Share

Bab 83

Author: Hana Pangestu
"Kamu ... sengaja mendekatiku, sebenarnya apa tujuanmu? Kamu mau ... jantungku? Paru-paruku? Atau ... kamu mau menguras habis darahku?"

Pandangan mataku kabur, tidak bisa melihat jelas, tapi aku merasa wajah tampan Billy tiba-tiba membeku, seolah tak tahu harus tertawa atau menangis, menatapku tanpa bergerak.

Setelah terdiam cukup lama, akhirnya dia bertanya dengan nada heran, "Aku bukan jagal, kenapa harus mengambil jantung, paru-parumu atau menguras darahmu?"

"Mana kutahu ... kamu yang harus menjawab. Kamu aneh, ibumu juga aneh ... kalian baik padaku tanpa alasan, itu menakutkan .... " ujarku sambil menggeleng, melambaikan tangan dengan lemah dan bergumam lagi, "Menakutkan sekali ... "

Billy bertanya, "Jadi kamu pikir kami baik padamu karena mau mengambil organ dan darahmu? Makanya kamu tiba-tiba menjauh dan menghindar dariku?"

Aku bersandar lemah di sofa dan berkata dengan suara malas, "Bukan ... nggak sepenuhnya, kamu ini orang yang sangat memikat hati ... terlalu bahaya."

Billy te
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 84

    Aku muntah habis-habisan.Setelah itu, tubuhku lemas seperti ulat yang isi perutnya sudah dikosongkan, lalu langsung terlelap.Aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.Yang samar-samar kuingat, sepertinya aku sempat muntah dua kali lagi.Aku juga tidak tahu kapan pria yang menjagaku pergi.Setelah berhari-hari susah tidur, bahkan dengan obat tidur pun tidak bisa nyenyak.Malam ini, di bawah pengaruh alkohol, aku tidur seperti seekor babi.Baru keesokan paginya, ketika matahari sudah terbit, aku terbangun mendadak setelah terguling dari sofa dan jatuh ke lantai.Duduk di lantai dengan linglung, aku menatap sekeliling, merasa otakku seperti menguap.Berusaha mengingat kejadian semalam, yang kuingat hanyalah Wenny mengadakan pesta ulang tahun untukku dan mengundang segerombolan pria-pria muda sebagai hiburan.Kami semua bersenang-senang dan tanpa sadar minum terlalu banyak.Setelah itu, apa yang terjadi? Bagaimana aku bisa pulang? Semua kosong di kepalaku.Tapi samar-samar

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 85

    Aku benar-benar tidak percaya, tapi tulisan tangan ini jelas miliknya. Aku ingat betul, saat terakhir kali mengajaknya makan malam untuk membahas pinjaman enam triliun, tulisan tangannya persis seperti ini!Astaga ...Pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban langsung memenuhi otakku.Bagaimana Billy bertemu denganku?Kenapa dia membawaku pulang?Kapan dia pergi?Lalu potongan-potongan ingatan yang samar dalam benakku ... pelukan, bahkan ciuman ... Semua itu hanya mimpi? Atau benar-benar terjadi?Dan yang paling mengejutkan, pria dengan status setinggi itu, ternyata mau repot-repot masuk ke dapur sempit apartemen sewaku, lalu memasakkan bubur dan teh pereda mabuk untukku?Keterkejutanku tidak kunjung mereda.Bahkan aku sampai lupa minum air dan langsung berlari ke dapur.Ternyata benar, penanak nasi masih dalam mode hangat.Ketika dibuka, di dalamnya ada bubur yang masih hangat.Di atas kompor gas, ada panci yang biasa kupakai untuk memasak sup.Saat kubuka tutupnya, isinya sup bening, mung

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 86

    Tapi kalau bukan karena ada maunya, lalu kenapa dia begitu baik padaku?Masa iya, di tengah lautan manusia, dia mengabaikan para wanita keluarga kaya yang sepadan dengannya dan malah jatuh cinta padaku, seorang anak orang kaya yang tak disayang dan istri yang ditinggal suami di pernikahan?Cih, dongeng yang mustahil.Aku merasa diriku terlalu tak tahu malu karena berpikir sejauh itu.Lalu soal jam tangan Patek Philippe itu ...Aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa.Aku tak berani menghubunginya lebih dulu, jadi aku hanya bisa menunggu dia mencariku.Bagaimanapun juga, jam tangan seharga triliunan pasti tidak akan dibiarkan begitu saja, 'kan?Namun, aku menunggu seharian sampai langit gelap, tetap tak ada telepon dari Billy.Hari ini adalah hari ulang tahunku yang sebenarnya. Pesta semalam hanya perayaan awal yang diadakan Wenny untukku.Sore hari, Gaius meneleponku lagi. Kali ini, tanpa basa-basi, dia langsung memakiku. Katanya aku membatalkan pertemuan tanpa alasan dan mempermain

