Chandra terlihat sibuk menata dan memindahkan barang di kamarnya. Jam menunjukkan pukul tujuh malam, namun lelaki itu masih berbenah. Ini adalah kebiasaan Chandra ketika merasa stress. Ia akan menata ulang barang di kamarnya untuk mendapatkan suasana baru, tak peduli malam ataupun siang. Chandra melakukannya sesuka hatinya. Tadi siang mamanya kembali ke Singapura untuk urusan pekerjaan. Itu yang membuat Chandra berani menata ulang kamarnya, jika ada sang mama pasti ia akan dimarahi habis-habisan. Mamanya akan berkata Chandra buang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna. Chandra merasa sedikit bersyukur mamanya kembali ke Singapura, namun ia juga sedih. Bagaimanapun mamanya adalah orang yang melahirkannya, ia kadang rindu pada mamanya. Apalagi Fani yang sangat butuh kasih sayang seorang ibu. Di tengah kegiatan Chandra, tiba-tiba Fani muncul dan berdiri di pintu. "Bang, pembalut gue habis." Chandra menoleh sekilas ke arah Fani lalu melanjutkan kegiatannya. Ia hanya mengangguk dan me
"Fani gak ada di rumah gue Chan, emang kenapa?" Setelah mendengar jawaban dari Rain, Chandra terlihat cemas. Fani bukanlah anak yang terbiasa keluar malam, jika terpaksa keluar pasti Chandra yang mengantarnya. "Chan?" Chandra baru tersadar bahwa sambungan teleponnya masih menyala. "Enggak apa-apa Ra," ucapnya sebelum mematikan sambungan telepon itu. Tidak hanya menelepon Rain, Chandra juga menelepon teman-teman Fani, namun jawaban mereka semua sama, Fani tidak ada di sana. Chandra tetap mencoba berpikir positif, mungkin saja Fani berjalan-jalan di sekitar komplek. Chandra akhirnya berjalan menuju garasi dan mengeluarkan motornya. Setelah keluar dari rumahnya, Chandra mengendarai motornya dengan perlahan dan melihat ke kanan dan kiri berharap Fani ada di sana. Tak terasa, Chandra sudah mengelilingi komplek. Ia semakin khawatir karena tak mendapati Fani di sana. Chandra terus mencoba membuang pikiran negatifnya dan memilih mencari ke luar komplek. Cukup jauh dari kompleknya, Chan
Fani membuka matanya saat mencium aroma masakan yang menyeruak begitu wangi. Ia segera beranjak dan berjalan menuju dapur. Saat sampai di dapur, ia melihat Chandra sedang sibuk mengaduk masakannya. Fani tersenyum melihat Chandra memakai celemek merah jambu dengan motif hello kitty. Dengan langkah pelan ia menghampiri Chandra dan berniat mengejutkan lelaki itu, namun usahanya ternyata telah diketahui Chandra. "Kenapa?" tanya Chandra tanpa melihat Fani. Fani berdecak karena ketahuan. "Tumben masak?" tanyanya. "Biar lo gak makan di rumah Tante Mira lagi." Lagi-lagi Chandra berkata tanpa melihat Fani. Tanpa berkata apapun Fani memeluk Chandra dari belakang. "Ih, ngapain peluk peluk, mandi sana! Bau tau." Fani melepaskan pelukannya dan memukul punggung Chandra. "Gue wangi tau!" "Air liur lo tuh bersihin dulu." Chandra tertawa. "Gue gak gitu ya, sok tau Lo." Fani terlihat kesal pada Chandra. "Udah-udah sana mandi. Nanti telat ke sekolah," peringat Chandra. "iya, bawel." Fani seg
Dengan langkah pelan, Fani berjalan membawa tas kecil berisi bajunya dan menuju rumah Rain. Fani melihat ke arah Khanza dan Rain yang sedari tadi menunggunya. Wajah Khanza terlihat sumringah, memang sedari awal dialah yang sangat gembira dengan rencana ini. Sampai di rumah Rain, Fani diminta untuk menaruh tasnya di kamar Rain, lalu turun untuk makan bersama. Selama makan, Fani beberapa kali bercanda dengan keluarga Rain. Ia sudah bisa mulai beradaptasi di sana. *** Suasana di kamar Rain menjadi lebih hangat karena kedatangan Fani. Rain sedari tadi menatap Fani dan tersenyum karena mengetahui Fani yang sudah mulai beradaptasi dengannya dan juga keluarganya. Rain tau rasanya menjadi Fani, ia pernah merasa tidak nyaman berada di lingkungan baru. Sebenarnya Rain merasa tidak enak pada Fani karena Khanza memaksanya menginap. Setelah mengetahui Fani merasa nyaman sekarang, Rain pun lega. Dilihatnya gadis 15 tahun itu sedang menatap layar laptop dan terlihat fokus menonton. "Lo kenapa Ra?
