Setelah menyelesaikan pekerjaannya yang datang secara mendadak, menguras fikiran, emosi dan tenaga akhirnya kini rampung juga.
Izzuddin kembali kekamar rawat gadisnya dengan peluh yang tercetak jelas di dahinya, inginnya ia melepas penat karena jam tangannya sudah menunjukkan pukul 23.00 malam, tapi saat ia kembali senyumannya langsung luntur seketika. Ketika melihat Victo tertidur di tempatnya, sambil memegang tangan Syilla, Izzuddin membuang muka untuk menahan diri agar emosinya tak meledak, ingin rasanya ia menerjang Victo malam ini juga karena sudah lancang menyentuh gadis kecilnya.
"Hey, bangke! Bangun... malu-maluin lu tidur ditempat gue, lu nyari mati, huh!" Hardik Izzuddin kesal terkesan dingin, karena hatinya terbakar api cemburu.
"Apaan sih! Gangguin gue tidur ah--" gerutu Victo menyamankan diri.
Izzuddin makin geram dibuatnya, dengan sekali hentakan
Empat hari sudah, gadis malang itu tak kunjung membuka mata indahnya, membuat Izzuddin dilanda kekhawatiran yang mendalam. Izzuddin makin terlihat sangat frustasi, lelaki itu mendatangi dokter yang menangani gadisnya dengan tatapan bengis. Pintu ruang Dokter Jo terbuka secara tak terduga setelah tendangan kuat dari luar, lelaki muda itu menarik kerah jas dokter Jo dengan kasar. "Kenapa Syilla tak sadar-sadar juga, huh!" "Maafkan saya, Tuan! Tu-tunggu hingga 6 jam lagi. Jika Nona Syilla tak kunjung melewati masa kritisnya, maka ia dinyatakan Koma--" Bugh.. Bugh.. kenyataan kata 'Koma' membuat Izzuddin tega memukul keras wajah dokter itu membabi buta, pendengarannya terasa panas jika mendengar kata itu. Karena bukan ini yang ia inginkan, ia benci kata itu, ia tak peduli lagi, ia hanya ingin gadisnya sadar bukan malah berbaring tak berdaya diranjang sialan itu.
Pagi-pagi buta tepatnya pukul 3 dini hari ada seorang gadis dewasa membuat gempar seluruh isi Mansion Elbarak, putri sulung Keluarga Elbarak itu berteriak histeris memanggil kedua Orang tuanya, membuat kedua Orang tuanya terkejut juga cemas bukan main. "Ada apa, Kak?" "Izzu, Yah! Izzu--" "Ada apa lagi dengan anak itu?" Guman Ayah Jem cemas. "Ayo, Yah! Kita periksa keadaan putra kita." Seru Bunda Vanya tak kalah cemas, Wanita paruh baya itu langsung lari menaiki undak-undakan tangga menuju kamar putra tercinta, dan langsung tertegun karena akan apa yang ia lihat. "Ayah... Ezha... cepat panggil Dokter Matthew." Teriak Bunda Vanya histeris, Ayah Jem yang baru sampai dikamar Izzuddin diikuti putri sulungnya langsung menghubungi Dr. Matthew. 10 menit adalah waktu paling cepat khusus dokter asal Italia itu, ia baru saja terlelap langsung ditelepon dadakan oleh Tuan Elbarak. Membuatnya g
"Lepas, Yah! Gadis bodoh itu harus bangun sekarang juga! Lepass..." teriak Izzuddin tak terkendali, jiwanya sudah tak bisa dikendalikan lagi, peduli syetan jika Victo menyaksikan kegilaannya, ia hanya ingin Syilla-nya sadar. "Istighfar, Nak! Istighfar, kamu bisa melukai Syilla." pinta Bunda Vanya lirih dengan lelehan air mata, Beliau merasakan sakit yang dirasakan putranya, putranya begitu menderita selama Syilla hilang beberapa bulan lalu, tapi lelaki itu bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Walaupun ia begitu butuh sandaran untuk berkeluh kesah, tapi Izzuddin tetaplah Izzuddin, lelaki muda itu sangatlah pandai menyembunyikan penderitanya hanya tak ingin keluarganya ikut terluka. "Tidak, Bun! Tolong jangan menangis, Izzu mohon, mengertilah! Izzu benar-benar tak tahan... Izzu mohon, jangan menangis." Lirih lelaki itu lemah. Ia memang sedang sakit, tapi ia akan tambah sakit jika melihat Bundanya m