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 87

    Dia membawa kue di satu tangan dan beberapa kotak suplemen mahal di tangan lainnya. Setelah mengganti sendal, dia berjalan menuju ruang makan."Nora, selamat ulang tahun. Aku bawakan kue dan hadiah untukmu. Nenek, ini aku bawakan untukmu juga, bisa suruh bibi masak untukmu, biar lebih bergizi."Dia mengangkat barang-barangnya sambil tersenyum ramah, mencoba berbasa-basi dengan kami.Nenek dan tante saling berukar pandang dengan ekspresi canggung.Demi kesopanan, nenek tersenyum tipis, "Nggak perlu repot-repot, aku nggak butuh ini, lebih baik kasih ke orang tuamu saja."Belum sempat Steve menjawab, aku berdiri dengan wajah dingin dan langsung menegurnya tanpa basa-basi, "Buat apa kamu ke sini? Siapa yang mengundangmu? Tahu malu, nggak?""Nora, hari ini ulang tahunmu ... " ujar Steve menatapku dengan ekspresi penuh harap."Ulang tahunku nggak ada hubungannya denganmu! Nggak ada yang mengundangmu ke sini! Pergi!" usirku tanpa sungkan, bahkan menyuruh bibi untuk mengantarnya keluar.Namun,

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 88

    Aku meliriknya tajam, sama sekali malas meladeninya, lalu bergegas pergi.Tapi dia tiba-tiba berbalik dan menarikku, memaksa memelukku erat."Nora, aku salah. Tolong kasih aku satu kesempatan lagi, ya? Aku mencintaimu, aku benar-benar nggak bisa kehilangan kamu. Demi hubungan kita enam tahun ini, kasih aku kesempatan terakhir ... "Dia memelukku erat, berbicara dengan penuh emosi, tak peduli seberapa keras aku berusaha melepaskan diri, dia tetap tak mau melepaskan.Aku merasa sangat tidak nyaman, seakan tubuhnya dipenuhi duri yang menusukku. Aku hanya ingin menjauh darinya secepat mungkin. Tak punya pilihan lain, aku langsung menginjak kakinya sekuat tenaga. Dia meringis menahan sakit dan aku segera mendorongnya menjauh."Steve, jijik sekali kamu? Setelah semua yang kamu lakukan, kamu pikir aku masih bisa memaafkanmu?" tanyaku padanya dengan suara rendah dan tatapan yang dingin.Tapi, dia malah berkata tanpa malu, "Kalau kamu nggak bisa memaafkanku, kamu bisa menghukumku seumur hidup.

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 89

    Selama dua hari berturut-turut, aku terus menatap jam tangan Patek Philippe itu tanpa sadar.Tadinya, kupikir itu barang mahal, Billy pasti akan segera meneleponku begitu sadar jamnya hilang.Namun, dua hari berlalu, telepon darinya tetap tak kunjung masuk.Jangan-jangan, dia bahkan tak sadar kalau jamnya ketinggalan di tempatku?Atau mungkin dia punya terlalu banyak jam tangan mewah sampai tak peduli kehilangan satu?Menjelang pulang kerja, aku melihat kalender dan merencanakan jadwal beberapa hari ke depan.Tanpa sengaja, aku menyadari bahwa lusa adalah hari ulang tahun Mega.Sebelumnya, saat aku ke Vila Solene untuk mengukur badannya, dia sempat menyebutkan tanggal ulang tahunnya. Aku diam-diam mencatatnya dan menandainya di kalender.Meskipun aku jelas tak punya kualifikasi untuk menghadiri pesta ulang tahun Mega, tapi aku ingat Mega cukup baik padaku. Ditambah lagi, Billy juga sudah membantuku beberapa kali. Sebagai bentuk terima kasih, rasanya aku harus memberikan sesuatu sebagai

