Kini matahari mulai menenggelamkan dirinya, hari sudah mulai gelap, sesuai dengan rencana awal, ketiga serangkai berangkat menuju rumah khusus kerajaan yang terletak di tengah hutan. Alfred menekan tombol starter mobil sambil memanaskan mesin mobilnya, sedangkan Charlotte dan Violet memasukkan barang kebutuhan mereka ke dalam bagasi mobil.
“Apakah kebutuhan makananmu sudah cukup?” tanya Charlotte.
“Tenang saja, aku membawa banyak makanan, termasuk aku membawa cookies kesukaanmu.” Violet memberikan paper bag untuk Charlotte.
“Sepertinya lama-kelamaan aku akan terserang diabetes karena kau selalu memberiku cookies setiap saat.”
“Ya sudah, kalau kau tidak mau cookiesnya, biar aku saja yang makan!”
Violet merebut kembali paper bag dari genggaman tangan Charlotte, namun Charlotte merebutnya lagi dengan memelototinya tajam.
“Siapa bilang aku tidak ingin makan cookiesnya.”
“Bukankah tadi ka
Pikiran Charlotte terus terusik akibat mendengar nama sang Pangeran yang dilontarkan dari sahabatnya. Dirinya masih saja tidak bisa tertidur lelap, sibuk melanjutkan membalikkan tubuhnya berkeluh kesah sehingga wajahnya terlihat kusut sekarang. Karena sahabatnya sudah tidur pulas, tidak mungkin ia mengganggu tidurnya mengajak berbincang hanya karena masalah yang dihadapinya. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk beranjak dari ranjang, mencari Alfred di kamar sebelah untuk berbincang sejenak dengannya. Ketika Charlotte membuka pintu kamar pelan supaya tidak membangunkan sahabatnya, seseorang sedang menanyakan petugas resepsionis sambil menunjukkan sebuah foto pada layar ponsel. Wajah Charlotte mulai memucat, langsung menutup pintunya pelan dan menarik napasnya panjang. Dirinya sudah mulai ketakutan dan memiliki firasat buruk mengenai hal ini. Dengan sigap Charlotte membangunkan sahabatnya dengan cara menepuk lengannya panik. “Violet, ayo bangunlah!” “As
Seorang pemuda menuruni mobil asing itu, mengangkat kepalanya tegak, melangkahkan kakinya cepat menghampiri mobil Alfred yang terparkir di belakang mobilnya. Reaksi Alfred dan Violet tersentak kaget dan syok memandangi sosok pemuda tampan tersebut adalah Pangeran Gabriel. Bahkan mereka sempat berpikir bahwa mereka sedang berhalusinasi akibat kelelahan. “Bukankah dia…Pangeran Gabriel?” Violet melontarkan pertanyaannya gugup. “Aku melihatnya dengan jelas sekarang. Sudah jelas dia adalah Pangeran,” sahut Alfred matanya terbelalak. “Tapi bagaimana bisa?” “Entahlah, aku akan keluar dulu menyambutnya.” Secara berinisiatif, Alfred melangkah keluar dari mobil menghampiri sang Pangeran sambil menundukkan kepala hormat. “Yang Mulia Pangeran,” sambut Alfred hormat, namun dirinya sedikit gugup sekarang. “Di mana Charlotte?” tanya Gabriel panik. “Nona Charlotte ada di kursi belakang. Saya akan menuntun Yang Mulia sekarang.”
