"Ssstt ... kemana perginya mas Alsen?" ujar Kiandra saat baru saja bangun dari tidurnya. Wanita itu menguap lalu menatap sekitarnya dan menyadari kalau dirinya sudah kesiangan. "Mas Alsen sudah berangkat kerja, kenapa tidak membangunkan Aku?"Wanita itu buru-buru bangkit dan bersiap, namun saat mengenakan pakaian, Kiandra tiba-tiba terdiam. Menatap pantulan dirinya di kaca dan mendesah kasar. "Kok cepat bangat udah sebesar ini?" ujar Kiandra tersadar dengan ukuran perutnya yang tak biasa dan sedikit syok dengan hal itu. Kembali mendesah kasar, Kiandra yang masih memakai kimono handuk langsung membuang pakaian yang akan dipakainya ke atas tempat tidur. Ternyata pakaian itu sudah tidak muat. "Gimana mau nyusul mas Alsen kalo gini?"Untuk sesaat Kiandra cuma bisa diam dan duduk di atas tempat tidur. Wanita itu sedikit stress karena merasa semua pakaiannya sepertinya sama dengan yang barusan dilemparnya. "Nggak, Aku nggak boleh pasrah begini. Bisa saja semalaman cuma siasat mas Alsen s
"Berani sekali menyiramku dengan air, apa maksudmu melakukan itu?!" bentak Vano seperginya Veronica."Hah?! Kamu masih bisa ngomong begitu setelah mengurungku di kamar?!" sarkas Vela sambil kemudian melipat tangannya di depan dada."Aku melakukannya demi kebaikanmu. Supaya Kau tidak kabur da berbuat aneh-aneh di luar sana!" geram Vano mengungkapkan maksudnya."Kebaikan apanya? Kebaikan supaya Aku tidak bebas melihatmu berselingkuh?!" sarkas Vela dengan tajam. "Heii, tidak usah khawatir, Aku tidak perduli dengan perselingkuhanmu. Lakukan saja semaumu, dimanapun, jangan cuma di rumah ini, sekalian aja di kamar, tapi sebelum itu ceraikan Aku. Aku tidak sudi mempunyai suami gigol*!!""Apa maksudmu?" geram Vano langsung menarik Vela dan mencengkram rahangnya."Tidak usah sok lugu begitu, Pak Vano. Anda tahu sendiri apa artinya gi*olo. Pelac*r laki-laki ... huhhh, celup sana-sini bukankah itu itu namanya?" jawab Vela membuat Vano murka."Kau memang wanita paling gila yang pernah Aku temui!"
"Kamu cobain yang ini dulu, Yang ... kayaknya cocok sama Kamu," ujar Alsen membuat Kiandra bukannya menurut malah menjadi bengong. Menyadari hal itu, Alsen sedikit mengelus pipinya kemudian mengusap bahunya. "Kiandra!""Ah, iya. Baik, Mas," jawab Kiandra, tapi bukannya mengambil pakaian yang Alsen pilihkan, wanita itu justru lanjut memilih. Membuat Alsen mengerutkan dahi. "Kamu nggak mau coba dulu yang ini?" ujar Alsen sekali lagi, dan akhirnya membuat Kiandra mengambil pilihan suaminya. "Kamu mikirin apa sih, sampai tidak fokus begitu?" tanya Alsen penasaran. "Mikirin Kamu," jawab Kiandra jujur karena dia tahu Alsen pasti tidak akan percaya. "Yang benar, Ki ....""Udah bener banget itu, Mas. Aneh aja Kamu suka panggil Aku 'sayang' kayak benaran sayang aja?!" ceplos Kiandra apa adanya. Alsen langsung mengusap tengkuknya, kemudian menarik kembali Kiandra yang hampir masuk ke ruang ganti, tapi sekarang kembali berdiri tepat dihadapan suaminya. "Aku memang sayang sama Kamu, dan Aku
"Apa yang terjadi Vela, kenapa Vano sampai harus masuk rumah sakit?" tanya Herman dengan khawatir. Ternyata setelah cukup lama bertahan, Vano kehilangan kesadarannya. Mau tak mau Vela yang panik dan tanpa berpikir dua kali membawa suaminya ke rumah sakit. Barulah setelahnya Vela mengabari mertuanya. "Mas Vano habis jatuh, Dad ...."Hendra langsung menatap menatap menantunya dengan serius. "Jatuh dari mana Vel? Kamu bicara jangan sepotong-sepotong."Vela menghela nafasnya dengan berat, dia tak ingin berbohong, tapi bagaimana caranya jujur, Vela sendiri takut diomeli oleh ayah mertuanya, sebab bagaimana pun juga Vano jatuh itu karena ingin mengejarnya. "Jawab Vela, kenapa Kamu malah diam saja?!" tuntut Hendra dengan penasaran, tapi selain itu dia juga sangat khawatir.Dokter masih belum selesai menangani Vano, dan melihat wajah Vela, hal itu membuat Hendra sangat gelisah. "An--anu Dad ...." Vela pun menceritakan segalanya, dan tak ada yang ditutupi. Meskipun dia takut, tapi dia suda
