Lea kembali dibuat tersengal. Setelah berhasil kabur dari Zico dan Abian, berdalih ada urusan dengan Irene. Di sinilah Lea berada, celingak celinguk, toleh kiri dan kanan, tapi dia tidak dapati apa yang dia cari."Cepat sekali dia menghilang," gerutunya. Lea yakin melihat sosok Nika barusan, atau seseorang yang mirip dirinya. Lea merengut kesal, dia kehilangan jejak. Suasana di tempat itu tidak terlalu ramai juga tidak sepi. Tapi Lea tahu kalau dia cari sudah tidak ada di sana.Agaknya selain Agra, Lea juga diberi kesempatan untuk melihat "penampakan" walau hanya sekilas. Makin besarlah rasa ingin tahu perempuan itu. Maka tak berapa lama Lea menghubungi seseorang."Di mana?"Yang ditanya melihat tiga kali ke layar ponselnya. Tidak percaya Lea mencarinya. "Di kantor, mau apa?""Mau bikin perhitungan sama kamu. Jangan pergi, tunggu aku datang."Panggilan ditutup meninggalkan Agra tercenung memandangi layar ponsel yang perlahan meredup lantas kehilangan daya."Dia mau ngapain nyari aku?
"Kasih tahu gak?!" "Astaga!"Agra berjingkat, sampai kursinya mundur ke belakang saat Lea menggebrak meja. Pria itu lekas disadarkan kalau Lea tak ingin main-main. Wanita itu minta kejelasan darinya."Agra! Kalau kamu tidak kasih tahu aku akan cari tahu sendiri."Lea berdiri, hampir berjalan ke luar ruangan ketika Agra berujar cepat. "Aku tidak bisa cerita sama kamu!"Jujur adalah jalan ninja yang Agra pilih, jemarinya baru mengirim pesan pada Zio pasal Lea yang ada di tempatnya. Dia tidak mau disalahkan lagi, dia tak ingin ikut campur masalah ini.Biar Zio yang memutuskan. Agra paham benar kalau pria itu mungkin tak akan bisa memaafkan atas semua yang telah terjadi. Zio masih memendam amarah bahkan mungkin dendam padanya. Tapi Agra tak ingin terlibat dalam salah apapun dengan Lea.Beruntungnya saat Agra sibuk menahan Lea, Zio segera datang. Hampir lima belas menit Agra berdebat dengan Lea. Perempuan itu terus mendesak untuk bercerita sedang Agra pilih menjawab tidak bisa atau tidak
"Mbak Nika masih hidup. Mbak Nika masih hidup. Mbak Nika masih hidup."Kalimat tadi bagai mantra yang terus terapal di kepala Lea. Wanita itu sejak tadi tidak bisa memejamkan mata. Penjelasan soal bagaimana Nika masih hidup. Ke mana wanita itu pergi dua tahun ini juga bagaimana Nika mampu melihat lagi. Semua dipaparkan Zio dengan sangat rinci. "Dia sembuh dari kanker yang dia derita. Dia bisa melihat kembali. Ini gila!" Fakta bahwa kornea yang dia gunakan untuk melihat dunia adalah milik Nika, membuat sudut hati terdalam Lea terusik. Akan sangat sulit ditangani ketika semua menyangkut hutang budi. Dan Lea merasakannya."Oh aku harus bagaimana?" Lea berguling ke kiri dan ke kanan tidak jelas. Dia sudah naik ke ranjang sejak tadi, tapi sama sekali tidak bisa tidur.Zio sendiri masuk ke ruang kerja, terus terang dia mengatakan akan berdiskusi dengan Revo dan Han."Ini bukan cuma soal Zio, tapi juga menyangkut Arch." Lea tersadar akan sesuatu yang lebih besar. Bagaimana reaksi Arch an
Sosok di depan mereka membuka masker, membuat dua pria tersebut kompak menutup mulut. Tidak percaya pada apa yang mereka lihat. Nika, perempuan itu berdiri di hadapan Zio dan Han dengan senyum terkembang."Surprise! Aku kembali!"Senyum masih terlukis di bibir Nika. Dua tangannya terentang. Entah apa yang dia inginkan. Mungkin dia mengharap Zio dan Han memeluknya?Tentu saja hal itu tidak akan terjadi. Zio dan Han justru mematung di tempat mereka berdiri. Zio pikir dirinya siap berhadapan dengan Nika yang dia gambarkan seperti bangkit dari kubur.Namun faktanya dia tetap syok, sampai kehilangan kata saat figur Nika nyata berdiri di depannya."Sayang, kamu gak pengen peluk aku? Aku rindu sama kamu?"Zio terhenyak lantas menyembunyikan diri di balik punggung Han, yang serta merta menunjukkan protesnya.Ada kecewa yang menghampiri Nika kala Zio pilih menghindarinya. Tapi senyum Nika kembali wujud ketika dugaan Zio masih terkejut dengan kedatangannya menenangkan hatinya."Aku sengaja data
