LOGINA darkness is coming, and it’s the same darkness that took Amy’s husband. Now it wants her son. A merciless, bloodthirsty hitman who has a dark secret will target the former actress and MMA fighter. She will also have to deal with a bomb, a terrorist group called the Infantry-men, and an evil version of herself. Will a mother uncover the truth behind her husband’s disappearance? Will she die herself while trying to find out what happened to the love of her life? Amy needs to survive the night so she can protect her son while searching for her husband. The clock is ticking, and the mother will have to protect her only baby from a dark and malevolent force that seeks to annihilate everything in its path.
View MoreSeorang wanita berambut merah ikal panjang, memakai baju berwarna putih semata kaki dengan ciri khasnya dari abad 19. Dia duduk di teras sambil memandang kedua anak kembarnya. Mereka bermain di halaman rumahnya yang di penuhi bunga dengan rumput hijau yang lumayan lebat. Rumah indah milik mereka di tengah hutan yang dikelilingi pagar kayu dengan tanaman rambat dan buah plum.
Wanita itu tersenyum senang melihat kedua anaknya berlari-lari sambil tertawa. Mereka anak kembar laki-laki dan perempuan. Yang mencolok dari mereka adalah rambut mereka sama-sama merah menyala dan ikal. Dengan riang gembira mereka masih saja menikmati hari yang tampak cerah. Langkah mereka terhenti saat tiba-tiba awan biru yang tepat berada di atas rumah mereka berubah menjadi hitam. Suara guntur menggelegar dengan kerasnya. Anehnya awan hitam itu hanya berada di atas rumah mereka.
"Anak-anak kemarilah!" Wanita itu segera menarik mereka hingga berada dibelakangnya.
"Pasti ini ulah Ania. Keluar kau Ania! Kau tidak akan pernah bisa mendapatkan keinginannmu!" teriak wanita itu.
Dalam waktu singkat, muncul seorang wanita dengan tiba-tiba di depan mereka. Wanita yang dipanggil Ania itu, berambut putih panjang dengan kulit putih dan mata yang berwarna biru. Bajunya sangat indah menandakan dia seorang bangsawan.
"Hai, Dansi adikku tersayang. Kenapa kau terlihat ketakutan setiap kali melihatku? Aku hanya ingin mengunjungimu saja," ucap Ania dengan tersenyum, namun wajahnya kaku. Senyuman paksaan terlihat jelas di wajahnya.
"Aku tahu apa yang kau inginkan. Kau tidak akan pernah bisa mendapatkannya. Ini adalah warisanku, dan seperti ibu kita, aku hanya akan memberikannya kepada penerusku ,” katanya pelan namun tegas. Ania semakin menatapnya datar. Ania menahan amarah yang akhirnya di keluarkan.
"Diam kau! Seharusnya aku yang mendapatkan warisan itu, bukan kau. Aku anak pertama dan telah menjadi ratu di negeri ini menggantikan ibu. Kau, harus memberikannya kepadaku!" ucapnya tegas membuat Dansi mengernyit.
"Ibu memilihku dan bukan kau. Jika kau memilikinya, maka dunia akan hancur karena ketamakanmu. Kita sama-sama tahu bagaimana kau bisa menjadi ratu pengganti ibu. Yaitu dengan kelicikanmu.” Dansi mengarahkan telunjuknya tepat ke wajah Ania.
"Ibu adalah ratu sihir terkuat. Sudah jelas aku yang akan menjadi penerus kekuatannya, bukan kau. Berikan padaku!" perintah Ania tegas.
"Tidak akan pernah,” tolak Dansi dalam marah.
"Kalo begitu hanya ada satu cara. Kau harus mati ditanganku. Hiya!"
Ania menaikkan kedua tangannya dan membuat awan hitam semakin pekat sekaligus menggumpal. Suara halilintar menggema kemudian menyambar rumah Dansi hingga hancur.
"Duar, duar!"
Dansi menggunakan kekuatannya untuk membuat Ania tidak bisa bergerak untuk beberapa saat.
