratu. Berhub
Saat Yuna mengatakan itu, ekspresi wajah Ratu masih tidak berubah. Ratu hanya menutup kelopak matanya untuk menutupi sorotan yang terpancar dari bola matanya. Tentu saja pada awal eksperimen ini dilakukan, dia menyembunyikan faktanya dari semua orang agar tidak ada yang tahu.Eksperimen ini sejatinya adalah sesuatu yang membahayakan nyawa manusia. Ratu tahu betul akan hal tersebut, karena untuk membuat dia hidup abadi, dia harus mengorbankan nyawa orang lain. Kalau sampai ada satu orang saja yang tahu dan kemudian tersebar luas, tentu saja seluruh dunia akan mengecamnya.Namun di sisi lain, Ratu tidak mungkin dan tidak akan mau menyerah. Makanya saat melakukan penelitian, dia hanya memberikan satu resep kepada setiap grup, kemudian meminta mereka untuk menjalankan eksperimen sesuai dengan instruksi yang tertera di setiap lembaran resepnya.Tentu untuk menutupi agar orang lain tidak bisa menerka apa yang sedang mereka lakukan, Ratu memberikan banyak resep yang sebenarnya sama sekali tid
Suara anak kecil yang menggemaskan itu membuat Yuna teringat, sewaktu dia terakhir kali bertemu dengan Nathan, saat itu dia memang sedang hamil. Seketika mendengar itu, Yuna pun tersenyum seraya memegangi perutnya yang kini sudah rata, “Mereka sudah lahir.”“Adik cowok, ya?” tanya Nathan penasaran.“Ada cowok dan cewek. Anak Tante yang lahir ada dua, lho!” ujar Yuna tersenyum sembari mengangkat dua jarinya.Sorot mata Nathan seketika bercahaya. Perasaannya yang sejak awal murung dan penuh waspada langsung berubah menjadi jauh lebih ceria selayaknya anak kecil pada umumnya.“Dua adik?! Wah, Tante hebat banget!”“Hahaha, makasih, ya! Nanti Tante ajak kamu ketemu mereka kalau ada kesempatan,” ujar Yuna tersenyum, nada bicaranya pun jauh lebih lembut saat dia berbicara dengan anak kecil. Melihat Nathan membuat Yuna teringat dengan anak-anaknya sendiri, hanya saja ….“Aku juga kangen sama mereka, tapi … kayaknya aku nggak bisa ketemu mereka lagi,” ucap Nathan dengan suaranya yang kian menge
Mungkin sekarang Nathan sudah tidak lagi disembunyikan seperti pada saat Fred yang memimpin. Namun tentu saat itu banyak hal yang Fred lakukan secara diam-diam. Dia mengira dia bisa menyembunyikan semuanya dari orang lain bahkan dari sang Ratu sekalipun. Namun dia tidak tahu bahwa sebenarnya Ratu sudah mengetahuinya sejak awal.Di luar kamar tempat Nathan ditahan ditempatkan seorang penjaga. Yuna sempat dicegat saat dia mau masuk ke dalam. Yuna menduga mungkin ini adalah perintah dari Ratu. Mereka semua juga diawasi dan dapat berkomunikasi dengan intercom.Nathan sangat patuh sendirian di dalam tidak seperti kebanyakan anak seumurannya. Bahkan sewaktu melihat Yuna, dia masih bisa tersenyum dengan santun dan menyapanya.“Halo, Tante.”“Kamu masih mengenali aku?” tanya Yuna.“Iya, Tante Yuna,” jawab Nathan mengangguk.Yuna pernah menyelamatkan nyawa Nathan saat mereka berada di Prancis. Yuna juga banyak membantu Nathan dan ada suatu waktu Nathan sering main ke rumah Yuna, tetapi kemudian
Tangan yang mulanya Ratu gunakan untuk mengelus wajah Ross langsung ditarik. Raut wajahnya juga dalam sekejap berubah menjadi berkali-kali lipat lebih sinis.“Jadi dari tadi kamu ngomong panjang lebar ujung-ujungnya cuma mau aku membuang eksperimen ini.”“Aku mau kamu merelakan diri sendiri,” kata Ross sambil berusaha meraih tangan ibunya lagi, tetapi Ratu menghindarinya.“Aku cape. Kamu juga balik ke kamarmu saja untuk istirahat,” ucap sang Ratu seraya berpaling.“Ma ….”Sayangnya panggilan itu tidak membuat Ratu tergerak, bahkan untuk sekadar menoleh ke belakang pun tidak.“Ricky!”Ricky yang dari awal masih menunggu di depan pintu segera menyahut, “Ya, Yang Mulia.”“Bawa Ross balik ke kamarnya.”Saat Ricky baru mau masuk untuk mengantar pangerannya pergi, Ross langsung berdiri dan bilang, “Aku bisa jalan sendiri.”Maka Ross pun segera berbalik pergi, tetapi belum terlalu jauh dia melangkahkan kakinya, dia kembali menoleh ke belakang dan berkata, “Ma, aku tahu apa pun yang aku bilang
