Brakk!!!Mendadak pintu depan dibuka dengan sangat keras. Lalu pria paruh baya melangkah penuh kemarahan ke arah Miska.Dengan sebelah tangannya, pria itu langsung menyambar rambut Miska dan menyeretnya menuju depan rumah."Sini kau, Jalang! Kau apakan anakku? Kau menyuruhnya makan di luar sementara kau membeli makanan enak sendiri?" tanya pria itu dengan menarik rambut Miska lebih kuat lagi sehingga kepala Miska menengadah kesakitan."Dad, maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya," balas Miska dengan berurai air mata."Kau harus diberi pelajaran agar bersikap baik!"Sebelum ayah tiri Miska menyeret Miska keluar rumah untuk mempermalukan wanita itu, Marko segera menghentikannya."Jadi kau yang membuat tangan mulus Nona polisi yang cantik terluka?" tanya Marko menatap ayah tiri Miska tanpa takut.Pria paruh baya itu sangat jelek, persis seperti Kevin."Siapa kau?" Ayah tiri Miska mengerutkan dahinya. Dia lalu melirik Miska."Oh, sekarang kau sudah berani membawa pria ke rumah ya? Sepe
"Nona polisi yang cantik, bagaimana kalau ayah tirimu bangun nanti? Apa kau akan tetap tinggal di rumah ini?" tanya Marko khawatir. Mengingat kejadian barusan, rumah ini sudah tidak aman untuk Miska tinggal.Miska menatap Marko sambil menimbang-nimbang. Dia sekarang tidur telentang di bawah Marko dengan masih telanjang. Dia tadi sudah seks dengan Marko di sofa. Tapi, dia enggan untuk berpakaian."Sepertinya aku akan kost di dekat kantor polisi agar aku aman. Setelah ini aku akan memberesi barang-barangku," balas Miska setelah berpikir cukup lama.Marko berguling ke samping dan duduk di pinggir sofa. "Aku akan membantumu, Nona polisi yang cantik."Miska tersenyum. "Terima kasih, Marko."***Setelah mengantarkan dan menemani Miska mencari kost di dekat kantor polisi tempat wanita itu bekerja, Marko duduk merenung di bawah pohon besar.Dia kepikiran Kevin yang ingin mengajak Stella berkencan, tapi nyatanya pria itu justru berencana mengadakan pesta seks. Kevin sungguh licik! Dia pasti in
Selagi rumah kosong, Marko dan Wennie bisa melakukan seks dengan leluasa.Air kolam beriak pelan saat Wennie menyandarkan tubuhnya ke tepian. Kedua tangannya terentang ke belakang untuk menopang dirinya."Marko, apa kita akan melakukan seks di kolam?" tanya Wennie dengan menggigit bibir menahan gairah. Dia tadi sudah melakukan seks oral dengan Marko. Dia merasa senang karena berhasil membuat Marko mencapai klimaksnya dengan cepat.Marko berjalan mendekati Wennie. Tatapannya tak lepas dari payudara Wennie yang besar dan berisi. Senyum nakal terulas di bibirnya."Aku ingin mencoba gaya baru, Kak Wennie," tukas Marko melepaskan atasannya sehingga otot dada dan perutnya yang terbentuk sempurna tampak di mata Wennie.Tanpa peringatan, Marko menyelam ke bawah. Lalu dia muncul tepat di depan wajah Wennie. "Kak Wennie, kau pasti juga ingin mencoba hal yang baru kan?" bisik Marko ke telinga Wennie. Dia yakin Wennie sekarang menginginkannya. Wanita itu pasti tidak sabar dia gempur.Tangan Mark