"Kak, Syilla minta maaf ya? Syilla banyak salah sama Kakak, sebenarnya Syilla tak pantas Kakak perlakukan seperti ini, Syilla bukan gadis kecil Kakak lagi, Syilla hanya perempuan-" "Diamlah! Jangan mengoceh terus seperti burung beo dan jangan mengingat apapun lagi, cukup Kak Izzu-mu ini yang harus kamu ingat. Kakak sangat mencintaimu, Kakak mencintai kekuranganmu, tak peduli apapun itu sebab dan akibatnya. Karena Kakak mencintaimu tanpa syarat, lihatlah Kakak masih ada di sampingmu, semua itu karena cinta... karena cinta kita!!" Ungkap Izzuddin tegas dan penuh keyakinan, membuat Syilla terharu akan kekuatan cinta Izzuddin padanya. "Terima kasih." Hanya itu yang bisa Syilla ucapkan, ia terlalu bahagia karena Izzuddin telah mencintainya tanpa syarat. Ia seperti gadis paling beruntung sedunia karena tetap diperjuangkan oleh lelaki yang sudah ia sakiti dua bulan lalu.
"DOKTER MATTHEW... MATTHEW.. CEPAT PERIKSA GADIS GUE." Teriak lelaki muda itu lantang. Bodo, ini Rumah Sakit apa lapangan yang terpenting Syilla cepat-cepat mendapatkan perawatan. Gara-gara teriak-teriak kesetanan, sayup-sayup para pengunjung dan penghuni Rumah Sakit khususnya kaum wanita pada bisik-bisik tetangga. 'Waduhh... ganteng-ganteng kok berteriak sih, babang tampan! Makin seksi deh.' 'Udah ganteng pakai baju koko lagi, masya'allah... sempurnanya.' 'Ya Allah, sungguh sempurnanya ciptaan-Mu.' 'Sungguh suami idaman, adik sakit saja langsung dibawa ke Rumah Sakit dan berteriak-teriak seperti itu sama dokter.' 'Eh... kok mas ganteng itu mirip aktor China ya? Siapa ya?' 'Wah... itu kan dokter bule asal Italia itu, wow... mataku ternodai pagi-pagi lihat bule kesasar ke Rumah Sakit.' Ya, seperti itulah crewa-crewi ala emak-emak rempong
"Kak Izzu." Panggil gadis itu serak, sepertinya gadis itu baru bangun dari pingsannya, Izzuddin tersenyum manis kearah gadisnya. "Iya, sayang! Kamu mau apa, hm?" "Haus." Mendengarkan permintaan sederhana itu Izzuddin langsung membantu gadisnya minum, lalu ia menata bantal dibelakang punggung Syilla, agar gadis itu lebih mudah bersandar. "Sayang, kamu makan ya? Biar Kakak suapin." Lelaki itu berseru sambil mengambil bubur dari atas nakas, tapi gadis itu hanya menggelengkan kepala lemah. "Hey, kamu belum makan sedari kemarin, ayo makan sekarang." "Nggak mau, Syilla belum lapar, Kak!" "Dasar gadis bodoh kepala batu." Izzuddin menyelutuk dengan kesal. "Syilla memang bodoh, kenapa? Mau protes." Ketus gadis langsung membuang muka kearah lain. "Syilla, hentikan jangan keras kepala, Kakak tak bisa melihat kamu seperti ini." "Tapi k
Sesampainya di Apartemen Izzuddin, Syilla langsung istirahat dikamar, tanpa membantu Izzuddin beres-beres dulu. Karena Izzuddin melarang gadis itu kemana-mana dulu karena kondisinya yang masih belum stabil. Gadis itu merasa begitu lelah akan hidupnya, masalah percintaannya, masalah masa depannya, semuanya membuatnya tak bisa berfikir jernih lagi, akhirnya ia memutuskan untuk tidur sejenak, mungkin dengan tidur ia bisa melupakan masalahnya dulu dan hatinya bisa sedikit tenang. Suara pintu kamar terbuka, muncullah sosok malaikat berhati selembut sutra dengan wajah bersinar sepertinya ia habis menyelesaikan sholat dzuhur berjamaah di Musholla khusus penghuni Apartemen itu. Ia tampak tersenyum manis ketika melihat wajah damai gadisnya. Di kecuplah dahi Syilla dengan penuh kasih sayang lalu menaikan selimut sampai batas leher. "Happy Sleepy, Sweaty." "Ingatlah, Kak Izz