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 90

    "Baik, aku ke sana sekarang.""Iya, aku juga ke sana."Aku mengambil barang-barang yang sudah kusiapkan, lalu buru-buru meninggalkan kantor dengan hati berdebar.Kupikir aku akan tiba lebih dulu, tapi begitu melangkah masuk ke taman gantung, aku langsung melihatnya sudah duduk di sana.Dia memang mencolok. Di mana pun dia berada, selalu jadi pusat perhatian.Sore hari musim gugur ini cuacanya sempurna, matahari bersinar hangat, lembut dan menenangkan.Dia melepas jasnya dan menyampirkannya di sisi kursi, hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung, memperlihatkan lengan bawah yang ramping dan berotot.Di meja kecil depannya, ada laptop bisnis super tipis. Dia tampak sibuk bekerja, wajahnya juga agak serius.Di belakangnya, bunga berwarna ungu yang tidak kuketahui namanya bermerkaran dengan indah. Warna putih dari pakaiannya berpadu dengan kilauan emas sinar matahari, menciptakan pemandangan yang begitu harmonis.Aku terpaku beberapa detik, sampai seseorang melintas di dekatku

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 91

    "Nggaklah," ujarnya, dia pun menjelaskan, "Keluarga Solene nggak hidup dengan kemewahan berlebihan. Kami juga nggak harus menggunakan barang bermerek. Selama menyukainya dan merasa cocok, bahkan sesuatu yang dibeli di toko kecil pinggir jalan bisa menjadi harta berharga."Aku terkejut mendengarnya dan hanya bisa mengangguk berulang kali.Tiba-tiba, pelayan datang mengantarkan kopi, menghentikan percakapan kami sejenak.Aku menyesap beberapa teguk cokelat panas, merasa sangat puas. Suasana hatiku perlahan stabil, tidak lagi terlalu gugup dan canggung.Lalu, aku teringat pertanyaan yang sudah mengganggu pikiranku selama beberapa hari. Aku meletakkan cangkir dan bertanya dengan penasaran, "Pak Billy, malam minggu itu ... kok kamu bisa bertemu denganmu?"Billy menyeruput kopi hitamnya, lalu dengan tenang menjawab, "Kebetulan, aku pergi menjemput orang, lalu nggak sengaja melihatmu."Oh, begitu ...Aku tersenyum dan berkata tulus, "Terima kasih, aku yakin pasti sangat merepotkanmu saat mabu

Latest chapter

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 100

    Meskipun aku tidak menyukai mereka sekeluarga, bagaimanapun dia adalah orang yang lebih tua, demi kesopanan, aku tetap tersenyum dan menyapa, "Halo, tante.""Nora, jadi kamu benar-benar sudah bersama Pak Billy? Dia nggak tahu kamu itu janda? Statusmu ini jelas ... ""Ibu, bukan janda, dia bahkan belum resmi cerai dengan kakak! Kalau sekarang bersama Pak Billy, itu namanya selingkuh!"Ujar Stefi dengan wajah penuh penghinaan dan kemarahan, lalu menggerutu, "Ada apa sih dengan Pak Billy? Kok bisa tertarik dengannya? Selain cantik, apa lagi yang bisa dibanggakan?"Aku bahkan belum mengucapkan satu kata pun, tapi mereka sudah menempelkan label selingkuh padaku. Benar-benar tidak masuk akal.Aku tertawa sinis, "Stefi, otak itu hal yang bagus, sayangnya kamu nggak punya. Kalau kamu mau tahu siapa yang sebenarnya selingkuh, bagaimana kalau kita tanya orang-orang di sini?"Saat itu, peristiwa pernikahan konyol itu sudah jadi bahan tertawaan di seluruh kota. Semua orang tahu kalau Keluarga Joan

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 99

    Namun, di hadapan Jeff saat ini, situasinya tidak memungkinkan. Aku hanya bisa mencari kesempatan lain.Melihat aku sangat canggung, Billy segera membantuku keluar dari situasi ini, "Ayo, para tamu hampir semua sudah datang, pesta bakalan segera dimulai."Aku mengikuti Billy memasuki aula pesta dan sekali lagi mendapat pemahaman baru tentang arti sebenarnya dari kekuasaan dan status sosial.Di dalam Vila Solene terdapat sebuah bangunan bergaya barat tiga lantai yang berdiri sendiri. Bangunan ini memiliki aula pesta besar, ruang konferensi multifungsi dan klub rekreasi. Banunan ini terpisah dari bangunan utama rumahnya, Sehingga dapat memberikan tingkat privasi yang sangat baik bagi pemiliknya.Dekorasi seluruh bangunan tampak sederhana, tetapi sangat berkelas. Bahkan hiasan yang terlihat sepele pun merupakan koleksi seni bernilai tinggi.Saat ini, aula pesta sudah penuh dengan tamu. Suasana meriah dengan obrolan santai dan tawa para tamu yang jelas berasal dari kalangan atas.Aku melih

