"Ahhh .... Marko. Lebih cepat lagi," desah Flora di pangkuan Marko. Dia sangat menikmati hunjaman yang Marko berikan pada kewanitaannya. Ternyata memang senikmat itu! Sampai membuat Sunny, dan Jasmine ketagihan!"Nona, kau sudah cum tiga kali. Apa kau tidak lelah?" tanya Marko sambil terus menggerakkan kejantanannya di lubang Flora. Sebelah tangannya menyingkirkan rambut Flora agar dia bisa melihat wajah terangsang wanita itu yang menggemaskan.Flora bergeleng pelan. "Aku memang sedikit lelah, tapi aku ingin terus seks denganmu, Marko.""Oke. Jika itu yang kau mau, Nona. Aku akan melakukannya denganmu sampai kau pingsan!" Marko mengulas senyum miring, lalu melumat bibir Flora dengan ganas. Flora membalas lumatan Marko, dan memberikan kesempatan Marko menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Flora.Keduanya saling melumat, lalu ciuman mereka baru terlepas saat kehabisan napas.Napas Flora terengah-engah. Dia ikut menggerakkan pinggulnya mengikuti gerakan Marko. Sampai keduanya mencapai kli
Langit sudah gelap saat Marko akhirnya tiba di depan rumah keluarga Dawson. Udara dingin begitu menusuk kulitnya, tetapi amarah yang menggelegak di dadanya membuatnya merasa panas. Mata Marko menyipit begitu melihat dua wanita paruh baya yang duduk di ruang tamu bersama Nyonya Dawson.Kedua wanita itu adalah Jill dan Margot. Mereka adalah kerabat keluarga Dawson yang sombong.Suara Jill dan Margot terdengar jelas bahkan sebelum Marko masuk ke dalam."Bagaimana suamimu yang tidak berguna itu, Stella? Apa dia masih menjadi kurir?""Kami akan mengenalkan kau dengan pria kaya. Memang sih dia lebih tua darimu dua puluh tahun, tapi setidaknya kau akan berjaya dan tidak perlu pusing memikirkan uang kalau kau mau jadi istri kelimanya."Marko mengetatkan rahangnya. Tangannya mengepal erat. Napasnya perlahan menjadi lebih berat, tetapi dia menahan diri. Langkahnya tetap santai saat dia memasuki rumah.Begitu Marko muncul di ambang pintu, dua wanita itu langsung melayangkan tatapan sinis padany
Hening sejenak. Liam lalu tertawa keras. Suaranya memenuhi ruangan showroom yang luas dan elegan."Astaga, Marko! Kau sedang halu, ya? Mana mungkin kau bisa membeli mobil mahal ini? Menjual dirimu saja tidak cukup untuk membayarnya!"Pelayan di samping Liam ikut tertawa mengejek. Matanya menyapu Marko dari atas hingga bawah, menilai pria yang hanya mengenakan jaket kurir Fast Food itu dengan penuh penghinaan."Kau tahu, Tuan Liam?" Pelayan itu menyeringai. "Mobil Bugatti La Voiture Noire ini hanya ada satu unit di dunia, dan harganya mencapai delapan belas juta dolar. Tidak mungkin pria seperti dia bisa membelinya."Liam mendengus sambil menyilangkan tangan. "Persis seperti pikiranku! Aku yakin dia hanya ingin menarik perhatian. Mungkin dia ingin terlihat hebat di depan kita!"Marko tetap berdiri dengan wajah tanpa ekspresi. Dia sudah terbiasa dengan orang-orang sombong seperti Liam dan si pelayan yang hanya bisa menilai seseorang dari penampilan luar."Aku sudah memesannya sejak bebe