"Kenapa pakai baju itu?" Ucap Izzuddin agak ketus. "Loh kan, tadi Kakak bilang Syilla bisa makai baju Kakak yang mana saja sesuka hati, kenapa sekarang pakai ini malah diprotes?" "Iya, tapi kalo pakai baju itu yang benar, masa nggak pakai dalaman." "Dalaman? Pakek kok! Nih lihat Syilla pakek kok." Jawab gadis itu polos, sambil membuka area pahanya menunjukkan s-tringnya disana, membuat Izzuddin menghela nafas kasar, hati lelaki itu seperti sangat dongkol karena pemandangan tak nyaman di sampingnya. "Ya ampun, nggak usah dibuka juga kali. Maksud Kakak itu dada kamu, sana deh!! Balik kamar terus ganti baju yang lain." Gerutunya kesal. Seketika gadis itu memeriksa dadanya dan benar saja gundukan itu menyembul indah dibalik kemeja putih itu, membuat gadis itu menyeringai licik. "Ah, sok jual mahal, begini-begini Kakak mau juga, kan?" "Nggak
"Jauhkan mawar sialan itu dariku," pekiknya dengan nada panik. "Kenapa? Mawar ini kesukaan cucu menantumu, kau--" "Aku mohon, tolong jauhkan mawar itu dariku.." pintanya dengan nada ketakutan ketika aku mendekatkan kelopak mawar itu tepat didepan wajahnya. "Darren, tolong! Maafkan aku, aku janji tak akan mengejar Xiao Fu dan anak-anakmu lagi, t--tolong, jauhkan itu dariku--" "Apa? coba panggil namaku dengan jelas." "D-Darren... t-tidakk.. maksudku.. King Frederich.. tolong--"Plakk...Suara tabrakan antara telapak tanganku dan pipi tirus penyihir tua itu terdengar renyah di pendengaranku, tubuh ringkih itu terlempar ke lantai cukup keras."Ulangi..""K-king.. tolong ampuni aku.. hiks..." pintanya memelas sambil mencuri-curi lirikan kearah mawar merah keemasan di tanganku ini.Senyum meremehkan ku tunjukkan dengan santai, berjongkok di depannya yang tampak tubuh kurus bergetar ketakutan. "Apa apa, Nenek? kenapa kau melihatku seperti itu?"Reveena hanya menggelengkan kepalanya lemah
"Tidakkk... tolong lepaskan aku, Nek? Hiks.. hiks.. tolong kasihani aku, aku mohon--" "Hhh... kamu tidak akan bisa lari lagi, manis. Kembar tiga? Huhh.. akhirnya aku akan hidup kembali... hhh.." "A-apa maksudmu?" Suara bergetar Syilla terdengar memilukan di dalam sana, sementara aku hanya bisa menatap gelap pintu aneh ini. "Apakah kamu tidak sadar, jika mendiang kedua putrimu sudah ku jadikan tumbal, hm? Apakah si anak Iblis itu tidak memberitahumu?" Degg... "Tu- tumbal? Jadi...?" "Hhh... bagaimana? Sudah tahu? Dasar bodoh, apa kamu tahu, kamu hanya di jadikan alat untuk menghasilkan bayi yang akan menjadi tumbalku. Darren menghamilimu bukan karena cinta, tapi karena ingin membantuku untuk mendapatkan tumbal dari tubuhmu, hhhhh..." Sreeekkk... kedua mataku memerah menahan amarah, sejak kapan aku mengorbankan darah dagingku untuk wanita gila itu? "Sialan kau, Tua bangka.." umpatku tertahan. "Tidakkk... kamu tidak bisa mengambil bayiku lagi dengan paksa. Kamu... kamu.." "Apa? D