Chandra segera berpamitan pada Bunda Rain setelah mengetahui Fani berangkat bersama Rain dan Khanza. Setelah keluar dari komplek, Chandra mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Jalanan yang ramai tidak ia pedulikan. Chandra dengan mudah berkendara di sela-sela kendaraan yang berjalan lambat. Beberapa kali ia mendapat teguran dari pengendara lain, tapi Chandra tidak menghiraukannya dan terus memacu motornya lebih cepat. Chandra baru menurukan kecepatan motornya saat sudah hampir sampai ke sekolah. Ia berhenti dan mematikan mesin motornya, lalu menuntunnya melewati satpam yang sedang bertugas. Tak lupa Chandra tersenyum dan menyapa satpam itu. Setelah melewati pos satpam, Chandra baru mengendarai kembali motornya dan membawanya ke parkiran. "Chan!" Chandra yang baru saja memarkirkan motornya langsung menoleh ke arah sumber suara. Ia melihat Alif dengan senyum khasnya berjalan menghampirinya. "Kenapa Lif?" "Mau bareng ke kelas?" tawar Alif. Chandra mengangguk. Ia dan Alif mu
"Kenapa?" Juan bingung dengan sikap Chandra yang tiba-tiba berubah. "Gue selalu ngerepotin kalian." Juan tersenyum "Lo ngomong apa sih Chan, lo udah kita anggap kayak keluarga sendiri." Chandra membalas senyum Juan, meski perkataan Juan makin membuat Chandra merasa bersalah. "Chan, lo ga mau makan kue buatan Bunda? Rain juga bantu buat nih." Khanza langsung menarik Chandra mendekat ke arah Bunda Rain. "Iya Chan, yang lain udah makan, tinggal kamu yang belum." Bunda Rain mengambil satu potong kue yang telah di taruh di piring kecil, lalu menyodorkannya pada Chandra. "Mau disuapin?" "Engga usah Tante." Chandra mengambil potongan kue itu dari Bunda Rain dan mulai memakannya. "Enak Chan?" "Enak banget Tante," jawab Chandra dengan penuh semangat. *** Chandra menatap bingkisan-bingkisan yang tersusun rapi di atas meja. Tangannya terulur mengambil satu bingkisan berwarna hitam dengan hiasan pita berwarna merah. "Lo masih mau jahat sama kak Rain Bang?" Chandra tak menjawab, ia hany
"Monyet belang!" Alif terlonjak kaget karena Khanza tiba-tiba menggebrak meja kantin. "Lo kenapa sih Za!" marah Alif. "Kalo ada masalah bilang!" "Kalian yang kenapa. Dari tadi diem mulu. Ada apa sih?" Khanza menatap sengit Alif dan Chandra. "Udahlah Za, kalo mereka ga mau cerita jangan dipaksa," ujar Rain yang mencoba menengahi. "Bener tuh kata Rain," Alif menimpali. "Gue kayak gini kar…" Khanza menggantungkan kalimatnya saat melihat Chandra berdiri. "Kemana Chan?" tanya Alif "Ke perpus. Aku permisi ya. Jangan lupa makan ya Ra." Chandra berlalu meninggalkan ketiga temannya yang terlihat masih kebingungan. "Chandra kenapa sih Lif? Kayak beda gitu." Alif menjawab pertanyaan Khanza dengan gelengan kepala. "Belum juga makan tuh anak." Alif menatap punggung Chandra yang mulai menjauh. Secara tiba-tiba Rain pun berdiri. "Mau kemana Ra?" tanya Khanza. "Nyusul Chandra bentar," ucap Rain sembari berjalan meninggalkan Khanza dan Alif. Alif yang ingin berdiri dan menyusul Rain, langs