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 98

    "Bagaimana kamu menjelaskannya?""Bilang saja nggak ada apa-apa di antara kita. Aku nggak tidur denganmu, kamu juga nggak tidur denganku.""Kamu, seorang gadis menjelaskan hal seperti ini? Bukankah itu malah membuatku terlihat lebih tidak berani bertanggung jawab?""Aku ... " Aku hampir putus asa, malu bukan main dan bertanya, "Jadi harus bagaimana?"Saat kami sedang pusing memikirkan solusi, tiba-tiba terdengar suara seseorang, "Billy, kudengar kamu keluar khusus untuk menjemput tamu penting. Putri keluarga mana yang begitu kamu hormati?"Aku menoleh ke arah suara itu. Dari belakang Billy, seorang pria tinggi dan gagah melangkah mendekat. Aura karismatiknya terpancar jelas.Sebelum Billy berbalik, ekspresinya sudah semakin rumit."Datang juga orangnya," gumam Billy pelan.Mataku membelalak.Apa? Jadi dia ... Jeff Yosi?Aku tidak mengenalnya.Bagaimanapun, Keluarga Yosi dan Keluarga Solene berada di tingkat yang sama, sedangkan Keluarga Tira jelas berbeda kelas, kami tidak pernah berhu

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 97

    "Nggak, nggak! Bukan ... " Aku buru-buru melambaikan tangan, melangkah lebih cepat ke depan, tapi tetap saja tak bisa menahan diri untuk melirik Billy beberapa kali.Dalam hati, aku berdoa semoga saja orang yang mengendarai Bentley malam itu bukan Jeff.Sayangnya, doaku tidak terkabul.Melihat ekspresiku yang aneh dan tampak ragu-ragu, setelah berpikir sejenak, Billy bertanya, "Kamu bertemu Jeff akhir-akhir ini?"Begitu mendengar pertanyaannya, aku langsung paham.Aaaa ... aku ingin lenyap saja dari dunia ini!"Jadi ... apa yang Pak Jeff bilang padamu?" tanyaku pasrah, memutuskan untuk menghadapinya secara langsung.Billy menyipitkan matanya sedikit, lalu menampilkan ekspresi yang sulit dijelaskan, seperti malu tapi juga geli."Maksudmu ... tentang pertengkaranmu dengan Steve? Kamu bilang sudah tidur denganku dan bukan hanya sekali?"Aku langsung tersandung dan hampir saja terjatuh."Hati-hati!" Untung saja Billy sigap menarik lenganku.Wajahku langsung panas membara, sekujur tubuhku t

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 96

    Aku berputar beberapa kali di depan cermin dan merasa cukup puas dengan penampilanku.Tiba-tiba, ponselku berdering. Aku mengambilnya dan melihat nama Billy Solene di layar."Halo, Pak Billy.""Nora, sekitar sepuluh menit lagi, sopir bakal tiba di depan apartemenmu.""Iya, aku sudah siap juga, bakal turun sebentar lagi," jawabku dengan ringan, lalu menambahkan dengan sedikit sungkan, "Benar-benar merepotkanmu harus mengirim sopir untuk menjemputku.""Nggak masalah, jalanan di pegunungan kurang aman di malam hari. Karena aku yang mengundangmu, tentu aku juga harus memastikan keselamatanmu."Sikapnya selalu begitu penuh perhatian dan detail, seolah tak pernah meninggalkan celah.Setelah menutup telepon, aku memasukkan ponsel ke dalam tas, lalu mengecek kembali apakah aku sudah membawa lipstik dan bedak. Setelah memastikan semuanya beres, aku pun berangkat.Di sepanjang perjalanan, perasaanku melambung, tegang sekaligus penuh ekspektasi,Saat ini, aku sudah melupakan semua keraguan yang s

