For bitter or worse

For bitter or worse

last updateLast Updated : 2021-12-21
By:  Jaleesa WritesOngoing
Language: English
goodnovel16goodnovel
10
2 ratings. 2 reviews
51Chapters
5.6Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Synopsis

THIS BOOK IS BACK IN THE STABLE AT THE MOMENT. I WILL NOT BE WORKING ON THIS UNTIL MY OTHER STORY IS FINISHED. I am sorry for everyone who is invested in For Bitter Or Worse and promise to revisit the entire book when I start working on it again. Chased by horrific nightmares every full moon since turning eightteen and a wolf who tells her she will find out why when she finds her mate, Adriana is eager to go the annual European Wolf Games. She is sick of the secressy her wolf holds for her, tired of the sleepless nights. So when she's finally there and finds out some things about her heritage and she meets her mate, a powerful Alpha with backwards thinking and a deep hatred for witches and vampires. What will she do? Will she break free and find herself or will the Alpha get the best of her? **WARNING-This is a dark romance kind of novel attaining abuse, violence, death and all sorts of twisted things. If you don't like those kind of things this is not the novel for you.

View More

Chapter 1

Chapter 1. Nightmares at home

“Murahan! Pe-la-cur kamu, Naira!“ Mas Hangga berteriak sembari melayangkan tangannya hingga mendarat mulus di pipi ini, setelah kuberitahu sebuah fakta.

Seakan tak puas, Mas mencengkram rahangku lalu kembali menamparku dengan tangan yang lain.

“Mas ... Sudah! Sudah, Mas ... Sudah!“ seru Mbak Medina, sembari memeluk punggung Mas Hangga.

“Tidak, Sayang. Dia sudah berkhianat, sudah seharusnya Mas beri pelajaran.“ Mas Hangga menjawab dengan suara tertahan.

“Jangan, Mas! Dia masih istrimu, nanti dia—“

“Tidak usah pura-pura memihakku, Mbak Medina. Aku tak butuh pembelaanmu. Lebih baik kamu menepi, supaya aku tak menghajarmu,“ potongku datar. Membuat bola mata Mas Hangga seakan mau keluar dari kelopaknya. Sementara Mbak Medina langsung menurut. Beringsut mundur, berdiri cukup jauh dari kami.

“Naira, beraninya kamu ...!“ teriak Mas Hangga sambil mengeratkan cengkraman tangannya di rahang ini.

“Apa, Mas? Mau menghajarku? Silahkan! Aku sama sekali nggak takut bahkan senang hati. Bila perlu, sekalian saja bunuh aku biar kita bisa bersama di neraka nanti,“ tantangku seraya tersenyum miring. Untuk sesaat Mas Hangga terdiam, kemudian melepaskan cengkramannya di rahang ini.

“Kenapa, Mas? Kenapa tak jadi menghajarku? Apa kamu takut anakmu jadi yatim dan istri kesayanganmu itu jadi janda?“ Aku bertanya masih dengan nada datar.

“Kurang Ajar kamu!“ Mas Hangga kembali mengayunkan tangannya. Aku tertawa geli, lalu mendekatkan wajah padanya.

“Ayo, Mas, tampar lagi! Ayo, Luapkan amarahmu!“ seruku dengan suara meninggi.

“Sudah, Mas ... Sudah. Istigfar, Mas. Naira masih istrimu, Mas. Akan sangat berdosa kalau Mas terus menyakitinya.“ Mbak Medina menyahuti.

Mas Hangga langsung mengepalkan tangannya yang berada di udara lalu menyentak napas dengan kasar.

“Astagfirullah ...“ ucapnya seraya mengusap wajah.

“Kenapa, Naira! Kenapa kamu ...?“ lanjutnya tapi kali ini dengan suara yang terdengar frustasi dan mata menatap tajam, dengan sorot kecewa.

Aku terkekeh sambil bersidekap lalu melangkah pelan mengitari tubuhnya.

“Bagaimana rasanya, Mas?“ tanyaku sambil tersenyum miring, saat kami kembali berhadapan. Membuat Mas Hangga menatap dengan dahi agak berkerut.

“Bagaimana rasanya diduakan? Sakit bukan?“ tanyaku dengan suara tinggi. Karena dada yang terasa terbakar mengingat banyak luka yang telah ditorehkannya.

“Itu juga yang aku rasakan saat kamu diam-diam menikahinya, Mas!“ Aku menunjuk Medina, “dan saat kamu lebih memilih mengutamakan dia daripada aku, Mas ...“ Aku mengambil napas sejenak, meraba dada, menetralkan rasa sesak yang mengabuti diri.

“Aku sakit ... Bahkan lebih sakit dari apa yang kamu rasakan sekarang. Jadi, sekarang kita impas, Mas. Kita sama-sama terluka, kau mendua, aku pun sama!“ lanjutku sambil tersenyum menyeringai dan responnya sungguh di luar dugaan. Alih-alih menghajar atau menamparku lagi, tubuh Mas Hangga justru merosot. Tak lama bahunya berguncang disusul isak tertahan. Reaksi yang jauh berbeda denganku saat dia membawa perempuan lain ke bahtera kami.

Awalnya pernikahan kami berjalan normal. Namun semuanya berubah sejak sepuluh bulan lalu. Saat Mas Hangga menguak sebuah fakta.

