LOGIN*** MIRABELLA Three years! I devoted everything to my husband for three whole years and a divorce paper is what I get as a reward?! Fine. I will set you free with your true love. But I want a better reward. *** EASTON She disappeared after the one night stand but hanged in my mind for six whole years. I believed I could finally enjoy my life without her, but life slapped me hard. She came back with a man and a baby calling him dad?! My ex-wife seems to be so strange to me with her confidence and glamour. Now I'm the one begging her to come back to me. And little Alfred, could you accept me as your dad? THIS IS A TWO IN ONE NOVEL OF THE DESTINED LOVE SERIES BOOK 1: Little Alfred Plays Matchmaker: The Billionaire's Regret BOOK 2: Truly Yours, Dear Childhood Sweetheart
View MoreDibawah guyuran hujan dan sambaran petir yang terus menggelegaar, dua pria setengah baya terlihat berdiri tegak, diantara tumpukan mayat yang bergelimpangan sambil saling menatap satu sama lain.
Sekilas tak ada yang aneh dengan mereka, namun jika dilihat lebih dekat, tetesan air yang mengguyur keduanya perlahan berubah memerah, karena bercampur dengan darah segar yang terus keluar dari luka sayatan pedang di tubuh masing-masing. "Wiratama, aku cukup terkejut dengan ilmu kanuraganmu yang ternyata tidak lebih besar dari namamu! Sepertinya, julukan Dewa Pedang yang disematkan padamu terlalu berlebihan ..." Ucap salah satu pria berbadan besar yang terlihat lebih tua, sambil terkekeh puas. Pria setengah baya yang dipanggil Arya Wiratama itu tidak langsung menjawab. Dia masih cukup terkejut dengan kekuataan puluhan pendekar misterius yang muncul tiba-tiba di area pertarungan itu. Bagaimana tidak, hanya dalam waktu tak sampai tiga jam, para pendekar sakti aliran putih yang dipimpinnya tewas mengenaskan, dibunuh puluhan orang yang ilmu pedangnya tak pernah dia lihat sebelumnya. "Siapa kalian sebenarnya? Aku cukup yakin tak ada satu perguruan pun di Nusantara yang memiliki ilmu pedang seperti kalian..." Balas Arya sambil melempar pandangannya kesekitar dan mengamati wajah-wajah tegas puluhan pendekar yang mengepungnya. Tubuh Arya kemudian bergetar hebat ketika sekali lagi, melihat ratusan mayat pendekar gabungan aliran putih tergeletak di tanah dengan kondisi mengenaskan. Dia benar-benar tidak menyangka pertempuran melawan para pendekar Rajawali Kembar yang hampir mereka menangkan itu berakhir dengan pembantaian setelah kemunculan orang misterius itu. "Hahaha, pengamatanmu benar-benar tajam tua bangka," Jawab pendekar misterius itu sambil menyarungkan kembali pedangnya. "Sayangnya, Pertanyaanmu itu akan terjawab ketika pedangku berhasil memenggal kepalamu!" Melihat lawannya sudah menyarungkan kembali pedangnya, Arya Wiratama seketika meningkatkan konsentrasi. Dia sadar dalam ilmu pedang serangan yang paling berbahaya adalah ketika pedang itu pertama kali meninggalkan sarungnya. Tidak mudah menghadapi tipe jurus pedang seperti itu karena tidak ada yang benar-benar tahu ke mana arah dan jenis serangan, sebelum pedang itu tercabut dari sarungnya. Hanya ada beberapa pendekar tingkat tinggi yang mampu membaca arah seranganya, itu pun hanya sebuah perkiraan yang didapat dari pengalaman bertarung. "Begitu ya ... Sepertinya kalianlah dalang dibalik berdirinya perguruan Rajawali kembar dua puluh tahun yang lalu ... " Arya Wiratama memejamkan matanya, dia kembali teringat pada kejadian dua puluh tahun lalu, yang menjadi awal dari rentetan kekacauan besar di Nusantara. "Andai saja aku menyadarinya lebih cepat, mungkin saja ..." "Memghentikan kami?! Sepertinya, kau masih belum sadar perbedaan kekuatan diantara kita?" Potong pria berwajah tegas itu sambil memberi tanda para para pendekarnya, untuk tidak ikut campur pada pertarunganya kali ini. "Jangan terlalu sombong tuan, walau ilmu pedangmu sangat cepat dan aneh, tapi aku juga tidak selemah yang kau pikirkan ...." Arya Wiratama menarik pedangnya ke depan. Keduanya tampak terdiam cukup lama dalam posisi siap menyerang sebelum bergerak bersamaan saat suara petir terdengar dari langit. Ketika keduanya bergerak, bebatuan yang ada disekitar area pertarungan kembali terangkat dan beterbangan ke udara. Gesekan kekuatan besar yang meluap dari tubuh mereka, membuat udara memadat dan mengangkat semua yang ada di sekitarnya. Pendekar misterius yang lebih unggul dalam hal kecepatan menyerang lebih