Atmosfer di dalam club seketika semakin mencekam. Musik yang mengentak keras tak juga membuat para pengunjung club malam bergoyang seperti sebelumnya. Mereka justru menatap pusat keributan di tengah ruangan. Tujuh belas pria berbadan besar mengepung Marko dengan ekspresi penuh keyakinan. Anak buah Patrick itu sudah sering menghadapi perkelahian dan menang dengan mudah, jadi mereka yakin pasti bisa mengalahkan Marko malam ini hanya dalam hitungan detik saja.Padahal, Marko tidak selemah itu. Anak buah Patrick tidak tahu siapa sebenarnya yang akan mereka hadapi. Marko Hubert, atlet terkuat di club Black Alpha!Marko hanya berdiri dengan tenang di tengah lingkaran itu. Dia menggulung lengan bajunya perlahan, melepaskan jaketnya, lalu melemparkannya ke lantai.Sementara, Jake melihat Marko dengan cemas. Ingin sekali dia membantu Marko, tapi dia sekarang tidak bisa berkutik di antara dua pria bertubuh besar dan kuat yang mencengkeram erat kedua tangannya."Marko, kau yakin? Lebih baik ki
Monte, manager club malam itu menatap Marko dengan tajam, lalu berjalan mendekatinya dengan penuh kemarahan. "Jadi, kau yang membuat kekacauan di club ini?! Dengan cara apa kau mau bertanggung jawab, huh?!"Marko tetap tenang. Dia tidak merasa perlu menjelaskan terlalu banyak kata-kata pada orang yang marah, meski belum tahu kebenarannya.Namun, sebelum Marko sempat berbicara, Jake tiba-tiba maju dan berdiri di sampingnya."Tunggu dulu, Pak!" ucap Jake dengan suara tegas. "Bukan Marko yang memulai ini. Dia hanya mencoba membantu salah satu penari yang dilecehkan oleh Patrick."Monte mengalihkan pandangannya ke arah Jake. "Lalu, kenapa tempat ini jadi seperti kapal pecah?! Kacau sekali!"Jake menghela napas sebelum menjelaskan lebih lanjut. "Patrick menarik penari berambut pirang itu secara paksa, tidak memedulikan aturan club yang melarang kontak fisik tanpa izin. Saat penari berambut pirang itu berusaha melawan, Patrick malah makin berani melecehkannya. Marko hanya ingin menolong pen
Lady segera mengejar Marko saat Marko dan Jake sudah masuk ke dalam mobil."Tuan Marko! Tunggu sebentar!" teriak Lady sambil mengetuk kaca jendela mobil pelan.Marko membuka kaca jendelanya dan mengulas senyum melihat Lady yang tadi terburu-buru memakai lingerienya saat Marko berderap keluar dari club."Ada apa, Nona?""Tuan Marko, saya sangat berterima kasih atas semua bantuan Tuan Marko tadi. Jika Anda mau, saya akan memberikan pelayanan khusus untuk Anda malam ini sebagai ucapan terima kasih saya," ucap Lady dengan pipi tersipu. Meski, dia sudah terbiasa telanjang di depan banyak pria, tapi menawarkan diri pada pria tampan seperti Marko membuatnya sangat gugup dan malu.Marko melirik Jake. "Bung, sepertinya kau pulang sendiri. Aku ada urusan dengan nona cantik ini. Nanti kirimkan orang untuk membawa mobilku ke sini."Jake mendengus pelan. "Baiklah. Tapi, ingat. Jangan sampai kau kecapekan. Karena besok kita akan latihan intensif seharian.""Tidak usah khawatir," balas Marko turun d
Keesokan harinya di markas club Black Alpha. Marko baru saja menyelesaikan sesi latihannya saat tiba-tiba Jake berlari ke arahnya."Bung, kau harus tahu ini!" ucap Jake nyaris berteriak. Dia lalu menunjukkan layar ponselnya ke depan Marko."Patrick membuat ulah lagi! Coba kau lihat!"Marko mengerutkan dahi saat melihat layar ponsel Jake gelap. "Ponselmu mati, Jake.""Sial! Bateraiku habis! Coba kau lihat di ponselmu! Patrick sedang melakukan live!" ucap Jake tidak sabaran.Marko segera membuka aplikasi media sosial yang sering digunakan oleh komunitas petarung MMA. Begitu dia masuk, notifikasi siaran langsung dari sebuah akun muncul di layar.[Judulnya mencuri perhatiannya!].[Tantangan untuk Marko, si bocah baru di club Black Alpha!].Tanpa pikir panjang, Marko mengeklik video itu. Layar ponselnya segera menampilkan seorang pria bertubuh besar berdiri di tengah oktagon kecil. Pria itu mengenakan celana pendek MMA dan hoodie terbuka, menampilkan otot-ototnya yang mengesankan. Di belak
Marko selesai latihan saat hari sudah gelap. Keringat membasahi tubuhnya, menempel di kaos tanpa lengan yang dia pakai. Nafasnya masih berat setelah berjam-jam sparring, boxing, kardio, dan, angkat beban. Darahnya begitu mendidih karena Patrick dan Tyson sehingga Marko berlatih hingga tidak kenal waktu!Marko lalu meraih handuk dari bangku dekat ring, dan mengusap wajahnya kasar. Udara malam di markas club Black Alpha terasa dingin, berbeda dengan suhu panas yang menyelimuti tubuhnya setelah latihan keras.Jake sudah pulang lebih dulu setelah memastikan Marko tidak akan lengah dalam persiapannya. Sementara yang lain juga sudah meninggalkan markas club Black Alpha. Tinggal Marko seorang dan dua satpam lain yang berjaga di sini.Begitu Marko keluar dari ruang latihan, Marko terkejut melihat Daniel yang ternyata masih duduk di bangku panjang dekat loker.Marko jarang melihat Daniel duduk termenung seperti itu. Biasanya, Daniel adalah pria dingin yang fokus pada latihan dan jarang berbic
Jika biasanya Marko meremas payudara wanita yang dia tiduri dengan kasar, sekarang Marko hanya mengusap-usap payudara Pinky pelan.Dia lalu menghisap putingnya yang ranum. Aroma manis yang menguar dari tubuh Pinky semakin membuat Marko semangat.Semula Marko hanya menghisap puting Pinky, dia lalu turun ke kewanitaan Pinky yang bersih. Marko membelai daerah sana. Karena Pinky sedang koma sehingga tubuh gadis itu tidak akan merespon kejantanannya dengan cepat. Maka, Marko memilih memeluk tubuh telanjang Pinky lebih dulu dengan niat dia ingin menghangatkan gadis itu dengan badannya.Setelah lima menit, Marko mulai memasukkan jarinya ke kewanitaan Pinky agar bagian sana longgar sebelum dia masuki.Marko terus mengocok kewanitaan Pinky sambil melihat wajah cantik Pinky yang membuat Marko semakin terangsang.Dirasa kewanitaan Pinky sudah cukup longgar, Marko melepaskan celananya dan atasannya sehingga dia ikut telanjang bulat.Marko kemudian memasukkan kejantanannya ke dalam kewanitaan Pin
Paginya. Di markas club Black Alpha. Setelah kejadian di rumah Daniel semalam, hubungan antara Marko dan Daniel berubah. Daniel yang awalnya dingin dan tidak banyak bicara, kini tampak lebih terbuka pada Marko. Ada rasa hormat dan terima kasih dalam sorot matanya, meskipun dia tetap menjaga sikapnya yang serius dan profesional.Setelah memastikan Pinky benar-benar stabil tadi, akhirnya Daniel meninggallan adiknya itu untuk pergi ke markas Black Alpha. Dia jadi semakin bersemangat untuk berlatih hari ini! Dan dia berniat ingin berlatih bersama Marko.Sementara, Marko dipenuhi energi yang luar biasa karena semalam dia seks dengan Wennie sampai puas. Tidak ada kata lelah, meski dia sudah berlatih berat sejak kemarin.Kali ini di kepala Marko dipenuhi pertarungannya melawan Tyson dari Storm Cage yang semakin dekat."Hei, Marko!" sapa Daniel pada Marko. Dia menghampiri Marko dengan langkah santai."Ya, Daniel?""Mari kita berlatih bersama, Marko!"Daniel yang biasanya tidak terlalu ikut