Rasa terkejut Nika makin bertambah. "Apa maksudmu?" Perempuan itu bertanya dengan dahi berkerut dalam.Gawat! Bagaimana Zio bisa tahu kalau Arch anak kandungnya? Nika merasa banyak hal tidak dia ketahui sejak dia kembali. Banyak hal rupanya telah terjadi selama dia pergi."Jangan berlagak bodoh. Aku, kami semua sudah tahu soal Arch dan Miguel. Jadi, kamu dilarang menemui Arch. Walau dia putra kandungmu, dia tidak pantas punya mama sepertimu."Kali ini Zio benar-benar pergi, meninggalkan Nika yang tak bisa bergerak di tempatnya berdiri. Terlalu syok dengan semua fakta yang terbuka hari ini."Zio tahu Miguel, bagaimana bisa?" Gumam Nika.Hatinya hancur saat angannya telah melambung tinggi akan merangkai mimpi indah bersama Zio. Namun pria yang sepenuhnya sudah menghilang dari pandangan Nika, seolah tidak mau memberi kesempatan padanya.Zio tampak membencinya. Nika bisa melihatnya. Zio yang sekarang berbeda dengan yang dulu. Pria itu tidak mencintainya lagi. "Semua ini pasti gara-gara L
"Ini tidak benar, Rel."Erna berjalan mondar mandir di depan Karel yang sedang memijat pelipisnya. Pusing segera mendera lelaki berdarah oriental tersebut."Yang bilang benar siapa. Seharusnya aku tidak menyetujui permintaannya dua tahun lalu. Aku bodoh, termakan bujukannya. Sekarang begini keadaannya. Dia harus pulang, Na." "Aku juga tahu, Rel. Semua bukan salahmu sendiri. Aku juga salah. Andai aku tidak percaya padanya begitu saja.""Dia bilang ingin lepas dari Zio, dia ingin sembuh. Setelah itu dia mau mulai hidup baru di sana. Siapa sangka dia berubah pikiran. Ini gila, Rel. Bagaimana kita akan mengatasinya sekarang?"Dua orang itu mendorong kasar napas masing-masing, seraya memandang pintu kamar Nika yang tertutup rapat. Wanita itu keras kepala, egois. "Apa aku harus menemui Zio? Memberitahu semua?""Kariermu bisa hancur, Rel." Erna memperingatkan.Karel tampak murung, "Aku sudah mengkhianati sumpah dokterku sejak menuruti keinginan Nika dengan memalsukan kematiannya. Aku bukan
"Hal yang bukan miliknya." Ucapan Zio terus terngiang di telinga Lea. Perempuan tersebut resah tak bisa tenang selama sisa hari, sejak Zio memberitahu Nika muncul terang-terangan di hadapannya. "Apa yang dia maksud keluarga ini?" Lea kembali bergumam, di tengah tumpukan pekerjaan yang memenuhi meja. Lea terpaksa memecah fokus. Dia sungguh tak mampu mengenyahkan pikiran buruk di otaknya sejak semalam. Istri Zio menggeram kesal, dia sama sekali tak bisa konsentrasi pada pekerjaannya. Perempuan itu melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Arch sedang istirahat makan siang. Apa dia ke sana saja. Lea perlu pengalihan, bertemu Arch bisa jadi moodbooster-nya. Lea pamit pada Irene yang mengatakan memang tidak ada meeting dengan klien, jadi mereka bisa keluar sebentar. Niat hati ingin langsung ke sekolah Arch, tapi di lobby Dreamcatcher Lea tanpa sengaja bertemu Agra. Agaknya pria itu ingin mengajak Irene makan di luar. Dua orang itu sesaat terpaku di tempat berdiri masing-masing.
