Ketika Dev masuk ke kamar, Kirei baru selesai mandi. Kirei terkejut. Raut wajahnya pun cukup tegang. “Aku tidak tahu kalian akan lewat ke sana,” ucap Kirei, seakan tahu apa yang akan Dev katakan.Namun, Dev tidak menanggapi. Dia hanya terpaku disertai tatapan aneh. Melihat sikap Dev, Kirei pun hanya diam tertunduk. “Hernan Morales mengundang kita makan malam di tempatnya Jumat ini,” ucap Dev, setelah terdiam beberapa saat.“Kita?” ulang Kirei, seraya mengangkat wajah.“Ya. Kamu dan aku,” jelas Dev. “Dia juga meminta resep masakan yang kamu hidangkan untuk makan siang tempo hari,” lanjutnya.
“Tuan Morales.” Dev yang menyadari sikap Hernan, segera mengalihkan perhatian pria itu.Hernan tersenyum kalem, seraya mempersilakan Dev dan Kirei masuk. “Maaf. Aku baru selesai menghidangkan makanan,” ucapnya, kemudian mengarahkan tangan ke sofa.“Anda memasak sendiri?” Dev yang sudah duduk di sebelah Kirei, menanggapi tenang ucapan Hernan. Dia harus berbasa-basi, meskipun tidak terlalu suka melakukannya. Terlebih, setelah melihat gelagat yang ditunjukkan pria itu terhadap Kirei.“Aku mencari resep di internet, lalu mencoba meracik dengan caraku. Semoga hasilnya memuaskan,” ujar Hernan.“Kami sangat menghargai itu. Kerja keras akan membuahkan hasil yang baik, meski terkadang tidak sesuai ekspe
“Kamu yang terlalu berlebihan, Kirei.”“Anggap saja begitu. Namun, sikapmu, rasa takutmu, kecurigaan dan … kamu tak segan memberikan hukuman menakutkan padaku.”“Itu belum seberapa dibanding yang kulakukan terhadap orang lain,” sanggah Dev cukup tegas. “Tapi, aku adalah wanitamu!” bantah Kirei tegas. “Sejujurnya, aku tidak bisa membayangkan hidup bersama pria yang tiba-tiba marah karena hal sepele, lalu kembali bersikap baik dan mengatakan bahwa dia sangat mencintaiku. Kamu pikir itu tidak membuatku bingung?” “Aku masih dalam masa transisi. Seumur hidup, aku tidak pernah melibatkan perasaan dalam menjalani kedekatan dengan wanita. Bagi sebagian pria, ini pasti terdengar sangat bodoh. Namun, bagiku ini sangat aneh, Kirei. Aku merasa lain. Dua sisi hatiku terus bertarung. Kamu tahu kenapa? Karena aku adalah Dev Aydin Bahran. Aku melawannya. Akan tetapi, aku tidak sanggup.”“Jangan terlalu berlebihan, Dev.” Kirei menatap lekat pria di belakang kemudi itu. “Kita terus mempermasalahkan h
Hernan mengernyitkan kening, membaca tulisan yang tertera di kertas itu. Dia mencoba mencerna hingga beberapa kali karena takut menyalahartikan kalimat tadi. Pengusaha tampan 40 tahun tersebut membolak-balikkan kertas yang dipegangnya. Namun, dia tak menemukan catatan lain di sana. “Kenapa dia menulis seperti ini?” gumam Hernan tak mengerti.Rasa kantuk benar-benar sirna, memikirkan kalimat dalam secarik kertas, yang membuat Hernan merasa tertantang. Pikirannya melayang jauh, membayangkan sosok Kirei yang memang terlihat aneh setiap kali berhadapan dengannya. Kirei lebih sering tertunduk, bahkan langsung menghindar seakan takut. “Apakah ada sesuatu yang tidak beres dalam hubungan Tuan Dev dengan calon istrinya?” gumam Hernan penuh tanda tanya.