Waktu yang ditunggu-tunggu Marko akhirnya datang juga. Malam ini kerumunan di markas club Storm Cage meledak dalam sorakan saat Marko memasuki kandang pertarungan. "Itu si Marko Hubert! Dia benar-benar datang untuk menjawab tantangan Tyson!""Gila! Berani juga dia datang ke kandang lawan!""Pergi ke kandang lawan sama saja mencari mati!"Marko menatap ke sekeliling, mengabaikan sorakan meremehkan dari para penonton.Tempat ini lebih kecil dan lebih brutal dibandingkan ring resmi. Dinding kawat baja menjulang di sekelilingnya, memberikan kesan bahwa siapa pun yang masuk ke dalam sini hanya punya dua pilihan. Menang atau hancur.Di seberang Marko, Tyson sudah berdiri menunggu. Pria bertubuh raksasa itu berdiri dengan penuh percaya diri, otot-ototnya menggembung seperti kawat baja. Dia menatap Marko dengan seringai mengejek, jelas meremehkan lawannya."Nyalimu besar juga, Bocah. Aku akan menghancurkanmu malam ini." Tyson menyeringai sambil memutar-mutar bahunya. Lalu meregangkan otot di
Seminggu kemudian. Marko Hubert dan Victor akhirnya bertemu untuk pertama kalinya di turnamen UFC. Meski, bagi Marko ini tidak benar-benar pertama kalinya.Marko Hubert kini berdiri di belakang panggung arena UFC, mengenakan celana pendek pertarungan hitam dengan garis emas di sisi. Tangannya telah dibalut dengan perban putih, siap untuk menghadapi tantangan terbesar dalam hidupnya. Victor.Sorakan dari ribuan penonton menggema di dalam arena. Lampu sorot menerangi oktagon di tengah stadion, sementara layar raksasa menampilkan wajah Marko dan Victor berdampingan.Di sisi lain ruangan, Victor tengah melakukan pemanasan, tubuhnya penuh dengan otot keras hasil latihan bertahun-tahun. Dia adalah juara bertahan, seorang petarung dengan rekor tak terkalahkan. Mata tajamnya menatap lurus ke arah layar, lalu beralih ke Marko yang berdiri di seberang lorong.Seorang official menghampiri mereka. "Saatnya masuk."Marko menarik napas panjang, lalu melangkah ke dalam lorong panjang yang akan memba
Marko berjalan dengan langkah mantap di antara mayat-mayat yang berserakan di markas Rio Davies. Tangannya masih berlumuran darah, tapi bukan darahnya sendiri, melainkan darah para lawannya yang telah dia habisi tanpa ampun. Tubuhnya terasa ringan, tidak ada luka yang berarti, meskipun dia baru saja menghadapi pasukan pembunuh bayaran terbaik yang dimiliki Rio Davies.Di gendongannya, Stella menggeliat pelan. Matanya yang masih sedikit sayu menatap wajah Marko dengan kebingungan."Marko, kau mau membawaku ke mana?" Suara Stella lemah, tapi masih terdengar jelas di tengah keheningan yang mencekam ini.Marko tidak langsung menjawab. Dia hanya mempererat genggamannya pada tubuh Stella dan terus berjalan keluar dari bangunan yang kini dipenuhi oleh mayat.Di luar, udara malam terasa dingin, berbeda dengan panasnya pertarungan brutal yang baru saja dia lalui. Bintang-bintang bertaburan di langit, seolah mengamati setiap langkahnya dengan diam.Marko menemukan sebuah mobil yang masih dalam
Dorrr!!!Peluru itu melesat cepat menuju kepala Marko.Rio Davies tersenyum penuh kemenangan.Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi.Clangg!!!Peluru itu mengenai kulit Marko, namun bukannya menembus, peluru itu justru terpental seolah menabrak baja yang tak terlihat.Mata Rio Davies membelalak. "Apa-apaan ini?!"Marko hanya tersenyum miring. Dia menurunkan kepalanya sedikit, menatap Rio dengan sorot mata dingin. Level legendanya membuat Marko mendapatkan kemampuan baru yang membuat dirinya tidak mempan ditembak ataupun ditusuk pisau.Rio menembak lagi.Dorr!!! Dorr!!! Dorrr!!!Satu, dua, tiga peluru ditembakkan, semuanya mengenai tubuh Marko.Namun, hasilnya sama.Peluru itu tak mampu melukai Marko."Bajingan!" Rio Davies melompat dari kursinya, menggertakkan giginya. Dia memutar badannya, memberikan kode dengan tangannya.Dari balik pintu samping, muncul delapan orang berpakaian hitam dengan wajah tanpa ekspresi.Mereka bukan anak buah biasa.Mereka adalah Shadow Unit, unit pembun
Malam ini. Angin bertiup kencang di sekitar pelabuhan tua. Markas Rio Davies berdiri megah di atas tanah luas yang menghadap langsung ke lautan hitam yang bergelombang. Bangunan beton itu lebih mirip benteng daripada gudang biasa, dengan penjagaan ketat di setiap sudutnya.Dari kejauhan, Marko bisa melihat para penjaga bersenjata mondar-mandir di sekitar gerbang. Mereka semua terlihat waspada, seolah tahu bahwa bahaya bisa datang kapan saja.Marko menarik napas dalam. Dia tahu bahwa menerobos ke dalam akan menjadi hal yang mustahil.Tapi Marko tidak perlu menerobos karena dia memiliki sesuatu yang mereka inginkan. Yaitu sertifikat pulau. Marko akan memancing Rio Davies menggunakan sertifikat itu.Dengan langkah mantap, Marko berjalan ke depan gerbang, sengaja membiarkan dirinya terlihat oleh para penjaga.Butuh waktu kurang dari sepuluh detik sebelum seseorang menyadari kehadirannya."Hei! Siapa yang di sana?! Pergi sebelum kutembak kepalamu!" Salah satu penjaga mengangkat senjatanya,
"Kau ...."Marko berdiri mematung melihat pria yang kini berdiri tegap di depannya.Jantung Marko berdegup semakin kencang, tapi tubuhnya terasa membeku.Di hadapannya seorang pria yang sama sekali tidak asing menatapnya dengan sorot mata tak terbaca. Pria itu adalah tubuhnya sendiri. Marko Davies.Jika sekarang Marko Davies yang sebenarnya berada di tubuh Marko Hubert. Lalu, siapa yang ada di dalam tubuhnya itu?Marko buru-buru bergeleng. "Tidak. Tidak mungkin," gumamnya tidak ingin percaya dengan apa yang ada di hadapannya.Pria di depan Marko itu mengulas senyum. "Apanya yang tidak mungkin?"Marko menatap tajam pria itu. "Siapa kau?! Kenapa kau memakai tubuhku, Sialan?!"Si pria tertawa kecil. "Padahal aku telah lama menunggu waktu bertemu denganmu. Tapi, reaksimu ini sungguh membuatku kecewa, Marko."Marko semakin geram. "Siapa kau, Keparat?! Bagaimana bisa kau memakai tubuhku?! Dan, apa yang kau lakukan di apartemenku?! Apa kau juga yang mengirimkan pesan misterius?!"Si pria ber
"Sialan!"Marko memukul setir mobilnya dengan geram. Mobil yang membawa Jake, Daniel, dan Arnold sudah menghilang di tengah lalu lintas.Dia telah kehilangan jejak mereka.Lalu lintas di kota begitu padat, membuat pengejarannya sia-sia. Rio Davies jelas sudah merencanakan semuanya dengan rapi. Pria itu sangat licik dan memiliki segala taktik untuk melancarkan keinginannya.Marko menarik napas panjang, menenangkan pikirannya. Tidak ada gunanya mengutuk keadaan. Dia harus bergerak cepat.Mata tajamnya menyapu jalanan yang dipenuhi mobil-mobil dan lampu kota yang berkedip. Jika dia tidak bisa mengejar mereka sekarang, dia harus mencari kelemahan lain dalam rencana Rio Davies.Dan ada satu hal yang muncul dalam pikirannya. Sertifikat pulau.Marko lalu berbalik arah, dan menginjak pedal gas. Mobilnya langsung melesat cepat ke arah apartemen milik Marko Davies. Itu adalah satu-satunya tempat yang memiliki sesuatu yang diinginkan Rio Davies selama bertahun-tahun.Sebuah sertifikat pulau yang
Dinginnya malam merayap ke dalam jaket Marko saat dia berdiri di depan kantor Stella. Matanya masih menatap tajam simbol ular melingkar di dinding luar gedung. Nafasnya berat, uap hangat keluar dari bibirnya saat amarah menggelegak di dadanya.Stella diculik orang-orang yang ada di organisasi mafia yang dipimpin oleh Rio Davies, raja mafia yang merupakan kerabat dekat Marko Davies. Nama Rio Davies dulu hanya sekadar legenda di dunia kriminal. Sebuah bayangan yang mengendalikan segalanya dari balik layar terutama di dunia MMA. Namun kini, bayangan itu merayap ke hidup Marko Hubert. Padahal Marko paling menghindari berurusan dengan Rio Davies.Jantung Marko berdebar kencang. Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Stella telah diculik, dan dia tahu ini bukan sekadar penculikan. Ini adalah perangkap.Rio Davies dan anak buah pria itu pasti ingin menarik Marko masuk ke perangkapnya dan membuat Marko tidak bisa lagi kembali ke dunia MMA. Seperti yang dulu terjadi
Di tengah malam yang dingin, sebuah limusin hitam meluncur melewati jalanan sepi. Mobil itu melaju ke arah sebuah bangunan besar di pusat kota yang tidak memiliki plang atau tanda identitas apa pun. Dari luar, gedung itu tampak seperti kantor biasa, tetapi di dalamnya adalah pusat kendali organisasi mafia terbesar di Amerika.Di lantai paling atas, terdapat sebuah ruangan eksklusif dengan pemandangan langsung ke arah kota. Ruangan itu luas, dengan kaca besar yang mencerminkan cahaya lampu kota di kejauhan. Sebuah meja panjang dari kayu hitam berdiri megah di tengah ruangan, dikelilingi oleh kursi kulit mahal.Di ujung meja, seorang pria duduk dengan tenang. Rio Davies.Sosok itu adalah Don, pemimpin tertinggi mafia di seluruh Amerika Serikat. Dia mengenakan setelan hitam yang sempurna, rambutnya rapi, dengan wajah yang dingin tanpa ekspresi. Di tangannya ada sebuah cincin emas dengan lambang keluarga Davies, simbol kekuasaannya.Di hadapannya, Vladimir Ivanov berdiri dengan penuh horm
Kemenangan Marko membuat para petinggi MMA sedikit terusik. Mereka segera melakukan pertemuan khusus untuk membahas atlet bernama Marko Hubert itu.Suasana mencekam di sebuah ruangan eksklusif, tempat para petinggi MMA berkumpul.Ruangan itu luas, dengan desain klasik yang dipenuhi ornamen kayu mahal. Lampu gantung kristal menggantung di langit-langit, menciptakan pencahayaan redup yang menambah kesan eksklusif dan rahasia. Asap rokok melayang di udara, menciptakan atmosfer yang berat dan menekan.Di tengah ruangan, sebuah meja panjang dari kayu mahoni berdiri megah, dikelilingi oleh beberapa pria berjas hitam. Mereka bukan sembarang orang. Mereka adalah mafia yang selama ini menguasai dunia pertarungan MMA di balik layar.Mereka adalah orang-orang yang mengatur segalanya dari hasil pertandingan, petarung mana yang boleh naik, siapa yang harus jatuh, hingga taruhan ilegal yang menghasilkan miliaran.Dan malam ini, mereka semua memiliki satu masalah yang sama.Yaitu atlet dari club Bla