"Nak, kamu kenapa?" Lani masih berusaha membujuk."Jangan nangis terus, Nak. Kasihan Bunda, kelelahan." Alzam mengambil dan menciuminya.Namun Excel terus menangis. Suara rengekannya memenuhi seluruh rumah, menggema di dinding-dinding, membuat malam semakin panjang bagi Lani. Tubuhnya masih lelah setelah berkali-kali terbangun menyusui, sementara Alzam mondar-mandir dengan wajah tegang. dan berkali-kali menimangnya."Sayang,... kamu tidur aja duluh, biar aku yang jagain.""Gimana bisa tidur, Mas? dia menangis terus?" ucap Lani. Namun karena terlalu lelah, akhirnya dia terlelap juga saat anak itu diam sejenak di dekapan Alzam."Anak pinter. Tidur ya?"Baru juga ditidurkan, sudah kembali meraung. Dengan cekatan, Alzam yang sudah terbiasa mengganti pampers itu, menggantinya lagi."Pampersnya sudah diganti?" tanya Lani dengan mata yang masih setengah terpejam.Alzam mengangguk. "Sudah, berkali-kali malah."Lani melirik tempat sampah di sudut kamar. Plastik-plastik popok berserakan. "Kenap
Bis melaju di atas aspal yang berdebu. Tamsir menatap ke luar jendela, memperhatikan sawah-sawah yang mulai menguning. Udara hangat menampar wajahnya melalui celah jendela yang terbuka sedikit. Di sampingnya, Tami duduk dengan tenang, sesekali menarik napas dalam."Bu, kenapa tadi ikut?" tanya Tamsir, akhirnya membuka suara.Tami menoleh. "Urusan besar seperti ini harus kita hadapi bersama."Tamsir mengangguk. Sejak tadi, ia hanya sibuk dengan pikirannya sendiri. Istikharah yang dilakukan semalam tak memberi jawaban yang jelas. Tak ada mimpi aneh, tak ada petunjuk yang bisa ia tafsirkan sebagai 'ya' atau 'tidak'. Kosong."Mungkin ini sudah takdir," kata Tami pelan.Tamsir terdiam. Apakah benar ini takdirnya? Menikahi Agna bukan karena cinta, melainkan karena rasa terima kasih kepada Arya? Bagaimana jika mereka berdua tak bahagia?Perjalanan masih panjang. Bis terus berjalan, melewati perkampungan, deretan toko, dan pasar yang mulai ramai karena orang-orang bersiap menjelang buka puas
Pintu terbuka. Suasana dalam rumah mendadak tegang. Semua mata tertuju pada pria yang berdiri di ambang pintu.Arhand.Wajahnya dingin, matanya tajam, tetapi sorotnya penuh kegelisahan. Langkahnya mantap memasuki ruangan, seakan tidak peduli dengan tatapan penuh kemarahan yang menyambutnya.Hening.Suasana menegang. Tidak ada yang bergerak, seolah waktu membeku.Arya berdiri dari kursinya, tatapan tajam menusuk langsung ke arah Arhand. "Apa yang kau lakukan di sini?"Sandra yang baru saja turun dari tangga menghentikan langkahnya. Matanya membesar melihat kedatangan orang yang dicintai putrinya itu.Di sudut ruangan, Tamsir menatap pemandangan itu dengan perasaan campur aduk. Ibunya, Tami, duduk di sebelahnya, ekspresinya tenang, tetapi jelas mengamati segalanya dengan saksama.Agna berdiri di dekat meja, tubuhnya kaku. Napasnya tercekat ketika mata mereka bertemu."Aku datang untuk Agna," kata Arhand akhirnya, suaranya tegas.Arya tertawa sinis. "Setelah semua yang kau lakukan? Kau pi