Tangan kanan sang Pangeran menyentuh tangan tunangannya lembut sambil mencium punggung tangannya. Dengan tatapan sendu memandanginya sedang mengalami mimpi buruk, ia mengelus pipinya pelan, secara tidak langsung menenangkannya. Tak lama kemudian, ekspresi wajah Charlotte yang awal mulanya terlihat seperti ketakutan, kini senyuman bahagia kembali terukir pada wajahnya, seperti mengetahui bahwa sang pujaan hati sedang berada di sisinya. Pada akhirnya setelah menunggu selama beberapa jam, Charlotte membuka kedua matanya perlahan, sorot matanya tertuju pada calon suaminya yang sedang duduk di sebelahnya. Ia tersentak kaget, membulatkan matanya sempurna hingga mulutnya terbuka lebar. Terutama mereka sudah berpisah lama, mengingat musibah menimpa kekasihnya beberapa saat lalu sampai sekarang masih menghantuinya, dirinya masih belum sepenuhnya percaya dengan situasi sekarang. Walaupun begitu, penampilan Pangeran masih terlihat menyegarkan dan terawat, hanya ada luka kecil m
Dibalik kemesraan sepasang kekasih yang sudah menganggap diri mereka telah menikah beberapa saat lalu, sebenarnya masih ada tiga orang berada di rumah ini sedang berusaha mendengarkan perbincangannya di depan pintu kamar. Bahkan tangan Violet mulai terasa gatal sambil terus memainkan jari jemarinya, serasa ingin membuka pintunya langsung dan merusak momen kemesraannya. Membayangkan suasana romantis hancur karena kejahilannya, tanpa disadari gelak tawanya sudah seperti setan. “Sepertinya mereka berdua sedang enak-enakkan,” lontar Violet asal bicara. “Benar perkataanmu. Bahkan Pangeran Gabriel tidak biasanya mengurungkan diri di dalam kamar,” sahut Lucas. “Aish, kalian berdua ada-ada saja pemikirannya!” celoteh Alfred menggelengkan kepalanya sambil berkacak pinggang. “Tapi, kau sendiri lihat saja, Charlotte sudah berpisah dengan Gabriel selama seminggu, pasti dia menggunakan kesempatan emas ini sebaik mungkin bersama calon suaminya.” “Pemikiranm
Di tengah perbincangan kekonyolan ketiga orang itu, sontak pintu kamar Pangeran terbuka lebar, sehingga mereka bertiga tersentak kaget dan tubuh mereka terjatuh ke belakang. Gabriel dan Charlotte melangkah keluar dari kamar sambil saling merangkul tangan mesra. Tatapan Charlotte kebingungan memandangi ketiga orang itu yang ambruk sedang mengeluh kesakitan. “Kalian sedang ngapain di sini?” tanya Charlotte penasaran campur bingung. Mendengar suara khas sahabat terbaiknya, secara spontan Violet membangkitkan tubuhnya lincah langsung memeluknya erat hingga napasnya sedikit sesak. “Violet…kau ingin…membunuhku ya.” “Aku sangat takut, Charlotte. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk padamu. Apalagi semalam kau tiba-tiba pingsan di hadapanku. Seharusnya aku melindungimu dengan baik.” Air mata Violet terus membanjiri pipinya. “Tapi bukan berarti…kau memelukku seperti membunuhku.” Dengan sigap Violet melepas pelukannya, lalu menyentuh pipi lembut
Saat terjadinya insiden kecelakaan pesawat... Ketika pesawat jet kerajaan semakin tidak stabil dan sedang terjatuh dengan kecepatan tinggi menuju tengah lautan, tubuh Gabriel terombang-ambing menabrak kursi penumpang. Seketika beberapa pengawal sudah tidak sadarkan diri akibat terkena benturan yang sangat kuat, Gabriel menahan tubuhnya dengan memegangi kaki kursi sambil memandangi sosok orang misterius yang sedang duduk santai di sudut ruangan, mengulas senyuman jahatnya. GUBRAKK Terjadi guncangan yang kuat lagi sehingga membuat pandangan Gabriel semakin kabur. Namun orang misterius itu sudah tidak lagi menampakkan diri di hadapan Gabriel. Ia memandangi sekelilingnya, hanya terlihat seluruh pengawalnya sudah mengalami luka parah. Menatap penuh resah dan juga dirinya merasa sedikit tidak memiliki harapan hidup selamat dari maut. Namun, entah kenapa tiba-tiba mengingat janji yang Gabriel telah lontarkan sebelumnya terhadap tunangan tercinta sedang menun