"Mematung,"
ucap Dansi pelan dan dengan cepat mengarahkan tangannya ke Ania yang berjalan kearahnya. Jari Dansi mengeluarkan angin yang berhembus cepat. Ania yang tak mengetahui kemajuan kesaktian adiknya menjadi terkejut saat tiba-tiba tubuhnya mematung.
Dansi segera menarik anak-anaknya berlari ke hutan. Mereka bersembunyi di balik pohon besar yang rindang."Ben, Jen, kalian harus pergi dari sini!" perintah Dansi. Kedua anak kembarnya menatapnya dengan gelisah.
"Ibu, apa kita akan ke kota?"
"Tidak Ben, kalian harus pergi dari jaman ini ke waktu yang lain. Ibu akan menggunakan magic book warisan dari nenek kalian. Kini buku ini ibu wariskan kepada Jen karena dia perempuan. Kau harus menjadi penjaganya. Ingatlah, dalam segala kehidupan kalian ditakdirkan bersama! Kelak, di kehidupan mendatang, keturunan kalian akan bertemu kembali dan menjadi penerus kalian. Jen, kau adalah pewaris. Ben, kau adalah pelindung.”
Jen bersama Ben mendengarkan penjelasan Dansi dengan serius.
“Saat Ibu membuka pintu portal, segera masuk dan hiduplah dengan baik!"
Dansi mengambil kalung yang dipakai Jen. Dia membuka gembok buku bersampul kulit bewarna coklat dengan lambang gambar ratu ditengahnya menggunakan bandul kalung itu. Dansi mengusapkan jarinya ke halaman buku yang pertama dan tiba-tiba muncul tulisan kuno. Dansi membacanya dengan lantang dalam bahasa kuno. Hembusan angin seolah berbalik mengarah padanya. Angin itu berputar-putar mengelilingi tubuhnya dan mengarah sesuai jari telunjuk Dansi. Kumpulan angin itu kembali berputar membentuk lingkaran api yang menyala.
"Ibu, kami tidak mau meninggalkan Ibu," rengek Jen.
"Kalian harus saling menjaga! Ibu akan menuntun di setiap mimpimu." Dansi mengembalikan kalung ke leher Jen. Dia memberikan buku itu. Jen memasukkannya ke dalam bajunya sambil menangis.
"Kelak kau juga harus memberikan warisan Ibu kepada keturunanmu yang perempuan. Buku itu yang akan memilih sendiri ratunya. Jagalah selalu warisan ibu dengan aman atau dunia dimanapun kalian berada nanti akan binasa jika buku itu berada ditangan yang salah! Sekarang pergilah kalian!"
Ben bersama Jen masuk ke dalam lingkaran portal dengan tangisan perpisahan. Dansi, pun menangis dan terus menatap kedua anaknya hingga portal hendak menutup.
Ania akhirnya bisa kembali menggerakkan tubuhnya dan menuju hutan. Ania melihat Dansi mencoba membuat anak-anaknya kabur."Tidak akan kubiarkan."
Pisau emas terlempar sangat cepat dengan tiba-tiba di belakang Dansi yang sama sekali tidak dia duga. Pisau itu mengarah ke tubuh Jen. Ben yang melihat pisau hendak mengenai adiknya, dengan segera menghalanginya. Dia melompat dari portal hingga pisau itu menancap ke jantungnya.
"Argh!" teriak Ben.
"Tidak. Ben!" Dansi berlari kearah Ben dan mengarahkan kekuatannya untuk membuat pelindung di depan portal hingga tidak ada yang bisa menembusnya.
"Tameng," ucap Dansi kembali mengarahkan tangannya ke arah portal. Tiba-tiba angin mengumpul dan menjadi tameng di depan pintu portal. Angin itu menghembus siapa saja yang berusaha menembusnya tak terkecuali Ania.
Pintu portal tertutup dengan meninggalkan kenangan wajah Jen yang menangis. Jen berada di jaman yang hanya berbeda beberapa tahun dari yang sebelumnya. Dansi sengaja tak membuka dimensi waktu terlalu jauh agar Jen mudah beradaptasi.