Fengying langsung mendekat dan menatap penuh rindu kedua mata indah milik Arsyilla, namun perempuan itu masih cukup lemah untuk banyak bergerak. "Iya, Ge. Maafkan aku yang sudah merepotkan Gege--" "Jangan katakan hal itu lagi, kau adik perempuan kami satu-satunya. Kami hanya ingin memenuhi kewajiban kami sebagai Kakak laki-laki kamu." Belum juga Fengying menjawab, Faihung langsung mendekat dan mengusap pipi pucat Syilla dengan lembut. "Sekarang kondisimu masih terlalu lemah, sebaiknya kamu istirahat dikamar." "Tidak, Ge. Aku lebih nyaman seperti ini-- memeluk suamiku adalah tempat ternyaman ketika aku bangun." Syilla mendongak dan tersenyum manja sambil menatap wajah tampan lelaki yang memeluknya saat ini. Oh ayolah, tanpa malu-malu Syilla yang baru terbangun dari tidur cantiknya, malah dengan posesif memeluk pinggang sang suami, membuat Izzuddin tertawa kecil akan tingkah wanitanya itu. "Posesif.." bisik Izzuddin gemas.
"Gege, apa yang harus kita--" "A life crystal capable of awakening him, but--" "What, the crystal of life? Then where are we going to get it? Isn't that kind of thing hard to---" "That rare life crystal exists only in Frederich's own family. We also don't need to think too deeply, because the crystal is currently in their son's hands. Darrell Frederich." Fengying mengenyit dengan sedikit linglung atas apa yang di ucapkan saudara kembarnya tersebut, selama bertahun-tahun mengenal sosok Darren Frederich sebagai kekasih Arsyilla, adik kecil mereka. Baru kali ini Fengying mendengar tentang batu kehidupan, apakah di dunia ini masih ada benda keramat seperti itu? Entahlah? "Ayah, izinkan saya untuk menjemput Darrell. Saya khawatir Bibi Arsyi tidak mampu tertolongkan, hm.. maafkan saya yang sudah berani menguping pembicaraan Ayah dan Paman, saya harap Ayah dan Paman mengerti maksud saya." Seru pemuda tampan tampak baru keluar dari bal
Di dalam ruang keluarga paviliun milik Darren, sepasang suami dan istri paruh baya tengah lama terdiam menatap wajah kecil angkuh di depannya.Wanita paruh baya itu menatap suaminya sekilas kemudian menatap dalam diam anak kecil yang tengah asyik mengubah mainan rubiknya dengan tenang."Apa yang terjadi? Kenapa dia seperti itu?" Kun yang tidak tahan untuk bertanya, akhirnya menatap istrinya yang hanya diam sejak tadi."Sepertinya cucu kesayangan kita dalam suasana hati yang buruk."Mendengar kalimat singkat yang Aneska katakan tentang anak kecil di depannya, yang merupakan cucu laki-lakinya. Darrell Frederich. Pria paruh baya itu menghela napas berat kemudian menatap Darrell penuh arti."Jangan gegabah, dia masih terlalu kecil untuk mengerti permasalahan Orang tuanya. Otak dan hatinya masih kurang stabil dibandingkan dengan orang dewasa."Kun tak mengatakan apapun sebagai balasan, ia malah menaikkan salah satu alisnya. Aneska melanjutkan uca
Faihung langsung meloncat dari ketinggian lima ribu tujuh puluh kaki tanpa alat bantuan keselamatan, seakan sudah biasa pria pucat itu terjun dari ketinggian tanpa takut tubuhnya akan remuk ketika jatuh kelantai bawah. Terdengar samar teriakan Lian memanggilnya, Faihung hanya tersenyum ketika mendengar itu. Tapp.. Begitu kedua pasang kaki jenjang Faihung berpijak diatas lantai kaki istana, suara retakan dahsyat terdengar begitu mengerikan namun retakan itu hanya terlihat begitu kecil jika dilihat. Darren yang tengah mengubah wujuh menjadi King Frederich yang sebenarnya malah acuh tak acuh dengan turunnya Faihung seolah dewa langit sedang turun. Wujud Monster manusia tersebut malah asyik mencabuti organ tubuh para prajurit tanpa henti. "Hentikan--" Belum sempat Faihung menyelesaikan ucapannya, sosok Monster itu malah melemparkan tubuh tak berdosa dua prajurit sekaligus ke arah Faihung dengan ringan. Faihung
Lian menatap acuh tak acuh pertunjukkan yang terpapar jelas di kedua mata tajamnya, Eilert terlihat memberontak tak ingin kembali ketempatnya. Anak laki-laki itu terus berteriak kesetanan seolah dirinya nyaman dalam posisi setengah arwah seperti itu. "Tidak.. Paman Fai, aku mohon.." suara serak Eilerd tertengar memohon pada Faihung, namun pria pucat itu hanya menyeringai. "Kau bahkan belum lahir ke dunia, anak muda. Bertahanlah sedikit dan buang emosi gilamu itu." Kata Faihung mengingatkannya, Eilerd yang mendengarnya langsung mencoba melepaskan diri dari cengkeraman pria dewasa tersebut. "Tidak, Aku sangat benci penipu, penipu itu pantas mati. Aku.. aku harus menjaga Ibuku, lepas.. lepaskan aku.." "Lepas emosimu, El. Jika kau tidak melepaskannya, sampai lahirpun takdirmu tidak akan baik." Suara dingin dan santai dari arah Lian membuat Eilerd melototi pria muda itu sinis. "Apa pedulimu dengan takdir hidupku, kau bukan Tuhan. Jan
"Apakah Mr. Watanake ada disana?" Darren bertanya dengan santai seolah serangan mendadak itu bukan apa-apa baginya. "Benar, Mr. Watanake sedang meluncur kesini bersama Mr. Joseph untuk melakukan serangan balik." "Bos.. Ernesta Luciano, adik perempuan Lucky ditemukan tewas dalam keadaan terpengal disalah satu gedung tua di pinggiran Kota Peterburg, kini aku sedang menyelidiki penyebab ..." "Lempar mayat sialan itu ke dalam kadang Patric." Sela Darren sedikit mengeram marah. Patric yang dimaksud adalah anjing besar seukuran serigala yang bertugas menjaga Kota Peterburg. Setiap dalam kota kekuasaan Frederich, Darren telah menugaskan sebangsa anjing, serigala dan singa untuk menjaganya. Dan, kali ini Darren cukup marah karena Patric tak menyadari kehadiran Ratu tuannya. "Siap laksanakan." Jawab si penelepon diseberang sana. Darren yang sedang kesal langsung melempar tatapan membunuhnya kedepan. "Rupanya akan ada pertumpahan darah d
Pria pucat itu hanya meliriknya dengan tenang, Izzuddin langsung menoleh ke arah salah satu pintu Mansion rasaksanya. Di sana terdapat sosok pria janggung yang merupakan kembaran pria pucat itu tengah berdiri dengan malas sambil merokok.Kembali ke pria pucat tersebut, Izzuddin langsung memasuki mobilnya dan menyalahkan mesin mobil secara brutal."Jangan gegabah, Lian dan putra kedua mu sudah beraksi sejak satu setengah jam yang lalu." Kata pria pucat yang dipanggil Fai Gege itu penuh teka-teki, Izzuddin melirik pria di sampingnya itu acuh tak acuh.Pria misterius itu benar-benar ...."Maksudmu apa? Istriku diluar sana dalam bahaya, lebih baik jangan campurkan anak-anak dalam urusan orang dewasa...""Hm... kau benar." Faihung hanya berdehem kecil tanpa dosa.Izzuddin mengeram frustasi juga marah, ini yang tidak ia suka, sikap Faihung benar-benar sangat misterius dan menyebalkan. Pantas saja selama pria itu hidup, keluarga Dinasti Li selalu d