Ketika menjelang malam. Di kediaman keluarga besar Cohen, pesta makan malam berlangsung dengan sangat megah.Lampu kristal besar menggantung di tengah aula, memantulkan cahaya ke segala arah, menciptakan suasana mewah yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan atas. Para tamu mengenakan gaun dan setelan mahal, membaur dalam percakapan yang penuh dengan sanjungan palsu dan pamer kekayaan.Di salah satu sudut ruangan, Stella duduk dengan ekspresi kaku.Gaun sutra biru tua yang Stella kenakan membuatnya tampil anggun dan menawan. Gaun itu dibelikan oleh Marko, harganya mencapai ribuan dolar dengan desain eksklusif yang hanya tersedia untuk klien VIP butik ternama di New York.Namun, alih-alih mendapat pujian, Stella justru menjadi sasaran hinaan para kerabatnya.Di hadapan Stella, duduk Jill dan Margot. Kedua kerabat keluarga Dawson itu menatap Stella dengan tatapan merendahkan.Mereka tersenyum sinis, memandang gaun Stella seolah-olah Stella adalah sampah yang tersesat di antara mereka."A
Marko dan Stella pulang lebih dulu dari acara makan malam keluarga Cohen. Saat Marko hendak pergi ke kamar untuk mengganti pakaiannya, Stella dengan cepat menahan tangannya."Kita perlu bicara, Marko."Stella berucap tegas. Wajahnya menyiratkan sesuatu yang membuat Marko langsung tahu ke mana arah pembicaraan ini akan tertuju.Marko menghela napas pelan. Dia bisa menebak Stella pasti hendak menanyakan perihal mobilnya.Marko berbalik, menatap istrinya yang berdiri tegak di sampingnya. Gaun sutra biru tua yang Stella kenakan masih melekat sempurna di tubuh wanita itu. Tatapan penuh kecurigaan kemudian Stella lemparkan pada Marko."Tentang apa?" tanya Marko dengan nada santai.Stella mendesah pelan. "Jangan pura-pura tidak tahu, Marko."Marko tetap diam. Sebelah alisnya terangkat."Lagipula, kau pasti tahu aku akan menanyakan hal ini, bukan?" lanjut Stella.Marko hanya tersenyum kecil. "Kalau aku tahu, kenapa aku masih pura-pura tidak tahu, Stella? Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?""J
Keesokan harinya, di markas Black Alpha, Marko baru saja menyelesaikan sesi latihan paginya ketika seorang atlet menyampaikan pesan dari Sierra untuknya."Nona Sierra ingin bertemu denganmu," kata pria itu dengan nada datar.Marko mengangkat alisnya. "Untuk apa?"Pria itu hanya mengangkat bahu. "Tidak tahu. Tapi dia sudah menunggumu di ruangannya."Tanpa banyak bertanya lagi, Marko mengambil handuk kecil dan mengelap keringat di wajahnya sebelum berjalan menuju ruangan Sierra.Begitu tiba di depan ruangan, dia mengetuk pintu tiga kali sampai terdengar sahutan dari Sierra."Masuk!Marko pun mendorong pintu terbuka, dan melangkah masuk ke ruangan Sierra.Di dalam, Sierra sudah menunggunya.Wanita itu duduk di atas meja, mengenakan blazer putih yang elegan dengan rok ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Rambutnya diikat rapi, dan tatapan matanya seperti biasanya. Tajam dan penuh percaya diri."Marko," Sierra menyapanya dengan tersenyum kecil. "Ada perlu apa, Nona Sierra? Sampai kau
Malamnya. di Ballroom Hotel Langston, acara pelelangan amal perhiasan kelas atas berlangsung dengan penuh kemewahan.Langit-langit ruangan dihiasi lampu kristal raksasa yang memancarkan kilauan lembut ke seluruh penjuru ruangan. Meja-meja bundar dengan taplak satin putih tertata rapi, masing-masing ditempati oleh para tamu yang berpakaian formal dan berasal dari kalangan elit New York.Para pria mengenakan tuxedo hitam yang elegan, sementara para wanita tampil anggun dengan gaun malam berhiaskan berlian dan emas. Malam ini setiap orang yang hadir adalah orang penting seperti pebisnis, pengusaha, hingga bangsawan yang mengendalikan industri besar.Dan di antara mereka, Marko dan Sierra cukup mencuri perhatian.Marko mengenakan setelan hitam yang pas dengan tubuh atletisnya, sementara Sierra tampil luar biasa dalam gaun merah tua dengan belahan tinggi yang dipilih Marko sebelumnya.Mereka berjalan berdampingan menuju tempat duduk mereka, dan seketika, mata-mata para tamu mulai tertuju p