Alzam membungkuk pelan, mendekat ke tempat tidur bayi di samping ranjang mereka. Excel tertidur pulas, nafasnya naik turun dengan tenang, tubuh kecilnya terselimut hangat. Alzam tersenyum lega. "Wah… anak ayah ganteng banget, ya." Suaranya berbisik, nyaris seperti doa, lalu mencium pipinya yang mulai tembem berkali-kali.Bayi itu menggeliak.Lani, yang masih duduk bersandar di bantal, segera menegur dengan suara pelan, "Mas, jangan keras-keras. Jangan diciumi begitu juga. Nanti bangun lagi, nangis lagi, kita nggak bisa tidur."Alzam menoleh, mengangkat sebelah alisnya. "Cemburu, ya?" godanya, sebelum kemudian mendekat dan merengkuh istrinya. "Kamu juga ganteng kok… eh, cantik maksudnya." Dia mengecup pipi Lani dengan gemas.Lani tertawa kecil, tapi segera meletakkan telunjuk di bibirnya. "Ssstt… serius, Mas. Aku masih trauma. Kalau dia bangun dan nangis terus lagi seperti kemarin malam, aku bisa pingsan. Aku takut dia kenapa-napa."Alzam melirik Excel yang masih diam dalam tidurnya. "
Senja berdiri di ambang pintu ruang keluarga. Cahaya lampu ruangan memantulkan siluet tubuhnya yang tinggi langsing. Sementara di dalam kamar, Lani dan Alzam saling bertukar pandang. Tatapan mereka penuh pertanyaan, seolah mencoba menebak apa yang ada di kepala anak itu.“Aku sudah bicara dengan Yangti dan Yangkung,” kata Senja tiba-tiba, suaranya tenang tetapi ada sedikit ketegangan di sana.Lani mengangkat alisnya. “Bicara soal apa?”“Mereka setuju untuk merayakan besar-besaran.”Alzam bersandar ke sofa, matanya meneliti wajah putrinya. “Maksudmu, merayakan di rumah mereka?”Senja menggeleng. “Bukan. Mereka ingin mengadakan acara dengan anak-anak yatim piatu.”Lani terdiam sejenak, mencerna ucapan itu. Raut wajahnya tidak menunjukkan ketidaksetujuan, justru sebaliknya.“Itu ide yang bagus,” katanya akhirnya. “Berbagi kebahagiaan dengan mereka yang kurang beruntung itu hal yang mulia.”Namun, alih-alih tersenyum senang, Senja malah mengalihkan pandangannya.“Kamu nggak suka?” tanya L
Rey duduk di kursi kayu depan rumahnya. Di hadapannya, halaman yang biasa terasa luas kini terasa sempit. Ia menggenggam ponselnya erat, berharap ada balasan dari Mira. Tadi malam, tidurnya tidak nyenyak. Pikirannya dipenuhi bayangan Mira yang sibuk mempersiapkan pernikahan mereka.Ia ingin melihat wajah Mira, meskipun hanya sebentar.Jari-jarinya mengetik cepat. ["Mira, aku kangen. Tolong angkat telponnya sebentar saja. Cuma sebentar."]Tapi tak ada balasan. Rey menatap layar ponselnya dengan napas berat. ["Mira, cuma lima menit saja. Aku cuma mau lihat wajahmu."]Layar ponselnya tiba-tiba bergetar. Panggilan video dari Mira. Dengan cepat, Rey menekan tombol hijau.Namun, bukan wajah Mira yang muncul, melainkan pemandangan dapur rumahnya yang sibuk. Beberapa ibu-ibu terlihat sibuk mengaduk adonan, membentuk kue, dan menata loyang ke dalam oven.Dapur terlihat penuh sesak. Meja panjang dipenuhi adonan yang masih setengah jadi, loyang bertumpuk di sudut ruangan, dan beberapa toples ku
Asraf memegang erat uang tabungannya yang sudah ia kumpulkan sejak lama. Mata bocah itu berbinar, namun raut wajahnya juga menunjukkan kegugupan. Ia menoleh ke arah ayahnya, Guntur, yang tengah menyiapkan motor di halaman rumah.“Yah, tolong antar Asraf, ya?” pintanya penuh harap.Guntur mengernyitkan dahi. “Mau ke mana sore-sore begini? Besok Lebaran, jalanan pasti macet.”Asraf tersenyum kecil, lalu menggenggam erat celengannya yang pecah tadi pagi. “Ke toko, Yah. Mau beli sesuatu.”Meskipun heran, Guntur akhirnya mengangguk. Tak lama, motor pun melaju ke arah pasar yang semakin ramai dengan lalu lalang orang mencari kebutuhan Lebaran. Jalanan penuh sesak, suara klakson dan teriakan pedagang bercampur menjadi satu. Asraf duduk diam di belakang ayahnya, matanya fokus ke depan, seakan sedang memikirkan sesuatu yang besar."Ke sana, Yah." Dia menunjukkan jarinya ke sebuah toko."Jangan langsung gini, Asraf. Dari tadi gitu kenapa? Nggak gampang cari cela buat ke toko itu.""Maaf deh, Ya
Arhand baru saja akan menaiki pesawat saat ponselnya bergetar. Dengan sedikit kesal, dia mengangkatnya."Sayang, aku pingin ikut takbir keliling," suara Agna terdengar riang di seberang sana. Tapi pinginnya sama kamu."Arhand menghela napas, melirik jam tangan. Jika dia menunda penerbangan, dia bisa terlambat untuk sampai di Makassar. Tapi, bagaimana mungkin dia menolak permintaan calon istri yang sedang hamil?"Agna, aku sudah di bandara," katanya pelan."Tapi aku ingin kamu di sini," suara Agna merajuk.Arhand menutup mata, mencoba menahan dilema yang menyerangnya. Di satu sisi, ada keluarga yang menunggunya di Makassar. Di sisi lain, Agna adalah prioritasnya. Terdengar suara lain di belakang Agna. Itu pasti Sandra, ibu Agna." Arhand, kalau bisa temani Agna dulu. Dia sedang hamil, emosinya mudah naik turun," kata Manda lembut. "Tolong ya."Arhand mengembuskan napas. Pikirannya berkecamuk, tapi akhirnya dia berkata, "Baiklah, aku ke sana."Malam takbiran di kompleks perumahan mewa
Pagi itu, setelah prosesi ijab kabul yang mengharukan, suasana di rumah Mira berubah semakin meriah. Janur kuning masih melengkung indah di depan gang, sementara dekorasi terop dengan hiasan rumbai-rumbai bunga dan lampu hias menyemarakkan halaman luas rumah Mira. Para tamu masih ramai membicarakan bagaimana Rey berhasil mengucapkan ijab kabul dalam bahasa Arab dengan lancar, membuat banyak orang kagum. Termasuk hafalan Ar rahman-nya.Pak Warno, sang MC, berdiri di samping pelaminan, memegang mikrofon dengan penuh semangat. "Bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara sekalian, saatnya kita menyaksikan prosesi adat Jawa! Nah, bagi yang belum pernah lihat, monggo disimak, jangan sampai terlewat, nanti pulang malah nanya-nanya lagi!" ucapnya dengan nada khas yang mengundang tawa.Pak Warno segera memulai acara 'kirab diirngi gending Jawa Lagon Jiwa.Prosesi adat Jawa dimulai dengan dua anak muda dan mudi yang belum menikah dengan menukar kembar mayang yang mereka bawa, rangkaian janur dengn
"Mas, ..Rey pernah membahas ini sebelumnya denganmu?" bisik Lani pada Alzam.Alzam nampak tegang dengan menggeleng sambil menatap sekeliling. Banyak teman Tukiran yang memang kebanyakan orang besar di sana. Bahkan Pak Camat juga, dan beberapa Kades yang sepertinya janjian ke sini.Tiba-tiba seorang memakai baju putih dengan sarung datang mengucap salam, dibarengi dengan empat santri yang selalu bersamanya.Alzam segera bangkit menyalami guru spritualnya itu. Namun Kyai itu menarik tangannya saat Alzam mau mencium tangannya, seperti yang sudah-sudah. Lani hanya mengatupkan kedua tangannya yang dibalas dengan senyum oleh Kyai Abduh."Alhamdulillah, Pak Kyai datang," ucap penghulu mempersilakan Kyai Abduh."Apa sudah sehat Pak Kyai, kok bisa kemari?" tanya Tukiran yang sudah menyalami Kyai dan seperti juga Alzam mau mencium tangannya."Alhajmdulillah, 'diparingi' Allah sehat. Masa orang nomer satu di Sendang Agung yang mantu, orang kecil seperti saya, nggak bisa.""Pak Kyai bisa saja."L
