LOGINThis is the story of a cold hearted, powerful, ruthless, mysterious, arrogant and dangerously handsome billionaire who is the uncrowned king of the business. Cruel and ruthless man starts craving only one thing in his life and that was Tasha's body but she escaped. "Run, baby, how long will you stay away from me?"
View MoreSatu ketukan lagi, dan Dimas mulai ragu apakah dia salah alamat.
Papan kecil bertuliskan “KOS KOSONG” jelas terpampang di pagar depan sebuah rumah dua lantai, karena itu dia datang ke sini—malam-malam, dengan koper dan ransel, berharap menemukan tempat tinggal baru secepatnya. Kamar kos yang dia tempati sebelumnya cukup memberatkan kantong. Sedangkan pesangon PHK dari perusahaan teknologi yang memberhentikannya setahun lalu sudah mulai menipis. Dimas sadar dia harus pindah ke kosan yang lebih sederhana. Tok! Tok! Tok! Tok! Tok! Sejenak, Dimas menunduk, memastikan ia tidak salah rumah. Tetapi tidak. Ini benar—nomornya sesuai. Namun baru saja dia hendak mengetuk sekali lagi, suara samar dari balik jendela membuat tubuhnya menegang. Suara decakkan bersahutan dengan deru napas yang terengah. “Aahh!” lenguhan itu terdengar mengacaukan pikiran. Suara-suara sensual itu tak ayal membuat jantung dan tubuh Dimas bergetar. Dimas meneguk saliva. Kakinya yang kini berdiri di luar jendela ruang tamu rumah pemilik kos kini terasa sedikit limbung. Di balik jendela yang tak tertutup sempurna itu—di dalam ruang tamu, tampak seorang wanita yang sedang memunggungi Dimas, duduk nyaman di sofa yang menempel dengan jendela. Layar ponselnya terpampang jelas tengah memperlihatkan adegan demi adegan dewasa hingga Dimas yang berdiri di luar dapat melihatnya. Mengenyahkan gugup, Dimas mengerjap sekilas. Kepalan tangannya kembali menjangkau daun pintu. Tok. Tok. Tok. "Permisi?" Namun suara Dimas tampaknya masih belum cukup kuat untuk mengalahkan desahan-desahan sensual dari ponsel di tangan wanita itu. Lalu, sepasang mata Dimas melebar ketika menemukan tangan wanita itu mulai menjamah dirinya sendiri, memeluk lengan, lalu mulai meraba, menyusup ke area di antara kedua pahanya. Pikiran Dimas seketika berkabut. Bukan mustahil dirinya akan ikut tenggelam dalam dorongan yang sama bila dia berlama-lama di sini. “Permisi?” Dimas mengeraskan suara. Barulah wanita itu tersentak dan mematikan ponsel. “Sebentar…” Suara perempuan itu terdengar lebih dekat, dan Dimas segera menegakkan tubuh. Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok yang membuatnya hampir kehilangan kata. Dimas terpaku. Ini… tidak mungkin. Darahnya seakan surut ke bawah. Pikirannya mendadak kosong selama beberapa detik. “Kak Karina?” mulut Dimas bergumam pelan. Tak berniat memanggil, namun nama itu meluncur secara refleks. Mana mungkin dia melupakan wajah yang dulu tak pernah gagal membuat dadanya berdebar? Membuat matanya kerap mencari, dan membuat telinganya menyimak penuh setiap kalimat yang keluar dari mulut wanita ini? Kak Karina. Guru privatnya saat SMA. Wanita yang dulu dia kagumi diam-diam. Wanita berwajah cantik, dengan kemolekan tubuhnya yang membuat Dimas kerap meneguk ludah. Sampai akhirnya … dulu, muncul satu hari berbahaya ketika tak ada orang di rumah, Dimas yang saat itu masih SMA, tak mampu melawan desakan dalam dirinya. Hingga, sebuah kecupan singkat mendarat mulus di bibir wanita itu. Wanita yang seharusnya dia hormati. Dan setelah itu, semuanya berantakan. Tak ada lagi hari-hari belajar bersama Karina. Tak ada lagi sesi belajar mendebarkan di sebelah wanita anggun yang membuatnya berdebar. Karina berhenti mengajar, tak lagi menerima murid mana pun, tepat setelah kejadian itu. “Kamu ….” Suara Karina yang terperangah dengan tangan menutup mulut seketika menyadarkan Dimas, membawa pikirannya kembali ke momen saat ini. Namun detik berikutnya, Dimas tersadar dan membelalak. Darahnya berdesir seiring jantungnya menghentak keras. Matanya memindai penampilan Karina yang kini terlihat terlalu … Terbuka. Gaun malam tipis itu hanya menutup tubuhnya sebatas paha, memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus bak porselen. Bahan gaun yang tampak licin itu jatuh dan membentuk lekuk tubuhnya yang meliuk sempurna. Seakan tak cukup, gundukan bulat yang berhimpitan di area dada wanita itu membuat Dimas hampir lupa caranya bernapas. Tanpa sadar, tangan Dimas mengeratkan genggamannya pada gagang koper kabin yang diseretnya. Lama tak bertemu wanita yang pernah membuatnya berdebar, sekarang jantungnya harus menghadapi godaan sebegini dahsyat? “Ada perlu apa?” suara Karina sedikit bergetar. Wajahnya yang sedikit memerah berpaling gelisah ke arah lain. Tangannya mengusap lengan dengan gerakan kaku. Dimas berdehem kecil. Dia memperbaiki posisi tali ransel besar yang dia pakai. “Saya baca tulisan di depan, ada kamar kos kosong di sini. Kalau boleh, saya berniat untuk pindah malam ini.” Karina mengerjap setelah terdiam beberapa saat. “Tunggu sebentar. Saya ambil kunci.” Setelah kalimat itu, Karina berbalik, masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Dimas yang kini sibuk menenangkan jantungnya sendiri. Tangannya menarik rambut ke belakang. Napasnya dihembuskan panjang. Apa dia akan benar-benar tinggal di kosan dengan Karina sebagai pemilik kosnya? Karina, wanita yang dulu—bahkan hingga kini, pesonanya membuat irama jantungnya berderap kencang. Dan Karina, yang baru saja dia lihat sedang menjamah dirinya sendiri … sambil menonton video dewasa? Dimas tak tahu ini keberuntungan atau justru … petaka. Setelah Karina keluar dengan membawa kunci, wanita itu memimpin Dimas melewati sebuah tangga besi melingkar yang berada di depan teras. Tangga itu langsung menuju teras balkon lantai dua. Ada tiga kamar yang disewakan, semuanya berada di lantai dua dengan posisi berderetan. Karina membuka kunci, lalu melangkah masuk ke dalam kamar dan menyalakan saklar lampu. Wanita lalu berjalan di sekitar kamar, “Kami sudah sediakan kasur single, satu lemari pakaian, satu meja kerja, satu bantal, satu kipas angin. Nggak ada AC. Kamar mandi, dapur, kulkas, jemuran dan ruang cuci jemur, dipakai bersama-sama. Kebersihan tanggung jawab bersama. Jika membawa alat elektronik tambahan, tolong infokan ke saya.” Karina memutar bahu, menatap Dimas dengan alis terangkat. “Kalau mau merokok silakan di balkon, sudah disediakan asbak di sana. Untuk peraturan, yang paling utama selain dilarang membuat kebisingan ….” Karina terdiam, mengambil jeda sesaat. “Adalah nggak boleh membawa masuk perempuan.” ucap Karina tegas. Sebuah pikiran gila melintas dalam benak Dimas. Bagaimana jika perempuan yang dia inginkan justru sudah berada di dalam? Detik itu, hampir Dimas menampar wajahnya sendiri. Betapa godaaan Karina sanggup mengacaukan akal sehatnya.“Tasha, open your eyes.” The lights above flickered as the hum of machines filled the room. Daniel sat at her side, his hand gripping hers with a desperation that made his fingers ache. Tasha’s once-vibrant face was now pale, her breath shallow, a thin sheen of sweat clinging to her forehead. The blood that had poured from the wound in her side had soaked through the hospital sheets, staining them a dark red. Her body was fragile, lifeless, and as still as the silence in the room.His heart was breaking in ways he never thought possible, each beat a painful reminder that the woman he loved was slipping away from him, and he could do nothing to stop it. His eyes were swollen from tears, his face streaked with them.His grip tightened around her hand, as if he could hold on to the last fragments of her life with sheer will alone. But even as he held her, even as he whispered her name over and over, it felt like the world was slowly fading to black."Tasha, please… please, wake up. I’m
The opening of the mall had arrived, and excitement filled the air. Daniel, standing near a jewelry stall, was busy directing his workers, making sure everything was perfect for the big day. The mall was filled with people, buzzing with energy, and yet, Daniel's mind seemed distracted.A flicker of movement caught his eye in the mirror before him. A boy stood behind a pillar, but Daniel thought nothing of it at first. After all, it was such a crowded day, and people were everywhere.But when Tasha entered the makeup shop a little later, Daniel's mind was drawn back to the strange sensation that someone was watching her. She was absorbed in picking out lipstick shades, inspecting them carefully in the mirror, when suddenly, her heart skipped a beat. In the reflection, she saw the boy from earlier – Carl – standing just behind her.She spun around quickly, her breath caught in her throat, but no one was there. It must have been a trick of the light, she thought, dismissing the unease cr
For the grand opening of the mall, Daniel had decided not to invite any actors, actresses, or high-profile political figures as special guests. Instead, he wanted the moment to be about one person—his wife.Tasha’s car pulled up outside the mall, and without hesitation, Daniel stepped forward to open the door for her, right in front of the waiting media. His smile was warm and inviting as he extended his hand to her."Come on," he said, his voice full of affection. Tasha, her heart racing, placed her hand in his, stepping out of the car gently. She was standing in front of the media for the very first time, and it made her feel a bit anxious. But before she could get too nervous, Daniel wrapped his arm around her waist, pulling her closer to him. The simple act of his touch helped to calm her nerves, making her feel more at ease."Here, take the scissors," he said, holding them out to her. Tasha, still in a bit of a daze, had assumed he was joking, but seeing the serious expression o
That evening, after a long and grueling day, Tasha returned home to find Daniel waiting for her in the living room. The apartment was dimly lit, the soft golden hue of the table lamps casting a warm glow. The aroma of fresh coffee lingered in the air. She closed the door behind her with a tired sigh, and there he was—Daniel—lounging on the couch with an easy, mischievous smile on his face.“How was your first day as boss?” he asked, setting his laptop aside with a deliberate slowness, as if he were savoring the moment of her arrival.“Exhausting,” Tasha admitted, kicking off her heels with a grateful grunt and collapsing beside him on the couch. Her shoulders were tense, her muscles aching from a day filled with meetings, decisions, and memories she had been trying to bury for years.Daniel’s arm was around her in an instant, pulling her closer to him. His touch was grounding, like a lifeline. “And yet, you survived. That’s my girl,” he said, his voice full of pride.She smiled weakly












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.