"Kau terlambat cukup lama, Hanna! Bu Indira sudah menunggumu sejak tadi," seru Susan begitu Hanna tiba di mejanya. Hanna menahan napas, jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tahu Indira pasti marah besar. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Ia butuh waktu untuk dirinya sendiri. Butuh waktu untuk bernapas tanpa tekanan. "Aku sudah memberitahunya kalau aku akan datang terlambat, Susan." Susan menggeleng. "Tapi sejak dia datang pagi tadi, dia sudah menanyakanmu dua kali. Jangan sampai ada yang ketiga, Hanna!" Hanna mengembuskan napas panjang, sebelum akhirnya berjalan masuk ke ruang kerja Indira. Suasana pun seketika tegang saat Hanna menatap wajah Indira yang sama sekali sedang tidak ramah itu. Indira duduk di balik meja kerja, tatapan dinginnya langsung menusuk Hanna. "Selamat pagi, Bu Indira." Suara Hanna terdengar lemah, tetapi tetap berusaha sopan. "Aku masuk terlambat karena harus bicara dengan dokter adikku tadi." Indira tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap Hanna dengan t
Louis membeku. Matanya melebar, menatap Hanna dengan keterkejutan yang sulit ia sembunyikan. Tetapi hanya sesaat. Sedetik kemudian, ia tertawa sinis. "Kau memintaku menidurimu?" Suaranya penuh cemooh, matanya menyipit tajam. "Kau benar-benar tidak tahu diri, Hanna!" Hanna menelan salivanya, tapi ia tetap tidak mundur. "Apa yang salah, Pak?" suaranya bergetar. "Aku istri Anda juga, kan? Aku ... aku juga butuh nafkah batin. Aku mau ... hamil anak Anda." Tangannya mengepal, dadanya bergemuruh oleh emosi yang bercampur aduk, takut, malu, tapi juga penuh tekad. Louis menatap Hanna lebih lama kali ini, sebelum ia kembali tertawa, lebih keras dari sebelumnya. "Istri? Nafkah batin?" Louis mendekat, matanya berkilat tajam. "Minta sana pada pria lain!" Hanna tersentak. "Aku tidak bisa melakukannya! Suamiku adalah Anda, bukan pria lain!" Louis makin frustasi. "Bisakah kau keluar sekarang dan tidak mengatakan omong kosong, hah? Aku sedang lelah dan aku tidak mau diganggu, jadi keluar
"Akhh! Hentikan, Pak!" Hanna menggigil di dalam bathtub. Guyuran shower yang deras dengan air dingin benar-benar menyerang wajah dan tubuhnya tanpa henti. Rasanya cukup menyakitkan dan Hanna tidak bisa membuka matanya. Rambut Hanna basah dan menempel ke wajahnya. Sungguh, Hanna merasa seperti tikus got saat ini. Namun, Louis tidak menghentikan sama sekali serangannya, seolah menyiksa Hanna begitu menyenangkan untuknya."Pak Louis … tolong … cukup!" Suara Hanna meninggi, tapi tetap teredam oleh suara air yang menghantam body bathtub. Louis berdiri di sampingnya, menatap tanpa ekspresi. Ia membiarkan keheningan menggantung, sebelum akhirnya menutup shower dengan satu gerakan cepat.Hanna menghela napas lega, tapi tubuhnya masih bergetar. "Bagaimana? Jadi otakmu sudah waras sekarang, hmm?" seru Louis tetap dengan sinis. Hanna menenangkan napasnya yang tidak beraturan, sebelum ia menatap Louis dengan berani. "Meminta nafkah batin bukan suatu ketidakwarasan, Pak! Bagaimanapun aku ju