Dev melepaskan cengkraman dari tangan Kirei, ketika Hernan muncul. “Tuan Morales,” sapanya tenang.“Semoga kedatanganku tidak mengganggu,” ucap Hernan, diiringi senyum kalem. Dia sangat pandai menguasai diri, meskipun ada rasa curiga melihat sikap Dev terhadap Kirei beberapa saat lalu. Namun, dia tak ingin berspekulasi.“Tentu saja tidak. Aku dan Kirei sedang berbincang santai sambil bercanda. Bukankah begitu, Sayang?” Dev menoleh, menatap penuh arti kepada Kirei. Namun, dia lupa karena berbicara dalam Bahasa Spanyol. Kirei tak mengerti apa yang diucapkan.Kirei hanya tersenyum kecil. Sesaat kemudian, ekor matanya mengarah kepada Hernan, seakan memberi isyarat. Sayang sekali, pria itu tidak memahami makna lirikan yang dirinya layangkan
Dev bergegas mengejar Kirei. Namun, sebelum dia mendekat, wanita itu lebih dulu menyeberang jalan. “Kirei!” Dev tak segan berteriak kencang sehingga menjadi perhatian banyak orang. Dia memaksa menyeberang, meskipun lalu lintas cukup ramai. “Kirei!” Sekali lagi, Dev memanggil dengan kencang. Namun, Kirei terus berlari di antara orang-orang yang berlalu-lalang di trotoar. Mengetahui Dev mengejarnya, Kirei bergegas masuk ke pusat perbelanjaan. Dia mencari toilet, lalu menanggalkan midi dress yang dipakai. Rupanya, di dalam dress cantik itu masih ada baju lain. Kirei mengenakan T-shirt press body, yang dipadukan legging sebatas betis. Dia melepas ikatan rambut, membiarkannya tergerai bebas. Setelah merasa siap, barulah keluar dari toilet dan berbaur dengan pengunjung lain, tetapi tak langsung keluar dari pusat perbelanjaan itu. Kirei takut Dev terus mengejarnya. Wanita muda tersebut melihat sekeliling, seakan tengah mencari sesuatu. Kirei terus berjalan hingga tiba di pusat informasi
“Ka-Kanada?” ulang Kirei. Hernan mengangguk. “Aku menetap di sana. Jika kau mau, aku akan membantumu untuk segala urusan keimigrasian.”“Ta-tapi ….” Kirei terlihat ragu. “Bukankah Anda tidak ingin ….”“Aku sudah telanjur masuk, Kirei,” ucap Hernan tenang. “Apa pun masalahmu dengan Tuan Dev, aku tidak akan mengulik terlalu dalam. Namun, karena kau meminta bantuanku, maka aku akan melakukan semaksimal mungkin.”Kirei menatap tak percaya. Keputusannya tidak keliru dengan meminta bantuan kepada Hernan, meskipun belum mengetahui secara jelas siapa dan seperti apa pria itu. Untuk saat ini, setidaknya dia tenang karena bisa terlepas dari Dev.“Pertimbangkan saja dulu. Jika kau tetap ingin kembali ke Indonesia, aku tidak akan melarangmu. Namun, pikirkan juga segala konsekuensi yang mungkin terjadi karena Dev pasti akan mencarimu ke sana.”Kirei terdiam memikirkan ucapan Hernan. Apa yang pria itu katakan memang sangat masuk akal. “Kuliahku terbengkalai. Padahal, hanya tinggal sebentar lagi,
“Aku sudah mengerahkan anak buah kita untuk menyisir seluruh kota. Namun, mereka tidak menemukan calon istri Anda, Tuan,” lapor Luis, pada keesokan harinya.Dev yang duduk di kursi kebesarannya sambil terpejam, langsung membuka mata. Dia menatap tajam Luis. Meski tanpa mengatakan apa-apa, tetapi kemarahan tergambar jelas di sana.Luis jadi tegang. Dia tahu betul seperti apa Dev, ketika dalam puncak amarah. “Kami akan memeriksa sekali lagi, TUan. Dengan lebih teliti,” ucapnya, memberikan penekanan pada kalimat kedua.Namun, Dev tetap tak menanggapi. Dia justru kembali memejamkan mata.“Permisi, Tuan,” pamit Luis, seraya berbalik menuju pintu.Sepeninggal Luis, Dev kem