Amber mengulas senyumnya melihat Marko. Dia belum mengenali Marko karena Marko memakai topeng hitam. Kalau sampai dia tahu lawannya adalah Marko, sudah pasti dirinya sangat malu. Mengingat pria itu pernah melihatnya kencing sembarangan.Sementara, Marko mendengus. Dia kira lawannya adalah seorang pria. Tapi, justru seorang wanita bertubuh mungil. Bagaimana dia harus melawannya? Baru kali ini Marko melawan seorang wanita!Gong sudah berbunyi beberapa detik yang lalu, tapi Marko masih berdiam. Dia berdiri di tengah arena yang sempit, lampu neon berkedip redup di atas mereka. Sorakan para penonton terus bergemuruh, memantul di dinding beton di sekitarnya.Marko kembali memfokuskan perhatiannya pada Amber yang berdiri di depannya penuh percaya diri."Ayo! Maju duluan!" tukas Amber tersenyum meremehkan. Amber lalu berucap lagi. "Kau sangat tidak seru, Kuda Hitam! Ayo maju! Jangan ragu! Aku bukan wanita lemah yang perlu kau kasihani!"Marko menggeram pelan. Dia tetap tidak bisa memukul Amb
"Kau bukannya pria yang ...." Amber tidak bisa melanjutkan ucapannya. Dia hanya terbelalak menatap Marko sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah pria itu.Marko mengulas senyumnya. "Mau aku bantu melepasnya, Nona?" ucapnya menawarkan bantuan saat tangan Amber tampak berusaha melepaskan kaitan branya.Amber bergeleng cepat-cepat. "Tidak perlu aku bisa melepaskannya sendiri."Sayangnya kaitan bra Amber justru tersangkut ikat rambutnya. Dia jadi kesulitan membuka kaitannya."Tapi, kaitan bramu berkata sebaliknya, Nona," tukas Marko mendekati Amber.Amber merasa aneh dengan dirinya. Padahal dia akan selalu memukul pria mana pun yang berani menyentuhnya. Tapi, sekarang dia justru menyerahkan tubuhnya pada Marko.Amber menurut saja saat Marko melepaskan kaitan branya secara perlahan. Benda berwarna merah itu lalu jatuh teronggok ke lantai."Terima kasih," ucap Amber malu. Dia menutupi payudaranya dengan kedua tangan. Payudaranya itu tetap terlihat sebagian karena miliknya sangat besar.
Marko tertegun sebentar melihat keberanian Amber. Wanita itu yang semula pemalu ternyata liar juga.Di belakang arena pertarungan bisa saja ada orang yang datang, tapi Amber sudah menanggalkan semua pakaiannya."Benar dugaanku. Kau pasti jijik melihat tubuhku seperti teman-temanku," ucap Amber saat Marko tidak langsung menyerangnya, padahal dia sudah telanjang sekarang.Marko buru-buru bergeleng sambil menelan ludahnya. "Bukan seperti itu, Nona. Aku hanya terkejut saja.""Aku sangat menyukai tubuhmu. Aku rasa tubuhmu sangat istimewa dan seksi," sambung Marko merasakan kejantanannya semakin meronta-ronta di balik celananya.Amber yang sebelumnya mengerucutkan bibirnya sedih, jadi mengulas senyum.Marko menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum dia meraih pinggang Amber. Untungnya tidak ada orang lain di sini. Sebelum para petarung yang lain ke sini, Marko harus melakukan seks duluan dengan Amber.Wanita itu sudah menyerahkan dirinya untuk Marko. Jadi, Marko tidak akan menyia-nyiakan kesempa
Marko membaca pesan misterius di hp jadulnya dengan senang, sambil menunggu Amber berpakaian lagi.[Selamat! Kekuatanmu bertambah].[Berhasil! Pembuktian diri].[Tantangan meniduri sepuluh wanita: Berjalan 55%].Marko lalu menyimpan hpnya lagi ke saku celana saat Amber sudah menghampirinya dengan pakaian lengkap."Sudah selesai, Nona?"Amber mengangguk. Lalu, dia menjulurkan kartu namanya ke depan Marko."Aku pelatih MMA wanita, dan aku mengenal beberapa pelatih MMA yang lain. Kalau kau tertarik bergabung datanglah ke tempat gym yang ada di kartu namaku," ucap Amber tersenyum."Aku berharap kau mau bergabung karena kau sangat berbakat. Sia-sia saja kalau kau hanya ikut pertarungan liar seperti ini tanpa memperlihatkan wajahmu yang tampan itu," sambung Amber. Dia mencium Marko sebelum dia pergi.Marko menatap kartu nama Amber dengan senang. Dia bisa kembali ke dunia MMA yang sangat dia rindukan.***Marko pulang membawa hadiah pertarungan seratus ribu dolar. Hadiah yang cukup besar!Sa