Louis menghela napas lega begitu memasuki ruangan Indira. Sejak tadi, ia mati-matian menahan diri untuk tidak melirik Hanna di luar, walaupun ia sendiri tidak mengerti mengapa ia melakukannya. Louis hanya kesal luar biasa karena Hanna telah merusak tidurnya semalam. Setelah melihat tubuh polos Hanna, Louis pun mendadak on terus sepanjang malam. Hasrat yang tidak tersalurkan membuat kepalanya berdenyut sampai Louis mencoba menyalurkannya dengan membayangkan istrinya yang seksi, tapi gagal total.Dan saat pikirannya tanpa sadar kembali ke Hanna, tubuhnya langsung bereaksi.Namun, harga dirinya tidak mengijinkan ia melampiaskan hasratnya sambil memikirkan wanita itu. Louis lebih rela tersiksa daripada harus mengakui dampak Hanna terhadap dirinya."Louis? Sayang?" Suara Indira terdengar saat Louis masih berkutat dengan lamunannya. "Ah, iya, Sayang?" "Duduklah! Mengapa kau berdiri terus?" Indira dan kedua temannya sudah duduk di ruang kerja Indira, hanya Louis yang masih berdiri. "H
"Ma? Halo, Ma?" Louis sudah menghentikan mobilnya di parkiran rumah sakit saat Sena meneleponnya. Ia pun mengangkatnya dan mereka baru saja berbicara sebentar saat tiba-tiba Sena memekik tertahan lalu Sena tidak bicara lagi. Louis mendadak panik. Jantungnya memacu kencang memikirkan apa yang terjadi pada ibunya itu. "Sial! Ada apa di lobby?" geram Louis yang langsung keluar dari mobilnya dan berlari ke lobby rumah sakit. Dengan cepat, Louis pun bisa melihat Sena sedang berdiri memunggunginya tidak jauh dari lift. "Ma!" panggil Louis yang membuat Sena sontak menoleh. Namun, langkah Louis seketika melambat saat ia melihat Sena tidak sendiri, melainkan bersama seorang wanita yang saat ini sangat ia benci. Hanna sendiri juga sudah membelalak tidak percaya menatap Louis di sana. Bagaimana bisa ada kebetulan yang seperti ini? Dan apa? Ma? Apa mungkin wanita yang Hanna tolong adalah ibunya Louis? Hanna sendiri sudah sering melihat orang tua Indira selama satu tahun bekerja bersama b
"Ini fried chickennya!" Hanna masuk ke kamar Gio dengan tawa sumringahnya dan Gio pun langsung menyambut Hanna dengan antusias. "Akhirnya Kak Hanna datang, Gio sudah lapar." "Haha, maaf ya, Kakak lama. Tapi ayo sapa Uncle Dokter dulu!" sahut Hanna yang masuk bersama Martin. "Eh, ada Uncle Dokter. Sstt!" Gio meletakkan telunjuk di depan bibirnya. Hanna menaikkan alisnya. "Ada apa?" "Kata Suster, jangan sampai Uncle Dokter tahu kalau Gio makan fried chicken. Tidak boleh katanya," bisik Gio dengan suara yang cukup keras sampai Martin tergelak mendengarnya. "Kalau sedikit dan jarang-jarang tidak apa, Gio." "Gio sudah lama tidak makan fried chicken karena tidak boleh sama Kak Hanna," lapor Gio. "Fried chicken tidak terlalu baik untuk kesehatanmu, jadi turuti apa kata kakakmu ya!" Martin melirik Hanna singkat. Hanna pun tersenyum dan mengangguk. "Aku tahu dia tidak boleh makan banyak-banyak, Dokter. Tenang saja!" "Ya, lemak jenuh dan tinggi kolesterol tidak baik untuk jantungnya.