Seketika itu Ratu syok karena dia jarang sekali melihat anaknya bersikap seperti ini. Saking syoknya sampai dia tidak bisa berkata-kata dan hanya terdiam menatap dan mendengar apa yang dia sampaikan.“Ma, aku tahu sebenarnya kamu pasti takut. Takut tua, takut mati, takut masih banyak hal yang belum diselesaikan. Aku thau kamu juga bukannya egois. Kamu melakukan eksperimen ini bukan semata-mata untuk kepentingan pribadi, tetapi karena masih banyak hal yang mau kamu lakukan.”Di saat mendengar kata-kata Ross, tanpa sadar mata Ratu mulai basah, tetapi dia berusaha untuk menahan laju air matanya.“Aku juga tahu kamu pasti sudah capek. Orang lain melihat kamu berjaya, tapi aku tahu setiap malam kamu susah tidur, bahkan terkadang waktu aku pulang malam dan melewati kamarmu, aku bisa dengar suara langkah kaki lagi mondar-mandir. Kamu pasti capek banget karena harus menanggungnya sendirian. Sering kali aku mau membagi beban itu, tapi ….”Sampai di situ Ross terdiam dan tidak lagi meneruskan ka
“Aku nggak pernah dengar tentang itu,” sahut Ross dengan tenang.“Jelas kamu nggak pernah dengar. Itu hal yang sangat mereka rahasiakan, nggak mungkin mereka mau kamu tahu.”“Jadi Mama sendiri tahu dari mana?” Ross bertanya balik.“....” Ratu berdeham seraya berpaling, dia lalu mengatakan, “Aku punya jalur informasiku sendiri. Terserah kamu percaya atau nggak, tapi itu benar.”“Aku bukanya nggak percaya, tapi kamu yang takut aku nggak percaya. Kalau memang dirahasiakan, pastinya nggak akan mudah untuk mendapat informasi itu. Aku cuma penasaran dari mana kamu tahu itu. Tentu saja kamu bisa bilang informasi itu didapat dari jalur informanu sendiri, tapi coba pikir lagi. Kamu sudah melakukan eksperimen ini selama bertahun-tahun, tapi siapa yang tahu sebelum ini terbongkar? Atau kamu pikir kamu lebih pandai merahasiakan ini dari mereka?”“.… Ross, kamu ….”Saat Ratu baru mau berbicara, dia lagi-lagi disela oleh Ross yang bicara dengan suara pelan. “Ma, tolong jangan marah. Kamu marah karen
Bagaimanapun yang namanya anak sendiri, ketika sudah meminta maaf, amarah Ratu sudah tidak lagi berkobar.“Iya, aku tahu aku salah,” kata Ross menunduk. “Aku nggak sepantasnya ngomong begitu.”“Kamu benar-benar sadar kalau salah?” tanyanya. “Angkat kepalamu. Tatap mataku.”Lantas Ross perlahan mengangkat kepalanya sampai matanya bertatapan, tetapi tetap tidak ada satu pun dari mereka yang mengatakan apa-apa. Selagi menatap Ross dalam-dalam, Rat tersenyum dan berkata, “Ross, kamu nggak tahu kamu salah. Tatapan mata kamu memberi tahu kalau kamu sebenarnya masih nggak rela!”Bagaimana mungkin Ratu tidak memahami anaknya sendiri. Tatapan mata Ross mengatakan dengan sangat jelas kalau dia masih tidak mengaku salah, tetapi dia hanya mengalah agar ibunya tidak marah. Hanya saja setelah mengalami masa kritis dan setelah mengobrol dengan Juan dan Fred, pemikiran dan suasana hati Ratu sudah sedikit berubah.“Ross, kamu sudah lama tinggal di negara ini, jadi pemikiran kamu sudah terpengaruh sama
Ricky sudah menunggu di luar menantikan Ratu keluar dari kamar tersebut. Dia langsung memegang kursi roda tanpa mengatakan apa-apa, dan mendorongnya dalam kesunyian. Begitu pun dengan Ratu, dia juga hanya diam saja selama mereka berjalan menuju lift.“Pangeran Ross minta bertemu,” kata Ricky.Ratu memejamkan kedua matanya guna menyembunyikan perasaan yang mungkin bisa terlihat dari sorotan mata. Dia tidak menjawab dan hanya mengeluarkan desahan panjang. Walau begitu, Ricky mengerti apa yang ingin Ratu sampaikan dan dia pun tidak lagi banyak bertanya.Seiringan dengan lift yang terus naik, tiba-tiba Ratu berkata, “Bawa dia temui aku.”“Yang Mulia?”“Bawa dia temui aku.”Selesai Ratu berbicara, kebetulan lift juga sudah sampai di lantai tujuan. Ratu mendorong kursi rodanya sendiri keluar dari lift. Ricky sempat tertegun sesaat, tetapi kemudian dia kembali menekan tombol lantai di mana Ross berada.Tak lama kemudian, Ricky mengantar Ross masuk kamar tidur Ratu. Dia mengetuk pintunya, teta