Seketika semua orang mendengar cerita sebenarnya yang dialami Gabriel dan Lucas. Terutama sang istri tercinta mendengarnya langsung syok, air matanya mulai berlinang pada kelopak matanya. Mengetahui tangisannya terdengar mulai pecah, Gabriel mendekapnya hangat sambil mengelus punggungnya perlahan, berusaha untuk menenangkannya. “Charlotte…” “Kau ternyata selama ini hidup penuh perjuangan, aku bahkan sebagai istrimu tidak mengetahui hal seperti ini. Aku memang payah, Gabriel,” lontar Charlotte menangis tersedu-sedu hingga hidungnya semakin memerah. “Charlotte, jangan berkata seperti itu. Kau tidak payah sama sekali. Justru kau adalah wanita pantang menyerah mencoba berjuang mencari kebenaran mengenai kecelakaan pesawat itu, sampai kau terkena imbasnya.” “Gabriel, jika dibayangkan kejadian menyakitkan itu pada diriku sendiri, aku pasti sudah menyerah di tengah jalan dan beranggapan bahwa aku sudah tidak mungkin bisa hidup lagi.” “Aku pasti selal
Di tengah perbincangan romansa sepasang kekasih yang penuh dengan cinta, ditambah dua penyedap lainnya yaitu kedua teman dekatnya sendiri, sebenarnya ada sesuatu yang sangat mengusik pikiran Alfred sejak tadi. Maka dari itu, ia memilih untuk tetap diam dan terus merenungkan semua kejanggalan dari insiden ini. Dahinya mengernyit, alisnya saling bertautan dan sambil bertopang dagu, sehingga seluruh mata tertuju padanya dengan heran saat ini. “Kenapa kau dari tadi diam saja, Alfred?” tanya Violet terheran memiringkan kepalanya. “Gabriel, apakah waktu itu saat kau ingin terjun bersama Lucas sebelum pesawatnya meledak, pria misterius itu menampakkan dirinya?” selidik Alfred mulai menunjukkan sisi agen rahasianya. “Anehnya terakhir kali saat aku melihat orang itu terakhir kali tepat sebelum Lucas mendatangiku.” “Hmm ini aneh sekali. Menurut laporan dari pihak kepolisian dan Badan Intelijen Nasional, jenazah yang ditemukan di dasar laut semuanya terkumpul le
Kejutan yang dimaksud sang Pangeran sebelumnya adalah sebuah video romantis mengenai perjalanan hubungan cintanya sejak berteman hingga memiliki seorang anak. Masih di puncak menara luas, Pangeran dan istrinya menyaksikan video editannya sambil menimang putranya yang terlihat mulai mengantuk. Sambil menikmati wine juga sebagai pelengkap merayakannya. Berdurasi selama beberapa menit, tidak hanya tampilan foto kemesraan mereka saja dan video-video berkaitan aktivitas romantis, tapi diselipkan juga ungkapan isi hati Pangeran setiap kali video itu bergilir dan disertai backsound kumpulan lagu romantis favorit mereka. Yang lebih mengharukan lagi, video kejutan itu ditutupi dengan video acara pernikahan mereka yang berlangsung dari pemberkatan di gereja hingga pesta dansa, dengan backsound lagu ciptaannya sendiri untuk istri tercinta berjudul “Love Charlotte”. Manik mata Charlotte semakin berkaca-kaca, tidak bisa menahan rasa bahagianya l
Seketika pertandingan berakhir, mengamati sang pemenang yang berhak membawa pulang medali emas, dengan cepat Charlotte membangkitkan tubuhnya bertepuk tangan meriah menyorakki suaminya yang menjadi pemenang dalam perlombaan ini. Sedangkan sang Ratu juga turut bahagia mengetahui putranya memenangkan perlombaan, langsung mendekap tubuh menantunya hangat. “Ibu…Gabriel berhasil!” sorak Charlotte girang. “Sudah ibu duga sejak awal, suamimu pasti berjuang demi dirimu, Charlotte. Ibu sangat bangga pada kalian berdua.” Sedangkan yang berhasil meraih medali perak dan perunggu adalah Alfred dan Harvey. Meski Alfred tidak berhasil meraih posisi pertama, tetap saja Violet sudah sangat bersyukur bahkan masih sempat memberi selamat kepada Charlotte. Begitu juga Agnes yang awalnya percaya diri suaminya akan menang, ia tetap menerima pencapaian yang berhasil diraih suaminya dengan lapang dada. Ketiga sahabat Charlotte menghampiri Charlotte untuk memberi selamat sambil saling
Seiring waktunya berjalan, keluarga kecil sang Pangeran terus terlihat harmonis, bahkan saat dilanda kesibukan mengurus urusan kerajaan, tetap saja hubungan antara orang tua dan anak semakin dekat. Setiap kali Pangeran dan istrinya bepergian mengadakan pertemuan, pangeran kecil dirawat ibunya Charlotte, karena tidak ingin mengandalkan pengasuh. Apalagi takut terjadi sesuatu pada anak mereka jika dirawat orang lain. Seperti biasa sang Pangeran mengajak istrinya pergi berkuda di tempat pacuan kuda khusus keluarga kerajaan. Tapi, kali ini mereka melakukannya saat hari biasa, karena besok Pangeran harus berpartisipasi dalam turnamen berkuda. Sebelum mengajak kuda putihnya yang suka cemburu, Gabriel memberinya makan wortel berkualitas tinggi supaya tidak mengambek di tengah jalan. “Ngomong-ngomong Sayang, apakah White bisa diajak kerjasama besok?” tanya Charlotte sedikit ragu, mengingat White terkadang memberontak. “Tenang saja, sejak dulu dia bisa diandal
Waktu terus berjalan tanpa hentinya, semua orang dalam negeri ini masih hidup dengan damai tanpa adanya gangguan apapun. Terutama semua kerabat dekat Gabriel dan Charlotte, kini mereka menjalani kehidupan bahagia mereka masing-masing. Seperti halnya Harvey dan Agnes kini hidup mereka semakin terasa bahagia seiring waktu berjalan, karena mereka sekarang adalah sepasang suami istri sama seperti halnya dengan dua pasangan lainnya yang sudah menikah lebih awal. Karena hari ini adalah hari libur, seperti biasa Harvey mengajak istrinya menuju sebuah pusat perbelanjaan elit untuk keluarga bangsawan membelikan banyak masker wajah untuk mereka berdua. Apalagi melihat Harvey yang memborong banyak masker wajah dengan merk mahal, hingga Agnes menganga berdiri mematung. “Harvey, bukankah ini kebanyakan?” Mata Agnes terbelalak sempurna. “Wajahmu harus terlihat berkilauan saat kau sekarang menjadi istriku. Maka dari itu, aku sengaja membelikan semua masker mahal unt
Detik demi detik terus berjalan. Tidak terasa sang Pangeran dan istrinya menjalin kehidupan rumah tangganya beberapa bulan. Tidak hanya mereka yang selalu menjalani kehidupan mereka dengan bahagia, semua kerabatnya yang telah memiliki pasangan masing-masing juga tidak kalah bahagia. Apalagi agen rahasia kerajaan juga telah menikah dengan wanita paling dicintainya. Saat ini, usia kandungan memasuki masa dua bulan. Bisa dikatakan berat badan Charlotte semakin bertambah, namun perutnya belum terlihat terlalu buncit. Segala aktivitas yang ia lakukan mulai berkurang, mengingat peringatan dokter kandungan demi kesehatan bayi mungil dalam kandungan. Yang bisa dilakukannya selama mengandung bayinya adalah bersantai di sofa menonton TV sambil mengemil cookies favoritnya sendirian. Sebenarnya kegiatan Pangeran juga tidak terlalu banyak belakangan ini, namun terkadang ia harus meninggalkannya sendirian untuk melaksanakan kewajibannya demi kerajaan Godnation. Mengadakan