Kirei menoleh, menatap dengan sorot tak dapat diartikan. Namun, dia tak tahu harus berkata apa untuk menanggapi ucapan Dev. Akhirnya, dia lebih memilih diam, lalu memalingkan muka.Beberapa saat kemudian, mobil yang Dev dan Kirei tumpangi sudah tiba di halaman parkir belakang rumah perkebunan milik Maitea. Kedatangan mereka disambut senyum hangat ibunda Dev tersebut.Bahasa tubuh Maitea masih terlihat sama. Dia tidak menunjukkan kemarahan atau semacamnya, meskipun Kirei sudah melakukan kesalahan dengan melarikan dari sang putra. Entah kesalahan atau bukan yang Kirei lakukan. Namun, sepertinya Maitea berusaha memahami situasi yang dihadapi wanita muda itu.“Apa kabar, Nak? Selamat datang kembali di rumah ini,” sambut Maitea hangat dan penuh kasih. Dipeluk serta diciumnya kening Kirei, bagai seorang ibu te
Dev mengepalkan tangan mendengar ucapan Kirei. Tanpa banyak bicara, dia berlalu keluar kamar. Dev mengunci pintu, agar Kirei tidak bisa melarikan diri.Dengan langkah gagah penuh percaya diri, dia menuju kamar Luis.“Ada yang bisa kubantu, Tuan?” tanya Luis.Dev tidak segera menjawab. Dia menatap sang ajudan, dengan sorot tajam penuh makna. Namun, hanya lewat tatapan seperti itu, Luis sudah mengetahui apa yang akan Dev katakan.“Owen Wyatt,” ucap Dev dingin.Luis mengangguk. “Siap, Tuan.”“Ingat. Jangan meninggalkan jejak sedikit pun.”
Kirei terbelalak lebar, lalu mundur. Namun, Owen langsung pindah ke belakang sehingga dia tak bisa ke mana-mana. “Owen … kau ….” Suara Kirei begitu lirih. Bibirnya pun bergetar menahan kemarahan yang bisa dilampiaskan.“Luis akan memberikan bayaranmu,” ucap seseorang, yang tak lain adalah Dev. Pria tampan berkemeja putih itu tersenyum kalem, dengan sorot tak dapat diartikan yang terus tertuju kepada Kirei.“Terima kasih, Tuan Dev,” sahut Owen tanpa beban.“Ayo, pulang,” ajak Dev, seraya maju ke hadapan Kirei yang menatap ketakutan. “Kita akan kembali ke Meksiko.”Kirei menggeleng kencang, menolak keras ajakan Dev. Namun, dia tidak bisa melarikan diri, berhubung Owen menahannya dari bela
“New York?” Kirei menatap tajam Owen yang langsung mengangguk. “Kenapa? Kenapa kau ingin membawaku ke sana?” tanya Kirei penuh selidik.“Bukankah kau tidak ingin kembali pada Dev Aydin? Pria itu ada di kota ini. Jika kau juga masih di sini, bukan tak mungkin dia akan menemukanmu dalam waktu dekat,” jelas Owen.Namun, Kirei langsung menggeleng kencang. “Tidak!” tolaknya tegas, seraya berdiri dan menjauh dari Owen. “Aku tidak akan mengulangi kebodohan yang sama, dengan langsung percaya pada pria yang belum kukenal baik.”“Apa yang salah dariku? Aku tidak punya niat buruk padamu. Aku justru ….” Owen yang sudah beranjak dari duduk, berjalan ke hadapan Kirei. “Kau sangat menarik,” ucapnya, seraya menyentuh pipi wanita itu.“Jangan merayuku!” Kirei menepiskan kasar tangan Owen dari wajahnya. “Aku tidak mengenalmu dan tak tahu apa yang kau inginkan.”“Jika aku punya niat buruk, aku pasti sudah memberitahukan keberadaanmu sejak awal kepada Dev Aydin. Aku juga tidak akan mengakui telah ditugas
Kirei tersenyum lebar, diiringi gelengan tak percaya. “Kupikir, kau tidak selucu ini, Tuan Wyatt.”“Aku serius.”Perlahan, senyuman Kirei memudar. Raut wajahnya berubah aneh.“Kenapa?”“Seharusnya, aku yang bertanya kenapa.”Owen tidak menjawab. Dia berbalik, menghadapkan tubuh sepenuhnya kepada Kirei. Pria tampan berambut cokelat gelap itu makin mendekat. “Anggap saja sebagai salam pertemuan dan perpisahan.”“Maksudmu?” Kirei menatap tak mengerti.“Aku tak tahu apakah kita akan bertemu lagi atau tidak. Kau wanita yang sangat menarik, Helena.&rdqu
Kirei duduk di hadapan Owen, yang menatapnya dengan sorot tak dapat diartikan. “Sejak kapan kau ada di sini?” “Aku baru masuk.” “Aku tidak percaya.” Kirei menatap ragu.“Sungguh menyedihkan jadi Owen Wyatt. Kenapa sulit sekali mendapat kepercayaan dari orang lain?” Owen menggeleng tak mengerti, lalu berdecak pelan. “Ya, ampun. Apakah kata-kataku telah menyinggung perasaanmu?” Kirei menatap tak enak. “Aku tidak bermaksud begitu, mengingat semalam kau ….” Kirei tak melanjutkan kalimatnya.Owen justru tersenyum kalem menanggapi ekspresi tak enak yang Kirei tunjukkan. “Aku hanya sedang membutuhkan teman bicara,” ucapnya. “Kau pikir, aku adalah orang yang tepat untuk dijadikan teman bicara?”Owen kembali tersenyum kalem. “Ayo. Temani aku jalan-jalan. Anggap saja sebagai balas budi atas pertolonganku kemarin malam,” ujarnya enteng. Kirei mengembuskan napas pelan bernada keluhan. Wanita muda berkulit eksotis itu menatap aneh.“Ayolah, Nona.” Owen beranjak dari duduk, seakan tak menerima
Kirei tak langsung menyetujui ajakan Owen. Dia terpaku menatap pria tampan bermata biru itu. Kali ini, dirinya harus lebih berhati-hati. Jangan sampai kejadian seperti terhadap Hernan terulang kembali.“Aku bisa pulang sendiri,” tolak Kirei halus.“Kenapa?” Owen tersenyum kalem. “Jangan khawatir. Aku bukan penjahat yang akan menculikmu,” candanya, meskipun terdengar tidak lucu.Namun, Kirei tetap menanggapi dengan senyuman. Ucapan Owen cukup menghibur, walau tak tahu apakah itu murni candaan atau bukan.Owen melangkah makin dekat ke hadapan Kirei. “Aku tahu siapa kau sebenarnya,” ucap pria itu pelan dan dalam.“Maksudmu?” Kirei menautkan
“Apa maksudmu, Tuan?” Kirei menatap tak mengerti.“Kami akan memberikan uang tips sesuai yang kau inginkan. Bagaimana?” Si pria tersenyum culas. “Kau tidak akan terlalu kewalahan melayani kami bertiga secara bersamaan ____”“Maaf. Aku tidak bisa,” tolak Kirei segera. Dia langsung berbalik, tak ingin meladeni para pria gila yang sedang berahi.“Hey, Sayang. Tunggu sebentar.” Pria itu meraih tangan Kirei, menahannya agar tidak pergi.Kirei yang merasa terancam, langsung berbalik. Tanpa segan, dia memukulkan nampan stainless yang dipegangnya ke kepala si pria hingga melepaskan cengkraman dan mundur beberapa langkah.Melihat temannya diperlakukan
“Hai, Kawan. Apa kabar?” sapa Luis, seraya menyalami Owen.“Seperti yang kau lihat,” jawab Owen kalem, kemudian mengalihkan perhatian kepada Dev.“Ini Tuan Dev Aydin,” ucap Luis memperkenalkan.“Apa kabar, Tuan Dev,” sapa Owen, seraya mengulurkan tangan mengajak bersalaman.“Baik,” balas Dev datar. “Langsung saja ke inti dari pertemuan ini,” ucapnya tanpa basa-basi.Owen mempersilakan duduk, lalu memanggil pramusaji untuk memesan minuman. “Jadi, bagaimana? Apa yang bisa kubantu?” tanyanya.Dev tidak langsung menjawab. Dia mengeluarkan selembar foto dari dalam saku jake