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 95

    Aku baru sadar, tidak heran Steve terlihat begitu lesu dan muram, wajahnya pun tampak pucat."Nora, tolong bantu Dewita. Semua kesalahan di masa lalu itu ulah kami, Aku minta maaf padamu, ya? Kumohon, kasihanilah dia, pergi ke rumah sakit dan bantu dia ... "Sari maju dan meraih tanganku dengan erat. Gerakannya yang tiba-tiba itu sampai membuat anjingku terkejut dan melompat mundur ke belakangku.Keningku semakin berkerut, aku menatap Sari sambil tertawa dingin dalam hati."Benar-benar langka, tak kusangka aku bisa mendengar permintaan maaf darimu dalam hidup ini," kataku dengan nada menyindir."Aku minta maaf padamu, Nora. Aku bakal turuti apapun yang kamu mau, asal kamu mau selamatkan Dewita. Bagaimanapun, dia itu adik kandungmu, dia itu manusia yang hidupnya berharga ... " ujar Sari mulai menangis, tampak benar-benar tidak rela kehilangan putrinya.Sebagai seorang ibu, dia memang terlihat sangat menyayangi anaknya. Dewita pun bisa dibilang beruntung dalam hal ini.Namun, pikiranku m

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 94

    Tak disangka, ternyata Billy juga mengetahuinya.Hal ini membuat suasana jadi agak canggung, terutama karena aku berbohong pada Billy, mengatakan bahwa aku sudah tidur dengan pria di hadapanku ini, bahkan berkali-kali. Memikirkan itu saja sudah membuat lidahku nyaris kelu."Ehm ... dia nggak mau cerai denganku, jadi aku hanya bisa mengajukan gugatan ke pengadilan. Sidangnya akan digelar tanggal 6 bulan depan," ujarku menjelaskan, merasa sedikit bersalah dan tidak berani menatap Billy."Tanggal 6 bulan depan? Masih ada setengah bulan.""Iya, ini sudah sesuai jadwal dari pengadilan, jadi nggak ada pilihan lain.""Iya, nggak perlu terburu-buru," ujarnya menenangkanku, lalu menambahkan, "Tapi dalam kasus gugatan cerai, biasanya sidang pertama itu mediasi, jadi kemungkinan besar nggak akan langsung dikabulkan. Biasanya harus menunggu enam bulan untuk mengajukan gugatan kedua, barulah hakin cenderung mengabulkan perceraian.""Iya, pengacaraku juga sudah mengatakan hal yang sama. Aku harus be

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 93

    Aku tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan diriku sendiri, hanya benar-benar malu sampai tidak bisa mengangkat kepala di depannya.Billy melihat betapa malunya aku, seolah ingin mencari lubang untuk bersembunyi. Dengan sangat sopan, dia menghiburku, "Sesekali bersenang-senang dengan teman-teman itu hal yang baik. Bisa melepaskan rasa penat dan stres di hati. Lagipula, soal kejadian malam itu, selain aku, nggak ada orang lain yang tahu. Jadi tenang saja, aku akan merahasiakannya."Kalimat terakhir itu diucapkannya dengan nada bercanda dan di matanya seperti ada sedikit ... keakraban yang samar.Aku menatapnya dengan ekspresi canggung dan membeku.Beberapa saat kemudian, rasa canggung itu semakin menjadi-jadi, pipiku terasa panas seperti terbakar.Jantungku kembali berdebar kencang dan pikiranku mulai berkelana ke arah yang tidak seharusnya.Insting wanita membertahuku bahwa ada sesuatu yang tidak biasa dalam hubungan kami, benar-benar tidak biasa.Tapi, aku tidak bisa

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 92

    Wajahku terasa semakin panas.Orang mabuk muntah itu menjijikkan, baunya juga tidak enak.Dan dia, seorang pria kaya raya yang terbiasa hidup bersih dan elegan, malah harus mengurus aku yang muntah-muntah?!Tidak heran saat aku bangun keesokan paginya, tempat sampah sudah bersih.Ternyata dia yang membersihkannya malam itu."Aku baru sadar saat sampai di rumah, tapi ... aku nggak berani meneleponmu. Hari ini malah merepotkanmu, kamu sampai repot-repot mengantarnya ke sini," katanya santai, sepertinya tidak sadar betapa malunya aku saat ini.Kata-kata itu seolah menggelitik saraf kecanggunganku. Aku menatapnya dengan bingung dan bertanya polos, "Kamu ... nggak berani meneleponku?"Billy tersenyum, matanya seakan bersinar dan wajahnya terlihat agak malu."Iya, aku takut kalau kamu melihat jam tangan itu, kamu bakal mengira aku sengaja meninggalkannya sebagai alasan untuk menghubungimu lagi. Sebelumnya, sepertinya ada kesalahpahaman antara kita, hubungan kita juga jadi agak renggang, jadi

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status