Miguel membelalakkan mata, melihat Arch ketakutan. Dua lengannya terbuka, menyambut sang putra yang masuk ke pelukannya. Anak itu terisak di pundak Miguel dengan bibir terus berujar, "Dia bukan mama Lea! Dia bukan mama Lea."Perhatian Sari dan Miguel seketika mengarah ke seorang wanita yang berdiri di tempatnya. Sama terkejutnya dengan Miguel."Miguel!"Nika!"Sari menutup mulut dengan netra melebar mendengar gumaman lirih Miguel. Lirih tapi Sari yang berdiri tepat di samping suami Melani bisa mendengarnya dengan jelas."Nyonya Nika." Sari tanpa sadar ikut menyebut."Bawa Arch pergi, Om. Arch gak mau sama dia," jerit Arch histeris. Sari mundur ketika Nika mendekat, beda dengan Miguel yang memicing memindai sosok Nika."Sayang, ini Mama," bujuk Nika.Arch menoleh, memanahkan tatapan penuh amarah juga ... benci. Nika seketika tak mampu berkata-kata."Kamu bukan Mama Arch. Mama Arch Mama Lea! Pergi!"Sakit hati Nika mendengarnya. Inikah akibat dari perbuatannya, meninggalkan sang putra
Setelah semalam merenung, menimang juga mempertimbangkan semua hal dari segala sisi. Pada akhirnya Agra memutuskan untuk menyerahkan permasalahan sang adik pada yang bersangkutan.Agra tidak ingin mendoktrin, apalagi memaksa Raisa soal apapun. Pun dengan Zico, Agra secara khusus minta bertemu. Dan Zico dengan segera menyanggupi.Dengan membawa Livi, Agra kembali dibuat yakin dengan keputusannya. Dia pasti Zico bisa lebih baik darinya. "Aku izinkan kau berjuang. Tapi dengan satu catatan. Jika dia menolak kau harus enyah dari hadapannya juga Livi."Zico menelan ludah. Ditolak Raisa dia bisa terima. Tapi berjauhan dengan Livi, Zico tidak akan sanggup. Tidak, setelah dia menjalani dua puluh empat jam full bersama sang putri. Zico tidak akan bisa berpisah dengan Livi. Tidak, sesudah dia menyadari betapa berharganya Livi baginya.Maka siang itu dengan harapan setinggi langit, Zico nekat melamar Raisa. Dia yakin lamarannya akan diterima."Sa, mari menikah."Suara Zio membuat Raisa kembali
"Apapa," sebut Livi dengan bibir bertekuk menahan tangis."Ndak apa-apa, Sayang. Apapa nakal jadi pantas dipukul. Tapi kamu gak boleh asal pukul orang."Livi melayangkan tatapan tajam penuh permusuhan pada Agra."He, bukan Om yang salah. Dia yang jahat."Livi menangis dengan tangan sibuk melempar apa saja yang ada di meja. Agra maju tidak terima dengan aksi sang ponakan. Sementara Zico dengan cepat mendekap Livi yang bibir mungilnya terus menyebut om jahat."Kau! Kau jangan mimpi bisa dapatin Raisa," ancam Agra."Agra, berhenti gak!" Pria itu kicep begitu sang istri bicara. Irene mendekati Raisa yang cuma duduk sambil memijat pelipisnya yang berdenyut. Dalam sekejap, Livi sudah jadi perisai hidup untuk ayahnya. Dipandangnya wajah Zico yang memar di beberapa tempat. Saat ini pria itu masih menenangkan Livi yang masih menebar aura permusuhan pada omnya."Ren ....""Jangan tanya, Mbak. Pusing aku." Irene mundur ketika Raisa angkat tanganAgra mendesah frustrasi. Pria itu berdiam diri d
"Apa kamu bilang? Zico ke Tokyo?" Lea mengutip ucapan Zio barusan."Lah kan aku sudah bilang kemarin. Abian kasih tahu kalau Zico ke Tokyo. Katanya kerjaannya berantakan, jadi mereka suruh Zico buat healing lagi."Zio berkata sambil mendekati Lea yang sedang menyusui Celio. Zio seketika jadi cemburu. Benda itu bertambah menggiurkan, tapi sekarang bukan lagi miliknya. Ada Celio yang memonopoli tempat favorit Zio."Dia ke Tokyo bukan healing tapi cari perkara. Lihat saja yang ada di sana. Bukannya Zico selalu sakit kepala kalau coba mengingat Raisa," Lea membetulkan posisi Celio supaya lebih nyaman."Kan beda kalau ketemu orangnya langsung. Boy, gantian napa. Dikit aja."Lea menepis tangan Zio yang selalu ingin mengganggu Celio. Bayi lelaki itu sudah bertambah montok dengan pipi seperti bakpao. Tingkahnya juga bikin satu rumah tertawa senang."Memangnya kau setuju kalau Zico dengan Raisa?""Enggak! Jauh-jauh dari yang namanya Agra," balas Zio cepat.Lea seketika memutar bola matanya je
Livi menangis dengan tubuh Raisa turut gemetar, melihat bagaimana Zico menggelepar menahan sakit di kepala. "Tolong, Dok. Sakit!" Teriak Zico berulang kali.Dia pegangi kepalanya yang serasa mau pecah. Pria itu meringis, mendesis sementara tim medis sedang mencoba mengurangi kesakitan yang Zico rasa.Raisa susah payah berhasil membawa Zico ke klinik terdekat. Tubuh Zico yang tumbuh besar dan tinggi membuat Raisa kesulitan memapah. Ditambah dia sedang menggendong Livi yang sejak itu mulai menangis.Beruntungnya dia bertemu dua orang yang membantu Zico berjalan ke klinik. "Apapa!" Sebut Livi berulang kali. Balita tersebut tampak ketakutan, tapi juga menampilkan ekspresi sedih."Apa yang terjadi padanya?" Seorang dokter bertanya setelah Zico berhasil ditenangkan. Raisa melirik Zico yang mulai tenang, meski sesekali masih meringis kesakitan."Dia bilang pernah kecelakaan, lalu hilang ingatan. Tapi saya tidak tahu detail-nya.""Oke, kami paham. Kami akan memeriksanya lebih lanjut. Takut
Venue pernikahan sudah ramai orang. Agaknya prosesi pernikahan akan segera dimulai. Zico panik, dia tidak menemukan Raisa di mana pun. Mungkin perempuan itu sedang di touch up make up-nya. Tapi ruangannya di sebelah mana.Saat kecemasan Zico memuncak, dia mendengar musik pengiring pernikahan mengalun. Dia menerobos barisan tamu undangan untuk melihat lebih dekat. Raisa dan Livi muncul di pintu. Zico reflek berteriak, "Sa! Sa! Kamu gak boleh nikah sama dia!"Detik setelahnya Zico menarik Raisa pergi dari sana. Membawanya berlari setelah sempat menggendong Livi. Semua tamu melongo, melihat kejadian yang baru saja berlaku.Pun dengan Agra dan Irene. Dua orang itu jelas bingung ketika Zico mendadak muncul di Tokyo, lantas membawa pergi Raisa juga Livi.Namun hal itu tidak berlaku bagi Ryu dan Hana, sepasang pengantin itu justru saling melempar senyum."Itu tadi papanya Livi?" Tanya Hana seraya berjalan ke altar pernikahan dengan tangan melingkari lengan Ryu.Gaun putih sederhana senada d
Setelah menempuh perjalanan hampir tujuh jam, Zico sampai di Tokyo hampir pagi. Tubuhnya lelah luar biasa, hingga ketika dia sampai hotel tempat dia menginap, lelaki itu langsung ambruk untuk kemudian terlelap.Dia perlu memejamkan mata sejenak, atau dia bakal oleng. Lebih parah sakit kepala bisa membuat Zico tak berdaya. Satu yang Zico ingat, dia harus menemukan Raisa sebelum jam dua siang nanti. Sebab pernikahan Ryu digelar di jam itu. Dan Zico yang buta soal Tokyo sudah dipastikan harus berjibaku menemukan venue tempat pernikahan Ryu Watanabe."Tunggu aku, Sa," gumam Zico sebelum terlelap.Padahal yang disebut namanya sedang mengulas senyum. Pertikaianya dengan Agra berakhir lebih cepat dari yang dia duga. Raisa pikir Agra akan mendiamkannya lama. Bahkan mungkin memutuskan hubungan dengannya.Punya anak di luar nikah adalah aib besar di negara mereka. Namun di sini, Tokyo. Kota dan negara yang sedang mengalami masalah penurunan angka kelahiran yang signifikan.Kelahiran adalah hal