Rambut panjang Stella sedikit berantakan, kepalanya tertunduk dengan tangan masih memegang gelas minuman.Marko mengepalkan tangan erat-erat melihat keadaan Stella. Darahnya mendidih.Siapa pun yang berani menyentuh Stella, akan Marko habisi!Kevin memandang Marko dengan tersenyum mengejek. "Kau datang ke sini tanpa tahu situasinya, Marko. Kau kira kau pasti menang melawanku. Tapi, sekarang keadaan berbalik memihakku. Kau sendirian, sementara aku memiliki banyak teman."Semua teman Kevin menertawakan nasib Marko. Mereka mengira Marko lemah. Mereka tak tahu siapa sebenarnya yang akan mereka hadapi itu. Marko, sang petarung nomor 1!"Hahaha .... Dasar pecundang!""Kau akan jadi samsak kami malam ini!""Dia sok jadi pahlawan. Padahal dia akan jadi mangsa kita berikutnya."Marko tidak peduli cemoohan mereka. Sekarang pandangannya terfokus pada Kevin.Di depannya ada lima pria, lalu enam pria lain di baris berikutnya. Baru di baris paling belakang ada Kevin yang berdiri menatapnya sambil m
Seminggu kemudian. Marko Hubert dan Victor akhirnya bertemu untuk pertama kalinya di turnamen UFC. Meski, bagi Marko ini tidak benar-benar pertama kalinya.Marko Hubert kini berdiri di belakang panggung arena UFC, mengenakan celana pendek pertarungan hitam dengan garis emas di sisi. Tangannya telah dibalut dengan perban putih, siap untuk menghadapi tantangan terbesar dalam hidupnya. Victor.Sorakan dari ribuan penonton menggema di dalam arena. Lampu sorot menerangi oktagon di tengah stadion, sementara layar raksasa menampilkan wajah Marko dan Victor berdampingan.Di sisi lain ruangan, Victor tengah melakukan pemanasan, tubuhnya penuh dengan otot keras hasil latihan bertahun-tahun. Dia adalah juara bertahan, seorang petarung dengan rekor tak terkalahkan. Mata tajamnya menatap lurus ke arah layar, lalu beralih ke Marko yang berdiri di seberang lorong.Seorang official menghampiri mereka. "Saatnya masuk."Marko menarik napas panjang, lalu melangkah ke dalam lorong panjang yang akan memba
Marko berjalan dengan langkah mantap di antara mayat-mayat yang berserakan di markas Rio Davies. Tangannya masih berlumuran darah, tapi bukan darahnya sendiri, melainkan darah para lawannya yang telah dia habisi tanpa ampun. Tubuhnya terasa ringan, tidak ada luka yang berarti, meskipun dia baru saja menghadapi pasukan pembunuh bayaran terbaik yang dimiliki Rio Davies.Di gendongannya, Stella menggeliat pelan. Matanya yang masih sedikit sayu menatap wajah Marko dengan kebingungan."Marko, kau mau membawaku ke mana?" Suara Stella lemah, tapi masih terdengar jelas di tengah keheningan yang mencekam ini.Marko tidak langsung menjawab. Dia hanya mempererat genggamannya pada tubuh Stella dan terus berjalan keluar dari bangunan yang kini dipenuhi oleh mayat.Di luar, udara malam terasa dingin, berbeda dengan panasnya pertarungan brutal yang baru saja dia lalui. Bintang-bintang bertaburan di langit, seolah mengamati setiap langkahnya dengan diam.Marko menemukan sebuah mobil yang masih dalam