Sierra lalu membuka matanya perlahan, dan menangis tersedu-sedu. "Marko, tubuhku sangat panas. Kewanitaanku berdenyut-denyut. Ini sangat menyiksa.""Siapa yang telah melakukan ini, Nona Sierra?" tanya Marko sambil memegang kedua bahu Sierra.Sierra bergeleng lemah. "Aku tidak tahu, Marko. Ada seseorang yang sengaja memasukkan obat perangsang ke dalam minumanku. Tapi, aku tidak tahu siapa dia."Mendengarnya Marko menjadi murka. "Aku akan mencari orang itu, Nona Sierra!""Jangan, Marko! Percuma. Banyak sekali orang di sini. Lagi pula dia pasti menyuruh orang lain. Kau tidak akan bisa menemukannya dengan mudah," jawab Sierra dengan tubuh bergetar. Sentuhan Marko di kulitnya membuat gairah Sierra memuncak, dan dia jadi kehilangan kewarasannya.Sebelum Marko sempat berucap lagi, Sierra membungkam bibir Marko dengan bibirnya."Marko, aku ingin kau memasukiku sekarang. Aku mohon," pinta Sierra dengan suara pelan. Dia nyaris gila saat menginginkan sentuhan dari Marko.Marko tentu saja tidak
Seminggu kemudian. Marko Hubert dan Victor akhirnya bertemu untuk pertama kalinya di turnamen UFC. Meski, bagi Marko ini tidak benar-benar pertama kalinya.Marko Hubert kini berdiri di belakang panggung arena UFC, mengenakan celana pendek pertarungan hitam dengan garis emas di sisi. Tangannya telah dibalut dengan perban putih, siap untuk menghadapi tantangan terbesar dalam hidupnya. Victor.Sorakan dari ribuan penonton menggema di dalam arena. Lampu sorot menerangi oktagon di tengah stadion, sementara layar raksasa menampilkan wajah Marko dan Victor berdampingan.Di sisi lain ruangan, Victor tengah melakukan pemanasan, tubuhnya penuh dengan otot keras hasil latihan bertahun-tahun. Dia adalah juara bertahan, seorang petarung dengan rekor tak terkalahkan. Mata tajamnya menatap lurus ke arah layar, lalu beralih ke Marko yang berdiri di seberang lorong.Seorang official menghampiri mereka. "Saatnya masuk."Marko menarik napas panjang, lalu melangkah ke dalam lorong panjang yang akan memba
Marko berjalan dengan langkah mantap di antara mayat-mayat yang berserakan di markas Rio Davies. Tangannya masih berlumuran darah, tapi bukan darahnya sendiri, melainkan darah para lawannya yang telah dia habisi tanpa ampun. Tubuhnya terasa ringan, tidak ada luka yang berarti, meskipun dia baru saja menghadapi pasukan pembunuh bayaran terbaik yang dimiliki Rio Davies.Di gendongannya, Stella menggeliat pelan. Matanya yang masih sedikit sayu menatap wajah Marko dengan kebingungan."Marko, kau mau membawaku ke mana?" Suara Stella lemah, tapi masih terdengar jelas di tengah keheningan yang mencekam ini.Marko tidak langsung menjawab. Dia hanya mempererat genggamannya pada tubuh Stella dan terus berjalan keluar dari bangunan yang kini dipenuhi oleh mayat.Di luar, udara malam terasa dingin, berbeda dengan panasnya pertarungan brutal yang baru saja dia lalui. Bintang-bintang bertaburan di langit, seolah mengamati setiap langkahnya dengan diam.Marko menemukan sebuah mobil yang masih dalam
Dorrr!!!Peluru itu melesat cepat menuju kepala Marko.Rio Davies tersenyum penuh kemenangan.Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi.Clangg!!!Peluru itu mengenai kulit Marko, namun bukannya menembus, peluru itu justru terpental seolah menabrak baja yang tak terlihat.Mata Rio Davies membelalak. "Apa-apaan ini?!"Marko hanya tersenyum miring. Dia menurunkan kepalanya sedikit, menatap Rio dengan sorot mata dingin. Level legendanya membuat Marko mendapatkan kemampuan baru yang membuat dirinya tidak mempan ditembak ataupun ditusuk pisau.Rio menembak lagi.Dorr!!! Dorr!!! Dorrr!!!Satu, dua, tiga peluru ditembakkan, semuanya mengenai tubuh Marko.Namun, hasilnya sama.Peluru itu tak mampu melukai Marko."Bajingan!" Rio Davies melompat dari kursinya, menggertakkan giginya. Dia memutar badannya, memberikan kode dengan tangannya.Dari balik pintu samping, muncul delapan orang berpakaian hitam dengan wajah tanpa ekspresi.Mereka bukan anak buah biasa.Mereka adalah Shadow Unit, unit pembun
Malam ini. Angin bertiup kencang di sekitar pelabuhan tua. Markas Rio Davies berdiri megah di atas tanah luas yang menghadap langsung ke lautan hitam yang bergelombang. Bangunan beton itu lebih mirip benteng daripada gudang biasa, dengan penjagaan ketat di setiap sudutnya.Dari kejauhan, Marko bisa melihat para penjaga bersenjata mondar-mandir di sekitar gerbang. Mereka semua terlihat waspada, seolah tahu bahwa bahaya bisa datang kapan saja.Marko menarik napas dalam. Dia tahu bahwa menerobos ke dalam akan menjadi hal yang mustahil.Tapi Marko tidak perlu menerobos karena dia memiliki sesuatu yang mereka inginkan. Yaitu sertifikat pulau. Marko akan memancing Rio Davies menggunakan sertifikat itu.Dengan langkah mantap, Marko berjalan ke depan gerbang, sengaja membiarkan dirinya terlihat oleh para penjaga.Butuh waktu kurang dari sepuluh detik sebelum seseorang menyadari kehadirannya."Hei! Siapa yang di sana?! Pergi sebelum kutembak kepalamu!" Salah satu penjaga mengangkat senjatanya,
"Kau ...."Marko berdiri mematung melihat pria yang kini berdiri tegap di depannya.Jantung Marko berdegup semakin kencang, tapi tubuhnya terasa membeku.Di hadapannya seorang pria yang sama sekali tidak asing menatapnya dengan sorot mata tak terbaca. Pria itu adalah tubuhnya sendiri. Marko Davies.Jika sekarang Marko Davies yang sebenarnya berada di tubuh Marko Hubert. Lalu, siapa yang ada di dalam tubuhnya itu?Marko buru-buru bergeleng. "Tidak. Tidak mungkin," gumamnya tidak ingin percaya dengan apa yang ada di hadapannya.Pria di depan Marko itu mengulas senyum. "Apanya yang tidak mungkin?"Marko menatap tajam pria itu. "Siapa kau?! Kenapa kau memakai tubuhku, Sialan?!"Si pria tertawa kecil. "Padahal aku telah lama menunggu waktu bertemu denganmu. Tapi, reaksimu ini sungguh membuatku kecewa, Marko."Marko semakin geram. "Siapa kau, Keparat?! Bagaimana bisa kau memakai tubuhku?! Dan, apa yang kau lakukan di apartemenku?! Apa kau juga yang mengirimkan pesan misterius?!"Si pria ber
"Sialan!"Marko memukul setir mobilnya dengan geram. Mobil yang membawa Jake, Daniel, dan Arnold sudah menghilang di tengah lalu lintas.Dia telah kehilangan jejak mereka.Lalu lintas di kota begitu padat, membuat pengejarannya sia-sia. Rio Davies jelas sudah merencanakan semuanya dengan rapi. Pria itu sangat licik dan memiliki segala taktik untuk melancarkan keinginannya.Marko menarik napas panjang, menenangkan pikirannya. Tidak ada gunanya mengutuk keadaan. Dia harus bergerak cepat.Mata tajamnya menyapu jalanan yang dipenuhi mobil-mobil dan lampu kota yang berkedip. Jika dia tidak bisa mengejar mereka sekarang, dia harus mencari kelemahan lain dalam rencana Rio Davies.Dan ada satu hal yang muncul dalam pikirannya. Sertifikat pulau.Marko lalu berbalik arah, dan menginjak pedal gas. Mobilnya langsung melesat cepat ke arah apartemen milik Marko Davies. Itu adalah satu-satunya tempat yang memiliki sesuatu yang diinginkan Rio Davies selama bertahun-tahun.Sebuah sertifikat pulau yang