"Sial. Akan aku hancurkan kau Dansi."
Ania sangat marah. Kedua matanya menatap tajam, mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk melawan Dansi. Dansi meletakkan tubuh Ben untuk melawan Ania. Kekuatan Dansi adalah pengendali angin. Seluruh angin tertarik ke kedua tangannya, menjadi cahaya putih yang menyilaukan. Dansi melirik ke arah tubuh Ben yang tidak bergerak.
"Ibu akan segera menyusulmu, Ben."
Dansi mengeluarkan seluruh kekuatannya dan mengarahkan ke Ania. Ania yang telah menyalakan kedua tangannya dengan kekuatan petir, segera mengarahkan ke Dansi sehingga kedua kekuatan hebat itu saling bertemu dan mengadu. Kedua tangan mereka saling menahan serangan masing-masing.
"Hiya!" Mata Dansi yang coklat menjadi abu-abu menandakan kekuatannya keluar dengan sempurna.
"Kenapa dia menjadi semakin kuat? Apa karena buku itu? Aku tidak boleh kalah." Ania semakin mengeluarkan halilintarnya yang terus mengarah ke tubuh Dansi. Namun, angin disekitar tubuh Dansi menghalanginya hingga halilintar itu meledak di udara.
"Duar, duar!"
"Aku harus membuat Ania tak lagi bisa mengejar Jen. Dia harus kalah. Dansi menutup matanya dan melepaskan senjata terkuatnya yang bisa mengakhiri nyawanya.
"Ini untukmu, Ben. Dan untuk keselamatanmu, Jen."
Dansi melompat ke udara dan mengeluarkan cahaya putih yang sinarnya mengalahkan kekuatan petir dari Ania.
"Tidak!" teriak Ania saat terlempar ke atas. Masih melayang di udara, Dansi menepuk kedua tangannya hingga suaranya seperti ledakan menggema.
"Duar!"
Tepukan tangannya mengeluarkan sinar yang membuat Ania hancur menjadi kerikil-kerikil.
"Argh!" jeritan Ania semakin lama semakin memudar.
Dansi terlihat lemas di udara dan terjatuh ke tanah tepat di sebelah Ben.
Dengan sisa tenaga, Dansi menyentuh tangan Ben dan akhirnya menutup mata untuk selamanya.Diantara semak-semak, muncul pelayan Ania yang segera mengumpulkan kerikil-kerikil tubuhnya dan membawanya pergi dari tempat itu.
"Aku akan membangkitkanmu kembali, Ratu Ania," ucap pelayan wanita itu yang segera pergi menjauh.
Setelah beberapa menit, tubuh Dansi memudar menjadi debu. Debu itu berputar-putar menjadi angin yang bersinar. Nampak arwah Dansi melayang memandang arwah Ben yang berdiri sebelah tubuhnya.
"Ben, kau harus hidup! Ibu akan memberikan kekuatan ruh ibu kepadamu. Ingatlah, kau sang penjaga! Tugasmu adalah melindungi pewaris magic book. Carilah dia di segala kehidupan! Ibu akan menuntunmu nanti."
Dansi meniupkan angin berkerlip ke tubuh Ben dan ruh Ben segera kembali masuk ke dalam tubuhnya. Pisau berukiran emas yang menancap di jantungnya tiba-tiba terlepas.
"Ibu," ucap Ben tersedu. Ben mengambil pisau disampingnya dan berdiri.