"Astaga, Louis! Kau baik-baik saja?" Sena tersentak kaget saat ia terkena sedikit semburan air dari mulut Louis. "Uhuk ... uhuk ... ya ampun, maafkan aku, Ma. Aku tersedak!" "Hati-hati minumnya!" Sena menepuk ringan punggung anaknya itu. Louis mengembuskan napas, berusaha menenangkan dirinya, sebelum detik berikutnya, ia langsung mengomel dengan ekspresi kesal."Mama bercanda kan? Yang benar saja! Jangan gila menjodohkan Samuel dengan Hanna! Mereka sama sekali tidak cocok!" seru Louis menggebu. Sena mengerjapkan matanya kaget melihat anaknya begitu sewot. "Ada apa denganmu, Louis? Mendadak kau begitu menggebu!" "Bukan menggebu, tapi Hanna itu bukan wanita baik, Ma. Aku peduli pada Samuel dan aku tidak akan mengijinkan dia menjalin hubungan dengan wanita mura ...." Louis terdiam sejenak, sebelum ia meralat ucapannya. "Maksudku wanita seperti Hanna!" "Wanita seperti apa maksudmu, Louis?" "Itu ... pokoknya bukan wanita baik, Ma! Jangan membahasnya lagi!" Untuk sejenak, Sena kem
Hanna masih menahan napasnya sejenak, tidak percaya bahwa setiap scene bertatapan dengan Louis selalu bisa membiusnya. Tapi nyatanya itulah yang terjadi, bahkan ketampanan pria itu membuat debar jantung Hanna tidak pernah normal. Louis sendiri ikut terpaku. Setiap menatap bibir Hanna, saklar di tubuhnya mendadak on dan ia membenci dirinya sendiri karena itu. "Sampai kapan kau mau menatapku, hah? Perutku sakit dan aku kedinginan!" seru Louis tiba-tiba, tepat di depan wajah Hanna. Suara itu tidak meninggi seperti biasanya, walaupun jelas ini adalah nada perintah. "Ah, maafkan aku, Pak," sahut Hanna canggung. "Ck, sudahlah, aku bisa sendiri!" Baru saja Hanna akan menurunkan kaos itu, tapi Louis sudah mengambil alih dan menurunkan kaosnya sendiri menutupi tubuhnya. "Ah, harusnya aku tidak melewatkan makan malamku," gumam Louis saat rasa tidak nyaman di perutnya kembali terasa. Hanna mengerjapkan matanya. "Kalau sudah tahu Anda bisa sakit kalau melewatkan makan malam, mengap
Setelah berjam-jam menunggu dengan perasaan cemas, akhirnya Hanna diijinkan menemui Gio yang sudah mulai sadar di ruang ICU menjelang malam itu. "Ayo, Hanna. Kita ke sana," ajak Martin yang juga setia di rumah sakit sampai malam.Martin punya kesibukan lain dan jam praktik, tapi ia tetap menemani saat Gio sadar. Hanna pun langsung masuk ke ruangan Gio dan ia melihat tubuh kecil Gio yang terbaring lemah di atas ranjang dengan berbagai alat medis terpasang di tubuhnya. Selang oksigen masih menutupi wajah mungilnya, tapi yang paling penting adalah Gio hidup. Gio selamat."Gio ...." Suara Hanna bergetar saat ia mendekat dan menggenggam tangan adiknya dengan hati-hati. "Kakak menunggu sejak tadi, Sayang." Martin berdiri di sampingnya dan menepuk bahu Hanna pelan. "Gio dalam keadaan stabil sekarang. Semuanya baik, walaupun ini masih dalam proses pemantauan ketat."Hanna mengangguk cepat, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. "Terima kasih, Dokter! Terima kasih!" Martin ikut mengangguk d
"Kau yakin tidak apa meninggalkan bosmu seperti itu, Hanna?" Martin dan Hanna sudah duduk berdua di kantin rumah sakit. Awalnya Martin sungkan mengajak Hanna makan hanya di "kantin," tapi ia masih punya tanggung jawab yang tidak bisa ia tinggalkan lama-lama. Hanna, yang sejak awal tidak ingin meninggalkan rumah sakit, merasa cukup lega bisa makan dengan tenang di kantin rumah sakit yang sederhana ini. Setidaknya, ia tidak merasa terlalu terikat dengan suasana formal."Ah, tidak apa, Dokter," jawab Hanna, mencoba terdengar santai. "Seperti yang kubilang tadi, dia ... hanya mampir. Dia juga buru-buru.""Begitu ya?" Martin menyimpulkan sambil mengunyah. "Tapi dia bos yang sangat baik, Hanna. Masih sempat mampir di tengah kesibukannya. Kau beruntung punya bos seperti itu."Hanna memaksakan senyuman, tapi hatinya terasa berat. Martin terus saja memberikan pujian, yang sepertinya tak ada habisnya."Dia peduli pada karyawannya," lanjut Martin tanpa menyadari ketegangan yang mulai dirasakan