"Gue sedih karena udah mau pulang." Khanza memasukkan beberapa barangnya ke koper kecil yang ia bawa ke rumah Rain. "Gue enggak." Ucapan Rain membuat Khanza menghentikan kegiatannya. "Tega emang lo Ra. Kalo lo Fan? Lo sedih gak kalo gue pergi." Kini Khanza menatap Fani yang sedari tadi hanya diam di sebelah Rain. Fani menggeleng. "Kan kita bisa ketemu lagi kak." "Anj*r lah kalian berdua." Khanza kembali mengemas barangnya. "Lo aja yang lebay Za." Khanza hanya berdecak. Ia menyelesaikan kegiatannya lalu menutup kopernya dan duduk di depan Rain dan Fani. "Eh, Fan, sebelum gue lupa, gue mau tanya. Itu tangan Chandra kenapa sih?" "Tangan?" "Iya, luka gitu kenapa?" Fani diam, ia mencari alasan yang tepat untuk diberikan pada Rain dan Khanza. Chandra sudah memperingatkannya agar tidak menceritakan kejadian semalam. "Emang Bang Chandra gak cerita?" Khanza menghelas nafas. "Kalo Chandra cerita, gak mungkin gue nanya sama lo, Fan. Tapi Alif bilang Chandra mukul kecoak, gak logis bang
Fani tidak mendapatkan tanggapan setelah mengetuk pintu kamar Chandra beberapa kali. Ia khawatir pada pemuda itu, karena tadi Chandra pulang dengan keadaan basah kuyup. Chandra tidak banyak mengatakan apapun dan langsung masuk. "Bang." Fani masuk dan melihat Chandra yang sudah membungkus tubuhnya dengan selimut. Chandra sepertinya tertidur sehingga tidak merespon panggilan Fani. Fani merasa Chandra sedang tidak baik. Tubuh pemuda itu terlihat menggigil dan hidungnya merah. Fani menyentuh dahi Chandra. Ia terkejut saat merasakan panas. Kemudian Fani beranjak dan terlihat sedang mencari sesuatu. "Kenapa Fan?" Fani menoleh saat mendengar suara Chandra. Suara pemuda itu kini terdengar serak dan beberapa kali ia bersin. "Termometer." "Udah, gue gak apa-apa. Udah minum obat juga. Sana tidur, entar malah ketularan sakit." Fani tidak mengindahkan ucapan Chandra, ia tetap mencari termometer. Setelah membersihkannya, Fani memasukkan termometer itu ke mulut Chandra. Tak lama Termometer itu
Kedatangan Rain dan Chandra disambut hangat oleh Khanza. Gadis itu tidak terlihat sakit. Sejak tadi Khanza sangat heboh karena Chandra dan Rain datang berdua. Khanza tidak henti-hentinya menggoda Rain. "Sebuah keajaiban Ra, lo mau dateng sama cowok." Seperti biasa, Rain hanya memasang muka datar. Melihat wajah datar sahabatnya itu, Khanza makin gencar menggoda Rain. "Udah mau malam ini kita pamit dulu ya Za," ucap Chandra ia merasa kalau Rain sudah tidak nyaman berada di sana. Chandra tidak tega melihat Rain, karena seharian ini Chandra sudah membuat Rain kesal. "Cepet amat, papa sama mama belum dateng, kalian ga mau nunggu mereka?" "Yang ada kita pulang tengah malem." Rain berdiri dan menarik lengan Chandra. "Ayo." "Eh, bentar. Baru juga ngobrol." "Yang penting gue udah liat lo baik-baik aja. Kita pamit." "Wei." Khanza mengikuti Rain yang menarik Chandra ke pintu keluar. "Keburu malem Za, Rain takut ketemu mbak Naya. Aduh." Tangan Rain yang semula menarik lengan Chandra, kin
Dengan raut wajah kebingungan, Rain turun dari motor Chandra. Bukan karena sudah sampai, namun karena Chandra berhenti di depan sebuah pohon dan menyuruh Rain turun. Rain menatap Chandra sementara Chandra tersenyum lebar ke arahnya. Rain mundur dua langkah. Ia takut Chandra kesurupan makhluk penunggu pohon itu. Chandra maju ke arah Rain dengan ekspresi yang sama. Rain terlihat ketakutan dan langsung memukul kepala Chandra. "Sakit Ra." Chandra mengelus kepalanya yang di pukul Rain. "Bodo!" Rain