Agra langsung menuju apartemen Raisa begitu dia sampai di Tokyo. Lelaki itu heran melihat Ryu berkunjung ke unit sang adik, padahal hari sudah cukup malam. Ditambah besok adalah hari pernikahan sang asisten. Curiga membuat Agra bergerak cepat menahan pintu, hingga dia bisa ikut masuk ke apart sang adik tanpa penghuninya tahu. Agra pikir Ryu dan Raisa punya hubungan lebih di luar atasan dan asisten.Agra dan Irene terpaksa menguping pembicaraan Ryu dan Raisa. Betapa terkejutnya dua orang itu mendengar topik yang dibicarakan oleh Ryu dan Raisa."Livi siapa, Sa?" Pertanyaan Agra membuat Raisa terperanjat. Dia tidak pernah menyangka kalau Agra sudah berdiri di hadapannya."Kakak kapan sampai?" "Jawab dulu, Livi siapa?" Agra coba menahan diri. Meski pikirannya sudah mengembara ke mana-mana. Mungkinkah yang Agra takutkan benar terjadi. "Livi dia ....""Amama, Papa." Suara menggemaskan terdengar dari arah kamar.Agra dan Irene sontak menoleh, melihat seorang balita berjalan limbung ke ar
"Om, tahu tempat tinggal Livi gak?"Zico melirik sadis ke arah Arch, yang tampak tak masalah mendapat teror semacam itu dari om-nya."Lu ngapain sih nanya Livi mulu, kan elu sudah punya Celio," kesal Zico tiap ketemu Arch. Pasti bocah itu selalu menanyakan pasal Livi.Padahal Zico sendiri sedang H2C, harap-harap cemas menanti kabar dari dari Miguel soal tes DNA Livi dengannya. Miguel mengabarkan, sample sudah masuk lab dua hari lalu, pria itu bilang akan mengusahakan secepat mungkin. Dari mana Miguel dapat sample Livi, jangan ditanya. Mungkin saja Miguel punya join venture alias kerjasama dengan kelompok Yakuza di Tokyo sana. Aih serem, triad ketemu yakuza, kalau tawuran pasti mengerikan."Celio kan cowok. Livi cewek, beda," balas Arch cepat."Memangnya kenapa kalau cewek?" Zico mulai curiga kenapa keponakannya ngebet banget sama Livi.Arch diam, tapi rona merah bisa Zico lihat menyebar di pipi putra kandung Miguel."Dia cantik, Om.""Ha? Jangan bilang lu suka sama tu bayik. Eh biji
Berbeda dengan dua pasangan lain yang tengah melakoni malam panas membara. Kamar Zico yang selalu sunyi, kini kian dingin. Hatinya hampa sejak dia kehilangan memori soal Raisa.Namun hari ini semua terasa berbeda. Kehadiran seorang Nakaia Livi mengubah segalanya. Hati Zico menghangat. Tiap sentuhan Livi menyalurkan cinta yang telah lama hilang dari kalbunya.Panggilan "apapa" khas Livi membangkitkan sesuatu dalam jiwanya. Dia seperti diseret, dipaksa untuk memperjuangkan Livi.Zico berdecih lirih. Dia habiskan cairan merah yang ada dalam gelasnya. Matanya memandang siluet pesawat yang mengangkasa di depan sana."Dia pergi," gumam Zico. Padahal belum tentu itu pesawat Livi.Detik setelahnya bunyi benda pecah terdengar. Zico baru saja membanting gelas yang beberapa saat lalu masih dia genggam. Dia remas kepalanya, frustrasi dengan dirinya sendiri."Apa yang sebenarnya hilang? Apa yang sebenarnya kuinginkan? Apa yang sejatinya aku cari?!" Teriak Zico sambil memukuli kepalanya sendiri.Su