"Ke mana kita ini? Sepertinya salah jalan!" "Haha, ini menuju ruang operasi!" "Ya ampun, benar-benar salah jalan." Linda dan temannya baru saja akan menjenguk orang di rumah sakit saat mereka salah jalan dan malah melangkah ke arah ruang operasi. Mereka pun berniat berbalik arah saat Linda melihat seseorang yang familiar di depan ruang tunggu operasi. "Eh, itu seperti menantuku, siapa yang bersamanya itu?" seru Linda yang posisinya tidak terlalu jauh dari Louis. Linda bisa melihat Louis yang sedang menghampiri seorang wanita dan memberikan sesuatu untuk wanita itu. "Siapa? Louis Sagala suami Indira itu?" tanya temannya. Linda berdecak. "Ck, anakku hanya satu, menantuku ya jelas hanya satu juga!" "Ah, kau tidak menghitung istri Joseph ya." "Cih, dia bukan anakku! Tapi ayo kita sapa dia dulu!" Baru saja Linda melangkah mendekati Louis dan berniat menyapanya, tapi sedetik kemudian, ia menghentikan langkahnya saat ia mengenali wanita yang bersama Louis. "Ya Tuhan, itu kan Han
Louis masih terdiam menatap Hanna. Sekalipun ia kesal pada penolakan Hanna, nyatanya kemarahan wanita itu tidak membuatnya mundur."Kau benar-benar keras kepala, Hanna! Dengar ya! Aku di sini bukan untuk bertengkar denganmu, aku membawakanmu makanan, jadi lebih baik kau makan dengan patuh saja!" "Ini bukan di kantor, mengapa aku harus menuruti Anda? Aku tidak mau makan!" "Sial, Hanna! Bisakah kau tidak membantahku? Kau belum makan sejak tadi, kau mau adikmu sembuh tapi kau yang sakit, hah? Apa susahnya menerima makanan dariku?" Tatapan Hanna goyah menatap Louis, ia tidak mengerti apa yang sedang Louis lakukan sekarang, marah tapi juga seolah peduli padanya. "Bisakah Anda tidak usah berpura-pura peduli padaku, Pak? Aku ini hanya pembohong dan wanita murahan, aku makan atau tidak, itu tidak ada hubungannya dengan Anda!" Louis kehabisan kata-kata. Ada apa dengan wanita itu yang mendadak mengaum seperti singa dan terus mengungkit kesalahan Louis? Namun, Louis juga tidak akan merenda
"Hanna, bagaimana?" Suara Susan yang berlari di koridor membuat Hanna menoleh. Hanna langsung tersenyum melihat sahabatnya di sana. "Susan!" Susan buru-buru ke rumah sakit begitu jam istirahat tiba agar ia bisa menjenguk Gio yang dioperasi, tapi ternyata operasinya belum selesai. "Bagaimana di dalam?" tanya Susan yang sudah duduk di samping Hanna. "Aku belum tahu, operasinya belum selesai padahal ini sudah tiga jam berlalu. Aku sampai tidak bisa bernapas lega." "Oh, sabar, Hanna! Semuanya akan baik-baik saja, aku yakin itu." "Terima kasih, Susan." "Tapi apa kau sudah makan? Ayo kita makan bersama!" Hanna menggeleng. "Aku tidak bisa makan. Perutku mual dan aku sama sekali tidak lapar. Aku terlalu tegang, Susan." Susan mendesah. "Ya ampun, aku paham, Hanna. Tapi kau harus makan sedikit, kau bisa lemas kalau seperti ini!" "Nanti saja! Aku mau menunggu dokter keluar." Susan terdiam sejenak sebelum bertanya, "Berapa lama seharusnya operasinya berlangsung?" "Empat sampai enam j
Hanna menggenggam tangan Gio erat saat para perawat mendorong ranjang rumah sakit ke arah ruang operasi pagi itu. Hanna melangkah di sampingnya. Tubuh kecil itu terbaring dengan wajah tegang. Hanna sendiri juga tegang, tapi sebisa mungkin, Hanna menenangkan adiknya itu. "Kak Hanna ...." Suara Gio lirih dan bergetar. "Jangan takut ya, Sayang. Ada Uncle Dokter yang akan menjaga Gio di dalam." "Kak Hanna boleh ikut masuk saja? Temani Gio ...." "Tidak bisa, Sayang." Mata Hanna memanas. "Kakak tidak boleh masuk ke ruang operasi, tapi semuanya akan baik-baik saja ya." Air mata Hanna sudah mau jatuh, tapi Hanna menahannya. Mengantar adiknya yang masih kecil ke ruang operasi sangat mematahkan hatinya. Tidak ada yang bisa memastikan apa yang akan terjadi di dalam ruang operasi nanti, apalagi yang dioperasi adalah jantung Gio. Tapi hanya ini satu-satunya jalan untuk Gio bisa bertahan. Selama di rumah sakit sendiri, kondisi Gio naik turun, dan Hanna percaya ini yang terbaik.Hanna pun sud
"Eh, mana Hanna?" Samuel dan Louis akhirnya keluar dari ruang kerja menjelang siang itu dan Samuel pun langsung mencari Hanna di meja Refi. Baru saja Refi akan menjawabnya, tapi Louis sudah menyelanya duluan. "Untuk apa kau mencarinya, Samuel? Itu tidak penting!" geram Louis. "Tidak ada, hanya ingin menyapanya saja. Tapi apa kau sadar kalau kau sangat aneh, Kak? Sejak kemarin kau aneh, sekarang pun kau aneh. Memangnya ada apa dengan Hanna sampai kau terlihat sangat membencinya?" Louis mengembuskan napas panjangnya. "Siapa yang membencinya? Jangan berpikir yang tidak-tidak!" "Haha, benarkah? Mama sangat menyukainya, Kak." "Ck, Mama baru bertemu dengannya satu kali, Mama belum mengenalnya. Kita tidak boleh melihat orang dari penampilannya saja!" "Apa maksudnya?" "Tidak ada! Tapi ayolah, kita makan siang bersama!" ajak Louis yang langsung membawa Samuel bersamanya. Refi yang mendengarnya sampai merasa tidak enak hati."Apa Hanna pernah memberitahu Bos alasannya menerima tawara
"Samuel?" Suara Louis terdengar saat Hanna dan Samuel masih saling bertatapan sambil melempar senyum. Sontak keduanya kaget dan menoleh ke arah Louis. "Kak Louis!" sapa Samuel yang langsung meninggalkan Hanna dan menghampiri kakaknya itu. "Mengapa kau kemari?" tanya Louis tiba-tiba dengan begitu tajam sampai Samuel mengernyit mendengarnya. "Hei, mengapa kau bertanya begitu? Apa sekarang aku tidak boleh ke sini, hah?" Louis menatap Samuel sejenak sambil mengembuskan napas panjangnya. Emosinya pada Hanna membuat sikapnya menjadi menyebalkan pada adiknya itu. "Ah, bukan begitu. Aku hanya terkejut. Maafkan aku, tapi tunggulah di dalam dulu, kita mengobrol sebentar lagi, setelah aku menyelesaikan urusanku sebentar! Refi, temani Samuel!" "Ah, baik, Bos!" Refi segera menemani Samuel masuk ke dalam ruang kerja Louis, sedangkan Louis langsung meraih lengan Hanna dan menyeretnya kasar. "Pak, apa-apaan?" pekik Hanna sambil mengikuti langkah cepat Louis agar tidak ada karyawan lain yang
Hanna tidak pernah menyangka kedatangannya ke sini akan membuat Louis marah besar, padahal ia hanya menjalankan perintah bosnya. Hanna pun begitu tegang saat Louis dan Samuel saling bertatapan di hadapannya sampai Hanna jadi sungkan sendiri. "Ah, maaf, Pak. Permisi! Tidak apa ... maksudku ... aku memang harus pulang sekarang, aku hanya datang mengantar hadiah dan aku harus kembali ke kantor," seru Hanna akhirnya. Namun, Louis sudah terlanjur marah sampai ia mengembuskan napas kesalnya. "Kalian dengar kan? Dia harus pergi, jadi pergilah, Hanna! Cepat!" Hanna mengerjapkan matanya dan dengan cepat ia mengangguk. "Baiklah! Permisi semua, maaf aku menganggu acaranya!" "Ya ampun, tidak ada yang terganggu, Hanna. Kau benar-benar tidak mau makan sedikit?" Sena mencoba menahan Hanna. Namun, Hanna tetap tersenyum dengan sopan. "Maaf, Bu, lain kali kalau ada waktu lebih, aku akan mampir. Terima kasih. Permisi!" Buru-buru Hanna pergi dari sana sampai Sena begitu kecewa dan langsung melot