Beberapa hari kemudian, Adam akhirnya pindah dari rumah mereka, dan hal itu tentu saja hal itu membahagiakan Kiandra. Beban pikirannya sedikit berkurang dan membuatnya lega."Akhirnya bedebah berkedok sahabatmu itu pergi! Bisa juga bernafas dan menghirup udara segar. Huhh, lega banget tahu nggak, Mas. Kayak beban hidup udah keangkat," ungkap Kiandra sambil menatap berlalunya mobil yang Adam kendarai dari pandangannya. Alsen geleng-geleng kepala, tersenyum geli mendengar ucapan istrinya. "Ada-ada aja Kamu, Yang ... udah, yuk Kita masuk!"Alsen merangkul Kiandra dan membawanya ke dalam rumah. Keduanya kemudian bersantai di ruang keluarga yang masih terasa sepi karena hanya mereka berdua yang ada di dalam ruangan itu. "Kamu tahu Ki, Aku sudah tidak sabar menantikan kehadiran anak kem--""Tapi kenapa mbak Lana ikut sama Adam teman Kamu itu Mas. Aneh banget. Baru beberapa hari tinggal di rumah ini, masa iya mereka udah saling suka dan udah mau nikah saja? Mana mau dijadikan istri kedua,
Melvin terlihat buruk dengan mata yang memerah menahan air mata. Meski tidak menangis, laki-laki terlihat payah dengan penampilannya yang sudah acak. Tak seperti biasanya, setelan formal dengan jas yang membuatnya terlihat berwibawa, justru kini membuatnya seperti banjing*n. "Maaf, Tuan. Anda sudah mabuk," ujar bartender yang sejak tadi memberinya minuman beralkohol, kali ini menentukan sikap. "Tidak, berikan padaku lagi!!" teriak Melvin membentak. Dia memang sudah biasa keluar masuk klub malam, tapi biasanya tinggal di ruang privat untuk membahas bisnis dengan kliennya, sekaligus minum. Akan tetapi, meski begitu Melvin hanya meneguk wine dengan kadar alkohol paling rendah, walaupun sesekali mencoba yang lebih tinggi. Namun, sekarang tidak seperti itu. Dia ke klub bukan lagi untuk menemui kliennya, melainkan untuk menenangkan diri, dan bahkan tidak berada di ruang privat. Melvin bergabung di ruangan penuh orang dan penuh kebisingan dengan lampu yang berkedap-kedip. Melvin di sana k
"Maaf, Ki ... Kamu sudah tidak marah sama Aku?" ujar Alsen mengalah. Tidak ada gunanya mendebat wanita apalagi dia hamil. Alsen sedikit sadar dan menekan egonya, sementara Kiandra malah membuang nafasnya kasar. "Maaf aja terus? Entah sampai kapan berubahnya, udah tua lagi!" dumel Kiandra kesal. Namun akhirnya wanita itupun mengangguk setuju, Alsen tersenyum melihatnya. Mengikis jarak kemudian memeluknya, sembari menghirup aroma tubuh bercampur parfum yang membuat Alsen candu. "Aku suka dengan kejutannya, meskipun sempat takut bagian pintunya tadi. Tidak masalah, Aku sebenarnya suka apapun tentang Kamu," ungkap Kiandra bicara manis. Semudah itu moodnya berubah. Yah, memang begitulah wanita. Asal pria berani mengalah, maka hatinya wanita mudah saja luluh. 'Tapi kenyataannya tidak suka hal yang berulang dan mudah bosan. Pembual.' Harusnya hal itu yang Alsen katakan, namun mana mungkin dia berani. Pria itu tak mau istrinya mengomel dan mereka kembali bertengkar. "Aku tahu itu," jaw
Hendra tersenyum lega mendengar berita Belinda ditangkap karena kasus pencucian uang, meskipun jauh di lubuk hatinya dia masih tak tega. Mengingat perempuan itu sudah menemaninya bertahun-tahun lamanya. "Dad, Aku--" "Ada apalagi Vela, apa masih tidak cukup penderitaan yang dialami putraku demi dirimu?!" sarkas Hendra begitu dia tersadar dari lamunannya. "Kepalanya harus dibalut, dan mendapat beberapa jahitan, meskipun tidak parah dan tidak sampai geger otak. Apa maumu lagi, hahh ...."Hendra tidak bermaksud melakukan itu, tapi pria itu memang sedikit tertekan karena kondisi putra satu-satunya itu. Karena Belinda, sekarang dia juga tak tahu di mana Shifa berada. Hendra segan jika harus bertanya pada Lingga, tapi di sisi lain meski bisa mencari tahu sendiri, Hendra juga tidak mau melakukannya. Dia merasa bodoh karena terlalu banyak menggunakan hatinya, padahal Shifa bukan siapa-siapa, dan bahkan adalah hinaan paling besar dalam hidupnya. "Aku cukup sabar beberapa hari ini, membiarkan