ingin pergi namun Rain menahannya. "Kamu belum kenalan sama Rachan." Chandra melihat ke arah pohon. Rain menyangka Chandra bisa melihat makhluk tak kasar mata. "Apaan sih Chan! Mending pulang! Mana sepi, mendung juga," omel Rain Melihat Rain mengomel, Chandra akhirnya menurut. Rain terlihat benar-benar kesal, meski Chandra tak tau apa penyebabnya. Padahal Chandra hanya ingin mengenalkannya pada pohon yang ia beri nama 'Rachan'. Pohon tempat Rain membantunya dulu. "Kamu kenapa sih Ra? Dulu
Rain melihat ke atas, ia melihat awan hitam yang siap menjatuhkan air hujan. "Giliran udah pulang gini, malah mau hujan." "Enggak apa-apa Ra, kita pulang hujan-hujanan biar romantis." Rain langsung menghadiahi Chandra dengan pukulan, sedangkan Chandra hanya tertawa melihat reaksi Rain. Mereka melanjutkan perjalanan mereka ke parkiran. Chandra tidak henti-hentinya membuat Rain kesal dengan tingkahnya. Mereka sampai jadi tontonan beberapa siswa yang lewat, bahkan tak jarang mereka mendapat cibiran. Rain tidak menghiraukannya. Ia memang kesal, tapi ia tidak mau menunjukkannya pada Chandra. Setiap situasi seperti ini, biasanya Rain akan menyalahkan Chandra dan pergi begitu saja. Kali ini dia memilih untuk diam. Chandra banyak menolongnya hari ini, meski pemuda itu tetap menyebalkan baginya. "Ra, aku lupa, sepedaku gak ada di parkiran." "Lah, iya ya. Ngapain kita ke parkiran." Rain dan Chandra tertawa karena mereka lupa bahwa sepeda Chandra tidak berada di parkiran. Akhirnya mereka
Chandra dan Rain hanya bisa diam mendengar omelan Bu Sri. Bu Sri membahas banyak hal, bahkan membandingkan kehidupan sekolahnya dengan Rain dan Chandra. Bagaimana susahnya Bu Sri bersekolah dulu. Saking lamanya, upacara bendera pun telah selesai dan kini para murid sedang beristirahat. "Kalian berdua saya hukum untuk hormat pada bendera sampai jam pelajaran pertama selesai. Jangan lupa renungi kesalahan kalian. Saya berharap kalian bisa belajar dari peristiwa ini dan tidak mengulanginya." "Baik bu." Chandra dan Rain melangkahkan kaki keluar ruang BK dan mengikuti Bu Sri. Beberapa murid yang berada di koridor, menatap mereka. Setelah upacara para murid biasanya memang diberikan waktu lima belas menit untuk istirahat, maka dari itu banyak murid yang berkumpul di koridor. Saat sampai di lapangan Bu Sri menatap bendera merah putih yang berkibar di atas mereka. "Kalian lihat bendera itu. Mengibarkan bendera itu bukanlah hal yang mudah. Butuh banyak perjuangan dari para pahlawan. Coba ka
Rain begegas turun dan berjalan ke meja makan. Ia mengambil susu yang disiapkan Bundanya lalu meminumnya dengan cepat. Hari ini Rain terlambat bangun karena terlalu asik membaca novel yang Juan belikan, hingga larut malam. Oleh karena itu, pagi ini Rain terlihat sangat terburu-buru. "Pelan-pelan Ra." "Bang Juan mana Bund?" tanya Rain setelah menaruh gelas kosong ke tempat cucian piring. "Gak tau dia kemana, tadi pagi-pagi banget udah pergi." Rain terlihat panik. "Aduh, yang nganter Rain siapa?" "Chan–" "Yaudah Bund, Rain berangkat dulu ya. Assalamualaikum" Belum juga Bunda Rain menyelesaikan ucapannya, Rain tiba-tiba memotong. "Iya, Waalaikumusalam. Hati-hati Ra." Rain segera keluar, ia setengah berlari. Harapan terakhirnya adalah Chandra. Ia harap Chandra belum berangkat. "Ra, ayo berangkat." Rain benar-benar bersyukur saat melihat Chandra sedang menunggu di luar gerbangnya. Tanpa pikir panjang Rain langsung menghampiri Chandra dan naik di jok motornya. "Ayo Chan." Chandr