Dorrr!!!Peluru itu melesat cepat menuju kepala Marko.Rio Davies tersenyum penuh kemenangan.Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi.Clangg!!!Peluru itu mengenai kulit Marko, namun bukannya menembus, peluru itu justru terpental seolah menabrak baja yang tak terlihat.Mata Rio Davies membelalak. "Apa-apaan ini?!"Marko hanya tersenyum miring. Dia menurunkan kepalanya sedikit, menatap Rio dengan sorot mata dingin. Level legendanya membuat Marko mendapatkan kemampuan baru yang membuat dirinya tidak mempan ditembak ataupun ditusuk pisau.Rio menembak lagi.Dorr!!! Dorr!!! Dorrr!!!Satu, dua, tiga peluru ditembakkan, semuanya mengenai tubuh Marko.Namun, hasilnya sama.Peluru itu tak mampu melukai Marko."Bajingan!" Rio Davies melompat dari kursinya, menggertakkan giginya. Dia memutar badannya, memberikan kode dengan tangannya.Dari balik pintu samping, muncul delapan orang berpakaian hitam dengan wajah tanpa ekspresi.Mereka bukan anak buah biasa.Mereka adalah Shadow Unit, unit pembun
Malam ini. Angin bertiup kencang di sekitar pelabuhan tua. Markas Rio Davies berdiri megah di atas tanah luas yang menghadap langsung ke lautan hitam yang bergelombang. Bangunan beton itu lebih mirip benteng daripada gudang biasa, dengan penjagaan ketat di setiap sudutnya.Dari kejauhan, Marko bisa melihat para penjaga bersenjata mondar-mandir di sekitar gerbang. Mereka semua terlihat waspada, seolah tahu bahwa bahaya bisa datang kapan saja.Marko menarik napas dalam. Dia tahu bahwa menerobos ke dalam akan menjadi hal yang mustahil.Tapi Marko tidak perlu menerobos karena dia memiliki sesuatu yang mereka inginkan. Yaitu sertifikat pulau. Marko akan memancing Rio Davies menggunakan sertifikat itu.Dengan langkah mantap, Marko berjalan ke depan gerbang, sengaja membiarkan dirinya terlihat oleh para penjaga.Butuh waktu kurang dari sepuluh detik sebelum seseorang menyadari kehadirannya."Hei! Siapa yang di sana?! Pergi sebelum kutembak kepalamu!" Salah satu penjaga mengangkat senjatanya,
"Kau ...."Marko berdiri mematung melihat pria yang kini berdiri tegap di depannya.Jantung Marko berdegup semakin kencang, tapi tubuhnya terasa membeku.Di hadapannya seorang pria yang sama sekali tidak asing menatapnya dengan sorot mata tak terbaca. Pria itu adalah tubuhnya sendiri. Marko Davies.Jika sekarang Marko Davies yang sebenarnya berada di tubuh Marko Hubert. Lalu, siapa yang ada di dalam tubuhnya itu?Marko buru-buru bergeleng. "Tidak. Tidak mungkin," gumamnya tidak ingin percaya dengan apa yang ada di hadapannya.Pria di depan Marko itu mengulas senyum. "Apanya yang tidak mungkin?"Marko menatap tajam pria itu. "Siapa kau?! Kenapa kau memakai tubuhku, Sialan?!"Si pria tertawa kecil. "Padahal aku telah lama menunggu waktu bertemu denganmu. Tapi, reaksimu ini sungguh membuatku kecewa, Marko."Marko semakin geram. "Siapa kau, Keparat?! Bagaimana bisa kau memakai tubuhku?! Dan, apa yang kau lakukan di apartemenku?! Apa kau juga yang mengirimkan pesan misterius?!"Si pria ber
"Sialan!"Marko memukul setir mobilnya dengan geram. Mobil yang membawa Jake, Daniel, dan Arnold sudah menghilang di tengah lalu lintas.Dia telah kehilangan jejak mereka.Lalu lintas di kota begitu padat, membuat pengejarannya sia-sia. Rio Davies jelas sudah merencanakan semuanya dengan rapi. Pria itu sangat licik dan memiliki segala taktik untuk melancarkan keinginannya.Marko menarik napas panjang, menenangkan pikirannya. Tidak ada gunanya mengutuk keadaan. Dia harus bergerak cepat.Mata tajamnya menyapu jalanan yang dipenuhi mobil-mobil dan lampu kota yang berkedip. Jika dia tidak bisa mengejar mereka sekarang, dia harus mencari kelemahan lain dalam rencana Rio Davies.Dan ada satu hal yang muncul dalam pikirannya. Sertifikat pulau.Marko lalu berbalik arah, dan menginjak pedal gas. Mobilnya langsung melesat cepat ke arah apartemen milik Marko Davies. Itu adalah satu-satunya tempat yang memiliki sesuatu yang diinginkan Rio Davies selama bertahun-tahun.Sebuah sertifikat pulau yang