Dinginnya malam merayap ke dalam jaket Marko saat dia berdiri di depan kantor Stella. Matanya masih menatap tajam simbol ular melingkar di dinding luar gedung. Nafasnya berat, uap hangat keluar dari bibirnya saat amarah menggelegak di dadanya.Stella diculik orang-orang yang ada di organisasi mafia yang dipimpin oleh Rio Davies, raja mafia yang merupakan kerabat dekat Marko Davies. Nama Rio Davies dulu hanya sekadar legenda di dunia kriminal. Sebuah bayangan yang mengendalikan segalanya dari balik layar terutama di dunia MMA. Namun kini, bayangan itu merayap ke hidup Marko Hubert. Padahal Marko paling menghindari berurusan dengan Rio Davies.Jantung Marko berdebar kencang. Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Stella telah diculik, dan dia tahu ini bukan sekadar penculikan. Ini adalah perangkap.Rio Davies dan anak buah pria itu pasti ingin menarik Marko masuk ke perangkapnya dan membuat Marko tidak bisa lagi kembali ke dunia MMA. Seperti yang dulu terjadi
Di tengah malam yang dingin, sebuah limusin hitam meluncur melewati jalanan sepi. Mobil itu melaju ke arah sebuah bangunan besar di pusat kota yang tidak memiliki plang atau tanda identitas apa pun. Dari luar, gedung itu tampak seperti kantor biasa, tetapi di dalamnya adalah pusat kendali organisasi mafia terbesar di Amerika.Di lantai paling atas, terdapat sebuah ruangan eksklusif dengan pemandangan langsung ke arah kota. Ruangan itu luas, dengan kaca besar yang mencerminkan cahaya lampu kota di kejauhan. Sebuah meja panjang dari kayu hitam berdiri megah di tengah ruangan, dikelilingi oleh kursi kulit mahal.Di ujung meja, seorang pria duduk dengan tenang. Rio Davies.Sosok itu adalah Don, pemimpin tertinggi mafia di seluruh Amerika Serikat. Dia mengenakan setelan hitam yang sempurna, rambutnya rapi, dengan wajah yang dingin tanpa ekspresi. Di tangannya ada sebuah cincin emas dengan lambang keluarga Davies, simbol kekuasaannya.Di hadapannya, Vladimir Ivanov berdiri dengan penuh horm
Kemenangan Marko membuat para petinggi MMA sedikit terusik. Mereka segera melakukan pertemuan khusus untuk membahas atlet bernama Marko Hubert itu.Suasana mencekam di sebuah ruangan eksklusif, tempat para petinggi MMA berkumpul.Ruangan itu luas, dengan desain klasik yang dipenuhi ornamen kayu mahal. Lampu gantung kristal menggantung di langit-langit, menciptakan pencahayaan redup yang menambah kesan eksklusif dan rahasia. Asap rokok melayang di udara, menciptakan atmosfer yang berat dan menekan.Di tengah ruangan, sebuah meja panjang dari kayu mahoni berdiri megah, dikelilingi oleh beberapa pria berjas hitam. Mereka bukan sembarang orang. Mereka adalah mafia yang selama ini menguasai dunia pertarungan MMA di balik layar.Mereka adalah orang-orang yang mengatur segalanya dari hasil pertandingan, petarung mana yang boleh naik, siapa yang harus jatuh, hingga taruhan ilegal yang menghasilkan miliaran.Dan malam ini, mereka semua memiliki satu masalah yang sama.Yaitu atlet dari club Bla