Di sisi lain, sepasang kekasih lainnya juga saling bermesraan. Namun, bedanya kali ini mereka tidak berkencan di manapun. Penampilan Alfred sudah terlihat sempurna, bersiap ingin bertemu dengan calon mertuanya langsung. Sejak hari lamaran, Alfred dan Violet sudah merencanakan pertemuannya serta melakukan reservasi restoran bintang lima terlebih dahulu. Penampilan ibunya Violet kini tidak kalah cantik dengan putrinya, dengan balutan gaun elegan walaupun terlihat sederhana. Sebenarnya dirinya sedikit bingung dengan rencana putrinya tiba-tiba mengajak makan malam tiba-tiba. Sambil menunggu kedatangan Alfred, ibunya Violet terus bermondar-mandir di ruang tamu seperti sedang menyetrika baju. Melihat tingkah ibunya sangat memusingkan, Violet beranjak dari sofa sejenak menghentikan aksinya. “Ibu sebaiknya menunggu sabar saja,” usulnya pelan. “Sebenarnya ibu sangat penasaran dengan kalian, kenapa kalian tiba-tiba ingin mengadakan makan malam bersama? Padahal
Lucas memperlihatkan agenda hariannya pada sang Pangeran melalui layar tab. Reaksi Pangeran langsung memutar bola matanya bermalasan, karena dirinya sebenarnya malas menjalani tugasnya kembali menjadi Pangeran negeri ini. “Aku malas melakukannya, lebih baik aku di istana selama seharian bersama istriku.” “Sayang,” panggil Charlotte manis. Secara spontan Gabriel merangkul pundaknya mesra, sorot matanya terfokus padanya. “Semakin manis kau memanggilku, aku juga akan memperlakukanmu semakin manis juga.” “Sayang, sebaiknya kau pergi bertugas saja. Jangan menetap di sini terus,” saran Charlotte lembut. “Tidak mau, nanti siapa yang akan menemanimu di sini. Kalau terjadi sesuatu padamu, gimana nantinya. Lagipula kunjungan ini juga tidak terlalu penting.” “Memangnya hari ini kau ada kunjungan ke mana?” “Ke panti asuhan untuk membaca dongeng.” “Oh, kalau hanya ke panti asuhan, sudah pasti aku ingin ikut denganmu
Tidak terasa kini hari sudah gelap. Usai menyantap makan malam, sepasang pengantin baru melanjutkan aktivitasnya lagi di dalam kamar mereka. Sejak memasuki masa hamil, sikap Charlotte sedikit kekanak-kanakan suka merengek pada suaminya. Apalagi sekarang ia duduk sendirian di ranjang luas, menunggu sang Pangeran selesai membersihkan dirinya sampai sedikit bosan. Baru saja lima menit berlalu, entah kenapa rasanya ia sudah merindukannya dan ingin melihat wajahnya dalam durasi lama. Kedua kakinya merapat di ranjang, lututnya digunakan untuk menopang kepalanya sambil merenungkannya dengan wajah cemberut. “Aku merindukanmu, Sayang. Jangan mandinya terlalu lama,” gumamnya lesuh. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka lebar. Dengan cepat kepalanya terangkat ringan sambil memandangi suaminya terlihat sangat menyegarkan dalam kondisi rambutnya basah dan dada bidangnya yang kekar. Sorot matanya terpaku padanya saat ini, tanpa disadari senyuman ceri
Jantung Violet kini berdebar kencang hingga tidak bisa mengendalikan air matanya terus membasahi pipinya. Pada akhirnya setelah menunggu lama, dirinya dilamar langsung oleh pria dicintainya walaupun hubungan asmara mereka baru berjalan hampir dua bulan. Tanpa perlu berpikir lama, Violet mengangguk pelan, mengukir senyuman bahagia pada wajahnya sambil menggenggam buket bunga erat. “Tentu saja aku bersedia menikah denganmu. Aku tidak sabar menjadi pendamping hidupmu nanti. Aku sangat mencintaimu, Alfred.” Violet mengungkapnya lantang dengan penuh percaya diri. Alfred memakaikan cincin lamaran pada jari manis kekasihnya sambil membangkitkan tubuhnya perlahan. “Aku juga mencintaimu, Violet. Mulai sekarang statusmu adalah tunanganku dan menjadi milikku.” “Terima kasih sudah bersedia menerimaku sebagai tunanganmu.” Secara spontan mereka saling menautkan bibir mereka bersamaan, melakukan ciuman manisnya untuk merayakan momen terindah dalam hidup mere