Dinginnya malam merayap ke dalam jaket Marko saat dia berdiri di depan kantor Stella. Matanya masih menatap tajam simbol ular melingkar di dinding luar gedung. Nafasnya berat, uap hangat keluar dari bibirnya saat amarah menggelegak di dadanya.Stella diculik orang-orang yang ada di organisasi mafia yang dipimpin oleh Rio Davies, raja mafia yang merupakan kerabat dekat Marko Davies. Nama Rio Davies dulu hanya sekadar legenda di dunia kriminal. Sebuah bayangan yang mengendalikan segalanya dari balik layar terutama di dunia MMA. Namun kini, bayangan itu merayap ke hidup Marko Hubert. Padahal Marko paling menghindari berurusan dengan Rio Davies.Jantung Marko berdebar kencang. Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Stella telah diculik, dan dia tahu ini bukan sekadar penculikan. Ini adalah perangkap.Rio Davies dan anak buah pria itu pasti ingin menarik Marko masuk ke perangkapnya dan membuat Marko tidak bisa lagi kembali ke dunia MMA. Seperti yang dulu terjadi
Di tengah malam yang dingin, sebuah limusin hitam meluncur melewati jalanan sepi. Mobil itu melaju ke arah sebuah bangunan besar di pusat kota yang tidak memiliki plang atau tanda identitas apa pun. Dari luar, gedung itu tampak seperti kantor biasa, tetapi di dalamnya adalah pusat kendali organisasi mafia terbesar di Amerika.Di lantai paling atas, terdapat sebuah ruangan eksklusif dengan pemandangan langsung ke arah kota. Ruangan itu luas, dengan kaca besar yang mencerminkan cahaya lampu kota di kejauhan. Sebuah meja panjang dari kayu hitam berdiri megah di tengah ruangan, dikelilingi oleh kursi kulit mahal.Di ujung meja, seorang pria duduk dengan tenang. Rio Davies.Sosok itu adalah Don, pemimpin tertinggi mafia di seluruh Amerika Serikat. Dia mengenakan setelan hitam yang sempurna, rambutnya rapi, dengan wajah yang dingin tanpa ekspresi. Di tangannya ada sebuah cincin emas dengan lambang keluarga Davies, simbol kekuasaannya.Di hadapannya, Vladimir Ivanov berdiri dengan penuh horm
Kemenangan Marko membuat para petinggi MMA sedikit terusik. Mereka segera melakukan pertemuan khusus untuk membahas atlet bernama Marko Hubert itu.Suasana mencekam di sebuah ruangan eksklusif, tempat para petinggi MMA berkumpul.Ruangan itu luas, dengan desain klasik yang dipenuhi ornamen kayu mahal. Lampu gantung kristal menggantung di langit-langit, menciptakan pencahayaan redup yang menambah kesan eksklusif dan rahasia. Asap rokok melayang di udara, menciptakan atmosfer yang berat dan menekan.Di tengah ruangan, sebuah meja panjang dari kayu mahoni berdiri megah, dikelilingi oleh beberapa pria berjas hitam. Mereka bukan sembarang orang. Mereka adalah mafia yang selama ini menguasai dunia pertarungan MMA di balik layar.Mereka adalah orang-orang yang mengatur segalanya dari hasil pertandingan, petarung mana yang boleh naik, siapa yang harus jatuh, hingga taruhan ilegal yang menghasilkan miliaran.Dan malam ini, mereka semua memiliki satu masalah yang sama.Yaitu atlet dari club Bla