Sepulang dari rumah Aksa, Chandra bergegas menuju rumahnya. Ia tiba-tiba rindu pada Fani setelah mendengar cerita Aksa. Sebelum pulang, Aksa sempat bercerita pada Chandra tentang kematian adiknya dalam kecelakaan. Chandra terkejut dan sedih mendengarnya. Ia tak bisa membayangkan kalau itu terjadi pada Fani tepat di depan matanya, seperti yang Aksa alami. Chandra sudah memasuki kawasan kompleknya. Ia memelankan kecepatan motornya. Sayup-sayup Chandra mendengar seseorang memanggilnya. Ia menghentikan motornya, ia melihat wanita yang mendekat ke arahnya. Chandra tersenyum saat melihat wanita itu. Ia segera turun dari motornya. "Tante Arin, kapan datang?" Chandra tersenyum senang. Ia sudah lama tidak bertemu dengan wanita di hadapannya ini. Wanita itu adalah salah satu adik mamanya dan dari semua adik mamanya, Chandra memang paling akrab dengan tante Arin, karena memang hanya tante Arin yang bisa menerimanya dengan baik. "Kemarin malam, tante nginap di rumahnya mbak Dinda. Tadi tante k
Fani bisa kembali tenang saat mendengar suara motor Chandra memasuki halaman rumahnya. Sejak tadi Fani memang khawatir karena Chandra belum juga pulang meski hari sudah malam. "Darimana kok baru pulang? Lo gak bareng Kak Rain, Bang?" Chandra yang baru masuk ke ruang tamu, langsung mendudukkan dirinya di kursi. Ia terlihat sangat lelah, hingga mengabaikan pertanyaan Fani. "Bang?" Chandra memejamkan matanya. "Bentar Fan." Fani akhirnya membiarkan Chandra. Ia berjalan ke dapur dan mengambilkan air untuk Chandra. "Nih." Fani menyerahkan segelas air pada Chandra. Chandra membuka matanya ia melihat segelas air yang dibawakan Fani. Tangannya terulur untuk mengambil gelas itu. Chandra segera meneguk segelas air di tangannya tanpa sisa. Chandra menaruh gelas kosong itu di meja dan kembali memejamkan matanya. Fani tetap membiarkan Chandra, ia memilih memainkan ponselnya. Sebuah pesan dari temannya membuat Fani mengernyit. "Lo ngapain bareng Mirza?" "Latihan basket," ucap Chandra tanpa me
Chandra dengan perlahan menghisap rokok di tangannya. Setidaknya itu bisa membuatnya sedikit melupakan kejadian tadi pagi dan juga kebisingan yang dibuat para adik kelasnya saat di kantin tadi. Ia saat ini sedang berada di belakang gudang sekolah, tempat yang sangat jarang di datangi para siswa karena banyak yang menganggap tempat itu berpenunggu. Ini adalah kedua kalinya Chandra kemari, yang pertama adalah saat hari pertama ia pindah. Saat itu ia beralasan pergi ke perpus, Chandra malah berbelok ke tempat ini. Suasana sepi itu berubah ketika suara langkah kaki terdengar mendekati Chandra. Tubuh Chandra menegang, ia takut itu Rain. Bisa hancur rencana Chandra jika Rain mengetahui kelakuan Chandra yang sebenarnya. "Santai Chan, gue udah tau semuanya. Jadi gak perlu pura-pura lagi." Chandra langsung menoleh saat mendengar suara yang tidak asing baginya. Ia melihat Aksa sedang berjalan ke arahnya. Chandra membuang putung rokok di tangannya. Ia kemudian menginjak putung rokok itu untu