dulu, memanfaatkan kuda-kuda Arya yang belum terbentuk sempurna, dia menendang batu kecil yang melayang didekatnya sambil mencabut pedangnya. "Dewa Pedang Terkuat? Menggelikan!" "Srang!" "Wuuush!" Pedang berwarna hitam milik pendekar misterius itu keluar dari sarungnya. Sangat cepat dan tanpa suara, hanya itu yang bisa menggambarkan gerakan pedangnya setelah tercabut. "Jurus Pedang Matahari gerbang ke empat : Hembusan angin penghancur sukma!" "Ju... Jurus aneh ini lagi? Tidak, ini jauh lebih cepat..." Serangan itu datang dengan cepat, dan sesuai dugaan Arya, serangan yang terlihat sederhana tapi sangat mematikan itu tak mampu dihindarinya dengan sempurna walau sudah berusaha membaca kemana arah ayunan pedangnya akan bergerak setelah tercabut dari sarungnya. Arya Wiratama kemudian mendorong tubuhnya kebelakang untuk mengurangi efek serangan, namun karena pijakan kakinya goyah akibat tekanan tenaga dalam lawan, pertahanannya seketika terbuka lebar. Melihat pertahanan Arya Wiratama goyah akibat serangan pertamanya, pria itu kembali melepaskan empat serangan yang jauh lebih cepat. Bukannya gentar dengan serangan bertubi-tubi lawannya, Arya justru terlihat semakin bersemangat walau tubuhnya sudah mencapai batasnya. Dia tampak sudah tidak peduli lagi dengan kemenangan yang sebenarnya sudah sempat ada didepan matanya. "Akan kubalas kematian mereka puluhan kali lipat!" Arya secara mengejutkan berhasil menangkis serangan pendekar itu di detik terakhir, namun, ketika dia berusaha menyerang balik, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Ayunan pedang pendekar itu berubah begitu lembut, dia menggeser sedikit pegangan tangan di gagang pedangnya untuk memindahkan beban ke tangan kirinya sebelum melakukan serangan tusukan. "Jurus pedang Matahari gerbang ke enam : Tusukan penghancur karang!" Empat tusukan dalam waktu kurang dari satu detik menghunjam tubuh Arya Wiratama tanpa bisa dihindari sama sekali. Pria malang itu seperti merasakan dua putaran waktu berjalan berbeda di sekitarnya. Tubuhnya terasa melambat, namun di saat yang hampir bersamaan kecepatan lawannya justru meningkat tajam. "Luar biasa .... Jurus pedang ini seperti melawan semua prinsip ilmu kanuragan ... " tubuh Arya Wiratama langsung terhuyung dan kali ini dia benar-benar telah mencapai batasnya. Arya Wiratama seketika muntah darah dan dengan lubang besar menganga di perutnya, dia masih memaksa tubuhnya berdiri sambil berusaha mencengkeram leher pendekar misterius itu dengan tangan kirinya. "Si ....siapa sebenarnya kalian, dan dimana kalian bersembunyi selama ini sampai kami tidak bisa mendeteksi.." "Namaku adalah Harsa Wiseso, salah satu pendekar penjaga Kamandaru... Ingat lah nama itu baik-baik saat kau berada di neraka!" "Crash!" Dengan satu gerakan berputar, pendekar misterius itu menarik pedangnya ke sisi kiri sebelum memeganggal kepala Arya cepat. Tubuh Arya seketika bergetar hebat sebelum tumbang bersama kepalanya. "Ka.. Kakang, kau membunuhnya?! Bukankah kita belum mendapatkan kitab pusaka itu?" Ucap temannya terkejut. "Dia tidak membawa kitab itu, aku sudah memastikannya saat bertarung tadi," Balas Harsa Waseso sebelum memerintahkan beberapa orang untuk memeriksa gua kecil ditengah alas Purwo yang sering digunakan Arya bersemedi. "Periksa gua itu, aku yakin dia menyembunyikan kitab Naga Api di sana," Lanjut Harsa Waseso tanpa menyadari kemuculan aliran energi aneh muncul di Cakra Mahkota Arya. Aliran energi misterius berbentuk api merah yang akan merubah takdir Arya Wiratama dengan cara yang tak pernah terbayangkan oleh siapapun itu menyusup ke pusat Cakra Mahkota dan mempertahankan ingatan pria yang dijuluki Dewa Pedang itu.Wow, I can't believe we actually came to the end of this book. I have a lot to say, a whole lot. Firstly, I'd like to express my gratitude to you all my amazing readers. You all have been my biggest encouragement. Your support kept me going and I really hope that your time spent on my book was all worth it. From Mirabella and Easton's story, to Alfred and Sandy's story, to Kiara and Gabriel's story, to Hailey and Danzel's story, thank you all for sticking until the end. But this isn't the end, I have begun a new book to keep y'all entertained. Reborn As The Lycan's Luna will begin March 1st and I assure y'all you'll love it too. If you've come this far, then please kindly drop a review. I would love to know your thoughts on my story as it helps me to improve in my writing. Thank you so so much for your support, I'm truly grateful. Best regards, ©️Cathystar