“Naira, ada yang mau aku bicarakan padamu,“ katanya saat kami tengah menikmati makan malam.

“Tentang apa itu, Mas?“ tanyaku. Mas Hangga terdiam sesaat, jika tak salah terka, aku melihat keraguan di wajahnya.

“Aku akan menikah lagi.“

Aku yang sedang mengunyah sepotong apel langsung tersedak. Mas Hangga buru-buru memberikan air putih dan aku pun menegaknya dengan segera.

“Ka-kamu bercanda kan, Mas?“ tanyaku ragu sambil mengusap mulut dengan punggung tangan dan menetralkan degup jantung yang tiba-tiba berpacu cepat.

“Tidak, Ra ... Aku tidak bercanda. Hubungan kami sudah sangat dekat dan aku takut tak bisa mengontrol diri,“ jawabnya dengan kepala tertunduk.

Aku menatap tak percaya dengan apa yang terlontar dari mulutnya. Mengingat selama ini hubungan kami baik-baik saja dan dia sangat pandai menjaga pandangannya, meski belum kunjung ada buah hati di antara kami.

“Coba ulangi, Mas. Aku pasti salah dengar kan?“ Aku masih coba menyangkal, berharap ini hanya sebuah prank atau leluconnya saja. Namun gelengan kepalanya, membuat harapanku sirna seketika.

“M-mas ...“ Aku menggigit bibir saat sesak memenuhi rongga dada, membuat air mataku luruh tanpa diminta.

“Aku minta maaf, Ra. Tapi dia hamil dan dia mendesak ingin dinikahi—“

“Hamil?“ Aku memekik. Sejurus kemudian, rasa pusing langsung menyerang kepala saat dia mengangguk. Aku memejamkan sejenak seraya memegangi kepala.

“Apa kalian berzina?“ tanyaku lirih sambil membuka mata. Mas Hangga menggelengkan kepala.

“Lalu? Bagaimana mungkin kamu bilang ingin menikahinya, sementara perempuan itu sudah hamil?“ Aku menatapnya penuh tanya tapi dia tak langsung menjawab. Hanya jakunnya tampak bergerak pelan.

“Ra ... Aku minta maaf. Tapi percayalah kami tidak berzina. Kami sudah menikah siri.“

Ucapannya kali ini membuat kepala semakin berdenyut nyeri.

“Si-siapa perempuan itu?“ tanyaku yang tiba-tiba dilanda penasaran. Mengingat selama ini, Mas Hangga tak pernah dekat dengan perempuan selain aku, keluarganya dan ... keluargaku.

“Pe-perempuan itu ...“ jawabnya menggantung. Dengan keringat yang mulai menetes di dahi.

“Siapa, Mas?“

“Maafkan aku, Ra. Perempuan itu—“

Pandanganku perlahan meredup tepat di saat Mas Hangga menyebut nama istri barunya, disusul suaranya yang menggelegar meneriakkan namaku. Lalu setelah itu entah apa yang terjadi karena dunia mendadak kelam.

.

“Naira ...“

Suara Mas Hangga terdengar jelas saat aku berusaha membuka mata.

“Ra, kamu bisa dengar aku kan?“

Sentuhan jemarinya di pipi ini membuat kesadaranku benar-benar pulih. Pelan aku mengerjap, mendapati sosok yang menjadi imam selama 8 tahun ini, duduk di sampingku dengan sorot penuh sesal.

Aku menghela napas sejenak. Lalu menegakkan punggung walau kepala masih berdenyut, pun dada masih terasa agak sesak.

“Mas ... Kamu ...“

Aku langsung terisak, teringat kembali ucapannya tadi. Mas Hangga sudah menikah lagi dengan perempuan yang tak asing di kehidupan kami.

“Maafkan aku, Ra. Jangan menangis lagi. Aku janji, aku akan berlaku adil pada kalian berdua,“ ucapnya dengan tangan hendak menyentuh tapi segera kutepis dengan kasar.

“Kenapa, Mas? Kenapa Mas menyakitiku? Apa salahku, Mas?“ Aku berujar dengan suara lemah.

“Apa baktiku selama ini masih kurang, Mas? Apa pengorbananku selama ini belum maksimal?“ lanjutku tak sabar dengan suara bergetar. Mas Hangga menggeleng.

“Lalu kenapa, Mas? Kenapa kamu tega mengkhianati?“ Tak tahan lagi, aku menutup wajah dengan kedua tangan dan tergugu dalam tangisan.

“Ra ... Aku minta maaf. Tapi aku mohon, jangan menangis lagi,“ katanya sambil menarik satu tanganku. Menciuminya berkali-kali, membuat tangisku semakin tak terkendali.

“Kenapa, Mas? Beri tahu aku alasannya, kenapa kamu menikah lagi?“ tanyaku parau setelah cukup puas menangis. Mas Hangga langsung tertunduk.

“Maafkan aku, Ra. Aku ... “ jawabnya sambil mengeratkan genggamannya di tangan ini.

“Aku hanya ingin sesuatu yang sulit kamu kabulkan. Aku ingin keturunan.“

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviews

Stephanie Hill
Stephanie Hill
So I’m guessing this is another book we never get to finish? So aggravating
2022-02-22 12:17:05
0
0
The Chow Mom
The Chow Mom
Easy to read and I am very eager for when the next chapter releases!
2021-08-05 18:35:42
0
0
51 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status