Amy didn’t realize that she was moving her high heel sandals closer to the door. Her feet made subtle movements and every time she’d take a deep breath, her feet would slide closer to the exit. “I created an evil drug lord, masking herself as a CEO. Irena Jenkins was my creation. Did you like her name, Princess Death Row? I thought it would be clever to give you an evil twin who was a drug dealer. I also created monsters inside the game like the albino shape-shifting people who I called the Orexecons and the Boneseeker Men.” The gunman paused for a second, admiring his words again, and waiting for the time to seize his moment. Amy’s back was close to the door. She had both of her hands guarding her baby bump. Something was wrong, and Amy could sense it. “I put myself in the game. Did you know that?” The gunman raised his eyebrows while smirking. “My character inside the game was a transgender hitman who had a female personality named Ch
The gunman awoke from his trance when the hospital room’s door opened. His dead eyes brightened when he saw Amy step into the room, with Agent Jane and Agent Vernon behind her. “I knew you’d win the game! My God, you’re so beautiful! I wish I could make you my wife!” The gunman spoke to Amy with a twisted zeal in his deep voice. His lustful eyes scanned the pregnant mother’s body from head to toe. Amy didn’t speak to the gunman. She stood at a safe distance from him while protectively keeping her hands over her belly. When Amy walked into the room, her inner voice told her it was a bad idea. The ignited flame grew brighter when Amy looked around and saw Agent Drake and Agent James. She placed her hand over her mouth after walking up to Agent James and seeing the damage to his face. “I know it looks bad, but I’ll be fine.” Agent James told Amy. He watched as she gazed up at him with a burning concern in her eyes. Amy bit her bottom lip a
Amy approached Jamal and his mom. Rashonda was sitting on the hospital bed, holding her three-year-old son in her lap. The young woman slowly lifted her watery eyes to see Amy standing in front of her. “Hi, I’m that pregnant lady who everybody keeps telling you about,” Amy told Rashonda through a suppressed giggle. She stood still in front of Rashonda, wanting to embrace the mother. Amy watched as Rashonda’s eyes brightened and she almost fell over when Rashonda leaped up from the bed and hugged her. “Thank you,” Rashonda whispered to Amy through her tears. She wanted to hug Amy tighter, but she couldn’t do that with her son in her arms. “He’s beautiful,” Amy said, resting her gaze on Jamal, who was looking back up at her through his angelic, curious eyes. “Hi, beautiful.” Amy cooed at the little boy when he smiled up at her. “Hi.” Jamal waved his little hand at Amy with his other hand stuck in his mouth. “I saw you earl
FBI Agent Hernandez tried to wake Amy when he heard loud beeping emitting from the virtual reality goggles on her face. The agent jumped back, and he almost fell on his butt when Amy leaped forward suddenly. The young man tried to calm Amy down when she swung her fists at him and started screaming. Agent Hernandez grabbed Amy, keeping her in a tight embrace with one arm while ripping off her VR goggles. Agent Hernandez wasn’t the only one inside the hospital room. There were four nurses inside the room, surrounding Amy. Amy struck one nurse in her face when she tried to grab her. She stood inside a laser square that was right next to her hospital bed. The red laser square was a proximity indicator for the video game, and no one could step inside the proximity indicator while Amy played the game. Amy wore a flesh-colored ventilated haptic feedback suit beneath her low-cut denim dress. The skin-tight suit didn’t feel uncomfortable beneath Amy’s d
It was eight o’clock at night. Gregg, his wife Patricia, and their little girl Samantha were all eating dinner at the dining room table. While Gregg was enjoying his dinner with his wife and daughter, he was telling them how terrible he still felt over spilling coffee on a man earlier in the day.
Amy had regrets. All she wanted was to hold her baby again, and she was mad at herself for not protecting him. Amy remembered how she contemplated suicide after having a miscarriage. She assumed she would never have another baby. She felt too ashamed to tell her husband that attempting to kill he
This was how 2Pac killed most of his victims. He would do it efficiently and cleanly so that the prisoners wouldn’t suffer. The fighting tournaments were planned for elaborate executions and 2Pac was Princess Death Row’s executioner. Disguising an execution as a fighting tournament gave a lot of
“Come on, Pac, I know you can hit me harder than that! You hit like a pussy!” Mark trash-talked the robot as he struggled to use his suit’s mechanical strength to block 2Pac’s hammering blows. Mark got 2Pac off of him when he blasted the cybernetic man in the face with his machine gun. Sp




![The Merc[A Reason To Kill]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews