"Sebenarnya mau kau apakan Valia, sampai sekarang tidak kau eksekusi. Jangan-jangan kau jatuh cinta dengannya, ya?" Pertanyaan bernada gurau keluar dari bibir Fabio. Laki-laki dengan balutan kaos polos hitam yang menutupi tubuh kekarnya itu, tengah membidik sasarannya. Aaron hanya meliriknya, ia sibuk dengan mengisi butiran timah dalam senjata bermoncong yang ia pegang. "Aku tidak semudah itu jatuh cinta, Fabio," jawab Aaron berdiri. "Cih, aku takutnya kau ini lain di mulut lain pula di hati," canda Fabio terkekeh pelan. Aaron mendengkus sebal. "Untuk apa pula kau ke tempatku hari ini hah?! Kau hanya membuat suasana hatiku semakin buruk!" "Untuk menemanimu bermain ini. Atau... Bagaimana kalau Valia yang menjadi sasaran bidikanmu?" usul Fabio dengan wajah cengengesan.Dokter muda dan tampan itu, selalu hobi membuat Aaron marah hingga seperti monster bertanduk. Kali ini, Aaron meliriknya tajam. "Kau gila hah?! Ini hanya hobi, tidak untuk menghabisi siapapun!" Dan Fabio langsung
Valia tertatih memapah Aaron berbaring di atas ranjang di dalam paviliun ia tempati. Valia juga menarik selimut dan menutupinya. Sebelum beranjak, Valia menatap dalam-dalam wajah tampan Aaron yang terpahat begitu sempurna. "Laki-laki yang membingungkan," ucap Valia hendak mengulurkan tangannya menyentuh pipi Aaro, namun urung. "Kau kadang dingin padaku, kadang kau juga terlihat peduli, meskipun kau tidak mau mengakuinya." Valia mengembuskan napasnya panjang, ia hendak beranjak dari duduknya sebelum satu lengannya dicekal kuat oleh Aaron. Dengan cepat Valia menoleh. "Mau ke mana kau hah? Tidurlah denganku, Ava," ucap Aaron dengan mata terpejam.Valia kembali duduk di tepi ranjang, kali ini Aaron benar-benar terlelap. Entah apa yang merasukinya, ia memeluk pinggang Valia dengan erat dan mendusal seperti anak kecil. "Kau sedang mabuk berat, Aaron," ucap Valia dengan berani menyentuh surai rambut cokelat milik Aaron."Cerewet," maki Aaron dalam racauannya. Valia pikir kalau laki-lak
"Mama ingin kau cepat pulang ke Milan minggu ini. Jangan menunda lagi, Aaron! Mama ingin kau bertunagan dengan Amora secepatnya!" Suara amukan seorang wanita yang terdengar sambungan telepon di ponsel milik Aaron. Sedangkan putranya, sangat kesal tiap kali Mamanya membahas masalah ini. "Aku sudah bilang berapa kali pada Mama kalau aku tidak bisa pulang sekarang, Ma! Kalian urus saja sendiri!" seru Aaron dengan nada marah. "Hei... Amora menunggumu. Dia merindukanmu dan kami semua tidak tahu kau berada di mana!" teriak Jeselin. "Aku tidak peduli. Jangan menghubungiku lagi kalau kalian hanya membahas ini!" Aaron langsung memutus panggilan itu dan melemparkan ponselnya di sofa. Ia memijit pangkal hidungnya pelan. "Sial!" umpat Aaron kesal. Dari ujung atas anak tangga, sosok Valia diam-diam memperhatikan Aaron, semenjak beberapa hari yang lalu Valia menerima tawarannya, untuk patuh pada Aaron asal laki-laki itu tidak kasar padanya. Di situlah Valia merasa sangat bergantung pada Aa
Setelah pergi jalan-jalan hingga malam, Aaron langsung menggiring Valia masuk ke dalam kamar miliknya. Di sana, Valia yang baru saja masuk ke dalam kamar itu, ia berdiri di depan meja rias dan menatap kotak cincin berwarna merah beludru. Valia hendak menyentuhnya, namun urung. "Cincin milik siapa ini, Aaron?" tanya Valia akhirnya berani meraih kotak cincin di depannya. "Calon istriku," jawab Aaron, namun tiba-tiba ia memeluk Valia dari belakang usai menggati pakaiannya dengan stelan piyama. Valia tersenyum getir. "Ka-kau akan menikah, ya? Kapan?" Gadis itu membalikkan badannya dan tersenyum penuh dusta. "Entahlah, aku dan calon istriku akan bertemu beberapa minggu lagi. Aku akan mengajaknya ke sini." Aaron beringsut berjalan ke arah ranjang. Valia memejamkan kedua matanya perlahan. Sekali lagi dengan berani ia membalikkan badannya menatap Aaron. "Kau sebentar lagi akan menikah, apa artinya aku boleh pergi dari sini?" tanya Valia penuh harap. Aaron terkekeh. "Kau masih bergun
"Kumohon, lepaskan..." Valia mencengkeram selimut hitam di ranjang Aaron dengan kuat. Ia memejamkan kedua matanya dengan sangat erat. "Aaron, kau jahat sekali." Valia membuka kedua matanya dan menangis. "Aaron..." Laki-laki itu nyatanya malah tersenyum, tiba-tiba saja ia mendekati wajah Valia dan mngusap pucuk kepalanya. "Tenanglah," ucap Aaron. Valia menggeleng. "A-aaron... A-aku tidak-" Ucapan Valia lagi-lagi terhenti, kali ini Aaron memeluknya erat. Laki-laki itu tidak bergerak sedikitpun dan ia masih menghargai sekaligus terkejut karena Valia masih suci dan belum pernah tersentuh oleh Victor. Di sana, Aaron mulai menyimpulkan banyak hal dalam benaknya.'Pantas saja Victor sampai gila pada Valia, gadis ini... Dia sangat pintar menjaga diri dan aku... Aku yang berhasil memilikinya untuk kali pertama,' batin Aaron seraya menengkan Valia. Tangisan Valia pun mereda, gadis itu menatapnya sayu dan lemah. "Aaron...""Aku tidak akan berhenti," ujar Aaron membelai pipi Valia dan ma
"Aaron, aku sangat merindukanmu!" Seorang wanita cantik dengan balutan dress merah maron yang berlari keluar dari dalam rumah megah dan berhambur memeluk Aaron dengan sangat erat. Lain dengan Aaron, laki-laki itu malah melepaskan pelukan yang terkesan begitu mengganggunya. "Lepas," ucap Aaron terdengar bagai perintah. "Kenapa? Apa kau tidak merindukan aku?"Wanita cantik berambut cokelat terang itu adalah Amora, dia gadis yang akan menjadi calon istri Aaron. Selain teman kecilnya, Amora juga menjadi salah satu gadis yang pernah dekat dengan Aaron selama ini. Namun sesungguhnya Aaron tidak pernah menyukai Amora. "Aaron, setiap hari aku menemani Mamamu di rumah. Aku bahkan juga menemani Kak Victor, meskipun... Dia mengusirku," ujar gadis itu seraya terkekeh pelan dan berjalan masuk ke dalam rumah megah milik Aaron. "Lepaskan tanganmu, Amora!" Aaron menyentak tangan gadis itu. Amora mengerjapkan kedua matanya, hanya saja ia tidak lagi kaget dengan sifat Aaron yang dingin. Dan A
"Nona Valia diam-diam ternyata sangat peduli pada Tuan, dan terus merindukan Tuan." Aaron menoleh sekilas mendengar suara Merina. Asisten pribadinya itu berdiri di belakang Aaron yang tengah berdiri diam di balkon, tempat favorit Aaron. "Apa dia yang mengatakannya padamu?" tanya Aaron dengan nada pelan. Merina langsung menganggukkan kepalanya. "Benar sekali, Tuan. Nona Valia terus bertanya kapan Tuan akan pulang, dan Nona bilang... Tuan jauh lebih baik dari Tuan Victor." Aaron mengembuskan napasnya berat. Ia melirik Merina yang kini berjalan dan berdiri sejajar dengannya. Wanita itu menemani Aaron sejak Aaron masih duduk di bangku sekolah hingga kini Aaron sudah sangat dewasa. "Saya tahu apa yang Tuan pikikan. Untuk saat ini, melepaskan Nona Valia bukanlah hal yang mudah. Tapi akan memburuk kalau keluarga Tuan tahu semua ini." Merina bersedekap dan menatap air kolam di bawah sana yang berkilat karena cahaya lampu taman. "Victor sudah sembuh, Merina. Dia akan terus mencari Valia
Malam ini berbeda dari malam biasanya, entah kenapa suara di luar sangat menyeramkan. Antara hujan yang sangat-sangat lebar dan angin yang begitu kencang diikuti suara petir yang menyambar-nyambar. Valia yang takut, ia turun dari atas ranjang kamar Aaron. Ia mencari Aaron yang belum ke kamarnya. "Di-di mana Aaron?" lirih Valia mencengkeram erat gaun tidurnya. Gadis itu menyahut mentel tebal berwarna hitam milik Aaron yang berada di sofa dan Valia keluar dari dalam kemar. "Apa dia masih di ruangan kerjanya?" lirih Valia. Buru-buru Valia menuruni anak tangga, di ruang tengah ia melihat sosok Aaron yang duduk seorang diri dengan beberapa berkas yang menumpuk. "Aaron," panggil Valia dari ujung bawah anak tangga. Laki-laki itu mendongak. "Kenapa kau bangun?" Valia langsung berlari dan mendekatinya, gadis itu memeluk lengan Aaron dan kedua matanya menyala-nyala takut. "Kenapa hujannya seperti ini? Suara apa itu, Aaron? Kenapa mengerikan?" Valia menatap wajah tampan Aaron yang kini