Pagi itu, suasana di rumah Mira begitu meriah. Janur kuning melengkung megah di depan gang, menandai ada hajatan besar. Pregolan terop berdiri kokoh, dihiasi dua pohon pisang raja yang menjulang di sisi kanan dan kiri, pertanda kesakralan acara. Di atasnya, terop model modern dengan gelembung-gelembung kecil dan lampu hias , berpadu dengan rumbai-rumbai bunga, menciptakan nuansa perayaan yang mewah.Empat penerima tamu berdiri di pintu masuk, anggun dalam kebaya beludru merah maroon. Senyum mereka ramah menyambut para tamu yang datang dengan wajah penuh antusiasme. “Sugeng rawuh,” sapa salah satu dari mereka, membungkukkan badan sedikit sebagai tanda penghormatan.Di dalam, gending Jawa mengalun lembut, dipimpin MC Pak Warno yang duduk bersila di atas tikar pandan. Suaranya mendayu-dayu, menyanyikan tembang-tembang penuh makna. “Lir-ilir, lir-ilir...”Bu Gita, pemilik WO, setelah berbincang dengan Pak Warno, berkeliling mengontrol segala sesuatunya agar terlaksana dengan baik.Di hala
Agak siang setelah perginya para tetangga setelah membenahi terop, rumah Mira dipenuhi kesibukan lain sebagai rangkaianaprosesi Jawa berlangsung. Tukiran memasang bleketepe di pregolan rumah di dampingi Marni. Mereka sudah mengenakan pakaian adat Jawa lengkap. Marni memakai kebaya dan sanggul Jawa, sementara Tukiran memakai beskap tangkepan warna krem. Anyaman daun kelapa itu dipercaya sebagai simbol penyucian dan keberkahan bagi calon pengantin. Tukiran, dengan tangan cekatan, memastikan setiap helai daun tersusun rapi.Sementara itu, di dapur, para ibu-ibu sibuk menyiapkan berbagai keperluan untuk acara siraman. Suara gemericik air, dentingan alat masak, dan canda tawa bersahutan, menciptakan suasana hangat.Di serambi rumah, Mira duduk dengan raut wajah yang sedikit tegang. Hari ini adalah hari siramannya, salah satu prosesi penting dalam adat pernikahan Jawa. Ia mengenakan kain batik dengan selendang hijau yang disampirkan di bahu, juga rangkaian melati untuk menutup dada atasn
Sehari sebelum pernikahan Mira, rumahnya sudah penuh dengan kesibukan sejak subuh. Para tetangga lelaki tampak sibuk memasang terop lanjutan di halaman depan, sementara pihak WO sudah datang lebih awal dan menyelesaikan terop tujuh plongnya, lalu memastikan dekorasi pernikahan untuk besok berjalan lancar.Terop warna abu-abu silver dengan hiasan rumbai sudah terpasang dengan baik. Sementara dekorasi gebyok Jawa klasik diminta keluarga Mira untuk menyesuaikan tema yang mereka usung.Bu Gita, sang Wo sudah mengingatkan kenapa harus pakai dekorasi itu, kenapa tidak yang minimalis seperti yang kini lagi trendnya. Namun di tempat Rey yang sudah memakai dekorasi model itu, membuat Marni mengusulkan ide itu, mengikuti rias manten Jawa Paes Ageng yang telah lama diinginkan Mira dalam pernikahannya. Dan memakai dekorasi Jawa itu, hanya dia ingin bunganya harus hidup semua. Di dapur, suasana tak kalah riuh. Ibu-ibu dan remaja putri berkumpul, ada yang mengiris bumbu, mengaduk santan, dan mem
Pagi, fajar mulai menyingsing, dan di Sendang Agung suasana begitu berbeda. Orang-orang telah bersiap untuk melaksanakan Salat Idul Fitri. Seperti tahun-tahun sebelumnya, penyelengggara sholat iedul fitri ada di dua tempat-masjid dan lapangan. Meski begitu, tidak ada perpecahan di antara mereka. Semua saling menghormati pilihan masing-masing.Di rumah Wagimin dan Towirah, kegembiraan terpancar dari wajah Alzam dan Lani. Lani sibuk memakaikan baju baru untuk bayi mereka yang masih merah, sementara Alzam menyiapkan sarung dan pecinya untuk peri sholat Ied. Tak lupa, Senja yang kini berusia sebelas tahun berdiri di depan cermin, memastikan kerudungnya rapi. Hari ini adalah hari yang bersejarah dalam hidupnya, 31 Maret."Kamu sendiri di rumah, hati-hati ya," pesan Alzam sebeum berangkat pada Lani yang memang belum bisa sholat karena masih dalam nifas.Setelah salat, mereka kembali ke rumah untuk sungkem. Towirah duduk di kursi, menatap penuh kasih pada anak-anak dan cucunya. Alzam lebih d
Arhand baru saja akan menaiki pesawat saat ponselnya bergetar. Dengan sedikit kesal, dia mengangkatnya."Sayang, aku pingin ikut takbir keliling," suara Agna terdengar riang di seberang sana. Tapi pinginnya sama kamu."Arhand menghela napas, melirik jam tangan. Jika dia menunda penerbangan, dia bisa terlambat untuk sampai di Makassar. Tapi, bagaimana mungkin dia menolak permintaan calon istri yang sedang hamil?"Agna, aku sudah di bandara," katanya pelan."Tapi aku ingin kamu di sini," suara Agna merajuk.Arhand menutup mata, mencoba menahan dilema yang menyerangnya. Di satu sisi, ada keluarga yang menunggunya di Makassar. Di sisi lain, Agna adalah prioritasnya. Terdengar suara lain di belakang Agna. Itu pasti Sandra, ibu Agna." Arhand, kalau bisa temani Agna dulu. Dia sedang hamil, emosinya mudah naik turun," kata Manda lembut. "Tolong ya."Arhand mengembuskan napas. Pikirannya berkecamuk, tapi akhirnya dia berkata, "Baiklah, aku ke sana."Malam takbiran di kompleks perumahan mewa
Asraf memegang erat uang tabungannya yang sudah ia kumpulkan sejak lama. Mata bocah itu berbinar, namun raut wajahnya juga menunjukkan kegugupan. Ia menoleh ke arah ayahnya, Guntur, yang tengah menyiapkan motor di halaman rumah.“Yah, tolong antar Asraf, ya?” pintanya penuh harap.Guntur mengernyitkan dahi. “Mau ke mana sore-sore begini? Besok Lebaran, jalanan pasti macet.”Asraf tersenyum kecil, lalu menggenggam erat celengannya yang pecah tadi pagi. “Ke toko, Yah. Mau beli sesuatu.”Meskipun heran, Guntur akhirnya mengangguk. Tak lama, motor pun melaju ke arah pasar yang semakin ramai dengan lalu lalang orang mencari kebutuhan Lebaran. Jalanan penuh sesak, suara klakson dan teriakan pedagang bercampur menjadi satu. Asraf duduk diam di belakang ayahnya, matanya fokus ke depan, seakan sedang memikirkan sesuatu yang besar."Ke sana, Yah." Dia menunjukkan jarinya ke sebuah toko."Jangan langsung gini, Asraf. Dari tadi gitu kenapa? Nggak gampang cari cela buat ke toko itu.""Maaf deh, Ya
Rey duduk di kursi kayu depan rumahnya. Di hadapannya, halaman yang biasa terasa luas kini terasa sempit. Ia menggenggam ponselnya erat, berharap ada balasan dari Mira. Tadi malam, tidurnya tidak nyenyak. Pikirannya dipenuhi bayangan Mira yang sibuk mempersiapkan pernikahan mereka.Ia ingin melihat wajah Mira, meskipun hanya sebentar.Jari-jarinya mengetik cepat. ["Mira, aku kangen. Tolong angkat telponnya sebentar saja. Cuma sebentar."]Tapi tak ada balasan. Rey menatap layar ponselnya dengan napas berat. ["Mira, cuma lima menit saja. Aku cuma mau lihat wajahmu."]Layar ponselnya tiba-tiba bergetar. Panggilan video dari Mira. Dengan cepat, Rey menekan tombol hijau.Namun, bukan wajah Mira yang muncul, melainkan pemandangan dapur rumahnya yang sibuk. Beberapa ibu-ibu terlihat sibuk mengaduk adonan, membentuk kue, dan menata loyang ke dalam oven.Dapur terlihat penuh sesak. Meja panjang dipenuhi adonan yang masih setengah jadi, loyang bertumpuk di sudut ruangan, dan beberapa toples ku