~SANDY~I felt my palms getting wet as I was called out onto the podium to give my speech.I had imagined this day since the first day I got into Ousen University, and now it was finally here but now, I felt really anxious. What if I said the wrong things, what if I slipped while climbing onto the podium and fell?Why were my thoughts suddenly so wicked?I should be confident in myself. I came this far, I survived all the hardship, all the challenges and the best part of it all, was that among the audience, my family and everyone I loved was present.Uncle Roman, my grandparents Lionel and Lucia, my granddaughter Martha, my adoptive parents Easton and Mirabella, my sister Kiara, my best friends Hailey and Gabriel, my new friends Natasha and Danzel, my Aunt Paulina and her children, and lastly, the love of my life, Alfred Grey.They were all present, and cheering me on. I found my confidence the moment I got up on that podium and saw their smiling faces.“I thank everyone who is presen
~DANZEL~I groaned as I heard the loud banging on the door to my room. “Danzel, don't you have a morning shift or something today? Why are you still in bed?” I heard Jeffery's voice yapping nonstop and I finally pulled myself out of the bed.I just wanted to sleep in today. I didn't feel like going anywhere but the problem is I haven't felt like going out ever since Hailey left here that night.I felt so stupid for hurting her. She didn't deserve it. She didn't deserve someone like me, she deserved better.She had genuinely made herself vulnerable by telling me how she felt and I coldly shattered her heart. I let her down real hard and it has haunted me every night and day.“Dude what the hell? Are you sick or something? You haven't left the house for a week now.” Jeffery asked worriedly as I finally let him into my room.“I'm fine, I just need a little rest.” I responded but he didn't seem convinced.“You said that yesterday and every other day before. What's going on with you?”I s
~HAILEY~“You got everything?” Mom asked as I zipped up my box, ready to leave.“Yes, I think.” I responded, my gaze scrutinizing the room to be certain I wasn't forgetting anything.When I was certain I had it all, I pulled my luggage downstairs. Sandy and Kiara were both waiting for me.Kiara was celebrating her nineteenth birthday this weekend and I decided to spend the week with them since we were on a school break as well.“Don't worry, Mrs. Jordan, we will take good care of her.” Sandy reassured my mom and I chuckled softly.“I trust you will. Have fun sweetheart.” Mom said as I hugged her goodbye.“I'll call you the moment we arrive.” I said and she nodded in response, giving us the green light to leave.The ride back to New York was a rather quiet one, until Kiara broke the silence.“So no one is going to say anything? Come on, tell me how it went!” Kiara beamed and I pressed my lips into a thin line.I wish I had never confessed to Danzel but at the same time, I had no regret
~HAILEY~ What the hell was I thinking?! What in the world made me think I could juggle working and studying at the same time?! I swear I would faint if I got there one more time. I barely had time to do anything, and to think I've only been there for a week! “Hailey, come help me off load the ne
~HAILEY~ The moment my name left his lips, I felt my pent up anger melting away instantly. I mean who cares if he ghosted me, that smile was more than enough to make me forget it all. “Danny!” My happiness was short lived the moment a blonde haired lady ran up to him and engulfed him in a tight h
~HAILEY~“Sweetheart, would you like to come with me to the grocery store?” Mom asked as she walked into the living room.I stared back at my phone screen, I wasn't doing anything important so I nodded my head at her.“Sure.” I smiled and we both left the house. The drive to the store was rather a
~DANZEL~ I slammed the door shut, wanting nothing more but to crash on my bed, but my roommate, Jeffrey, had other plans. The apartment had been turned into a mini concert venue as he played his guitar which was connected to the speakers and at a high volume. I had to cover my ears as it felt lik






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore